Tanpa Nama S2 Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 1

Serangan Malam Minggu

POV Hari

Malam minggu, 15 Juli 2017. Gue bergegas berganti baju setelah muncul panggilan inhuman.

“Ayo! Berangkat coy!” Gue meninggikan nada.
“Bentar. Baksonya enak ini.” Dani masih menyuap potongan baksonya.

Persadani Putri​

Malam ini tiba-tiba ada panggilan terrigenesis inhuman ketika gue mau berangkat ke Thamrin. Layanan call center kami, lebih tepatnya nomor telepon penthouse ini, baru saja dihubungi oleh pak polisi di lokasi kejadian. Lokasinya kebetulan sekali gak jauh, hanya di Cikarang. Dibanding panggilan di Ambalat atau Painan, lokasi kali ini memang gak jauh-jauh banget.

“Jauh itu coy. Planet lain.” Dani nyeletuk.

“Bakso lu masukin kulkas dulu lah.” Gue sambil mengambil jaket.

“Ya kali. Dingin mana enak.”

Dengan leyeh-leyeh, Dani akhirnya merelakan kuah baksonya gak habis. Dia mengambil seperangkat alatnya dari lemari yang kemudian disatukan ke dalam tas ransel. Kami berdua bergegas menyusun lengkap perlengkapan masing-masing karena malam ini tidak ada Quinjet yang menjemput di lantai atap.

Dani kini sudah berkacamata. Kebiasaannya yang sangat rajin berlatih alat-alat agensi di dalam ruangan tertutup membuat matanya menjadi minus. Belum lagi dia semakin menjadi kutu buku. Kalo soal menyombongkan diri, gue pun sama rajinnya kaya Dani. Bedanya, mata gue gak sampe jadi minus begitu.

“Gak ada quinjet? Beneran nih?” Dani makin malas.
“Kemaren meledak di Wakanda.” Kata gue asal.
“Alah, bilang aja gak ada pilotnya.” Dani selesai memasukkan barang terakhirnya.

Belakangan ini A.T.C.U. memang kesulitan mencari pilot untuk menunggangi quinjet. Banyak rumor beredar di kalangan akademisi pilot kalau resiko menjadi pilot quinjet sangat tinggi. Cerita tentang Hulk, alien, sampai teroris membuat mereka enggan.

Coba bayangkan, dari 20 armada quinjet, hanya 3 pilot yang tersedia. Bahkan, panggilan terakhir di Sukabumi minggu lalu, kami terpaksa naik pesawat perintis. Lalu, panggilan malam ini kami harus menaiki motor sendiri. Orang HR di A.T.C.U. sungguh payah mencari pilot, lebih buruk dibanding S.H.I.E.L.D. yang menangani.

“Panggil Erna gih.” Dani sambil menimbang-nimbang ranselnya.
“Lagi manggung dia. Ini kan weekend.” Jawab gue.

Dani menghela nafasnya. Gue mengambil kunci motor gue sendiri, lalu melempar kunci motor Dani.

“Naik motor banget?” Dani mengernyit.

“Weekend coy. Macet. Macet.” Jawab gue.

“Punya mobil dinas kok dikandangin mulu.” Celetuknya.

Kami menyudahi basa-basi sembari mengunci penthouse. Kami turun dari lift dengan menggendong tas ransel masing-masing. Isi ransel gue sebenarnya cuma ICER, pistol biasa, plastik sampel, kotak P3K sama baju ganti kalo seandainya harus nyebur. Barang gue gak begitu banyak dibanding Dani yang harus bawa dua gadget dan kumpulan kamera lebah.

Setibanya di basement, lalu bergegas ke motor kami masing-masing, lalu melaju beriringan di tengah kemacetan Margonda, melaju melewati Juanda, hingga Jalan Raya Bogor. Kemacetan memang terjadi di mana-mana sehingga pilihan gue membawa motor sangat benar.

POV Kenia

Kenia Dwi Lasya​

“Abang sibuk mulu.” Aku kembali dari toliet.

“Namanya juga kerja.” Sahut ibuku.

Kami sedang menikmati makan malam berdua atas syukuran telat atas diterimanya aku di fakultas kesehatan masyarakat lewat jalur SBMPTN. Syukuran telat ini terjadi karena Bang Hari selalu membatalkan janjinya. Sewaktu pengumuman tanggal 13 Juni kemarin, abang malah pergi ke Painan, pas mau lebaran pun malah ke Ambalat. Minggu lalu malah ke Sukabumi.

Ibu dan Bang Hari memang udah sepakat kalo syukurannya gak usah nunggu Bang Hari. Tapi tadinya aku yang ngotot, hingga akhirnya nyerah.

“Kerja kaya orang biasa kek, ini malah nyari-nyari alien.” Kataku gusar.
“Hush, ntar kedengeran orang.” Ibu mengingatkan.

Aku kemudian menyantap potongan ikan-ikan mentah hidanganku sendiri.

“Ini yang traktir si abang lho.” Goda ibuku.

“Iya, untung duitnya banyak.” Jawabku datar.

“Kok kamu gitu sih? biasanya manja sama abangnya.” Nyokap menyuap makanannya sendiri.

“Biarin. Aku ngambek.”

Aku berusaha menghilangkan rasa bete dengan memandangi wajah jakarta malam ini. Pemandangan kelap-kelip dan hiruk pikuk ini entah apa cocok untuk kami berdua. Restoran berkelas ini berada di lantai yang tinggi, tempatnya sangat nyaman, bahkan kami sudah dilayani sejak baru duduk tadi. Akan tetapi, aku rasa aku risih harus berlaku sangat sopan di sini.

Kami sedang berada di restoran kelas atas di Thamrin. Bang Hari udah pesan seat dari jauh-jauh hari, sayangnya dia sendiri yang gak bisa datang. Perasaan menyebalkan ini terus lewat di atas kepalaku seperti nyamuk yang mendengung-dengung. Selalu datang lagi walau sudah ditebas berkali-kali.

“Kenia, jangan ngelamun ah. Gak baik.” Ibu menegur.

“Iya.” Aku manyun.

“Nanti kalo ibu udah gak ada, keluarga ini tinggal kalian berdua lho.” Ibu mengayunkan garpu.

“Kok ngomong gitu sih, bu?”

“Ya kan ibu udah tua, bentar lagi udah lewat dari usia produktif.”

Aku selalu terpaku kala ibu bilang begitu.

“Nggak, ah, ibu awet muda kok.” Aku mencari penghiburan.

“Kamu gak boleh ngambek sama bang Hari ya.” Pinta ibuku.

“Iya deh.”

Ibuku licik. Beliau tahu bahwa aku pasti selalu luluh ketika sudah berbicara tentang usianya. Aku sebagai anak kedua memang tarpaut jauh dari usia ibuku. Terlebih, di keluarga ini hanya ada kami bertiga. Aku sering merindukan ayah, tapi di sisi lain aku juga sering merasakan kebencian kakakku terhadapnya.

Aku yang termuda hanya bisa pura-pura gak acuh terhadap situasi keluarga ini. Lalu, hanya manja-manja dengan abang lah aku bisa melupakan semuanya. Tapi, bang Hari sudah makin sibuk. Dulu, waktu kuliah sudah sibuk. Sekarang lebih sibuk. Bahkan di hari bahagiaku, Bang Hari juga gak bisa datang.

Aku langsung terpikir ingin menelepon bang Hari untuk sekedar memberi kabar malam ini. Aku gak peduli dia lagi tugas, sekedar 3 menit aja seharusnya dia ada waktu. Kuambillah handphone dari saku celana, kugeser-geser gadget layar sentuhku ini, lalu kucari kontaknya.

Nada sambung berbunyi lama, lalu berhenti dan digantikan mbak-mbak operator.

Kucoba hingga tiga kali, semuanya gak diangkat. Rupanya dugaanku salah. Bang Hari memang sesibuk itu. ibu berkali-kali memerhatikanku supaya gak cemberut, apalagi menangis. Kusuap hidanganku buru-buru sebagai pengalih.

Tiga puluh menit berlalu. Waktu terus aku lalui dengan ibuku untuk berbicara apa saja. Kami membahas apapun yang mungkin akan kulakukan semasa kuliah nanti. Kami juga membicarakan sedikit soal Nur yang sudah bersuka cita karena hutang orang tuanya sudah lunas dengan keluarga si kurang ajar Yogi.

