Tanpa Nama Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 35

Berbaikan dengan Hati

POV Jamet

Sabtu pagi ini kami makan pagi bersama kedua Mbahku. Setelahnya, kami akan berjalan kaki ke Kebun Raya Purwodadi. Wajah-wajah kelelahan yang terpampang tadi malam sudah sepenuhnya hilang. Usai makan, masing-masing anak mempersiapkan barang-barang mereka. Erna tampak paling mencolok karena ribet bersih-bersih kamera sendiri.

Aku kembali memberikan pesan pribadi via whatsapp kepada Hari soal rencana kami. Kuingatkan dia untuk memberikan spare waktu agar Eda bisa bicara empat mata sama Dani. Sisa anak yang lain, biarkan mereka bermain sepuasnya.

Tepat jam sembilan, kami siap berangkat. Perjalanan dari rumah ke pintu utama Kebun Raya hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, aku agak canggung juga dengan sikap Jennifer yang selalu mencoba mendekatkan diri sama Janiar. Banyak sekali topik yang mereka bicarakan seakan gak habis-habis.

Sesampainya di depan pintu masuk, kami tak luput dari kegiatan selfie. Tika, Dani, Jennifer, dan Janiar silih berganti meminta Erna menjadi juru foto mereka. Jennifer dan Janiar entah bagaimana ceritanya, bisa menjadi sangat nempel. Eda terus bertanya heran soal itu, sedangkan aku sendiri pun tak tahu jawabannya.

“Uang, uang, ayo kumpulin.” Aku mengumpulkan uang untuk membeli tiket.

“Aduh, aku lupa bawa dompet.” Janiar merogoh seluruh kantongnya.

“Coba dicek lagi.” Saranku.

Aku dan Eda liat-liatan tanpa ekspresi.

“Beneran gak ada.” Janiar tetap panik.

“Yaudah aku bayarin dulu, daripada balik lagi.” Aku mengambil inisiatif.

Aku bisa meliat ekspresi Anwar dan Tika yang membentuk huruf O tanpa suara di bibirnya. Sebuah ekspresi kaget yang dibuat-buat tanpa suara. Di sudut mataku yang lain, Hari dan Eda cuma cengar-cengir.

“Met…” Jennifer memanggil.

“Yap, kenapa, Jen?”

“Dompet gue ketinggalan juga kayanya.” Jennifer sambil membongkar tas tenteng kecilnya.

“Nih dompet di kantong belakang lu.” Dani menepuk pantat Jennifer.

Terdengar suara tawa mendengus Anwar dan Tika.

Kami sudah berada di dalam kebun raya. Kegiatan paling pertama tentu saja menuju spot spot menarik untuk foto bersama. Setelahnya, gue membebaskan mereka keluyuran ke mana saja dan tentunya menjalankan rencana.

“Ke mana nih?” Tanya Tika.

“Bebas. Fotonya udahan?” Tanyaku balik.

“Foto sih sambil ngikut aja ntar.”

“Kalo gitu ke taman meksiko aja dulu kita, kemon.” Aku menggiring mereka.

Di taman meksiko, kami kembali berfoto ria. Erna sempat mencuri waktu menjepret banyak tumbuhan dari beberapa angle sembari melayani permintaan narsis Tika. Aku mulai mencari celah waktu untuk kami menghilang satu per satu, sementara Hari mengalihkan perhatian Dani.

“Da, ntar jalan lurus aja terus sampai taman bougenvilea.” Aku menyarankan.

“Bagus tempatnya?”

“Bagus, tapi lumayan rame. Jangan sampe mewek ntar.”

Kami kembali berjalan di jalan aspal besar, membiarkan Hari dan Dani berjalan paling depan. Sementara itu, Eda mengikuti sendirian di belakangnya dengan gugup. Saat jarak kami cukup jauh tertinggal, aku menepuk bahu Anwar untuk mengajaknya melakukan pelarian massal. Aku, Janiar, Jennifer, Anwar, Tika, dan Erna berbelok ke kiri tiba-tiba, meninggalkan Hari, Dani, dan Eda yang berjalan paling depan.

Aku menggiring anak-anak di jalan setapak di bawah rerimbunan pohon. Kuharap kami sudah menghilang dari pandangan Dani. Selanjutnya kukirimkan pesan wa kepada Hari untuk menyusul kami ke sebelah kiri, menuju tempat tanaman obat.

POV Dani

“Met, ini lumayan ram…” Gue menoleh ke belakang.

Semua orang menghilang, hanya menyisakan Eda yang terlalu asik bermain dengan gadgetnya. Hari dan Eda juga baru saja sadar dengan keadaan, mereka berdua ikut kebingungan.

“Eh, pada ke mana anak-anak?” Kutanya Hari.

“Waduh, gue juga gak tau.” Hari juga kebingungan.

“Gue telepon aja ya.”

Nada sambung terdengar, tapi Jamet sama sekali gak mengangkat panggilan gue. Begitu pula dengan kelakukan Tika, Jennifer, dan semua anak-anak yang lain. Mereka gak mengangkat panggilan gue yang sudah berkali-kali.

“Diangkat?” Tanya Hari.

“Nggak.” Gue menggeleng.

“Kayanya gue tau mereka ke mana. Gue susulin dulu ya.”

Kalau Hari menyusul anak-anak yang lain maka artinya gue akan berdua dengan Eda. No Way!

“Gue ikut.” Pinta gue.

“Gak usah.” Hari buru-buru memotong.

Bantahan Hari menciptakan keheningan di udara. Aku mulai curiga ada konspirasi dibalik kejadian ini. Entah apa yang mereka rencanakan.

“Jamet bilang kita mau ke taman bougenvilea. Gue ke sana duluan deh.” Eda angkat bicara.

“Tuh.” Hari menunjuk ke arah Eda dengan telunjuknya.

“Ogah.” Jawab gue.

Hari melotot padaku. Rasanya dibalik kejadian ini memang ada permainan yang direncanakan. Lebih parah lagi, semua orang bersekongkol. Gue gak suka kalau begini cara mainnya.

“Pada ada apaan sih. Gue gak suka begini ya.”

“Itu.. ehmm..” Hari jelas sekali sedang panik.

“Dani, jadi gini… gue mau ngomong sama lu empat mata.” Eda kembali bicara.

Tubuh gue berdesir, rasanya seperti hangat sesaat. Rupanya memang ada rencana masif yang dibuat bersama dengan Eda. Kulihat Hari membuka kedua telapak tangannya untuk menyerahkan keputusan kepada gue, antara menuruti mau Eda atau nggak.

Gue bimbang.

“Dan, ayo.” Eda menggenggam tangan gue.

Gue langsung menarik tangan gue sendiri secara paksa. Lidah gue membentur langit-langit mulut, menyebabkan suara berdecak. Mata terpejam sekilas dan gue menghela nafas.

“Oke. Tapi jangan pegang pegang.” Gue memberi syarat.
“Fine.” Jawab Eda.

Kami berdua berpisah jalan dengan Hari, melanjutkan kira-kira setengah jalan yang tersisa menuju taman bougenvillea. Eda bilang, cukup lurus saja mengikuti jalan besar. Kami berjalan berdua dengan canggungnya. Eda tampak berkali-kali seperti akan mulai bicara, tapi berkali-kali juga mulutnya kembali terkatup. Gue rasa dia jelas bingung mau berkata apa, karena dia tahu dia salah.

Eda salah. Harus.

Maka kubuka saja pembicaran untuk meminta cerita langsung dari sumbernya. Kuharap efek obat yang telah kuminum secara teratur membuatku lebih bijak menghadapi situasi baper ini.

“Ceritain waktu wisuda itu.” Pintaku tegas.

“Oke, gini…”

Eda bercerita lengkap soal tingkah laku Kak Rivin yang agresif, kesalahpahaman kedua orang tuanya, dan pernyataan cinta Kak Rivin di apartemen Eda.

Kalau Eda menerimanya, maka hampir kupastikan mereka telah melakukan seks sepuasnya hingga sekarang.

“And you did it?” Gue tanya lagi

“Nggak. Maksud gue, Iya. Eh, enggak.. Enggak pas malam itu.” Eda gugup.

“Sama aja.”

Gue menghela nafas dengan sinis. Mereka sudah ML. Sudah cukup. Gak ada yang yang perlu dijelaskan lagi oleh Eda. Gue udah paham, dia menerima cinta Kak Rivin karena terimingi sebuah status yang jelas.

Ada perbedaan yang jelas ketika Eda dan gue menjalani hubungan, karena gue tidak pernah secara harfiah menerima cinta Eda. Eda gak bisa memahami keinginan gue. Sejak dulu.

Kami sampai pada sebuah lokasi yang nyaman untuk duduk. Sambil menghela nafas untuk kesekian kalinya, sebaiknya memang kuceritakan lagi saja pada Eda.

“Eda, temen gue yang baik, tau kan kenapa gue gak pernah bisa ngejawab pernyataan cinta lu?”

Ada penekanan gue dalam pelafalan kata cinta.

“Tau. Karena trauma momen manis si Bowo, mantan SMA lu kan.” Eda menjawab datar.

“Nah.”

Gue mengingatkan kembali kepada Eda pada masa gue berpacaran dengan seorang senior bernama Bowo waktu kelas 1 SMA. Dia memberikan macam-macam, bahkan dia bisa akrab dengan keluarga gue yang sangat menjengkelkan. Oleh sebab itu, dengan sukarela, gue menyerahkan mahkota keperawanan kepada Bowo. Tapi, baru 3 bulan gue menjalani kuliah di provinsi berbeda, Bowo menghamili orang lain.

“…Gue berusaha menjalani hubungan dengan cara berbeda, Da.”

“Oke. tapi gue tetep gak bisa tanpa status. Di situ masalahnya.” Eda menanggapi.

Kami berdua menghela nafas bersama-sama. Menarik dan menghelas nafas adalah cara terbaik menurunkan tensi percakapan. Apalagi, di sini lumayan banyak orang.

Gue menyadari ini memanglah akhir dari segala kisah cinta kami berdua selama dua tahun lebih. Dimulai dari persahabatan yang konyol, lalu menjadi sepasang kekasih tanpa status, lalu harus hancur karena orang lain. Tapi untungnya, semoga, persahabatan kami kembali seperti awal meski pun tetap ada luka yang membekas.

“Kalo gitu kita temenan lagi kaya dulu?” Gue mengonfirmasi.

“Yap.”

“Jaga Rivin. Jangan diputusin lagi.”

Kami tertawa bersama-sama tanpa beban. Sebenarnya ada, tapi minor.

“Udah?” Tanya Eda.

“Ya udah.”

“Gak ada nangis-nangisan? baper?” Tanya Eda lagi.

“Obatnya manjur.” Gue berkelakar.

Aku lega, tidak sampai menangis selama cerita tadi. Rupanya obat dari S.H.I.E.L.D. memang ajaib. Kebaperan bisa hilang dalam sekejap bersama kristal terrigen yang bersih dari dalam tubuh. Begitu pula Eda, sepertinya dia juga mengonsumsi obatnya secara teratur.

“Obat?” Tanya Eda.

“Iya, obat yang dari Hari. Obatnya S.H.I.E.L.D.”

Eda meminta cerita dariku soal Hari dan S.H.I.E.L.D. Pembicaraan yang beralih ke hal riskan membuat gue kagok. Gue mendadak bingung memilah cerita agar Hari dan Erna tidak terungkap sebagai inhuman. Begitu pun gue yang juga harus menyembunyikan identitas sebagai agen pemula.

Hasilnya, gue hanya menceritakan bagian Hari yang telah menjadi agen lapangan aktif, bertugas mencari inhuman baru, dan bertanggung jawab mendeteksi ada kristal terrigen dalam tubuh kami akibat obat perangsang waktu itu.

“Kalo jadi agen lapangan gue tau. Sebelum ke Malang dia juga ngasih obat.” Kata Eda

“Nah, itu tau.” Gue mengerutkan alis.

“Ah, gila, jadi Sesil meninggal karena…” Eda melihat ke sembarang arah.

Gue mengangguk tanpa bisa menyembunyikan bagian yang itu.

“Kok tau?” Eda makin penasaran.

“Hari cerita.”

“Kok gue gak diceritain?”

Waduh, malah jadi bahaya. Bisa-bisa kebongkar semua cerita kami. Gue harus menghindar sebisa mungkin dari segala pertanyaan setelah ini.

“Itu juga baru-baru ini gue diceritain. Gak banyak. Kalo mau tau, tanya aja langsung sama orangnya.” Gue menutup cerita.

Gue menghindari pertanyaan bertubi-tubi dari Eda dengan menelepon Hari kembali. Gue mengatakan bahwa urusan kami sudah selesai dan akan menyusul ke lokasi mereka.

“Dan.” Eda memanggil.

“Please, gue gak tau apa-apa lagi.”

“Bukan itu. Gue punya cerita, soal Jamet.”

Gue menatap Eda serius, meminta dia melanjutkan ceritanya.

“Waktu gue cabut sama Jamet pergi ke luar rumah. Tau gak gue dibawa ke mana?” Eda antusias cerita.

“Ke mana?”

“Rumah Janiar! Gila gak!”

Gue lumayan kaget dengan cerita Eda yang satu ini. Apalagi saat Eda melanjutkan ceritanya bahwa antara keluarga Jamet dan Janiar sudah saling menyetujui hubungan mereka. Status mantan yang selalu diceritakan Jamet semasa kami kuliah rupanya sudah basi. Semuanya berubah setelah Jamet pulang kampung awal Desember lalu.

Itu jugalah alasan Jamet menulis kata Janiar saat di Papandayan. Dia ternyata waktu itu memang rindu. Untuk saat ini, mereka benar-benar sepasang kekasih yang canggung mengakui status mereka sendiri. Ditambah dengan kelakuan Jamet yang gak tegas dengan Jennifer.

“Kasihan Jennifer.” Gue mengiba.

“Banget.” Eda mengganggu.

“Gantian kita bantu dia.” Usul gue.

“Caranya?”

“Kita pikirin nanti.”

Kami berdua berkumpul lagi dengan anak-anak yang lain. Selanjutnya, kami lanjut berkeliling di lokasi yang tidak terlalu jauh dengan jalan besar. Tengah hari, kami memutuskan beristirahat di cafe kebun raya. Sayangnya, jalan-jalan hari ini harus terhenti karena hujan mengguyur deras.

Malam hari, gue antarkan Eda kepada Hari yang duduk di teras. Dia meminta cerita sejelas-jelasnya tentang Hari yang sudah menjadi agen S.H.I.E.L.D. dan siapa saja yang udah tau. Hari menjawab sekenanya dan sangat to the point.

Hari cukup rapi menyembunyikan segala informasi rahasia dibanding aku. Dia bisa menutupi keterlibatan Erna dan Sigit si penyihir. Hari menutupi penjelasannya dengan saran agar mengonsumsi obat yang diberikan hingga habis.

POV Jamet

Kami semua terbangun di Minggu pagi yang cerah. Masalah Eda sudah selesai dengan Dani, dan kami berempat menjadi 4 sekawan seperti dulu lagi. Kisah Eda dengan Rivin kuharap bisa berjalan tanpa galau-galauan lagi seperti saat semester 3.

“Kita pulang sore ya, biar gak macet.” Aku memberi pengumuman.

“Main ke kebun raya lagi boleh gak?” Tanya Tika.

“Asal baliknya jangan kesorean.”

Kami terbagi menjadi dua kubu. Erna, Anwar, dan Tika kembali akan bermain ke kebun raya. Aku tidak ikut menemani mereka karena Anwar meyakinkanku kalau mereka tidak mungkin hilang. Sementara itu, aku, Hari, Eda, Dani, Janiar, dan Jennifer memilih bermalas-malasan di rumah Mbahku.

“Met, katanya rumah lu ada yang deket Bromo?” Hari berguling malas di kasur lipat.

“Ada kok, tapi mau ngapain juga ke sana. Taman nasionalnya lagi ditutup.”

Aku menyalakan tivi.

“Gak ada tempat main apa lagi gitu?”

“Mau? Tapi besok kan kalian pulang.”

Malang memang punya banyak tempat wisata yang menarik. Tapi waktu yang mereka miliki terbatas untuk dinikmati di sini. Ditambah lagi kondisi cuaca yang gak menentu untuk wisata outdoor. Kami pun gak bisa mendaki ke Semeru karena tutup awal tahun.

Dani dan Eda sudah ngobrol dengan normal di sebelahku. Janiar dengan santainya bolak balik masuk ke dapur, membantu Mbah Putri memasak makan siang. Jennifer dengan konyolnya kini mencari-cari perhatianku saat Janiar sedang sibuk di dapur.

Perkataan Eda tempo hari sepertinya memang harus kulaksanakan. Aku harus tegas dengan sikapku dengan Jennifer.

“Aku ke dapur dulu ya.” Alasanku.

Jennifer justru terus mengikutiku. Akhirnya, di dapur penuh dengan orang menemani Mbah. Sementara itu, canda tawa Eda, Dani, dan Hari menggaung sampai di dapur. Liburan kali ini hampir tak terasa hampir berakhir.

Aku tak bisa membayangkan setelah ini akan sulit bertemu dengan mereka semua. Kehidupanku untuk mencari rupiah akan berjalan di Malang. Sementara mereka akan kembali ke Jakarta, atau tepatnya Depok. Kehidupan terus berjalan, benar kata Eda, orang datang dan pergi silih berganti.

Perpisahanku dengan mereka tinggal menghitung jam. Sebelum itu, aku juga harus menyelesaikan kebaperan Jennifer sebelum Janiar mulai cemburu buta. Apa yang bisa aku lakukan dalam waktu dekat ini?

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat