Tanpa Nama S2 Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 1

 

Pacar Kakak

POV Erna

Gue sudah bangun jam 5 kurang dikit untuk mengerjakan tugas harian. Di sebelah kiri, di twin bed yang satunya lagi, Jennifer masih tidur dengan gaya akrobatik. Dia sempat terbangun ketika gue menutup pintu kamar mandi, sekedar menyapa, lalu pulas lagi. Gak perlu tanya Anwar sama Tika di mana, pasti sekarang masih tidur di kamar sebelah. Meski manggung semalam suntuk, mereka tetep aja masih bisa mendesah sampai jam dua pagi dengan jendela kebuka.

Malam tadi, kami manggung di suatu mall besar di Tangerang Selatan. Kemudian, berakhir di hotel bintang tiga karena katanya Anwar sudah kecapekan nyetir. Dari awal gue udah yakin itu cuma akal-akalan dia doang biar bisa ngamar sama Tika.

“Jen, gue balik duluan ya. Harus ke rumah sakit pagi-pagi.” Gue menepuk pundak Jennifer.
“Oh oke, ntar kita nyusul deh siangan ya.” Jawab Jennifer.

Matanya masih mengejap-ngejap sipit. Bibir bawahnya penuh kerak berwarna putih, tapi gue kurang peduli. Gak lama kemudian, gue udah keluar dari tempat menginap kami. Selanjutnya, gue sempatkan dulu sarapan lontong sayur yang mangkal gak begitu jauh dari pitu keluar hotel.

Sebagai orang Sumatra keturunan, gue sering dibilang pembelot. Gue gak suka pedes sama sekali. Kala dihadapkan dengan rendang aja, pilihannya antara diguyur kecap atau gak makan sama sekali. Film 5 cm pun cukup memberikan gue inspirasi sejak lima tahun lalu. Arial alias si Deni Sumargo dalam satu scenenya, dia membawa kecap sebelum naik gunung Semeru, dan itu mencerahkan gue.

Mau ke mall, ke gunung, pulau, manggung, atau misi yang jauh, kecap harus ada di dalam tas gue. Pernah waktu misi di Painan kemarin, gue lupa bawa kecap. Abis itu gue mati-matian nyari kecap ke warung karena di sana full masakan padang yang pedes-pedes. Jadi, lontong sayur pagi ini wajib pakai kecap. Yang banyak.

Matahari udah bulat seutuhnya ketika gue masih istirahat sambil menurunkan makanan ke perut. Ada pesan wa dari Dani.

“Ibunya Hari meninggal. Buru ke sini ASAP.” Begitulah isi pesannya.

Gue menatap langit yang masih gelap.

“Kenapa gak telepon aja deh.” Gumam gue sendiri.

Buru-buru gue pesan Grab. Sepuluh menit kemudian, grab-bike gue melaju membelah Jakarta Selatan di minggu pagi, dan gue sendiri anteng duduk di bangku penumpang. Mau panik pun gak berguna, kecepatan ideal motor kan segini-segini aja, kecuali masih ada Sigit.

Gue berencana ke Rumah Sakit Persahabatan segera setelah dari Tanah Abang. Mungkin berduka sebentar ke rumah Hari masih sempat, lalu kembali lagi nanti malamnya untuk tahlilan.

“Sepi?” Gumam gue setibanya di Tanah Abang.

Rumah Hari sunyi senyap, gak seperti perkiraan gue yang beranggapan bendera kuning sudah diselipkan di tiang listrik dari ujung jalan tadi. Bahkan, gak ada bendera kuning di mana pun di sekitar sini. Dani kayanya bohong. Tumben gue dibohongin.

“Assalamualaikum, Hari.. Kenia.. Dani..” Gue setengah teriak sembari mengetuk pintu.

Gue taruhan sama diri gue sendiri kalo yang buka pintu pasti Dani. Begitu orangnya keluar, tebakan gue seratus persen bener. Gue dapet goban dari diri gue sendiri, dan uangnya buat beli pertalite besok.

“Masuk, Na.” Dia membukakan pintu.
“Hari ada?” Gue nyoba mengonfirmasi.
“Ada, tapi lagi gak bisa diganggu.” Jawabnya.

Dani terus-terusan berbisik. Katanya ada hal penting dan bukan hal biasa. Tapi, gak bisa diomongin di sini meski sekedar berbisik sekali pun. Dia juga bersikeras ibunya Dani memang meninggal, tapi jasadnya diambil orang. Gue langsung yakin ini pasti ada sangkut pautnya soal kerjaan sebagai agen. Soal kerjaan berarti soal inhuman, penyihir, dan sebagainya. Gue sangat tertarik, tapi ada tugas keluarga yang lebih penting.

“Ntar malem deh gue balik lagi. Bokap gue masuk rumah sakit nih.” Kata gue.
“Eh?” Dani memundurkan kepalanya tanda heran.
“Iya, baru kemarin kena stroke.”

Dani turut prihatin. Lalu gue balas berkata kalau lebih baik fokus masalah yang ada di depan mata aja. Kami agen A.T.C.U., mantan agen pemula S.H.I.E.L.D. Soal keluarga doang masih bisa gue tangani sendiri.

“Gue pamit dulu ya, jangan lupa bilang ke Hari kalo tadi gue ke sini.” Gue memeluk Dani.

Dani mengangguk. Gue pergi dengan grab lagi.

Waktu tempuh dari Tanah Abang ke Rumah Sakit Persahabatan lewat jalur arteri itu 30 menit kalo berdasarkan google map. Tapi, karena sekarang minggu pagi, gue berhemat 10 menit. Nyokap pun langsung nyambut dengan muka gembira ketika gue tiba.

“Udah mandi? Udah sarapan?” Tanya nyokap.
“Udah dan udah.”

Gue udah mandi di hotel dan udah sarapan di depan hotel tempat gue mandi. Gue lumayan segar bugar, apalagi cuma buat stand by di ruang tunggu rawat inap sambil tiduran dan main hape seharian penuh.

“Yaudah, jaga sini. Mama mau jaga toko ya.”
“Siap.” Gue mengacungkan jempol.
“Nanti boleh besuk jam 11, tapi ntar jam 9 katanya suster mau dateng…” Nyokap berpesan.

Gue mendengarkan dengan seksama setiap instruksi nyokap. Semua siap gue jalankan karena gue anak yang seenggaknya masih berbakti. Gak kaya kakak gue yang suka ngilang gak pulang-pulang hanya karena bisnisnya mentereng.

“Uda kamu on the way ke sini.” Kata nyokap lagi.

Sungguh kami keluarga yang menjunjung tinggi budayanya sendiri. Di Jakarta udah sekian puluh tahun dan melahirkan dua anak, namun tetap menggunakan kata depan Uda, Uni, Pak Etek, bla bla bla untuk anggota keluarga.

“Ngapain dia?” Spontan terucap dari mulut gue.
“Mau jenguk lah. Emang ngapain lagi.” Nyokap menanggapinya bercanda.
“Tumben.”

Selanjutnya, nyokap cuma geleng-geleng. Abis itu, nyokap langsung pamit dan meninggalkan gue sendiri. Selama sejam selanjutnya gue cuma leyeh-leyeh. Tepat jam sembilan, si suster mendatangi gue untuk menawarkan membeli infus sendiri berdasarkan resep atau dititipkan saja.

Duit emang udah gak masalah buat gue semenjak jadi agen. Apalagi masih ada tambahan dari manggung. Saat ini, cama nyokap, bokap, Hari, Dani, Eda, dan Kenia yang tau job gue sebagai agen A.T.C.U. Selain mereka, orang lain cuma tau gue dapet penghasilan dari main band yang menggunakan nama tumbuh-tumbuhan.

Jam sebelas kurang dikit, temen-temen Bryophyte dateng nemenin gue. Gak banyak yang kami obrolin karena memang baru ketemu tadi malem. Selebihnya, kami cuma main poker sambil beberapa kali ditegur keluarga pasien yang lain akibat berisik. Dua kali ditegur kemudian, Anwar dan Tika lebih memilih keliling rumah sakit.

Mereka pergi dengan nafas mendengus.

“Anwar sama Tika udah cabut kan ya?” Jennifer ngelirik ke lorong terjauh.
“Kenapa lu?” Ledek gue.
“Gue mau cerita ini sih dari semalem, tapi tadi ngantuk banget.”
“Apaan?” Gue gak tertarik.

Jennifer udah jelas pengen curhat lagi soal Jamet. Curhat yang gak ada abisnya dan selalu ada hal baru yang bisa diceritain. Sejak dari Malang tiga bulanan lalu, kami sesama band Bryophyte udah terang-terangan ngingetin soal perilaku Jennifer yang kelewatan demi mendapatkan Jamet. Sayangnya Jennifer gak pernah beli kampas rem baru untuk menahan gairah cintanya sendiri.

Kali ini lebih parah lagi, dia nunjukin hasil chatnya ke Jamet sebelum manggung semalem. Wajah full make up Jennifer dikirim close up, ada juga foto full bodynya yang difotoin Tika. Foto terakhir yang dikirimnya pun sedikit menggoda, matanya dikedipkan satu dengan rambut digerai ke depan. Lantas dibales dengan satu kata oleh Jamet. Cantik.

CANTIK. Pake huruf kapital.

Kata ‘cantik’ tanpa embel-embel emoticon lainnya paling sama aja kaya dulu-dulu. Sekedar apresiasi dari Jamet supaya si cewek katolik satu ini gak sakit hati. Jamet pun harusnya tau kalo Jennifer sakit hati justru lebih baik buat mereka berdua. Sebaliknya, Jennifer menerima kata ‘cantik’ udah kaya Justin Bieber salaman sama fansnya yang receh-receh di bawah panggung.

Jamet jadi JB dan Jennifer jadi fans recehnya.

“Terus dia sama pacarnya gimana?” Tanggap gue jutek.
“Menurut gue sih makin naik turun, kaya roller coaster.” Jawabnya senang.
“Menurut lu???” Gue sebenernya mau bilang, sumpeh lu.

Jennifer mengangguk dengan wajahnya yang makin merah, kontras dengan kulit badannya yang pucat. Kalo ada dokter kebetulan lewat, pasti dia udah ditarik ke UGD karena dikira mabok tuak. Setiap hari dia berusaha dengan cara yang makin ekstrim, dan hasilnya cuma diperkirakan secara pribadi oleh dirinya sendiri. Jennifer fix sakit.

“Ini belum ada apa-apanya.” Jennifer menggeser chatnya ke atas.
“Apa-apanya, apaan?”.
“Tapi jangan kasih tau siapa-siapa.” Bisiknya.

Jennifer mendadak protektif sama hapenya. Sampai sini, gue mungkin tau apa yang mau dia pamerkan.

“Jangan bilang…” Gue melotot.

Jennifer menyodorkan layarnya sembunyi-sembunyi, menunjukkan foto telanjang dada yang berjumlah tiga buah. Terkirim dengan sukses dua jam lalu kepada Jamet. Yang lebih parah, gak ada balesan lagi dari Jamet setelah fotonya dilengkapi centang biru.

“Itu, gak dibales?” Gue mengalihkan fokus.
“Dia sange pasti.” Jawab Jennifer dengan yakinnya.
“Sakit lu. Kalo diliat Janiar gimana?”
“Bagus dong.”

Jennifer berkedip nakal. Nasihat semua anggota Bryophyte selama berbulan-bulan masih aja gagal.

Anak-anak Bryophyte akhirnya pulang setelah jam besuk siang selesai. Usai tugas wajib siang gue kelar, Giliran Eda yang dateng bareng Kak Rivin. Kami pun sedikit berbincang masalah yang umum, mulai dari lelahnya bekerja kantoran hingga pengalaman selama ngeband.

“Beb, bentar ya. Aku mau ngobrol bentar sama Erna.” Eda meminta izin.

Eda menarik lengan gue sampai ke tangga rumah sakit yang tanpa anak tangganya. Tipikal tangga landai untuk pasien yang menggunakan kasur dorong atau kursi roda.

“Na, Dani ngasih kabar kalo nyokapnya Hari meninggal.” Kata Eda.
“Iya tau.”
“Gue kayanya gak sempet jenguk. Besok gue ada interview kerja pagi banget.” Jawabnya balik.

Eda menghela nafas sebentar.

“Beritanya ada di internet. Taglinenya inhuman. Nih.” Eda menyodorkan gadgetnya.
“Wah, gue baru tau kalo ini.” Gue membaca dengan seksama.

Di media digital, tersiar berita kalau ada inhuman yang diserang secara misterius di sebuah restoran. Korban tunggal adalah si inhuman itu sendiri yang langsung dibawa pergi entah ke mana. Hal ini menyebabkan bangkitnya ketegangan manusia normal kepada inhuman. Ini insiden pertama di Indonesia sehabis lebaran.

“Hari gimana kabarnya?” Eda nanya lagi.
“Tadi pagi gue mampir ke sana. Dia gak bisa diganggu.” Balast gue.
“Pasti berat.” Eda mengusap dagunya.
“Pasti.”

Kak Rivin tiba-tiba menghampiri kami.

    

“Sorry ganggu. Erna, kakak lu di depan.” Katanya

Sekarang udah hampir jam tiga sore dan kakak gue baru dateng. Gue udah yakin kakak gue gak akan niat datengin keluarganya sendiri. Udah ketebak. Gue dan Eda pun mau gak mau harus kembali ke ruang tunggu untuk menemui kakak gue.

Begitu melihatnya, satu hal yang gak gue sangka, Kakak gue bawa cewek. Dia sedang menyedot es bubblenya yang masih setengah terbungkus plastik dengan cuek. Cantiknya gak ketolongan. Padahal, cantik sih relatif. Tapi gue gak sembarang bisa bilang cewek itu cantik atau nggak. Jadi, kalo menurut gue aja cantik, pasti kakak gue bisa bilang cewek ini paling cantik sedunia dengan segala detailnya yang lebay.

Sembari berjalan menghampiri mereka, gue punya waktu untuk mengamati detail si cewek ini. Dia tinggi semampai dengan penampilan make up yang sensual. lipstiknya merah marun, eyelinernya hitam tegas, alisnya digambar, tapi semuanya gak berlebihan. Pantes lah kakak gue bisa nyangkut sama dia. Gue juga yakin, cewek ini cuma nyangkut sama duitnya kakak gue.

Pertanyaannya. Mereka kenal di mana?

“Kata mama otw dari pagi. Kenapa sampenya baru sore gini?” Sapa gue ketus.
“Jemput dia dulu. Kenalin, Rosi namanya.”

Rosi​

Kakak ngenalin kami bertiga ke cewek di sebelahnya. Namanya Rosi, tanpa mengenalkan nama panjangnya. Kami bersalaman, lanjut dengan Eda dan Kak Rivin. Kami bersalaman tulus, tapi gue merasa ada yang gak mantep di hati soal cewek ini pada jabatan tangan pertama.

Gue gak bisa menggambarkan perasaan kaya begini. Ini bukan karena rasa sayang adik ke kakaknya agar gak terjerumus. Bukan juga karena gue inhuman sensorik. Pokoknya, ada getaran yang bikin perut gue begah dan mual. Eneg.

“Kita berdua pamit dulu ya, Na?” Eda menghentikan lamunan gue.
“Jam besuk sorenya belom buka loh.” Balas gue.
“Gapapa. Urusan kita udah selesai, iya kan, beb?” Eda bertanya ke Kak Rivin.

Kak Rivin menjawab sekenanya. Ditodong jawaban persetujuan sebagai penguat alasan pasti gak enak. Semua orang pasti pernah di posisi begitu.

Pamitlah Eda dengan kami. Menit-menit selanjutnya terasa sepi. Tidak ada satu pun yang berniat membuka obrolan dengan gue. Untungnya, jam besuk sore udah dibuka. Gue melarikan diri dengan masuk dan menunggu bokap yang masih belum siuman. Gue belum sepenuhnya mengerti kenapa orang stroke bisa sampai koma, tapi sepertinya memang ada penjelasan medis. Jadi, gue seharusnya gak perlu panik.

Setelah setengah jam berlalu, kakak gue gak sekalipun masuk ke ruangan sini untuk menjenguk. Gue pun gak peduli. Sampai akhirnya jam besuk selesai, sepasang orang dewasa kasmaran itu gak menunjukkan batang hidungnya.

Di ruang tunggu pun mereka gak ada. Kosong. Setelah gue menuntaskan tugas harian sore sampai petang, mereka tetap gak kembali. Bahkan, mereka gak kembali sampai nyokap gue datang lagi ke rumah sakit.

“Mana uda kamu?” Tanya nyokap.
“Mati kali.” Jawab gue asal.
“Hush. Kemana?” Tanya nyokap sekali lagi.

Gue pun menjelaskan apa adanya, dan diikuti dengan nyokap yang geleng-geleng kepala.

“Yaudah, kamu pulang gih. Mandi. Makan.” Kata nyokap.
“Ma, ntar aku mau ngelayat temen ya.” Gue minta izin.
“Ngelayat apa kerja?” Nyokap menyeledik.
“Ngelayat. Suer.”

Nyokap memang seperti punya hawa gelap kalau gue bermain rahasia. Makanya, dari kecil gue gak pandai berbohong kalau lagi berdua sama nyokap. Itu juga yang bikin gue jujur sejak awal menjadi inhuman dan menjadi agen.

Satu hal yang masih membuat nyokap berbalik gak mau terbuka kepada gue, yaitu ketika gue bertanya gen inhuman ini diwariskan oleh siapa. Nyokap hanya memberi jawaban kalau yang pasti gue adalah anak kandung mereka berdua. Gak ngejawab pertanyaan, tapi emang gak sepatutnya dilanjutkan lagi.

Gue pun pamit, berjalan melewati koridor ke pintu utama, melewati beberapa ruangan kerja dokter. Di atas kepala gue, melintas berbagai macam sinyal handphone yang semakin ramai di waktu primetime. Gak seperti dulu, gue udah biasa dan lebih cuek melihat dan mendengar apapun yang melintas.

Tiba-tiba perut gue mual lagi kaya tadi sore.

Hamil? no way! Gue masih perawan. Hal yang paling mungkin adalah maag. Oleh karena itu gue berbelok menuju kantin rumah sakit. Siapa tau masih buka.

Begitu gue melewati sebuah pintu ruangan dokter, gagangnya ada yang berpendar hijau. Pendaran ini lumayan mirip seperti stick lamp atau bakteri fluorescene. Terlebih, pendaran ini hanya bisa dilihat oleh gue sebagai inhuman. Gue bisa menduga ini bukan pendaran cahaya biasa karena gak ada orang lain lagi yang bergelagat aneh terhadap gagang pintu itu. Para suster, dokter, dan pengunjung hanya melewati pintu itu begitu saja.

“Apaan ini?” Gue bergumam sendiri, sembari mual semakin melanda.

Pintunya sedikit terbuka. Jadi, gue mengintip sebentar.

“Ahhh.. Enaakk.. sayaaang…” Itu kakak gue.
“Samaa… Terus honeey…” Itu pacarnya kakak gue.

Astaga. Udah berapa lama mereka di sini??

Kakak gue menghujamkan penisnya dengan brutal ke lubang selangkangan pacarnya. Sedangkan, pacar kakak gue menungging sambil bertumpu di meja kerja. Gak ada yang kesakitan dengan semua gerakan yang mereka lakukan. Hanya ada kenikmatan dan desahan yang sampai ke telinga gue.

Di tengah rasa mual, selangkangan gue rasanya mulai basah dan gatal. Ini kali pertama gue melihat orang beradu kelamin. Di sisi lain, gue punya kekhawatiran kegiatan mereka akan tertangkap basah orang lain. Dengan keputusan singkat dan konyol, akhirnya gue mengambil posisi untuk mengawasi mereka dari tempat yang aman.

Di seberang ruangan mereka, ada ruang janitor yang pintunya sedikit menjorok ke dalam. Gue bersembunyi di sana untuk mengawasi sekitar. Dari tempat gue, gue juga bisa melihat ke balik celah pintu untuk mengamati kegiatan kakak gue dan pacarnya.

“Honeey… cepeetin…” Pinta si cewek.
“Aggghh.. sayang, kamu sempit bangethh.” Kakak gue meracau.
“Aku gak tahan, mau keluar lagiii…” Kata si cewek lagi.

Gue bisa mendengar jelas desahan dan benturan kulit mereka. Hal itu membuat selangkangan gue semakin basah. Ini sensasi pertama gue, tapi gue harus tahan. Gue punya harga diri.

“Honeeey.. aku keluaaar!!” Si cewek menjerit.
“Sebentar.. ngghhh…” Kakak gue mendengus.

Tepukan kedua permukaan kulit mereka berdua semakin cepat lagi.

Hal yang gue khawatirkan terjadi. Seorang berseragam dokter datang dari sudut lorong yang lain. Dia mau masuk ke ruangan tempat kakak gue beradu cinta. Gue berkecamuk sebentar yang pada akhirnya justru membuang waktu berharga. Bersamaan gue mau keluar dari persembunyian, si dokter memegang gagang pintu yang berpendar.

Si dokter linglung, memikirkan sesuatu yang sepertinya terlupa, lalu dia pergi.

“Kenapa itu?” Gue gak jadi keluar.

Gue memutar kembali rekaman di kepala tentang yang tadi terjadi. Si dokter linglung. Lupa. Gagang pintu berpendar. Inhumankah? Pikiran-pikiran tersebut membuat gue lupa dengan pengamatan gue. Begitu gue sadar dan mengintip lagi, wajah si cewek bersimpuh di depan penis kakak gue dengan wajah berlumur sperma. Kemudian, dia memasukkan penis kakak gue ke dalam mulut, menghisap, dan menjilatinya seperti permen kaki. Gue pun jijik dan harus menutup mata atas kelakuan itu.

“Iyuuuh.” Suara gue bergetar dengan nada rendah.

Gue mendengar kembali percakapan mereka.

“Pulang yuk, udah tiga jam kita di sini.” Kata kakak gue sambil memakai celananya.
“Kita terusin di rumah.” Si cewek kembali merias wajah.
“Kita makan dulu ya sayang.” Ajak kakak gue.

What the… Tiga jam!

Mereka keluar ruangan satu-satu. Pacar kakak gue berjalan duluan membuka pintu tersebut tanpa menyentuh gagangnya. Kakak gue menyusul, melengos duluan dengan alasan menyiapkan motor. Selanjutnya, si Rosi melakukan sesuatu terhadap gagang pintu, namun sayangnya pandangan gue terhalang badannya. Begitu dia pergi, gagang pintu itu udah gak berpendar lagi.

Gue keluar dari tempat janitor. Begitu beberapa langkah menjauh, ada dokter lagi yang masuk ke ruangan tadi. Dia memegang gagang pintu, menariknya, lalu dia masuk tanpa hambatan apa-apa. Dia gak linglung seperti kejadian sebelumnya.

“Siapa tadi namanya? Rosi? Harus gue selidiki ini sih. Kakak gue kenal dia dari mana dah.”

Gue monolog. Di saat yang sama gue sadar kalau gue udah gak mual. Maka, gue memutuskan untuk segera pulang dengan seribu pertanyaan yang belum terjawab.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8