Tanpa Nama Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 31

Pemaksaan

POV Rivin

Aku tak kuasa dengan ancaman Putra menggunakan foto-fotoku. Maka aku harus menemaninya tidur di hotel malam nanti sebagai gantinya. Aku sungguh terhina dengan posisiku sekarang, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Eda, tolong aku..

Aku dan Putra keluar sendiri-sendiri dari kantor agar tidak dicurigai orang. Aku tidak mau orang menganggap aku membuka hati untuknya. Untungnya Putra berbaik hati denganku pada permintaan ini. Seandainya saja kebaikan hatinya bisa dilanjutkan hingga batal menginap di hotel.

Nyatanya, tidak ada kebaikan lagi yang disajikan Putra. Dia menungguku di perempatan dekat kantor, untuk kemudian pergi bersama. Entah hotel mana yang disewanya untuk malam ini. Aku tidak peduli.

Aku hanya peduli pada jarum jam yang berputar sangat lambat. Sangat lambat bagiku, dan mungkin sangat cepat bagi Putra. Dia gelisah. Laju motor maticnya digas dengan kecepatan tinggi, menunjukkan dirinya sangat terburu-buru. Padahal tidak ada hal yang dikejarnya. Entahlah, pasti dia hanya terburu-buru ingin menyicipi tiap jengkal tubuhku.

Eda, tolong aku..

“Sampai kita.” Putra mengacaukan lamunanku.

“Oh, oke.” Jawabku datar.

Sebuah hotel bintang tiga di Jakarta Selatan. Batinku bergumam tentang selera Putra yang rupanya tidak murahan. Kuharap dia juga tidak menganggapku murahan dan membatalkan kegiatan ini.

Urusan parkir selesai. Selanjutnya, urusan resepsionis juga selesai. Kami sekarang berjalan menuju lift. Jarum jam bergerak lambat. Lift bergerak lambat. Hanya langkah kaki Putra yang bergerak cepat. Genggaman tangannya membuatku mau tak mau harus sejalan mengikutinya.

Pintu kamar dibuka.

“Hah, sampai juga.” Putra menghela nafas sambil meletakkan ranselnya.

“Put, gue…” aku mencoba bicara.

“Sebentar, gue ke toilet dulu. Udah kebelet dari tadi.”

Rupanya dari tadi Putra menahan buang air. Aku tertipu. Kepanikan yang menderaku sejak tadi justru membuatku tertawa lepas.

Suasanya lebih tenang bagiku sekarang, bahkan pada momen-momen setelahya. Putra sama sekali tidak menunjukkan aura harimaunya. Kukira dia akan cepat menelanjangiku luar dan dalam. Tapi ternyata dia sangat ramah, bahkan memberikanku hadiah.

“Gue ada hadiah buat lu. Semoga suka ya.” Kata Putra.

Putra membuka tas ranselnya. Sebuah baju casual lengan panjang dengan model turtle neck, dan sebuah lagi baju kaos biasa berwarna biru. Tak kupungkiri, aku suka dengan baju turtle neck pemberiannya.

“Wah makasih. Kok tau gue suka turtle neck?” tanyaku.

“Tau dong. Putra gitu.” Putra mengedipkan mata genitnya.

“Tau dari mana?” ancamku dengan nada konyol.

“Tau dari keseharian lu sama nanya sama temen-temen kita.”

Kupicingkan mataku menatapnya. Tak kusangka Putra akan sedetail itu mengamatiku. Aku penasaran sejauh mana lagi dia menjadi stalkerku. Agak seram, tapi masalah ini mungkin bisa lebih buruk lagi kalau aku tidak tahu semuanya tentang stalker satu ini.

POV Kenia

Jam pulang sekolah telah lewat setengah jam lalu. Imel sudah pulang duluan karena masih parno terhadap Yogi. Aku masih di kantin, menunggu Nur yang juga kembali dari toliet. Apa juga yang dilakukannya selama itu di toliet.

Aku kian penasaran. Pikiranku membayangkan macam-macam, mulai dari skenario sakit mendadak, kisah horror, hingga kejadian kriminal. Bahkan, aku sempat membayangkan Nur sedang masturbasi sampai lupa waktu. Tapi pasti gak mungkin. Seorang kutu buku yang berencana ingin kuliah kedokteran gak mungkin punya waktu untuk yang aneh-aneh.

Setengah jam selanjutnya telah berlalu. Guru dan siswa telah meninggalkan sekolah satu per satu. Kesabaranku akhirnya habis. Pesan lineku juga tidak dibalasnya. Aku akan menghampiri Nur ke toilet.

“Nur? Nur?” panggilku di toilet cewek.

Satu per satu pintu kamar toilet telah kubuka. Semuanya kosong. Lalu kemanakah Nur? Apa mungkin dia pulang duluan dan lupa kalau aku menunggunya?

Kutanya beberapa anak yang masih ada di sekolah dan yang sekiranya berpapasan dengan Nur sejak pulang sekolah tadi. Akhirnya, kudapatkan satu informan yang mengatakan Nur diajak oleh Yogi dan seorang temannya pergi ke arah ruang sekretariat pecinta alam.

Aku tahu, sekretariat ekskul semuanya berada di belakang gedung. Tapi, ruangan sekretariat pecinta alam memang paling tersembunyi dari sekretariat eksul yang lain. Letaknya di samping gudang, paling ujung lorong, dan paling kumuh. Selain itu, sudah jadi rahasia umum kalau ekskul itu adalah sarang kegiatan yang gak baik di sekolah.

“Kak, Kak Puri?” panggilku dalam hati.

Aku mencari bantuan bayangan Kak Puri. Anggap saja terjadi hal yang aneh-aneh pada Nur, maka mungkin saja aku tidak berani melawan mereka. Bantuan Kak Puri sangat kubutuhkan. Sayangnya, tidak ada jawaban dari Kak Puri setelah berkali-kali kupanggil.

Nur adalah sahabatku, setidaknya aku selalu ingat itu. Jadi, kuputuskan akan ke sana sendiri untuk menjemputnya walau apapun yang terjadi. Semoga Yogi masih takut denganku akibat kejadian dua hari lalu.

Aku berjalan menyusuri lorong di belakang gedung. Tidak ada jadwal kegiatan hari, sehingga iniruangan sekretariat semua ekskul seutuhnya kosong. Suasana sunyi senyap, namun sayup sayup terdengar obrolan sejumlah orang arah dari ujung lorong.

“Ahh.. gila Yog, jarang banget lu bawa kaya gini.” suara ngebass menggema di ruangan.

“Untung bokapnya dia ngutang sama bokap gue.” suara yang ini mirip kambing.

Aku tak bisa melihat jelas, tapi kenal sekali suara orang yang kedua itu. Suara itu adalah suara Yogi. Suara yang mendekati nada tenor kalau istilah dalam paduan suara, tapi gagal. Jadinya lebih mirip dengan suara kambing.

“Tapi ntar jangan bawa-bawa gue ya.” suara ngebass menggema lagi.

“Selow, abis ini giliran Imel. Hahahaha!” Kudengar tawa Yogi menggema

Petanyaan di benakku adalah, ada berapa orang di dalam ruangan itu?

“Kak, Kak Puri. Aku butuh bantuan sekarang.” Batinku.

Belum ada tanggapan sama sekali. Aku merinding dan takut. Tapi aku teringat sekali lagi bahwa Nur adalah sahabatku. Aku harus berani. Aku mulai melangkah, semakin maju hingga sampailah pada jendela sekre pecint alam. Kuintip ke dalam sejenak.

Ada dua orang laki-laki sedang berdiri berhadapan. Salah seorangnya adalah Yogi dan orang lainnya adalah teman sepermainan Yogi yang tak kuhafal namanya. Nur sedang diikat pada kaki meja. Dia dalam posisi bersimpuh di antara kedua kaki orang itu sambil mengulum penis mereka.

Nur silih berganti memindahkan kepalanya untuk mengulum penis Yogi dan seorang temannya. Kepalanya bergerak konstan maju mundur, dijambak oleh kedua orang itu. Matanya terpejam erat hingga membentuk guratan-guratan pinggir matanya. Ekspresi Nur seperti orang yang menahan rasa nyeri, jijik, atau semacamnya.

“Astaga!! Kaaak, Kak Puriiii!!” Aku teriak dalam batinku.

Sudah tiga kali aku panggil, sama sekali tidak ada jawaban dari Kak Puri. Ya, Tuhan, aku harus bagaimana.

Aku kembali pelan-pelan mengambil langkah maju, tapi lututku ternyata menyenggol tumpukan kayu tak terpakai. Akibatnya, beberapa kayu jatuh ke lantai dan menyebabkan suara berdentang yang nyaring.

“Siapa tuh?!” Teriak si teman Yogi.

Dia dengan cepat pergi keluar ruangan dan mendapatiku mencoba sembunyi. Tubuhku ditariknya dengan mudah dan kedua lenganku digenggamnya. Aku berontak, tapi tidak berdaya sama sekali. Selanjutnya, aku ditarik masuk ke dalam sekre.

“Aduh, Juple, itu Kenia..” Yogi sepertinya takut.

“Iya, ini Kenia, gue kenal.” Jawabnya.

“Dia itu, aduuh.. freak, sumpah.”

“Freak? Terus gimana? Mau lu lepasin emang?”

Aku sering melihat wajah teman Yogi itu. Setelah ini mungkin aku akan ingat namanya adalah Juple. Dia sebenarnya satu tingkat di atas kami dan harus udah lulus, namun tertahan karena gak naik kelas dua tahun lalu. Dia jarang berkeliaran di seantero sekolah saat istirahat. Gosip di kalangan anak-anak mengatakan kalau Juple sering ngegele di sekretariat ini.

Yogi tampak menimbang-nimbang. Kedua lenganku tetap digenggam erat oleh temannya yang dipanggil Juple itu. Yogi mulai menceritakan kejadian helmnya yang pecah karena gue. Temannya Juple gak percaya, apalagi ketika Yogi mulai banyak mencari alasan.

“Yog, setan aja gue gak percaya. Apalagi inhuman.” Kata Juple.

“Pokoknya lu jaga hati-hati deh. Tenaganya lebih kuat dari gue.”

“Kuat apanya? Dia berontak aja tetep gak lepas nih.”

Yogi seperti menemukan secercah cahaya dari pembuktian Juple. Dia menjepit kedua pipi gue dengan kedua tangannya secara kasar. Aku berontak dan mengeluarkan sumpah serapah. Tapi tetap tak bisa melawan genggaman tangan Juple dan pelecehan Yogi.

“Bener lu, Ple. Hahaha.” Tawa Yogi licik.

“Bener kan.”

“Eh, Nur, sini, telanjangin temen lu.” Yogi melepaskan ikatan Nur.

Yogi melepas ikatan Nur. Seakarang, Nur menangis dan meminta maaf padaku. Dia berkata dengan sesenggukan kalau dia terpaksa melakukan ini. Aku teriak histeris, tapi mungkin pertolongan terlambat datang. Apalagi sekolah sudah hampir kosong. Perlahan, Nur membuka kancing seragamku. Aku tahu Nur mencoba mengulur waktu. Tapi aku gak bisa beruat apa-apa.

“Wah, gila, tanktopnya pink bro.” Juple melotot.

“Anjing lu berdua!” hujatku.

“Bodo.” Jawab Yogi.

“Cuih!”

“Minggir lu, Nur. Kelamaan!” Yogi kesal dan menarik Nur menjauh.

Yogi kembali mengikat nur di kaki meja. Kemudian dia kembali kepadaku dan langsung menyingkap rokku ke atas. Dia meraba-raba vaginaku dari sisi luar. Pemberontakanku tetap tidak menghasilkan apa-apa.

“Hahaha. Dasar jablay. Tetep aja seneng lu digerepe kan.” Ancam Yogi.

Di saat seperti ini tubuhku memang tidak bisa diajak kompromi. Birahiku memang cepat meninggi sejak kejadian dengan Kak Dani. Tapi sebisa mungkin aku harus melawan karena niatku ke sini adalah menjemput Nur.

Yogi mulai menyingkap celana dalamku. Dia mencoba menyusupkan jari-jarinya ke lubang vaginaku.

“Aaak.. Sakit.. Monyet!” Aku refleks merespon.

“Wah perawan rupanya.” Juple sumringah.

“Gue yang perawanin. Pegang yang kuat, Ple.” Yogi membuka seluruh celananya.

“Monyet!! Anjing!!”

“Gak usah bacot, bangsat!” Yogi menamparku keras-keras.

Tenagaku habis. Air mataku meleleh. Aku mencoba tidak melihat penis Yogi yang semakin menekan kuat selangkanganku.

“Nur, jangan lihat aku…” Pintaku dalam tangis.

“Kenia.. maaf terlambat.” Suara Kak Puri mendengung di telingaku.

