Tanpa Nama S2 Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 3

Roxxon Medical Indonesia

POV Eda

Di rumahnya Hari sekarang cuma ada Dani dan Kenia. Disini, entah gue yang tegang sendirian atau sama halnya dengan Dani. Kami gak banyak bicara sedari tadi. Gue berkali-kali mengajak ngobrol Kenia sebagai ganti kecanggungan, tapi dia sepertinya juga sedang fokus dengan hal yang sama dengan Dani.

Dani dan Kenia sedang mengamati layar laptop dimana ada tayangan dari satelit yang mengarah kepada Hari dan kedua teman baru mereka sedang di Karang Tengah. Mereka di sana sedang memata-matai sekelompok terduga yang menculik ibu Hari.

“Itu banyak banget orangnya.” Gue ikut mengamati layar.
“Makanya.” Balas Dani singkat.
“Makanya apa?” Tanya balik gue.
“Harus sembunyi.” Jawab Dani lagi.

Gue cuma mengangguk-angguk karena bingung mau mau membalas apa lagi.

“Kenia, emang bener…” Gue beralih.
“Bener, Kak.” Mata Kenia nanar.

Well, gue belum selesai bertanya. Tapi rupanya Kenia memang tau arah pertanyaan tadi. Gue mau bertanya apakah ibunya hilang atau seperti apa. Selain itu, gue juga mau mengonfirmasi tentang keselamatan beliau. Sekali lagi gue menekankan kepada diri sendiri kalau Kenia masih belum sanggup menjelaskan panjang lebar.

“Ken, bikinin Kak Eda minum dulu.” Suruh Dani.

Kenia pun lekas berdiri dari posisinya yang sedari tadi menempel dengan Dani. Dia melangkah ke belakang. Tadinya gue mau ikut Kenia ke belakang, tapi rasa-rasanya akan sama garingnya dibanding sekarang. Kemudian, bunyi dentingan gelas dan sendok dalam heningya rumah ini dapat memberikan tebakan pribadi bahwa segelas sirup atau tehlah yang akan dibawa Kenia.

Ketika Kenia masih di belakang, gue beranikan diri bertanya hal yang lebih sensitif kepada Dani.

“Ibunya Hari masih hidup, Dan?” Gue buka suara.
“No.” Jawabnya.
“Kenapa bisa gitu?”

Dani pun sedikit bercerita bahwa mereka punya teman baru yang bukan manusia biasa. Mereka yang mengonfirmasi keadaan ibunya hari di saat-saat terakhir. Mereka kemudian saling bertemu dan saling membantu karena punya kepentingan yang sama. Oleh karena itu, saling bantu merupakan pilihan yang tepat.

Setelah itu, gak ada penjelasan lagi karena Dani sibuk memberi arahan kepada Hari dan teman-temannya di lapangan. Kenia pun udah kembali dengan segelas sirup jeruk. Keheningan kembali menyeruak seantero rumah. Gak ada juga keceriaan yang sering gue juga dari Kenia.

Gue di sini hanya setengah jam sebelum akhirnya memutuskan pergi lagi. Hal itu dipertegas setelah gue ditolak untuk menawarkan bantuan berjaga-jaga. So pasti, karena sekarang di rumah ini cuma ada gue sebagai laki-laki satu-satunya. Sayangnya, Dani langsung pamer beragam senjatanya yang ada di dalam tas. Banyak banget. Gue pun sempat melihat salah satu senjata yang pernah gue pegang sebelumnya.

“Yakin bisa pake semuanya itu?” Gue mencari-cari alasan.

Dani mengokang salah satu senjata laras pendeknya. Jawaban tersirat yang jelas. Dua bulan setelah kami lepas dari hubungan, Dani sangat menjadi lebih tegar hati dan fisiknya. Semoga begitu.

“Oke, kayanya kalian di sini bisa jaga diri. Gue cabut ya. Salam sama yang lain kalo mereka udah pulang.” Gue pamit.

Begitu gue melangkah ke pintu keluar, Dani memanggil kembali.

“Da, Eda.” Panggilnya.
“Ya?” Gue sok cool.
“Tangkep!”

Dani melempar satu senjata ICERnya kepada gue. Gue kaget setengah mampus dan berusaha memegang senjata itu erat-erat agar gak jatuh ke lantai.

“Anjir. Gila ya ngelempar-lempar senjata.” Gue mendengus.
“Tau cara pakenya kan? Buat jaga-jaga.” Kata Dani.
“Oke.” Gue memasang muka ber mimik ‘boleh juga ini senjata’.

Gue niatnya mau mampir lama di Tanah Abang selepas tes tulis. Sayangnya, gue udah pergi, tapi sekarang masih terlalu terang buat balik ke Depok. Rivin pun belum jam pulang kerja. Gue akhirnya memilih ngalur ngidul dulu sendirian ke Mall Indonesia. Gue pun harus taruh dulu ICER dari Dani di balik jok mobil yang gue parkir di basement.

Sayangnya, ngalur ngidul yang gue lakukan sangat kelamaan akibat dua kali nonton film dan sekali makan di Burger King. Untuk ukuran yang lagi pengangguran, gue bener-bener boros. Rivin pun ngambek-ngambek lucu di telepon karena gue belum ada di apartemen meski udah lewat jam 8 malam.

“Iya, iya, ini aku udah di mobil. Macet, sayangku.” Gue harus bicara bermanja-manja.
“Buruan pulang ih. Baru tes tulis aja udah boros gitu.” Rivin tetep ngambek.
“Maaf maaf yaaaa.” Pinta gue.

Perjalanan melintasi Rasuna Said lama sekali, udah dua jam gue belum keluar dari lalu lintas di jalanan ini. Dua jam yang serasa dua zaman. Inilah alasan yang bikin gue males nyetir di Jakarta di saat rush hour. Gue tadinya milih lewat Rasuna Said untuk menghindari macet di Sudirman, tapi nyatanya sama macetnya kaya Sudirman. Terjebak kemacetan sangat membosankan. Buat beberapa orang bahkan bisa meningkatkan kelabilan emosi.

So, daripada semakin stress. Gue melipir lagi di Menteng dan mencari Starbucks atau warung kopi macam apapun untuk mengistirahatkan mata. Akhirnya, 2 jam selanjutnya hanya gue habiskan untuk browsing-browsing gak penting. Istirahat mata gagal dengan sukses. Karena udah kemaleman, gue terpaksa kembali mengemudi tepat jam 11 malam.

Lalu lintas udah lancar ketika gue melewati Pasar Minggu. Berbanding terbalik ketika jam 8 tadi. Hari Senin yang luar biasa aneh hari ini. Keadaan jalanan yang lowong terus berlanjut sampai gue melewati Lenteng Agung. Tapi tiba-tiba sekelompok orang menghadang mobil gue.

BRAAAK!!

Gue menabrak salah satu dari mereka.

POV Hari

“Dani, ini udah tengah malem. Kita mau ngumpet sampai kapan?” Keluh gue ke earphone.
“Tunggu.” Jawab Dani.
“Dari siang jawab gitu mulu.”
“Dibilang tunggu. Jangan berisik.” Dani ngomel.

Kami sudah tiba di Karang Tengah sejak jam 2 siang. Kira-kira di waktu itu Eda sudah pergi dari rumah gue berdasarkan laporan Dani.

“Ini belum ada apa-apanya.” Sahut Pur.
“Kita sih udah sering begini di Asgard.” Balas Laras.
“Tiga minggu berendem semak berlumpur untuk ngebunuh naga.” Ditimpal lagi oleh Pur.

Tiga minggu ngelawan naga, Eksplorasi sisa-sisa Jotunheim, apalagi? Dinas ke Niflheim? Mereka berdua terus bersemangat menceritakan pengalaman mereka sebagai pasukan elitnya Odin. Buat mereka, ngumpet dibalik semak putri malu dan disamping sarang semut api gak ada apa-apanya. Mereka gak tau kalo kulit titit gue udah bentol-bentol.

Semua ini demi menjemput kembali nyokap gue meski udah gak bernyawa.

“Oke, sekarang masuk lewat pintu di kanan kalian pelan-pelan.” Perintah baru dari Dani.
“Dari tadi napa.” Gue bawel.
“Pelan-pelan. Ada orang di deket pintunya.” Jawab Dani lagi.
“Gampang.” Pur menyusul ke depan gue.

Pur menyelinap pelan-pelan ke belakang orang yang berjaga di dekat pintu. Langkahnya secara harfiah benar-benar tanpa suara, layaknya melayang. Dari dua jari telunjuknya muncul seutas tali temali tipis yang dibentangkan. Kedua tangannya menyisir sisi leher si penjaga, lalu menyekiknya hingga terkapar lemas tanpa mengeluarkan suara jeritan sedikit pun.

Begitu dirasanya aman, gue dan Laras dibimbingnya menuju ke depan pintu. Dari seberang earphone, Dani ngomel-ngomel karena Pur gak ngasih tau kalo dia bisa menyelinap kaya gitu. Gue tadinya mau ikut ngomel, tapi Dani sendiri yang ngomel udah cukup kayanya.

Laras memunculkan pedangnya, dan Pur dengan gulungan benangnya. Mereka kayanya gak perlu bawa tas besar atau sesuatu yang ditenteng untuk tempat senjata.

“Sekarang kemana?” Tanya pur ke earphonenya.
“Masuk. Di dalam kayanya ada beberapa ruangan kecil. Gue gak keliatan.” Sambut Dani dari seberang earphone.

Kami masuk tanpa ditemani visual oleh Dani lagi. Bahkan, beberapa kamera lebah pun gak mampu mengirim sinyal hingga ke tempat Dani. Kami sekarang tinggal bertiga.

“Kita bareng terus.” Usul laras.
“Yes, ini Roxxon. Bahaya kalo berpencar.” Balas gue.

Selain ada aula besar, banyak pipa-pipa besar yang mengkilap disinari lampu ruangan. Ada juga beberapa ruangan kecil di sudut-sudut bangunan. Kami menyisir ruangan-ruangan kecil tersebut yang tadi sudah disebutkan Dani. Akan tetapi, baru satu pintu ruangan kami buka, rupanya iada belasan orang berbadan besar yang siap siaga menunggu kami di dalam sana. Di belakang orang-orang itu, terdapat kantong mayat hitam yang terisi sesuatu.

“Ibu gue!” Tunjuk gue ke kantong mayat itu.

Seiring suara gue, mereka-mereka yang berbadan seperti Agung Hercules berjalan ke arah kami. Sontak kami bertiga mengambil langkah mundur. Kemudian, dari ruangan-ruangan lain muncul juga orang-orang dengan perawakan serupa.

Kami terkurung di tengah-tengah bangunan.

“Kita lawan.” Tanya Pur.
“Beneran?” Gue nanya balik.
“Gue nanya Laras.” Balas Pur.
“Mau gak mau harus dilawan.” Kata Laras.

Puluhan orang mengepung kami. Tapi tak ada wajah gentar sedikit pun dari Pur dan Laras. Mereka justru bereaksi sebaliknya dengan mimik muka yang tampak tertarik dengan situasi ini. Senyum mengembang dari kedua bibir mereka.

“Demi Asgard!” Teriak Pur.

Baju jaket kulit mereka pelan-pelan mengkilat, berpendar emas, lalu pelan-pelan muncul baju zirah berlapis emas yang melindungi seluruh badan mereka, tak terkecuali kepala. Helm mereka serupa helm motor tanpa pelindung dagu, kecuali dengan adanya lekukan runcing yang terdapat di atas jidat. Lebih dari itu, muncul pula dua tanduk melengkung yang lumayan panjang seperti banteng.

“Gak perlu teriak. Norak.” Laras menggetok helm Pur.
“Gak usah dibilangin. Hari udah takjub tuh liat.” Pur masih bisa berguyon.

Mereka berdua melompat masing-masing ke sisi kiri dan kanan untuk mengambil porsinya masing-masing. Gue sekarang sendirian berdiri di tengah sini, berhadapan dengan sejumlah orang yang gak sempat gue hitung jumlahnya.

Pukulan demi pukulan mulai melayang ke arah gue. Seperti saat latihan dan serangan inhuman avatar sebelumnya, gue mampu menghindar di setiap gerakan lawan. Dari sini gue mulai bisa membaca kalau gerakan mereka terlalu kaku. Badan besar membuat kelincahan mereka berkurang. Dengan begitu, gue punya cukup waktu untuk membuat tangan mereka lemas satu per satu.

Memang gak bisa cepat, karena lawan gue berjumlah belasan, gue pun kena beberapa kali pukulan telak di muka dan ulu hati, berdarah pula, namun melemahkan mereka adalah hal yang mudah. Satu persatu gue menempelkan tangan gue ke siku mereka, kemudian menghindar lagi ketika temannya yang lain mengayunkan pukulan. Beberapa waktu selanjutnya, gue berhasil membuat gerakan mereka jadi seperti zombi. Tangan berayun lemah dengan pundak lesu.

Tahap selanjutnya, membuat mereka pingsan. Semakin mudah.

“Lama.” Kata Pur.

Gue menoleh. Pur sudah duduk di tumpukan orang-orang yang dilawannya sambil membuat simpul-simpul karet gelang. Begitu juga Laras di sisi satunya, bedanya, Laras gak menduduki orang seperti Pur.

“Apa? Bantu gue dong dari tadi.” Gue merentangkan tangan tanda gak tahu.
“Gak perlu lah.” Pur beranjak.
“Sekarang kita ke mana?” Timpal Laras.

Gue dengan cepat menyelesaikan sisa-sisa perkelahian, kemudian langsung berlari ke ruangan yang terdapat kantong mayat tadi, disusul Pur dan Laras. Rupanya ruangan itu merupakan ruang kadaver. Ruangan yang isinya jasad manusia mati yang diawetkan untuk bahan penelitian. Banyak loker-loker untuk penyimpanan mayat. Pur pun langsung mual melihat loker itu. Laras bahkan memilih menunggu di luar.

“Kenapa deh? Kan cuma loker.” Gue menghampiri kantong mayat yang gue lihat tadi.
“Bukan lokernya. Isinya.” Jawab Pur.
“Kenapa?”
“Nggak sih. Ngerasa aja. Hiii.” Pur bergidik.
“Yaelah, berani lawan naga, berani bunuh lawan, giliran liat mayat gak berani.”

Dengan memaksa minta bantuan Pur, kami berdua mengangkat kantong mayat ini ke luar ruang kadaver. Kantong yang Ini benar-benar berisi ibu gue. Sekarang, kami berpikir bagaimana membawa pulang ini.

Prok! Prok! Terdengar tepukan tangan dari tengah ruangan.

“Bravo, bravo, saya udah mengira kekuatan inhuman memang hebat. Sayangnya, gak menyangka ada bantuan lain.”

Dari ruangan yang lain di seberang sana, keluar satu orang pria dan satu orang wanita. Si lelaki berusia sekitar paruh baya,mengenakan kemeja lengan panjang formal yang lengannya digulung, celana bahan hitam, dan kepala lumayan botak di bagian belakang. Si wanita lagi mengenakan kacamata berbingkai tebal bewarna hitam, mengenakan jas laboratorium putih, dan sebuah smartphone di tangan kirinya.

“Perkenalkan, saya yang bertanggungjawab di Roxxon Medical Indonesia, Panggil aja Jenggo. Di sebelah saya ini, orang kepercayaan saya…”

Begitu mendengarnya, gue naik pitam. Gue berlari dalam keheningan untuk langsung memukulnya keras-keras. Tetapi, yang terjadi kemudian tangan kanan gue dikunci, lalu dibanting secara tiba-tiba oleh si cewek di sebelahnya. Gue terkejut karena gerakannya terbilang lincah meski memakai jas lab yang terkancing rapi.

Badang gue langsung ambruk, kemudian dia hendak memukul gue lagi tepat di muka. Laras langsung bergerak melawan orang tersebut melalui pertarungan jarak dekat tanpa senjata. Laras dengan sigap meladeni setiap gerakan lawannya. Pur langsung memapah gue untuk mundur dalam satu kesempatan singkat. Begitu Laras hendak melancarkan pukulan, lelaki paruh baya bernama Jenggo itu bersuara keras untuk menghentikan perkelahian.

“Sebaiknya kalian berhenti! Lihat ini.” Kata dia.

    

Si Jenggo membalik smartphonenya, menunjukkan tayangan CCTV yang menyorot Eda yang berlari ketakutan masuk ke sebuah pasar. Dia menghindari kejaran sekelompok pria berbadan besar. Di sudut yang lain, mobilnya sudah ringsek di pinggir jalan.

“Kalo kalian gak mau orang ini mati, sebaiknya berhanti.” Kata si Jenggo lagi.
“Laras! Please berhenti, itu temen gue.” Gue terbatuk-batuk berteriak.

Laras berhenti dengan terpaksa. Kami kembali berbaris dalam satu banjar.

“Kita belum kenalan, saya Niken. Lain kali kita sparing lagi.” Orang itu memberi salam yang unik kepada Pur.
“Kamu hebat bisa ngimbangin Niken. Siapa kamu?” Tanya si Jenggo.
“Saya Pur! Kstaria pemberani dari…” Balas Pur dengan gagahnya.

Niken​

“Dari Tanah Abang! Ksatria pemberani dari Tanah Abang! Saya tangan kanannya.” Laras menimpali seketika.

Pur dan gue bersamaan menengok ke Laras.

“Hoh, preman kampung. Tapi kalian kayanya bukan manusia biasa.” Si Jenggo ini mulai menyelidiki.
“Kami emang suka puasa mutih, segala macem puasa kami lakuin! Jadi jangan anggap remeh.” Laras lagi yang menjawab.
“Kalian gak pinter bohong. Ayo Niken, cabut, kita udah gak urusan di sini.”

Jelas kalau Laras gak pandai berbohong. Mana ada preman kampung Tanah Abang yang pernah berpakaian baju zirah berlapis emas dengan helm bertanduk . Mereka juga pasti udah mengawasi kami sejak kami masuk tadi.

Kami bertiga, sambil menjinjing kantong mayat ibu gue, bersusah payah keluar dari gedung ini dari pintu berbeda. Kekhawatiran lain gue muncul terhadap keselamatan Eda.

POV Eda

Sedari tadi gue dikejar banyak preman. Gak jelas apa maunya mereka, padahal mobil udah gue tinggalin di pinggir jalan. Gue tadi kaget banget ketika nabrak orang, tapi ternyata cuma mobil gue yang ringsek. Sedetik kemudian, kaca mobil gue dipecahin orang yang gue tabrak tadi. Dia sehat wal afiat tanpa cedera sedikit pun. Untung ada pegangan ICER yang bisa membuat separuh jumlah dari mereka menjadi beku.

Sekarang gue lagi ngumpet di toko buah yang masih buka, tapi gak tau pedagangnya ke mana. Di balik kotak-kotak kayu, gue mendengar langkah mereka mendekat, berbincang mengenai ke arah mana pelarian gue, lalu pergi lagi. Begitu hampir aman, hape gue tiba-tiba bunyi keras banget. Ada panggilan dari Rivin berkali-kali meski udah direject.

“Kampret.” Umpat gue dalam hati.

Mereka mendengar suara hape gue, lalu berjalan kembali ke sini. Gue pun gak mau ambil resiko. Gue geprak hape gue sampai pecah, lalu gue berlari lagi. Beberapa kali ICER gue tembakkan asal-asalan agar kerumunan mereka melambat. Gue terus berlari lagi hingga menemukan rolling door sebuah toko yang terbuka sedikit. Dengan buru-buru, gue berguling masuk, lalu menutup rolling doornya. Gue kayanya harus sembunyi dulu yang lama di sini.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22