Tanpa Nama Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 5

Kenia vs Lina

POV Eda

Kami sampai di Kostan Dani sekitar jam delapan malam. Penyelidikan juga harus dilakukan sendirian oleh Lina. Gue terpaksa meladeni modusan Sesil atas permintaan Lina supaya gak mengganggu TKP. Gue menggiring Sesil agar menjauh dari kamar Dani menuju ruang tengah. Tapi, bukannya ke ruang tengah, gue justru diajak ke kamarnya. Mau gak mau gue ikut aja daripada Sesil makin rusuh.

Di kamar Sesil, gue sangat menghindari kejadian yang nggak-nggak. Gue bergerak mondar-mandir berpura-pura tertarik dengan seluruh barang di Kamar Sesil. Sesekali dia memeluk gue dari belakang sambil memegang dada dan batang penis gue dari luar.

“Ehemmm. Pacar orang itu lho, Sil.” Ledek Kak Rivin yang menengok dari luar.

Untung pintu kamarnya lupa ditutup.

Suara kak Rivin membuat Sesil jadi lumayan sadar diri, tapi mukanya ditekuk. Kesempatan singkat itu gue manfaatkan untuk ngajak Sesil pergi jajan ke minimarket. Tepatnya, lebih ke jajanin dia doang. Jam setengah 11 gue dan Lina sudah keluar dari Kost.

Penyelidikan gak menghasilkan apa-apa.

“Makan dulu yuk di angkringan, Lin. Gue laper banget.” Ajak gue.

***

Selasa dini hari. Gue meluncur dengan kecepatan tinggi dari Depok menuju Jatiasih. Jaraknya jauh, tapi dengan keadaan sepi di malam hari ini semoga gue bisa mempersingkat waktu. Lina duduk di sebelah kiri sambil terus memegang handphone gue yang disetting loud speaker.

“Gue lagi ngebut ini, Har. Bentar lagi sampai.” Kata gue

“Buruan. Kenia makin gak beres.” Hari panik

“Dani udah ketemu belom?”

“Gak ada tanda-tanda mereka jalan berdua.”

***

POV Hari

“Lin, ini gimana ngubah kamera dari mode sensor panas?”

Gue harus melihat Kenia dalam keadaan layar normal agar bisa melihat keadaan sebenarnya. Sementara, sekarang ini gue hanya bisa Melihat Kenia dengan gerakannya yang kaku, menghabisi satu-persatu orang yang berusaha menyerangnya. Untungnya dalam keadaan sepi, tidak ada orang yang menonton kejadian itu. Gue rasa saat itu di Jatiasih terasa mencekam.

Lina menjelaskan berulang kali tentang sistem kamera lebah, sementara gue dan Jamet masih gak ngerti. Apalagi nyokap. Tiba-tiba nyokap bergegas pergi ke kamarnya dan keluar lagi membawa jaket.

“Bu! Mau ke mana?” Tanya gue

“Mau ke mana lagi. Jemput Kenia!” sambil bergegas menuju pintu keluar

Gue bangkit dan langsung menahan nyokap.

“Mau naik apa malam-malam begini?”

“Gojek! Uber! Apa aja!”

“Di sana udah ada Lina, Bu. Kita jaga-jaga di sini aja.”

“Di sini ada kamu kan!”

“Tapi kalau si setan datang lagi, Hari gak bisa apa-apa.”

Nyokap terdiam sejenak dan melihat Jamet yang masih duduk di depan layar melihat perdebatan ibu-anak. Tangannya masih menggenggam handphone yang masih terhubung ke Lina. Gak lama kemudian nyokap menghela nafas dan pergi ke dapur untuk mengambil air.

Sepertinya nyokap mulai mengerti kondisi. Sesaat tadi perbincangan menjadi berbahaya. Bisa aja sewaktu-waktu salah satu dari kami keceplosan berbicara lebih jauh tentang kemampuan kami.

Gue duduk kembali di depan layar.

“Tenang, Har. Kalau setannya datang kemari kita hajar bareng-bareng.” Kata Jamet menepuk pundak gue.

“Sip. Atur aja.” Jawab gue sekenanya.

***

POV Lina

Gue menutup telepon karena terdengar sedikit perdebatan Hari sama nyokapnya. Gak lama kemudian kita sampai di jalan raya daerah Jatiasih. Eda memperlambat laju mobilnya dan memperhatikan sekitar.

Di satu persimpangan, kami melihat banyak motor dan berserakan. Ciri-ciri TKP sangat mirip seperti yang diceritakan Hari. Eda memarkir mobil dan kami turun memeriksa semua korban. Gue cek satu-satu urat nadinya. Ada yang sudah tewas, ada yang pingsan. Mereka semua memiliki ciri luka yang sama, yaitu babak belur di muka dan badan. Tidak ada bekas darah yang mengucur deras, luka bacokan, atau luka akibat benda tajam lainnya meskipun benda-benda itu bergeletakan di sana sini.

“Lina! Itu Kayanya Kenia!” Panggil Eda ke gue sambil menujuk ke arah yang jauh.

Kami berdua berlari berusaha menghampiri orang yang ditunjuk Eda. Handphone Eda di tangan gue bergetar. Hari menelepon lagi. Gue memelankan lari.

“Lin, gue udah bisa ubah mode kameranya nih.”

“Good. Apa yang lu liat?” Ujar gue sambil berlari di belakang Eda

“Ada Kenia. Lu sama Eda lagi lari juga.”

Gue melihat ke atas, berusaha memerhatikan dengan teliti. Dengan mata celepuk gue ini, bisa terlihat ratusan kamera lebah yang beterbangan di berbagai sudut dan jarak. Tentunya Eda gak bisa melihat kondisi mata gue karena tersembunyi di balik lensa kontak.

“Rekam kejadiannya!” Perintah gue.

“Oke.”

Ketika Eda sampai tepat di belakang Kenia, dia langsung menepuk pundaknya. Tiba-tiba Kenia menebas sikunya ke belakang. Eda langsung terhempas beberapa meter ke belakang dan berhenti tepat di depan kaki gue.

“Da. Lu gapapa?” Gue berlutut memeriksa keadaan Eda. Dia terbatuk-batuk.

“Ughh.. Uhuk.. Gapapa.. Gapapa..”

Kenia menatap kami, tapi pandangannya kosong. Persis seperti robot yang memakai helm.

“Halo, Har. Lu liat kejadiannya, kan??”

***

POV Jamet

Kejadian di luar nalarku terjadi begitu saja. Kenia memukul Eda hingga terpental jauh. Jelas itu bukan kekuatan seorang cewek berumur 17 tahun. Ditambah lagi dia mengenakan pakaian seperti jaket kulit tebal berwarna gelap, celana panjang bermodel sama dengan jaketnya, sepatu, dan lengkap dengan helm motor tanpa pelindung dagu di kepalanya. Ditambah lagi ada sebuah alat menyala seperti generator di punggungnya.

“Itu!” Nyokapnya Hari kaget

“Itu apaan, bu?” tanya Hari

“Itu kostum yang sama kaya orang di balik kembang api.” Kata nyokapnya Hari

Gue memerhatikan dengan seksama. Tidak ada yang bisa gue lakukan saat ini selain menonton. Hari sibuk mengontrol ratusan atau ribuan kamera lebahnya. Dia diberi tugas merekam kejadian dari segala sudut.

Gue melihat tangan nyokapnya Hari mengepal di pahanya, seperti ada perasaan marah yang dipendam. Tiba-tiba tangannya berubah menjadi putih seperti warna tulang. Gue mengucek-ngucek mata. Ketika gue melihat lagi, tangannya ternyata normal-normal saja.

***

POV Eda

Gue berjalan tertatih ke tepi jalan, lalu duduk di trotoar. Gue menarik nafas nafas sedalam-dalamnya. Sementara itu, Lina pasang badan menghampiri Kenia. Handphone diserahkan ke gue.

“Lina, jangan gila!” Teriak gue

Lina tidak mendengarkan kata-kata gue. Dia terus berjalan ke arah Kenia, begitu juga dengan keadaan Kenia yang ikut berjalan ke arah Lina.

