Tanpa Nama Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 44

Keroyokan

POV Lina

“Where is this place?” Gue bertanya.

“You may not believe me.” Kata Flavus.

“Try me.”

“We are below the Nevada Dessert.”

Para penyihir bilang kami akan masuk gua. Tapi gue sama sekali gak menyangka kami berada di bawah tanah salah satu negara adidaya.

“How deep are we from the surface?” Tanya gue lagi.

“About 500 meters, and this is artificial cave.”

Rupa-rupanya ini gua buatan. Gue sama sekali gak menaruh perhatian pada arsitektur gua ini. Flavus menjelaskan pada kami bahwa dinding gua ini terlalu halus dan lurus kalau terjadi secara alami. Lorong gua ini pun kalau dilihat-lihat memang seperti arsitektur subway yang terlapis pasir. Bulat, lurus, dan kering.

Kami berjalan mengikuti alur lorong ini selama satu jam lebih. Tapi tidak ada tanda sama sekali kalau lorong ini memiliki ujung. Sepanjang penyusuran pun, tidak ada cabang atau pun ruangan lain.

“Are we headed to the right path?” Tanya gue yang kelima kalinya.
“I can feel it.”

Gue justru makin ragu dengan kemampuan Flavus karena jawabannya tadi gak meyakinkan. Dia udah 5 kali cuma menjawab bisa merasalan lokasi berbahaya. Nyatanya, kami sama sekali belum menemukan apa-apa.

Kami terus berjalan dalam keheningan. Lorong yang kami susuri kini melengkung ke kiri dan menyebabkan keterbatasan jarak pandang ke depan. Senter yang tertempel pada masing-masing senjata anggota S.H.I.E.L.D. berpindah-pindah menyorot setiap sudut dinding gua.

Hampir tidak ada hewan sama sekali. Beberapa kali laba-laba dan tikus tanah lewat, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Selain itu, meski ini adalah gua, daerah di sini miskin air. Efek bentang gurun di atas kami mungkin masih berpengaruh hingga kedalaman 500 meter di sini.

Lalu, samar-samar terdengar suara tapak kaki menggema sepenjuru gua. Sayangnya, kami tidak yakin suara itu dari depan atau belakang kami.

“There’s someone.” Kata asalah satu agen.

“No, it’s several.” Balas Flavus.

Mata celepuk gue mengira-ngira jumlah orang yang datang meski hanya dari sudut pandang yang terbatas ini. Flavus benar, setidaknya ada 5 orang yang berjalan ke arah kami. Mereka berjalan dari depan dan belakang kami. Artinya, kami terkepung.

Suara tapak kaki berubah menjadi suara langkah yang berlari. Dari salah satu sorotan senter, tiba-tiba seorang lelaki besar bertelanjang dada serta berambut cepak menyerang salah satu agen kami. Dia memukul hidung agen tersebut sekali, lalu menarik kaki si agen untuk menghilang kembali dalam kegelapan.

“HELP MEEEE!!” Teriak agen tersebut.

Agen lainnya menembak membabi buta ke arah si pria penyerang. Tubuh pria tersebut seketika mengeluarkan darah, tapi tetap tidak tumbang. Gue menyerang ke arah punggungnya, mencoba menghunuskan pisau belati ke tulang leher sisi kiri.

Hunusan gue suskes membuatnya berdarah. Tapi sepertinya belati gue hanya tergeser menyayat lapisan kulitnya. Gue merasakan mata belati yang gue pegang seperti menggesek besi. Akibat serangan gue pun, si pria tersebut langsung menoleh. Dia mengayunkan tangannya dan menghantam telak pipi kiri gue. Alhasil, gue terlempar sekitar 5 meter.

“Agghh.. That’s familiar.” Gumam gue.

Rasanya persis seperti dihantam Kenia ketika dia memakai jaket kendali.

Flavus bergerak. Dia menarik tangannya menjauh satu sama lain. Tangan kanannya ditarik lurus ke arah belakang kepalanya sendiri. Sementara itu, tangan kirinya tegak ke depan dengan telapak seperti menggenggam sesuatu. Terciptalah busur dan anak panah sihir yang berpercik api dari kehampaan.

Seketika dinding lorong menjadi seterang pantulan cahaya lampu magnesium akibat percikan api yang dihasilkan Flavus.

Si pria besar memandang panik ke arah Flavus. Terbukti, satu lepasan anak panah sukses menembus bahu sebelah kirinya. Begitu sekali anak panahnya terlepas, Flavus langsung menyusul dengan rentetan anak panah lainnya yang berkali-kali tepat mengenai dada si pria besar.

Agen yang dari tadi ditarik kakinya kini selamat. Si pria besar pun tergeletak mati. Setelah itu, Flavus menghilangkan busur sihirnya sehingga lorong kembali gelap.

“Hey, man, why you didn’t do that from earlier?” Si agen kesal.
“Just come in mind.” Baru kepikiran, kata Flavus enteng.

Tiba-tiba saja, ada serangan tiba-tiba dari dua arah, menyebabkan dua agen kami yang tadinya berdiri tegak langsung mati seketika dengan dada tertembus sesuatu yang tajam dan panjang. Flavus langsung menciptakan busur sihirnya lagi.

Cahaya yang tercipta tidak mampu menemukan penyerangnya. Kini, tinggal dua agen yang tersisa menemani kami.

”Have you seen it?” Tanya Flavus.

“Yes, two inhumans.” Jawab gue.

Gue kembali harus memfokuskan kekuatan mata celepuk gue agar gak kecolongan. Kami semua harus waspada.

“He’s not wear the jacket.” Kata salah satu agen bergigi patah, merujuk pada si pria besar.

“He’s inhuman, dude.” Jawab agen lainnya.

“That’s not what I mean. He’s not controlled by Alan, right?” Tanya si agen yang bergigi patah lagi.

“Not surprised. S.H.I.E.L.D. has many enemy.” Jawab gue.

Inhuman yang menyerang kami tidak mengenakan jaket kendali. Hal tersebut memberi bukti kalau Alan memang beraliansi dengan orang lain lagi yang sama-sama tidak menyukai S.H.I.E.L.D. Tapi, itu belum cukup hingga kami menemukan Alan.

“Too silent.” Gue mengedipkan mata dengan jenuh.

Setelah dua agen kami terbunuh, situasi kembali hening seperti tanpa adanya kehidupan di gua ini.

Gue putuskan untuk membawa pulang para agen kembali ke markas menggunakan portal Flavus. Dua agen yang tersisa memang harus membawa dua jasad rekannya. Kemdian, kami berlanjut berjalan pelan menyusuri lorong dengan arah tujuan yang sama.

Gue fokus dengan mata celepuk gue bersama dengan satu senjata laras pendek. Sementara itu, Flavus bersama dengan panah sihirnya.

“What do you think about that’s man’s power?” Tanya Flavus saat kami berjalan.

“Keep focus!” Perintah gue.

“C’mon, you are curious, aren’t you?”

Gue menghela nafas.

“He’s body immune to pyhsical attack.” Jawab gue.

“That’s make sense.” Flavus menaikkan alis.

POV Hari

Gue berjalan menyusuri lorong gua yang gelap, lembab, namun sangat lebar. Sigit bilang, kami berada di Jepang, tepatnya di Okinawa. Mungkin kami sedang berada di gua tempat persembunyian tentara Jepang.

“Mas Hari udah nonton Hacksaw Ridge?” Tanya Sigit.

“Gue gak sempet nonton.” Jawab gue.

“Ini daerah perang yang ada di film itu.” Jelas Sigit.

“Yang main Andrew Garfield lho. Beneran belum nonton?” Giliran Eva bertanya.

Gue hanya menjawab dengan gelengan kepala.

“Perang Okinawa itu luas banget sebenernya ya.” Eva bicara lagi.

“Yoi, dan Hackshaw ridge cuma nyeritain kisahnya Desmond Doss.” Balas Sigit.

“Gue penasaran sama…” Kata Eva.

“Ini obrolan penting, nih?” Gue kesel.

Gue kembali menyorotkan senter ke arah yang jauh. Hanya ada kegelapan di depan sana dari tempat yang sempit ini. Gue bisa menyimpulkan bahwa struktur guanya cukup bersih dengan posisi yang landai, meski agak sedikit menurun.

“Ini kayanya bukan Gua Jepang.” Kata gue.

“Emang bukan, Mas.” Jawab Sigit.

“Gua Jepang masih jauh di atas kita.” Eva menambahkan.

Rupanya dugaan gue salah. Setahu gue, gua-gua yang dibuat oleh Jepang semasa peperangan memang ukurannya sempit dan pendek. Akan tetapi, gua yang kami lewati ini memiliki arsitektur yang sebaliknya.

Sambil berjalan, kami melewati banyak cabang dari lorong-lorong ini. Atas petunjuk dari Eva, kami mengikuti langkahnya di antara genangan air tanah. Belokan demi belokan kami lewati hingga jumlahnya tak terhitung lagi.

Gue beberapa kali meninggalkan goresan di dinding berupa angka setiap kami hendak berbelok. Angka tersebut menandakan jumlah kami sudah berbelok. Hasilnya, pada suatu percabangan lorong lagi, gue bisa melihat tanda goresan yang gue buat sendiri.

Angka 3 terbaca jelas oleh semua orang.

“Kita gak kesesat kan?” Tanya gue.

“Harusnya nggak. Tapi feeling gue aneh.” Eva mengurut keningnya.

“Git?” Gue melirik Sigit.

“Aku juga gak tau, Mas.” Sigit menggeleng.

Gue sendiri pun kebingunan dengan kondisi ruangan ini. Kami sudah melalui lorong bagian ini pada belokan ketiga tadi. Tapi nyatanya kami kembali lagi ke sini. Eva terpaksa memaksa berkonsentrasi dengan melakukan meditasi dengan posisi berdiri. Gue gak tau cara kerjanya gimana, tapi semoga bisa membantu kami mencapai lokasi tujuan.

Tiba-tiba, dinding gua terbuka layaknya pintu putar. Dinding tersebut berputar, mendorong keempat agen kami masuk ke dalam ruangan tersembunyi. Lalu, dinding tersebut dengan cepat tertutup kembali.

“Anjing!” Gue mengumpat.

“Eva, bantu!” Sigit memanggil Eva yang masih membabi buta.

Kami bertiga berusaha membuka dinding berisi ruangan rahasia ini menggunakan tangan kosong. Tapi dinding ini sama sekali gak bergerak.

Tiba-tiba, dinding di belakang kami terbuka. Kami masing-masing ditarik sepasang tangan. Mereka memanfaatkan momen kekagetan kami untuk menarik sekuat-kuatnya ke dalam dinding di sisi yang lain tanpa adanya perlawanan.

Kami pun terjatuh dan dengan mudahnya menghilang di balik dinding.

“Kita kejebak.” Kata gue.

“Waspada! Tiba-tiba gue bisa ngerasa ada banyak inhuman di sini.” Kata Eva.

Kami mencoba menyorot seluruh ruangan menggunakan senter. Tapi, tiba-tiba senter kami bertiga langsung mati.

“Siapa orang-orang yang nyeret kita?” Gue penasaran.

“Pasti kelakukan Alan.” Kata Eva.

“Perangkap sihir.” Sigit menambahkan.

Setelah senter kami mati, kondisi benar-benar gelap. Kemudian, gue merasa ada nafas berhembus di belakang rambut gue. Belum sempat menoleh, tiba-tiba badan gue langsung dipeluk makhluk tersebut. Gue merasakan kuku-kuku panjang makhluk ini mencengkram kuat. Tubuh gue ditarik menjauh dari lokasi suara Sigit dan Eva.

“Tolong gue!” Gue teriak.

“Mas!” Sigit memanggil.

Kaki gue melangkah terseret jauh ke arah belakang. Tapi gue gak pendek akal. Gue menempelkan kedua telapak tangan gue ke paha makhuk ini. Gue serap energi dari kaki makhluk ini sebanyak-banyaknya.

Kami berdua jatuh terbaring dengan badan gue menindih makhluk ini. Begitu terlepas, gue cepat berdiri dan berlari ke depan dengan panik. Seketika gue menabrak seseorang di depan gue sampai terjatuh.

“Siapa?!!” Gue panik.

“Mas Hari?! Aku Sigit!”

“Huft, untung deh.”

Gue m berdiri sendiri, lalu meraba wajah Sigit untuk mengetahui posisinya. Kami masih beruntung gak sampe terpisah jauh. Eva juga masih ada di sebelah Sigit walau gak banyak bersuara seperti di awal-awal.

“Git, gak bisa bikin lampu atau cahaya apa gitu?” Tanya gue.

“Eva bilang jangan, Mas.” Jawab Sigit.

“Kenapa? Gelap banget lho ini.”

Sigit membisikkan sesuatu di telinga gue. Dengan satu kalimat, gue langsung memahami situasi di sini. Gue perlahan mengambil kuda-kuda berkelahi untuk jarak dekat.

“Siap?” Tanya Eva.

“Oke, gue siap.” Gue berkata tegas.

“Siap!” Sigit juga siap.

Eva menjentikkan jarinya, membuat tangannya berpendar seperti kumpulan lampion seukuran semut. Lalu, dia menghamburkan titik-titik cahaya tersebut ke udara. Cahaya tersebut langsung menyinari seisi ruangan.

JENG JENG!!

Gue dengan jelas bisa melihat kumpulan inhuman berbentuk monster dengan memakai jaket kendali. Mereka mengelilingi kami. Satu persatu mereka mendesis, menggeram, hingga berteriak melengking.

“Kok mirip avatar semua?” Sigit bertanya.

“Avatar pengendali angin?” Tanya Eva balik.

“Avatar yang biru.” Kata Sigit lagi.

“Sampe sekarang masih gak ngerti sama pohon kehidupannya itu.” Balas Eva.

“Itu sih…” Timpal Sigit.

“WOI!!” Gue menginterupsi.

Sejumlah inhuman maju menyerang kami dengan pukulan dan cakar-cakar mereka. Gue berkali-kali menangkis mereka dan menyerap energi dari tangan-tangan mereka. Gaya bertarung gue masih efektif untuk menahan setiap pukulan. Sayangnya, gue belum mendapat kesempatan menyerap energi dari mesin-mesin jaket yang mereka pakai. Ketika satu kesempatan itu ada, inhuman yang lain langsung menutupnya.

“Matiin mesinnya!” teriak gue ke Sigit dan Eva.

“Iya, Mas!” Jawab Sigit.

“Yes!” Eva menjawab belakangan.

Mereka berdua juga terlalu sibuk dengan pengeroyokan yang dilakukan kumpulan inhuman ini.

Begitu banyak serangan yang dilakukan oleh para inhuman. Energi yang gue serap masih belum ada apa-apanya, tapi kecepatan mereka menjadi masalah buat gue. Begitu lengah, tiga hingga empat pukulan mampu mereka daratkan ke wajah dan ulu hati gue.

Gue mau gak mau harus memaksakan stamina gue sendiri. Gue berkonsentrasi untuk mengunci satu inhuman dengan kecepatan yang masih gue miliki. Gue tempel satu dulu, lalu sedikit demi sedikit gue mampu menyerap energi dari mesin jaketnya.

Akhirnya, beberapa inhuman yang terpaku melawan gue sudah melemah. Gerakannya pun melambat. Saatnya finishing. Dengan nafas yang udah terengah-engah, gue menempelkan satu persatu tangan gue ke mesin jaket kendali.

Para inhuman tergeletak pingsan.

“Haaah… Haaaahhhh…” Gue jatuh terduduk.

Gue melihat Sigit dan Eva.

“Ingat stempelnya Kak Zul?” Eva berbicara kepada Sigit.

“Oke, kita bisa coba.” Balas Sigit.

Mereka berdua masing-masing membuat sebuah simbol aneh dengan telapak tangannya. Setelah telapak tangan mereka berpendar, mereka mengambil setiap celah terbuka untuk mencap semua mesin di jaket kendali. Begitu inhuman terakhir telah tercap simbol aneh itu, mereka membuat gerakan baru.

Mesin jaket tersebut perlahan hangus menjadi abu.

“Mantep juga sihirnya.” Kata Sigit sambil nyengir.

“Bikinan Kak Zul emang selalu hebat.” Jawab Eva.

“Besok-besok ajarin gue lah.” Wajah gue sudah basah dengan keringat.

Kami bertiga melanjutkan urusan untuk melepas semua jaket-jaket yang dipakai para inhuman ini. Gue menghitung jumlah total mereka ada 9 orang. Kemudian, kami kumpulkan mereka ke pojok ruangan. Nanti, kami akan mengarantina mereka di markas.

“Kita karantina dulu, apa lanjut jelajah?” Tanya gue.

Belum sempat kami membulatkan keputusan, sebuah portal terbuka. Flavus muncul terlebih dulu bersama satu lawannya yang baru saja tergeletak tak bernyawa. Sebuah anak panah baru saja lenyap ke kehampaan dari punggung si korban.

Lina masih di seberang portal, dia mundur perlahan sambil berkelahi dengan tiga orang berbadan besar.

“Guys!” Lina memanggil.

Gue dan Sigit bergerak maju menuju seberang portal. Gue langsung loncat ke atas tubuh satu pria berbadan besar itu. Gue memanfaatkan gaya dorong untuk membuat dia roboh. Dengan cepat, gue menyerap energi si pria tersebut hingga pingsan.

Sigit membuat perisai sihir di ujung kedua tinjunya. Dia memukul membabi buta, tapi gerakannya terkesan indah dan berpola. Dengan cepat pula, lawannya mimisan dan roboh. Di sisi yang lain, Lina mengerahkan fokusnya untuk melawan satu orang. Dia melakukan gerakan memutar, lalu mematahkan kedua lengan lawannya.

Selesai.

Setelah mengambil nafas, kami kembali ke tempat kami mengumpulkan inhuman. Kami berdiskusi, memberikan laporan lisan hasil dari penjelajahan kami masing-masing. Secara keseluruhan, sekarang yang masih harus dicari tinggal empat agen yang menghilang ke balik dinding tadi.

Portal terbuka lagi. Kelompok Erna tiba-tiba datang.

“Dani mana?” Tanya gue panik.

“Balik ke markas sama agen yang lain. Tinggal gue sama Osas yang jalan.” Jawab Erna.

Erna menyampaikan informasi yang dia dapatkan dari Nigeria. Rupanya, orang-orang yang kelompok gue lawan tadi memang inhuman yang dimanfaatkan Alan. Di sisi lain, orang-orang yang dilawan Lina tadi merupakan hasil obat-obatan percobaan dari perusahaan Roxxon.

“Jadi yang gue lawan tadi bukan inhuman?” Tanya Lina.

“Bukan, tapi mereka tetep berbahaya.” Jelas Erna.

Erna juga menjelaskan barang bukti yang mereka temui. Hasil analisis dari cetak biru yang mereka temukan belum ada, tapi ada catatan yang bisa dibaca. Kami pun akhirnya mengetahui apa tujuan Alan. Yaitu peluncuran misil bermuatan kristal terrigen ke beberapa kota terpadat populasi manusia. New York, Sao Paulo, London, Kairo, Abu Dhabi, Beijing, Sydney, dan Jakarta.

Alan juga mengindikasikan akan meluncurkan misilnya dari wilayah terpencil dengan keamanan terendah.

“Astaga! Timnya Mbak Puri lagi sana!” Sigit bicara terburu-buru

“Kita harus ke sana sebelum terlambat.” Erna mengusulkan.

“Yap, mau gak mau, gue harus pulang.” Eva membalas dengan muka datar.

Usai kami mengarantina para inhuman ke modul penahanan di markas, Eva memimpin jalan dengan membuka portal baru. Gue melihat matahari terbit dengan sangat indah di horizon. Panorama ini sering gue lihat di jepretannya Erna, langit yang berbatasan dengan permukaan air laut.

“Jadi, ini yang namanya Tonga?” Gumam gue.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat