Tanpa Nama Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 8

Broken Heart, Broken Body

POV Puri

Kamis, 8 Mei 2014.

Rinai hujan basahi aku~
Temani sepi yang mengendap~
Kala aku melihatmu~
Dan semua saat manis itu~

Lagu Hujannya Utopia mengalun merdu mengajakku untuk bangun pagi ini.

“Duuuh, yang lagi kasmaran, alarmnya.” Ledek kak Rivin yang baru keluar dari kamar mandi.

“Loh, udah bangun duluan kak.”

“Kamu yang kesiangan. Tuh udah setengah enam.” Dia menunjuk ke arah jam dinding

‘’Astaga!”

Hari ini aku menumpang menginap di kostan Kak Rivin agar bisa tiba di kampus pagi-pagi. Praktikum lapangan ke Pulau Harapan akan berangkat satu jam lagi. Aku buru-buru mandi, lalu bersiap-siap berangkat.

“Kak, aku berangkat ya.” Aku pamit

“Iya, hati-hati. Praktikannya dijaga ya, jangan pacarnya doang hahaha.” Ledeknya

“Biarin.” Aku menjulurkan lidah.

Aku dan Hari adalah asisten praktikum untuk mata kuliah ini. Jadi gak salah kalo kak Rivin bilang seperti itu. Aku dan Hari baru jadian satu bulan lalu, dan gosip sudah menyebar sampai ke senior-senior.

Di pulau, kami berdua lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Mulai dari makan siang, briefing malam, dan waktu kosong. Foto selfie memenuhi handphone kami berdua.

“Woi! pacaran mulu. Kerja, Woi!” Ledek Jamet sambil melingkarkan kedua tangannya di depan mulut menyerupai pengeras suara.

“Lagi jam kosong, Woi!” Balas Hari

“Pacar baru, Woi! Temen dilupain, Woi!”

Aku hanya tertawa menimpali candaan mereka.

~~~***~~~

Tujuh bulan kemudian, aku mulai mengerjakan skripsi.

Sekarang Hari sering main ke rumahku di akhir pekan, dan sudah akrab dengan semua orang rumah. Seperti orang pacaran kebanyakan, kami berdua tak luput dari beberapa kali perselisihan. Tapi hal itu bisa diatasi dengan saling bicara baik-baik.

“Sayang, aku mau ke Cibinong ya besok.” Aku bicara manja

“Asik deh yang udah mulai skripsian.”

“Kan demi masa depan.”

“Aku gak ikut dulu ya, besok ada kuliah pagi.”

“Okeeee.”

Tidak lama kemudian, nyokap dan bokap keluar dari dalam rumah.

“Pur, Har, kalian di sini aja dulu ya sampai sore.” Kata nyokap

“Pada mau ke mana deh?” Tanyaku

“Kondangan anaknya Pak Suseno. Mau ikut?”

“Nggak deh, mau istirahat aja. Capek.”

“Yaudah.”

“Hati-hati, Ma, Pa.” Hari nyahut.

Kami berdua salam ke bokap dan nyokap. Lalu mereka berdua pergi naik motor, meninggalkan kami berdua di rumah.

“Gak berasa ya.” Hari menghela nafas

“Apaan?” Tanyaku

“Kamu udah skripsian.”

“Kamu juga ntar skripsi.”

“Iya, habis itu lulus. Habis itu kerja.”

“Habis itu?”

“Habis ituuuuu…. minum dulu aaah.”

Hari melengos pergi ke dapur. Aku ikuti dia karena pembicaraan tadi belum selesai. Dia mengambil gelas, dan mengambil air dari dispenser.

“Habis itu apaan, Hariiii.” Aku manja

“Apa aja boleh~”

“S2 boleh?” tanyaku

“Boleh.” Dia mengangguk.

“Kalo nikah boleh?”

“Boleh gak ya~”

Aku cemberut.

“Puri sayang, aku selalu nemenin kamu kok.” Dia meletakkan gelas di meja, lalu berjalan kearahku

“Bener?” aku memeluknya

“Bener gak ya~.”

Kami saling tatap tanpa ada kata-kata lagi, lalu bibir kami berdua perlahan mendekat dan saling bersentuhan. Aku berusaha meresapi tiap kecupan bibirnya.

~~~***~~~

Kurang dari setahun kemudian. Aku sudah lulus dan lanjut mengambil S2. Hubunganku dengan Hari semakin intim, dan dia baru memulai skripsi.

“Sayaang, pokoknya abis ini lebih sering main ke rumah yah.” Pintaku

“Iya, dua minggu sekali deh ya.”

“seminggu sekaliiii.”

“Atur deh, atur.”

Aku melanjutkan suapan nasi gorengku. Kami sedang makan di satu restoran di dekat kampus. Sudah seminggu kami tidak sempat bicara seintens sekarang, terlebih setelah Hari memulai skripsinya.

“Kamu mulai ngambil data kapan, yang?” Tanyaku

“Bulan depan kayanya. Masih harus mantepin metodenya dulu.” Jelasnya

“Semangat yaaaa. Demi masa depan.”

Usai menyelesaikan makan, kami lanjut nonton film di Margo Platinum. Setelah film selesai dua jam kemudian, kami menuju ke depan mall untuk pulang. Aku terus menatap layar handphone untuk melihat posisi gojek yang menjemputku.

“Maaf ya, sayang, belum bisa anterin kamu.”

“Gapapa kok.”

“Nanti kalo kerja, aku langsung nabung deh buat beli motor.”

“Iyaaaa, Hari sayaaang.” Sambil kucubit pipinya

Abang gojek sudah datang. Aku pamit ke Hari, lalu meluncur pulang.

~~~***~~~

“Ya kamu lah yang harus hubungin duluan! Cowok kok gak insiatif.” Bentakku

“Ya mau gimana, aku udah telepon, WA, tapi kamunya juga jarang bales.” Katanya

“Kamu juga harusnya tahu doooong, aku lagi banyak tugaaas.”

“Aku lagi banyak tugas~”

“Oh gitu. sekarang ngeledek?”

“Yaaa harusnya gimana? Aku juga lagi sibuk skripsian.”

Kami berantem lagi untuk ke sekian kalinya di teras rumahku.

Minggu kemarin, Hari harusnya ada jadwal ke rumahku saat arisan keluarga. Tapi dia malah mangkir karena harus ke lapangan lagi ngambil data yang kurang. Lagian, jadi orang ceroboh banget sampai ada data yang ketinggalan.

“Aku juga kan lagi main ke rumah kamu nih sekarang.” Dia membujukku

“Iya, telat seminggu tapi.”

“Ngaruhnya?”

“Ya gak jadi ketemu Satria, kan. Dia nanyain terus.”

Satria adalah sepupu kecilku yang nempel terus sama Hari. Makanya, setiap arisan keluarga aku minta Hari selalu dateng karena Satria pasti bakal nyariin dia. Kecuali kejadiannya kaya minggu kemarin.

“Lah, kok ke situ? Kan masalahnya dari tadi…” Hari menurunkan nada bicaranya

“Terserah, lah.” Aku membalikkan badan.

“Jangan ngambek gitu dong.”

“Terserah.”

“Oke, oke, aku minta maaf.”

Hari memijit-mijit bahuku.

~~~***~~~

TENG… TRENG…

Suara gerbang terbuka. Aku masuk pelan-pelan.

“Sendalnya bawa masuk aja.” Suara Hari berbisik pelan dari balik jendela

Aku menyatukan ujung jari jempol dan telunjuknya, memberi tanda OK. Lalu, aku mengendap-endap masuk ke rumah Hari supaya tidak terlihat tetangga. Dia langsung membuka dan menutup kembali pintu rumahnya dengan cepat.

“Nyokap sama Kenia lama di sana?” Tanyaku sambil memeluknya

“Abis maghrib baru pulang palingan.” Dia balas memeluk.

“Mau makan dulu gak?”

“Boleh deh hehehe.”

Usai makan, aku menarik Hari ke kamarnya.

“Dih, gak sabaran banget.” Ledek Hari

“Kamu kemana aja siiiiih. Di kampus juga gak ketemu.”

“Aku lagi males ngampus. Skripsian di rumah dulu aja.”

“Kabarin kenapa kek.”

Aku mengecupnya ganas, meluapkan rasa kangen di hati. Hari pun membalas tidak kalah ganas. Kami berpagutan sambil berdiri. Lalu, Hari menuntunku hingga terlentang di kasurnya. Kemudian, dia meremas-remas payudaraku, berusaha meningkatkan gairah kami berdua.

Kami saling melepas baju satu sama lain. Hari menciumi dan menjilati belakang telinga hingga leherku. Hal itu membuatku mulai mendesah dan balas meremas penisnya dari luar.

Lidah Hari menyapu leherku, lalu bergerak turun hingga payudaraku. Dia mulai menghisapnya bergantian tanpa henti. Desahanku makin menggema di penjuru kamar, lalu direspon Hari dengan menyusupkan tangannya ke dalam celana jeansku.

“Ahhhhh… Hariii…”

“Hmmm.. Sluurrpp.. Slurrppp ” Hari terus menjilati payudaraku.

“Hariii… celananya dibuka ajah..”

Hari membuka celanaku hingga akhirnya aku sepenuhnya telanjang. Selanjutnya disusul Hari membuka celana sendiri, menunjukkan penisnya yang tegak dan panjang.

“Sini gantian.” Pintaku.

“Nanti.”

Tidak kusangka Hari langsung mengarahkan kepalanya ke selangkanganku. Aku merespon dengan melebarkan kedua pahaku, mengizinkan kepalanya menyelinap. Hari menjilati vaginaku sampai rasanya selangkangku membanjir.

Lidahnya bermain-main di dekat lubang kenikmatanku. Nikmatnya sungguh tak terbayangkan, membuatku menekan kepalanya semakin dalam ke selangkanganku. Aku pun mengejang tak karuan dan memuncratkan cairan cintaku hingga mengenai wajahnya.

“Ahhhh….” Desahku. “Sini gantian sekarang.”

Aku menarik Hari agar dia tidur telentang. Kulumat bibir dan lidahnya dalam-dalam, lalu turun ke leher dan putingnya. Hari mendesah dengan suara yang berat.

Aku turunkan lagi jilatanku ke ke kedua pahanya. Kuelus penisnya pelan secara searah dari pangkal ke kepalanya, lalu kuulangi beberapa kali. Aku ingin membuat dia penasaran terlebih dulu agar rangsangannya semakin kuat.

“Ahhhh.. Puri.. sumpah enaaak…” Hari buka suara.

Kalau Hari sudah buka suara, itulah tandanya kunaikkan level permainan. Kumasukkan penisnya ke mulutku, lalu kujepit di antara lidah dinding atas mulutku. Selanjutnya, kuputar lidahku di dekat kepalanya.

Kulepaskan penisnya dari mulutku, meninggalkan banyak ludahku di sana. Dengan tiba-tiba, kukocok kencang batang penisnya hingga Hari belingsatan.

“Aaaaaaggghhhhhh…..” Hari mendesah keras.

Kuhentikan sebentar, lalu kumasukkan penisnya ke mulutku lagi. Kugerakkan naik turun, diselingi dengan permainan lidahku di lubang kencingnya. Cukup lama aku bermain di sana, tapi belum ada tanda Hari akan mengeluarkan spermanya.

“Lama banget sih.” Aku mengeluh manja

“Tahan lama dong.”

“Terus gimana?”

“Pakai yang bawah aja~.”

“Dasar.”

Aku bergerak menindih Hari. Kuselipkan penisnya di antara kedua pahaku, lalu kuturunkan posisiku. Penis Hari perlahan masuk ke dalam lubang kenikmatanku, memberikan sensasi yang tak terhingga. Setelah penisnya masuk, aku terjatuh menindih seluruh badannya.

“Enak banget ya?” Tanya Hari

“He-eh, gak bisa gerak lagi.”

“Yaudah aku yang gerak.”

Kedua sikuku bertumpu kepada bantal dekat kepala Hari. Nafasku terburu-buru, berhembus di telinga kirinya. Sementara itu, Hari bergoyang menarik turunan penisnya agar memberikan kenikmatan untuk kami berdua.

Kami bermain cukup lama pada posisi tersebut sampai membuatku orgasme lagi. Badanku mengejang sesaat, menekan pinggulku kuat-kuat, lalu lemas seketika. Tumpuanku hilang dan badan kami saling melekat satu sama lain. Aku mendapatkan orgasme keduaku.

Hari membiarkanku istirahat sebentar. Setelah nafasku kembali normal, dia mengelus rambutku dan mencumbu penuh nafsu. Aku beguling ke samping, memberikan kesempatan Hari untuk mendominasi.

Hari mulai meraba-raba selangkanganku. Kemudian, dia menggesek-gesek klitoris dan memasukkan dua jarinya ke dalam lubang kenikmatanku lagi. Seketika nafsuku bangkit untuk ketiga kalinya.

“Masukin lagi, sayang.” Aku meminta

Hari bergerak menindihku. Tangannya mengarahkan penisnya, lalu didorongnya pelan hingga pelan-pelan lubang kenikmatanku terasa penuh. Setelah itu, Hari menghisap lidahku dalam-dalam.

Setelah puas menciumku, Hari menggerakkan penis maju dan mundur dengan tempo tinggi. Hal tersebut membuatku tidak dapat menahan rintihan rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuh. Aku tahu Hari sekarang pasti sedang mengejar puncak bagi dirinya.

“Puriii.. mau keluaaaaar…” Hari berusaha bicara dalam desahannya

“Cepetiiin.. aku jugaaa.. ahhh…” Aku mengejar orgasme ketigaku

Badanku mengejang mendapatkan orgasme ketiga kalinya. Dengan cepat ia melepaskan penisnya. Aku segera duduk bertumpu lutut untuk segera mengulum penisnya. Tidak sampai semenit, penisnya menumahkan seluruh sperma ke dalam mulutku.

Kusimpan semuanya hingga pipiku menggembung. Setelah kurasa selesai, aku menelan seluruh sperma Hari. Kujilati kepala penis Hari dan kuhisap lubang kencingnya untuk membersihkan sisa-sisa sperma.

~~~***~~~

Percumbuan kami berlangsung setidaknya sebulan sekali. Semuanya berlangsung di rumahku atau di rumahnya. Namun, semuanya terasa semakin monoton karena komunikasi kami semakin tidak berjalan baik. Rasa-rasanya WA dan telepon menjadi tidak berguna.

Pertengkaran terus terjadi karena masalah yang berulang.

Kesibukan masing-masing menjadi faktor besar dalam retaknya hubungan kami. Tidak ada orang ketiga atau pun penolakan dari keluarga besar. Semuanya murni karena kesibukan dan komunikasi.

Aku meminta Hari untuk bertemu denganku sore ini di kafe dekat kampus.

“Udah lama, yang? Maaf aku telat. Tadi bimbingan dulu.” Hari beralasan.

“Gapapa.” Aku berbicara datar.

“Aduh, jangan marah dong. Maafin, Please.”

Dengan sedikit sekali basa-basi di awal, akhirnya aku tuturkan keinginanku padanya.

“Kita temenan aja ya, Har.” Kataku singkat

“Maksudnya?”

“Iya. Kita udahan.”

“Gimana? Gimana? Aku belum ngerti….”

“Ya kita putus.”

Jelas sekali Hari shock dengan keputusanku. Meski pun berat, keputusanku sudah bulat. Aku simpan dalam-dalam semua kenangan indah kami, dan yang kuingat hanyalah semua bagian buruknya agar tidak semakin sakit. Semua pembelaan Hari pun aku mentahkan.

7 Juni 2016, kami resmi putus.

Beberapa waktu kemudian, tampaknya permintaanku untuk berteman tidak diindahkan Hari. Dia menjadi sangat membenciku dan tidak mau berbicara sama sekali denganku. Semua usahaku mendekatinya tidak berhasil.

Bahkan, Hari tiba-tiba menghilang selama tiga bulan. Teman-temanya tidak ada yang tahu pasti. Hanya ada pesan singkatnya melalui whatsapp kepada Jamet yang mengatakan bahwa Hari menemani ibunya dinas ke Eropa.

~~~***~~~

Aku sendirian di rumah. Bokap dan nyokap pergi arisan seperti biasa. Kuhabiskan waktu akhir pekan dengan memasak ikan tuna balado. Selesai memasak, aku makan sendiri masakan tersebut. Namun ketika suapan pertama selesai aku telan, seluruh badanku kaku. Aku tidak bisa bergerak. Badanku seketika dilapisi struktur seperti semen. Secepat kilat pandanganku tertutup semen terebut.

Untungnya, kejadian itu tidak berlangsung lama. Lapisan semen yang membungkusku terlepas keping demi keping. Kepalaku menjadi sangat pusing, kemudian badanku gemetar hebat.

“AAAAHHHH…. SAKIIIIIIIT….” Aku teriak sekencang-kencangnya.

Tiba-tiba badanku lemas dan pandangan berkunang-kunang. Aku terkapar di lantai, di antara kepingan-kepingan semen yang tadi melapisi tubuhku. Lalu, aku merasakan badanku dibopong seseorang ke tempat yang bersih, lalu dia membuatkan teh manis hangat untukku.

Ketika pandanganku pulih kembali, aku mencoba melihat orang yang menolongku tadi.

“SETAAAAAAN!!!”

~~~***~~~

Hari ini, Jumat dini hari, 9 Desember 2016.

POV Hari

“Mereka adalah bagian dari diriku, Hari!” Puri berkata dengan lantang

“Maksudnya? Gimana? Aku.. Gue.. gue, gak ngerti….” Gue tidak tahu harus memanggilnya apa.

“So, you are that ghosts.” Kata agen May.

Gue memerhatikan Puri yang duduk di bangku, dengan layar gadget di sebelah kanannya. Dia tidak seperti Puri yang gue lihat minggu lalu. Sekarang badannya kurus, pipinya tidak gemuk lagi seperti dulu. Bahkan, kantungnya matanya tebal dan berwarna gelap.

“Hari, Itu Kenia!” Lina menyolek gue.

Lina menunjuk ke pojok ruangan di dekat Puri duduk. Kenia pingsan dengan jaket hampir terpakai di badannya seperti orang yang gue lawan tadi.

Gue berlari ke arah Kenia, tapi tiba-tiba sesosok bayangan menendang. Dia si setan yang tersisa tadi.

“Setannya tinggal satu. Kita lawan bareng-bareng.” Gue berkata.

“Satu, Har? Coba lihat lagi.” Puri berkata sambil tersenyum sinis.

Badan Puri gemetar hebat. Dia berteriak sekencang-kencangnya. Gue jadi agak kasihan melihat Puri yang tiba-tiba menjadi semakin kurus, pipinya makin tirus, wajahnya pucat, dan kantong matanya semakin menghitam.

Seketika badannya tampak seperti amuba yang membelah diri berkali-kali. Kemudian, terciptalah beberapa setan lagi yang langsung berdiri berjejer di hadapan kami.

“She’s inhuman!” Agen May berkata dengan tegas.

Bersambung