Begitu mereka berhadap-hadapan, Kenia berusaha memukul Lina tepat ke wajahnya. Dengan lincah Lina menghindar dan menangkap tangan kanan Kenia. Lina tampak berusaha menarik Kenia agar tersungkur ke depan, tapi justru dia sendiri yang tersungkur akibat sekali tarikan tangannya Kenia.

Lina tejatuh, disusul lagi dengan serangkaian tendangan Kenia ke arah perutnya Lina. Darah segar pun keluar dari mulut Lina.

“Lina! Kenia! Udah, stop!” Teriak gue

Lina berguling beberapa kali dan kembali bangkit. Kenia mengejar Lina, meraih bajunya, dan memukul mukanya lagi dan lagi. Sekarang darah keluar dari hidungnya Lina. Pada pukulan ketiga, Lina berhasil menangkap kepalan tangan kanan Kenia. Berganti Lina memukul perut Kenia, tapi tidak ada respon.

Sesaat kemudian, Kenia balas memukul lagi.

Dengan sekuat tenaga Lina menahan laju tangan Kenia. Tiga kali dia berusaha menggebrak Helm Kenia dengan pukulannya. Tapi percuma, Kenia tidak bergeser sedikitpun. Bahkan sekarang Lina terpental karena laju tangan kanan Kenia yang tidak berhasil ditahannya.

Lina udah gak bergerak. Nafasnya pendek-pendek.

Kenia naik ke atas badan Lina yang sudah lemah. Muncul dorongan dalam diri gue untuk berlari menuju Lina, mungkin naluri seorang cowok, atau mungkin gue merasa sepertinya Lina hampir mati saat itu. Gue menahan tangan Kenia yang hendak memukul Lina lagi. Kenia menatap ke arah gue, lalu bangkit dari atas badannya Lina.

Gue ketakutan dan berjalan mundur pelan-pelan

“KENIA! SADAR KENIA! ABANG LU NUNGGU DI RUMAH!” Teriak gue. Tapi gak ada jawaban.

Tiba-tiba terasa satu ayunan tangan kenia mengenai mata kiri ku. Kepalaku terbentur aspal. Semua jadi gelap.

***

POV Lina

Kenia bangkit dari atas badan gue. Dia sekarang beralih mengincar Eda. Kesempatan itu gue gunakan untuk berdiri lagi. Dengan sedikit tarikan nafas, gue mulai berjalan tertatih ke arah Kenia. Tapi Eda terlebih dulu tersungkur di aspal.

“HUUAAAAAHH!!!!” Kuhantam helmnya sekuat tenaga hingga retak dengan sikuku.

Kenia tersungkur, lalu dia terdiam tidak bergerak. Matanya berkedip-kedip.

“KAK EDAAAAA!!!” Suara pertama keluar dari mulut Kenia, diikuti dengan tangisan.

Dia berdiri dan melihat ke arah gue. Menangis. Meminta maaf. Tapi gerakannya justru berusaha memukul gue lagi.

“KAAAAK!! AKU GAK BISA GERAKIN BADANKU!!” Kenia menangis

“Kenia, tahan gerakan kamu sebentar!”

Gue berusaha mencari celah menuju ke arah belakang badan Kenia. Tapi, gerakan badan Kenia seperti bertahan.

“Kenia, tahan gerakan kamu! Jangan nangis sekarang!” Perintah gue.

“Iyaaaa, Kaaaak… Aku…. lagi cobaaa!!” Kenia makin menangis.

Dalam beberapa saat Kenia berhasil menahan gerakannya. Gue mengambil kesempatan itu untuk menghantam helmnya hingga pecah. Rambut Kenia tergerai acak-acakan dari balik helm. Tangan gue seketika sakit sekali berbenturan dengan benda itu. Badanku sudah lemas sekali dan mataku berkunang-kunang.

“KAAK!! TOLOONG AKUUU!!” Kenia berteriak lagi.

Tiba-tiba muncul lingkaran kembang api di dekat Kenia. Dia melangkah dengan sendirinya masuk ke lubang itu. Kemudian, Kenia bak tertelan di balik lingkaran kembang api yang juga perlahan menghilang. Aku tergeletak lemah di tengah aspal. Untungnya tidak ada orang lain yang lewat. Aku menekan tombol HELP di jam tangan S.H.I.E.L.D.ku.

***

POV Hari

Pagi ini gue berada di dalam Quinjet untuk memberikan hasil rekaman perkelahian semalam. Lina dan Eda dirawat intensif. Kamera CCTV jalan raya diedit oleh S.H.I.E.L.D. menjadi perkelahian antara geng motor. Jamet gak ikut karena harus berjaga di rumah gue, sementara nyokap harus berangkat kerja. Gue pun minta tolong seorang agen untuk mengantar mobil Eda kembali ke Tanah Abang.

“As the record, We confirm the suit looks like incident at Harlem few weeks ago.” Kata agen Mack.

“Harlem? Then why that suit had been there in Bekasi?” Tanya gue.

“There’s no prove the suit just only one or several.”

“Who’s responsible?”

“Hammer Tech by the label on the suit.” Dia menunjukkan foto label di bekas pecahan helm.

Sebenarnya, gue lebih fokus ke kepala botak mengkilapnya daripada foto atau penjelasannya tadi. Gimana mungkin, seorang berbadan segede Kapten Amerika dengan kepala botak bukan ahli agen lapangan. Yah, itulah agen Alphonso Mackenzie. Tapi jangan salah, gue pernah denger pacarnya itu Inhuman dengan nama kode Yo-Yo.

Gue dan agen Mack berusaha menganalisis perkelahian semalam dan mengaitkan kejadian ini. Kami sampai pada kesimpulan sementara bahwa bisa jadi Hammer tech menjual barang ini ke seseorang yang entah membenci Inhuman dan dia berkeliaran di Indonesia. Atau ini hanyalah dendam pribadi seseorang yang punya banyak duit kepada keluarga gue.

“I’m sorry can’t accompany you for this case. Situation getting complicated here.”

“It’s okay. Lina really helpful.”

“Lina just amateur. She’s got second warn for this. Do you need another partner?”

“No, Lina just fine.”

Kemudian agen Mack mengatur ulang alat scanning dan kemudian mulai melakukan pencarian dari awal lagi. Gue melamun, beneran Lina udah kena peringatan kedua?

***

POV Kak Rivin

Gila, apa yang aku lihat ya semalam. Sesil berani-beraninya ambil kesempatan modusin Eda. Padahal Eda lagi pusing nyariin ceweknya yang hilang. Siapa pula itu cewek di kamarnya Dani.

Pikiranku gak bisa lepas dari kegiatan Sesil yang meremas-remas penisnya Eda. Gila! Gila! Eda! Aku ketemu lagi sama kamu setelah sekian lama. Adik tingkat yang ganteng dan ramah itu, aduuh. Kenapa kamu mau aja sih digituin Sesil?

Aku mengelus-elus vaginaku yang hanya berbalut celana dalam. Merasa gak puas, aku lepaskan celana dalamku. Ku gesek klitorisku perlahan, lalu semakin cepat. Membayangkan Eda sedang mengoralku.

“Ahhh… Edaaa… Terusss… Sayaaaaang….” Aku mendesah.

Semakin lama aku kurang puas hanya dengan gesekan saja. Aku butuh sesuatu. Kumasukkan satu jariku ke dalam lubang vaginaku. Rasanya sempit sekali dan agak perih. Belum pernah ada benda lain yang masuk sebelumnya selain jari-jariku.

“Edaaaa… Aku mau keluaaar… Ahhh…” Pinggulku naik ke atas sambil mempercepat kocokanku. Keluarlah cairan cintaku hingga membasahi kasur.

Ah, sialan. Eda bikin aku sange pagi-pagi nih. Kenapa kamu baru muncul sekarang sih Edaaaa?? Kenapa kamu lebih milih Dani daripada akuuu??

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat