Tanpa Nama S2 Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 15

Pergi ke Mana

POV Hari

Situasi lebih normal setelah dua hari berselang. Dua agen C.I.A. telah kembali ke markas dengan laporan kejadian kemarin. Akmal juga udah bertugas kembali di kesatuannya. Dia berjanji menjadi orang dalam kepolisian, menyampaikan perkembangan yang terjadi soal yang berkaitan dengan Hammer Tech atau Roxxon, meski info-info yang masuk ke sana lumayan lambat.

Iqbal sama Laras pergi kembali ke Vanaheim lagi untuk urusan transfer Rosi. Mereka bilang pemindahan Rosi dari Asgard ke Vanaheim tertunda akibat suatu masalah. Biarlah urusan mereka tanggulangi sendiri dulu.

“Akmal belom ngasih info?” Tanya gue.
“Belom lah, baru dua hari.” Jawab Dani.
“Terus kita nggak ngapa-ngapain ini.”
“Sabar lah, atau mau gue….” Dani menggigit bibirnya.
“GAK!”

Yang selalu dibicarakan Dani di penthouse begini seringnya cuma berujung ajakan ml dan ml lagi. Seolah gak ada lagi kegiatan yang lebih bermanfaat selain ml. Padahal, kami lagi di tengah patroli digital. Toh, kalau memang nganggur pun, Erna punya banyak buku yang dipajang di rak bukunya.

Gue sedang gak mood untuk bermain-main lagi setelah kejadian Akmal. Lama-lama dendam gue makin menumpuk untuk menghabisi Hammer Tech. Kalau bisa, ya sesegera mungkin.

So, gue lebih sering memaksa Dani melakukan sesuatu dengan peralatan canggihnya. Seperti sekarang, kami sedang di ruang tengah, mengontrol lebah-lebah kamera yang melakukan patroli di sekitaran Kalibata. Siapa tau ketemu Hammer Tech lagi di sana.

“Erna masih diikutin kakaknya?” Gue bertanya lagi.
“Kepo.”
“Nanya doang kali.” Gue datar.

Segebuk bantal kemudian, Dani barulah mengatakan kalau Erna makin main kucing-kucingan sama kakaknya. Awalnya, setelah kejadian Akmal tertembak, Erna belum pulang lagi ke rumah atau gantian tugas jaga ke rumah sakit. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di jalan untuk mencari pita-pita sinyal yang mencurigakan.

Sembari Erna keliling kota dengan motornya, dia tahu kakaknya mengikuti beberapa belas meter di belakang. Erna pernah bilang ke Dani dalam satu telepon kalau dia melihat pita sinyal handphone milik kakaknya terus ada. Bahkan, kemarin kakaknya sanggup ngikutin Erna dari Priok sampai ke Pondok Labu seharian.

“Cuma lu yang gak kerja nih.” Ledek Dani.
“Abis Erna gak mau kalo gue ikut.” Jawab gue ketus.
“Dia masih takut sama elu. Makanya sama gue aja.”

Dani bernafas di kuping gue. Kalo hape Dani gak bergetar saat itu, udah gue sekep pake bantal itu anak. Daini langsung menggunakan loud speaker untuk menjawab telepon hapenya.

“Panjang umur lu, Na. Ada apa?” Sapa Dani.
“Guysshh.. Guyssshh…” Erna terengah-engah.
“Anjir, lu lagi ml??” Dani
“Lu kali yang lagi ml sama Hari!”

Dani melet ke gue, lalu ada diam beberapa saat dalam percakapan kami dan Erna. Mungkin Erma di seberang sana lagi mengambil nafas panjang. Atau mungkin dia sadar ada yang salah sama kata-katanya. Erna jarang banget bicara frontal.

“Halo? Na?” Gue berupaya membuyarkan kesenyapan.

Erna akhirnya menjawab balik.

“Iya, halo.. halo…”
“Ada apaan? Penting kan ini?” Dani menyerobot ucapan gue.
“Buru… ke taman Monas!” Erna berkata singkat.

Dani mengoperasikan kamera lebahnya untuk inaktif terlebih dulu. Dengan pengaturan yang dia ubah sendiri, kamera lebah akan terbang dan bertemu pemiliknya di taman monas. Canggih banget.

Setelahnya, kami bersiap-siap dengan peralatan lumayan lengkap. Dalam perjalanan kami ke Monas, Dani terus melakukan chat dengan Erna untuk memperbaharui situasi. Erna pun mengatakan kalau dia menemukan seseorang terduga pembeli senjata Hammer Tech.

“Hebat Erna.” Gue monolog sambil mengendarai motor.

Ini motor dinas stoknya Dani, satu-satunya yang tersisa karena motor gue dijadikan modus palsu kejadian di Karang Tengah. Pergi ke pusat Jakarta di weekdays pakai mobil? No Way.

Erna mengirimkan candid foto wajah si terduga kepada Dani. Kemudian, Dani mengonfirmasi kepada Akmal. Benarlah bahwa terduga yang sekarang dikejar Erna itu orang yang sama dengan yang ditemui Akmal di Kalibata.

Atas perintah asal-asalan gue, Akmal gak boleh ikut. Alasannya gue simpel, jahitan di tangannya masih belom kering. Padahal, gue emang gak pengen Akmal ngeurusuh lagi. Toh, ini bukan Roxxon.

Kami tiba di parkiran Monas satu setengah jam kemudian. Siang-siang begini di Jakarta Pusat rupanya panas banget. Alis yang harusnya jadi penghalang aliran keringat dari jidat, malah sampe ikut keringatan. Jaket kulit hitam yang dibawa Dani pun sampe bikin cetakan keringat di kaosnya.

“Panas anjir.” Maki Dani.
“Siapa suruh bawa jaket kulit.”
“Gue kira mendung di sini.” Dani membela harga dirinya.

Kami bertemu Erna di hutan monas sebelah barat, dekat dengan halte busway monas dan Museum Gajah. Erna menuntun kami berjalan berhati-hati agar gak dicurigai target. Target kami, sedang duduk-duduk gak jelas di pinggir rumputan, menikmati rokok di tempat yang seharusnya gak boleh ngerokok.

“Lewat belakang.” Bimbing Erna.

Kami mengendap ke sisi belakang si target. Dia kurus kalau dilihat lebih dekat. Pipinya tirus, kulitnya hitam gosong, bukan hitam khas orang ambon atau papua, bukti aktifitas luar ruangannya yang rutin. Pakaiannya cukup lusuh, tapi masih terawat. Gue beranggapan dia ini adalah preman atau semacamnya.

“Satu.. Dua.. Tiga!” Erna mengacungkan jari-jarinya…

Gue muncul duluan dengan pistol ICER teracung, mengarah tepat ke mukanya. Rokoknya terajatuh.

“JANGAN BERGERAK!” Ancam gue.

Si target berbalik badan. Hal yang sama dilakukan Erna dengan ICERnya. Kemudian, Dani menstapler sesuatu ke arah jakun si taget. Beberapa detik kemudian dia gak bisa bersuara lagi. Angkat tangan adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan.

“Kelar, dia gak bisa teriak.” Dani tersenyum puas.
“Dodol ah, kita gak bisa interogasi coy.” Erna sewot.

Dani kebiasaan, kurang mikir panjang.

“Udah udah, kita bisa nyuruh dia nulis.” Gue memberi solusi.
“Nah.” Celetuk Dani.

Dani selamat dari tindakan konyolnya sendiri.

    

Kami menggiring si target kurus kami ke semak-semak yang lebih sepi dan jauh dari seliweran orang. Kami bertanya satu-satu, mulai dari kenal Hammer Tech di mana, bagaimana mereka bisa komunikasi, bisa ketemuan, sampai informasi tentang persembunyian mereka, atau lokasi manapun yang bisa dijadikan tempat berkumpul.

Info info yang kami dapat lumayan bisa dipercaya, tapi berjalan sangat lambat. Tulisan tangan target kami sangat jelek, mirip tulisan sambung anak SD, tapi lebih gak bisa kebaca.

“Lu gak pernah sekolah ya? Tulisan lu jelek banget.” Dani nyolot.
“Salah sendiri bikin dia gak bisa ngomong.” Erna nyeletuk lagi.
“Suushh.. udah.” Potong gue.

Kami mendapatkan informasi lengkap setelah satu jam tanya jawab dan satu jam konfirmasi karena gak semua tulisannya terbaca jelas. Di bawah ancaman ICER dan satu jari yang ditembak beku, gue yakin semua jawaban dia benar.

Kami meninggalkan si target dengan membius sepenuhnya. Obat bius yang ditambahkan campuran lainnya yang bisa membuat dia hilang ingatan jangka pendek. Dani bilang, itu berguna supaya dia lupa muka kita.

“Kelar nih ya?” Jawab gue.
“Iya kelar.” Dani menyimpan lagi syringnya.
“Obat apa lagi tuh yang lu kasih?” Tanya Erna

Gue jadi ikut-ikutan memberi tatapan menyelidik ke Dani. Padahal, tadinya biasa-biasanya.

“Cuma antidepresan sama antihistamin kok, plus kesukaan dia tuh, ekstrak tembakau.” Dani menunjuk target kami yang udah tergeletak pingsan.

Gue gak tau fungsi spesifik obat-obatan itu dan pengaruhnya sama memori otak. Gue juga gak tau Dani udah belajar sampe sejauh itu untuk bisa berguna. Gue kayanya harus belajar juga biar nyambung sama kelakukan Dani. Salah salah, Dani bisa ngebunuh orang sembarangan.

Kami berjalan bertiga, menuju lokasi parkir.

“Wait!” Erna melihat ke langit.
“Kenapa?” Tanya gue.
“Gue kaya ngeliat kakak gue.” Erne ngeloyor menjauh.

Erna bilang kalau kakaknya ada disekitar sini. Dia bisa melihat pita frekuensi hape kakaknya. Erna pun memastikan itu dari segala pesan whatsapp, line, instagram, dan email yang keluar-masuk dari hape dia ke hape kakaknya.

“Itu dia!” Tunjuk Erna ke kejauhan.

Kami melihat dengan orang yang ditunjuk sebagai kakaknya Erna. Dia sedang berjalan kaki sendirian menuju pintu masuk monas di bawah tanah.

“Mau ngapain kakak gue.” Erna monolog.
“Jalan-jalan?” Dani nyambung.
“Ke monas? Bukan gayanya banget.”

Kami bertiga berunding sebentar, lalu sepakat untuk mengikuti kakaknya Erna diam-diam. Kami harus melangkah lebih jauh karena gak banyak pengunjung monas saat weekdays. Apalagi saat gak ada tempat sembunyi apa-apa ketika harus berjalan lurus di lorong bawah tanah.

Kakaknya Erna gak seketika berhenti ketika selesai naik ke permukaan tanah, atau pun saat masuk ke ruang diorama. Dia gak juga berkunjung ke ruang bendera pusaka dan gak juga mengantri naik ke puncak monas. Dia hanya berjalan terus menaiki anak tangga menuju cawan.

“Gue bilang cuma jalan-jalan kan.” Kata Dani.
“Kalo ternyata mau bunuh diri gimana?” Erna membantah.

Benar juga. Keamanan di cawan sini lebih rendah dibandingkan puncak monas. Gak ada pagar penutup yang mencegah pengunjung untuk lompat. Gak ada pos atau petugas juga yang berjaga. Ini tempat yang sempurna untuk lompat tanpa harus dicurigai pengunjung lain.

Kami terus mengikuti Kakak Erna dari kejauhan. Sayangnya, jarak kami menjadi jauh, fatal, ketika sampai anak tangga marmer yang berputar di dalam monas, di jalur menuju cawan. Kami benar-benar kehilangan jejaknya. Kami kemudian hanya berharap menemukannya kembali di atas sana.

Erna semakin khawatir. Dia mengambil langkah panjang dan melompati satu anak tangga setiap langkahnya.

“Erna! Tunggu!”

Suara gue dan Dani sama sekali tak digubrisnya.

Begitu setibanya di atas cawan, Erna langsung celingak celinguk. Erwan tak ditemuinya sama sekali. Tapi, gak ada gelagat aneh dari pengunjung lainnya, seperti telah melihat orang stress atau bunuh diri dengan cara melompat ke bawah. Erna turut memastikan bahwa kakaknya memang gak bunuh diri dengan cara melongo ke bawah di setiap penjuru mata angin di sini, di cawan monas.

“Ke mana itu si Erwan? Ke mana?” Erna lagi-lagi bermonolog.

Gue dan Dani juga sama sekali gak memiliki petunjuk. Akhirnya kami harus menyimpulkan bahwa saat ini menemui jalan buntu. Solusinya adalah kembali beberapa langkah ke belakang. Mungkin kami melewati sesuatu di lift, ruang diorama, atau mungkin di suatu tempat di taman monas ini.

Kami masuk kembali ke tangga marmer untuk turun.

“Tunggu.” Erna mengentikan langkah kami tepat di pintu lift.
Erna berjalan ke kiri, ke jalan buntu. Jalan yang hanya ditujukan untuk staff.

“Liat deh.” Erna menunjuk marmer di tembok.
“Apa?” Tanya Dani.
“Ssttt…”

Erna menyuruh kami gak berisik. Erna terpaku dengan tembok marmer berpola abstrak tersebut. Senyap. Hening. Lama kami menunggu tanpa hasil. Tiba-tiba sepintas muncul kilatan listrik kecil di tembok tersebut.

“Liat kan? Liat?” Tanya Erna antusias.
“Apaan itu?” Dani mejawab tak kalah antusias.
“Kepala gue agak pusing. Gue punya feeling…”

Erna gak menyelesaikan kalimatnya. Dia malah berjalan lurus ke tembok tersebut. Lalu, bukannya nabrak, dia terus melangkah menembus tembok tersebut seperti peron 9¾ nya Harry Potter.

Erna udah menghilang menembius tembok beberapa detik kemudian. Ini nyatakah? Tinggal gue berdua sama Dani.

“Na? Na?” Dani memanggil.
“Jangan berisik, ntar kita diliat.” Sahut gue.
“Gimana sekarang?”

Gue menaikkan bahu, lalu ikut seperti apa yang Erna lakukan, menembus tembok marmer monas yang padat ini. Dani seketika memegang lengan gue. Dia jadi orang terakhir dalam urutan yang memberanikan diri menembus tembok.

Mata gue gak terpejam ketika menembus tembok. Gue ingin merasakan sensasi menembus tembok dengan kelima panca indera gue. Rasanya ternyata biasa aja, sama seperti melewati pintu biasa. Kecuali, ada pandangan mata yang tiba-tiba berubah fokus. Kalau tadinya di dalam monas kami melihat tembok dari jarak dekat dan remang-remang, sekarang semuanya berbeda jauh.

Kami bertiga berpindah ke suatu tempat perbatasan antara padang rumput dan hutan lebat. Gue pernah sekali ke Taman Nasional Baluran waktu kuliah di kala musim hujan. Pemandangan ini sama persis. Rumput hijau membentang jauh dan terdapat batas yang jelas dengan pepohonan super tinggi dengan batang batang besar. Bedanya, pohon di sini bukan akasia kaya di Baluran.

“Kita di mana?” Dani masih memegang lengan gue.
“Na?? ERNA???” gue mencari-cari Erna.
“Sini.” Panggil Erna.

Erna memasuki hutan tanpa rasa takut. Fisiknya mungkin cewek, tapi jangan lupa kalau Erna lebih cowok daripada Eda.

Erna bisa dibilang hampir menjelajahi semua hutan dari barat sampai timur Indonesia semasanya kuliah. taman nasional mana yang belum pernah dia datangi di tiap pulau? Cagar alam mana yang luput dia injak? Kalau ada yang menjawab lokasinya di Jawa atau Sumatra, dia pasti belum kenalan sama Erna.

“Na, jangan jauh-jauh.” Panggil Dani agak keras.

Dani paling ogah masuk hutan. Takut nyamuk, takut semut, takut pacet. Takut apapun soal serangga yang hidup di dalam hutan.

Gue sendiri udah lama gak masuk hutan beneran. Gak usah bilang Hutan Taman Monas, Kebun Raya Bogor, atau tegalan yang ada Arboretum Cibubur. Itu bukan hutan. Itu cuma pohon-pohon yang ditanam dengan jarak tersusun rapi. Kalo dibanding sama hutan asli, gak ada apa-apanya.

“Ngomong-ngomong, pohon di sini gede banget.” Kata gue
“Jarang-jarang gue liat pohon gede.” Balas Erna
“Pohon ini udah pada tua?” Tanya gue
“Banget. Pasti.” Erna menengadah ke atas.

Kami mengikuti apa aja yang dilakukan Erna, termasuk menengadah ke atas untuk melihat tajuk-tajuk pohon. Dari bawah sini, dedaunan semuanya berwarna hitam. Backlight namanya kalo kata Erna. Gue sendiri cuma bisa menebak mungkin jenis pohon satu ini rasamala atau saninten, karena kulit batangnya kemerahan dan besar. Iitu ilmu secuil yang masih nyangkut maksudnya.

“Apaan, Na? Rasamala?” Tanya gue.
“Nope. Gue baru liat ini.” Jawab Erna.

Dani dari tadi cuma was-was dan kerisihan dengan banyaknya nyamuk dan semut di tanah.

“TOLOOOONG!!”

Ada teriakan seseorang dari suatu tempat di hutan ini.

“Kakak gue!” Erna merespon.

Erna berlarian ke sumber suara. Gue pun kewalahan mengejar Erna. Apalagi Dani.

Dalam waktu singkat, kami tiba-tiba dikelilingi sepasukan robot-robot seukuran manusia. Mereka mengacungkan senjata-senjata aneh kombinasi senapan laras panjang dan anak panah.

“Jangan bergerak!” Kata salah satu robot.
“Oke. Oke.” Gue menjawab sekenanya.

Gue, Erna, dan Dani terkepung. Kami semua mengangkat tangan tanda menyerah. Tas peralatan kami masing-masing juga disita. Sesaat kemudian, bergabunglah kakaknya Erna bersama kami.

Mereka semakin agresif ketika menemukan berbagai senjata yang terdapat dalam tas kami. Untungnya, sebelum kami mati kena tembak, pimpinan robot mereka datang. Dia melepas kepalanya? What?!

BERSAMBUNG