Soal Nur, dia juga diterima di universitas yang sama denganku, namun berbeda fakultas. Dia berhasil mendekatkan dirinya satu langkah menjadi dokter. Karena rumpun keilmuan kami sama, maka kemungkinan besar kami bisa main bersama-sama lagi nanti. Berbeda dengan Imel yang harus berpindah ke Bandung karena dia diterima di sana.

Di sela obrolan, tiba-tiba aku dikejutkan dengan pecahnya kaca jendela dan adanya sebuah angin kencang yang melintas tepat di depan mata ibuku. Kurang dari sedetik kemudian, satu sisi tembok yang berlawanan dari posisi jendela pecah membentuk sebuah bolongan lumayan besar.

“Jauhin jendela! Semuanya!” Seorang lelaki langsung berteriak keras hingga terdengar ke penjuru restoran.

Tamu-tamu seketika berhamburan keluar. Aku dan ibuku yang tepat di tepi jendela sudah berserpihan pecahan kaca. Aku shock dan gak bisa bergerak, sedangkan ibuku terjatuh dari kursinya.

Seorang wanita menghampiri kami. Aku tak begitu memperhatikan rupa wajahnya akibat shock ini. Yang aku bisa lihat, dia memiliki rambut panjang hitam dan bersepatu hak tidak terlalu tinggi.

“Ayo, bu, bangun! Kita keluar dari sini!” Kata si wanita.

“Dek, ayo pergi!” Seorang lelaki menepuk pundakku.

Seketika aku kaget dan menoleh waspada kepada lelaki itu. Dialah lelaki yang berteriak lantang tadi. Di saat yang sama, kilasan angin melintas lagi di depan mataku, menghujam tembok, dan menghancurleburkan titik hantamnya untuk kedua kali. Ibuku lekas bangun dibantu si wanita yang mengambil tas tentengnya.

“Tembakannya dari mana?” Kata si wanita.

“Gue gak bisa liat!” Jawab si lelaki.

“Kita pokoknya pergi dari sini!.” Kata si wanita lagi.

Rupanya angin yang melesat tadi adalah tembakan. Aku benar-benar tak sanggup mencerna kejadian ini. Bahkan, sedetik kemudian, sebuah lesatan kali ini tepat menghantam kepala ibuku di tepat di keningnya. Si wanita terjatuh ke samping karena kagetnya sendiri. Aku pun semakin shock dan badanku sama sekali kaku. Si lelaki membimbing kepalaku untuk merunduk. Aku dengan mata berbinar melihat ibuku… berdiri!

Tembakan tadi memang tepat mengenai kening ibuku, tapi di waktu yang tepat beliau melapisi diri dengan baju zirah tulangnya. Ibuku bergerak melindungi kami bertiga untuk mengevakuasi diri. Aku pun baru memerhatikan kondisi sekitar, tinggal kami bertiga yang masih berada di lounge restoran ini.

“Ayo pergi dari sini.” Kata ibuku.

Kami bertiga berjalan merunduk menjauhi jendela dan menghampiri pintu keluar. Kami dilindungi tubuh ibuku yang sedari tadi berjalan tegak. Satu, dua, empat, lesatan peluru mengenai tubuh ibuku, namun gak berpengaruh, hingga akhirnya lesatan peluru berhenti dengan sendirinya.

Begitu kami sudah sampai di pintu restoran, satu peluru melesat lagi. Kali ini ibuku terpental jauh hingga tersungkur ke depan pintu. Kami bertiga langsung berlarian ke lorong mall sembari si lelaki menyeret-nyeret ibuku.

“Pur, Kena! Kok bisa?!” Si wanita menepuk-nepuk si lelaki.

“Teknologi chitauri. Pasti.” Si lelaki mengamati luka ibuku.

Ibuku berdarah entah bagaimana caranya. Peluru tersebut menghujam punggung sebelah kanannya. Baju zirahnya rontok satu persatu. Topeng zirahnya lepas separuh, lalu mata ibu menatap nanar kepadaku. Dengan mulut penuh muntahan darah, ibu memegang pipi kiriku dengan tangan kanannya yang gemetaran.

Sesaat kemudian, tangan ibuku tergeletak tanpa tenaga. Si lelaki memeriksa nadi dan nafasnya, lalu menatap arahku. Dia menggeleng satu kali.

Aku linglung. Apa yang terjadi ini?

Orang-orang berkumpul mengelilingi kami semua. Lalu, tiba-tiba jasad ibu ditarik menggunakan sejumlah kail pancing ke arah jendela. Ibu lepas dari tanganku dengan cepat.

POV Hari

Kami tiba di Cikarang satu jam lalu, dan kini sudah lewat tengah malam. Panggilan pak polisi tadi rupanya keliru. Kronologinya, pak polisi menemukan sekelompok anak muda yang sedang mabuk-mabukan di pos ronda. Mereka membawa sebuah patung manusia dengan rasio ukuran 1:1. Ketika diinterogasi, anak-anak muda yang mabok itu sangat asal bicara, berkata bahwa itu temannya yang mengalami terrigenesis.

Sekarang, kami sedang dalam perjalanan pulang ke Depok, namun harus mampir di warung bakso yang buka 24 jam. Kami harus melepas lelah karena berkendara motor dengan ngebut sedari tadi.

“Sialan, buang-buang waktu kita aja.” Dani menggerutu.

“Kali ini gue setuju.” Gue mengaduk-aduk semangkuk penuh bakso.

“Padahal waktunya bisa dipake ML.” Kata Dani lagi.

“Berisik coy!” Gue memerhatikan sekitar.

Untungnya gak ada orang lain lagi selain kami berdua. Bapak penjual bakso ada di luar hitungan karena dia terlalu asik dengerin radio kopdar yang isinya cuma cowok yang maksa cewek-cewek buat ketemuan. Kalau denger pun, gue rasa dia gak ngerti istilah ML yang Dani katakan barusan.

Selain pembahasan ML, selebihnya obrolan kami berlangsung normal. Mulai dari jalanan jakarta yang kembali macet usai libur lebaran, sampai wacana mengabari Erna karena kami habis melaksanakan misi yang zonk. Lalu, ngomong-ngomong soal kabar, gue megeluarkan handphone untuk mengecek kabar Kenia yang harus dinner berdua dengan nyokap, tanpa gue.

Di layar handphone telah tertanda 13 panggilan tak terjawab. Semuanya dari Kenia. Begitu repotnya gue tadi sampai-sampai gak sadar ada telepon masuk. Maka, lebih baik gue telepon balik aja.

“Halo, Kenia? Gimana tadi makan malemnya? Maaf tadi repot banget, abang lagi di Cikarang nih…” Gue langsung bicara panjang begitu telepon tersambung.

Gak langsung ada suara balasan dari sana. Sampai beberapa waktu kemudian, suara perempuan lain yang gue denger di seberang sana. Suaranya berat cenderung ngebass, awalnya gue kira dia laki-laki sebelum ada sedikit suara melengking dari kalimat sapaannya kepada gue.

“Halo. Halo. Ini Hari ya? Saya Laras.” Suara perempuan di seberang sana.

“Iya, betul. Maaf, Kenianya mana ya?” Gue mulai khawatir.

“Kenia lagi tidur, ada yang harus saya kabari….”

Wanita itu menceritakan ide pokok kalimatnya dulu, bahwa nyokap gue baru saja meninggal dunia. Lalu dia menjelaskan dengan detail bagaimana kejadian yang baru aja terjadi di Thamrin. Tembakan misterius terjadi di restoran lantai 40an. Tembakannya tepat mengenai nyokap gue. Lebih parahnya, nyokap gue teridentifikasi oleh publik sebagai inhuman.

Gue gak bisa merespon apa-apa, handphone pun terjatuh ke lantai sebelum si perempuan bernama Laras ini menyelesaikan ceritanya. Dani pun bingung atas kelakukan gue yang buang-buang handphone.

Setelah handphone gue mati karena layarnya pecah, barulah Dani bertanya apa yang terjadi. Gue menceritakan apa adanya soal kejadian di Thamrin itu. Kemudian, gue menelepon ke handphone Kenia lagi menggunakan handphone Dani.

“Halo, mbak Laras, sekarang posisi di mana ya?” Tanya gue.

“Kami lagi di rumah kamu.” Jawabnya.

“Oke, saya ke sana segera.” Gue langsung menutup telepon.

Tanpa menghabiskan bakso lagi, kami segera meluncur dari Cikarang, menerpa dinginnya malam di pertengahan tahun.

Gue pernah membaca kalau dinginnya malam di musim kemarau bisa melebihi dingin saat musim hujan. Itu bisa terjadi karena kombinasi kelembaban udara sangat rendah dan bentukan awan yang minim, sehingga pelepasan panas bumi ke atmosfer usai matahari terbenam terjadi besar-besaran. Maka seharusnya malam ini bisa jadi sangat dingin, namun belakangan ini hujan sering terjadi di wilayah utara Jawa, jadi teori itu bisa aja menjadi anomali.

Sayangnya, gue dengan perasaan yang sedang bercampur aduk gak bisa merasakan apa-apa soal cuaca malam ini.

Pukul tiga pagi, gue dan Dani tiba di Tanah Abang.

Putri Larasati

Perempuan bernama Laras ini menyambut kami di ruang keluarga. Ada lagi seorang cowok yang sedang duduk dengan tenang. Setelah berkenalan, Putri Larasati panjangnya, gue langsung menuju dapur untuk minum terlebih dulu. Gue harus tegar, apalagi kalau nanti bertemu Kenia. Anak laki-laki pertama dalam keluarga haruslah tegar supaya menjadi penyeimbang di kala sedih, maka itu yang gue lakukan.

POV Dani

“Sent.” Gumam gue sendiri.

Baru aja gue mengabari Erna karena sempat terlupa.

Kabar duka masih disembunyikan hanya untuk kami. Gue pun ikut pusing memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga perempuan bernama Laras dan pacarnya yang ikut membantu, padahal bukan siapa-siapa kami. Anehnya, pak polisi sama sekali gak mendatangi rumah ini sampai pagi. Kejadian di restoran tersebut masuk berita pagi, tapi menjadi kasus misterius.

Siapa yang mengambil jasad nyokapnya Hari? Siapa juga Laras sama pacarnya ini?

Ngomong-ngomong soal Laras, gue kayanya pernah mendengar namanya di suatu tempat. Sayangnya gue lupa-lupa ingat. Mungkin di markas S.H.I.E.L.D., mungkin juga di tempat lain. Lagipula, kalau gue pernah dengar pun kemungkinan besar orangnya berbeda. Nama Putri Larasati sangat pasaran. Ada di mana-mana.

Gue, Laras, dan pacarnya gak mau ganggu Hari dan Kenia sepagian ini. Biar saja Hari dan adiknya menghabiskan waktu untuk berkabung terlebih dulu.

“Dani, sini sebentar.” Laras tiba-tiba memanggil gue.

Gue memerhatikan wanita ini dengan seksama. Semakin dilihat semakin familiar.

Laras memiliki rupa yang cantik khas darah blasteran. Hidungnya mancung dan alisnya tebal natural. Rambutnya lurus hitam panjang sepunggung diikat ekor kuda sepanjang hari. Senyumnya gak pernah hilang barang sebentar di atas dagunya yang tampak tegas. Parasnya itu semakin mengingatkan gue dengan seorang bernama Laras. Nama Laras sempat dipanggil rekannya yang juga peneliti muda di markas S.H.I.E.L.D. Bedanya, si peneliti yang dianggap Laras, atau gue kenal dengan nama Larrson, memiliki rambut yang pirang dan mata yang biru.

Kami berdua menuju dapur, yang kemudian Laras langsung mengajak gue menembus tembok.

“Ayo, sini.” Ajak Laras.

“Ya kali. Itu tembok, bukan pintu…. atau jangan-jangan…” Gue melotot setengah sadar dengan apa yang terjadi.

Laras tersenyum mengapit tanganku sebelum Erna datang memanggil dari luar rumah.

Dengan buru-buru, gue keluar, mengajak Erna masuk rumah sebelum diperhatikan oleh orang sekitar. Akan tetapi, Erna memiliki keinginan yang berkebalikan. Dia harus buru-buru pergi ke Rumah Sakit Persahabatan karena ayahnya masuk rumah sakit kemarin akibat stroke.

Ernawati​

Karena Hari gak available sekarang, maka Erna akan datang lagi nanti malam. Dia kembali menyalakan motor maticnya, melaju pelan meninggalkan gue yang kebingungan sendiri. Gue berjalan kembali ke kamar Kenia.

“Di balik sana ada apa?” Tanya gue penuh curiga.

“Aman kok.” Jawab Laras.

“Ada apa?” Gue gak puas dengan jawaban tadi.

Laras tersenyum lagi, lalu dia mengangkat lengannya setinggi bahu. Munculah burung dara yang terbang dari tembok polos tersebut. Warna bulu burung itu sangat familiar, burung itulah yang menyurati kami sebanyak dua kali.

“Kalian…” Gue menunjuk Laras dan burungnya.

“Yes, aku Larrson. Tapi kamu boleh panggil Laras aja.” Senyumnya tak pernah hilang.

Gue mengikuti Laras alias Larrson ini menembus tembok dengan hati-hati. Kekasihnya, si cowok, sudah menungu kami sambil bersedekap. Pakaiannya berbeda dari yang gue lihat saat di rumah Hari, dengan anggapan ini sudah bukan di rumah Hari.

Di sini tidak ada apa-apa selain gelap di mana-mana. Gue gak menapak apa-apa, atau semata-mata karena gak terlihat sama sekali. Jauh di atas kepala, gue melihat samar sebuah bulan yang sangat besar. Besar sekali. Sebagian besar sisinya sudah hancur menyisakan bentuk seperti kumpulan stalaktit super besar.

Dia, pacarnya Laras, memakai pakaian zirah besi serba emas, kain jubah panjang berwarna hijau yang menutupi punggung hingga kakinya, serta helm bertanduk melengkung, panjang, dan juga berwarna emas.

“Ini di mana?” Gue masih meraba-raba tempat apa ini.

“Bukan di bumi.” Jawab Laras, lagi-lagi sambil tersenyum.

Barangkali gue harus menganggap mereka gila, karena ini bukan waktu yang tepat untuk beramah-tamah lagi. Gue butuh kebenaran dari semua ini.

“Selamat datang, Dani. Udah dua bulan kami nyari kalian.” Sahut si cowok.

“Uh, oke?” gue agak memiringkan kepala ke kiri.

“Kita kenalan lagi. Gue Purnawarman, ini partner gue, Laras.” Jelasnya.

Mari kita telaah fisiknya sebentar. Purnawarman ini tinggi tegap, wajahnya tegas, rambutnya gondrong sebahu dan bergelombang, wajahnya bersih dari kumis dan jenggot, sangat anak muda kekinian sekali. Tapi nama Purnawarman itu sangat berkebalikan sekali. Sangat jadul.

“Partner? Bukan Pacar?” Gue mengonfirmasi.

“Bukan, bukan. Beda kok. Partner. Lebih kaya rekan kerja.” Jelasnya lagi dengan gestur tangan yang lucu.

Gue sebaiknya mengiyakan saja penjelasan bagian receh ini. Gue butuh hal-hal yang lebih berguna, seperti, makhluk apa kalian? kenapa menyurati kami? atau ada kejadian luar biasa apa dibalik meninggalnya ibu Hari?

“Kita ke sini dari Asgard karena satu hal.” Kata Purnawarman.

“Banyak hal.” Ralat Laras.

“Oke, banyak. Intinya Ragnarok.” Balas Pur.

“Tapi kejadian semalam di luar dugaan kami.” Balas Laras lagi.

Mereka ngomong bertubi-tubi dan saling sahut. Tapi, gue masih bisa mendapatkan intinya. Mereka datang ke bumi dari wilayah yang bukan bumi. Apa tadi namanya? Asgard? Berarti mereka mungkin suruhan Thor. Untungnya gue sudah biasa mendengar kejadian aneh, so, gue gak bakal pingsan.

“Oke gue ngerti, tapi siapa kalian?” Gue mengecek sekali lagi.

“Gue Purnawarman, dia Laras.” Jawab Pur.

“Bukan itu, Pur.” Laras menyikut Pur.

Si Purnawarman ini rasa-rasanya orang yang konyol.

“Tadi dia yang nanya gitu kok.” Pur mencari pembenaran.

“Dani gak nanya nama kita.” Balas Laras.

“Iya, maksud gue bukan nama, hehehe.” Potong gue dengan canggungnya.

“Kami berdua Einherjar, dari Asgard.” Jawab Laras.

Mereka berdua sontak membungkuk bersamaan, memberi salam. Mereka, apa tadi namanya? Einherjar?

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8