Tanpa Nama Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 30

Seharian di Rumah

POV Eda

Kamis siang ini kami hanya main dan ngobrol di rumah Jamet. Selain waktunya istirahat, mobil elfnya Pakle juga lagi ada yang sewa. So, kita gak bisa ke mana-mana.

Dari sekian banyak obrolan sama Jamet, akhirnya kami tau kehidupan sehari-hari keluarganya Jamet. Paklenya Jamet yang setia nganterin kami sejak hari pertama namanya adalah Sutrisno. Beliau tinggal gak jauh dari sini dan menjalankan usaha rental mobil.

Kedua orang tua Jamet juga pengusaha. Mereka menjalankan usaha ternak Lele di pinggiran kota Malang yang lain. Pergi pagi dan pulang sore, hanya untuk mengawasi, ikut memberi pakan, dan panen.

Dari situ gue bisa memahami kenapa Jamet mau berkecimpung di riset penelitian alga. Dia ingin mempelajari untung rugi populasi alga untuk pengembangan usaha lelenya.

Sekarang kami sedang di ruang tamu lantai dua. Kami para cowok dan beberapa cewek yang ngerti main PES, lagi main dalam format cup di depan layar laptop. Sisanya, Cuma tidur-tiduran, makan cemilan yang disediain, sambil nonton tivi. Kecuali Jennifer, siang ini dia jadi kebo di kamar.

“GOOOOOLL!!!” Teriak gue.

“Baru 1-0 doang.” Balas Erna.

“Tapi injury time hahaha.”

“Berisik woy!” Tika ngomel.

Kali ini yang lagi tanding adalah gue versus Erna. Juventus versus Barcelona. Pertandingan pun selesai tidak lama kemudian dengan kemenangan gue 1-0. Pertandingan kedua dilanjutkan Anwar versus Hari.

“Tunggu di leg 2 ntar.” Ancam Erna.

“Gue tunggu dah.”

Gue bergeser posisi duduk, bersender ke tembok deket tivi. Sambil nonton, gue mencoba mengambil satu snack kipang kacang dari kaleng. Tiba-tiba tangan gue bersentuhan dengan Dani yang juga mau mengambil kipang. Kecanggungan kami terjadi lagi. Kami sama-sama menarik tangan sehingga tidak ada yang jadi mengambil kipang kacang.

Sebagai gantinya, gue berbisik ke Tika yang ada di sebelah gue.

“Tik, tolong ambilin kipang kacang dong.”

Jamet melihat gue dan dia cuma menggelengkan kepala. Gue membalasnya dengan ikut geleng-geleng kepala. Gue melirik sebentar ke Dani. Dia kembali asik nonton tivi setelah berhasil mengambil kipang kacang pada percobaan selanjutnya. Gue bete sendiri.

“Met, gue mau jalan-jalan ya keluar. Aman kan ya?” Gue nanya.

“Aku ikut. Sebentar.” Jamet pergi ke dapur.

“Enak aje, ini cup selesaiin dulu.” Anwar nyeletuk sambil matanya fokus ke laptop.

Gue garuk-garuk kepala.

“Save dulu aja deh.” Gue pusing.

“Yakali.” Balas Anwar lagi.

Tika ngelempar bungkus dodol ke Anwar, menyebabkan Anwar ngepause gamenya. Dia menoleh ke Tika dengan muka kesal. Alisnya nekuk ke arah pangkal batang hidungnya. Tika pun gak kalah galak, dia mendengus, lalu melirikkan matanya ke arah gue dan Dani satu per satu.

Anwar berantem sama Tika gara-gara gue. Tika mengisyaratkan kalau gue dan Dani lagi ada masalah. Tapi apa boleh buat, mungkin itu jalan yang terbaik agar gue bisa keluar rumah. Keluar secepatnya dari situasi ini dan mencari angin segar di luar.

“Gue digantiin lu aja deh, War. Lumayan tuh bisa ngalahin Erna lagi ntar.” Tawar gue.
“Yaudah gampang ntar.” Jawab Anwar, gak mau cari masalah baru.

Jam tangan gue menunjukkan pukul setengah satu. Jamet sudah siap sedia, lalu gue berjalan secepatnya keluar dari rumah Jamet. Gue berdua dengan Jamet pergi main keluar rumah di tengah teriknya matahari. Terserah ke mana Jamet ngajak gue jalan.

“Kita beli es krim dulu ke depan.” Ajak Jamet

“Bebas.” Jawab gue asal.

“Biar dinginin kepala kamu dulu tuh.”

“Ya boleh boleh.”

Gue paling males cerita. Tapi unek-unek ini rasanya butuh dikeluarin secepatnya.

“Met, lu tau caranya nyelesaiin salah paham gak sih?”

“Salah paham?” herannya.

“Jadi gini, Met, pas wisuda waktu itu…”

Gue menceritakan kejadian saat wisuda kemarin dari perspektif gue. Diawali tentang bagaimana saat itu Rivin terus menerus mengekor saat wisuda jurusan. Bagaimana kejadian itu menuntun ke arah salah paham yang dilakukan orang tua gue. Akhirnya, menuntun kesalahpahaman dengan Dani.

“Itu sih bukan salah paham.” Kata Jamet.

“Bukan gimana?”

Jamet tampak mikir, mencari kata-kata sepertinya.

“Jujur ya, ada porsi di mana kamu yang salah karena gak tegas sama Rivin. Kamu juga gak berani berpendapat sama orang tua kamu, dan gak sanggup bicara sama Dani buat ngelurusin kejadian. Berapa salahnya tuh? tiga ya.” Jamet kini berpendapat.

Oke, ada benarnya kata-kata Jamet. Tapi jelas ada salahnya Dani juga yang telah gue pendam sejak dulu. Salah Dani adalah gak pernah berkata kalau dia mencintai gue. Terlalu banyak kode dan alasan yang lama-lama gak bisa gue terima lagi. Terlalu sering gue nembak Dani yang dengan mudah dimentahkan tanpa jawaban jelas.

“Sekarang kamu gimana?” tanya Jamet.

“Gimana apanya?”

“Hubungan kamu.”

“Bubar dengan gak baik-baik.” Jawab gue.

Jamet memasang mimik muka ‘sumpeh lu.’

“Terus? Sama Rivin?” tanyanya lagi.

“Ya gitu.”

“Gitu gimana?”

“Yaaa.. gitu.”
“Ah, gila. Kamu jadian sama Rivin?”

Gue mengangguk dengan tawa yang mati-matian ditahan karena Jamet memaksa tertawa. Rasanya seperti jatuh cinta zaman SMP. Hubungan yang gue rasakan sama Rivin dimulai dengan deklarasi yang jelas.

Ini yang gue cari cari dulu, dan gak ada di Dani. Mungkin kekanak-kanakan. Tetapi buat gue, status memang harus jelas kalau ingin menjalani hubungan. Setidaknya itu prinsip yang gue pegang teguh sejak dulu.

“Dulu, Met. Dulu banget waktu SMA. Gue pernah punya hubungan tanpa status sama cewek. Lima bulan status kita berdua gak jelas waktu itu. Akhirnya, gue malah mergokin dia nonton sama temen cowok di kelasnya. Berdua doang, dan mereka pegangan tangan. Apa coba namanya kalo bukan selingkuh.”

Gue terus bercerita tentang prinsip gue tentang pentingnya memiliki status. Berpacaran ya haruslah jelas status berpacaran. Bukan teman tapi mesra, bukan sahabat, apalagi friends with benefit. Pokoknya bukan model seperti itu.

Prinsip itu runtuh saat gue bareng Dani.

“Kamu ngasih contoh waktu SMA. Cinta monyet.” Jamet membantah.

“Gak ada bedanya.”

“Oke. Aku belum pernah denger lho kamu cerita panjang gini.” Balas Jamet lagi.

“Nah sekarang gue udahan.”

“Udah?”

Setelah bercerita sedikit lagi, gue benar-benar menyudahi cerita gue. Panjang, tapi tetap to the point ke masalah gue yang sekarang ini.

“Sekarang kamu udah bahagia sama Rivin?” Jamet mencoba mengonfirmasi lagi.

“Bahagia. Semoga.” Harap gue.

Kami terus berjalan di pinggir jalan aspal.

“Kalo gitu ya selesaiin baik-baik masalah kamu sama Dani. Gak enak kan kita berempat main bareng dari maba, tapi sekarang malah diem-dieman.” Solusi dari Jamet.

Gue sebenarnya setuju sama Jamet. Memang harus secepatnya diselesaikan. Dani pernah mencoba menyelesaikan hubungan kami lewat whatsapp. Tapi, jelas itu bukanlah hal yang pantas bagi kami yang telah cukup dewasa. Dewasa untuk menyelesaikan masalah lewat bicara empat mata dengan kepala dingin.

Masalahnya seakarang adalah Dani terus menghindar. Sebulan tidak bertemu, ternyata perjumpaan di Stasiun Senen malah secanggung itu. Kejadian terus berlanjut di kereta, Pasar Apung, sampai hari ini.

“Yaudah, ntar aku bikin skenario biar kamu bisa ngobrol sama Dani.”

“Thanks, Met.”

“Besok sore sampai minggu kita nginep ke rumah mbahku.”

Seiring perjalanan dan banyaknya obrolan, kami pun sampai di sebuah kios yang menyediakan lemari es krim. Aku mengambil satu es krim corn. Di sisi lain, Jamet tampak kalap dengan membeli sejumlah snack.

Setelah membayar jajajan, kami kembali menyusuri jalan di daerah perumahan pinggir kota Malang ini. Banyak obrolan kami yang kali ini gak ada faedahnya. Salah satunya ngobrolin Hari.

“Hari fix itu jadi agen S.H.I.E.L.D permanen ya?.” Tanya gue

“Eh, fix emang?” Tanya balik Jamet.

“Yeh, gue nanya.”

Rasa-rasanya perjalanan kami semakin jauh dari rumah Jamet. Telah banyak tikungan dan menit yang berlalu, namun gue yakin Jamet gak ngajakin muter-muter. Dia tampak berjalan dengan pasti dan memiliki tujuan jelas. Sejenak gue pikir-pikir belanjaannya tumben banyak. Jangan-jangan ada hubungannya.

“Met, kita ke mana sih?” gue penasaran

“Liat aja, bentar lagi juga sampe.”

Kami berjalan lurus sedikit. Kemudian, Jamet tampak berjalan mendekat ke sebuah rumah bercat abu-abu. Rumahnya tidak terlalu besar, standar untuk sebuah rumah keluarga. Kemudian, Jamet dengan santainya membuka pagar besi kecil tanpa salam.

Bahkan, Jamet langsung mendorong engsel pintu tanpa mengetuk terlebih dulu. Salamnya dilakukan belakangan. Gue malu-malu mengikuti Jamet sambil menunggu apa yang terjadi. Selanjutnya, seorang anak kecil muncul menyalami tangan Jamet yang sedikit berpeluh. Mukanya mirip wanita yang baru gue kenal sejak dua hari kemarin.

“Rumahnya Janiar kayanya nih.” Gumam gue.

Sial. Gue bakal jadi nyamuk.

POV Hari

Pertandingan melawan Anwar selesai dengan kemenangan tipis gue, 1-0.

“Hoki aja lu.” Alasan Anwar.

“Terusin gak nih?” Tanya gue

“Males ah, Eda sama Jametnya pergi.”

Anwar bangkit dari duduknya menuju kamar mandi. Sementara itu, gue beralih duduk ke samping Dani. Dia terus makanin kipang kacang tanpa henti. Matanyanya serius nontonin acara tivi.

“Huy.” Sahut gue.

“Hmm.”

“Tadi kenapa?”

“Gapapa.”

Dani kalo udah kaya gini artinya lagi bete. Sulit deh diajak ngomong.

Di sisi lain, Anwar telah selesai menuntaskan urusannya di kamar mandi. Dia berjalan menuju colokan untuk menyabut handphone yang tercolok di sana. Kemudian, dia turun ke bawah mengajak Tika. Erna juga diajak, tapi dia terlampau malas bergerak.

“Ke mana, bro?” Tanya gue.

“Ke teras doang, liatin pohon. Siapa tau spesies baru.” Jawabnya.

“Baru liat.” Celetuk Erna.

“Jangan jauh-jauh, ntar ilang berabe.” Sambung gue.

Sekarang di rumah hanya ada kami bertiga. Erna sedang terlalu malas bicara, sedangkan Dani pasti lagi gak mood bicara. Kalau gue bicara duluan, pasti gak ada yang menanggapi. Jadi, untuk sesaat sebaiknya gue turun ke bawah untuk membiarkan mereka asik dengan dunianya sendiri-sendiri.

Gue meminta izin Jamet lewat wa untuk mengambil sirup di dalam kulkas. Satu teko besar sirup sirsak dengan balok-balok es gue sediakan sendirian. Mungkin saja bisa meredakan betenya Dani yang mendadak datang. Nanti, gue bisa bujuk dia untuk meminum obatnya biar gak makin baper.

“Sirup sirsaknya buruan dong!” teriak Erna dari lantai atas.

Erna pasti nyadap wa gue ke Jamet tadi. Kampret.

Gue berjalan menaiki tangga sambil membawa seteko besar sirup sirsak. Untungnya, gelas-gelas masih lengkap ada di antara gerombolan toples makanan. Jadi, gak menambah kerjaan gue untuk melayani dua wanita alfa yang lagi mager.

“Ini esnya nona nona, perlu dituangin juga gak?” ledek gue.

“Boleh deh. Tolong ya budakku.” Erna balik ngeledek.

“Hahahaha.” Dani tertawa lepas.

Biar sajalah gue dibully. Seenggaknya Dani gak bad mood lagi. Mungkin setelah ini gue bisa menemukan solusi antara dia dan Eda.

Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba, satu pesan wa berikutnya masuk dari Jamet. Dia memberitahu lewat grup Dadakan bahwa mulai besok sore kita akan menginap di tempat mbahnya. Lokasinya gak jauh dari Kebuh Raya Purwodadi. Selain itu, ada juga japri Jamet ke gue yang ngasih tau kalau momen itu disediakan untuk penyelesaian masalah Dani dan Eda.

“Udah baca grup belom? Akhir pekan kita ke Kebun Raya Purwodadi.” Kata gue.

“Ah masa?” Dani penasaran.

“Udah tau.” Jawab Erna yang antusias.

“Ya lu gak buka hape juga udah tau.” Dani nyeletuk.

Kalau Erna udah tau soal nginep ini, maka pasti Erna juga udah tau soal alasan kenapa kita ke sana. Dugaan gue rasanya tepat setelah melihat kedipan mata genitnya Erna.

Kami bertiga larut dalam suasana sepi siang menjelang sore khas Malang. Cuaca panas diluar mulai berganti mendung. Jennifer baru mengumpulkan nyawa setelah menyelesaikan hibernasinya. Anwar dan Tika udah tidak tampak batang hidungnya di teras. Jamet atau Eda sama sekali tidak ada yang memberi kabar terbaru.

Kebosanan kami seharian di rumah untungnya tidak semakin memuncak. Empat orang yang tersisa di rumah ini memutuskan bermain truth or dare menggunakan putaran pulpen.

Permainan ini sangat gue banget. Gue bisa banyak menggunakan kekuatan penyerapan energi untuk menghentikan putaran pulpen sesuai keinginan. Artinya, gue bebas menentukan siapa yang ingin dikorek informasinya. Oh, tentu Jennifer lah yang jadi sasaran pertama gue.

Pulpen tepat mengarah ke Jennifer.

“T lah.” Kata Jennifer.

Gue terenyum licik. Giliran pertama ini adalah gue yang bertanya.

“Seserius apa lu sama Jamet?” tembak gue.
“Ah gak ada pertanyaan yang lain apa?”
“Bebas dong, kan perjanjiannya no rules.”

Hening sebentar.

“Gue udah kenal Jamet hampir lima tahun, dan gue sadar kalo ternyata gue suka sama dia. So.. everything for him.” Tegas Jennifer.

“Everything banget?” Gue menanggapi.

“Eh itu dua pertanyaan sialan.”

“Menanggapi boleh dong.”

Dalam hati, gue tertawa keras atas dominasi permainan ini.

“Ya, everything. You know lah. Kalo bisa sampe nikah sekalian.” Jennifer ngejawab pelan.

“Oke. Next.” Sudah cukup untuk kali ini.

Putaran demi putaran pulpen berjalan kembali. Beberapa kali gue melepas kendali atas putaran pulpen. Tapi nyatanya sama sekali gak ada yang perlu dikorek dari jawaban Dani atau pun Erna. Mereka sudah pernah cerita tentang hidup mereka masing-masing selama kumpul di penthouse.

Sekarang giliran Jennifer memutar pulpen. Gue menunggu momen setelah ini untuk bertanya lagi ke Jennifer. Pertanyaan atas alasan balas budi sudah cukup untuk membuat jennifer bicara lagi nanti. Artinya, gue akan memanipulasi supaya pulpen mengarah ke gue terlebih dulu. Lalu, gue harus siap menerima tantangannya.

Ini dia…

“T.” Gue berkata tegas.

“Ah gak seru nih. D dong.” Jennifer sewot sendiri.

“Suka suka gue.”

“Yaudah deh. Pertanyaan gue yaaa… Apa kabar Kak Puri sekarang?”

Gue diam sebentar.. Jujur, bohong, jujur… Bohong aja deh. Dani di sebelah kiri gue tampak menunggu jawaban yang keluar dengan antusias. Dia udah tau hal yang sebenarnya, dan semoga dia bisa diem.

“Mana gue tau, udah gak pernah ketemu lagi.” Jawab gue.

“Bohoooong!!” Teriak Dani dengan senangnya.

“Hah, bohong?” Jennifer bingung.

“Akhir tahun kemaren ketemu tuh.”

Gue melotot ke Dani yang mendadak jadi orang ngeselin.

“Eh, yang jujur kampret.” Jennifer sewot lagi.

“Yaudah, Yaudah. Akhir tahun lalu gue ketemu doi, di… di… di GI. Sekedar say hello aja sih.”

Jelas lah gue bohong. Mana mungkin gue cerita kalo gue ketemu Puri di menara Saidah lantai atas. Gue bareng S.H.I.E.L.D. ngelawan organisasi radikal. Gue sempet berantem melawan penyihir dan ternyata gue mengetahui Puri itu inhuman super kuat!

Untungnya gak ada tanggapan dari Jennifer dan Dani gak nyeletuk kedua kalinya. Mungkin jawaban gue sudah cukup memuaskan. Sekarang, giliran gue memutar pulpen dan memanipulasinya hingga mengarah ke Jennifer. Pertanyaan gue adalah…

“How about Janiar?”

Dani dan Erna mendadak membenarkan posisi duduknya. Kami semua penasaran.

“Gue bikin pusing dia, liat aja hahaha.” Jawab Jennifer tanpa menarik nafas dulu.

Kami bertiga, dari yang tadinya penasaran, menjadi saling lihat-lihatan. Jawaban Jennifer di luar ekspektasi. Tawanya sangat lepas seperti nenek sihir. Awan hitam seakan berkeliling di atas kepalanya.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat