Tanpa Nama Part 48

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 48 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 47

Peluncuran

POV Hari

Gue haus. Gue paling kehausan di antara lain. Sejak dari Jepang tengah malam tadi, gue belom minum lagi. Lalu, sekarang sudah hampir tengah hari. Ditambah lagi gue udah dua kali berantem sampe ngos-ngosan ngelawan inhuman avatar. Rasanya kaya jogging sejam gak pake berhenti.

“Sumpah gue haus.” Gue menjulurkan lidah.

“Nanti kita cari minum di dalem.” Lina menyemangati.

Kami terus berjalan menyusuri lorong gua dengan hanya tiga senter, milik Erna, Lina, dan Flavus. Senter milik Flavus kini dipegang oleh Eva. Gak lama kemudian, lorong gua terbagi menjadi dua jalan.

“Ke mana?” Erna menoleh ke Eva.

“Sebentar.” Jawab Eva.

Eva mengoper senter ke Sigit, lalu dia memajukan telapak tangan kirinya. Dia meraba udara kosong di kedua lorong gua yang bercabang. Gerakannya seperti orang-orang pemburu hantu di televisi masa lampau. Gue hanya bisa mengamati gerakan-gerakannya tanpa bisa menganalisis secara lebih ilmiah.

Gue haus banget.

“Gue rasa Alan ke kanan. Terus… Ada inhuman di arah kiri.” Eva selesai meraba-raba.

“Avatar lagi?” Lina mengonfirmasi.

“Bukan. Ini perempuan.” Jawab Eva.

“Puri!” Gue refleks merespon.

Kami membagi menjadi dua tim. Karena Sigit paling ngebet ketemu Alan, maka dia akan mengikuti lorong gua ke arah kanan ditemani Eva. Gue, Erna, dan Eva akan berjalan ke mnegikuti lorong gua ke arah kiri untuk menyusul Puri. Pasti dia tersesat.

“Tunggu dulu, Hamid ke mana?” Sigit menahan langkah kami sebelum berangkat.

Eva hanya melotot. Dia lupa akan keberadaan Hamid. Selanjutnya, dia meraba-raba udara kosong lagi. Kali jauh ini lebih lama, lalu diakhiri dengan mengatakan kalau Hamid gak ketemu.

“Kita tetep sama rencana tadi. Oke?” Lina berkata tegas.

“Oke.” Sigit dan Eva menjawab bersama.

“Ada sinyal!” Tiba-tiba Erna teriak.

Erna menunjuk ke langit-langit gua sambil mengatakan bahwa ada pita sinyal berwarna merah yang terbentuk. Pita tersebut memanjang mengikuti alur gua dari cabang kiri ke cabang kanan. Hal itu semakin jelas menandakan kehidupan di kedua arah gua ini.

“Ayo cepet, sebelum sinyalnya hilang!” Erna berlari duluan.

Kami berlari mengikuti Erna. Gue paling kepayahan berlari, Selain karena haus, hanya gue yang gak memegang senter. Jalan setapak di gua ini memang halus, tapi parno juga kalau sewaktu-waktu gue kepeleset atau dipatok ular.

Tiba-tiba seseorang menyerang kami. Erna terpelanting jauh. Gue berlari ke arah Erna untuk memeriksa keadaannya

“Avatar?!” Gue berteriak waspada.

Erna menyorotkan senternya ke seluruh penjuru ruangan. Tapi sayangnya kami gak menemukan dia. Situasi thriller semacam ini udah terjadi ketiga kalinya dalam waktu dua puluh empat jam.

“Bukan. Ini banyangannya Puri.” Kata Lina.

“Berapa banyak?” Tanya gue.

“Ada 3. Hati-hati.”

Lina tiba-tiba melakukan gerakan menghindar. Gue gak bisa melihat, tapi gue yakin Lina sedang berkelahi dengan bayangannya Puri. Kalau sudah begini, gue atau pun Erna gak bisa ngebantu sama sekali.

“Kalian maju terus! Cari Puri!” Lina memerintahkan.

“Tapi..”

“Gue bisa tahan mereka di sini!” Lina makin teriak kencang.

Situasi makin panas sekarang. Lina melemparkan senternya kepada gue. Dia yakin bisa melihat dan bekelahi dengan baik meski cuma menggunakan mata celepuknya. Gue pun yakin kalau sekarang Puri udah ketangkep dan dimanfaatkan lagi. Itu juga alasannya Hamid gak ketemu. Semoga Sigit dan Eva bisa menemukan Alan secepat mungkin.

POV Lina

Gue berkelahi melawan tiga bayangan Puri sekaligus. Berkelahi dengan rusuk yang remuk adalah hal yang sangat menyiksa. Tapi kondisinya sekarang hanya gue yang bisa melawan mereka dengan baik.

Gue bisa melihat ketiga bayangan Puri dalam gelap. Gue juga mengerti cara menghentikan mereka yang bisa tembus ke mana saja. Masalahnya, butuh waktu berapa lama supaya gue bisa menang.

“Puri! Gue tau lu bisa denger gue!”

Gue melakukan persuasi sambil berkelahi.

“Berhenti, Puri! Lu dikendaliin!”

Sebuah serangan menerjang pipi gue. Gue harus menerimanya terlebih dulu, lalu gue melancarkan serangan balasan dengan menangkap tangannya. Lalu gue lempar satu bayangan tersebut ke arah bayangan yang lain. Begitu terus yang terjadi, gue harus menerima pukulan walau pun badan gue udah babak belur.

Persuasi gak berhasil. Hal itu juga membuat gue gak fokus dengan gerakan-gerakan gue. Sebelum gue kalah, gue harus membunuh satu atau dua bayangan ini.

Gue terima lagi pukulan yang mengarah ke perut gue, lalu gue tangkap lagi tangannya. Kali ini gue pelintir hingga tangannya hancur menjadi cairan hitam. Saat bayangan itu jatuh berlutut, gue tendang belakang kepalanya hingga terbentur tanah. Hancurlah dia menjadi cairan hitam seutuhnya.

Sekarang tinggal dua bayangan. Tapi gerakan mereka bukannya melambat, malah jadi semakin cepat. Ketika gue menangkap tangan si bayanagn untuk kesekian kali, dia berbalik memegang tangan gue. Kedua pergelangan tangan gue dikunci di punggung, lalu bayangan yang lain mengantam tubuh depan gue berkali-kali. Darah mengucur deras dari lubang hidung dan bibir gue. Bau darah ini jelas sekali, seperti besi.

Gue kelelahan. Kesakitan. Pendarahan. Gak bisa melawan balik lagi.

Muncul secercah cahaya. Mungkin gue akan mati hari ini. Terlebih, satu bayangan itu bergerak ke satu sisi dinding untuk batu sebesar kepala sapi. Gue bisa melihat kalau inilah akhir hidup gue. Batu itu terayun dan menghantam telak sisi kiri kepala gue. Semuanya gelap.

POV Dani

“LINAAAAAAA!!!” Gue menangis sejadi-jadinya.

Kami terlambat menolongnya, padahal kami sudah dekat. Cahaya senter gue sudah dapat menjangkaunya. Tapi segel sihir Osas terlambat untuk menyerang kedua bayangan tersebut sebelum menghantam Lina dengan batu besar.

Sihir tersebut membakar kedua bayangan Kak Puri sesaat setelah Lina tergeletak gak sadarkan diri. Darah mengucur deras dari kepala, hidung, dan mulutnya. Gue gak bisa mendeskripsikan apa-apa lagi selain warna merah yang tersorot cahaya senter di sekujur tubuh Lina.

Gue memeluk tubuhnya erat-erat. Darah membekas di sekujur tubuh gue, tapi gue gak peduli.

“Dani, stand up, please. She’s gone.” Osas menyuruh gue bangkit.

“She is my friend!!” Gue putus asa.

“C’mon, Dani. There’s still plenty of your friends that need you.” Osas berkata bijak.

Dengan air mata yang masih mengalir deras, gue membawa tubuh Lina ke pinggiran dinding gua.

Gue lanjut berjalan bersama Osas hingga akhirnya berujung di satu ruangan besar melingkar. Hari dan Erna berjalan memutari seperangkat alat berbentuk rudal yang jumlahnya sangat banyak. Rudal tersebut gak terlalu tinggi, mungkin cuma tiga meter. Warnanya putih mengkilat, polos tanpa simbol apapun, dan berujung runcing.

“Dani!” Erna orang pertama yang melihat gue.

“DANI! LU GAPAPA! KENAPA BADAN LU DARAH SEMUA BEGINI!” Hari histeris.

Hari memegang kedua bahu gue sangat erat. Gue juga senang ngeliat Hari dan Erna lagi, namun yang bisa gue lakukan hanya diam.

“DANI!” Hari memaksa gue menjawabnya.

“Gue.. gapapa… gapapa…” Gue terbata-bata.

“Oh, syukur.. Liat Lina? Harusnya dia ketemu lu tadi…”

Ini dia pertanyaan yang gak bisa gue jawab. Gue dengan tatapan sayu hanya bisa melihat Osas untuk meminta jawaban. Tapi Osas hanya melihat gue dengan tatapan yang sama-sama sayu.

“Lina… jangan bilang…” Hari melepas rengkuhan tangannya.

Dia memaki-maki ke udara. Kakinya menendang kehampaan berkali-kali. Dia sudah jelas gak terima dengan keadaan ini. Untungnya, Osas cukup bijak untuk menenangkan keadaan dan mengembalikan fokus kami kepada tugas. Dia juga membagikan air minum untuk Hari dan Erna.

“Rudal ini banyak banget.” Erna lanjut menganalisis.

Tiba-tiba terjadi gempa. Atap gua terbuka membentuk lubang melingkar ke arah langit. Mesin-mesin rudal mendengung keras. Erna juga mengatakan kalau sinyal berbentuk pita merah juga semakin kuat warnanya.

“Mereka mau ngeluncurin sekarang!” Erna mengeraskan suaranya.

“BANGSAAAT!!” Hari makin keras juga memaki.

Hari bergerak ke arah rudal dengan dengungan paling kuat. Dia menempelkan kedua tangannya untuk menyerap energi supaya peluncurkan gagal. Gue juga mengeluarkan laptop untuk dihubungkan ke satu-satunya komputer yang ada di sini. Kemampuan mereteas gue memang cupu, hasil belajar dua bulan belakangan. Tapi di antara yang lain gue lah satu-satunya orang yang mengerti seluk-beluk komputer.

Seandainya Lina masih ada di sini….

Peluncuran pertama gagal dicegah. Rudal mulai meluncur kencang dengan sisa pembakaran mesin yang membuat kami terbatuk-batuk. Osas membantu membuat sihir penutup telinga agar syaraf pendengaran kami gak ikutan rusak.

“Rudal pertama terbang ke Port Moresby.” Gue membaca tulisan di layar laptop.

Begitu rudal tersebut keluar dari lubang di langit-langit gua. Sesosok makhluk datang dari lubang yang sama. Begitu melihat rudal itu pergi, dia terbang lagi untuk mengejarnya.

“Itu si Jeepers Creepers.” Kata gue lagi.

“Kenapa bisa ada di…. ah udahlah.” Erna gak selesai berkata-kata.

“Gue bisa ikutin dia.” Gue punya akal.

Gue memprogram kamera lebah membentuk satu geromobolan besar berbentuk bola. Dari gerombolan itu, hanya beberapa yang aktif untuk merekam. Sisanya menjadi penguat untuk seluruh kesatuan kamera karena benda ini akan gue luncurkan dalam kecepatan tinggi demi mengikuti rudal.

“Meluncur!” Gue bersemangat.

“Gak usah teriak kan bisa.” Erna nyeletuk.

“Biar kaya kartun kartun gitu sih.”

Gue memberi gadget kepada Erna untuk memperhatikan rudal dan si Jeepers Creepers. Sementara itu, gue sendiri melakukan peretasan yang susahnya setengah mampus untuk mencegah bencana semakin besar. Hari masih mencoba secara manual meresap semua energi dari mesin-mesin rudal yang sudah menyala.

“Si Creepers belokin rudalnya.” Erna menjelaskan setiap pergerakan.

“Good, terus ceritain.” Kata gue.

Tiba-tiba muncul seseorang dari lorong gua yang gelap. Dia memukul Osas hingga terpelanting membentur dinding gua.

“Itu..” Erna terbata-bata.

“Puri!” Hari terperangah.

Kak Puri datang. Dia memakai baju kendali. Tatapan matanya kosong. Sudah pasti dia tidak bisa mendengar kami sekarang.

“Puri!! Kamu pasti bisa denger aku!” Hari bergerak dari posisinya.

“Hari! Percuma.” Gue mencoba menyadarkan.

Akan tetapi ,Hari gak menghiraukan gue. Dia terus berjalan menuju Kak Puri hanya untuk dihantam dan terpelanting seperti Osas. Sesaat kemudian, Puri mengeluarkan dua bayangannya.

“I can handle it. You two focus on the missile.” Osas bangkit.

Gue gak memerhatikan cara Osas bertarung. Gue hanya melihat sekilas kalau dia gak banyak bergerak secara fisik. Dia menggunakan segel-segel dan senjata sihir untuk berkelahi dengan dua bayangan itu. Di sisi lain, Hari belum sanggup bangkit ketika tubuh asli Puri menendangnya lagi dan lagi.

Osas merapalkan mantra lagi, lalu sukses membakar dua bayangan Puri sekaligus. Dua bayangan tersebut mencair disertai lenguhan kesakitan dari Kak Puri. Osas pun langsung menyusul ke arah Hari untuk membantunya. Tapi, sesaat sebelum dia menyentuh Kak Puri, satu bayangan kembali muncul dari dalam tubuh Puri.

“Apa-apaan tuh?!” Erna melotot.

Gue juga melotot dan berhenti sesaat dari kegiatan meretas. Gue melihat bayangan besar itu, dia setinggi rudal di belakang gue dan badannya gempal. Tangan Osas dipelintirnya lama sekali. Osas beruntung bisa lepas dalam beberapa manuver.

Kak Puri seketika pingsan. Hal itu dimanfaatkan Hari untuk melepas seluruh jaket kendali yang dipakainya. Tapi yang menjadi perhatian gue adalah seberapa kuat bayangan ini. Ketika dia muncul barusan saja udah cukup membuat Kak Puri pingsan.

Efek buat Kak Puri akan seperti apa kalau bayangan ini dikalahkan? Bisa gak kita ngalain dia.

POV Sigit

“ALAAAAN!!” Gue marah besar.

Aku dan Eva diperlihatkan jasad Hamid tergeletak begitu saja di tengah-tengah ruangan ketika kami sampai tadi. Alan dengan sombongnya duduk di kursi besar layaknya singgasana. Berbagai kabel melekat di kepala dan lengannya. Situasi ini mengingatkanku dengan kondisi Puri di Menara Saidah.

“He’s weak.” Alan tersenyum sinis.

“He’s our friend!” Eva mebalas.

Alan terus duduk di kursi listriknya. Dia hanya menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan serta gestur tangan sambil bercerita sesuatu. Dia menceritakan apa yang telah dia pelajari setelah keluar dari Kamar Taj.

Dia mengatakan bahwa mempercayai inhuman adalah kesalahan. Inhuman memang ditakdirkan menjadi budak selama perang, seperti Kree memanfaatkan mereka. Alan ingin memanfaatkan mereka lagi, namun kalau membangkang lebih baik dibunuh.

“Inhuman are invasive in this earth.” Jelas Alan.

“And then?” Eva terus mengorek informasi.

“It’s about us, sorcerer who’s protect this world. Not them!” Alan bernada tinggi.

Aku mengerti, kami para pemyihir dari Kamar Taj harus bertugas melindungi bumi dari serangan gaib, misalnya seperti Dormammu. Tapi Alan memelintir pernyataan tersebut dengan menganggap inhuman sebagai ancaman karena bukan berasal dari bumi. Padahal mereka tadinya hanya manusia biasa. Kree-lah yang menjadi masalahnya.

“You know the girl I talked about?” Tanya Alan.

Gue mengernyitkan alis.

“She’s strong, so I command her to kill your teammates hahaha.” Katanya.

“You coward, Alan!” Gue memaki lagi.

“Anyway, her body is hot. I’ll taste her later.” Dia makin meledek.

Gue gak tahan lagi. Alan gak hanya mengancam, tapi juga melecehkan. Gue pun mengeluarkan keris kalawijan lagi.

“Let’s fight too, It’ll be fun.” Alan tertawa senang sekali.

Alan melentingkan koin ke tengah-tengah ruangan. Seiring dengan itu, gue dan Eva menghentakkan badan. Roh kami berdua keluar dari tubuh. Angin berhembus dengan desir yang berbeda, ini bukan angin biasa. Seketika koin yang dilempar Alan juga berhenti di udara, artinya kami berada dalam alur waktu yang melambat.

Di seberang kami, Alan juga telah keluar dari tubuh aslinya.

“ALAAAAANN!! DIE YOUUUU!!!!” Gue teriak lagi dan lagi.

Kami terbang menuju tengah ruangan dengan kecepatan tinggi. Pertarungan kami pun dimulai.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat