Tanpa Nama S2 Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 12 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 11

Pesta Atau Cinta

POV Purnawarman

Gue udah bangun tidur sejak beberapa jam tadi. Jantung, nadi, pembuluh darah, otak, mata, bulukuduk, penis, dan seluruh jeroan gue terus berdebar menunggu apa yang akan datang sebentar lagi. Gue menunggu detik demi detik sambil mengamati pemandangan menjelang matahari terbit dari jendela lebar kamar ini.

“Hmmm..” Suara geliat Laras.

Gue menoleh ke tempat tidur. Laras baru mulai berkedip, bangun dari tidurnya yang nyenyak. Perlahan, gue naik ke tempat tidurnya, merangkak, lalu menggigit lembut bibir bawahnya.

“Pagi, Sayang~” Sapa gue.
“Pagi juga. Tumben bilang sayang.” Jawab Laras.

Gue hanya tersenyum. Kemudian, gue gak berlama-lama di atas kepala laras. Kecupan gue terus menjalar ke bawah, menyingkap selimut dan pakaian tidurnya satu demi satu hingga sampailah ke organ sensitifnya. Liang kenikmatannya.

Satu kecupan di bagian itu cukup untuk membuatnya mendesah.

“Ahhh…”
“Aku mau sarapan ini.” Gue merayu.
“Janganhh.. kamu.. aku belom mandi… shhh…”

Laras ingin menolak perlakuan gue, tapi permainan verbal aku-kamu berhasil membuatnya mulai melayang. Pahanya merapat, tapi kurang kuat untuk menjauhkan kepala gue. Kemudian, sadarlah Laras kalau tangan kanannya gak bisa digerakkan. Gue udah mengikat tangan Laras dengan borgol ke sandaran tempat tidur saat dia tidur tadi.

“Pur? Ngapain ini?” Laras terkejut.

TOK. TOK. Pintu diketuk. Gue pergi dari Laras.

“Pur, lepasin dulu!” Laras berontak.

Gue membuka pintu. Inilah dia, waktu yang tepat. Tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Gue tadi malam menyewa tiga pelacur dunia Vanaheim, terdiri dari dua perempuan super cantik dan satu lelaki. Rekomendasi cleaning service yang gue temui bagus juga rupanya.

“Pur! Pur! Ngapain??!!” Laras melotot.
“Having fun.” Gue melebarkan tangan.

Gue memberi aba-aba kepada ketiga pelacur itu untuk memulai aksinya. Satu pelacur berambut hitam panjang menemani gue berdiri di pinggir tempat tidur. Dia pelan-pelan mengusap lengan-lengan berotot gue, turun terus ke perut, lalu sampailah di batang penis.

“Siapa nama kamu?” Tanya gue.
“Gretta.” Jawabnya singkat.
“Eat me, Gretta.”

Gretta melirik genit dengan matanya yang dibulat-bulatkan. Sedetik kemudian dia melahap kepala penis gue sambil memegangi pangkal batangnya kuat-kuat. Lidahnya menari-nari. Sesekali penis gue tenggelam hingga jauh ke dalam kerongkongan Gretta. Setelah itu, terbatuklah dia sambil meneteskan liur.

Di atas selimut, Laras menggeliat kegelian karena diserang dua orang. Perempuan berambut pirang bermain-main dengan kedua payudara Laras, sedangkan si lelaki menjilati vagina Laras dengan sangat antusias. Lidahnya berputar tak hanya di klitoris atau lubang masuknya, tapi juga menjamah hingga pangkal paha.

“Pur… Ini… ahh.. berlebihan…” Laras melirih.

Gue acuh. Lalu sebaliknya, Si rambut pirang membungkam mulut Laras dengan lumatannnya. Laras kembali mendesah sampai gak bisa berkata-kata lagi.

Gue menarik Gretta untuk kembali berdiri. Gue menggendongnya, lalu penis gue mengacung tegak di bawah celah pahanya. Dengan sedikit bantuan tangan Gretta, penis gue amblas. Tanpa aba-aba, Gretta juga ikut bergerak naik turun sambil berpegang pada belakang leher gue. Paha gue sedikit menekuk sebagai tumpuan badan kami berdua.

“Kamu seksi… Gretta… ahh…” Gue meracau.

Gretta balas melumat lidah gue.

Gerakan kami bukan sembarang gerakan. Gue sengaja berdiri menggendong Gretta di pinggir kasur supaya Laras bisa melihat jelas permainan gue. Bagaimana penis gue menghujam, keluar dan masuk liang vagina Gretta di depan mata Laras.

Mata Laras menyipit. Atas komando gue, si lelaki mengarahkan penisnya ke vagina Laras. Butuh usaha lebih menembus pintu masuknya karena dia kembali perawan setiap hari. Itulah anugerah mereka yang perempuan sebagai Einherjar.

“AAAHHH…” Laras berteriak ketika pertahanannya berhasil ditembus.

Tidak butuh waktu lama sampai Laras kembali dalam jalur permainan pagi ini. Kakinya sudah menangkang sempurna dan matanya semakin sayu. Ditambah lagi si rambut pirang terus menggerayangi tubuh bagian atas Laras.

Gue menurunkan Gretta. Gue menyuruhnya menungging dengan posisi menghadap Laras. Biar Laras merasakan diserang dari segala sisi.

“Purrr… ahhh… jahat…” Laras bersuara lemah.
“Tapi enak, ya kan.” Goda gue.

Gue mencium bibir Laras sebentar, lalu kembali menggoyang tubuh Gretta. Sementara itu, Gretta menjilati puting sebelah kanan Laras, si rambut pirang sebelah kiri, dan si lelaki menggoyangnya di selangkangan.

Bosan dengan Gretta, gue meminta si rambut pirang ikut bergabung melayani gue. Gue berpindah, rebahan di sebelah Laras sambil dikulum oleh dua mulut yang bergerak lihai di atas batang penis gue. Gue melihat Laras, Laras melihat gue. Kami berciuman dengan panas, saling melumat dengan masing-masing selangkangan yang dipompa oleh orang-orang ahli.

“Enjoy?” Tanya gue.
“Lepasin borgolnya.” Laras meminta.

Gue mengutus si laki-laki untuk mengambil kunci borgol di laci, kemudian membuka borgol Laras. Saat itu juga laras menggila dengan menunggangi si lelaki.

“Kamu bisa nakal, aku juga bisa.” Tatapannya menusuk gue.
“Bagus.” Jawab gue.
“Siapa nama kamu?” Laras bertanya ke tunggangannya.
“Sam.”

Permainan verbal aku-kamu masih berjalan di otak Laras. Dia pasti udah gak bisa berpikir lagi. Otaknya udah pindah ke bawah, ke pusat syaraf selangkangannya sendiri. Gue sendiri justru semakin bernafsu melihat aksi tiga perempuan di ruangan ini.

Manuver selanjutnya, gue meminta si rambut pirang menunggangi penis dan Gretta menunggangi mulut gue. Kami berlima tinggal berlomba menuju klimaks. Gretta terus bertukar posisi dengan si rambut pirang, lalu bertukar lagi dengan Laras. Akhirnya, gue dan Sam menikmati kelamin semua lawan jenis.

“Aku mau keluar.” Kata gue.
“Aku udah berkali-kali.” Laras kini telentang pasrah.

Gue dan Sam mengarahkan penis kami masing-masing ke wajah ketiga perempuan di ruangan ini. Para perempuan ini sendiri membantu mengocok dengan sisa-sisa tenaga mereka. Akhirnya, tak selang beberapa lama, sperma kami berdua mengguyur wajah cantik Laras, Gretta, dan si rambut pirang yang gue lupa tanyakan namanya.

Kami tergeletak. Tapi, ketiga pelacur yang gue sewa cuma beristirahat sebentar. Mereka hanya menenggak air putih beberapa gelas, lalu sudah bersiap pergi.

“Thanks.” Gue memberi mereka upah.

Laras bergeleng lemah.

POV Hari

Rabu, 26 Juli, Matahari udah terlampau tinggi, sementara kami gak ngapa-ngapain. Pagi tadi, Erna udah balik ke rumah sakit. Otomatis orang di penthouse ini cuma tersisa kami berdua, Gue dan Dani.

Dani berkali-kali minta jatah kasur setelah Erna pamit. Tapi mood gue terlanjur turun drastis untuk ngeladenin apa maunya Dani. Untuk menghindari bawelnya, gue memutuskan membaca tumpukan buku di rak yang belom pernah gue sentuh sekali pun.

“Orang C.I.A. kapan dateng?” Tanya Dani dari dapur.
“Gue kira elu yang ngontak.” Gue masih cuek.
“Belom.” Sahut Dani.
“Lu belom ngontak?”
“Belom ada balesan.” Balasnya.

Gue lanjut membaca buku ini sambil senderan di sofa, beraksesoriskan remote tivi yang tergeletak di atas perut. Tivinya sendiri gak bersuara karena volumenya barusan gue kecilkan.

Buku ketiga yang gue baca setelah 4 jam kosong ini adalah Panduan Pembuatan Herbarium punya Erna. Panduan membuat herbarium ini memang buku wajib waktu gue kuliah. Tapi sekarang udah lupa-lupa inget. Waktu itu, gue inget dalam satu sesi kuliah, Erna dan Nando yang paling getol membuat presentasi hasil herbariumnya. Mereka berdua, meski kurang akrab, punya minat yang tinggi sama tumbuhan.

Kalo dipikir-pikir, keduanya sekarang udah bukan ada di jalur peneliti. Erna udah jadi agen rahasia internasional. Kerjaan sampingannya main band. Satu-satunya yang masih awet dari Erna adalah hobi fotografinya.

Nando, terakhir kami ngobrol, itu udah setahun yang lalu pas dia lulus tepat dalam masa kuliah 4 tahun. Terakhir dia nulis chat di grup angkatan, itu terjadi di awal tahun saat kami bingung untuk penampilan wisuda. Nando punya suara yang bagus dan dia hobi nyanyi sambil gitaran. Tapi info terakhirnya, dia bilang udah di Riau, kerja jadi konsultan AMDAL perusahaan sawit. Jadi, gsk bisa ikut bikin persembahan.

“Baca apa siiih?”

Muka Dani tiba-tiba udah di samping kuping kiri gue.

“Bukunya Erna.” Gue menjawab malas.
“Panduan Pembuatan Herbarium?” Ledeknya.
“Kenapa emang?”
“Panduan Pembuatan Anak aja gimana?” Dani menjilati kuping gue.

Bulukuduk gue berdesir, turun sampai ke tangan, lalu sampai ke tulang ekor. Batang penis gue berdiri tegak dalam waktu sepersekian detik. Gue pun meloncat spontan dari sofa untuk menjauhi Dani.

“Gila!” Teriak gue.
“Kenapa sih?” Godanya.
“Gak sekarang.”

Dani beralih kembali ke dapurnya sambil cuek. Selang beberapa belas menit, aroma semur ayam semerbak seantero ruangan. Mungkin kalo jendela dibuka, wanginya bisa sampe ke 5 lantai di bawah. Dani gak pernah bilang dia jago masak, tapi ini harumnya enak.

“Anjir wanginya.” Gue bergedik sekali lagi.
“Gue gak jago masak kok. Gue cuma jago baca.” Dani seolah tau pertanyaan di kepala gue.

Jadi, Dani selama beberapa jam ke belakang buka-buka buku resep masakan yang udah lawas punya nyokap. Mungkin buku masakan keluaran tahun 90an. Tapi itu hebatnya, biasanya buku masakan lawas bisa bikin hasil masakan yang lawas juga. Rasanya pasti klasik kaya bikinan nyokap.

Dani menyajikan semur ayam tepat di meja, di depan sofa yang gue dudukin. Lama-lama aromanya makin masuk ke sudut penyimpanan memori otak gue. Gue fix kangen nyokap dan Kenia.

“Dan.. lu… Ini enak.” Mata gue berair.
“Makan dulu kali. Nangisnya ntar.” Hiburnya.
“Parah ini sih.”
“Makan coy.” Gertaknya sambil tertawa pelan.

Kami makan dalam diam. Setiap suapan dari tangan gue, menghasilkan memori yang semakin indah. Semakin indah hal yang terbayang, semakin gue sadar juga kalau hal-hal itu udah gak bisa gue jangkau lagi. Semuanya musnah dalam waktu seminggu.

Hari ini, Dani dengan polosnya, tanpa peringatan, melecutkan cambuk paling perih yang gue rasain sendirian. Dia bilang, biar siang ini gue bisa lebih berwarna kalo gue makan sambil nangis. Biar gak boring katanya. Dani sialan.

“Cuci piring sendiri.” Dani mengingatkan.
“Bawel.” Gue jadi kesel sendiri.

Gue membuang sisa-sisa tulang ayam ke tempat sampah di pojokan dapur. Habis itu, gue menuju westafel, menyalakan keran ,dan menggosok piring bekas makan gue sendiri. Dani pun menyusul ke dapur dengan piring kotornya.

“Jangan nangis~” Ledeknya.

Dia meletakkan piring makannya di westafel.

“Wey, cuci sendiri.” Gue melotot ke piring Dani.
“Cuciin.”
“Cuci….”

Sebelum kepala gue menoleh ke Dani, dia lebih dulu memeluk gue dari belakang. Telapak tangannya perlahan mengusap lengan gue, turun hingga sejajar dengan telapak tangan masing-masing. Tangannya dibiarkan basah berbusa.

“Jangan nangis lagi.” Bisiknya.

    

“Gue gak nangis.” Gue malah ngaceng lagi.

Kepala Dani rebah di punggung gue. Gue sangat gak bisa memecahkan kode Dani kali ini. Apakah dia mau menghibur gue? Melecutkan memori gue soal keluarga? Atau yang terakhir, cuma mau ml yang gak gue kasih dari semalem?

Gue memilih langsung tembak sekarang biar semuanya jelas, sebelum gue baper. Gue meletakkan piring yang baru setengah tercuci. Selanjutnya, gue berbalik tanpa ingat harus membasuh tangan lagi. Gue memberi jarak satu langkah dari Dani. Gue tatap dia lekat-lekat.

“Dan, jawab jujur, lu butuh apa sih sekarang?” Tembak gue.

Raut muka Dani berubah seratus delapan puluh derajat. Gak ada lagi tampang menggoda, gak ada lagi muka binalnya. Semua berganti dengan keraguan. Kepalanya gak tegap, kadang nunduk, kadang mendongak. Matanya melirik tanpa henti, mencari-cari sesuatu di penjuru dapur yang sebenarnya memang tak ada yang dicari.

“Enggak, gapapa.” Jawaban Dani klise. Naif.
“Kalo lu mau ini, sekarang lu sukses.” Gue nunjuk ke selangkangan gue sendiri.

Gue mendekatkan diri lagi ke Dani. Gue pegang pipinya lembut meski tangan masih berbusa. Kami sempat tertawa pelan bersama sebelum akhirnya bibir kami bertemu dengan hangat. Pagutan antar bibir bawah terus bergantian kami lakukan. Dengusan nafasnya makin menderu.

Tanpa bicara, kami sepakat akan melakukannya di sini. Di dapur.

Dalam lumatan bibir yang semakin panas, gue membuka ikatan celana Dani yang bermodel kakhi. Gantinya, Dani meremas kuat batang penis dari luar celana adidas pendek gue. Kami pun terus mendengus hingga sukses menelanjangi bagian tubuh bawah pasangan.

“Do it.. Hari… Gue udah basah..” Lenguhnya.

Gue balikkan tubuh Dani, lalu dia membungkuk dengan sendirinya sambil berpegangan pada wastafel. Udah lama gue gak melakukan gaya ini. Semoga masih ingat caranya.

Tapi gue gak mau buru-buru. Gue butuh hidangan penutup. Hidangan yang meski amis namun menyempurnakan rasa yang gak pernah ada dalam setiap masakan nyokap. Sekarang, Danilah yang menghidangkannya.

Setelah sedikit permainan jari di awal, gue memulai dengan satu jilatan panjang pertama di celah kedua pahanya.

“Aaahhhh…..” Dani melenguh panjang.

Tiba-tiba telepon penthouse berdering. Gue dan Dani saling menoleh.

“Telepon.” Kata gue.
“Fuck me.” Kata Dani.
“Itu…”

“Fuck me! Do it fast!” Pinta Dani lagi.
“For God sake! Itu bunyi telepon kamar! Dari A.T.C.U.!”

Gue meninggalkan Dani di tengah suasana yang harusnya romantis dan bernafsu tadi. Tapi sayangnya sekarang ada yang lebih penting dari sekedar jilat memek, doggy style, atau bahkan quickie Telepon ini benar dari A.T.C.U., mereka memberitakan bahwa udah mengirim dua agen C.I.A. ke Indonesia untuk membantu kami. Mereka sampai sekitar nanti malam, tapi mereka gak akan tinggal di sini.

Ada rumor bahwa besok dini hari akan ada sebuah transaksi kecil yang mungkin melibatkan teknologi alien di Kalibata. Kalau mereka mampir ke Depok, waktunya gak akan cukup. Kami diminta untuk gak bergerak dulu. Ada kemungkinan wajah gue udah dikenali sehingga beresiko batalnya transaksi.

“Keep your eyes open.” Perintah pimpinan.

Hanya itu infonya. Kami diminta untuk siaga selama 24 jam ke depan. Kami diminta berada jauh dari perimeter TKP. Diam di penthouse juga boleh, tapi harus disiagakan seperangkat kamera lebah. Ya, lagi-lagi kamera lebah menjadi jantung operasi kami.

Tak selang beberapa lama, handphone Dani yang kini dihubungi sesorang tanpa identitas. Nomornya pun bukan nomor telepon umum.

“Angkat?” Tanya Dani.
“Angkat.” Firasat gue ini kabar baik lainya.

Begitu diangkat, kami mengatur sambungan dalam mode speaker. Rupanya suara Akmal di seberang sana. Dia mengabarkan informasi yang hampir serupa dengan pimpinan kami. Informasi ini bahkan belum sampai ke kepolisian. Akmal menyelidiki sendiri dengan kemampuan dan narasumbernya sendiri. Ini justru membuat gue jadi agak ragu soal kevalidan informasinya.

“Yakin bukan kasus LGBT?” Tanya gue.
“Yakin.” Jawabnya.
“Imigran gelap?”
“Haqqul yaqin.” Akmal meyakinkan lagi.

Kami disarankan untuk bergerak bersama Akmal untuk investigasi. Tapi sayangnya instruksi dari pimpinan adalah mutlak. Kami gak bisa bergerak ke sana atas kemauan sendiri. Akmal pun sangat terdengar kecewa. Tapi dia bisa memaklumi atas dasar pengertian. Tapi selebihnya, gue dan Dani sepakat kalau sama-sama curiga dengan apa yang nanti akan dilakukan Akmal dengan badannya sendiri.

Telepon dari Akmal langsung ditutup sendiri oleh Akmal.

“Lah, ditutup.” Gue melihat Dani.
“Ini bahaya.” Dani menunjuk hapenya sendiri.
“Setuju.”

Kami berdua tau apa yang harus dilakukan. Mengoperasikan kamera lebah pastilah menjadi prioritas. Kami harus mengikuti Akmal ke manapun dia pergi. Akmal gak boleh mengacaukan operasi C.I.A. dalam bentuk apapun atas kehendaknya sendiri.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22