Tanpa Nama Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 38 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 37

Jeepers Creepers Muncul Lagi

POV Hari

Kami sampai di stasiun Jatinegara keesokan pagi, hari Selasa. Gue, Eda, dan Dani memilih turun di Jatinegara karena bisa langsung nyambung commuter line. Sementara itu, Erna, Tika, dan Anwar melanjutkan hingga Stasiun Senen. Sopirnya Anwar sudah menunggu di sana.

Selanjutnya, Eda berpisah dengan gue dan Dani di stasiun Manggarai. Dia melanjutkan perjalanan sendirian ke Depok, sementara Dani lebih memilih ikut gue terlebih dulu ke Tanah abang. Untungnya, Eda mulai mengerti dengan kondisi ini, dah seharusnya mengerti. Terlebih dia sudah punya Kak Rivin yang pantas dipikirkan.

Gue membuka handphone, melihat setiap chat yang terlewat sejak tadi malam.

Jamet berisik di grup Dadakan. Katanya, Janiar ngambek akut sampe gak mau bicara dengan Jamet sejak kemarin. Sebaliknya, Jennifer gak sekalipun muncul menanggapi kekacauan yang sengaja dibuatnya sendiri kemarin.

Jujur, gue udah gak bisa berbuat apa-apa. Jennifer ada di luar jangkauan gue, apalagi Jamet dan Janiar.

Kurang lebih dua puluh menit selanjutnya kami habiskan berdua menyelesaikan sisa perjalanan pulang. Setibanya di Tanah Abang, penghuninya kosong seperti biasa. Kenia masih sekolah dan nyokap kerja.

Usai mandi masing-masing, kami menghabiskan waktu di depan tivi. Belum ada 5 menit, Dani sudah pulas tertidur di atas karpet, sementara gue di sebelahnya, nonton tivi sampai bosan.

Berjam-jam berlalu dengan gue yang akhirnya ditonton tivi, alias gue ketiduran juga.

“Samlikum!” Suara Kenia otomatis menghilangkan kantuk.

Sudah sore. Kenia sudah pulang sekolah. Gue samar-samar melihat Kenia datang dengan seorang perempuan. Dilihat dari seragamnya, pasti teman sekolahnya. Gak terasa gue tidur sampe setengah 5 sore.

“Horee, Bang Hari udah pulang.” Kenia cium tangan.

“Tadi pagi baru sampe.” Jawab gue malas.

“Itu, Kak Dani enak banget tidurnya.”

“Biarin aja. ”

Dani masih tidur di sofa dengan posisi yang diagonal dengan posisi karpet. Tidurnya juga sangat gak anggun.

“Kenalin, Bang, namanya Nur.” Kenia mengenalkan gue.

Kami berdua bersalaman, lalu disusul Nur mencium tangan gue.

“Sebentar ya..” Gue menarik Kenia ke dapur.

Gue ceritakan kepada Kenia kalau gue udah tau musibah yang dialami dia beberapa hari lalu, serta bagaimana bisa mendapatkan info itu. Kenia awalnya gak percaya, lalu gue menceritakan ulang dengan berbagai penekanan, tentang bagaimana dia selalu dijaga Puri serta kejadian tersembunyi di sekolahnya sore itu.

Di tengah cerita, tiba-tiba panggilan S.H.I.E.L.D. di jam tangan gue berbunyi. Wajah Puri terpampang di jam tangan gue. Gak aneh, karena tentu Puri bisa tau keadaan kami di sini karena ada dua setan yang selalu mengikuti Kenia.

Dari telepon, Puri menasehati kami, khususnya Kenia, agar hati-hati dalam bercerita tentang inhuman kepada seorang temannya itu. Meski Nur berhak tau karena kejadian yang menimpanya, dia tetap manusia biasa yang bisa aja gak siap menerima kenyataan.

Setelah urusan selesai, Puri menutup kembali teleponnya.

“Jadi, kamu mau cerita bagian yang mana?” Gue memastikan.

“Aku mau bilang, pacarnya kakakku yang inhuman.”

“Abis itu?” tanya gue lagi.

“Udah.”

Setuju. Cukup itu yang diceritakan Kenia, selebihnya mungkin akan ada sedikit demonstrasi setannya Puri yang berkeliling di sekitar Kenia dan temannya itu. Biarlah Kenia menangani temannya sendiri. Dia harus belajar mengendalikan emosi dan menjaga rahasia.

Gak lama setelah Kenia dan temannya masuk kamar, gue mendapatkan panggilan dari Erna. Dia bilang akan datang ke rumah gue selepas maghrib. Nada suaranya mengindikasikan ada keadaan yang sangat penting.

Sekitar jam tujuh malam, Erna datang. Kami berempat, gue, Dani, Erna dan nyokap berkumpul bersama-sama di kamar nyokap. Gue tebak, kemungkinan besar info penting, karena nyokap diminta ikut serta.

“Gue dapet video ini dari adek gue, hasil ‘nguping’ dari grup chatnya.” Erna menjalankan player dari laptopnya.

“Agak burem ya.” Tanggap nyokap.

“Maklum, dari kamera hape, Tante.”

Video itu berjalan, menunjukkan kejadian di layar yang berlangsung pada malam hari. Lampu lampu jalanan berwarna jingga berkilau terang menghiasi backround video tersebut. Tampak seseorang yang dijelaskan Erna sebagai salah satu tetangganya. Dia sedang mabok bersama anak-anak muda lain.

Orang mabok bukanlah hal yang ingin ditunjukkan Erna, melainkan kejadian beberapa detik berikutnya. Sesosok wujud hitam bersayap kelelawar jatuh dari langit, atau tepatnya mendarat secara vertikal. Dia menghampiri kumpulan orang tersebut, lalu berbicara dengan bahasa yang gak gue mengerti.

“Dia.. si Jeepers Creepers?” Gue gak nyangka.

“Lu tau gak dia ngomong pake bahasa apa?” Tanya Erna.

Gue menggeleng..

“Bahasa Minang, Har! MINANG! GIMANA BISA COBA?!”

Sampai di sini, gue masih belum paham harus bereaksi seperti apa atas penjelasan Erna. Kepala gue masih bergoyang-goyang efek naik kereta. Sekarang, sudah dijejali info kemunculan si Jeepers Creepers. Apalagi, dia bisa berbahasa apa itu.. minang.

Untuk saat ini, gue memilih hanya fokus monitor laptop. Dani pun sepertinya juga begitu.

Orang-orang di dalam video itu gak ada satu pun yang lari ketakutan. Gak heran, karena mereka semua mabok. Sebaliknya, mereka terlalu percaya diri untuk mencari masalah dengan orang itu. Parang dan golok mulai berbicara, namun belum apa-apa semunya sudah patah dalam sekali serangan si Jeepers Creepers. Orang-orang itu jatuh takluk gak berdaya.

Si Jeepers Creepers meraung.

Video terus berjalan, menyisakan si pemegang kamera yang masih berdiri tegak. Dia kabur bersembunyi di balik sebuah tembok. Si Jeepers Creepers melihat para pemabuk yang telah terkapar di jalanan, lalu mengangkat seorang di antaranya. Si pemabok yang diangkat itu terlihat secara samar memiliki luka yang diperban di bagian kepala.

Si Jeepers Creepers berbicara lagi, tapi rasanya mustahil terjawab kalo dia terus bicara pakai bahasa minang. Ditambah lagi. semua korbannya sudah gak sadarkan diri.

“Dia nyari inhuman kuat.” Erna menerjemahkan.

Gue hanya menghela nafas sebagai tanda muncul masalah baru. Di dalam video, Jeepers Creepers yang gak mendapatkan jawaban, terbang jauh ke atas. Dia menghilang di balik mendungnya cuaca malam hari.

“Kemarin Alan nyari inhuman, sekarang makhluk ini juga.” Gue geleng-geleng.

“Mereka berdua kerja sama?” Tanya Dani.

“Entahlah. Gak ada petunjuk.” Jawab Erna.

Seharusnya informasi seperti ini dibeberkan hanya di penthouse. Lalu, hanya disimak oleh gue, Dani, dan Sigit. Sayangnya, Sigit belum bisa beraktifitas sehingga tidak ada portal ke mana saja. Di sini teralu beresiko. Terlebih, di lantai atas sedang ada Kenia dan temannya yang menginap.

“Sebentar lagi pasti viral. Kamu harus cepat lapor S.H.I.E.L.D.” usul nyokap.

Satu hal penting, S.H.I.E.L.D. sedang sangat lambat bergerak karena kebanyakan anggota tinggi sedang berhadapan dengan android. Mungkin yang hanya bisa merespon masalah ini adalah timnya Lina.

Dengan secepat kilat gue telah menghubungi Lina. Langkah selanjutnya, gue mengupload video ini ke database mereka. Gue juga berpesan untuk sebisa mungkin mencegah video ini viral secara online atau pun melalui berita di tivi.

“Sekarang kalian mau gimana?” Tanya nyokap.

“Gak tau, Bu. Gak ada petunjuk sema sekali.” Jawab gue lemas.

“ Gimana kalo pake kamera lebah.” Dani mencoba memberi usul.

Dani mengusulkan mencoba menjalankan kamera lebah sekali lagi menyusuri Jakarta. Cara kerjanya sama saat kamera itu mencari Kenia dan Dani saat akhir tahun lalu. Kami sedikit ada pada posisi menguntungkan karena memiliki potret wajah si Jeepers Creepers hasil screenshoot video. Meski begitu, mungkin pencarian bisa lebih lama karena gambar yang ada berkualitas rendah dan tanpa adanya koleksi DNA.

Masalah lainnya, kamera lebah disimpan di penthouse, jauh di Depok.

“Kita ke Depok malem ini?” Respon gue.

“Terserah.” Jawab Dani.

“Lebih cepat lebih baik. Kalian harus hati-hati.” Nyokap berpesan.

Erna buru-buru mengeluarkan motornya dari teras rumah gue. Dia berangkat menuju Depok sendirian, sementara gue dan Dani menggunakan commuter. Belum ada 24 jam sampai Jakarta, masalah baru muncul lagi dengan cara yang gak diduga-duga. Kehidupan jadi agen ternyata melelahkan.

“Gue laper, masih ngantuk juga.” Keluh gue.

“Ntar kita makan kalo udah sampe.” Jawab Dani singkat.

Sekarang, gue dan Dani tengah berdesakan di dalam commuter, di tengah kerumunan para pekerja. Meski sudah cukup malam, arus pulang kerja menuju Depok dan Bogor gak akan pernah sepi. Bau ketek adalah hal biasa buat mereka, tapi nggak buat kami berdua.

POV Kenia

Aku dan Nur sudah di kamar. Dia tampak gugup. Aku mencoba memulai dengan sedikit berbasa-basi dengan Nur agar dia sedikit lebih rileks. Kemudian, aku tunjukkan Nur kepada satu bayangan Kak Puri yang perlahan muncul dari tembok.

Nur kaget. Panik. Dia memojokkan dirinya sendiri di atas tempat tidurku.

“Nur, jangan panik. Gapapa.” Aku berusaha menenangkan.

“Itu… inhuman… kamu…” tunjuk Nur tanpa arah.

“Bukan aku. Aku jelasin ya, makanya tenang dulu.”

Aku menceritakan bahwa bayangan tinggi yang mirip genderuwo ini adalah perwujudan pacarnya kakakku. Kujelaskan bahwa dia selalu menjagaku setelah terjadi insiden dengan satu organisasi radikal saat akhir tahun lalu. Setelah Nur lebih tenang, kukenalkan kepada satu bayangan lagi.

Kujelaskan kembali padanya, ada dua bayangan yang menemaniku sepanjang hari. Mereka berdua menjagaku dari orang-orang jahat semacam Yogi. Kuharap ini akan cukup untuk mengubah pikiran Nur kalau inhuman itu gak semuanya jahat.

“Kakak kamu tau kalau pacarnya inhuman?” Nur bertanya.

“Tau.” Aku mengangguk.

“Gak takut?”

“Nggak.” Jelasku singkat, meminimalkan kebocoran cerita.

Nur sudah lebih tenang. Dia mencoba berbicara dengan ragu dengan salah satu bayangan Kak Puri. Kujelaskan kembali bahwa itu percuma, karena mereka gak punya mulut. Mereka hanya menuruti kemauan si tubuh asli, dalam kata lain adalah Kak Puri yang asli.

“Kemarin aku dengar, orang tua kamu ada masalah sama orang tua Yogi?” Gantian aku meminta informasi.

Nur gantian bercerita, orang tuanya sekarang terlilit hutang dengan orang tua Yogi yang merupakan rentenir. Hal itu lah yang membuat Nur tidak bisa menolak permintaan Yogi. Kalau saja ditolak, maka Yogi bisa mengadu kepada orang tuanya agar bunga hutang keluarga Nur dinaikkan.

Tak kusangka di kota Jakarta masih ada juga rentenir.

“Maaf ya Nur, kalau boleh tau, ngutang buat apa? Sekolah kan gratis.” Aku nanya lagi.

“Bapakku, tahun lalu usus buntu.”

“Oh, sorry.”

Hutang Nur sebenarnya gak terlalu banyak untuk masyarakat kelas menengah. Jumlahnya bahkan tak sampai 15 juta. Tapi, buat Nur jelas sulit. Apalagi, bunga hutangnya selalu naik minimal satu kali lipat setiap bulan.

“Mau minum sirup? Aku ke bawah dulu ya.” Aku mendinginkan suasana.

Mungkin ibuku bisa bantu. Maka kuputuskan untuk turun ke lantai bawah dengan alasan membuatkan Nur sirup. Sesampainya di bawah, rupanya nyokap hanya sendirian menonton televisi.

Kata nyokap, bang Hari dan teman-temannya sudah pergi ke Depok karena misi dadakan. Aku sempat sewot karena baru bertemu mereka sepuluh menit.

“Kenia! Awas belakang kamu!” Nyokap menunjuk ke arah belakangku.

Aku kaget dan menjatuhkan botol sirup. Pecahan beling tersebar di lantai, membuatku justru tidak bisa bergerak kemana-mana. Kulihat Nyokap mendadak memunculkan baju zirah tulangnya, pertanda ada sesuatu yang gawat.

“Kamu mau ngapain, Puri!” Teriak nyokap, mengambil posisi kuda-kuda.

Kak Puri? Ya ampun, kukira bahaya. Ternyata bayangan Kak Puri tidak menghilang sejak tadi.

“Bu, tenang, Bu. Emang belum diceritain Bang Hari?” Aku berusaha memecah ketegangan.

“Memangnya apa kata abangmu?”

“Kak Puri jadi anggota S.H.I.E.L.D.”

Hening terjadi. Bayangan Kak Puri sedari tadi mengangkat tangan tanda menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Nyokap pun perlahan mengendurkan pertahanan, lalu kembali ke wujud normal. Aku melihat ke arah tangga. Ternyata ada Nur di sana. Dia sudah melihat jelas nyokap yang sedang berubah wujud.

“Nur… Aku bisa jelasin.” Aku pasrah.

Beberapa waktu berlalu. Aku, Nur, nyokap, dan kedua bayangan Kak Puri duduk di ruang keluarga. Nyokap menceritakan semuanya. Semua yang terjadi dengan keluarga ini selama beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, aku juga meminta bantuan nyokap untuk membantu keluarga Nur dari jebakan rentenir.

Momen ini terlihat sedikit tricky agar jaminan supaya Nur gak membocorkan rahasia. Tapi, apa yang aku lakukan sebenarnya tulus sebagai sahabat Nur. Awalnya Nur memang menolak dan merasa malu, namun setelah berbagai penjelasan dan kata kunci Yogi, dia luluh.

POV Sigit

Aku telah terbaring di kasur perawatan S.H.I.E.L.D. selama empat hari. Orang tuaku entah gimana kabarnya, apakah mereka tenang atau jutsru panik karena anaknya hilang lagi. Di sisi lain, aku belom boleh bergerak banyak. Kata dokter, beruntung Master Hamir datang dan menolong menutup lukaku sehingga pemulihan bisa berjalan lebih cepat.

Sebagai gantinya, nanti aku harus belajar lebih keras lagi, tidur lebih sedikit, dan memanajemen waktu lebih efisien antara dunia sihir dengan kehidupan normalku.

Ada satu hal yang belakangan menghantui pikiranku. Bagaimana mungkin Alan bisa datang ke sini menggunakan portal, sementara kalau ingin membuat portal harus butuh visualisasi tempat di dalam pikiran kita terlebih dulu. Artinya, si pembuat portal seharusnya sudah pernah melihat langsung lokasi tempat tujuan atau wilayah sekitar sebelumnya.

Semoga Master Hamir, Eva, atau siapapun di Kamar-Taj sekarang sedang memikirkannya juga.

“Kami baru dapat laporan dari Hari.” Mbak Lina masuk ruangan rawat.

“Mereka udah balik ke Jakarta, Mbak?” Tanyaku.

“Udah, dan mereka langsung memburu Jeepers Creepers.”

Mbak Lina memainkan video kiriman Mas Hari soal Jeepers Creepers. Mereka di sana sudah mulai bergerak dengan misi barunya, sedangkan aku belum bisa berbuat apa-apa dari sini. Sungguh aku ingin membantu, tapi badan belum bisa diajak kompromi.

“Mereka butuh portal saya, Mbak.” Kataku.

“Yes, makanya bantu diri kamu sendiri dulu supaya cepet sembuh.”

Di tengah pembicaraan kami, Mbak Puri datang membawa tablet seukuran iPad. iPad itu juga sedang memainkan video yang dikirim Mas Hari.

“Aku kenal orang mabok yang diperban ini. Dia Juple, punya masalah sama adiknya Hari beberapa hari belakangan. Nah, yang terkapar ini juga, namanya Yogi.” Kak Puri melapor.

Aku terdiam, menyimak percakapan mereka berdua sambil menatap lagi sreenshoot wajah orang yang disebut sebagai Juple dan Yogi. Mbak Puri mengambil nafas sejenak, lalu menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Mbak Lina dengan penuh keyakinan.

“Mungkin makhluk ini gak nyari inhuman secara acak. Dia mungkin sedang ngelacak jejak yang bisa nuntun ke Kenia… atau aku.” Deduksi Mbak Puri.

“Kok persis kaya Alan? nyari Mbak Puri.” Aku menambahkan.

Mbak Lina mencoba mengonfirmasi info lebih dalam lagi. Jari-jarinya lincah mencari di berbagai media internet soal info si Jeeperrs Creepers ini dengan kata kunci manusia kelelawar, inhuman, monster, dan sebagainya.

Hasilnya, muncul data insiden yang terpola selama seminggu belakangan, mendekat dari arah Semper hingga sekitar lokasi Tanah Abang.

“Semua update, terindikasi muncul di malam hari waktu Indonesia.” Jelas Mbak Lina.

Mbak Puri diam. Matanya terpejam dan kepalanya dimiringkan seolah mendengar sesuatu di dalam kepalanya sendiri.

“Kenapa?” Tanya Mbak Lina.

“Bukan apa-apa, cuma… sekarang ada satu lagi temennya Kenia yang tahu rahasia keluarganya Hari.” Kata Mbak Puri.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat