Tanpa Nama S2 Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 10

Dua Cukup

POV Hari

Belum sepenuhnya selesai soal Roxxon dan Hammer Tech, kami secara harfiah menimbulkan ketegangan baru dengan Pur dan Laras. Mereka dituduh Erna sebagai salah satu pemicu kiamat. Ragnarok. Akibatnya, mereka berdua pergi dari penthouse tengah malam begini untuk melanjutkan perjalanan mencari buronan mereka sendiri.

“Temen lu itu.” Nafas Pur mengendus.

“Pur, udah.” Laras menggertak pelan.

“Kalian yakin mau keluar malam begini. Gak besok aja?”

Gue sebenernya geram gara-gara membawa nama Kenia dalam permasalahan tadi. Cuma, gue sebagai agen tetap harus meredam emosi yang harusnya udah meluap-luap sejak nyokap meninggal. Gue pun berupaya menawarkan sekali lagi kepada mereka supaya menunggu pagi terlebih dulu sebelum pergi. Tapi, hati mereka tetap keras untuk memilih pergi sekarang juga.

“Oke, take care.” Salam gue.
“Sorry soal adik lu ya.” Laras mengajak bersalaman.

Mereka berdua pamit, lalu pergi dari pandangan gue. Gue dan mereka berpisah di trotoar depan apartemen. Mereka berdua berjalan menjauh dengan sangat cepat, kemudian berbelok ke arah sebuah gang.

Gue berjalan kembali ke lobby, lalu menekan tombol lift untuk naik kembali ke lantai atas. Gue gak terlalu khawatir dengan Pur dan Laras. Mereka pasti bisa bertahan hidup meski Cuma berdua. Mereka udah kuat secara fisik dan pengalaman. Preman pun pasti langsung sujud minta ampun kalo sempat sekali kena pukul.

Gue lebih mengkhawatirkan Erna yang tiba-tiba meledak begitu aja. Memikirkan hal tersebut kayanya gak bakal ada habisnya. Bahkan, naik lift aja sampe gak berasa ayunannya sama sekali.

“Gue balik ya.” Eda menyapa ketika gue baru kembali.

“Gue juga ya.” Akmal mengekor di belakangnya.

Sekarang Eda justru mau pamit balik ke apartemennya. Katanya, Kak Rivin mulai rewel minta jatah. Gue hanya membalas tersenyum. Dia juga gak minta dianter ke bawah. Pun, kamar apartemennya cuma 10 menit jalan kaki dari sini.

Di sisi lain, rahasia masih menyelimuti pribadi seorang Akmal. Seorang polisi berprestasi yang di masa mudanya sudah diberi kesempatan berpartisipasi dalam tim back-up densus 88 anti-teror. Kami baru kenal dia tiga hari, namun antusiasmenya soal alien tinggi sekali. Hal ini sangat perlu diwaspadai karena informasi kemampuan inhuman gak boleh sembarangan dipertunjukkan.

“Gue gak percaya sama dia.” Kata Dani.

Dani menghampiri gue ketika Eda dan Akmal udah lenyap di balik pintu lift.

“Gue juga kayanya.” Balas gue.

“Tadi dia ngobrolin Roxxon sama Eda.” Dani sekilas melapor.

“Banyak yang diceritain?”

“Gak terlalu sih. Soal umum-umum aja.” Kata Dani lagi.

Dani mengatakan dia akan berinisiatif menyelidiki Akmal sebisa mungkin. Peralatan kamera lebah dan program-program dari deep web menjadi senjata utamanya kini. Dia yakin bisa membuka segala sesuatu soal Akmal dalam waktu singkat.

Tapi malam ini, sebaiknya kami istirahat dulu. Gue belom sempat tidur cukup dari dua hari yang lalu.

“Mau gue temenin?” Mata Dani berkedip.

“Ogah, malah gak tidur gue ntar.” Gue melempar diri ke sofa.

“Di kamar gih.” Suruhnya.

Gue melangkah ke kamar. Lampu gue biarkan menyala. Di atas kasur, mata gue menatap langit-langit. Pikiran gue melayang jauh kepada Erna. Bagaimana dia dan keadaannya yang berada dalam kamarnya sendiri. Gue gak sampai khawatir dia bunuh diri, tapi mentalnya itu memang sedang jatuh drastis.

Ada suara denyit pintu, tapi gue gak peduli. Lalu, Dani udah ada di sebelah gue.

“Ada yang perlu kita bicarain. Penting.” Dani bersender di pinggir kasur.

“No sex ya, gue lagi capek.”

“Gue juga capek kali.” Ketusnya dengan nada rendah.

Dani mengungkapkan kekhawatirannya soal Erna. Kami berdua memang teman seangkatan Erna, tapi belum kenal jauh dengan dia. Kalau dikira-kira, kami bahkan belum pernah bermain atau gabung bersama-sama dalam kepanitiaan semasa kuliah. Hanya momen ke Papandayan itulah saat pertama kami jalan-jalan bareng.

Selama bertugas menjadi agen S.H.I.E.L.D. atau pun A.T.C.U., Erna juga lebih sering menyendiri. Dia pun juga masih punya kesibukan di luar bersama Bryophyte. Ditambah lagi dia sekarang ikut shift ngejaga bapaknya yang sedang koma di rumah sakit.

“Erna kan anak baik-baik.” Kata Dani.

“Terus?”

“Coba hitung, udah berapa kali dia ngeliat kejadian gak senonoh selama bareng kita.” Dani mengernyitkan dahi.

Gue ikutan berpikir sebentar.

“Dia juga udah sering bareng Anwar sama Tika. You know, lah.” Timpal gue.

“Nah itu bedanya. Anwar sama Tika udah bareng Erna dari maba. Kalo sama kita baru berapa bulan sih.” Dani membuka masalah.

Apa yang dibilang Dani ada benarnya. Erna udah kenal watak Anwar dan Tika udah dari maba. Sebaliknya, Anwar dan Tika seharusnya juga udah tau tempat supaya Erna gak tersinggung atau merasa gak nyaman.

Sedangkan, sejak bersama kami, Erna udah mendengar Eda berhubungan seks dengan Dani, Eda dengan kak Rivin, gue dengan Puri, bahkan juga ketika Eda meladeni tiga perempuan sekaligus.

Seminggu belakangan, malah Erna melihat dengan mata kepalanya sendiri kakaknya bermain cinta dengan Rosi. Lebih parahnya, dia hampir gue perkosa, lalu dilanjut melihat gue dan Dani berhubungan intim dari jarak dekat di malam yang sama. Sekarang, dia juga merasa gak berguna dalam beberapa tugas terakhir ini.

Gue mengacak-acak rambut sendiri.

“Terus harus gimana?” Gue buntu.

“Kasih liburan, mungkin.” Dani mengangkat bahu.

“Bukan wewenang kita.”

Kami jadi sama-sama buntu.

“Gue tidur sini deh ya.” Dani langsung rebahan.

“Gila! Big no!” Gue menggusur posisi Dani.

“Ngantuk gue.” Dani memelas.

“Lu pikir ntar Erna bakal gimana lagi kalo dia ngeliat kita tidur bereng.”

Dani mengalah. Dia pergi ke luar kamar sambil mematikan lampu kamar gue.

POV Purnawarman

Pagi ini gue dan Laras sedang di dalam kereta. Setelah semalam ngeronda sambil dengerin radio kopi darat di sebuah warung kopi, kami memutuskan untuk menginap di Vanaheim selama beberapa waktu. Kami juga sekaligus ingin mengambil jatah imbalan hasil menangkap Rosi.

Pekerjaan kami memang sedang banyak-banyaknya. Jumlah einherjar semakin berkurang sejak Odin menghilang. Selain itu, jumlah kami tidak pernah bertambah setelah para valkyrie, petugas sumber daya orang-orang yang pantas masuk valhalla, mendapatkan tugas baru dari orang-orang di istana besar itu. Untuk mengimbangi kekuatan di berbagai sektor yang ditinggalkan, kelompok einherjar yang dijuluki anak-anak Lokilah yang mengisinya. Kemampuan penyamaran kami sangat sesuai untuk mengejar para buronan.

Sayangnya, kami gak punya hak untuk membongkar rahasia kepada siapa pun, termasuk orang yang dipercaya sekali pun. Tadi malam, hampir semuanya dibuka oleh Laras.

“Pur, ayo, udah sampe.” Laras menepuk gue.

Kami turun di stasiun Juanda. Langkah gue mengikuti langkahnya Laras yang berjalan di depan.

Matahari belum muncul, hanya ada fajar yang mengiringi langkah kaki kami menuju ke taman Monas. Di dalam tugunya sana, ada satu pintu rahasia temuan kami, atas perintah putra mahkota, Thor. Pintu itu menghubungkan antara Midgard dan Vanaheim.

“Gila ya, di tempat umum begitu, portal sama sekali gak ketahuan.” Laras bawel.

Gue masih membayangkan perjalanan kami sebagai anak-anak Loki yang disebar ke sembilan dunia. Awalnya, gue dan Laras ditugaskan menuju Niflheim untuk membangun segala hal yang rusak akibat perang saudara di sana. Selanjutnya, dari informasi yang beredar, ada seorang makhluk Jotunheim buronan Asgard berkeliaran.

Beberapa tahun lalu, ada satu undang-undang baru sejak Jotunheim hancur gara-gara Thor. Semua raksasa Jotun yang sedang di luar dunianya harus wajib lapor sebelum tenggat waktu. Bagi yang gak melapor ke Asgard dalam waktu dua tahun, dianggap buronan dan harus ditangkap.

“Pur, jangan ngelamun.” Laras mengoyangkan telapaknya di depan mata gue.

“Biarin sih.”

“Gue udah minta maaf lima kali lho.” Laras merendah.

“Dari awal emang harusnya kita gak minta bantuan mereka.” Nasihat gue.

Kami berdua mengejar raksasa Jotun sampai ke Vanaheim, tapi kami kehilangan jejak. Di sana, kami berjumpa lagi dengan kejadian perang saudara. Kali ini, pemimpin bangsa mereka sedang hilang. Frey namanya, dan banyak yang percaya dia ahlinya kesuburan. Sekarang, ada dua pihak yang mengklaim punya hak atas kelanjutan kepemimpinan Raja Frey.

Di saat yang sama, komandan einherjar pemberi tugas kami menghilang tanpa kabar. Burung dara pembawa surat juga gak pernah datang. Untuk bertahan hidup dan makan layak, kami sampai harus menerima tugas dari salah satu pihak yang sedang perang saudara di Vanaheim.

Kami menandatangani kontrak ke pihak istana yang punya dan mau menyediakan makanan serta tempat tinggal. Kemudian, asal bukan ikut perang secara langsung, kami akan mengikuti kontrak yang disodorkan itu.

    

“Pur!” Laras membentak.

“Berisik.”

“Rosi kan waktu itu lari ke Alan. Kita udah sepakat juga minta bantuan Hari dan friends.” Laras mendebat.

“Sekarang Alan udah mati. Kelar kan.”

Sejak tanda tangan kontrak itulah kami mengikuti Rosi. Pihak penyewa menyebut golongan Rosi adalah orang-orang pemberontak. Bersama saudara kembarnya, Julia, Rosi punya pasukan yang terus menggempur pihak penyewa kami.

Kami mengikuti Rosi sampai ke Midgard. Kami tahu dia diam-diam mencari bala bantuan. Sampailah dia ke penyihir bumi bernama Alan. Saat itu, bahkan gue baru tau di bumi ada penyihir. Untungnya, tugas Rosi tertunda karena Alan tenyata bukan orang baik. Alan berseteru dengan temannya sendiri, dengan gurunya sendiri, bahkan dengan makhluk Midgrad biasa.

Kemudian, Rosi menghilang lagi. Akibat hal itu, kami meminta bantuan dengan mengirim burung dara kepada orang bernama Hari. Kami pun tinggal di Midgard selama beberapa bulan tanpa petunjuk soal Rosi.

“Lewat mana? Masih ditutup nih.” Laras menghadap pagar.
“Lompatin aja.”

Gue dan Laras terus berjalan. Kami masuk ke dalam komplek taman Monas dengan cara melompat dengan harap-harap cemas gak ada satpol PP yang melihat. Kami terus berjalan menuju loket masuk di bawah tanah. Di sana, kami menyamar sebagai petugas loket untuk mengelabuhi satpam.

Dari dalam lorong yang remang, kami keluar ke dalam kompleks tugu monas. Masih kosong di sini. Maka, tanpa membuang waktu kami berdua memotong jalan menuju anak tangga yang mengarah ke bagian cawan.

Kami berhenti di ujung anak tangga, beberapa langkah setelah jalan ke luar cawan. Ada tembok rata di sana. Di situlah portal menuju Vanaheim. Portal itu tanpa wujud, gak seperti portal yang dibuat Alan atau batu rune Odin. Hanya orang yang matanya teliti yang bisa melihat perbedaan antara tembok marmer asli dan gambaran. Hanya saja, kadang muncul percikan listrik berwarna merah jika didekatkan dengan logam emas, akibat teknisi Vanaheim yang kurang handal.

“Duluan.” Gue mnyuruh Laras tanpa basa-basi.

Laras masuk ke Vanaheim terlebih dulu. Gak ada efek apa-apa dari dinding tersebut. Selanjutnya, gue menyusul Laras. Pemandangan berganti secara mendadak dari tembok marmer menjadi pepohonan super besar. Di sisi lain, terbentang padang rumput tanpa batas.

Kami dijemput tronton tanpa roda yang berjalan melayang satu meter di atas tanah. Kemudian, sampailah kami di dalam kota Skaun, kota semi-futuristik yang perbatasannya dibangun dinding tinggi semacam tanggul raksasa.

Sesampainya di istana ratu, kami dilayani layaknya tamu kehormatan. Kami diberikan karpet merah, dikawal empat orang ajudan berpakaian serba merah, dan disambut paduan suara anak-anak. Status kami berubah drastis dari hanya pegawai kontrak borongan menjadi seperti orang berpengaruh dalam sebuah perusahaan pialang saham.

“Karena kita nangkep Rosi, jadi begini?” Gue udah gak bisa ngelamun lagi.
“Bisa jadi.” Laras juga gak yakin.

Sang pemberi kontrak datang menghampiri kami. Pakaiannya cemerlang dengan banyak manik-manik perak. Kepalanya berhias mahkota putih perak, namun kalah putih dengan rambutnya yang udah kehilangan pigmen. Gue rasa, usianya udah ribuan tahun. Mungkin seusia dengan Raja Odin atau Raja Frey.

“Selamat datang.” Sambutnya.

Dia memberikan pidato formal atas keberhasilan kami. Tapi, kami diminta untuk mengantarkan Rosi secepatnya dari Asgard ke Vanaheim agar dia cepat disidang. Dengan cepat pula gue mengatakan akan mengirimkan burung dara ke Asgard setelah pertemuan ini.

Kami pun dikawal ke kamar kami. Gue kira mereka akan mengantar kami ke asrama prajurit di bagian belakang istana seperti pada awal penandatanganan kontrak. Rupanya kami salah, kamar kami udah berpindah ke kamar super luas dengan fasilitas meja kerja, tivi LED super besar, AC central, dan spring bed ukuran king size. Fasilitas ini sangat ke-midgard-an sekali.

“Gue mau langsung tidur. Capek.” Kata Laras.
“Gue nulis surat dulu.” Gue berjalan ke meja tulis.
“Aneh gak sih? Kita tiba-tiba dapet fasilitas begini.” Laras langsung rebahan.
“Pasti Rosi orang penting.” Kesimpulan gue.

Laras menghela nafas panjang.

“Seks?” Tawarnya.
“Gue mau threesome ntar.”
“GAK BOLEH!” Laras langsung loncat dari tempat tidur.

Sambil menulis, gue mendebat bahwa fasilitas begini gak boleh disia-siakan. Kalau kamar besar aja dikasih, pasti cewek pun juga dikasih berapa pun jumlahnya. Tapi buat gue, kebanyakan cewek cuma bikin capek. Dua aja pasti cukup.

Laras mendebat balik bahwa threesome itu gak penting. Dengan nada bicaranya yang semakin meninggi, Laras bersikeras kalau seks yang nikmat adalah seks dengan orang yang udah dikenal. Seks dengan chemistry. Kalau udah kenal baik, eksplorasi bagian tubuh manapun pasti terasa nyaman, katanya.

“Ya kalo gitu ntar kenalan dulu. Gampang.” Sahut gue.
“Gak begitu juga, Pur!” Laras makin meninggi.
“Lu kenapa deh? Ini seks buat seneng-seneng doang kali. Emangnya gue bakal macarin mereka ntar. Nggak, kan.”

Laras mati kutu. Dia rebahan lagi dengan muka ditekuk.

“Gue mau ke kandang.” Gue menggulung surat.

Gue menulis surat sekenanya. Kemudian, gue sendirian menuju ke kandang burung dara yang masih terletak di kompleks istana. Dengan tarif ekspress, harusnya burung dara yang gue sewa bisa mengantarkan surat kurang dari sehari ke Asgard. Kemudian, Rosi akan sampai ke sini dua hari selanjutnya. Dengan begini, kontrak dengan orang-orang Vanaheim bisa selesai dengan imbalan melimpah.

Dan cewek-cewek. Dua cukup.

BERSAMBUNG