Tiba-tiba pandanganku gelap. Kejadian selanjutnya yang aku tahu, ikatan Nur sudah terlepas. Seragamku sudah rapi kembali. Yogi dan Juple tergeletak di lantai sekre yang sangat kotor dan dengan kepala bocor.

“Ken…” Nur bertanya dalam isak tangisnya.

“Udah, jangan dipikirin sekarang. Ayo pergi dari sini.”

Kami tergopoh-gopoh keluar dari wilayah sekretariat.

***

Waktu terus berlalu dengan tidak selambat yang kurasakan tadi. Adzan maghrib telah berkumandang beberapa waktu lalu. Aku mau pun Putra masing-masing telah mandi. Dia menawarkanku terlebih dulu makan keluar.

Kuharap aku bisa mengulur waktu lebih lama lagi hingga kami berdua lelah. Lalu, tertidur pulas hingga pagi. Akhirnya kami berdua akan check out karena harus berangkat ke kantor atau pulang. Syukur kalo aku tidak tertidur. Aku bisa membuka handphone Putra dan menghapus semua foto-fotoku.

“Yes, itu rencananya!” batinku.

Jam 9 malam, kami kembali ke kamar. Urusan toilet dikerjakan masing-masing. Tapi akhirnya petaka terjadi buatku. Badanku menghangat dan celana dalamku mulai terasa basah. Apa yang salah? Padahal, aku sudah meminum obat yang disuruh Eda kemarin malam.

Putra keluar dari toilet. Dia tiba-tiba menerkamku dari belakang. Leherku dijilatnya tanpa terputus. Tangannya mulai menggerayangi kedua dadaku. Gairahku seketika naik drastis.

“Ahhh.. lu apain gue.. shhh?”

Putra tidak menjawab. Dia terus menjamah tubuhku dari belakang. Sebelum logikaku hilang, aku harus tau sumber perubahanku yang tiba-tiba ini. Pasti ada hubungannya dengan Putra, entah kapan.

Aku berontak dengan lemah. Pada satu kesempatan, aku berhasil lepas dari pelukan Putra. Aku mundur jauh ke dekat jendela. Sekarang bagaimana? Aku harus berpikir.

“Ayo Rivin, gak usah malu lagi. Kita senang-senang sampai puas malam ini.” Putra bicara dengan nada liciknya.

“Jawab! Lu apain gue?!”

Putra terus bergerak maju ke arahku, sedangkan aku terpojok. Satu ayunan tangan putra langsung tepat menangkap ujung tanganku. Dia menarikku dengan cepat dan mencium tepat di bibirku. Satu tangannya menahanku agar tidak lepas, dan satu tangannya lagi menyusup ke dalam belahan vaginaku.

“AAAHHHH..” Aku mendesah, lalu terjatuh lemas.

Dengkulku lemas seketika. Putra membopongku ke spring bed. Belaiannya beberapa kali mengenai wilayah sensitifku, hingga akhirnya aku menurut saja ketika dia melucuti pakaianku.

Aku juga menuruti maunya untuk membuka kakiku lebar lebar. Rangsangan yang diberikan Putra sangat nikmat dan membuatku melayang tinggi. Mungkin aku akan bertanya lagi nanti setelah hasratku tuntas.

“Putraa.. bawahan dikit.. ahh..” lirihku.

Putra langsung menjilati klitorisku lekat-lekat. Kedua tangannya ikut menggerayangi payudaraku. Tidak sampai di situ, lidah Putra sering menyusup ke dalam liang vaginaku dan menyentuh dindingnya. Kenikmatan yang bersumber dari selangkanganku meningkat berkali-kali lipat.

Tangan putra beralih membantu permainan liarnya. Kedua sisi bibir vaginaku ditariknya lebar-lebar, lalu jilatan Putra menjadi sangat cepat. Dapat kurasakan gerakan kepalanya yang naik dan turun berulang kali seperti orang mengangguk.

“Ssshh… Putra.. Aku keluaaarhh.” Aku tak dapat meredam suaraku.

Kutekan kepala Putra dalam-dalam, pinggulku naik, dan kedua kakiku mengikat bagian belakang lehernya agar tidak pergi ke mana-mana. Orgasme dahsyat melanda diriku hingga menyemburlah cairan cintaku ke wajah Putra.

“Aagghh… Putraaa!!”

Selesai aku orgasme, Putra pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Lalu, dia kembali lagi ke atas kasur dan meminta pamrih dariku. Pamrih dari hasil jeri payahnya mengantarkanku hingga mencapai puncak kenikmatan.

Putra bertumpu dengan kedua lututnya.

“Hisap.” Perintahnya.

Perintah itu justru membuatku semakin bergairah. Tanganku memegang erat penis Putra yang telah berdiri tegak. Kuciumi kepala penisnya sebagai salam malam ini. Kemudian, kumainkan lidahku di buah zakarnya terlebih dulu.

Jilatan demi jilatan kecil kuhadiahkan pada buah zakar Putra yang berkedut-kedut. Di sisi lain, tanganku bergerak mengocok penis Putra untuk pemanasan. Setelah seluruh bagian buah zakarnya basah, aku beralih menuju batangnya.

“Ohh.. Rivin.. Enaakhh..” Suara Putra seperti menggeram.

Aku tak peduli. Kumasukkan setengah panjang batang penis Putra ke dalam mulutku. Kubasahi setiap sisinya dengan gerakan erotis lidahku. Sesekali kugerakkan kepalaku mundur dan maju kembali. Hal itu membuat Putra semakin sering menggeram.

Puncaknya, kukulum Penis Putra dalam dalam hingga pangkalnya tidak lagi terlihat. Penis Putra terasa berkedut di rongga mulutku. Kepalanya menyentuh bagian atas kerongkonganku. Dengan itu pula, Putra menggeram sekeras-kerasnya.

“AAAAGGHHH!! GILAAA!!”

Beberapa kali kulakukan aksi tersebut. Pada aksi keempat, Putra tidak kuasa menahan sensasi yang kuberikan. Kepalaku ditahannya kuat kuat. Aku tidak bisa bernafas. Sesaat kemudian, semburan sperma menerjang keras ke dalam kerongkonganku. Sepertinya lebih banyak cairan sperma Putra yang langsung tertelan daripada menumpuk di atas lidahku.

Tidak seperti kemarin, Penis Putra tetap berdiri tegak setelah beberapa waktu orgasme. Ditindihnya tubuhku, lalu dengan satu hentakan masuklah batangnya dalam liang vaginaku. Putra mendiamkan penisnya lama tanpa ada gerakan sedikit pun.

“Shhh.. Ayo Putra digoyangin.” Aku meminta.
“Sebentar sayanghh.. Aku lagi meresapi… aaghh.. rasanya ituu…”

Permintaanku tidak digubris oleh Putra. Aku yang frustasi akhirnya memilih menggerakkan pinggulku sendiri meski susah. Mataku terpejam meresapi kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuh.

“Putra.. Ayooo..” pintaku manja.

“Lucu deh muka lu.” Putra malah meledek.

Setelah ledekan itu, Putra barulah mulai menggerakkan pinggulnya. Hujaman awal yang lamban perlahan semakin cepat. Tempo semakin cepat dan cepat tidak lama setelah pertama kali Putra mulai bergerak. Birahiku naik kembali degan drastis. Rasa geli dari dalam liang vaginaku semakin kuat. Aku akan orgasme.

“Putraaa.. Shhh.. Aku keluar lagiii…”

Lubang vaginaku berkedut merespon gerakan Putra yang tanpa henti. Padahal, rasanya baru 5 menitan kami bercinta. Tapi, aku dengan mudahnya orgasme dengan rentang waktu yang singkat. Bahkan, rasa gatal di selangkanganku tidak juga berhenti

Putra mencabut penisnya.

“Tadi baru sesi foto.”

“Sesi foto?” aku bertanya lemah.

“Kenikmatannya baru setelah ini. Sekarang gue mau pakai pengaman dulu.” Katanya.

Ronde berikutnya, kami lakukan dengan doggie. Putra menghujamkan Penisnya tanpa henti dengan tempo yang gak terlalu cepat. Aku sangat menikmatinya dalam tiap desahan dan lirihku. Putra mulai meracau seiring gerakannya yang berpacu dengan waktu.

“Kenapa gak dari dulu.. ahh… ahh… gue tau obat itu… ahhh.. Enak banget, gila…”

Putra meracau tidak jelas dan aku tidak peduli. Kami berdua sedang berusaha saling memberi kenikmatan. Sesaat kemudian, Putra memuntahkan sperma di dalam pengamannya. Kami bermain sekali lagi tanpa istirahat terlebih dulu. Malam ini sangat indah, buat dia. Buatku… mungkin juga.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat