Tanpa Nama S2 Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 18

Ide Cemerlang

POV Dani

“Hari, tunggu!”

Gue memanggil Hari di tengah kerumunan prajurit yang lagi makan-makan di depan tenda mereka.

Hari gak mau menjawab. Dia terus berjalan cepat untuk sengaja menghilang. Padahal, sangat bahaya kalau dia menghilang di tengah hutan begini. Erna mungkin masih bisa balik lagi kalau hilang di hutan. Tapi Hari belum tentu bisa seperti Erna.

“Mana Hari?” Erna menyusul gue.
“Itu. Ayo kejar.” Tunjuk gue ke kejauhan, gak karuan.

Erna lantas berlari, menyebabkan gue jadi ikut berlari sambil ketinggalan tiga langkah. Untungnya, Erna berhasil meraih lengan Hari sebelum si laki-laki satu itu lenyap dalam kegelapan. Selanjutnya, Erna menoleh ke belakang, ke arah gue, untuk memberi kode agar segera mengikutinya ke pinggiran kerumunan tenda.

“Gue mau balik!” Hari berontak.
“Kalem dulu!” Kata Erna.
“Urusan kita bukan di sini!” Bantah Hari.
“Urusan kita di sini!” Jawab Erna.

Hari melihat Erna dengan tatapan ‘sumpeh lu’nya, dan dibalas dengan gestur ‘gue serius’ oleh Erna. Gue sendiri bingung kenapa malah jadinya anak berdua itu sama-sama keras kepala begini.

Erna terus mengatakan kalau tadi dia menguping pembicaraan kakaknya dengan Rosi. Dia mendapati satu percakapan tentang ramalan rune. Mereka butuh batuan inhuman, katanya. Erna bicara kembali dengan nada seserius waktu dulu dia menebak-nebak kalau Hari merupakan inhuman.

“Kalo lu ngarep bisa jadi pahlawan di sini, silahkan. Gue tetep balik!” Hari tegas.

PLAK! Erna menampar Hari keras-keras.

Hari gak sepatutnya bicara begitu. Erna memang terasa ingin berguna beberapa waktu belakangan. Tapi berbicara secara frontal kepada Erna seperti itu bukanlah solusi untuk masalah seperti ini. Erna sendiri, dia, pasti punya pandangan obyektif tentang ikut berperan dalam perang saudara di sini. Dia masih berasa dapat berguna dalam satu hal. Sebaliknya, Hari ingin cepat-cepat pulang ke bumi untuk menghajar Hammer Tech.

Hari menatap Erna sayu.

“Puas!? Puas ngomong gitu!?” Erna bicara begitu ke Hari.

Hari diam aja. Memang dia harus diam dan mendengarkan. Kalau dia malah menjawab, artinya dia bukan orang dewasa untuk seenggaknya malam ini.

“Erna, tolong jelasin lengkap yang tadi lu bilang.” Gue merendah.

Erna bicara pelan, sepertinya dia sadar kalau dia punya salah juga. Cuma gue di sini yang bisa dibilang gak punya salah karena gue memang ikut-ikut mereka aja. Gue ini tokoh pembangun cerita untuk Hari yang merasa hidupnya seketika rumit, dan Erna yang merasa dirinya bisa lebih penting dalam kelompok ini.

Erna mulai bicara soal ramalan rune tentang Erna, Hari, atau keduanya yang bisa membantu kelompok pemberontak menang dalam perang saudara Vanaheim ini. Ini bisa dibilang juga mengalkulasi peluang beraliansi dengan bangsa Vanir supaya suatu waktu bersedia diminta bantuan.

Tapi, sayangnya Hari tetap diam mau bagaimana pun Erna bicara. Erna akhirnya pergi.

“Har, liat gue.” Gue memanggil Hari.

Hari ragu-ragu.

“Udah banyak kasusnya, Har, orang-orang ditinggal orang kesayangannya. Gak perlu merasa spesial. Hammer Tech emang isinya orang-orang jahat. Tapi kalo lu mau balik cuma karena balas dendam, itu elu sama jahatnya. Lu pikir nyokap sama Kenia bakal seneng?” Gue mendadak bisa berceramah.

Dengan gue menyelesaikan ceramah, Hari langung terduduk lesu di tanah. Dia menghela nafas banyak-banyak. Kemudian, gue lebih memilih pergi mencari Erna untuk memberinya ceramah yang lain lagi.

Di dekat situ, gue bertemu Pur dan Laras. Gue arahkan mereka ke Hari supaya dia ada temen ngobrol.

Gue menemukan Erna ada di pinggiran tenda yang lain, lumayan jauh dari tempat dia dan Hari tadi bertengkar. Erna terduduk menatap langit berbintang yang cerah. Gugus galaksi menyerupai milky way di bumi tertampang jelas dan indah. Tapi indahnya tertutupi remang api unggun jika kami mencoba melihat langit di tengah-tengah kerumunan tenda.

Gue duduk pelan-pelan di sebelah Erna.

“Cantik ya bintangnya?” Gue membuka obrolan.
“Gue gak pernah pake istilah cantik. Terlalu manja itu.” Jawab Erna.

Gue tersenyum tipis.

“Biasanya gue selalu bawa kamera sama tripod buat foto bintang-bintang itu. Kaya waktu di Halmahera.” Erna lanjut bercerita.
“Pasti seru.” Tebak gue.
“Situasinya juga mirip begini, ada tenda, banyak orang bikin api unggun….”

Erna melihat-lihat sekeliling. Di sini memang ada banyak tenda, api unggun, dan orang-orang yang bersenang-senang karena mungkin mereka bahagia setelah tadi siang berhasil menangkap kami.

“Ini asing buat gue sih.” Respon gue.
“Pasti.” Erna balas tersenyum.
“Lu tau, sebenernya gue juga mau pulang.” Kata gue.

Erna menoleh ke gue. Dia pasti mulai berpikir kalau dia sudah berada di posisi yang kalah suara. Sudah ada dua suara yang meminta pulang, dan sebentar lagi kakaknya pasti juga meminta pulang setelah puas dengan banyak jawaban yang didapat.

Erna kemudian kembali melihat ke langit malam.

“Gue gak pernah betah ada di tengah hutan begini.” Lanjut gue.
“Iya.” Jawabnya singkat.
“Banyak nyamuk, ya kan.” Gue menepuk satu nyamuk di tangan kiri.
“Iya.” Jawabnya lagi.

Erna menghirup nafas dalam-dalam. Katanya itu bagus buat dirinya yang sudah jarang ke hutan. Meski pun ini bukan hutan di bumi, tapi katanya kesegaran di sini sama aja.

“Tapi, ada juga bagusnya kita nolong orang dulu. Berbuat baik semampu kita.” Gue menyelesaikan kalimat.

Erna sangat tidak percaya dengan kalimat terakhir yang gue sampaikan itu. Tapi ekspersi senangnya tertera dari senyum yang tertahan. Mukanya terwarna merah kekuningan karena hanya ada cahaya-cahaya api unggun yang lumayan jauh di belakang kami. Sesaat dia merasa bahagia, namun sesaat dia merasa cemas lagi.

“Hari gimana?” Tanyanya.
“Biarin aja dia pulang duluan lah.” Jawab gue

Kami lalu berpelukan layaknya perempuan-perempuan normal. Sebentar kemudian kami menikmati lagi gugusan bintang-bintang yang tak jelas lagi rasinya. Erna sudah mulai nyaman bercerita satu-satu tentang pengalamannya mengamati bintang saat di Halmahera.

Berceritalah dia tentang rasi bintang yang sama sekali berbeda dengan langit bumi waktu malam. Kata Erna, di sini gak ada rasi bintang Pari, yang bentuknya mirip kerangka layang-layang, yang menunjukkan arah selatan. Gak ada rasi bintang scorpio yang paling jelas terlihat saat malam cerah. Gak ada rasi ini-itu yang dijadikan zodiak untuk ramalan-ramalan horoskop.

POV Laras

“Masalah lagi?”

Pur duduk dan menyapa Hari yang saat itu sendirian gara-gara ditinggal Dani. Gue ikut duduk di posisi paling kiri dari mereka berdua. Hari sendiri menjawab sapaan Pur dengan hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Kita semua pernah bikin salah.” Pur membuka obrolan.
“Salah apa?” Tanya Hari.
“Banyak, Har.” Jawab gue.
“Lu tahu, ribuan tahun umur kita berdua, pasti pernah bikin salah.” Timpal Pur.

Hari belum lega tampaknya. Dia masih banyak berpikir. Itu terlihat dari mukanya yang tampak berat.

“Udah berapa lama jadi agen?” Tanya gue.
“Aktifnya baru awal tahun ini.” Kata Hari.
“Tahun masehi?” Tanya Pur.
“Ya iya lah.” Gue menonjok lengan Pur.
“Hehehe.”

Yes, Hari tertawa. Setelah ini, kami cukup menambahkan beberapa canda lagi untuk menenangkan hatinya.

Kemudian, barulah kami menyampaikan kabar penting buat para orang-orang Midgard ini. Mereka diizinkan pulang setelah barusan kami selesai berdebat panjang dengan Julia. Gue menjelaskan susah payah masalah yang sedang terjadi di Midgard, termasuk masalah kehilangannya Hari atas orang tua dan adiknya. Termasuk kesalahan kami berdua yang gak tau kondisi sebenarnya di Vanaheim.

Julia bukannya gampang luluh. Dia juga pusing memikirkan bagaimana mereka bisa mempercepat penyerangannya, supaya bisa menang. Sementara itu, pihak istana selalu dengan cepat merestorasi hal-hal yang rusak karena pemberontak. Jelas mereka timpang dari segi teknologi. Oleh karena itu mereka butuh bantuan.

“Mereka butuh teknologi?” Tanya Hari.
“Ya itu, baju-baju zirah robot itu mungkin.” Jelas Pur.
“Mobil terbang.” Tambah gue.
“Ruang terbuka hijau.” Tambah Pur lagi.

Hari melihat ke belakang, ke arah orang-orang yang sedang bersenang-senang. Dia mengonfirmasi apa yang telah dilihatnya sejak tadi siang. Orang-orang yang hanya berbaju kulit-kulit beruang. Besi-besi yang jumlahnya terbatas untuk dijadikan pelindung kepala dan pedang. Kayu-kayu yang banyak dijadikan perisai, tombak, dan set panah.

“Kita berdua salah waktu ngebela pihak istana.” Cerita Pur.
“Waktu itu kita laper.” Tambahan gue.
“Makan musang terus.” Timpal Pur.
“Belum mandi juga.” Tambah gue lagi.
“Stop! Stop!”

Hari menghentikan cerita kami. Dia mendadak bersemangat, tapi dia bilang harus hemat-hemat bicara supaya dia gak lupa apa yang sedang melintas di kepalanya. Dia pun meminta Pur untuk diantar lagi ke tempatnya Julia, juga menyuruh gue mencari Dani dan Erna untuk segera menyusul.

“Ayo, cepetan! Sebelum gue lupa lagi.” Kata Hari.

Berjalan cepatlah gue mencari Dani dan Erna. Kemudian, setelah ketemu, gue memanggil mereka supaya ikut berjalan cepat di sebelah gue. Kami sampai di tenda Julia ketika Hari sedang sibuk menulis sesuatu dan menatap langit-langit tenda bergantian.

POV Hari

Kami berkumpul lagi di tenda milik pimpinan pasukan pemberontak itu. Mungkin bisa dinamakan kumpul-kumpul versi 2.0, karena kini kami semua dalam keadaan yang lebih baik. Terkecuali Julia yang saat itu udah mau tidur.

Gue menemukan solusi terbaik untuk memenangkan perang ini sekaligus mewujudkan ramalan dari batu rune keparat itu. Gue menulis-nulis di kertas, merumuskan apa aja yang ada di kepala, lalu disatukan dengan strategi yang udah dimiliki pasukan pemberontak.

“Kalian tau dari mana…?” Julia masih kebingungan.

Gue menunjuk kepala gue sendiri supaya terkesan pintar dan cerdas. Lumayan untuk jualan harga diri.

“Bisa ngeramal juga?” Tanya Julia lagi.
“Hah?” Gue gantian bingung.
“Ngeramal?” Julia belum dapat jawaban.
“Maksudnya?” Pur ikut-ikutan.

Kami saling lihat-melihat seolah-olah telepati bisa mengklarifikasi segalanya. Realitanya gue kan gak punya telepati. Jadi, ini merupakan sekedar ekspresi tolol yang merusak ide-ide gue cemerlang, yang setengahnya masih belum tertulis.

“Gini, maksudnya, tau dari mana ramalan rune itu merujuk ke inhuman?” Tutur Julia.
“Ooh.” Kata gue.
“Ooh.” Kata Pur.

Ceritalah gue kalau ramalan itu gue dengar dari saudari kembarnya, si Rosi. Maksudnya, dengar dari Erna yang mendengar dari sumber aslinya, lalu kemudian diceritakan selengkap-lengkapnya kepada gue dan Dani dengan sengaja. Julia paham, mengangguk, dan membuat huruf O dari mulutnya.

Kemudian, gue menulis-nulis lagi sambil melihat langit-langit tenda akibat lupa. Di saat itulah geng perempuan yang gue suruh nyusul, pada datang. Mereka antusias karena mendengar-dengar dari Laras kalau gue berubah pikiran.

“Iya, gue berubah pikiran.” Kata gue ke Dani.
“Demi apa?” Dani menonjok gue.
“Demian” Jawab gue.
“Apaan?” Dani gak ngerti.

Gue memang sedang garing. Maklumkanlah, kepala ini sedang masanya bercampur banyak urusan. Senda gurau bukanlah salah satu yang dicampur itu. Semoga Dani bisa ngerti tanpa gue jelasin lagi, karena nanti jadi makin gak lucu.

Gara-gara itu, ide-ide gue makin buyar, mengendap lagi di sudut otak yang terdalam. Butuh waktu untuk kembali berpikir bagaimana dan apa caranya untuk melengkapi kekurangan pasukan pemberontak. Tapi, supaya Julia gak kembali ngantuk, gue mulailah penjelasan yang idenya belum seratus persen ini jadi.

“Oke gini, demi batu rune ajaib…”

Gue menjelaskan bagaimana pasukan lawan sangat mengandalkan teknologi. Gue dan yang lain juga sama-sama udah melihat sangat fungsionalnya alat itu, meski kalah jumlah saat mengantar kami pulang. Menurut gue, itulah lemahnya. Mereka sangat mengandalkan teknologi. Teknologi punya daya yang yang harus selalu tersedia. Entah apa bentuknya, semisal baju besinya Tony Stark yang butuh daya dari ark reactor di dadanya.

Solusinya, gue memang harus maju di barisan terdepan, menyerap daya-daya dari baju mereka. Tapi, permasalahnya adalah gue butuh pelindung supaya gak mati konyol setelah baru dua atau tiga langkah.

“Lu minta pasukan ini jadi tameng?” Tanya Julia

Julia pastilah gak setuju mengorbankan pasukan yang jumlahnya gak terlalu banyak dan sangat penting. Tapi bukan itu idenya.

“Bukan, bukan.” Jawab gue.
“Oke? Terus?” Tanya Julia.
“Gue butuh salah satu baju mereka untuk maju.”
“Tapi mereka punya sinyal.” Potong Laras.

Rencana gue, kami bisa memancing salah seorang pasukan berzirah robot untuk terpisah dari kelompoknya. Atau merebut paksa dalam satu perkelahian kelompok kecil. Kemudian, zirah itu gue pakai untuk menghindari serangan-serangan jarak jauh yang sangat cepat saat kedua tangan gue sibuk menyerap energi baju-baju zirah lain milik lawan.

Tapi, benar juga itu. Mereka punya sinyal dari baju zirah robot yang tersambung ke pemancar di suatu tempat, yang kemudian terhubung lagi ke alat pengendali jarak jauh. Kalau gue menggunakan zirah itu sembarangan, gue bisa kesetrum dari dalam zirah itu sewaktu-waktu.

“Bentar.. Bentar..” Kata gue.

Inilah bagian yang hilang karena gue lupa tadi.

“Sinyal kan bagian gue.” Erna menambahi.
“Naaaaah!” Itu dia.

Erna bisa melihat sinyal. Dia bisa menemukan frekuensi mana yang bisa menginterupsi zirah yang dicuri. Kemudian, dibantu Dani dan teknologi laptopnya, pasti dia bisa merusak frekuensi itu. Terbebaslah zirah yang dicuri dari pemancarnya.

“Idenya bagus, tapi… kayanya mustahil.” Tanggapan Julia.
“Mustahil gimana?” Laras balik bertanya.

Julia menjelaskan kalau dia tahu pasti bahwa pengendali jarak jauh, pemancar, dan baju zirah itu punya frekuensi spesifik. Alih-alih mudah dicari, justru frekuensi spesifik itu sulit untuk diganggu dari pemancarnya. Julia turut mengingatkan bahwa dia dan Rosi sama-sama orang dalam istana. Julia tahu seluk beluk pasukan lawan sehingga dia sadar bahwa kota Kraun sulit ditaklukkan.

“Kalo sadar susah, kenapa dilawan?” Tanya Pur.
“Kekuatan kepercayaan.” Jawab Julia.
“Gila. Yang bener aja.” Tanggap Pur.
“Kami semua di sini setia sama Raja Frey.” Jawab Julia lagi.

Sepi sebentar.

“Bebas, bebas.” Pur menanggapi lagi dengan gayanya yang ngeselin.
“Tunggu, tadi ramalannya apa?” Gue memotong.

Gue mengingatkan bahwa ramalan rune mengatakan bahwa bantuan mereka akan datang dari inhuman. Siapa inhuman yang datang? Gue dan Erna. Maka, gue tekankan bahwa percaya sajalah dengan kami. Dengan kekuatan kepercayaan yang Julia bilang sendiri, pasukan setia Raja Frey pasti menang. Lalu kami bisa pulang.

“Sekali lagi, ramalan itu Rosi sendiri yang bilang kan.” Tutup gue.
“Rosinya mana?” Julia teralihkan.
“Eh, itu.. sama kakak gue.. di situ, apa namanya, itu.. tenda..” Erna menjawab terbata-bata.

Julia geleng-geleng kepala, lalu dia mengurut keningnya sendiri. Julia banyak sekali berpikir. Ada sekitar 3 menit lamanya, atau lebih. Lalu dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti taktik gue dengan syarat. Syaratnya, penyerangan dilakukan mengikuti ekspedisi mereka di jalur-jalur penghubung logistik menuju kota Kraun. Selain itu, penyerangannya harus dilakukan besok setelah matahari terbit.

Jadi kami sebaiknya cepat tidur supaya sehat. Bubarlah kami dari tendanya Julia.

“Erna.” Panggil gue.

Tanpa basa-basi, gue mangajaknya berjabat tangan tanda kami bermaaf-maafan. Lalu, sebelum kami berpisah, barulah kami tau kalau gue, Dani, dan Erna harus tidur dalam satu tenda. Secepat-cepatnya gue berbisik ke Dani supaya jangan macam-macam. Apalagi besok akan menjadi penting.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22