Tanpa Nama Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 41

Cewek-Cewek Beraksi

POV Erna

Selasa, 7 Maret, lima hari udah berlalu setelah interview dengan si Jeepers Creepers. Kami pun kembali dalam rutinitas harian dan hanya menanggapi respon terhadap adanya terrigenesis. Tapi, kami gak bisa bergerak cepat tanpa bantuan portal Sigit. Dengan motorku dan satu motor lagi yang baru dibeli Hari, kami hanya mampu mengcover wilayah Jakarta.

Menyusuri sampai ke Cibodas, Cikampek, atau Serang dalam waktu singkat? Mustahil, apalagi saat hari-hari libur. Untungnya, belum ada insiden terrigenesis atau pun tanda-tanda keberadaan Alan.

Sore ini kami bertiga, gue, Dani, dan Hari hanya kumpul-kumpul di penthouse. Hari sendiri baru aja selesai latihan dengan samsak tinju di ruang sebelah.

“Kapan manggung lagi, Na?” Hari menenggak air mineral, menghampiri kami.

“Hari minggu. Ada acara Kementerian gitu.” Gue sembari mengambil remot tivi.

“Lagu baru?” Dani giliran nanya.

“Ada.”

Anwar memang gila. Baru beberapa hari sejak pulang dari Malang, dia udah bisa bikin lagu. Padahal, Anwar gak jago-jago banget soal musik. Kuliahnya aja bareng gue dan bukan jurusan seni atau musik.

Minat Anwar dalam bidang bermusik beruntung selalu didukung dan ditemani Tika. Mereka memang udah cocok deh. Jennifer pun sebagai frontman juga selalu bisa memberikan interpretasi yang baik atas maunya Anwar.

“Buatan lu?” Dani nanya lagi.

“Anwar.” Gue mengganti channel tivi lagi.

“Ah, pasti ada bantuan elunya.”

Gue sendiri sebenarnya gak terlalu banyak mengacak-ngacak. Bagian gue cukup mendengarkan instruksi Anwar. Gebuk-gebuk drum bahkan gue gak terlalu jago. Tapi, semenjak menjadi inhuman yang mampu mendengar dan melihat macam-macam frekuensi dalam berbagai warna, gue bisa tau mana suara musik yang enak, mana yang nggak.

Musik berasal dari rangkaian frekuensi berbeda dengan tonal, lalu masuk ke telinga. Impuls dari saraf pendengaran yang diteruskan ke lobus temporal itu gak bisa diganggu gugat, kecuali ada gangguan atau penyakit. Hasilnya, otak tau mana yang merdu dan nggak.

Sebuah irama musik biasanya akan dibilang enak kalau udah dua atau tiga kali didengarkan karena otak terhabituasi. Tapi, pasti lebih bagus kalau bisa memberikan kesan baik saat pertama kali didengar. Di situlah porsi gue dalam bandnya Anwar.

Gue hanya memberi saran ke Anwar, mana nada yang enak didenger dan mana yang nggak. Atau dalam pengelihatan inhuman gue, mana frekuensi yang berwarna indah dan enggak.

“Minuman abis lagi.” Hari menenggak botol terakhir.

“Sorry sorry.” Dani meminta maaf.

Kalau logistik habis, pasti Dani pelaku utamanya.

“Minta beliin gojek aja lah.” Dani malas-malasan.

“Gue mau sekalian peregangan, jalan kaki. Ikut?” Hari memberi alternatif.

Gue dan Erna menggeleng. Sekarang udah sore, mendung, dan kami memang sedang malas.

“Yaudah.”

Hari pergi keluar. Kami tinggal berdua di penthouse ini. Dani dan gue bergantian mngoceh soal apapun, mulai dari pekerjaan S.H.I.E.L.D., pekerjaan normal, suasana kampus, hingga grup-grup whatsapp.

Gue dan Dani tergabung dalam tiga grup whatsapp yang sama. Grup angkatan, grup UKM jurusan, dan grup Dadakan Lebih Seru. Dari ketiga grup ini, grup Dadakan menjadi paling sepi. Belum ada rencana jalan-jalan lagi setelah dari Malang. Dua grup lainnya penuh dengan info-info lowongan pekerjaan untuk freshgraduate.

Kadang-kadang, Anwar suka ngetroll di grup angkatan dengan mengirim meme lucu. Kelakukannya itu lah yang bisa tiba-tiba membuat grup rame dari sore sampe tengah malam.

“Ngomong-ngomong gambar…” Gue teringat sesuatu yang kemarin terlupa.

Waktu ada di mobilnya Eda, ada sekelebat frekuensi dengan gambar yang melintas di depan mata gue. Frekuensi itu berwarna agak violet, dan ketika gue fokuskan ternyata berupa gambar mesum.

“Gue ngeliat gambar Kak Rivin.. ehmm, telanjang.” Jelas gue kepada Dani.

“Wajar dong. Kak Rivin ngirim ke Eda, ya kan.” Dani terkesan cuek.

“Bukan.”

Arah terkirimnya pesan itu bukan ke arah Eda. Gue masih ingat dengan jelas Eda memegang handphonenya terus, dan tangannya selalu lekat dengan setir atau dashboard. Pesan yang gue lihat itu mengarah ke pintu depan sebelah kiri.

“Ke hapenya Hari maksud lo?” Dani membetulkan posisi duduknya.

Gue berhasil mendapat perhatian Dani.

“Bukan, bukan. Ada hape lain yang geletak di pintu kiri.” Gue menolak hipotesis Dani.

“Gimana? gak ngerti gue.” Dani menggeleng-geleng.

Gue mencoba menganalisis sambil bercerita. Pagi itu Eda bilang menghampiri kami setelah mengantar Kak Rivin ke tempat kerjanya. Karena mereka bukan tipikal hubungan sopir-majikan, maka Kemungkinan besar Kak Rivin duduk di bangku depan.

“Jadi menurut lu itu hapenya Kak Rivin?” Dani mengernyitkan alis.

Gue mengangguk, dan menambahkan satu kalimat yang baru aja gue ingat mengiringi terkirimnya foto itu. Kalimatnya adalah, ‘nanti malam lagi ya, sayang.’

“Eda ngirim ke kak Rivin?” Dani bertanya terus.

“Nah, itu dia. Pengirimnya bukan dari Eda.”

Gue memberi hipotesis baru.

“Eh, lu yang bener? Kak Rivin selingkuh, gitu?”

Gue gak tau gaya hidupnya Kak Rivin seperti apa. Tapi, berdasarkan tingkah laku dan gaya hidupnya semasa kuliah, gue gak yakin Kak Rivin tipikal seperti itu. Asas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan.

“Bisa iya, bisa nggak. Tapi lu penasaran gak?” Gue memberi Dani opsi.

“Nggak juga sih.” Jawab Dani.

“Tuh kan lu sendiri ragu-ragu.”

Gue berusaha mencari tahu apakah Dani ingin membantu Eda. Gue tahu Dani tetap ingin memberikan yang terbaik buat Eda. Meskipun mereka bukan sepasang kekasih lagi, seenggaknya orang yang baik akan tetep ngebantu temannya sendiri.

“Boleh lah kita periksa.” Dani akhirnya setuju.

“Kapan?” Tanya gue.

“Lebih cepet lebih baik.”

“Kalo gitu sekarang aja.”

Di depan pintu, Hari baru saja kembali dari minimarket dengan seplastik besar minuman dan makanan. Kami yang memberikan kesan terburu-buru dianggapnya seperti ada sebuah misi dadakan. Untungnya, Dani bisa memberi alasan kalau ini adalah urusan privasi cewek.

Siapa sih yang bisa menolak alasan itu.

Menjelang maghrib, gue dan Dani tiba di depan kantornya Kak Rivin di daerah Jakarta Timur. Sore ini, mengikuti Kak Rivin adalah langkah pertama yang bijak. Gue bisa membaca pesan-pesan yang yang di terimanya asal jaraknya gak terlalu jauh. Sementara itu, Dani secara visual memerhatikan orang per orang yang keluar dari kantor tersebut. Siapa tau salah satunya adalah Kak Rivin.

Kami berdua sekarang sedang berada di trotoar, di antara pedagang kaki lima dan kumpulan ojek online yang menunggu penumpang.

“Itu dia!” Dani menunjuk seseorang yang baru aja keluar.

Kak Rivin keluar sendirian dengan setelan batik, celana bahan, dan sweater. Dari kejauhan, wajahnya tampak lelah atau sedih. Kami sama-sama melihat dia menyebrang jalan, lalu menunggu angkutan umum.

“Ada wa lagi?” Dani bertanya.

“Ada.”

“Siapa yang ngirim?”

“Sebentar…. Kak Rivin ngetik nama Putra… Kenal gak?”

Dani menggeleng gak yakin. Putra adalah nama yang pasaran. Bisa jadi itu adalah teman kuliah, kerja, atau teman sekolahnya. Atau mungkin juga bapaknya. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Oleh karena itu, kami tetap harus memata-matainya.

Kak Rivin menerima telepon.

“Dari siapa tuh? Eda?” Dani bertanya terus.

“Bukan. Tunggu dulu.”

Gue fokus mendengarkan percakapan mereka. Kepala gue tertunduk, sejenak melupakan Dani dan suasana sekitar. Di telinga gue, kini hanya lantang terdengar percakapan dua orang yang berlawanan jenis.

Nada bicara Kak Rivin terdengar seperti orang panik, sedangkan peneleponnya bersuara lelaki, terdengar antusias, dan cenderung mengintimidasi Kak Rivin. Isapan ingus Kak Rivin kerap kali terdengar. Kemudian, dalam satu perdebatan, Kak Rivin dengan jelas melafalkan nama Putra.

“Ini Putra!” Gue melotot melihat Dani.

“Cari, cari!”

Gue dengan cepat segera mencari lokasi penelepon dengan mengikuti arah pita frekuensi dari hape Kak Rivin. Kak Rivin sendiri masih berdiri tegak di seberang jalan. Gue rasa dia gak fokus kalau angkot yang satu tujuan dengannya udah lewat dua kali.

Gue menghilangkan fokus suara-suara. Mata gue menyipit, memastikan pita frekuensi yang kami ikuti benar arahnya. Pita frekuensi yang melintas di langit Jakarta udah gak bisa dihitung dengan jari. Kalau sekali aja gue hilang pandangan, kami bisa menuju orang yang salah.

“Teleponnya masuk ke arah kantor.” Gue menjelaskan ke Dani.
“Masa bodo lah, masuk!” Dani antusias.

Dani menjinjing tasnya, berlari duluan ke arah jalan masuk kantor. Gue menyusul, tertinggal sekitar tiga langkah di belakangnya. Seorang satpam jaga pun gak dapat menghentikan Dani untuk berhenti.

Untungnya, gue bisa meyakinkan dia dengan mengeluarkan identitas S.H.I.E.L.D. serta beralasan ada resiko terrigenesis di kantor ini. Sebelum pak satpam panik dan berlarian gak tentu arah, gue menjanjikan semuanya akan baik-baik aja asal dia gak lapor ke siapapun.

Di ujung lobby, akhirnya Dani berhenti.

“Lewat mana?” Dani ngos-ngosan.

“Elu sih lari duluan.”

Gue kembali mencari pita frekuensi yang warnanya sesuai dengan yang gue lihat tadi. Mata gue melihat ke setiap sudut-sudut udara. Makin dicari, justru makin gak ketemu. Pita frekuensinya udah berbaur dengan frekuensi orang-orang lain yang juga sedang bertelepon.

Mencari kasus terrigenesis ternyata lebih gampang daripada ini. Kalau ada orang yang baru aja mengalami terrigenesis, biasanya orang-orang di sekitar akan panik. Ada yang nelepon polisi, damkar, ambulan, ada juga yang mengambil gambar, lalu diupload ke medsos. Intinya, jika ada kekacauan yang terjadi di setiap frekuensi, maka gue gampang menemukannya.

Frekuensi yang ini gak ada bedanya sama komunikasi orang normal. Susah.

“Hilang. Gak ketemu.” Gue menggeleng pasrah.

“Sorry.” Dani meminta maaf.

“Tapi ini kan udah di kantornya Kak Rivin.”

Gue menghampiri salah satu pegawai yang hendak pulang. Gue bertanya di mana bisa bertemu Bapak Putra, temannya Ibu Rivin. Hanya dengan sedikit penjelasan kalau mereka dari divisi quality control, kami langsung diarahkan ke lokasi yang semestinya.

“Pinter.” Dani memberi dua jempol.

“Makanya, kalem aja.”

Kami terus berjalan mengikuti direksi dari orang-orang yang kami tanyai. Dani menghampiri orang lain lagi untuk ketiga kalinya. Dia bertanya pertanyaan yang sama, ingin bertemu Bapak Putra dari divisi quality xontrol.

“Iya, saya sendiri.” Jawab si laki-laki.

Gue dan Dani saling tatap. Kemudian gue memerhatikan orang yang mengaku dirinya adalah Putra. Perawakannya tinggi tegap dan berwajah agak bulat. Dia menggendong tas ransel tipikal pekerja kantoran yang biasanya hanya berisi laptop dan dokumen.

“Kenal Ibu Rivin ini?” Dani menunjukkan foto profil line Kak Rivin.

“Iya. Ada keperluan apa ya?”

Dani menghampiri gue yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Dia meminta gue segera memanggil Sigit kemari dan diusahakan tanpa sepengetahuan Hari. Setelah itu, Dani dengan tiba-tiba menyeret tubuh seorang bernama Putra itu ke balik pintu tangga darurat.

Suara bantingan pintu terdengar kencang.

“Geblek! Dani!”

Gue memperhatikan kondisi sekitar. Kami beruntung bertemu Putra di lokasi yang sepi dari lalu lalang manusia. Kemudian, gue mengikuti Dani menuju tangga darurat. Di sana, Dani udah menyudutkan Putra ke tembok dan mengacungkan ICER ke dadanya.

“Apa-apaan nih?! Gue bisa teriak!” Putra melawan.

“Lu gak mungkin mau teriak kalo ditodong ginian.”

Dani menekan moncong ICER ke dada Putra.

“Dani, jangan pake itu.” Gue meminta jangan menggunakan alat kerja.

Dani melihat gue sebentar. ICERnya masih menekan kencang dada Putra sehingga makin memojokannya ke tembok. Dani secepat kilat mengambil sebuah pisau dapur dari dalam tas, lalu dengan cepat mengganti ICER dengan sebuah pisau roti yang langsung diacungkan ke leher Putra.

“Sekarang jawab, lu apain Rivin, hah?!” Dani mulai menginterogasi.

“TOLONG!!” Putra berteriak.

Dani langsung menyabet pipi kiri putra dengan pisau dapur hingga tersayat dangkal. Sadis. Gue gak pernah lihat Dani begini. Terakhir kali dia agresif adalah 5 hari lalu saat ingin menghadapi Jeepers Creepers. Tapi dalam aksinya, dia gak pernah menyerang dari jarak dekat seperti ini.

Darah segar mengucur dari pipi kiri Putra.

“Gue bilang jangan teriak, monyet!” Ancam Dani.

“Dani.” Gue menyadarkan Dani supaya dia gak kelewatan.

Panggilan gue dijawabnya dengan gerakan bibir tanpa suara. Gue tahu, maksudnya adalah gue harus menghubungi Sigit sekarang juga. Maka, sekarang gue berbalik badan, mengetik pesan personal kepada Sigit.

Untungnya Sigit membalas dengan cepat.

Sigit: Buat apaan? Gue mau latihan.

Gue: Buat antuin temen. si Eda, Kak Rivin. Tau kan?

Sigit: Gak bisa lama ya. Share location sama foto gih.

Gue langsung share location dan mengambil foto lokasi tangga darurat tempat kami beraksi.

Sembari menunggu Sigit datang, bola mata gue kembali pada Dani. Pisaunya udah gak mengarah ke leher Putra. Sekilas gue heran ke mana Dani mengarahkan pisau itu, namun setelah tahu, gue mendadak bergidik ngeri sekaligus jijik.

Dani mengancam Putra dengan mengarahkan pisau itu tepat ke penis Putra. Secara harfiah benar-benar penisnya. Resleting celana Putra sudah terbuka dengan penis yang menyembul lemas ditarik Dani. Pangkal batangnnya tepat tegak lurus dengan mata pisau. Apabila terpotong, otomatis alat reproduksi Putra hanya akan tersisa 2 cm. Pusat lokasi saraf reseptor pemberi kenikmatan akan terputus seutuhnya.

“Ehmm.. Dani…” Gue kembali berusaha menyadarkannya.

“Lu tau kan hukuman pemerkosa.” Dani berdalih.

“Ya, bukan kita yang ngehukum juga.”

Dani tetap bersikeras. Selama gue ngechat tadi, Dani sepertinya udah mendapat jawaban.

“TOLOOO…” Putra berteriak gak selesai.

“Gue bilang jangan teriak!” Dani terus mengancam.

“Bukan manusia lu semua!! Cuih!!” Putra mengumpat.

Putra terus berontak dengan berbagai gerakan penolakan. Tenaga Dani akhirnya gak sanggup lagi menahan Putra. Genggaman penis Putra terlepas. Hunusan pisau pun gagal mengenai sasaran. Punggung Dani bahkan terbanting ke tembok hingga menekan tasnya.

“AAGGH!” Dani mengerang dan alarm di tasnya berbunyi.

Putra lari ke lantai atas karena gue terlebih dulu menghalangi pintu keluar.

“Ayo, bangun, Dani.” Gue berusaha memapahnya.

“Gue gapapa. Kejar si Putra!”

Belum sempat gue berlari. Putra sudah terlebih dulu berguling jatuh dari lantai atas. Tubuhnya membentur keras tiap anak tangga. Gue yakin laptopnya udah hancur dari tadi dengan gaya jatuh seperti itu.

“Sialan. Gue kira di lantai atas.” Suara perempuan terdengar.

Seorang perempuan melangkah turun dengan terburu-buru. Dia memakai pakaian terusan berbahan satin warna merah. Gaya berbahasanya sangat Indonesia, tapi wajahnya bukan. Kulitnya sawo matang dan rambutnya ikal berwarna pirang tulen.

“Siapa??” Tanya Dani.

“Gue Eva, gantinya Sigit. Udah dibilang dia lagi latihan.”

Kami berdua bengong.

“Sekarang urusannya ini soal apa?” Tanya si perempuan bernama Eva.

Perkenalan kami cukup singkat. Dani langsung menjelaskan duduk persoalan kalau si Putra adalah pemerkosa pacar teman kami. Kemudian, kami ingin memberikan efek jera padanya.

“Terus, kalian butuh sihir di bagian mananya?” Tanya Eva.

“Sihir supaya dia gak bisa ngancem Kak Rivin dengan cara apapun, ada?” Pinta Dani.

Eva terdiam sejenak. Mungkin dia berpikir Dani kelewat gila karena berharap terlalu besar kepada sihir. Mungkin juga dia sedang berpikir sihir mana yang tepat untuk kasus receh begini.

“Tapi ada imbalannya.” Tawar Eva.

Sementara itu, dari tadi fokus gue terbagi antara percakapan ini, Putra yang entah pingsan atau udah mati, dan bunyi alarm dari tas Dani yang gak bisa berhenti. Selanjutnya, gue memutuskan memotong obrolan mereka agar alarm bisa dimatikan terlebih dulu.

“Dan, alarm matiin dulu kenapa.” Pinta gue.

“Gue gak bawa alarm.” bantah Dani.

“Terus itu suara apa?”

“Ini… Oh my…”

Dani buru-buru mengeluarkan sumber bunyi-bunyian itu. Ternyata alat itu adalah pemindai kristal terrigen.

“Rusak?” Tanya gue.

“Alat begini gak gampang rusak. Satu-satunya alasan…”

Dani mengambil tindakan yang sama sekali gak gue duga. Pertama, dia mencoba mematikan dan menghidupkan lagi alat itu untuk memastikan kondisi. Lalu dia memindai tubuhnya sendiri, dan hasilnya gak ada perubahan suara.

“Kemaren udah pindai tubuh gue sendiri. Harusnya udah gak bunyi.” Jelas Dani tanpa panik.

“Terus bedanya sekarang apa?”

Dani memindai tubuh Putra, lalu suara alarm terdengar lebih cepat. Suara alarm bahkan lebih cepat lagi saat dipindai melewati tasnya. Gue dan Eva membopong Putra sedemikian rupa agar tasnya terlepas. Alangkah terkejutnya kami, bahwa ada serbuk putih yang tumpah di dalam tas Putra. Di bagian terdalam, gue akhirnya menemukan tiga ziplock kecil pembungkus bubuk putih itu.

“Itu apa?” tanya Eva.

“Hati-hati, ini kristal terrigen!” Gue menjelaskan.

“Pastinya dosis besar. Alarm bahkan bisa ngebaca dari jauh.” Dani menambahkan.

Perlahan Putra terbagun dengan jaketnya yang udah berceplak darah. Gue buru-buru menyingkirkan tas Putra jauh-jauh dari Dani dan Eva. Selanjutnya, kami menginterogasi Putra melebar ke arah informasi dia mendapatkan kristal itu. Kami yakin itu kristal terrigen yang sama dengan kedok produksi narkoba.

Dengan bantuan sihir Eva, Putra terus membuka mulutnya soal berbagai macam informasi.

Putra bersikeras itu bukan narkoba, melainkan obat perangsang untuk membantunya menaklukkan Kak Rivin. Bahkan, Putra buka mulut soal info bagaimana mereka betransaksi. Itu bisa kami gunakan untuk menggerebek pabrik mereka besok-besok.

“Soal Kak Rivin gimana jadinya?” Dani meluruskan kembali tujuan awal kami.

“Gampang.” Jawab Eva.

Eva mengayunkan tangannya, membentuk simbol-simbol aneh berwarna kuning cerah dengan bentuk dominan lingkaran. Gerakan tersebut bukan menghasilkan percikan api seperti yang Sigit lakukan. Warna terebut lebih seperti cahaya bulan di atas permukaan air, bergoyang naik turun tanpa berpindah sedikit pun.

Eva meminta Dani mengucap sumpah yang akan diikuti Putra.

“Denger gue. Saya yang bernama Putra, gak akan mengancam Rivin dalam bentuk apapun. Dalam bentuk lisan, tulisan, gambar, video, perbuatan, atau semacamnya. Jika saya melanggar, maka saya siap menerima konsekuensinya.” Dani berucap.

Dengan diselingi beberapa kali potongan yang dieja Putra, Dani menyudahi kalimatnya. Bagai kerbau yang dicucuk hidung pula, Putra mengeja setiap kata dengan jelas.

“Begitu cukup?” Dani penasaran.

“Masih terlalu general sih. Tapi cukup lah.” Ucap Eva.

Eva menambahkan kalimat supaya Putra gak akan menyentuh narkoba atau obat perangsang lagi. Kemudian, dia mengayun-ayunkan tangannya sampai segel tersalin menjadi tiga. Satu meresap ke dalam lidah Putra, satu ke tangan sebelah kanan, dan satu lagi ke bagian kelaminnya yang masih menjuntai lemas.

“Sebenernya dua cukup. Tapi gue suka bikin kelamin orang meledak.” Entah Eva bergurau atau serius.

Putra diizinkan pergi, lantas dia menghilang di balik pintu darurat dengan lunglai. Sementara itu, Eva menyusul pamit untuk kembali ke Kamar Taj. Gue dan Dani kembali pulang ke penthouse dengan barang bukti gak terduga.

“Ladies win!” Teriak Dani di atas motor gue.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat