Tanpa Nama Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 6

Belum Pernah

POV Hari

Hari Rabu siang menjelang sore, kami bertiga sudah pulang ke rumah gue lagi. Kepala Eda sama Lina sama-sama penuh perban di bagian kepala. Dia disarankan bed rest di kamar gue. Jamet dari tadi ketiduran di kamar Kenia setelah menunggu lama sampai gue, Lina, dan Eda datang.

Scanning pencarian Kenia dan Dani diulang dari awal setelah disetting ulang agen Mack. Butuh waktu minimal satu hari lagi supaya scanning selesai. Gue tinggalkan gadget yang sedang scanning itu di ruang tamu, lalu gue pergi ke kamar buat beres-beres supaya Eda lebih nyaman istirahat.

Siang hari ini, di rumah hanya ada gue, Lina, Jamet, dan Eda. Nyokap hari ini sudah berangkat bekerja.

“Perut gue sakit banget nih, Har.” Kata Lina dengan kepala penuh perban juga

“Sakit tapi bisa jalan ke atas.” Jawab gue

“Laper. Hehehe.”

“Yodah makan tuh, manja banget deh.”

“Kalo ada ibu kan gak bisa manja. Weeeek.”

“Pacaran aja gih lu berdua.” Eda sewot

Gue pergi ke dapur, menunjukkan berbagai macam bahan makanan mentah yang masih tersedia di kulkas. Urusan menu masakan gue serahkan ke Lina. Gue balik lagi ke kamar buat lanjut beres-beres.

“Halo, Da? Gimana kabar?” Ledek gue

“Yaelah, baru tadi ketemu. Gimana scanning, jalan gak?”

“Jalan kok. Lina lagi masak juga tuh kalo lu juga laper.”

***

Sehari kemudian, Kamis pagi.

“Hari! Bangun! Susah amat sih dibangunin.” Teriak Lina

“Hmmm.. Ada apaan, Lin” Tanya gue sambil ngulet

“Opo sih berisik-berisik, Lin?” Jamet kebangun.

“MET!! KOK LU JADI TIDUR DI SINI? EDA JAGAIN!!” Gue kaget Jamet ada di Sofa.

Dia menepuk jidat. Dia langsung berlari ke atas, menuju kamar gue. Tadi Sore, Jamet bangun tidur, mandi, terus ganti pakaian pakai baju gue yang diambil di lemari. Di kamar. Gue kira dia bakal disitu terus buat jagain Eda.

“Aman, Har!” Teriaknya dari lantai dua.

“Bego luh!” Gue teriak balik

“Tadi malam dia penasaran sama hasil scanning, terus ketiduran di situ.” Lina menengahi gue yang sewot.

Gue sendiri ketiduran lebih awal di kasur lipat tadi malam setelah mengisi waktu yang kosong untuk revisian skripsi.

Lina lebih memilih terus mengawasi kondisi scanning yang dia pindahkan ke mode 3D tanpa sempat tidur. Nyokap kemarin pulang agak malam dan langsung tidur di kamarnya. Untungnya, si setan gak pernah muncul. Tapi itu lah yang membuat gue makin bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Kenia dan Dani di luar sana.

“Har. Siap-siap!” Lina mengayunkan tangan, mengundang gue duduk di sebelahnya.

“Siap buat apaan? Masih 90% tuh. Lebih lama dari kemarin malah.”

“Tadi malam hujan deres.”

“Terus?”

“Gantian jaga. Gue ngantuk.” Dia langsung tidur di kasur lipat

Gue menahan diri untuk meledek Lina. Kasihan dia belum tidur dua hari karena terus mengawal scanning kedua ini yang memakan waktu lebih lama. Padahal pasti badannya lagi sakit-sakitnya. Sambil menunggu, gue pergi ke dapur buat bikin teh. Nyokap keluar kamar saat gue mengambil gula.

“Scanning gimana, Har?”

“90%.”

“Semoga cepet ketemu deh ya. Ibu stress lama-lama.”

“Iya, bu. Ini lagi diusahain.”

“Yaudah, ibu mandi dulu deh.”

“Kerja lagi hari ini?”

“Ya mau gimana lagi. Kerjaan akhir tahun lagi banyak.”

Nyokap gue dedikasinya tinggi banget, apalagi setelah kami menghilang tiga bulan itu. Mungkin ini sebagai penebus rasa bersalahnya ke kantor. Gue kembali ke depan layar scanning sambil memegang secangkir teh panas. Gue juga membuka laptop untuk melanjutkan revisi. Tinggal sedikit lagi revisinya kelar.

Empat jam berlalu. Nyokap sudah berangkat. Terkadang Jamet turun ke bawah mengambil makanan buat dirinya sendiri dan Eda. Scanning sudah bergerak ke angka 98%. Tinggal 2 persen lagi. Sebenarnya, kata agen Mack, Kenia dan Dani sudah bisa ditemukan walau belum 100% kalau dia berada di awal atau tengah-tengah lokasi scanning. Tapi, ternyata kemarin Kenia ditemukan di pinggiran Jakarta sehingga butuh hasil penuh scanning. Berarti, kali ini Kenia dan Dani bisa jadi berada di pinggiran Jakarta lagi, atau bisa jadi sudah pindah kota.

“98% yo, Har?” Jamet turun nyamperin gue

“Yoi.”

“Har…”

“Apaan? Jangan bilang lu mau pipis lagi.”

“Nggak. Serius aku.”

“Apaan?”

“Kamu masih suka gak sama kak Puri?”

Jamet ngapain deh tiba-tiba ngomongin Puri. Perbincangan yang sehari-harinya gue hindari. Bicarain dia dalam kondisi sekarang bikin gue tambah pusing.

“Kenapa emang?” Tanya gue males

“Dia kangen kamu.”

“Gila.”

“Gila opo?”

“Lu bilang doi udah punya pacar?”

“Kemarin aku mau cerita. Tapi kebelet pipis. Balik dari kamar mandi udah lupa hahaha.”

“To the point aja, Met.” Kata gue males

Jamet menceritakan bahwa Puri sebenernya gak betah sama pacar barunya. Pacar barunya pemarah dan cemburuan. Salahnya Puri juga sih kenapa nyeritain tentang gue mulu ke pacar barunya. Salahnya juga kenapa gue diputusin sepihak. Labil.

***

POV Dani

Sekarang gue gak tau ada dimana. Di sini cuma ada ruangan sempit tanpa jendela, tanpa jeruji besi seperti penjara pada umumnya, tanpa jam, dan tanpa alat komunikasi. Entah sudah berapa jam gue ada di sini. Atau mungkin sudah berapa minggu. Pintu di sudut ruangan dikunci menggunakan password.

Untungnya, ruangan ini masih cukup nyaman. Ada AC, sapu, kain pel, tempat sampah, lemari pakaian, dan sepetak shower di sisi yang berlawanan dari pintu. Makanan juga selalu diantar. Gue gak gak bisa melihat muka sang pengantar makanan karena selalu ditutup helm lengkap dengan jaket kulit dan celana berwarna sama.

Rasa-rasanya dalam waktu dekat ini harusnya gue udah menstruasi. Tapi kayanya gue salah hitung lagi, kelewatan sehari atau dua hari mungkin. Secara harfiah berarti gue masih masa PMS.

Suatu ketika, seseorang didorong masuk ke kamar gue.

“Kenia!” Gue kaget. Dia masih pakai baju piyama.

“Kak Daniiii!” Kenia nangis sejadi-jadinya

Akhirnya gue harus menenangkan Kenia sampai dia ketiduran. Kenia belum sempat bercerita apa-apa, termasuk kenapa dia bisa ada di sini. Gue pun ikut tertidur di sebelah Kenia karena sudah merasa lelah sekali. Entah sekarang siang atau malam.

***

Gue terbangun kembali ketika ada asap putih yang keluar dari satu sudut ruangan. Tak butuh waktu lama untuk asap tersebut menyesaki ruangan. Gue pun langsung membangunkan Kenia.

“Kenia! Bangun! Kita harus keluar dari sini!”

“Hmmmm. Hah! Asap dari mana ini kak?”

“Gak tau! Kita harus keluar!” Gue menggedor pintu sekuat-kuatnya

Mustahil pintu dibuka. Kami berdua kebingungan bagaimana harus bertindak dengan keadaan begini. Tidak ada jendela sama sekali, bahkan tidak ada lubang angin yang cukup besar untuk kami masuk. Kami tak bisa berbuat apa-apa seiring makin seringnya asap tersebut terhirup dan membuat kami terbatuk-batuk.

Asap tersebut semakin lama membuat kami tidak berdaya, hingga kemudian asap tersebut berhenti berhembus dan kembali divakum ke lubang yang sama. Kami berdua terlanjur lemas karena kekurangan oksigen sampai-sampai tidak kuat lagi bergerak.

AC kembali menyala. Rasanya waktu berjalan lama sekali sampai kami bisa bangun dan menyadari keadaan. Tiba-tiba gue merasa kangen banget sama Eda. Kangen sama jilatannya di vagina gue. Kangen sama penisnya.

Gue mencoba duduk bersandar di pinggir tempat tidur sambil rapatkan kedua paha untuk menahan rasa horny ini. Akibatnya, gue bereaksi seperti orang menggigil, badan gue gemetar dan gak bisa berhenti bergerak ke kiri dan kanan. Kenia mulai heran dengan gerakan-gerakan gue yang seperti orang gelisah. Padahal dia sendiri terlihat lebih gelisah daripada gue.

“Kak Dani… sshhh.., Menggigil juga kak?… aduuhhh…” Tanyanya juga

“Ng-Nggak… sshhh… Gapapa…sshhh…”

“Muka kakak merah…. Aku cek ya kak.. sshhhh…”

Sentuhan punggung tangan Kenia di kening dan leher gue justru bikin makin horny. Mata kami berdua bertemu tatap, dan gue gak tahan untuk melumat bibirnya. Gue langsung menyambar bibirnya. Ciuman ganas ini membuat kami beranjak ke kasur dan berguling-guling. Kedua tangan Kenia tak lepas dari kepala gue supaya tidak berhenti melumat bibirnya. Sementara itu, tangan gue meraba leher belakang hingga pantatnya.

“Ken, gue udah gak tahan.”

“Sama kak.”

Kami berdua langsung melepas seluruh pakaian hingga telanjang bulat. Kami kembali melumat bibir dengan posisi gue yang sekarang berada di atas. Tangan gue mulai bermain di payudara dan selangkangannya.

Sejujurnya, gue bukan penyuka sesama perempuan, tapi entah kenapa ini enak banget.

Kenia mendesah tak karuan, nafasnya menggebu dan tak lagi mampu mengikuti tempo ciuman. Melihat itu, gue berpindah menyapu seluruh leher Kenia hingga turun ke payudaranya. Kuciumi payudara sebelah kirinya, lalu kujilati putingnya yang sudah berdiri tegak.

“Kak…. sshhh… enakhh…” Desahnya

“Nikmatin aja ya, Ken.”

“Kak.. yang bawah enaaaak.. shhhhhhh….”

Kugunakan tanganku menyapu seluruh paha, bulu kemaluan, hingga berhenti di belahan selangkangannya. Vaginanya tidak terlalu basah. Masih virgin rupanya dia.

“Baru pertama, ya, Ken?” Gue penasaran

“iyaahhh…. belum pernah beginihh… shhh..”

Gue usapkan telapak tangan perlahan dari klitoris mengarah ke lubang vaginanya. Gue lakukan berkali-kali sehingga Kenia hanya bisa mendesah tanpa bisa mengucapkan kata-kata lagi. Usapan gue ganti dengan permainan jari tengah di klitorisnya.

Gerakan tersebut makin lama makin gue percepat. Pinggul Kenia bergerak naik turun, matanya terpejam, kedua tangannya meremas sprei kasur dengan kuat. Gue memuaskan hasrat Kenia sambil mengingat bagaimana cara Eda selalu mengantarkan gue ke puncak kenikmatan.

Gue coba arahkan mulut gue ke klitorisnya dan menjilatnya sekali. Kenia teriak.

Gue kembali menyapu klitorisnya. Lidah gue bermain naik turun dan berputar. Tak butuh waktu lama hingga tiba-tiba badan Kenia bergetar dan seketika lemas.

“Tadi..hhh.. aku diapain kak.. hhh..” Nafasnya tak teratur

“Enak yah?” goda gue

“Iyah.. hhh…”

Sekarang giliran vagina gue yang butuh kepuasan. Gue bangkit dari kasur, memandangi seluruh sudut ruangan, mencari-cari sesuatu hingga mata gue tertuju ke lemari. Gue menuju ke lemari tersebut.

“Anjir!” Gue melihat benda itu, lalu mengambilnya.

“Kenia, sekarang puasin kakak pakai ini ya.” Gue angkat dildo berwarna pink itu supaya terlihat oleh Kenia.

“Sini kak.” Panggil Kenia

Gue kasih dildo itu ke Kenia. Sekarang posisi gue telentang. Kenia tiduran di samping gue dan kami mulai kembali berciuman. Kenia meremas payudara dan memilin puting gue bergantian. Gairah gue bangkit lagi dengan cepat.

“Langsung masukin aja ya, kak?” Kenia melepas ciumannya.

Gue jawab dengan menganggukkan kepala. Kemudian, Kenia menggesekkan kepala dildo itu naik turun di belahan selangkangan gue. Gue bantu dia mengarahkan agar cepat masuk ke lubang vagina gue.

“Sssshhhh….” Gue mendesah. Dildo itu masuk dengan mudah.

Rasanya nikmat sekali. Gue suruh Kenia untuk langsung menggerakkan dildo itu makin cepat. Tujuan gue cuma satu, meraih puncak kenikmatan secepatnya.

“Keniaaa… Cepetin teruuushhh… Kakak mau sampe… ssshhh…”

Gerakan tangan Kenia dengan dildo di selangkangan gue makin cepat. Tidak lama kemudian gue merasa puncak itu sudah dekat. Tanpa sadar pinggul gue naik ke atas dan melepaskan banyak cairan. Seketika badan gue seperti melayang, lemas, dan puas.

“Kak, rasanya apa sih?” Tanya Kenia

“Enak banget, Ken… hhhh…”

“Aku mau cobain dong, Kak.”

Tanpa berpikir dua kali, gue ambil dildo yang masih menancap di selangkangan gue. Kenia berbaring, lalu gue mulai kembali percumbuan dari bibirnya. Lumatan demi lumatan kami lakukan silih berganti. Kemudian, lidah gue turun ke payudaranya.

Tangan gue juga mulai menggesek vaginanya yang masih tidak terlalu basah. Gue coba mengulur waktu sampai Kenia benar-benar siap menerima benda asing di lubang vaginanya. Gue colok lubangnya dengan jari tengah sebagai permulaan.

“Kakk.. sakit.. shhh..”

“Santai ya, Ken, nikmatin aja..”

Gue gerakkan jari gue maju-mundur dan memutar di dalam lubang vaginanya. Cairan cintanya mulai membanjir dan Kenia tak lagi menjerit sakit. Gue pikir inilah waktunya.

“Sekarang ya, Ken.” Gue memberinya aba-aba

“Engghh… Iya kak… hhh..” Jawabnya terengah

Gue mulai gesekkan dildo itu di pintu lubang vaginanya, sesekali naik ke atas menggesek klitorisnya. Hal itu membuat Kenia makin menggelinjang dan mendesah dengan suara makin keras. Gue arahkan kepala dildo itu tepat ke lubangnya, lalu mencoba mendorong dengan hati-hati.

BRAAAK!! Pintu didobrak. Kami kaget.

Pintu masuk kamar tiba-tiba roboh didobrak sesorang. Seorang perempuan dengan kepala penuh perban masuk ke dalam ruangan dan menyisir seluruh pojok ruangan. Dia menemukan 2 buah kamera kecil, lalu dihancurkan saat itu juga menggunakan sebuah linggis yang dibawanya.

“Kameranya udah ketemu, Har.” Dia bicara dengan seseorang menggunakan walky talky.

“…..”

“Oke.” Jawabnya

Kami masih dalam keadaan kaget dan berusaha menutupi ketelanjangan dengan sprei kasur. Perempuan itu melihat kami berdua.

“Tenang, say. Gue Lina, temennya Hari. Cepet pakai bajunya, abis itu kita keluar.” Dia mengumpulkan baju-baju kami.

“Kak Linaa… hhhh..” Sahut Kenia setengah sadar dari nafsunya yang masih tinggi.

Gue perhatikan si Lina ini sejenak, ini kayanya cewek yang ada di foto candid bareng Hari di kampus. Kami berdua kemudian kembali memakai baju, tapi Kenia tampak ogah-ogahan, jelas sekali nafsunya masih tinggi karena belum sempat tersalurkan. Setelah itu, kami berlari ke luar ruangan dengan Lina sebagai penuntun arah.

“Itu gak perlu dibawa, say.” Kata Lina sambil merebut dildo yang masih gue pegang. Dia buang dildo itu jauh-jauh.

Kami lanjut berlari, aku melihat keadaan sekitar. Ternyata ruangan tempat kami dikurung adalah salah satu kamar dalam sebuah rumah besar. Kami berlari menuju pintu keluar rumah tersebut, tapi Kenia mulai tampak tergopoh-gopoh sehingga kami berdua harus memapahnya.

Ketika kami sudah sampai di depan pintu, sebuah lingkaran kembang api muncul menghalangi jalan kami.

“Shit! Terus aja begini!” Lina berkata kotor.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat