Tanpa Nama S2 Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 13

Analisa Perkara

POV Erna

Gue terbangun gara-gara hape bergetar di bawah bantal.

“Halo?” Suara gue serak.
“Akmal ketembak. Buruan dateng!” Suara Hari menggelegar di seberang handphone.

POV Hari

Siang ini mendadak mencekam di penthouse. Dua agen C.I.A. berdiri dengan tangan bersedekap menunggu jawaban-jawaban mengalir dari mulut gue dan Dani, apalagi Akmal.

“There’s so much we don’t know here!” Bentak agen berkulit putih.
“C’mon, men, we can make it easy.” Si kulit hitam membujuk.
“Can’t we just sit??” Dani membentak balik.
“Excuse me?!”

Si kulit putih tesulut.

“I am treating him, know. Relax, please.” Dani tak gentar.

Dani masih memberikan sentuhan pengobatan terakhir kepada Akmal. Dia sedang mengganti perban yang telah basah lagi. Operasi seadanya untuk pengeluaran dua peluru dari lengan kanan Akmal baru aja dilakukan sesampainya di sini.

Bukan Dani yang mengoperasi, tapi Akmal sendiri. Dia ngeguyur alkohol sama obat merah banyak-banyak ke lengan kanannya di kamar mandi. Menggunakan pinset steril, dia mengorek dagingnya sendiri sampai semua proyektil terangkat. Bahkan, Akmal ngejahit lukanya juga sendirian. Dua agen C.I.A. di sini gak nolong apa-apa lagi selain ngebawa Akmal kabur dari TKP subuh tadi.

Bukan tanggung jawab mereka katanya.

“Sorry telat!” Erna ngos-ngosan di depan pintu.

Si kulit hitam geleng-geleng. Gue bisa membaca kalau sebentar lagi emosinya sebentar lagi meledak. Sebelum itu terjadi, dia menuju kulkas untuk mencari minuman.

“Any vodka here?” Matanya menyusuri sudut-sudut kulkas.
“Only orange juice.” Jawab gue.

“Fuck this place!”

Dia terpaksa membuat jus jeruk demi mendinginkan kepalanya. Sementara si kulit hitam hanya cengar-cengir melihat kelakuan partnernya. Dia berbisik kepada gue kalau itu udah terjadi sejak mereka jadi partner. Jadi, gak usah masukin hati.

Gue menyempatkan berbalas kata kepada si kulit hitam, menyebutnya orang yang kalem. Gue juga menyelipkan pertanyaan kenapa gak mau nolongin Akmal semampunya. Kemudian, jawabannya sangat anti mainstream, dia gak bisa melakukan operasi.

“Gimana kejadiannya?” Gue mendengar Erna bertanya.

Di pojokan sofa, Erna menghampiri Dani dan Akmal. Gue bisa mendengar bagaimana Dani menceritakan kronologi sejak Akmal sampai di Kalibata, dibuntuti Dani.

Dani terus mengikuti Akmal sampai di depan pintu lift salah satu gedung apartemen yang jumlahnya bejibun. Akmal menyusup di sekeliling orang yang lalu lalang di pintu akses. Begitu Dani mau menyusul, dia gak sempat dapat kesempatan menyelinap. Tidak ada orang
yang lalu lalang dalam waktu yang lumayan lama.

“Mana satpam yang jaga cuma senyam-senyum.” Dani menggeliat geli.

Begitu ada yang membuka akses masuk, Dani akhirnya bisa ikut masuk. Tapi dia terlanjur kehilangan Akmal, lalu cuma bergantung dari segelintir kamera lebah yang hanya beroperasi dari luar jendela gedung. Menurut intuisinya, Akmal ada di lantai 15-an. Itu terbukti, lift gak berhenti di
lantai 16 meski tombol lantai udah dipencet. Dani bablas sampai lantai 19.

“Dari situ gue makin curiga soal lantai 16 itu.” Cerita Dani.

Dani turun lewat tangga. Kemudian, benarlah dugaannya kalau ada yang aneh di lantai 16. Lorongnya gelap, hanya menyisakan beberapa neon yang berkedip. Suasana berubah creepy seperti di film The Raid, atau serangan zombi di World War Z.

Baru beberapa langkah dia melewati lorong, pintu di belakangnya kebuka. Mulutnya ditutup dan dirinya ditarik ke dalam ruangan. Dani sempat berontak dan mengeluarkan ICER sebelum tahu siapa yang dihadapinya.

“Rupanya dua bule ini.” Tunjuk Dani.
“Excuse me, what are you talking about?” Sindir si kulit putih.
“She’s give storytelling to Her.” Gue memberi penjelasan konyol.

Dani cuek. Dia terus meneruskan ceritanya kepada Erna.

Di kamar itu, dua agen C.I.A. udah menyadap setiap ruangan di lantai 16 dan CCTV. Mereka dengan perlengkapan portablenya sudah siap menghadapi investigasi ini. Tapi sayangnya, belum sempat Dani menjelaskan ada Akmal yang mengacau, suara orang rusuh terdengar di alat penyadap.

Dani dan dua agen C.I.A. itu bergegas ke sumber suara, kamar nomor 1602. Mereka mendobrak ruangan. Ada Akmal yang udah tergeletak bersimbah darah. Sedikit reaksi kemudian, para agen tau kalo Dani kenal sama Akmal.

Setelah melumpuhkan dua orang kurus yang jadi lawan mudah, Akmal dibopong ke kamar persembunyian kami. Agen kulit hitam memapah Akmal, agen kulit putih bebenah, dan Dani bengong. Akhir cerita, mereka berempat meluncur secepat mungkin dari Kalibata ke sini pake mobil sewaan si agen.

“Yah, mau gimana lagi.” Erna menghela nafas.

Tiba-tiba pintu diketuk. Gue mengintip, rupanya di depan pintu sana ada Pur sama Laras.

“Kok bisa ke sini?” Gue heran.
“Gue kan masih megang salinan akses.” Pur nunjukin kartu akses.
“Bukan itu, tapi….”
“Pokoknya kita tau lah kalian ada masalah.” Kata Pur lagi.

Pur ngeliat Erna, Erna ngeliat Pur.

“Oke. Gagak Odin. Cukup kan?” Pur mengklarifikasi.

Pur tanpa canggung berkenalan dengan para agen menggunakan bahasa Inggris yang fasih. Dia juga mengenalkan diri sebagai einherjar. Dia memberi tahu kalau dirinya dan Laras adalah utusan Odin untuk mencegah printilan penyebab Ragnarok. Pur juga memberi jaminan kalau cerita dia gak bohong, dengan merubah diri menjadi berbaju zirah emas berjubah hijau.

Kedua agen bule itu melotot.

“Loki! I know that suit!” Tunjuk si kulit putih.
“We are children of Loki.” Pur tersenyum bangga.
“Motherfucker!”

Si kulit putih mengacungkan pistolnya. Dia menembak Pur beberapa kali hanya untuk membuktikan bahwa peluru bumi jadi semacam benda lunak. Si kulit putih pantang menyerah, Dia lanjut menyerang Pur meski gak pernah kena. Terakhir, si kulit putih
kecapekan sendiri.

“Kalo gue jahat, gue udah nyerang bumi dari kemarin.” Jelas Pur.

“Are you on good side? For real?” Tanya si kulit hitam.

Mereka tiba-tiba berdiskusi panjang dengan bahasa masing-masing. Si kulit hitam berbahasa Inggris-Amerika berlogat Nigga, sedangkan Pur menyombongkan bahasa Indonesia dengan logat betawi.

“Tunggu! TUNGGU! Kok kalian bisa saling ngerti?” Gue menyetop diskusi mereka.
“English, please.” Pinta si kulit hitam.

Kening gue berlipat banyak. Gimana mungkin Pur berbahasa Indonesia tapi bisa dimengerti orang Amerika, sementara gue nggak. Gue bengong, gue melihat semua orang Indonesia di sini. Mereka juga bengong.

“Pur, gue apa elu yang jelasin?”

Gue gak tau Laras orang Indonesia atau bukan, tapi bibirnya ditekuk menahan tawanya.

Pintu informasi dalam kepala gue seolah baru terbuka lebar. Semua pertanyaan soal tata bahasa Einherjar berbondong-bondong antri untuk diucapkan. Gimana mungkin seorang yang gak berdomisili di Indonesia bisa berbahasa Indonesia. Mereka bahkan bukan WNI.

Mereka bahkan bukan warga bumi. Gimana mungkin mereka mengerti bahasa-bahasa yang ada di bumi. Malah, gue dengar tadi Pur berlogat betawi. Beberapa kali sebelumnya, gue malah keinget Pur yang berlogat Surabaya-Malangan.

“Hahaha. Bingung ya? Cie cie.” Pur konyol.
“Is this kind of joke?” Si kulit putih bergabung lagi.

Setelah Pur dan Laras puas tertawa terbahak-bahak, Pur menjelaskan penggunaan tata bahasa mereka. Dulu, waktu mereka kuliah di Asgard, ada mata kuliah wajib namanya all-speak. Kadang disebut all-tongue.

Berbeda dari keturunan murni Asgard, einherjar gak diberkahi kemampuan all-speak sejak
lahir. Semua yang ikut pendidikan einherjar wajib belajar itu sebelum diseleksi sesuai kemampuan. Setelah itu, kembali ke cerita tentang pendidikan anak-anak Loki.

“Keturunan murni Asgard itu apa?” Tanya gue.
“Lain kali gue ceritain.”
“Sekarang soal gagak Odin….” Erna nimbrung.

Laras gantian menjelaskan. Katanya, setelah mereka ditinggal sekian lama tanpa instruksi oleh komandan Einherjarnya, baru kali ini lagi mereka dapat perintah khusus yang dikirim gagaknya Odin.

Gagak itu mengirimkan pesan bahwa mereka berdua harus kembali ke Midgard, ngebantu kelompok inhuman di Indonesia. Selain itu, mereka juga dapat tugas mencari buronan Asgard yang lain. Dia perempuan ras raksasa Jotun.

“Sebelum kami nyari di dunia lain lagi, kami mau ngasih tau kalo kami di pihak kalian.” Tutup Laras.

Erna terdiam. Dia merenung. Semoga lamunannya kali ini menuntun ke pilihan yang baik.

“Wait! Wait!” Si kulit putih memotong.

Dia berkata bahwa kami seharusnya jangan dulu percaya. Mereka tetaplah anak-anak Loki. Si kulit putih itu bersikeras bahwa semua yang berhubungan dengan Loki itu berbahaya. New York dan New Mexico adalah dua kasus di mana kunjungan Loki tersebut selalu merusak bumi.

“You must be reported to A.T.C.U. soon!” Si kulit putih gemetaran.
“Do what you have to do.” Jawab Laras.

Si kulit putih terus meracau. Kali ini kami yang disalahkan karena menerima masuk einherjar tanpa memberi informasi sejak awal. Gue tau kami salah, oleh karena itu kami siap menerima konsekuensinya. Tapi, makin lama, setiap kata yang keluar dari kulit putih udah keluar dari konteks pembicaraan.

“Calm down, dude.” Si kulit hitam memberikan jus jeruk lagi.

    

Setelah sedikit perdebatan lagi. Kami kembali ke benang merah. Kami mulai merangkai setiap kejadian yang menjadi masalah selama dua bulan belakangan.

Mulai dari dua bulan sejak kami menjadi agen A.T.C.U., kasus terrigenesis terhitung aman. Lima WNI yang mengalami terrigenesis di daerahnya masing-masing, berhasil kami tolong. Mereka pun diperlakukan layak, didaftarkan Sokovia Accords, dan dilatih mengendalikan kekuatan mereka di tempat pelatihan A.T.C.U.

“Jadi, musuh kita bukan dari kalangan inhuman.” Kesimpulan gue.

Kedua, kejadian teror burung dara juga ternyata bukan masalah. Satu masalah dari kalangan dunia lain atau alien adalah batu-batuan rune dan Rosi. Dia pun udah ditangkap sama kedua einherjar partner kami itu beberapa hari lalu.

“So, Gods problem is over?” Tanya si kulit hitam.

“Kita bukan dewa.” Koreksi Pur.
“Anything you said.”
“Buat sekarang, midgard aman dari buronan kami.” Jawaban Laras.

Ketiga, organisasi teroris. Kami sudah menyimpulkan Watchdog di Indonesia udah hancur. Mereka memang bobrok di dalam. Alan lah yang merusak mereka seperti tawon parasit Ichneumon. Mereka bertelur di bawah kulit ulat, lalu larvanya menetas menggerogoti isi tubuh si ulat, lalu keluar saat ulat itu lemah atau sedang dalam fase kepompong.

Si ulat, atau kepompong itu sudah jelas mati diterobos dari dalam tubuhnya sendiri.

“So, there are only Hammer Tech and Roxxon in Indonesia now.” Kata si kulit hitam.

Kami pun udah tau kalo Hammer Tech dan Roxxon merupakan organisasi berbeda. Satu bergerak dalam persenjataan, dan satu lagi dalam bidang riset dan obat-obatan.

Hammer Tech bergerak dengan sangat sombong, menantang semua yang menghalanginya seperti kejadian di Mangga Dua. Mungkin hal itu diturunkan dari CEOnya yang masih ada dalam penjara, Justin Hammer.

Kontras dengan Hammer Tech, Roxxon bergerak lebih santai. Mereka membuat organisasi mereka legal dalam balutan nama Roxxon Medical Indonesia, Tbk. Jenggo pemimpinnya, dan entah siapa Niken itu. Tapi, sekarang mereka menghilang entah ke mana, seperti ditelan bumi. Di sisi lain, produksi obat-obatan mereka terus berkembang dan lolos dari rapor merah BPOM.

“Roxxon is beyond our reach.” Dani menanggapi.
“I agree, also like that in my country.” Respon si kulit hitam.

Kami menarik garis dari hal itu semua, bahwa kami punya tiga musuh dengan jalur berbeda. Musuh berbentuk manusia adalah Hammer Tech dan Roxxon. Musuh berbentuk alien adalah buronannya einherjar. Mana yang bisa kami sentuh duluan, ditentukan oleh keputusan kami selanjutnya.

Seperti yang disebut tadi, Hammer Tech lah yang bisa dengan cepat kami jangkau. Namun di waktu-waktu tertentu, kami tetap harus siap atas munculnya Roxxon atau buronan einherjar.

“We need more help here.” Kata gue.
“First, I’ll report it to council. But, not us you needed.” Kata si kulit hitam.
“But, why?”
“If only you reported correctly since earlier, we will win today.” Timpal kulit putih.

Gue mendengus. Si kulit putih ini terlalu banyak omong. Gue pun jadi kembali fokus pada perkataan si kulit hitam. Kalau bukan mereka yang kami butuhkan, lalu siapa? Bukannya mereka yang dikirim untuk menginvestigasi transaksi senjata alien.

Gue pikir, mereka lebih punya kapabilitas untuk menyelesaikan tugas tanpa distraksi. Gak seperti gue, Dani, atau bahkan Erna yang masih punya kehidupan di sini. Kami memang udah memutuskan jadi agen S.H.I.E.L.D. sebelumnya. Tapi sayangnya perhitungan kami salah. S.H.I.E.L.D. menghilang, atau setidaknya bersembunyi lagi usai perseteruan dengan robot ciptaan mereka sendiri. Kami akhirnya dioper jadi agen lapangan A.T.C.U.

“We are not A.T.C.U. agents. We are C.I.A.” Kata kulit putih.
“You need your own man, do you understand?” Si kulit hitam bernada lebih adem.

Gue mengangguk. Satu hal yang membuat gue bertahan sampai sekarang adalah untuk menemukan dan menghabisi dalang dari pembunuh nyokap dan Kenia. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal. Kematian dibalas kematian, seenggaknya harus begitu.

“Tunggu bentar, jadi Roxxon sama Hammer Tech itu beda?” Akmal bergabung.
“Jelas beda.” Jawab gue.
“Gue kira sama.”

Akmal tampak mendadak remuk redam. Dia menarik nafas dalam-dalam. Gue yakin ada yang salah dengan jalan pikirannya selama ini.

“Gini, maaf sebelumnya kalau udah ngacauin investigasi kalian.” Akmal angkat bicara.

Pur mengulang ucapan Akmal supaya dimengerti para agen bule. Mereka berdua mendengakan dengan seksama kepada Pur, bukan Akmal. Toh, mereka juga gak ngerti bahasa Indonesia.

“Saya rasa kita semua udah saling jujur di sini, kecuali saya. Saya… punya keluarga… adik…”

Akmal tertunduk, menangis. Telapak tangannya menutupi seluruh mukanya yang semakin
basah. Dia gagal bercerita, padahal ceritanya pasti punya nilai untuk kegiatan ini. Semoga segelas jus jeruk dingin bisa menenangkan dia dulu.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22