Tanpa Nama S2 Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 5

Hari Kesurupan

POV Erna

Sudah lima hari gue mengikuti kegiatan kakak gue dan pacarnya yang aneh itu. Kegiatan gue selama tiga hari belakangan adalah jaga bokap di rumah sakit, di mana kakak gue juga pasti datang dengan pacarnya untuk ML di ruangan mana pun yang berbeda-beda. Gue menyangka salah satu dari mereka, atau dua-duanya, punya fetish yang luar biasa gila.

Setiap sore pula, ketimbang pulang untuk mandi atas suruhan nyokap, gue mengikuti kakak gue diam-diam.

Hari Senin adalah hari pertama gue menjadi mata-mata. Di hari pertama itu, gue mengikuti kakak gue sampai ke tempat makan mewah di sekitar Senayan. Setelah itu, mereka check in di hotel bintang empat. Hal itu memaksa gue menyudahi pengintaian karena CCTV ada di segala penjuru gedung hotel. Hari selasa, mereka pergi lagi ke hotel di Harmoni. Hari rabu, mereka pergi jauh ke Puncak, makan sate kambing, lalu menyewa villa dan gak pulang di hari berikutnya.

Naik motor pulang-pergi ke puncak membuat gue terpaksa jalan ngangkang setibanya di rumah sakit. Hari kamis ini, gue yakin pasti mereka gak datang ke rumah sakit.

“Uda kamu kok dateng ya hari ini?” Tanya nyokap polos.

Berkilah lah gue dengan jawaban menggeleng dan bahu terangkat. Padahal, gue tau banget kalau kakak gue pasti sedang beradu selangkangan di pinggir kolam renang di villa sana.

Selama pengintaian, gue pernah sekali penasaran. Bagaimana kakak gue masih bisa menjalankan bisnisnya meski seharian cuma bercinta di tempat yang berbeda-beda. Satu hal yang membuat gue bisa menduga-duga pertanyaan gue sendiri adalah tangan kakak gue yang aktif menelepon banyak orang.

Mudah-mudah pikiran positif gue benar.

Menjelang sore, gue bisa bernafas lega karena kegiatan mata-mata hari ini bisa libur dulu. Hari ini juga sekaligus hari ketiga tahlilan ibunya Hari. Toleransi menjaga bapak yang sakit memang hal yang lumrah untuk dimaafkan temannya yang sedang berduka. Sayangnya, buat gue itu bukanlah hal yang baik, karena sebenarnya gue punya pilihan setiap malamnya untuk datang ke Tanah Abang daripada jadi mata-mata.

Gue punya rencana mantap. Setelah gue pulang dan mandi, gue harus banget ke sana. Maka, pulanglah gue setelah berpamitan dengan nyokap.

“Woy, uhang ketek, tepat waktu banget pulangnya. Udah kaya kantoran aja.” Suara parau itu membuat banyak orang menoleh.

Kakak gue di sana, di depan pintu depan rumah sakit, sejajar dengan satpam jaga yang ikut menoleh dan menggosok-gosok kupingnya sendiri karena suara tadi sangat lantang. Dia, kakak gue, tetap bersama kekasihnya yang aneh itu. Si Inhuman misterius. Itu julukan gue, padahal belum terbukti juga.

Dengan begini, rencana pulang dibatalkan.

“Lho, Kak Rosi dateng lagi?” Gue bertanya diplomatis, dengan senyum palsu.

Senyum manisnya terkembang menjawab pertanyaan gue. Dia pun mengumbar kata-kata manis berbumbu lawakan garing untuk mendapatkan hati calon adik iparnya. Jelas gak akan menusuk sampai hati. Gue udah cepat-cepat mencoret dia dari daftar skuad keluarga Erna FC, bahkan sebelum dia resmi bergabung.

“Kok balik lagi?”

Nyokap terheran-heran dengan gue yang berjalan mengekor di belakang sang kakak dan pacarnya. Gue sendiri lebih memilih mengekor daripada berada di depan mereka, karena ada hal menarik yang bisa dilihat dari belakang.

Pantat Kak Rosi memang semok, tali g-stringnya juga sering mengintip, tapi gue bukan lesbian. Ada sesuatu yang berpendar hijau dari dalam tas jinjingnya, lalu tas itu ditenteng di bagian kanan tangan agak ke belakang. Sedikit-sedikit gue bisa mengintip apa yang ada di dalam sana.

Pertanyaan pertama selama 5 hari ini sepertinya mulai terjawab. Kekuatan aneh itu mungkin muncul dari sebuah batu sebesar biji salak yang berukir.

Usai Isya, kakak gue dan pacarnya menghilang lagi. Nyokap sendiri masih bingung kenapa gue balik lagi. Gue sendiri sibuk berkeliling rumah sakit, kebingungan mencari ruangan mana lagi yang dipakai bercinta oleh pasangan fetish itu.

“Geblek!” Gue kaget sendiri.

Lima belas menit kemudian, akhirnya gue menemukan gagang pintu yang gak tertutup rapat di ruang janitor, ditambah lagi gagang itu berpendar. Gue sempat terusik karena mereka memilih tempat yang berbeda hari ini. Ruangan janitor itu ruangan yang umum. Setiap kantor atau instansi apapun pasti punya ruang janitor, atau yang agak mirip, ya pantry. Alasan kuat apa sampai harus memilih ruangan begitu ketimbang ruangan-ruangan khas rumah sakit.

“Ahhh… sayang..” Kakak gue melenguh dengan suara ngebass.

Sebuah distraksi yang menjijikan.

Distraksi itu membuat pemikiran rumit gue gak berlangsung lama. Pemikiran lain yang lebih cerdas muncul sekonyong-konyong. Seharusnya ruangan janitor lebih aman di malam hari karena petugasnya gak terlalu banyak. Akhirnya, dengan sedikit perjudian, gue diam-diam menyungkil batu yang tertempel gak terlalu dalam di gagang pintu ruang itu.

Seketika kepala gue agak pusing dan perut gue mual. Tapi tanpa pikir panjang lagi, gue langsung melangkah pergi dari sana, pamit kepada nyokap, lalu langsung meluncur ke Tanah Abang tanpa pulang dulu.

Satu jam kemudian, gue sampai di Tanah Abang. Tapi, karena sadar diri gue bau karena belom mandi, gue menunggu di depan sampai acara tahlilan selesai dengan badan lunglai.

“Ini dia yang ditunggu-tunggu dateng.” Dani datang menepok jok motor gue.
“Kak, kenapa gak masuk dari tadi sih.” Kenia ikut keluar rumah.
“Eh, Erna… Kok, lu…?” Hari nongol belakangan.

Semua tamu sudah pulang, karpet udah digulung rapi, dan piring-piring udah disusun di rak piring dengan aroma jeruk nipis yang tercium jelas.

Setelah itu, Kenia mulai bicara dengan nada manjanya kepada Hari. Dia meminta diizinkan menenggak minyak ikan pemberian Lina. Kenia merengek ingin jadi inhuman. Dengan reaksi Hari yang menunjukkan kebosanannya menjawab, gue yakin Kenia sudah meminta berkali-kali.

“Kenia, itu tanggung jawabnya gede lho.” Dani menjadi jubirnya Hari.
“Tapi sekarang keadaan udah berubah kan, Kak.” Kenia manyun.

Hari menghela nafas, pertanda dia akan bicara panjang lebar.

“Kenia, jadi inhuman bukan solusi satu-satunya. Kakak dan Erna sejak pulang dari Tonga udah diwanti-wanti supaya gak muncul atau nunjukkin kekuatan. Buat Abang sama Kak Erna emang gampang, karena dia gak berubah wujud atau butuh alat apa-apa untuk ngendaliin kekuatan. Tapi liat kemarin, ibu pakai baju zirah, diliat orang-orang…”

Hari belum menunjukkan tanda-tanda selesai ceramah. Hanya saja, dia berhenti bicara setelah melihat gue. Gue sendiri paham, ini belum saatnya ganti topik. So, batu ini masih gue simpan erat di kantong celana.

Gue duduk bersandar di sofa. Pusing.

“… Kemarin abang kena teguran dari A.T.C.U. gara-gara tindakan di Karang Tengah itu beresiko ketahuan.” Hari menyelesaikan ceramahnya sambil melihat gue.

Hari benar-benar menyudahi ceramahnya. Kenia disuruh tidur cepat. Dani menemaninya untuk menetralisasi suasana yang menegang antara kakak-adik yatim piatu ini.

“Na, mau minum apa? Capek banget kayanya.” Hari duduk di sebelah gue.
“Gampang lah, gue ambil sendiri.” Gue cuek.

Sebenarnya, rasa mual dan pusing udah melanda kuat dari tadi. Badan gue juga rasanya makin lemas. Bisa jadi reaksi tubuh gue ada hubungannya dengan batu yang gue bawa ini. Gue gak mungkin maag karena tadi sore udah makan, dan gak mungkin juga masuk angin. Pokoknya gak mungkin sakit biasa.

“Har, lu ada obat sakit kepala gak?” Gue mengurut kening.

Hari mengambilkan satu kaplet obat generik sakit kepala dan segelas air putih. Dia dengan inisiatifnya pula langsung memijat kaki kiri gue. Bukan pijitan yang terenak, tapi lumayan membantu meredakan sakit yang gue derita secara tiba-tiba ini. Kaki gue dipangku di atas pahanya, dan gue hanya diam sambil merebahkan di atas bantal kecil.

“Kenia minta jadi inhuman.” Hari mulai cerita.

Hari bilang, sejak tahlilan hari pertama, Kenia ingin bisa menjaga diri sendiri supaya gak ada korban lagi akibat dirinya lemah. Hari udah menawarkan latihan pencak silat, tae kwon do, karate, bela diri praktis, dan sebagainya. Tapi, Kenia bersikeras bahwa solusi satu-satunya adalah menjadi inhuman.

Bukannya Hari gak menjelaskan opsi terjadinya terrigenesis 50-50. Menjadi inhuman memang sangat untung-untungan. Gak semua orang yang mewarisi DNA inhuman bisa berubah menjadi inhuman. Sebagian diantaranya hanya menjadi pembawa gen tanpa bisa terekspresi. Mau berapa kali pun makan ikan atau bahkan dilempari kristal terrigen, kalau gak terkespresi ya gak akan berubah.

“Hereditas.” Tanggapan gue singkat karena masih pusing.

“Gue juga udah ngejelasin prinsip meiosis sel berkali-kali. Kenia juga udah tau itu pelajaran SMA.” Lanjut Hari.

Gue mengerti kalau Kenia ingin menjadi mandiri. Kegagalan, kesedihan, kengerian, atau apapun yang udah terjadi beberapa waktu belakangan membuat Kenia menjadi orang yang berubah drastis. Gue memang gak begitu kenal Kenia seperti Dani, Eda, atau Jamet. Gue baru kenal dia sejak akhir tahun lalu setelah mengetahui kalau kakaknya adalah Inhuman. Tapi, gue bisa merasakan sesak batinnya sebagai sesama cewek.

“Gimana hari ini? Masih sibuk?” Hari mengubah topik pembicaraan.
“Ha? Eng…”

Gue terdistraksi lagi karena perubahan topik yang tiba-tiba. Gue kira Hari mau bercerita soal usahanya di Karang Tengah Kemarin, atau sesuatu yang mungkin berguna untuk misi kami. Nyatanya bukan.

Tangan Hari mulai menggeliat naik ke betis gue. Gue beruntung memakai celana panjang longgar model khaki, karena kadang pijitan Hari begitu kuatnya sampai gue mulai meringis. Kalau hari ini yang gue pakai adalah jeans, bisa jadi betis gue udah lecet.

“Celananya ngalangin, Na. Gue naikin ya?” Katanya.
“Eh? Eh?”

Tanpa izin yang disetujui, Hari udah mendorong naik celana panjang gue sebelah kanan hingga melewati batas dengkul. Sebelum gue sempat menegur, pijitan Hari udah menguasai titik lemah gue lagi. Begitu juga setelah dia berpindah ke kaki gue yang satunya. Gue agak curiga kalau kekuatan penyerapan energi Hari digunakan untuk memijit gue.

Rasa pusing dan mual ini belum juga hilang. Belum juga rasa kantuk datang. Mau pulang tapi gak cukup kuat. Dani pun belum muncul lagi dari kamar Kenia di lantai dua. Hanya gue dan Hari di ruangan ini dalam kondisi mencekam.

“Na..” Panggil Hari.

Hari berpindah, kaki gue turut dipindahkan dari pangkuannya. Kepala berangsur naik dengan tangan yang juga ikut meraba naik. Begitu tangannya menyentuh bagian payudara, gue berontak, tapi terlampau lemas.

Nafasnya yang menderu, hangat, menempel di telinga gue dari luar jilbab. Jangan salah, gue gak sama sekali terpancing, malah sebaliknya. Jijik. Gue berusaha meronta, tapi yang keluar dari mulut hanya erangan-erangan kecil. Hari benar-benar bekerja sama dengan sakit yang gue derita untuk membuat gue makin lemas.

Gue berguling ke samping hingga terjatuh dari sofa. Kaki gue gak punya kekuatan untuk menopang tubuh sendiri. Akibatnya, gue cuma bisa mendorong badan dengan tumpuan tangan, entah ke arah mana. Teriak pun tak mampu.

“Nghh…. Har.. Please…” Gue masih merangkak menjauh dari Hari.

Hari seolah kerasukan. Dia memeluk pinggang gue dengan kedua tangannya. Dia mencari tali pengikat, kancing, atau apapun benda yang membuat celana gue masih terpasang rapi. Sayangnya, pemberontakan gue gak ada-apanya. Tali pengikat celana gue dilonggarkannya dengan mudah.

“Jangan.. Hari…”

    

Ibarat volume televisi, suara gue sekarang mungkin hanya di poin 1 atau 2.

Hari mendengus. Dia menarik lolos celana gue terlepas langsung bersama dengan celana dalam. Dia seolah fasih bagaimana cara menelanjangi wanita. Mungkin begitu caranya dia bermain selama bersama Kak Puri dulu.

Gue masih berusaha merangkak menjauh. Pintu keluar seolah menjadi puluhan meter jaraknya. Kaki gue menendang ke belakang dengan percuma. Gue gak mau melihat Hari yang tiba-tiba kelakuannya menyerupai binatang. Posisi kami sekarang menyerupai monyet yang siap bersenggama.

Gue masih memberontak dengan sisa-sisa tenaga.

“Hari.. gue temen lu…” Ada sesuatu yang hangat tiba-tiba melekat di pantat gue. Gue gak mau melihat. Sedetik lagi, pertahanan terakhir gue rasanya bisa bobol.

CESS. CESS. Suara ICER menggema. Hari membeku biru.

Dani muncul tiba-tiba dengan ICERnya. Posisinya berdiri tegak dengan dua tangan berada di pelatuk pistol yang masih diacungkan dari jarak dekat kepada Hari. Kenia berada di belakangnya, menggulung-gulung baju Dani dalam ketakutan melihat kakaknya yang seperti orang kesurupan.

“Gimana sih? Kok bisa??” Dani melotot dan bertanya.
“Abang… Kenapa?” Kenia menggigil ketakutan.

Gue buru-buru memakai celana gue kembali. Di kantong celana, gue teringat ada sebuah batu yang berpendar hijau. Batu yang mendadak gue salahkan atas sakitnya gue secara tiba-tiba. Gue rogoh saku untuk mencari benda itu, lalu gue gelindingkan jauh-jauh. Batu itu masih berpendar.

“Itu apa?” Kenia bertanya.
“A-awas! Itu batu bahaya! Bisa nyala!” Jawab gue, masih shock.
“Apanya yang nyala?” Dani menanggapi heran.

Gue menghela nafas, teringat akan kejadian pertama soal gagang pintu di rumah sakit. Diantara orang-orang yang berlalu lalang, hanya gue yang bisa melihat gagang pintu itu berpendar hijau. Saat ini, pasti kondisinya sama.

Dani mengambil batu itu dengan hati-hati. Dia menggenggam, mengingat sesuatu yang ada hubungannya dengan kata batu. Mulutnya komat-kamit mengulang kata batu berkali-kali dengan mata melirik ke seantero langit-langit rumah.

“Ugh.. Kepala gue.” Hari bangun memegangi kepalanya.

Hari cukup kuat juga. Dua tembakan ICER harusnya bisa membuat orang biasa berhenti bergerak sekitar dua jam. Tapi Hari, dia bangkit lagi setelah dua menit. Batangan di selangkangannya kembali mengacung tegak.

Belum sepenuhnya Hari sadar, dia menunjukkan gelagat kesurupan lagi. Dia berjalan menuju Dani tanpa rasa malu soal ketelanjangannya. Kenia langsung kabur ke kamarnya, menutup pintunya rapat-rapat sambil menjerit.

“Abaaang!! Sereem!!” Begitu jeritannya.

Dani sontak kaget ketika bibirnya dilumat habis oleh Hari. Dia sempat melirik ke gue, memberi kode untuk lari ke atas mengikuti Kenia. Secepat kilat, Hari memojokkan Dani ke dinding, begitulah terakhir gue melihat mereka berdua.

Beberapa menit kemudian, hanya suara desahan yang gue dan Kenia dengar dari kamar atas.

“Alat-alatnya Kak Dani di mana, Ken?” Tanya gue.

Kenia menunjuk ke arah tas yang ada di dinding, di bawah jendela kamarnya. Gue mengobrak-abrik tas itu dengan buru-buru. Pistol ICER menjadi pilihan yang terbaik sekarang, karena itu satu-satunya yang gak melukai hari. Kalau pun masih berontak, TASER bisa jadi opsi kedua.

“Itu apa kak?” Kenia bertanya alat seperti remote yang gue pegang.
“Ini TASER, kejut listrik. Aman kok.” Jawab gue.

Kami berdua berjalan mengendap-endap dengan ICER di genggaman gue dan TASER di tangan Kenia. Kami menunduk, mengintip dari celah pegangan tangga ke arah ruang keluarga. Pandangan kami tertuju kepada Dani dan Hari yang masih terhalang sofa, tapi desahannya terdengar keras.

Begitu kami turun dan mendekat, jelaslah sudah. Kebetulan juga di saat yang benar-benar tepat. Hari telentang puas, penisnya masih menancap dalam ke liang vagina Dani yang juga sama-sama puas. Keduanya berkeringat, namun masih menggeliat pelan. Di antara kedua selangkangan Dani, mengalir turun lendir putih.

Dani menengok ke belakang, kepada kami.

“Gue bisa jelasin.” Katanya tanpa ragu.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22