Tanpa Nama Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 39 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 38

Menjemput Kenia

POV Eda

Rivin malam ini udah resmi pindah setelah gue jemput di kostnya. Barang-barangnya telah tersusun rapi di dalam lemari, dan sisanya akan dibereskan besok. Malam ini kerinduan kami berdua harus tuntas. Usai mandi, gue berniat akan menjamah Rivin yang telah berpakaian minim. Dia pun juga telah menunggu di tengah ranjang.

Rivin menyambut gue dengan ketelanjangannya di balik selimut. Kami mulai bercumbu dengan perlahan. Gue lakukan satu hingga dua kali kecupan, lalu gue berinsiatif melanjutkan sentuhan bibir kami dengan mejulurkan lidah menyeruak ke dalam rongga mulutnya.

Rivin membalas pelan.

Gue singkap selimut yang membungkusnya. Bra berenda dan g-string berwarna putih senada dengan sprei tempat tidur tak sanggup menahan tongkat sakti ini. Gue beralih duduk di belakang Rivin, mengecup setiap jengkal lehernya dari belakang. Payudaranya yang lembut namun kencang itu tak lepas gue mainkan tanpa rasa puas.

“Kamu seksi.” Goda gue.
“Makasih. Kamu udah gak sabar ya?” Balas Ririn.

Gue buka bra Rivin, berlanjut dengan g-stringnya. Gue jilati Rivin, sesuai keahlian gue sebelum-sebelumnya. Klitorisnya silih berganti gue jilat dan pelintir mengunakan kedua jari telunjuk dan tengah. Lubang kenikmatan Rivin gue lumat sedalam mungkin. Dua jari gue masukkan untuk menambah rangsangan kepadanya.

Rivin sedari tadi hanya menarik nafas terengah, tanpa desahan dan racuan. Ada yang kurang sepertinya dalam permainan gue. Lubang vaginanya hanya mengeluarkan sedikit pelumas.

“Kamu lagi sakit?” Gue tanya dia.

“Gapapa. Ayo masukin, kamu udah kangen kan.” Senyum Rivin mengggugah.

Penis gue masuk membelah ke dalam liang kenikmatan Rivin. Rasanya kering sekali. Gue gak terbiasa dengan vagina yang kering. Sepuluh menit tanpa perubahan, gue meminta Rivin untuk mengulum penis gue terlebih dulu.

Rivin memulai dengan menjilati pangkal penis gue. Beberapa kali dia pindah ke buah zakar, lalu menjilat panjang hingga ke ujung lubang kencing. Permainan Rivin membuat gue merinding, terlebih ketika rongga mulutnya menjepit seluruh batang penis gue hingga tanpa ada rongga.

Batang penis gue otomatis berdiri tegak kembali dengan lumuran liur Rivin yang mengalir hingga sela selangkangan.

Akan tetapi, lima menit setelah kembali bermain, rasanya sama saja. Vagina Rivin tetap saja kurang mengeluarkan pelumas meski telah disela dengan kuluman Rivin dan berkali-kali jilatan gue ke vaginanya.

“Mungkin beneran lagi sakit.” Batin gue.

Setengah jam lebih, tidak ada respon baik yang diberikan dari tubuh Rivin. Bahkan desahan dan racauannya sama sekali tidak menaikkan gairah gue. Ada yang aneh, mungkin saja Rivin sakit. Atas izin Rivin, gue meminta menyelesaikan permainan ini cepat-cepat.

Sperma gue keluar di wajahnya. Tidak banyak yang tumpah karena memang Rivin tidak mengekskalasi gairah sama sekali. Rasanya seperti hanya bercinta dengan boneka, atau tangan sendiri.

“Gapapa lah. Masih ada besok.”

Tanpa sempat pillow talk, Rivin sudah tertidur pulas. Gue bosan dan belum mengantuk, mungkin membereskan barang Rivin bisa berguna. Segala macam yang baru dibawanya gue susun satu persatu. Kardus, pakaian, kosmetik, hingga handphone. Ada ketertarikan tersendiri untuk melihat isi handphone Rivin, namun gue lupa pola kuncinya.

Saat tangan gue yang masih geratakan di tas Rivin, satu kotak obat penenang pemberian Hari jatuh ke lantai. Utungnya, Rivin gak sampai terbangun karenanya.

“Dari suaranya, kok isinya kaya hampir abis?” Gue bergumam heran.

Gue meninbang-nimbang berat obat itu, lalu membukanya. Gue pun membandingkan jumlah sisa obat milik Rivin dengan milik gue. Memang benar ada perbedaan. Obat milik Rivin berkurang drastis, padahal diberikan Hari di waktu sama dengan milik gue.

Gue mengirim teks wa ke Hari secepat mungkin.

Gue: Har, gue mau cerita. Lu lagi di mana?
Hari: Cerita apa? Gue lagi di apartemen.
Gue; Gue ke sana besok pagi deh. Enakan langsung.

Besoknya, gue meluncur ke apartemen Hari setelah mengantar Rivin bekerja terlebih dulu.

POV Hari

Sinar matahari mulai menembus jendela penthouse. Gue, Dani, dan Erna satu pun belum sempat tidur sepanjang malam. Kamera lebah menunjukkan hasil scanning kota Jakarta sebanyak 19 persen.

Tapi, bukan itu yang membuat gue sulit tidur. Penyebabnya adalah informasi tentang teori ketertarikan Jeepers Creepers terhadap Kenia atau Puri, telepon dari nyokap soal temennya Kenia, dan curhatan Eda.

Tadi malam, Lina dan Puri di seberang layar komunikasi, menyampaikan teori mereka. Entah Kenia atau Puri, atau keduanya, memang sedang diincar.

Belum lagi Eda yang curhat kalau Kak Rivin punya masalah sama obat penenang dari gue. Gue terlanjur berjanji akan mendengarkan masalahnya pagi ini.

“Har, kita harus jaga Kenia pagi ini.” Kata Dani.

“Tunggu Eda dateng dulu sebentar. Ada urusan.”

“Ya, ampun, urusan apa sih?”

Dani menghembuskan nafas kesal. Sementara Erna sedang mencoba pakaian lapangannya. Sebuah baju seragam dengan lambang S.H.I.E.L.D. di lengan kanan dan kiri.

“Ini lagi anak satu, terlalu mencolok pake itu.” Omel Dani.

Erna menoleh bengong.

“Pake sepatunya aja kaya gue, atau apa kek.” Sahut Dani lagi.

Gue dari semalem bener-bener gak fokus. Semalem, Lina menginstruksikan harus menarik setannya Puri dulu dari sisi Kenia supaya tau siapa sebenernya targetnya si Jeepers Creepers ini. Maka, hari ini kami bertiga harus menjadi pengawal Kenia sampai pulang sekolah, agar kemudian dijemput S.H.I.E.L.D.

“Terserah soal Eda. Kita harus jalan sekarang.” Kata Dani tegas.

“Lu masih baper sama Eda?” Tanya gue.

“Sumpah ya, bukan soal itu. Ini soal adek lu!”

Dani memimpin jalan untuk bergegas turun ke basement. Erna sudah kembali berganti baju yang lebih normal. Di depan pintu lift lantai dasar, ternyata sudah ada Eda.

“Nah, ini anak baru dateng.” Sapa gue.

“Pada mau ke mana?” Eda dengan muka bingungnya.

“Kebetulan. Curhatnya ntar aja, sekarang anterin kita ke sekolahnya Kenia.” Dani memerintah Eda.

Dani lah yang masih paling fokus diantara kami bertiga. Dia dengan mudahnya memaksa Eda jadi supir untuk kami bertiga, menembus kemacetan ala-ala weekdaysnya Depok hingga ke Jakarta Pusat.

Erna tertidur duluan di bangku tengah, sementara Dani sibuk dengan barang-barang S.H.I.E.L.D. yang baru mahir dia kuasai beberapa minggu belakangan.

Gue melihat Dani kaya orang yang sibuk mengisi peluru dan mengokang senjata. Dia seperti ada di sebuah scene perencanaan penyerbuan gudang senjata sebuah film action. Galak dan judes.

“Ada yang bisa jelasin gak sih?” Eda penasaran abis.

“Kita mau ke sekolahnya Kenia.” Jawab gue sambil nguap.

“Supaya?”

“Supaya dia gak ditangkep inhuman.”

Eda terdiam menganga sebentar.

“Buset. Lagi?” Tanggapan Eda.

Kata ‘lagi’ yang dimaksud Eda itu mengacu pada kejadian akhir tahun lalu. Dia memberi gambaran ketakutan perihal organisasi radikal yang pernah melibatkannya. Gue pun menjamin Eda bahwa ini udah gak ada hubungannya dengan Watchdog.

Sayangnya, kami akan berhadapan dengan sesuatu yang lebih berbahaya.

“Ada yang bisa jelasin kenapa Dani sama Erna ikut?” Eda terus menyecar.

Gue menengok ke belakang. Dani memberikan gestur ‘terserah’ kepada gue. Artinya, tergantung gue apakah akan menceritakan semuanya atau nggak. Berkali-kali gue menghela dan menarik nafas dalam-dalam, pilihan manakah yang terbaik.

Eda temen gue, dan sebaiknya kami berteman tanpa ada rahasia. Di sisi lain, semakin sedikit Eda tau, semakin aman dia. Ya, Tuhan, pilihan yang mana yang terbaik?

“Ehm…” Eda berdehem, memecah kekalutan gue.

“Oke. Gue inhuman, Erna inhuman, Dani bukan.” Gue berbicara cepat.

“What the..?!” Eda mengernyitkan dahinya ke gue.

“Mata ke depan, Da.”

Eda meluruskan pandangannya kembali ke jalanan. Gue meluruskan cerita kembali supaya rasa penasaran Eda terpuaskan. Semoga begitu.

“Jelasin.” Pinta Eda

“Apanya?”

“Semuanya.”

Gue mulai menceritakan kalau gue berubah menjadi inhuman dalam kejadian makan malam bersama nyokap. Gue menceritakan Erna menjadi inhuman saat di Halmahera.

Gue juga menceritakan Dani sudah tahu rahasia gue sejak tahun baru. Lalu, kami bertiga memutuskan menjadi agen lapangan bersama seorang lagi yang bernama Sigit si penyihir.

Gue menceritakan kalau gak cuma punya kamar di apartemen lantai 15, tapi ada penthouse di lantai paling atas yang disewa sebagai markas kecil S.H.I.E.L.D. Gue menceritakan Puri sudah sembuh dan bekerja di markas lainnya bareng Lina.

Gue menceritakan soal penyihir jahat bernama Alan serta inhuman kuno yang kami sebut Jeepers Creepers.

“Jeepers Creepers itu yang jadi urusan hari ini.” Gue menutup cerita panjang.

Mulut Eda terus terbuka tanpa mengeluarkan kata-kata. Hanya terdengar gumaman huruf-huruf vokal yang dia suarakan sambil menyetir. Kaget? Jelas.

“Udah.” Gue selesai.
“Uh… Kalo gue bukan temen lu… gue pasti bilang lu gila kali. Delusional.”
“Pasti.”

Gue meminta izin untuk mencuri tidur, sekaligus supaya Eda punya waktu sendiri untuk mencerna cerita gue tadi.

POV Eda

Gue hanya fokus menyetir dan terdiam. Gue mengunyah permen karet supaya mencegah lamunan datang berkuasa akan otak gue. Salah sedikit, bisa terjadi senggolan dan berakhir ribut di jalan. Begitu lah perilaku para pengguna jalan di Jakarta.

Kami baru melewati daerah Pasar Minggu setelah macet panjang di kolong jalan tol Tanjung Barat. Gue agak marah juga, karena Dani merahasiakan menjadi agen S.H.I.E.L.D. semenjak masih memiliki hubungan bersama gue. Tapi, biarlah, udah bukan urusan gue.

Hari dan Erna sudah tertidur pulas. Otomatis hanya Dani yang bisa diajak bicara.

“Dan.” Gue melirik spion tengah.

“Ya?”

“Si Jeepers Creepers ini, sebahaya apa?”

“Belum tau.” Jawab Dani singkat.

Sepertinya pertanyaan yang salah. Gue coba pertanyaan yang lain.

“Dan, lu tau obat yang dikasih Hari?” tanya gue lagi

“Obat penenang?”

“Lu tau efek sampingnya gak?”

Dani tampak cuek dengan gue. Disa sibuk mengutak-atik gadget dan perlengkapan besarnya yang dikeluarkan satu per satu dari dalam tas. Gue rasakan masih ada sedikit tembok antara kami berdua meskipun udah berbaikan.

“Dan, masih marah?” Panggil gue.

“Eda, beneran nanya itu? Gue lagi sibuk di belakang sini.” Dani gak menoleh sedikit pun.

“Sorry, mungkin gue doang yang baper.”

“Nah, itu efeknya kalo lu gak minum obatnya teratur.” Dani jutek.

Gue seperti mendapat hidayah dengan percakapan bertensi agak tinggi ini. Jika diteruskan sedikit lagi, mungkin gue punya petunjuk soal anehnya Rivin sejak semalam.

“Kalo jadi gak responsif gitu ada hubungannya juga?” Gue membenarkan posisi duduk.

“Itu artinya lu kelebihan dosis.”

“Oooooh….”

Kelebihan dosis menyebabkan kurang responsif. Ciri-ciri yang serupa dengan Rivin semalam tadi. Berarti gue harus memastikan lagi dalam beberapa hari ke depan supaya gak cuma menduga-duga doang.

Gue terus berkendara membelah jalanan kota Jakarta. Beberapa puluh menit kemudian sampai lah kami di seberang bangunan sekolahan Kenia di daerah Pasar Baru. Gue parkir beberapa meter lebih jauh agar menghindari tilang polisi. Selanjutnya, gue mambangunkan Hari dan Erna.

“Kenia ada di kelas.” Kata Erna.

“Kok bisa tau?” Tanya gue.

“Gue bisa ngebaca gelombang sinyal.” Jawab Erna.

“Oke..” gue nyengir-nyengir, mencoba terbiasa dengan adanya inhuman di dekat gue.

Di sini lah kami berempat, menunggu hingga sore. Berjaga-jaga apabila ada kejadian aneh di sekolahnya Kenia. Hari, sebagai alumni sekolah itu juga, mengatakan alumni bisa diizinkan masuk ke dalam setelah jam 12. Maka, kami semuanya akan masuk nanti siang.

Menunggu merupakan hal yang membosankan, kecuali kalo saat ini gue terpaksa terlibat lagi dengan kejadian inhuman. Panik? Kaget? Iya. Tapi, pikiran gue juga terbelah antara Rivin dan kegiatan ini.

“Har, Jamet tau?” Tanya gue supaya menghilangkan kebosanan.

“Nggak.” Hari menggeleng, diikuti Erna di kursi belakangnya.

“Ah gila lu semua.”

“Jamet udah jauh di Malang dan gak akan kena sangkut paut sama kita.” Jelas Hari.

Pagi-pagi sudah ditabok dengan hal-hal penuh kerahasiaan. Mood gue jadi agak berantakan, dan rasa-rasanya lebih baik gue ledakkan semuanya. Meledak hari ini lebih baik daripada dipendam dan menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

“Lu.. ah, gila.. kita udah temenan lama, Har. Banyak banget rahasia yang lu sembunyiin. Lu kira gue takut sama inhuman? Gue udah gede, Har. Kita udah gede. Lagian lu temen gue, mana mungkin gue ninggalin lu. Lu juga, Dan. Mutusin jadi agen S.H.I.E.L.D. waktu kita masih punya hubungan…”

Gue mengambil nafas lagi.

“Gue gak tau… Apa kita semua baik-baik aja? Gue gak tau, Dan, Har… Gue gak tau.”

Gue gak sanggup mengucapkan kata-kata lagi. Kepala gue banting ke sandaran kursi.

“Eda, kalem, lu lagi labil. Lu minum obatnya gak teratur. Iya, Kan.” Tanggap Dani.

“Apaan?” tanya Hari.

“Tadi waktu lu tidur, Eda nanya masalah obat penenang.” Jelas Dani lagi.

“Yah, mungkin juga. Sorry guys.” Jawab gue.

Seperti itukah efek gak minum obat penenang itu secara teratur? Atau mungkin ini benar-benar dari hati gue? Setelah semua info yang membanjir di dalam kepala gue, segala hal menjadi bias. Gue membuka laci di samping setir, lalu mengambil satu kotak obat penenang. Gue minum satu butir obat itu untuk menenangkan diri.

“Itu obat pengontrol hormon, sekaligus buat ekskresi kristal terrigen dari dalem tubuh lu. Konsumsi yang bener.” Hari menasehati.

Mood gue masih berantakan. Hari mencoba mengoreksi sikapnya dengan berjanji membicarakan soal Jamet setelah ini.

Menjelang sore, kami semua masuk ke dalam sekolah. Kami duduk di kantin sambil terus mengawasi Kenia. Beberapa waktu kemudian, Gadget dari kamera lebah yang dipegang Dani berbunyi. Scanning baru 80%, tapi Jeepers Creepers berhasil terdeteksi. Dimana?

“Ini…” Dani melotot tak percaya.

Kami semua gak percaya.

“Ini… di sini.” Dani menyelesaikan kalimatnya.

Beberapa kamera lebah menargetkan titik pantaunya di salah satu atap sekolah ini. Tapi sama sekali tidak ada bagian tubuh si Jeepers Creepers yang tertangkap kamera. Di pantauan kamera yang lain, Kenia sedang berada di dalam kelas, menjalani jam pelajaran terakhir.

“Guys, Waspada.” Hari memperingatkan.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat