Tanpa Nama Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 33

Rohku Melayang

POV Hari

Gue, Lina, dan Erna sedang bersama Puri di kamarnya. Keadaan Puri sudah lebih baik daripada tadi. Terkena tembakan, namun sebenarnya tidak. Gue gak bisa membayangkan bagamana rasanya.

Lina mengecek kondisi fisik Puri secara berkala. Sebuah infus terpasang lagi di tubuh Puri, namun gak separah kondisi saat gue menemukannya di Menara Saidah. Pipinya gak tirus dan matanya gak berkantong. Badannya juga sudah lebih berisi dibanding akhir tahun lalu itu.

“Kamu bener udah mendingan?” Tanya Lina.

“Udah kok, aku cuma shock aja.” Jawab Puri.

“Ya memang cuma shock. Tapi tenaga kamu langsung habis.”

“Dan rasanya sakit hahaha.” Canda Puri dipaksakan.

Puri tetap mayakinkan Lina kalau sekarang dia udah gak apa-apa. Kemudian, hening terjadi. Gue tetap dalam posisi duduk di satu kursi. Erna bersender di dinding dekat pintu, dan Lina tetap duduk di samping tempat tidur Puri.

Sepintas gue melihat kode lirikan dari Puri. Tampaknya Lina disuruh pergi.

“Oke, gue mau ke tempat Sigit dulu.” Lina pamit.

“Gue ikut.” Pinta gue.

“Lu di sini, jagain Puri sebentar.”

“Ck.” Gue mengecap lidah.

Untungnya masih ada Erna.

“Erna, lu mau minum apa? Ikut gue yuk.” Lina mengajak Erna keluar.

“Eh.” Gue gak berkutik.

Lina melotot. Galak. Konspirasi cewek-cewek sialan. Momen dua-duan seperti ini akhirnya terjadi juga. Padahal, gue sama sekali gak mau berbicara basa basi lagi sama dia. Meskipun akhir tahun lalu pernah terjadi perbincangan di Menara Saidah. Itu pengecualian, karena Puri sedang membahayakan nyawa kami.

“Apa kabar, Har?” Puri membuka obrolan.

“Hm…” sahut gue.

“Ham hem ham hem.” Ledeknya.

Gue gak membalas ledekannya. Mata gue melirik ke arah lain sambil mengusap-usap hidung. Gue menekankan kepada diri sendiri bahwa tugas gue di sini adalah menjaga Puri sampai Lina balik lagi. Menjaga bukan berarti mengobrol.

“Pengen ketawa kan tuh hahaha.” Ledeknya lagi.

Puri beberapa kali meledek untuk mendapatkan perhatian gue. Tawanya sungguh khas, mengingatkan pada masa pacaran kami dulu. Tapi itu dulu, dan dulu itu bukan sekarang. Please…

“Har, ngaku aja deh. Pengen ke sini kan??” Dia menepuk kasur tidurnya.

Please, jangan diterusin lagi. Nada suaranya bikin gue semakin rindu masa-masa kebersamaan itu. Sebentar aja dia meneruskan suaranya masuk ke telinga, gue pasti akan luluh lantak.

“Aduh aduh.. Har, tolongin gue. Infus gue ketarik.” Tiba-tiba Puri meringis.

“…” Gue hanya diam.

“Hari, tolong.” Pintanya lagi

“Bohong.” Gue berucap singkat.

“Aagghh! Serius, ini sakit!”

Puri makin meringis.

Akhirnya gue menurunkan pertahan gue. Gue pikir Puri memang kesakitan. Salahnya sendiri banyak tingkah sewaktu ngeledek. Tak apa lah membantu dia sedikit, mungkin menekan tombol komunikasi di pinggir kasur supaya Lina cepat datang bukan masalah.

Gue melangkah mendekati kasur Puri. Dia masih meringis kesakitan, wajahnya ditekuk dan matanya terpejam erat. Wajah itu… sumpah gue rindu.

“Sebelah mana tombolnya? Kok gak ada?” Gue kebingungan.

“ini, deket kepalaku.”

Batin gue bergolak. Please, stop godaan ini. Panggilan ‘aku’ sudah cukup hanya saat berpacaran. Gue gak sanggup lagi. Begitu gue mendekat ke kepala Puri, tiba-tiba… Tangan gue diraihnya hingga gue jatuh terduduk di kasur, disambarnya mulut gue dengan cepat hingga menyentuh bibirnya.

Sebuah momentum hening terjadi dalam diri gue, dan Puri memanfaatkannya untuk mencium gue.

Gue bersusah payah mendorong kepalanya menjauh. Akhirnya lumatan bibir Puri yang sebentar tapi terasa seabad itu terlepas. Mata kami bertatapan. Jiwa gue seperti masuk ke dalam celah bola matanya yang berbinar, dan secepat itu juga gue hancur. Bingung harus berbuat apa. Gue antara marah dan rindu. Manakah yang gue harus tunjukkan, rasa marah gue atau rindu? Ego ataukah harga diri?

“Apa-apaan…” belum sempat gue marah.

“Hari…” Puri menangis memeluk gue.

Tubuh dan dekapan ini sangat familiar. Tubuhnya hangat layaknya makhluk berdarah panas. Tidak sedikitpun dingin AC membekukan dirinya. Justru badan gue yang menggigil akibat kombinasi AC yang terlalu dingin dan rasa panik. Haruskah gue dorong lagi badannya agar menjauh, atau balas memeluknya.

“Hari… hiks…” Puri mkain sesenggukan.

Gue relakan harga diri gue jatuh. Terserah saja apa yang terjadi nanti. Gue balas memeluknya erat. Seorang junior, Hari Fiddi Lasya, yang pernah dipacari Puri selama dua tahun, yang telah menjadi mantan sejak 9 bulan lalu, kini kembali dalam pelukannya. Gue kembali dalam pelukannya, dan entah kenapa gue pun merasakan kelegaan.

Puri puas berlama-lama dalam pelukan, begitu juga gue. Mata kami kembali bertemu dan diteruskan dengan sentuhan bibir terniat untuk kali pertama di tahun ini. Lumatan demi lumatan terjadi silih berganti. Gue menghirup karbondioksida yang berhembus dari hidungnya dalam-dalam. Untuk sekarang, gas itu lah nafas segar yang telah lama tak gue hirup.

Kecupan indah kami lama-lama naik menjadi nafsu. Tangan gue mulai menggerayangi kaosnya. Begitu pun Puri yang menggerayangi tubuh atas gue. Payudaranya yang indah itu sangat familiar di telapak tangan gue. Tubuh Puri seakan berbisik bahwa dia untuk dijamah.

Gue mendorong tubuh Puri untuk rebahan. Kemudian, gue angkat kaosnya hingga terlepas, dan begitu pula perlakuan Puri terhadap gue. Kami saling meraba sekujur tubuh sang lawan main. Beberapa kali kami mengisi celah waktu dengan kecupan singkat.

Begitu kami akan melepas celana, tiba-tiba kami dikagetkan dengan pintu yang terbuka…

“Hari, ini udah sor…” Erna muncul dari balik pintu.

Gue dan Puri saling terpaku menatap Erna.

“Iyuuhh.” Erna melipat mukanya.

“Kenapa, Na?” Lina datang belakangan.

Lina melihat kami. Dua orang sekarang melihat kami akan berbuat mesum tanpa mengunci pintu. Situasi mendadak canggung.

“Erna, kayanya ada yang harus dicek lagi di kulkas. Yuk.” Lina mengajak pergi lagi.

“Eh?” Erna bingung.

Pintu ditutup Lina dari luar. Jelas sekali Erna bingung karena memang itu hanya alasan Lina saja. Sekarang kami kembali berdua, dan tertawa terbahak-bahak.

“Nyaris aja.” Kata gue.

“Kalau Erna datengnya lebih lambat dua menit dari tadi, wah..” Balas Puri.

Situasi mencair. Gue sudah melunak untuk diajak berbicara dengan Puri. Adegan kami tadi tidak lagi diteruskan mengingat apa yang akan dikatakan Erna, sudah sore waktu Indonesia Bagian Barat, artinya waktunya kembali ke Malang. Selain itu, nafsu kami sudah terlanjur turun. Mungkin lain waktu kami punya waktu yang lebih panjang untuk melakukan itu.

Puri bercerita kalau dia tahu apa yang terjadi antara gue dan Lina selama seminggu di akhir tahun, termasuk kegiatan ranjangnya. Dia cemburu sedikit, tapi apa boleh buat, dia sekarang sudah menjadi bagian dalam tim. Cerita lainnya, Puri belum berbuat kegiatan ranjang apapun dengan Irfan, yang mana itu berita bagus buat gue.

Kesel juga kalo orang yang disayang ternyata pernah diobok-obok orang lain. Meskipun pada masanya itu Puri bukan lah milik gue. Pokoknya gitu.

Cerita selain masalah selangkangan adalah penguasaan kekuatan Puri.

“Aku udah bisa ngendaliin ini.” Puri menunjuk dirinya sendiri.

“Bagus dong. Kaya gimana kekuatannya?” Balas gue.

“Ya, jadi semacam roh gitu. Ada lima.”

Roh berarti arwah. Jadi kekuatan Puri memang benar-benar setan dalam istilah kasar gue. Setan dari dalam diri sendiri. Para setan itu gak sepenuhnya hancur saat kalah seperti saat kena tembak tadi. Mereka Cuma menghilang beberapa waktu, lalu nanti bisa muncul lagi. Jumlahnya akan selalu lima.

“Tapi aku beda sama Ghost Rider.” Jelasnya.

“Ghost Rider?”

“Setan yang pernah berurusan sama S.H.I.E.L.D. beberapa bulan lalu.”

“Oh..” mungkin itu setan yang pernah dibilang Coulson.

Puri berbeda dengan Ghost Rider. Puri adalah inhuman dan dia gak pernah bersepakat dengan setan untuk mendapatkan kekuatan. Dan yang lebih beda, Puri lima punya lima bayangan, atau gue pribadi lebih senang bilang mereka sebagai setan.

“Har, aku perlu ngomong sesuatu lagi.” Kata Puri.

“Apa lagi tuh?”

“Masih ingat tayangan CCTV waktu aku ngelawan Alan? Dua bayanganku kan datang terlambat.”

Gue mengingat-ngingat lagi. Sepertinya waktu itu Puri hanya bersama tiga setannya. Tapi, memang saat hampir kalah dua setan lainnya muncul membantu.

“Dua bayanganku itu ngejaga Kenia di Jakarta sana.”

“Oke?” alis gue mengernyit heran.

“Dan di sini bukan Indonesia, jadi lumayan jauh.”

“Terus?”

“Terus waktu bayanganku datang lagi ke sana…”

Puri bercerita bahwa Kenia hampir saja diperkosa teman sekolahnya. Untungnya, Puri sempat menolong dari kejadian keparat itu. Puri mengatakan kalau Kenia berniat mau menolong temannya, bla bla bla.. Gue gak peduli. Fakta bahwa Kenia sangat ceroboh dan hampir membahayakan diri sendiri sudah cukup bikin gue marah.

“Har, please kamu jangan marah sama Kenia.”

“Oh jelas aku marah!”

“Omongin baik-baik, Har. Aku akan jagain dia terus. Janji.”

Puri berusaha meyakinkan gue tanpa henti untuk gak marah sama Kenia.

“Tapi tetep aku mau nasehatin dia. Supaya dia tahu abangnya selalu ngawasin dia.” Kata gue.

“Oke. Tapi gak pake bentak bentak.” Jawab Puri.

Erna mendadak datang lagi dengan lebih sopan. Dia mengetuk pintu terlebih dulu. Selanjutnya, kami berkumpul di lorong depan kamar Puri. Gue dan Erna pamit untuk kembali menuju Secret Zoo. Sigit pun datang membukakan portal untuk kami, tangannya berputar-putar membuka celah antar ruang.

Saat portal terbuka, tiba-tiba dari kejauhan lorong gue melihat Alan berlari. Dia datang ke arah kami dengan heningnya. Alan bertelanjang dada dengan beberapa kabel perawatan masih menempel di tubuhnya.

“Awas!!” gue berteriak.

Gue berteriak memberikan sinyal bahaya. Puri berbalik badan seiring kedatangan Alan. Dengan sekali hantam telak di tulang hidung, Puri seketika berhasil merobohkan Alan secepat kilat. Alan pingsan dan mimisan.

POV Sigit

Alan pingsan, tapi hawa lorong ini rasanya berubah. Ada yang gak beres. Sepertinya…

Aku menghentakkan tubuhku sendiri dalam satu hembusan nafas, lalu arwahku seketika terlepas dari badan. Sekarang aku melayang-layang sekitar satu meter dari lantai. Aku memperhatikan sekitar, cahaya lebih remang-remang dari sudut pandang ini.

Tubuh asliku tampak masih terlonjak setengah mengangkang dan tidak bergerak. Mbak Lina, Mbak Puri, Mbak Erna, dan Mas Hari juga tidak bergerak. Secara harfiah tubuh mereka, termasuk tubuhku, memang tidak bergerak seperti saat permainan mannequin challenge. Portal menuju Secret Zoo masih terbuka, percikan apinya juga tidak bergerak sama sekali.

“Jadi ini rasanya.”

Aku berusaha agar tidak panik dengan tingkat gravitasi yang baru ini. Sambil mencoba beradaptasi, aku mencari Alan. Aku yakin dia sudah tidak berada dalam tubuhnya.

Kualihkan pandanganku ke sudut lorong yang jauh, tempat datangnya Alan tadi. Rupanya Alan memang ada di sudut sana, mengelus hidungnya. Kurasa dia juga baru saja terlepas dari tubuh aslinya.

Rambut Alan sudah acak-acakan. Dia tidak lagi seperti Alan yang aku kenal. Alan yang biasa akan berpenampilan rapi dengan pipinya yang tirus khas orang inggris. Rambut pirangnya selalu disisir ke samping. Wajahnya bersih meski ada beberapa bintik merah di kedua pipinya. Sekarang dia membiarkan brewoknya tumbuh sedikit demi sedikit seperti orang tak terurus.

“Alan!” teriakku.

“Oh, There you are, Sigit. Finally you can control your astral body.” Jawabnya.

“Ya ya.” Jawab gue.

“You still can’t speak English properly, can you?”

Aku tidak bisa membantahnya. Alan 99% benar.

“How ‘bout this.” Dia merapalkan mantra bahasa seperti Eva.

Tapi, alih-alih menelannya sendiri, Alan langsung menerkamku dengan kecepatan tinggi hingga aku tidak bisa bergerak. Dia menyumpalkan mantranya ke dalam mulutku sampai mau tak mau harus tertelan.

“That’s awesome, right?” Puasnya.

“What do you want, Alan?!” Teriakku.

“I want to escape from this stinky place. Do you mind?” jawab Alan dengan senyumnya.

Alan sudah tidak bisa kabur sendiri karena cincinnya sudah kupegang. Dia juga tidak bisa membuka portal meski pun segel sihir di markas ini sudah kulepas. Jadi, Alan mau kabur dari markas menggunakan portal yang kubuat untuk Mas Hari.

“What did you do to inhumans?”

“You wanna talk? Let’s talk. Our time is unlimited. Just look at them.. not moving, like mannequin in the clothes store….or stone dwarf.”

Alan sangat banyak bicara. Setelah puas memaki semua orang, akhirnya dia mulai bicara jelas tentang prinsip dan tujuannya. Alan mengatakan telah membaca buku inhuman. Dia merasa inhuman memiliki arti lebih penting dari sekedar kemunculannya yang acak. Katanya, inhuman cukup kuat untuk dijadikan sebagai pelindung dari makhluk lain yang ingin menyerbu bumi.

“Ancient One is dead! We are not alone in this world!” Marahnya.

“What is your objective?” Tanyaku lagi.

“Inhumans are same as humans, there’s good and bad. War will happens again if they not in control….”

Aku mengerti maksud Alan. Dia ingin mengumpulkan inhuman terkuat untuk melindungi bumi sebagai pengganti Ancient One yang telah tiada, semacam membentuk avengers versi inhumans. Tapi alih-alih menjadi pemimpin, dia justru ingin mengendalikan inhuman dengan kekuatannya.

Watchdog adalah inang bagi Alan untuk membantu mencari inhuman. Terlebih, Irfan adalah pimpinan watchdog cabang Indonesia yang gampang untuk dipengaruhi. Oleh karena itu, Alan memulai pencarian dari Indonesia. Begitu watchdog hancur, dia kehilangan inangnya dan harus bergerak sembunyi sembunyi lagi.

“Didn’t you see her? She is extraordinary.” Alan terus bicara.

“Who?” Tanyaku.

“The woman who hit me. She even can push me out from my body.”

Alan bicara soal Mbak Puri. Aku akhirnya mengerti kenapa dia nekad menyusup ke sini dan pertama kali menemui Mbak Puri. Aku memang belum mengenalnya lama, tapi sepertinya Mbak Puri memang kuat.

“Join me, Sigit, we can save the world like Ancient One did before.” Tawar Alan.

“No way! you have to come back to Kamar-Taj.” Sanggahku.

Alan menghela nafas.

“Whatever, I’m not expert to affect people.”

Alan tiba-tiba menyerangku, memukulku dua kali tepat di ulu hati, lalu melemparku jauh menembus ke ruangan sebelah. Kemudian, dia terbang mendekati tubuhnya lagi. Aku segera bangkit untuk mencegahnya kabur.

“You can’t beat me, Sigit! This is your first time in this dimension.” Teriak Alan.

Aku harus menunjukkan kepadanya bahwa aku sudah belajar banyak. Aku bukan pemalas seperti dulu. Oleh sebab itu, aku dengan cepat terbang mendekat dan menarik kaki Alan. Kulempar dia menjauh lagi dari tubuhnya. Baku hantam terjadi. Kami saling pukul dan saling lempar hingga terbang ke ruangan lain.

Di satu ruangan perapian tanpa ada orang, kami kembali saling pukul. Arwah kami terbang ke sana ke mari mencari kemenangan dalam perkelahian ini. Wajahku rasanya bonyok, tapi tidak meninggalkan bekas atau tetesan darah sedikit pun dalam wujud astral ini. Aku yakin tubuh aslikulah yang menerima dampaknya.

“Do you know magic thing from the fire, Sigit? It’s full of heat reaction!”

Alan memunculkan belati sihirnya yang berwarna merah. Dia memasukkan belati itu ke perapian hingga memunculkan bara berwarna merah menyala. Alan kembali menyerangku dengan membabi buta. Aku menjadi takut karena Alan menggunakan senjata, sementara aku belum bisa membuat senjataku sendiri.

Mungkin inilah selisih kemampuan yang bisa diukur antara aku dan Alan.

Alan berhasil menusukku dengan belatinya. Aku langsung memegangi perutku, rasanya perih sekali. Arwahku melayang-layang tak seimbang. Seiring dengan itu, Alan pergi menjauh menuju tubuhnya tanpa bisa kucegah.

Aku berusaha mati-matian melayang menuju tubuhku, sementara Alan sudah masuk kembali ke tubuhnya. Dia mengambil cincinnya dalam kantong bajuku, lalu kabur dengan membuat portalnya sendiri entah ke belahan bumi yang mana.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat