Tanpa Nama Part 43

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 43 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 42

Bakar-Bakaran

Beberapa jam sebelum aksi Dani dan Erna…

POV Rivin

Sebuah sapaan dari Putra kembali berbisik ke dalam telingaku.

“Jam 4 nanti ke gudang.” Katanya.

Aku tak membalas. Putra pun tahu, meski pun tak membalas, aku akan tetap menemuinya. Ini semua pasti terjadi karena ancaman Putra berhasil membuatku tetap bungkam dan menuruti apa maunya.

Rutinitasku hari ini biasa saja. Pekerjaan pun selesai dengan sempurna. Di bawah ancaman Putra pun, aku tidak gelisah. Semua berkat obat pemberian temannya Eda itu. Obat penenang itu sangat manjur dan tidak membuat ketagihan. Hanya saja, aku terlalu berniat untuk menekan segala emosiku sepekan belakangan ini.

Jam empat pun tiba. Putra menantiku di lorong yang jarang dilewati orang.

“Cepet, aku mau pulang.” Kataku.

“Haha, gue seneng nih ditolak begini.” Balas Putra

Putra menyuruhku langsung membuka celana. Dia turut membantu memakaikanku sebuah penutup mata.

“Eh, jangan macem-macem!” Aku sedikit membentak.

“Berisik. Pake aja.” Putra membentak balik.

Kini posisiku sudah menungging dan berpegangan kepada sebuah rak. Tanpa foreplay, Putra langsung memasukkan penisnya ke dalam vaginaku yang masih kering. Pun, kalau pun foreplay tetap dilakukan, aku tidak akan merasakan rasakan karena konsumsi obat penenang.

“Ahh.. gila.. peret kaya kemarin.” Putra mulai mendesah.

Dia menikmatinya.

Setiap sodokan penis Putra di dalam liang vaginaku alhasil hanya berbuah rasa sakit. Tapi itu lebih baik daripada aku terus menerus menikmati permainan ini. Aku jelas tidak boleh mengkhianati Eda.

Dalam kondisiku yang tidak dapat melihat, putra semakin mempercepat gerakannya. Hal itu otomatis membuatku semakin merasakan sakit sampai-sampai aku tidak bisa menahan eranganku lagi.

“Put, nghh… pelan, sakit banget.” Aku memelas.

“Berisik.”

“Puut… Aduhh…”

Putra sama sekali tidak mengindahkanku.

Tiba-tiba aku merasa Putra memasukkan satu jarinya ke dalam anusku. Hentakkan jarinya yang tiba-tiba membuatku terlonjak ke depan. Seketika penis putra terlepas dari dalam vaginaku.

“Bangsat!” Umpat Putra.

“Putra… Please…” Air mataku mulai membasahi penutup mata.

“Nungging lagi buruan!”

Putra menjambak rambutku, menekan kembali badanku agar menungging, lalu memasukkan penisnya lagi. Satu jarinya kini ikut bermain ke dalam anusku tanpa bisa kuhindari lagi.

Isak tangisku semakin menjadi.

“Pantat lu masih perawan ya, hah?” Putra mengoceh.

Aku tidak menjawabnya. Aku tahu, kalau aku jawab maka dia akan melakukan sesuatu yang lebih di luar dugaan.

“Gak jawab. Berarti iya kan.” Oceh Putra lagi.

“Please, jangan…” Aku hanya bisa memelas.

“Oke, gak hari ini. Sekarang gue mau ngecrot di dalem aja.”

Aku tidak perlu membalas kata-katanya lagi. Permohonanku pasti tidak akan diturutinya. Aku beruntung sekarang bukanlah masa suburku dan lusa aku akan datang bulan. Aku hanya berharap penyiksaan ini segera berakhir untuk selama-lamanya.

Putra kembali mempercepat goyangannya.

“Ahhh… anjing, peret bangethh..” Putra mendesah.

Aku bersyukur karena satu gaya sepertinya sudah cukup bagi dia. Meski pun sakit dan perih, aku bisa merasakan permainan hari ini akan segera berakhir.

“Rivin, gue keluaar.. AAHH!!”

Liang vaginaku terasa hangat, bahkan hingga bagian yang lebih dalam dari itu. Aku paham, semburan sperma Putra telah menembus rahimku. Tapi aku harus bersikap tidak acuh. Setiap kemarahan, pemberontakan, atau apa pun akan membuatnya semakin senang.

“Cukup buat hari ini. Gue lagi sibuk.” Putra menaikkan celananya sendiri.

Setelah memakai celana, aku bergegas keluar dari gudang. Tangisku akhirnya lepas setelah Putra pergi dan hilang dari pandangan.

Aku pergi keluar area kantor, menyebrang jalan, dan menunggu angkot dengan perasaan gundah dan selangkangan yang perih. Kupakai masker penutup mulut untuk menutupi wajah sedihku. Selagi menunggu angkot, Putra tiba-tiba menelepon. Dia bercerita tentang enaknya permainan tadi dan akan melakukan hal yang lebih pada kesempatan selanjutnya.

Aku menangis.

***

Dua minggu kemudian…

POV Hari

Sekarang sudah minggu terakhir Maret. Sigit berkali-kali minta maaf lewat chat karena mundur dari waktu targetnya. Gue pun berkali-kali berusaha meyakinkan Sigit agar fokus aja sama latihannya.

Gue gak menyangka Dani dan Erna akan menemukan barang bukti saat melakukan urusan ceweknya. Gue awalnya mengira itu adalah narkoba lagi, tapi kedua cewek ini meyakinkan itu cuma obat perangsang. Mau narkoba atau cuma perangsang, tetep aja ada kristal terrigen di dalamnya.

Kasus kematian akibat orang yang membatu meningkat selama dua minggu belakangan. Minggu lalu, ditemukan dua jasad, minggu ini empat jasad.

“Udah enam jasad selama dua minggu. Gila, nggak.” Kataku.

“Yah.” Jawab Erna singkat dengan membuka kedua telapak tangannya.

Dari hasil post mortem, kami mengetahui kebiasaan perilaku seluruh korban semasa hidup adalah seks bebas. Tapi, gak satu pun memiliki rekam jejak memakai narkoba. Mungkin benar, obat itu murni adalah obat perangsang.

Berangkat dari berbagai info, pencarian pabrik obat perangsang justru terus menemui jalan buntu. Sudah dua kali kami terlambat menggerebek karena gudang tempat mereka beroperasi selalu lebih dulu kosong. Rasa-rasanya mereka belajar banyak dari pengalaman di Semper.

Siang ini kami menerima laporan orang yang membatu lagi.

“Ke mana lagi kita?” Dani keluar dari kamar mandi.

“Bintaro sektor tujuh.” Jelas gue.

“Buset, jauh.” Balas Dani.

Erna masih bersiap-siap di salah satu kamar.

“Terus mau gimana lagi.” Jawab gue.

Sepeda motor kami meluncur menyusuri jalan raya di tengah teriknya matahari. Belakangan ini, hujan biasanya akan mengguyur saat sore. Tapi tugas tetaplah tugas, kami harus tetap jalan tak peduli apa cuacanya.

Jam satu siang, kami sudah sampai di salah satu rumah orang kaya. Rupanya yang melapor adalah seorang pembantu rumah tangga. Majikannya, wanita berumur 30an awal ditemukan membatu seorang diri di depan kamar mandi. Kekasihnya menghilang, padahal pagar depan rumah yang tinggi masih tertutup rapat. Pun, gak ada laporan orang pergi dari satpam komplek dan mobilnya masih terparkir rapi di garasi.

Gue dan Dani menyisir seluruh ruangan menggunakan perlengkapan S.H.I.E.L.D., sedangkan Erna saat ini mengulik informasi dari beberapa narasumber di sekitar rumah bersama seorang polisi.

“Kalo kasus membatu makin banyak gini, orang bisa-bisa takut sama inhuman.” Ucap gue.

Dani tetap fokus pada alat pemindai kristal terrigen dan gue dengan kuas-kuas pencari sidik jari. Beberapa kali dia tetap membalas obroal gue, tapi gak panjang. Ibu pembantu rumah tangga tetap menemani kami menunjukkan sudut-sudut rumah yang berubah beberapa jam belakangan.

Erna dan pak polisi datang dari luar rumah.

“Nihil, gak ada bukti orang keluar-masuk sama sekali.” Jelas Erna.

“Tim forensik udah datang.” Pak Polisi menambahkan.

Kami harus cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Sebelumnya, menemukan sisa-sisa kristal terrigen sangat mudah. Biasanya bubuk putih akan ditemukan di sekitar jasad orang yang udah membatu, lalu masalah selesai. Tapi kali ini sangat berbeda, gak ada barang bukti dan ditambah ada orang yang menghilang.

Nyatanya, hingga tugas kami overlap dengan tim forensik. Kristal terrigen tetap gak ditemukan.

“Dek.” Panggil seorang tim forensik yang sedang bekerja.

“Ya?” Gue rasa mereka akan mengusir kami.

“Ini bekas gosong apa ya?”

Dia ternyata menanyakan bekas gosong yang menggaris di atas pintu kamar korban.

Bekas gosong adalah hal baru dari enam kasus yang telah kami tangani. Dani dan Erna juga gak memiliki petunjuk sama sekali. Bahkan, pernyataan si pembantu juga memperkuat itu adalah barang bukti karena bekas gosong itu belum ada tadi pagi.

POV Rivin

Setelah seminggu aku menstruasi, atau bahkan setelahnya, Putra sama sekali tidak menggangguku. Putra sama sekali tidak menegurku terkecuali urusan pekerjaan. Di satu sisi aku turut senang, namun di sisi lain aku takut dia sedang merencanakan sesuatu yang di luar batas.

Setelah aku terlalu larut dalam euforia, tiba-tiba saja Putra memanggilku di tengah pekerjaan.

“Vin, ada waktu?” Sapa Putra.

Aku terdiam sejenak, bulu kudukku berdiri. Akhirnya akan terjadi lagi kebiasaan Putra.

“Sekarang?” Tanyaku.

“Kalo lagi sibuk, ya nanti sore boleh.”

“Sorry, maksudnya?” Gue mencoba mengonfirmasi.

“Yaudah, nanti sore gue tunggu di depan ya.” Putra pergi meninggalkanku.

Sepertinya ini bukan ciri seorang Putra. Putra tidak akan meminta izin, dia akan langsung memerintah ke mana dan kapan gue harus datang untuk memenuhi nafsunya. Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Dua kaplet obat terakhir aku tenggak untuk mencegah hal-hal yang diinginkan Putra.

Tepat setengah lima sore, Putra menungguku di depan kantor, lengkap dengan pakaian ala motornya.

“Nih, helm.” Dia memberikanku satu helmnya.

“Mau ke mana?” Tanyaku.

“Kata anak-anak, sate taichan enak tuh. Kita ke sana ya.”

Aku terkaget dengan perkataan Putra. Tujuannya jelas bukan ke gudang, bukan ke hotel, atau pun pulang ke kosan gue, melainkan ke restoran. Apa sebenarnya di rencanakan Putra.

Motor melaju hingga kami tiba di Plaza Senayan. Putra memandu jalan hingga kami tiba di sebuah restoran. Setelah memesan makanan, Putra memulai pembicaraan.

“Vin, gue minta maaf ya.” Kata Putra.

Gue mengernyitkan dahi.

“You know, gue kena batunya.” Kata Putra lagi.

Putra menceritakan bahwa dia terkena musibah usai kejadian di gudang dua minggu lalu. Waktu itu, dia mencoba mengirimkan gambar ke gue lagi sebagai ancaman. Tapi sebelum terkirim, tangannya terbakar karena handphonenya meledak.

Kejadian itu berulang hingga tiga kali dengan cara yang berbeda-beda. Putra pun menunjukkan bekas luka bakar yang lumayan parah itu. Atas dasar ketakutannya, Putra menghapus semua fotoku beserta semua back up data yang dia punya. Dia bersumpah, semua barang bukti telah lenyap dan belum ada satu pun yang disebar.

Akhirnya aku paham kenapa dia tidak lagi menghubungiku dan selalu memakai kemeja lengan panjang dua minggu belakangan.

“Intinya, gue sadar kalo gue salah, Vin.” Putra mengakhiri ceritanya.

Terima kasih kepada obat terakhir yang gue minum tadi siang, gue gak merasakan simpati apa-apa kepada Putra.

“Kenapa sih lu begitu?” Gue hanya memberikan pertanyaan.

“Gue dari dulu suka sama lu, Vin. Temen-temen kita juga udah pada tau kok.”

Bola mata gue berputar dan membuat gestur gak percaya dengan penyataan Putra.

“Vin, lu boleh gak percaya, tapi ini beneran.” Jelas Putra lagi.

Sebelum obrolan melenceng lebih jauh, makanan pun datang. Kami lanjut bercerita sedikit-sedikit sambil menghabiskan tusuk demi tusuk daging sate ini. Rasa satenya asin, dan lebih banyak pedasnya. Sangat berbeda dari sate ayam biasa meski pun sama-sama dari daging ayam.

“Gue mau memperbaiki hubungan kita.” Putra kembali membuka obrolan.

“Gila lu ya. Lu udah ngerusak gue, Put.”

Beberapa suap lontong dan tusuk terakhir diselingi dengan berbagai harapan Putra untuk memperbaiki apa yang telah dia lakukan. Berkali-kali pula gue menolak apa yang Putra inginkan. Gue hanya mau mimpi buruk ini selesai dan kembali nyaman bersama Eda.

Ngomong-ngomong soal Eda, kami jadi jarang bercinta. Aku tidak bisa memberikan kenikmatan bercinta padanya karena pengaruh obat penenang. Meski pun begitu, dia tetap menjadi seorang yang ramah. Eda masih mau tidur berdua bersama dan memelukku hangat.

Tapi aku justru lebih takut dengan Eda yang seperti itu. Bisa aja dia akan meledak sewaktu-waktu, apalagi kalau dia tahu rahasiaku.

“Vin, dengerin gue.” Putra membuyarkan lamunanku.

“Apa lagi?”

“Ayo kita nikah.”

Putra berkata dengan wajah seriusnya. Kepalanya dimajukan, tatapannya tajam berupaya menusuk bola mataku, dan wajahnya tidak ada aura seram seperti biasa. Tapi sekali lagi, aku tidak bersimpati sama sekali.

“No way. Gue punya pacar.” Gue menolak tegas.

“Tapi gue serius.”

“Dan gue gak mau. Kelar.”

Putra terpaku dengan kata-kataku barusan.

“Pacar lu baru lulus kan? Dia bisa apa sih? Gue bisa kasih lu…”

“Gak usah ngejelekin orang lain ya. Diri sendiri aja tabiatnya masih jelek.”

aku agak menaikan nada dan intonasi bicara kepada Putra. Gue memperhatikan dia, sudah pasti dia akan berbicara kotor setelah ini. Tapi, setelah beberapa waktu, tidak ada kata-katanya yang keluar meski mulutnya berkali-kali ingin mengeluarkan suara.

“Udah? Gue pulang duluan, dan jangan dekat-dekat gue lagi.” Aku sukses mengancam untuk pertama kalinya.

Aku menaruh uang cash di atas meja untuk membayar makanan. Kemudian, aku pergi meninggalkan Putra sendirian. Aku melangkah menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Setelah menekan tombol turun, terdengar suara orang terbatuk di belakang.

Kugeser badan agar memberinya jalan untuk menekan tombol.

Orang itu terbatuk lagi, rupanya bukan tombol lift tujuannya. Pikiranku langsung terlintas bahwa Putra lah yang mengikuti hingga ke sini.

“Putra! udah gue bilang ya…”

DEGG.

Wajah Eda datar menatapku. Kelopak matanya sayu. Dia marah dalam diam.

POV Hari

Sore harinya kami membawa semua barang bukti ke markas cabang. Quinjet mengantar kami sekaligus mengangkut kedua motor milik kami. Di saat seperti inilah, gue rindu dengan portal yang dibuat Sigit karena kepraktisannya.

Sesampainya di markas, semua orang sudah berkumpul untuk rapat.

“Kayanya setiap gue dateng selalu mau rapat deh.” Kata gue.

“Justru karena lu dateng, jadinya rapat.” Jawab Lina.

Beberapa waktu kemudian, sebuah portal terbentuk. Sigit datang bersama beberapa rekannya, termasuk seorang perempuan berkulit eksotis. Kuhitung, Sigit membawa total empat orang. Kira-kira mereka semua berpenampilan siap perang dengan pakaian biksunya yang serba merah.

“Sigit!” Sapa gue.

“Mas!” Sigit balik menyapa.

“Waah, Sigit, lama gak ketemu.” Dani memeluk Sigit.

Temu kangen kami berlangsung singkat. Erna pun tak tampak menghampiri Sigit, melainkan langsung menghampiri si perempuan eksotis. Gue menyempatkan diri menghampiri mereka.

“Kalian saling kenal?” Tanya gue.

“Eh, nggak kok.” Jawab Erna.

Erna bertingkah kagok.

“Everyone, comes here.” Pimpinan necis memanggil.

Kami semua sudah berkumpul di ruang rapat. Si pimpinan necis menyampaikan kalimat pembuka rapat. Selanjutnya, dia menyampaikan kebanggannya bahwa S.H.I.E.L.D. bisa beraliansi dengan kelompok penyihir.

“Just for awhile, dude.” Ledek seorang teman sigit yang berkacamata.

“And keep it secret from your director.” Tambah si perempuan eksotis.

Gue lanjut menyampaikan temuan kami di bintaro berupa sebuah garis gosong di pintu kamar korban.

“What kind of evidence is that?” Si pimpinan bertanya.

“Lihat ini.” Sahut Sigit.

Sigit memakai cincinnya, lalu membuat portal tepat di celah pintu ruang rapat. Percikan apinya berputar menggesek dinding dan bibir pintu hingga menghasilkan kobaran api kecil. Usai Sigit menghilangkan kembali portalnya, seorang rekannya yang berambut ikal menyemprotkan tabung APAR untuk mencegah kebakaran.

Semua orang memerhatikan bekas kobaran api yang membekas di pintu. Tanda gosong membentuk garis seperti temuan kami di Bintaro.

“Artinya…” Kata gue.

“Yes, Alan came.” Puri memotong.

Terdengar kegaduhan di ruang rapat yang bersumber dari orang-orang S.H.I.E.L.D.

“But, for what?” Tanya si pimpinan necis lagi.

“Have you found the man’s body?” Tanya si perempuan eksotis.

“Oh, my….” si pimpinan menepuk jidat.

Kayanya gue nanti harus berkenalan dengan semua orang di sini. Menghafal ciri-ciri mereka aja gak akan ngebantu waktu berantem nanti.

Ngomong-ngomong, si perempuan eksotis menduga bahwa jasad laki-laki yang belum kami temukan merupakan inhuman. Dia gak membatu seperti si pemilik rumah, melainkan mengalami proses terrigenesis. Selanjutnya, dia langsung dijemput Alan, pastinya untuk dijadikan pasukan.

“That man may be the dangerous inhuman. I can feel it.” Kata rekan Sigit yang bermuka arab.

Sigit menerangkan bahwa tim riset mereka di Kamar Taj telah berhasil menemukan tempat Alan bersembunyi. Tempatnya memang sulit ditemukan karena berpindah-pindah. Tapi ada satu pola yang selalu sama, yaitu Alan selalu membuat tempat persembunyian di gua alam. Di kedalaman bumi.

“Okey, when we can start?” Tanya pimpinan.

“As soon as possible.” Jawab perempuan eksotis.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat