Tanpa Nama Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 43

Ekspedisi ke Dalam Bumi

POV Hari

“Latihan udah kelar, Git?” Tanya gue.

“Mau gak mau harus selesai, Mas.” Sigit antusias.

“Kenapa?”

“Alan bergerak makin cepat dari perkiraan kita.”

Sigit menceritakan bahwa temannya yang berwajah Arab memiliki kemampuan merasakan ancaman lebih kuat. Hampir sama kuatnya dengan kemampuan mendeteksi bahaya si dokter yang ngejaga Sanctum Sanctorum di New York. Lalu si arab mengatakan kalau Alan semakin gencar menghimpun kekuatan.

“Dokter?”

“Yah pokoknya dia lah.”

Selanjutnya, gue mengambil sesi latihan yang ditawarkan Sigit selama beberapa jam ke depan. Gue meminta Sigit memproyeksikan energi dalam jumlah besar. Kemudian, gue ingin tahu seberapa besar energi yang sebenarnya bisa gue serap.

Muntah saat melawan Creepers di Semper gak boleh terjadi lagi.

***

Beberapa puluh jam kemudian..

Rapat dimulai lagi. Lina memimpin diskusi dan menyampaikan instruksinya dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

“Bagi tim menjadi 4. Tim Lina, Erna, Puri, dan Hari. Masing-masing harus ada penyihir, inhuman, dan anggota S.H.I.E.L.D. Tim menyusuri gua-gua yang diperkirakan masih aktif digunakan Alan. Tim yang menemukan Alan duluan akan membukakan portal bagi tim lain.”

Semua orang sangat serius saat ini. Sebelum menyampikan hal selanjutnya, Lina meminta kami saling berkenalan dulu.

“Sigit.” Kata Sigit.

“Eva.” Kata si perempuan eksotis.

“Hamid.” Kata si wajah arab.

“Osas.” Kata si ikal.

“Flavus.” Kata si kacamata.

Kami pun bergantian berkenalan, menyebutkan nama satu per satu. Berbeda dengan satuan kepolisian atau militer, tidak ada nama kode dalam kegiatan operasi kami.

“Oke, begini pembagiannya.” Lina menampilkan nama-nama kami di layar monitor.

Tim Erna:
Erna, Dani, Osas, 6 orang S.H.I.E.L.D. bersenjata

Tim Lina:
Lina, Flavus, 4 orang S.H.I.E.L.D. bersenjata

Tim Puri:
Puri, Hamid, 4 orang S.H.I.E.L.D. bersenjata

Tim Hari:
Hari, Sigit, Eva, 4 orang S.H.I.E.L.D. bersenjata

“Wizards, lead the team.” Lina menyuruh para penyihir menjadi pemimpin tim.

“Yes.” Jawab mereka bersama.

“Let’s move!”

Setiap penyihir membuat protalnya masing-masing ke tempat yang gelap gulita.

POV Eda

Gue mengemudikan mobil menuju kamar apartemen. Rivin duduk di kursi sebelah dengan muka gusar. Ekspesinya tidak ada berbeda dengan gue, hanya saja gue harus tetap konsentrasi untuk mengemudi.

Mengemudi dari Senayan hingga Depok, apalagi lewat jalan Antasari di rush hour seperti ini, tentu saja rasanya seperti bertahun-tahun lamanya. Gue berkali-kali menekan klakson dengan keras, tidak peduli kesalahan pengguna jalan yang mana. Di kepala gue sekarang isinya macam-macam.

Rivin pergi makan bersama pria lain. Meski pun gue lihat selesai dengan tidak baik-baik, tetap aja dia telah menyembunyikan rahasia besar dari gue. Kemudian, ini semua gue pahami ada hubungannya dengan obat penenang Rivin yang cepat sekali habis.

“Kita harus bicara sekarang. Aku bisa jelasin…” Rivin buka suara.

“Gak sekarang. Kepalaku pusing.” Potong gue.

“Aku bisa jel…”

“Pokoknya kita pulang dulu.” Solusi dari gue.

Gue gak tahan dengan keadaan bising jalanan yang melelahkan ini.

Hampir dua jam kemudian, kami baru sampai Depok. Kami tetap berdiri bersebelahan dalam diam ketika menaiki lift dan menyusuri lorong kamar. Tidak satu pun kata terucap lagi dari mulu Rivin atas permintaan gue.

Tibalah kami di kamar.

“Silahkan kalau mau mandi duluan.” Kata gue.

Rivin hanya mengiyakan kata-kata gue. Selanjutnya, gue biarkan dia mandi sendirian, sementara gue memandangi kotak obat milik Rivin dan milik gue sendiri. Kotak obat Rivin sudah kosong, sementara gue masih sisa kira-kira setengahnya. Perbedaan yang drastis.

Daripada menimbang-nimbang berat yang sudah jelas beda, gue beralih mengambil handphone dari kantong celana. Gue pandangi satu demi satu foto hubungan kami yang baru seumur anak ayam. Hanya ada keriangan di sana, tanpa beban.

Tiba-tiba saja, jempol gue bergerak membuka album foto yang berisi persahabatan kami berempat. Gue, Dani, Hari, dan Jamet. Setiap gambar yang menampilkan Dani rasa-rasanya tak bisa gue geser secepat gambar lain.

Satu persatu bayangan tentang kebersamaan gue dan Dani muncul di depan mata. Tembok putih di depan gue sudah seperti layar bioskop yang menampilkan tayangan-tayangan masa lalu. Objek pandangnya hanyalah Dani yang sedang tertawa, Dani yang sedang ngambek, hingga Dani yang sedang ralus-rakusnya makan.

Fix gue galau.

Terpikir di benak untuk menenggak banyak-banyak obat penenang. Tapi sebelum gue sempat berpikir panjang, Rivin telah selesai mandi. Dia secepat kilat berganti baju turtle neck favoritnya.

“Sekarang apa?” Tanya Rivin pelan.

Gue menenggak satu gelas air dari dispenser untuk sedikit mendinginkan kepala.

“Sekarang jelasin semua.” Gue meminta dengan tegas.

Rivin mulai menjelaskan. Semua dimulai ketika gue jalan-jalan ke Malang, hasratnya sempat tak terkendali. Waktu itu dia masih gak mengindahkan syarat dari Hari untuk rutin meminum obat penenang. Akibatnya, seorang rekan kerja yang bernama Putra memanfaatkan kondisi itu.

Putra menyukai Rivin, tapi menemui jalan buntu untuk mendapatkan hatinya. Berbekal foto-foto saat Rivin terangsang dan mencuri waktu untuk bercinta, dia sukses mengancam Rivin setiap hari. Putra pun mendapatkan tubuh Rivin sesuai keinginannya.

“Aku minta maaf, sayang….” Rivin mulai menjatuhkan air mata.

“Abis itu apa lagi?” Gue bingung harus apa.

Perasaan gue bercampur antara marah, cemburu, dan iba. Marah dan cemburu karena tubuh Rivin telah dinikmati orang lain. Iba karena kejadian itu di luar kehendak Rivin.

“Aku ngebela diri untuk nahan nafsuku…” Rivin menutup wajahnya yang sudah basah dengan air mata.

Gue masih mendengarkan. Cukup sulit juga mengikuti alur cerita perempuan yang menangis.

“Aku… Aku… disiksa… diperkosa… sakit…” Kata Rivin dalam tangis.

“Sorry sorry? Gimana?” Gue gak sanggup mencerna.

“Aku… minum obatnya banyak banget… Sampe aku gak ngerasain apa-apa lagi…” Tangis Rivin makin menjadi.

Sampai di sini gue akhirnya gak bisa berkata apa-apa lagi. Rivin menderita lebih dari apa yang gue bisa pikirkan.

“Tapi sekarang.. sekarang.. bukan masalah lagi…” Rivin memaksakan tersenyum.

Gue terus mendengarkan.

“Putra kena karma.. Kita bisa bareng lagi kok….” Jelasnya.

Gue memikirkan kondisi gue terdahulu. Gue juga sudah menikmati tubuh Dani, Sesil, Rivin, dan mantan gue waktu SMA ketika pertama kali ML. Gue gak berhak marah karena dia bercinta dengan orang lain. Gue harusnya jutsru prihatin karena ini merupakan satu kasus persis pemerkosaan. Gue harusnya melindungi Rivin.

Gue memantapkan diri mengambil kotak obat milik gue sendiri. Lalu, gue melangkah membuka jendela balkon. Gue buang kotak obat milik gue jauh-jauh sampai tak terlihat lagi. Gue dengar suara jatuhnya mengenai atap rumah orang.

“Kamu ngapain?” Rivin setengah melotot tak percaya.

“Kita gak perlu lagi obat-obat begini. Kalo ada apa-apa langsung aja ngomong sama aku. Aku belain kamu sampai mati.”

Yes! Sampai mati. Gue pernah dua kali merasakan hampir mati bersama Hari. Pertama, ketika di Jati Asih bulan Desember lalu. Kedua, kemarin saat di sekolahnya Kenia. Sensasi sampai mati rasanya sudah familiar di otak gue.

Rivin seketika memeluk gue.

Kami berdua berdiri, berpelukan erat, di samping balkon. Kehangatan pelukan Rivin berbeda dari kemarin-kemarin. Ada aura yang sama ketika bersama Rivin saat malam wisuda waktu itu. Semoga saha keputusan gue benar.

Dani cukuplah sebagai masa lalu.

Rivin menatap gue dalam-dalam. Dia perlahan memajukan bibirnya. Gue menyambut baik niat Rivin dengan ikut memajukan bibir. Kami berciuman lambat dan basah.

“I love you, Eda.” Kata Rivin di sela-sela ciuman kami.

“Aku juga cinta kamu. Rivina Azzahra.” Balas gue.

Gerimis bertamu pelan-pelan membasahi kota Depok. Malam yang tadinya panas perlahan menjadi sejuk cenderung dingin.

“Kasur yuk.” Kata Rivin.

“Gak sekarang. Kamu masih kurang horny. Ntar sakit.” Gue mengacak-acak rambut Rivin.

“Kalo gitu kelonin aku aja.” Rivin bernada manja.

“Aku mandi dulu ya.”

Rivin mengangguk. Kami akan baik-baik saja.

POV Erna

Kami berpisah dan berangkat bersama tim masing-masing. Aku bersama Dani, seorang penyihir berambut ikal dan berkulit hitam bernama Osas. Jumlah agen S.H.I.E.L.D. di tim kami lebih banyak dua orang karena aku tidak handal bertarung jarak dekat.

“Gelap banget.” Dani bergumam.

Semua orang mulai menyalakan lampu senter mereka. Berbeda dengan Osas, dia hanya menjentikkan jarinya untuk menghasilkan percikan cahaya.

“There is no signal here. Where are we?” Gue sama sekali tidak melihat dan mendengar adanya warna frekuensi seluler.

“We’re deep inside the cave.” Osas menjelaskan.

Kami berada di dalam gua. Gue juga sudah tau sejak kemarin kalau kami akan masuk ke dalam bumi.

“I mean, which country we are step on?”

“Rainforest of Nigeria, I think.”

“Nigeria?!”

Ya ampun, gue lagi di Nigeria.

“Thanks to God we are not in Wakanda.”

Gue gak tau Osas berguyon atau serius.

Kami berjalan dalam satu barisan menyusuri gua yang sempit. Interiornya hanya dihiasi stalaktit dan stalakmit berwarna kekuningan serta berkali-kali tetesan air. Jalur yang kami tapaki terus menurun dengan landai. Beberapa kali kami terkejut atas gangguan kelelawar, tikus, dan ular. Untungnya para agen sigap melindungi kami.

Suatu ketika, jalur menjadi buntu. Tapi, bukan karena ini adalah ujung gua, melainkan ada jurang yang sangat dalam sampai-sampai senter tak dapat mencapai ujungnya. Aliran air di dekat kaki gue berubah menjadi air terjun kecil yang bahkan suara jatuhnya kurang nyaring.

Suar merah yang dijatuhkan agen pun hanya terlihat berupa titik kecil di bawah sana.

“This is the dead end.” Kata salah satu agen.

“No, we step down.” Balas Osas.

Osas membuat segel baru dengan ayunan tangannya. Sebuah piringan besar seperti hologram terbentuk dengan warna menyala semerah api. Ukurannya cukup besar untuk dinaiki lima orang. Rombongan pertama yang turun diputuskan adalah empat orang agen bersama Dani dan kamera lebahnya.

“We’re looking for strange things. This is the one.”

Osas membuka percakapan selagi menunggu elevator piringan menjemput kami sebagai rombongan kedua. Dia menjelaskan ciri aneh dari jurang ini. Pinggirannya terbentuk sangat halus, seperti digali dalam satu hentakan.

“So, do you mean Alan’s here?” Tanya gue.

“At least, we found the sign of his base.”

“Yeah, a base without cellphone signal.” Gue berkelakar.

Dua agen yang tergabung dalam rombongan kedua terus berjaga-jaga, menunggu kedatangan Alan atau hewan-hewan berbahaya lainnya. Mereka berdua sama sekali tidak bawel, bahkan tidak mau diajak bicara. Sangat fokus, atau terlalu kaku untuk orang seperti gue.

Piringan terlihat naik kembali untuk menjemput kami. Kami mulai bergerak turun dengan lambat. Kami menyorot seluruh sisi dinding tebing. Persis seperti yang dikatakan Osas, dindingnya sangat halus, seperti buatan.

Kami sampai di dasar jurang. Gue menyenter ke sudut-sudut dinding. Di sini kondisinya benar-benar seperti ruangan buatan manusia. Gue rasa ukurannya cukup besar, seperti seukuran gudang di Semper dengan beberapa partisi ruangan yang lebih kecil.

Air terjun yang jatuh dari atas tepat masuk ke bak penampungan yang sepertinya sengaja dibuat untuk itu. Alirannya mengarah ke sebuah saluran tertutup di bawah dinding. Selebihnya, ruangan

Dani mengutak-atik gadgetnya.

“Electric switch on the left. But…” Kata Dani.

Seorang agen bergerak ke dinding sebelah kiri kami untuk menyalakan sakelar. Begitu dia menyentuh sakelar, tangannya terbakar seketika.

“AAAHH!! IT’S HOT!! HOOTT” Si agen teriak gak karuan.

“I want to said wait!” Dani telat.

Gue berinsiatif pertama kali menyiduk air dari bak menggunakan kain dari dalam tas agar api di tangan si agen segera padam. Para agen dengan sigap berlanjut menyeret temannya ke bak penampungan air untuk merendam bagian tangan yang terbakar tersebut.

“There’s trap.” Osas menyimpulkan.

“Many traps!” Dani baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

Dani menunjukkan gadgetnya yang menayangkan tampilan dari kamera lebah dengan mode inframerah. Beberapa jebakan tampak tersembunyi di berbagai celah di dinding. Pemicunya tersembunyi bisa di mana saja, dan bisa terpicu oleh apa saja.

“Ini baru jebakan fisik. Belum ditambah jebakan sihir.” Dani berkata personal kepada gue.

“Jadi kita nyangkut di sini?” Tanya balik gue.

Osas mengambil tiga bola tenis besi dari tas pinggangnya. Dia menggulirkan bola tersebut masing-masing menuju satu ruangan partisi kecil. Bola tersebut menyala dan menyerap seluruh jebakan sihir yang ada.

“That’s my relic.” Osas menepuk kedua telapak tangannya seolah ini pekerjaan yang mengotori tangan.

Osas menjelaskan bahwa seluruh jebakan sihir sudah menghilang. Selanjutnya, Dani ambil bagian dalam pamer teknologi. Dia menggerakkan separuh kamera lebah menuju seluruh jebakan fisik yang terdekteksi. Setelah kamera lebah terebut menempel pada jebakan, dia menekan tombol self destruction.

Seluruh jebakan fisik berupa panah, pedang, tombak, dan lain-lain terbakar dan hancur seketika. Dari posisi kami, ledakan tersebut tampak seperti kembang api yang terbakar satu persatu, menghasilkan kelap-kelip cahaya dalam kegelapan.

“That’s my relic.” Ledek Dani.

“Not Bad.” Osas memajukan bibir bawahnya.

“Geblek! Ngerusak aset aja ah lu.” Timpal gue.

“Masih ada setengahnya kok.” Dani gak terima.

Setelah dipastikan semua kondisi dalam keadaan aman, kami benar-benar menyalakan sakelar. Seluruh ruangan menyala dengan cukup penerangan dari lampu-lampu neon yang tergantung setiap dua meter. Kami menduga listrik di sini berasal dari aliran air di ruangan tertutup, karena ada suara generator di balik dinding sana.

Kami mulai masuk ke setiap partisi ruangan. Sayangnya, tidak ditemukan apapun kecuali meja kerja yang dibiarkan kotor. Para agen tampak kecewa dengan ekspedisi ini.

“Nothing important here.” Kata salah satu agen.

“Not at all. Can you smell it? It’s gun powder.” Osas menggosok jarinya ke lantai.

“I found inhuman husk too.” Gue menunjukkan barang bukti di dalam ziplock.

Jadi, kami menemukan sisa-sisa bubuk mesiu dan sekam inhuman di gua ini. Artinya, Alan gak sendiri. Dia seenggaknya bersama ahli senjata dan inhuman. Jumlah pastinya kami belum bisa mengetahuinya. Sidik jari sisa-sisa barang bukti organik seperti rambut, gigi, air liur, urin, atau feses menjadi penting saat ini.

Kami mencari lebih detail lagi… hingga akhirnya menemukan sebuah cetak biru.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat