Tanpa Nama S2 Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 2

Rakyat Sipil

POV Eda

“Capek banget belajarnya, Say?” Rivin mengelus kepala gue.
“Interview pertama sih.” Gue menoleh ke arahnya.
“Laptop mulu diliatin, akunya kapan?” Godanya.
“Sebentar lagi ya.” Aku mencium pipi Rivin.

Rivin cemberut manja, lalu dia pergi ke kamar mandi.

Sesudah pulang dari rumah sakit tadi sore, gue berkutat di depan laptop demi tips dan trik interview pertama gue besok. Sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di penjualan obat-obatan menjadi hal menggiurkan untuk ditolak. Terlebih, menganggur enam bulan lamanya membuat gue semakin panik. Oleh karena itu juga, gue gak bisa berkumpul ke rumah Hari di Tanah Abang malam ini.

Iuran apartemen dan bensin semuanya sudah menjadi tanggungan Rivin sendirian karena bokap melepas segalanya. Gue sih gak marah karena memang sudah saatnya gitu. Malah, menurut gue bokap terhitung telat melakukannya. Untungnya, tabungan gue juga masih bisa dipakai untuk makan berdua untuk sebulan ke depan lagi.

“Say, jangan stress gitu dong ah.” Panggil Rivin.
“Sebentar ya sayangku, cintaku.” Gue gak menoleh.
“Sini dong nengok dulu.”

Sebagai pasangan yang baru berjalan resmi selama tiga bulanan, kami masih manis-manis manja. Akan menjadi masalah besar kalau gue gak menoleh sekarang. Begitu menoleh, rupanya Rivin sudah memakai lingerie merah berenda dan hanya bagian puting dan bulu kemaluannya yang tertutup sempurna.

“Kalo aku gak lolos besok salah kamu ya.” Batang penis gue menengang penuh.
“Tenang aja.” Senyumnya menggairahkan.

Rivin menggoda langkahku yang pelan-pelan tertuntun ke kasur. Kedua tanganku meraih lehernya agar kami mendekat. Kami saling mengecup singkat, lalu berlanjut dengan gigitan bibir bawah yang sangat seksi. Lidah gue pun menari di rongga mulut Rivin, menyentuh apapun yang bisa dicapai di dalamnya..

Tangan Rivin perlahan menyelinap ke dalam kaos gue. Dia menariknya ke atas, meloloskan badanku yang kini terbuka. Ikat pinggang gue dilepasnya, celana jeansku pun melorot perlahan. Bagian yang yang menonjol di dalam celana dalamku dimainkan Rivin. Dia menimbang-nimbangnya, lalu diremas keras, membuat bagian itu kegelian dan semakin keras.

“Uhhh, kok tumben sih nakal?” Tanya gue.
“Emang biasanya gak nakal?” Rivin melirikku dari bawah sana.
“Yaaaa… gak kaya biasanya aja.” Gue kagok dipandang begitu.
“Ini penyemangat buat kamu.”

Rivin seketika menarik turun celana dalam gue, memegang pangkal batang penis gue, lalu melahapnya penuh dari bagian kepala hingga dekat dengan bulu-bulu kemaluan. Kemudian, dia memundurkan lagi kepalanya hingga hisapan kuatnya terlepas.

“Ahhh…” Gue cuma bisa mendesah.

Selanjutnya, kuluman demi kuluman dilakukannya dengan liar. Kami pun menuju kasur, melanjutkannya dengan posisi 69. Gue mainkan pintu vaginanya dengan lidah yang bergerak naik turun. Dua jari gue turut bermain menusuk ke dalam lubangnya. Dalam waktu singkat, basahlah seluruh selangkangan Rivin.

“Kamu tiduran aja.” Perintah Rivin.
“Up to you.”

Gue rebahan di atas kasur. Rivin perlahan duduk di atas selangkangan gue, menggeser penutup selangkangannya ke samping. Dia membimbing penis gue masuk menembus pertahannya. Dalam satu hentakan saja, Rivin langsung mendesah keras, lalu dia melumat bibir gue dengan ganas. Gue di bawahnya hanya cukup menikmati kendali Rivin sambil menjaga agar penis gue tetap tegak berdiri.

Usai puas saling melumat bibir, Rivin memutar-mutar selangkangannya. Dia memburu kenikmatan untuk kami berdua. Terkadang gerakannya berganti maju dan mundur. Semua gerakan liar tersebut membuat gue gemetaran. Sesekali gue membalas Rivin dengan mengelus titik-titik sensitifnya dengan kedua telapak tangan.

“Kamu seksi banget sih… ahh…” Gue mencoba menggoda.
“Ahhh… Ahhhhhhh….” Rivin mendesah sendiri.
“Seksi banget, sayang…” Gue pun menikmati desahannya.

Gak ada variasi posisi malam ini. Rivin sudah bergerak tanpa henti selama sepuluh menit, diselingi orgasmenya tiga menit yang lalu. Gue sempat meminta tukar posisi, tapi gak diizinkan.

Begitu Rivin sekali mengambil nafas, gue menjatuhkannya ke samping dan mengambil alih kendali. Gue mau menyelesaikan permainan ini dengan cantik. Posisi kami sudah berbalik, membuat gue leluasa menggenjot dengan gak kalah cepat.

Lima menit sudah Rivin mendesah keras tanpa henti.

“AHH.. AHH… NAKAL… AHHHH….” Desahan Rivin makin keras.
“Mau keluaarhh…” Kata gue.
“BAREENGHH.. AKU JUGAA.. AAAHHH..” Desahan Rivin memuncak.

Dia kembali menyemburkan air cintanya untuk kedu kali. Berbalas gue yang menyemburkan sperma di atas perutnya dan mengotori lingerienya. Selama beberapa lama, kami hanya mampu mengatur nafas masing-masing.

“Tadi itu penyemangat buat kamu.” Rivin mengelus kuping gue.
“Iya, makasih ya.” Gue menggeser posisi badan.
“Semoga lolos ya besok.” Kecupnya di pipi kiri.

POV Dani

Lewat jam 10 malam, kami berlima sudah berkumpul di ruang keluarga. Di depan Tivi. Hari dan Kenia sudah mau diajak mengobrol. Tapi, gue rasa kami harus tetap berhati-hati dalam bicara.

“Makan, makan.” Gue memasakkan mereka masi goreng untuk makan malam yang telat ini.
“Terima kasih ya, Dani.” Laras dengan senyumnya.
“Makan, Hari, Kenia.” Gue menyerahkan piring ke mereka berdua.
“Iya, makasih.” Jawab mereka berdua bareng.

Gue masih kepikiran apa yang diceritakan Laras dan Purnawarman tadi siang, di tempat yang bukan rumah Hari. Mereka pun mengulang cerita itu di depan Hari dan Kenia sekarang. Mereka berdua mengaku sebagai makhluk dari Asgard, ksatria Einherjar katanya. Hanya itu asal-usul yang bisa mereka ceritakan. Selebihnya masih belum boleh diceritakan.

Mereka turun ke bumi karena banyak hal yang berujung ke Ragnarok. Sebuah kiamat versi bangsa Nordik. Katanya, Palu Thor lenyap. Akan tetapi, mereka masih merahasiakannya agar gak didengar penguasa dari dunia lain. Kalau mereka tau, bumi bisa diserang habis-habisan.

“Sayangnya, gak semua orang Asgard bisa menjaga rahasia.” Kata Laras.
“Banyak juga tukang gosip kaya emak-emak.” Timpal Pur.
“Hasilnya, banyak pembelot yang takut dengan terjadinya ragnarok, terus anarkis.” Kata Laras lagi.

Sebagaian besar sudah ditangani pasukan Einherjar, namun beberapa buronan lari ke Midgard. Bumi. Orang pertama yang mau mereka cari namanya Helga. Perempuan bangsa Vanir yang bernama Helga. Dia mencuri batu-batu runei koleksi raja Odin untuk keamanannya sendiri dari ancaman Ragnarok. Salah satu batunya yang sempat dipakai sama penyihir bumi beberapa bulan lalu.

“Maksudnya Alan?” Tanya gue.
“Iya, dia sempat manfaatin Alan untuk sembunyi. Sebelum kami tuntas nyari, Alan udah mati.” Jawab Laras.

Akhirnya gue menemukan benang merah kenapa Laras menjadi Larsson di markas S.H.I.E.L.D. Mereka sedang mencari buronan yang ternyata berkaitan dengan Alan. Panjang sekali urutan ceritanya. Semuanya terus bersambung dari kasus Puri, Irfan, Alan, lalu sekarang Helga. Ancaman kami semakin bertambah aneh, mulai dari inhuman, watchdog, penyihir, hingga bangsa Vanir.

Laras cerita juga soal burung dara yang mereka pakai untuk menyurati kami. Kata Laras, burung dara itu pengirim yang praktis kalau pengirim gak tau sama sekali alamat tujuan. Sayangnya, Pur lupa nulis titik pertemuan di pengiriman suratnya kedua.

“Untungnya kami ketemu Kenia kemarin.” Kata Pur.

Kenia menoleh. Pur pasti salah ngomong. Atau waktunya gak tepat.

“Terus, kalian tau siapa yang nyerang ibu kami?” Tanya Hari.
“Mereka bukan orang yang kita cari. Mereka orang bumi.” Jelas Laras.

Pur mengeluarkan sebuah plastik ziplock dari tasnya. Isinya adalah peluru yang terlepas dari tubuh ibunya Hari saat kejadian. Hal itu langsung disambut Kenia yang bangkit dan berlari ke kamarnya sendiri di lantai dua. Laras langsung mengejarnya.

“Benda ini bukan dari bumi.” Tunjuk Pur.
“Itu apa?” Tanya gue.
“Ini bagian dari pasukan Chitauri.” Jawab Pur.
“New York.”

Hari menghela nafas.

“Waktu gue nyari kalian, gue pernah denger desas-desus di pasar gelap. Mereka nyebut ini Judas Bullet.” Jelas Pur lagi.

Kami berbicara panjang lebar yang lama-lama mengarah pada pabrik-pabrik pembuat senjata anti-alien. Gue pun mengeluarkan gadget, membuka file-file akses terbatas milik A.T.C.U., lalu menemukan berbagai pabrikan hingga pasar gelap yang bergerak di bidang tersebut. Dua diantaranya udah gue dan Hari kenal sejak beberapa waktu lalu.

“Hammer Tech.” Tunjuk gue ke layar.
“Ada Roxxon juga.” Tunjuk Hari.
“Adrian Toomes ini siapa?” Tunjuk Pur.
“Cuekin aja, yang ditandain checklist itu udah ketangkep.” Balas gue.

Kalau senjata mereka sudah masuk Indonesia, bisa jadi ada juga pabrik rakitannya di negara ini. Maka kami memutuskan untuk menyelidikinya. Tapi, sebelumnya, gue akan bertugas melapor ke bos besar A.T.C.U. terlebih dulu.

Setengah jam kemudian, kami sudah seutuhnya berkumpul di ruang keluarga lagi. Kenia dan Laras sudah kembali dari lantai atas. Ditambah ada Erna yang baru datang. Lengkap sudah kepala yang hadir untuk rencana kali ini.

“Mau mulai dari mana?” Tanya gue.
“Kita ke air mata pengelihatan. Cukup gue sama Hari aja.” Kata Pur.
“Gak! Gak boleh!” Laras langsung ngebantah.

Dia beralasan air mata pengelihatan itu berbahaya. Sangat mematikan kalau fisik si penerima pengelihatan gak cukup kuat. Apalagi kalau yang masuk ke sana adalah Hari yang berfisik manusia. Laras pun berujar kalau itu lebih berbahaya daripada melakukan perjanjian di kolam air dewa Mimir.

Dewa Mimir aja gue gak tau siapa.

“Ehem.. gimana kalo pakai kamera lebah?” Erna memberi saran lain.
“Kamera?” Laras bertanya balik.

Dengan sedikit penjelasan dari gue, para einherjar sudah sangat mengerti bahwa kamera ini adalah kamera pelacak. Dengan bekal pola wajah dan gen, kami bisa cepat melacak target pencarian. Hari pun langsung masuk ke kamar ibunya untuk mencari potongan rambut. Kenia membuka-buka galerinya untuk mencari foto ibunya yang jelas menghadap kamera.

Dengan alat dan bahan yang lengkap. Gue mulai menyalakan laptop super berat, lebih berat dari laptop terberat milik toshiba, untuk melakukan pengaturan secepat mungkin. Tangan gue mulai lihai memainkan alat-alat S.H.I.E.L.D. setelah latihan ratusan jam lamanya selama dua bulan.

“Kita cari ke mana nih?” Tanya gue.
“Sedunia, kak, please.” Kenia agak ngotot.
“Se-Indonesia masih mungkin gak?” Tanya balik Hari.

Kami semua diam. Einherjar juga diam.

“Kejadiannya udah 24 jam lebih kan ya. Kalau ke hutan kayanya gak mungkin. Pasti mereka butuh fasilitas besar untuk melakukan sesuatu sama ibu kamu.” Erna berpikir.

Kami menatap Erna dan masing-masing raut wajah menunjukkan keseriusan tingkat tinggi.

“Itu dia! Fasilitas rekayasa genetik! Mereka mau bikin inhuman sendiri!” Pur memukul telapak tangannya sendiri.

Kami semua mengangguk.

“Oke. Scanning laboratorium rekayasa genetik. Kalau gitu gak perlu kamera lebah.” Jelas gue.
“Terus pakai apa?” Tanya Erna.
“Pakai satelit. Soalnya kamera lebah gak bisa mainin pemancar laboratorium.” Jawab gue.

Gue melakukan pengaturan ulang. Lalu, mengalihkan fungsi pencarian menggunakan satelit atas izin A.T.C.U. Setelah melakukan proses terakhir, pencarian ternyata membutuhkan waktu sekitar 12 jam.

“12 jam nih.” Gue menunjuk angka hitung mundur.
“Kok lama, kak?” Tanya Kenia.
“Katanya mau sedunia.”

    

Gue menjawab sambil tersenyum. Kenia pun memeluk gue karena keinginannya dituruti. Gue kembali menjelaskan kalau pencarian ini berdasarkan fungsi alat-alat spesifik setiap laboratorium yang menghasilkan sinyal gamma. Hampir sama seperti pencarian Loki dulu menggunakan metodenya Bapak Bruce Banner di Helicarrier.

“Dan kita ngerjain ini di rumah orang sipil. Rekor.” Pur nyeletuk dengan gelagat guyonnya.

Gue sendiri berharap pencarian ini gak merujuk ke belahan dunia lain. Ke Cikarang aja kemarin kami berdua cuma naik motor, gimana kalo ke belahan dunia lain. Semoga A.T.C.U. cepat merekrut banyak pilot quinjet.

POV Hari

Sepanjang malam tadi kami hanya menganggur menunggu pencarian ibu gue yang akan selesai jam 11 siang. Kami semalaman berganti jaga, kecuali Dani yang lagi-lagi merasa bertanggung jawab atas pencarian. Gue bisa melihat kantong matanya sudah menghitam. Kalau sudah begini, disuruh isitrahat pun belum tentu mau sampai pekerjaan selesai.

Sekarang udah setengah 11. Dengan kata lain, setengah jam lagi pencarian akan berakhir. 95% belahan dunia sudah dicari, tapi tanda-tanda keberadaan ibu gue masih nihil. Dua wilayah yang belum di scan adalah Indonesia dan Australia. Semua orang, termasuk gue, berharap target masih ada di Indonesia.

Erna udah pulang pagi tadi karena giliran jaga bokapnya lagi. Belakangan ini Erna memang sibuk sendiri. Kasihan dia, harus punya alibi pekerjaan agar gak dicurigai orang-orang. Beda dengan gue dan Dani yang gak punya banyak kenalan untuk jadi korban wawancara gak bermutu.

“Done! Target ada di… Karang Tengah!” Dani menunjuk peta.
“Karang Tengah? Seriusan?” Gue setengah gak percaya.
“Ada simbolnya Roxxon di atap.” Dani melakukan zoom in satelit.

Karang Tengah itu di Tangerang. Masih di Indonesia. Bahkan masih di pulau Jawa! Sungguh beruntung kami semua. Perusahaan Roxxon lah jadi target kami di sana, karena banyak logo Roxxon di sekeliling tembok. Gue gak peduli kenapa Roxxon bisa ada di Indonesia, ataukah mereka memiliki izin atau ilegal. Gue hanya peduli menjemput ibu gue entah itu dalam keadaan hidup ataupun nggak

“Biar gue sama Pur….” Kata Gue.
“Gue ikut.” Laras menyandang pedang besarnya yang tiba-tiba muncul dari tangan kanan.
“Oke, Laras Ikut. Dani sama Kenia tetep di sini.” Gue meralat.

Pedang di tangan Laras kembali lenyap.

Kami bertiga berangkat naik motor. Gue berkendara sendiri, sedangkan Pur dan Laras memakai motornya Dani. Di kuping kami masing-masing terpasang earphone yang terhubung dengan Dani di Tanah Abang. Dani memberikan instruksi di setiap perjalanan kami, seperti informasi perjalanan yang masih satu jam lagi, atau pemberitahuan bahwa di sana ada lima puluh pekerja. Ada juga perintah dari orang A.T.C.U. yang menyuruh kami tetap harus tersembunyi menjadi inhuman tanpa nama.

“Gue juga udah lapor Erna. Dia bilang kalian harus tetap hati-hati.” Kata Dani
“Siap!” Jawab gue bersemangat.
“Erna siapa?” Tanya balik Pur.

Laras menggetok helm Pur.

“Cewek yang tadi malem dateng bego.” Ketus Laras.
“Ya maklum, dateng cuma sebentar gitu sih. Kan gue gak sempet kenalan.” Pur dengan kekonyolannya.

Dalam satu info lainnya, Dani berkata kalau Eda mau mampir ke rumah nanti sore. Gue pun meminta dijawab kalau gue gak ada di rumah sampe besok. Gue berpikir ini bisa jadi perkelahian yang hebat hanya dengan 3 orang. Tepatnya, satu orang inhuman dan dua orang einherjar. Pasti akan memakan waktu lama, sama seperti di Tonga.

“Kak, hati-hati ya. Aku gak mau kejadian aneh-aneh lagi.” Suara Kenia
“Iya, Ken. Doain ibu kamu selamat juga ya.” Balas gue.
“Udah gak mungkin, kak.”

Gue tau kata-kata gue tadi cuma keceplosan. Tapi dipertegas seperti itu masih berasa sedih juga. Apalagi ibu gue belum dimakamkan secara layak. Kemarahan gue udah numpuk di telapak tangan.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8