Tanpa Nama Part 50

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 50 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 49

Hari yang Baru

POV Dani

Pagi tadi, gue, Hari, dan Erna, baru mendarat di Indonesia dengan diantar quinjet. Kami harus menjalani pemeriksaan dan rehabilitasi singkat terlebih dulu sebelum diizinkan pulang. Sementara itu, Jenazah Kak Puri sudah diantarkan dua hari lalu oleh agen S.H.I.E.L.D. ke keluarga untuk segera dimakamkan. Artinya, kami terlewat dua hari untuk melayat. Sigit pun berjanji untuk ikut hadir dalam tahlilan malam ini.

Kami kehilangan banyak rekan dalam pertempuran ini. Flavus, Hamid, Osas, Lina, dan Kak Puri. Untungnya bencana di Bougenville island dapat ditangani. Tapi, terlanjur menjadi masalah serius oleh PBB.

Gue, Hari, dan Erna menuju kediaman Kak Puri di Cibubur jam 6 sore. Kemudian, tahlilan berakhir jam 10 malam. Gue keluar rumah terlebih dahulu, sedangkan Hari masih berbincang dengan kedua orang tua Kak Puri

“Gue pulang duluan ya.” Erna menghidupkan motornya.

“Gak mau ke penthouse dulu?” Ajak gue.

“Besok aja deh, udah kemaleman.”

Setelah melakukan cipika cipiki, Erna menyalakan motornya. Dia beranjak pergi dan menghilang di tikungan komplek. Tidak lama berselang, Sigit mendatangi kami setelah kehilangan sendal sejenak.

“Mbak, aku juga pamit ya.” Sigit datang.

“Oh yaudah, besok ke penthouse ya.” Ajak gue lagi.

“Maaf mbak, bukan pamit yang kaya gitu.” Sigit menggaruk belakang kepalanya.

“Kayanya ada yang mau serius nih.”

Hari akhirnya sempat menghampiri kami sebelum Sigit benar-benar pergi. Sigit meminta maaf atas kejadian Alan yang melibatkan banyak orang. Dia juga meminta maaf untuk yang kesekian kalinya kepada Hari atas kematian Puri. Dia masih merasa bersalah atas tuduhan Hari waktu itu.

“Bukan salah lu, Git. Gue yang minta maaf.” Begitu pula jawaban Hari berkali-kali.

Sigit meminta izin pamit untuk jangka waktu yang sangat panjang. Banyak orang di Kamar Taj merasa bahwa mereka harus sembunyi dari dunia luar untuk mencegah bencana besar. Kekuatan mereka bukan seperti Avengers yang bisa dipamerkan ke mana-mana. Mereka punya nilai lebih dari itu.

“Jadi, gak akan balik lagi ke sini?” Tanya gue.

“Iya, kuliah saya juga harus ditinggal.” Jelas Sigit.

“Orang tua di Surabaya?” Tanya Hari.

“Beres.”

Sigit juga berpesan kalau sepertinya masalah Alan merembet kepada banyak masalah lain baik di bumi atau pun di dimensi yang lain. Dia tak menjelaskan detailnya, tapi gue merasa ini memang belum selesai. Apalagi gue masih kepikiran soal dua peneliti muda di S.H.I.E.L.D. kemarin.

Sebelum Sigit membuka portalnya di balik semak, gue meminta salam untuk Master Hamir dan Eva. Hari meskipun masih terpukul, dia cukup menerima kenyataan dan cukup bijak untuk berpamitan dengan Sigit. Akhirnya, Sigit menghilang di balik portal yang dibuatnya.

“Sekarang ke mana? Pulang?” Tanya Hari.

“Yuk.”

“Ke Tanah Abang kan?” Ajak Hari.

“Gak usah, kita ke apartemen aja.”

Gue tau banget, Hari masih rapuh atas kepergian Kak Puri. Begitu juga gue yang agak masih gak percaya Lina juga mati. Gue masih teringat kepada Lina yang dengan hebatnya menyelamatkan gue dan Kenia dari pengaruh obat perangsang. Sekarang, gue hanya bisa membantu menemani Hari tanpa membebani keluarganya.

“Pake jaketnya, angin malem dingin.” Hari mewanti-wanti.

Di atas motor, gue melamun atas dampak kejadian ini. Mereka yang gugur dimakamkan di kampung halamannya masing-masing. Hanya Lina yang dimakamkan di kompleks pemakaman A.T.C.U, sebuah organisasi kemitraan S.H.I.E.L.D.

Dengan diterpa angin malam, gue mengayunkan tangan mengikuti arus angin. Hari memacu motornya gak terlalu cepat di bawah sinar lampu jalan. Gue beberapa kali mengajaknya berbasa-basi agar dia tidak mengantuk. Perlahan motor melaju meninggalkan rumah Puri, melewati Cibubur Junction, Kiwi, hingga Kelapa Dua.

Satu jam kemudian, kami tiba Depok. Kami berdua sepakat untuk beristirahat di kamar Hari malam ini, sedangkan Penthouse di lantai atas dibiarkan kosong. Tempat itu terlalu luas hanya untuk kami berdua.

“Gue masak mie dulu ya.” Gue membuka lemari dapur.

“Gue juga dong.” Pinta Hari.

Gue pun membuat dua porsi mie goreng untuk kami berdua. Dengan ditemani acara televisi malam, kami menyeruput mie kami masing-masing. Mie memang makanan yang praktis dikala lapar dan tanpa lauk. Sembari itu, suara laju kendaraan terkadang menggaung, pertanda malam sudah sangat larut. Gue gak sempat melihat jam, tapi pasti jalanan sudah sepi sekarang.

“Gue ngantuk.” Hari mengusap matanya.

“Temenin gue di sini.”

“Ngaco. Gue pindah ke kamar sebelah lah.” Hari dengan nada datarnya.

“Seriusan.”

Gue tahan tangannya agar gak beranjak pergi. Alhasil, kami tetap berlanjut nonton tivi, sedangkan mangkuk mie sudah tergeletak kosong di dekat tembok. Lantai kamar yang dingin membuat kami duduk bersandar di atas kasur, beralaskan bantal.

“Puri…” Hari mulai meracau.

“Hush.” Gue langsung memecah lamunan Hari.

“Sorry, maklum udah malem.” Hari berpindah posisi menjadi rebahan.

Gue bisa melihat jelas dari sudut matanya, Hari menahan air matanya agar tidak bocor.

“Mau nangis?” Gue agak ngeledek.

“Nggak, gue ngantuk sumpah.” Dia mengacungkan dua jari.

Gue pun mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur kuning bercahaya remang. Gue izinkan Hari tidur bersama untuk malam ini. Bisa jadi juga untuk malam-malam berikutnya. Hari sahabat gue, dan tinggal satu-satunya sahabat yang masih tersisa untuk dekat dengan gue. Maka, akan gue jaga dia baik-baik.

“Eh, gue beneran tidur di sini?” Hari masih bernada datar. Matanya pun memerah.

“Iya udah. Ini guling buat batas ya.” Balas gue.

Gue mematok guling di tengah-tengah kasur ukurang queen size ini. Hari juga tidak menghiraukannya. Dia lebih memilih tidur membelakangi gue. Awalnya, gue biasa aja karena menganggap dia tertidur cepat. Nyatanya, kasur mulai bergetar pelan karena Hari sesenggukan.

“Hoi! Hoi!” Gue menepuk punggung Hari.

Hari gak menggubris. Terpaksa gue tarik badannya untuk menyamping ke arah gue. Tangan kanannya menutupi seluruh bagian wajah, namun itu aja gak cukup untuk menutupi air matanya yang sudah mirip keringat. Basah di mana-mana.

“Eh, cowok masa nangis melulu.” Kata gue.

“Puri… Nggak…” Hari terus sesengukan.

Gue bingung harus apa. Yang pertama terpikir oleh gue adalah menarik paksa tangan Hari, lalu mengeringkan mukanya dengan bantal atau sprei. Kemudian, gue paksa mata Hari terbuka untuk melihat gue dalam-dalam.

“Liat gue, Har. Liat gue! Semua orang pasti meninggal. Meratap doang gak akan ada hasilnya. Lu harus tegar buat orang lain. Lu harus kuat. Inget Kenia, dia masih butuh perlindungan… Inget gue.”

Inget gue? Kenapa yang keluar malah kata itu.

“Maksud gue, inget temen-temen lu yang masih ada. Mereka yang manusia biasa, mereka yang lemah.” Gue meralat.

Hari perlahan mulai tenang. Gue pun berencana untuk mengambil air minum di kulkas untuknya. Tapi, kemudian yang dia lakukan justru menahan gue agar gak beranjak. Kami berdua saling bertatapan dalam diam untuk beberapa saat.

“Dani, gue harus kuat.” Hari mulai bicara.

“Iya, lu harus kuat.” Balas gue.

“Kita lewatin bareng-bareng kan?”

“Gue janji.”

Gue mengangguk dengan canggung. Suasana hening lagi. Gue bisa merasa kalau sorot mata Hari mulai berubah. Gue pun mengusap air matanya yang masih tersisa dan membuatnya tenang. Lalu, kami berdua mulai mendekatkan bibir masing-masing. Kecupan singkat gak terhindarkan.

Aku hanya diam. Hari hanya diam. Hanya gerakan bibir kami yang saling memandu satu sama lain. Lambat laun, tangan kami berdua saling memeluk tubuh satu sama lain. Hari melewati pembatas guling, lalu menindih tubuh gue dengan lembut.

Gue seperti terbang, lalu dengan sendirinya gue melebarkan kedua belah kaki gue agar gesekan selangkangan kami berdua lebih terasa. Hari merangkul kepala gue pelan, berbalas dengan kedua tangan gue yang mengusap punggungnya. Perlahan, gue menarik baju Hari hingga terlepas, lalu dibalasnya dengan menarik baju gue juga.

Kebanyakan waktu kami gunakan untuk saling mengecup dan meraba lembut. Mata kami selalu terpaut satu sama lain. Yang dibawah sana biarlah beradu dengan lawan mainnya tanpa interupsi anggota tubuh lainnya. Akhirnya tak terasa penutup tubuh kami berdua tinggal celana dalam.

“Ya ampun… Dani.. Maaf…” Hari mendadak berhenti.

“No worry.. terusin.” Gue menggenggam wajahnya.

“Dan…”

“Please.” Gue mengecup bibir Hari lagi.

Hari diam sejenak, tapi gak beranjak dari atas tubuh gue.

“Lu yakin?” Tanya Hari.

Gue membalasnya dengan sekali anggukan. Entah kenapa rasanya cukup malu untuk berkata iya, seperti ada sesuatu menahan untuk bicara. Padahal, di saat biasa, kami berdua cukup bawel dalam obrolan.

Tak butuh waktu lama, kami berdua sudah melepas penutup tubuh terakhir. Penis Hari sudah merasakan basahnya celah vaginaku. Tiap gesekannya semakin membawaku terbang. Tapi, tatapan mata kami berdua hampir gak lepas satu sama lain. Bibir kami terus berpagut.

“Boleh?” Tanya Hari lagi.

Gue balas dengan hanya anggukan lagi.

Kemudian, dalam satu dorongan. Liang vagina gue langsung terasa penuh. Kami melakukannya tanpa foreplay panjang, tapi gak perih sama sekali. Baru kali ini birahi gue langsung naik dalam waktu singkat tanpa obat perangsang. Hari pun gak jauh beda dari gue, wajahnya merengut keenakan.

Hari bergoyang perlahan, membuat gesekan-gesekan lembut yang membuat gue terus melayang semakin tinggi. Jari-jari gue menggenggam erat pundak Hari karena rangsangan tanpa henti yang dilakukannya. Kaki gue langsung melipat diantara kakinya untuk merasakan lebih.

“Aahhh.. We did it…” Aku mulai mendesah.

“Yaahh.. we did it..” Hari ikut mendesah.

“Jangan berhenti….” Pinta gue.

Setelah itu, desahan pelan terus mewarnai permainan kami. Hari sungguh lembut dan wajahnya gak sekalipun bergerak menjauh dari wajah gue. Gue merasa malam ini berubah menjadi sangat romantis meski tanpa bunga mawar dan lilin. Setiap gesekan kejantanannya membuat birahi gue terus naik dan naik.

“Harii… nghh…” Gue merasa sudah hampir di puncaknya.

“Dan.. aaahhhh…”

Hari terus memagut bibir gue. Sesekali dia mengecup pipi dan telinga, tapi kembali lagi ke bibir gue gak lebih dari satu menit kemudian. Gue pun menggeliat di bawah tindihannya. Gue memeluk dan mengusap rambutnya pelan. Desahan kami juga selalu berbalas satu sama lain.

“Gue gak tahaan… ahh…” Balas gue.

“Gue juga.. ahhhh…”

Gue gak nyangka, cukup satu gaya klasik seperti ini untuk membuat gue merasa sempurna. Gue gak mau menahan-nahan lagi. Gue menekan vagina gue kuat-kuat. Gue peluk Hari erat, lalu menyemburlah semuanya. Gue sudah melayang sangat tinggi.

“Aagghhh… Hari… Gue keluarhh.” Gue melemah.

“Sebentar lagiih… nghhhh..” Hari masih terus memacu.

Gue langsung teringat kalau kami bermain tanpa pengaman.

“Har, ahh… jangan di dalemm… hhh…” Rasanya masih tetap enak.

“Iyaaa… aaaahhhhh..”

Beberapa hentakan kemudian, Hari mencabut penisnya. Dia memuntahkan banyak sekali spermanya di atas perutku. Selanjutnya, kami pun tertidur lelap dalam selimut dan tanpa busana.

POV Hari

Ini hari yang sungguh baru. Gue terbangun karena sinar matahari mulai menusuk mata gue dari balik korden. Dani masih terlelap di sebelah gue tanpa pakaian sehelai pun. Wajahnya tiba-tiba terlihat indah dan mencerminkan kepuasan di mata gue. Yang kami berdua lakukan tadi malam sungguh di luar dugaan.

Gue bermain cinta dengan sahabat gue sendiri, sekaligus mantan sahabat gue juga. Kalo orang lain sampai tahu, mereka bisa beranggapan kalau gue seolah bisa move on begitu saja setelah 3 hari kepergian Puri. Tapi gue gak mau ambil pusing lagi. Yang sudah terjadi biarlah terjadi, dan mungkin hanya sekali itu saja.

Gue beranjak menyalakan televisi. Breaking news langsung muncul pertama kali di layar dan beritanya sungguh mengejutkan. Direktur S.H.I.E.LD., Jefrey Mace mati dibunuh dan jasadnya ditemukan di pantai. Organisasi S.H.I.E.L.D. pun terancam bubar karena ulah Daisy Johnson yang menembak Jenderal Talbot. Gue punya firasat bahwa inhuman mulai ditakuti setelah ini.

“Ini pasti ulah android.” Gue hanya bergumam sendiri

Tiba-tiba dari jendela terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil. Gue tahu, balkon apartemen ini sangat kecil dan mustahil orang biasa memanjat hingga jauh ke atas sini. Gue membangunkan Dani, lalu kami berdua langsung berpakaian lengkap dengan penuh kecurigaan.

“Alat-alat lu di mana?” Tanya gue.

“Di penthouse semua.” Jawabnya.

“Kalo gitu kita modal nekad.” Gue berinisiatif.

Gue membuka korden dengan hati-hati.

Begitu menyibakkan korden, rupanya hanya seekor burung dara berbulu biru-hijau yang mengetuk-ngetuk. Tapi belum sempat menghela nafas lega, gue menyadari ada sesuatu yang disangkutkan di kaki merpati tersebut. Sebuah surat.

“Surat? Zaman sekarang?” Gue heran.

“Ambil.” Suruh Dani.

Gue membuka balkon, lalu mengambil surat tersebut dari kaki si burung. Kami berdua membaca pesan tersebut. Pengirimnya anonim dan isi pesannya sangat aneh. Gak bisa kami mengerti.

Tiba-tiba kami diinterupsi telepon. Si pimpinan necis S.H.I.E.L.D. rupanya yang memanggil. Beliau menyampaikan bahwa organisasi S.H.I.E.L.D. benar-benar diambang kehancuran untuk kedua kalinya. Padahal, baru beberapa bulan lalu organisasi ini lahir kembali secara resmi. Coulson dan petinggi lainnya menghilang begitu saja, mungkin kabur atau sudah dijebloskan ke penjara The Raft.

Si pimpinan necis juga berpesan bahwa kami para manusia super masih tetap berada dalam pengawasan Sokovia Accords. Sementara itu, penugasan dan komunikasi kami dialihkan ke A.T.C.U. Kami juga dilarang melakukan kegiatan mencolok selama beberapa waktu ke depan supaya gak semakin mencoreng ras inhuman.

“Don’t draw attention.” Kata si pimpinan.

“Alright, sir.” Jawab gue

“You all have to be unnamed inhuman. Be careful.” Katanya lagi.

“Alright. Thank you, sir.”

Telepon ditutup.

“Sekarang gimana?” Tanya Dani.

POV Sigit

“Eva, gimana soal batu rune itu?” Aku masuk ke perpustakaan.

Wong langsung memperingatiku supaya gak berisik.

Eva menutup buku yang dibacanya. Kantung matanya sudah cukup besar. Dia kurang tidur karena terus menerus penasaran dengan batu rune yang digunakan Alan. Gue sebenarnya berharap Eva mengambil waktu istirahat telebih dulu, tapi dia bersikeras.

Eva berdiri menghampiriku di lorong rak buku.

“Sigit, ini bahaya…..” Eva ambruk.

Wong dan aku langsung membopong Eva ke ruang perawatan. Dia jelas mengalami kelelahan dan disarankan beristirahat minimal tiga hari. Selain itu, dia dilarang menggunakan sihir berenergi besar untuk memilihkan kondisi fisiknya.

Aku pun tidak memaksa. Kubiarkan dulu info ini tertunda demi kesehatan Eva. Padahal, aku cukup khawatir juga dengan dunia luar sekarang ini. Inhuman jadi mendadak ditakuti dan dianggap teroris. Semoga Mas Hari dan Mbak Erna gak kenapa-kenapa.

Selain itu, manusia super buatan Roxxon Corporation dan Hammer Tech gak bisa dianggap remeh. Mereka pasti punya niat yang gak baik setelah insiden di Tonga. Sayangnya, kini kami gak boleh keluar lagi untuk menghindari adanya bencana yang lebih besar.

Aku berjalan ke luar dari ruangan Eva dirawat. Kemudian, aku berhenti di salah satu lorong terbuka. Kupandangi pemandangan indah Nepal dari atas bangunan tersembunyi ini.

“Jeepers Creepes udah kembali ke hutan, kamu gak usah cemas.” Master Hamir menghampiriku.

“Bukan itu yang saya takutin, Master.” Jawabku.

“Kamu khawatir sama temen-temen kamu?”

Aku melirik Master Hamir, lalu mengangguk.

“Mereka akan baik-baik aja.” Jawab Master Hamir.

“Soal rune itu…” gue bingung mau bicara apa lagi.

Master Hamir mengatakan bahwa batu-batu rune itu sepenuhnya di bawah wewenang Asgard, biar mereka yang datang sendiri ke bumi untuk menyelidiki. Kami harus bersembunyi terlebih dulu usai banyak penyihir yang datang ke Bougenville Islands.

“Orang Asgard datang ke bumi? Thor maksudnya?” Tanya gue.

“Hahaha, bukan. Kamu belum tau ya?” Master Hamir mengelus jenggotnya.

“Belum.”

“Pasukan abadi Odin. Biasanya mereka datang sendiri atau berdua.” Master Hamir makin membuat penasaran.

Kami berdua diam sejenak disela oleh semilir angin kencang. Master Hamir dengan tatapannya yang percaya diri, sedangkan aku kebingungan. Momen ini persis seperti yang ada di film-film. Niscaya setelah ini pasti Master Hamir akan memberikan jawaban klimaks. Aku pribadi juga mengharapkan jawaban klimaks itu, entah kenapa.

“Siapa?” Aku benar-benar gak tau.

“Einherjar.”

Tamat

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat