Tanpa Nama Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 29

Gatal Sekali

POV Hari

“Alay bet.” Ledek Anwar dengan logat khas betawi.

“Biarin sih.” Tika terus bergaya dengan berbagai mimik muka yang dibuat lucu.

Erna sabar sekali melayani Tika yang banyak bergaya bersama bumble bee. Setelah puas, dia pamit, pergi menghilang berkeliling bersama Anwar, Erna sebagai tukang fotonya, dan Eda.

Eda dan Dani gue yakin sekarang ada dalam fase saling menghindari satu sama lain. Terbukti karena dia lebih baik menghindar dari Eda ketika punya pilihan. Sepintas gue jadi teringat dengan kelakukan gue yang selalu menghindar dari hadapan Puri. Ternyata seperti itu kalau dilihat dari sudut pandang lain.

Gue dan Dani melanjutkan berjalan hanya berdua, menikmati liburan bersama mobil-mobil unik di sini. Sesekali kami saling melempar tanya tentang info apa yang dimiliki Sigit. Padahal, tidak ada yang tahu di antara kami.

Jam lima sore lebih sedikit, kami beralih menuju ke Pasar Apung Nusantara. Kami terpaksa masuk duluan karena Jamet dan Jennifer gak kunjung muncul. Berfoto-foto ria tetap menjadi agenda wajib. Entah sudah berapa foto yang diupload masing-masing dari kami ke instagram. Dasar norak, termasuk gue.

Dani dengan ciri khas makannya yang kalap, mencoba banyak jajanan yang baru kali ini dia lihat. Baru setengah jam di sini, dia udah nyoba Srabi Solo, Sego tiwul, sampai Pangsit. Dia seakan-akan punya kapasitas perut yang tak terhingga.

Semoga aja Jennifer baca pesan wa sama sms dari Tika dan cepet muncul ke sini.

“Belom ada balesan, Tik?” Tanya gue.

“Baru aja diread nih tadi sama doi.” Jawab Tika.

“Udah ngasih tau kita lagi di mana?”

“Udah kok, gue bilang deket abang pangsit.”

Info yang sangat tidak berguna dari Tika. Tapi untungnya Jamet dan Jennifer berhasil menunjukkan batang hidungnya selang lima belas menit kemudian.

“Tuh dia bocah.” Tunjuk Tika.

“Buset deh, cuma bilang deket tukang pangsit doang.” Jamet sewot.

“Iya, susah tau nyarinya.” sambung Jennifer.

“Eh, itu tangannya biasa aja dong~” ledek Anwar.

Jamet buru-buru ngelepas rangkulan tangan Jennifer di lengannya dengan kagok.

“Tunggu dulu ya, aku bisa…” Jamet membela diri.

“Jamet yaaa~” Eda mulai ngeledek.

“Ih, Tadi tuh rame tau. Gue kan ngeri ilang.” Jennifer ikut ngebela.

“Hilang dari hatinya Jamet ya.” Gantian Anwar ngeledek.

Tika langsung nyubit pipi Anwar, menyuruh dia diam. Kayanya sebentar lagi akan banyak pertanyaan yang dicecar kepada Jamet dan Jennifer. Gue juga gak sabar nanyain nih anak satu. Tinggal nunggu waktu aja.

Erna dengan kamera DSLRnya sesekali memotret kami dalam keadaan candid. Dia tampak lebih ceria meskipun dalam keramaian. Beda sekali dari Papandayan kemarin.

“Abis ini ke mana kita?” Tanya Tika.

“Main aja dulu di sini sampai malam. Abis itu kita pulang.” Jelas Jamet.

“Jangan ilang lagi lu.” Gue menekankan.

“Iya, Abang Hari.” Jamet menirukan suara Kenia.

Gue jadi inget Kenia. Sembari kami berjalan kembali menyusuri spot-spot cantik di Pasar Apung, gue membuka wa, lalu mengirimkan beberapa gambar foto kami untuk dilihat Kenia. Gue juga sekaligus menanyakan kabarnya.

Gue: Dek, gimana kabar?

Kenia: Baik bang. Seru banget sih foto-fotonya. Salam ya buat yang lain.

Gue: Sip. Ibu baik-baik juga kan.

Kenia: Baik juga kok. Oleh-oleh ya baaang.

Gue membalas lagi hanya dengan emot jempol. Lalu di bawah foto avatarnya, muncul tulisan Kenia yang sedang mengetik cukup lama.

Kenia: Bang, aku mau cerita. Di sekolah ada yang isengin temen aku. Resek banget.

Gue: Gak usah ditanggepin lah.

Kenia: Udah. Tapi gak ngaruh.

Gue: Terus gimana?

Kenia: Udah kena batunya dia kemarin.

Gue: Kok bisa?

Kenia: Ada deh, ntar kalo udah saatnya aku kasih tau.

Setelah itu, gue jadi penasaran. Kenia pun hanya membalas singkat dengan emot nyengir. Setelah itu tak ada lagi balasan. Gue langsung mikir macem-macem. Masa sih Kenia udah jadi inhuman.

Gue beralih nanyain nyokap. Hasilnya, nyokap akan nanyain Kenia sesampainya dia di rumah nanti. Dengan begini gue berasa lebih aman. Adek gue belom boleh jadi inhuman.

Selepas maghrib, suasa Pasar Apung jadi lebih gelap. Tapi jauh jadi lebih romantis dengan adanya gemerlap lampu-lampu gantung serta pantulannya di permukaan air. Cocok sekali untuk orang pacaran. Apalagi sekarang weekdays, gak banyak orang yang datang berkunjung.

“Pulang kita?” tanya Jamet.

“Bentar, setengah jam lagi ya. Lagi seru nih.” Tanya Erna.

“Asik sendiri dah dia.” Anwar nyeletuk.

Erna akhirnya bisa melampiaskan nafsunya. Dia udah lama gak hunting foto, dan tadi siang sibuk dimintain foto sama Tika dan Dani. Begitu ada momen mantap, keluar juga jiwa seni fotografinya itu.

Kami akhirnya bisa pulang dengan damai setelah lewat Isya. Sesampainya di rumah Jamet, kami semua bergiliran mandi. Selanjutnya, orang tua Jamet kembali menyuguhkan makan malam.

Janiar datang lagi malam ini di rumah Jamet. Gue jadi makin penasaran kenapa bisa Janiar nginep di rumah Jamet. Izin macam apa yang dikatakan Jamet dan Janiar sama orang tuanya masing-masing.

Sebelum tidur, nyokap ngewhatsapp gue. Katanya Kenia cuma mendramatisir cerita. Mereka cuma ngelakuin keisengan biasa supaya orang yang resek itu kapok. Nyokap juga bilang kalo Kenia rajin minum obatnya, jadi gak perlu dikhawatirkan Kenia berubah jadi inhuman.

Ngomong-ngomong obat, gue jadi inget Eda sama Rivin. Harusnya hari Rabu jadwal minum obatnya mereka.

“Da, lu minum obatnya lancar kan?” bisik gue.

“Lancar kok, tadi abis minum lagi. Kenapa?” jawabnya dengan berbisik juga.

“Kak Rivin juga kan?”

“Rivin juga kayanya. Bentar gue tanyain.”

POV Rivin

Beberapa jam lalu, saat jam pulang kerja.

Sekarang baru hari Rabu, tapi aku udah kangen banget sama Eda. Sedangkan Eda sama temen-temennya baru kembali ke Depok lagi hari Selasa depan. Aku gak bisa menahan rindu ini lama-lama.

“Duh.. gatel nih..” gumamku pelan.

Lama-lama rasa rinduku ini berubah jadi rangsangan yang dahsyat. Selangkanganku sangat gatal. Aku harus cepat pulang untuk menyelesaikan ini.

“Gatel apaan, Vin?” seorang disebelahku bertanya.

“Nggak, Put. Gapapa.” Jawabku.

Putra, rekan kerjaku sedivisi rupanya mendengar gumamanku tadi. Banyak temen-temenku yang lain bilang Putra ini naksir sama aku. Banyak juga yang mempromosikan putra yang ganteng, berhidung mancung, dan sudah berpenghasilan cukup untuk mulai berkeluarga. Mereka juga bilang dia bahkan udah siap melamarku kalau aku mau.

Tapi aku rasa bukan orang seperti Putra yang aku cari. Tidak pernah ada Putra di dalam kepalaku. Aku menganggap dia cukup sebagai rekan kerja.

“Pulang gak? udah jam setengah 5 ini lho.” Tanyanya lagi.

“Duluan aja, Put, aku mau ke gudang sebentar.”

Aku harus pergi ke gudang sebentar untuk mengecek nomor sampel yang lupa aku catat. Sungguh hari ini aku nggak fokus bekerja. Nggak kaya biasanya.

Setelah beberes memasukkan barang-barang pribadiku ke dalam tas ransel. Aku pergi ke gudang penyimpanan produk untuk mencatat semua nomor produksi dan tanggalnya. Sebuah papan jalan dan pensil 2B menjadi kawanku sore ini.

Sesampainya di gudang, aku mencari barisan box kardus tumpukan yang baru masuk siang ini. Agak jauh aku berjalan masuk ke dalam. Suasana makin sunyi, lalu kudengar samar sebuah tapak kaki mengikutiku dan dia semakin mendekat.

“Vin.” Suara seseorang dari belakang.

“Waaa!” aku kaget dan menjatuhkan papan jalanku.

“Hahaha kaget.” Ternyata Putra.

Putra sudah berpenampilan untuk pulang dengan motornya. Jaket kulit, sarung tangan, tas ransel, dan buff terpasang di badannya dengan sempurna. Tapi dia justru memilih mengikutiku ke dalam gudang .

“Ngapain, Put?” Aku sambil mengambil papan jalan yang jatuh

“Nggak, Cuma khawatir aja sama lu.”

“Khawatir?”

“Seharian gak fokus gitu. Ntar pingsan di gudang gak ada yang liat.”

Akhirnya kami berdua berjalan menyusuri lorong gudang. Aroma keringatnya sesekali terhirup masuk ke dalam hidung dan kepalaku. Meski dia telah seharian bekerja, namun bukan bau tidak sedap yang aku hirup dari tubuh Putra. Selama itu pula tubuhku merespon baunya dengan cara yang tidak wajar.

Berjalan hanya berdua dengan seorang lawan jenis dalam keadaan terangsang memberikanku pengaruh yang hebat. Selama itu, birahi dalam tubuhku semakin naik. Badanku terasa makin menghangat, dan itu disadari Putra.

“Tuh kan mulai lagi. Sakit, Vin?” tanyanya.

“Nggak tau..” nafasku mulai menderu cepat.

“Minum dulu nih.”

Putra mengambil air mineral dari kantong samping tasnya. Saat memberikan air mineral, tangannya bersentuhan dengan tanganku. Kemudian, badanku seketika merinding dan ambruk ke arah tubuh Putra.

“Ahhh..” aku mendesah.

Aku mulai menggesekkan selangkanganku ke paha Putra. Sungguh memalukan, tapi rasanya enak sekali. Kurasa Putra juga sadar apa yang sebenarnya terjadi. Itu dibuktikan dengan dia yang menuntunku ke lorong gudang di sudut yang tersembunyi dan remang-remang.

Dia melepaskan seluruh perlengkapan bermotornya. Usai melepaskan jaket motornya, aroma tubuh Putra makin tercium dan membuatku seolah mabuk. Aku tidak melawan dan justru menurut saat papan jalan dan tas ranselku dilepaskan Putra. Diletakkannya perlengkapan kami di lantai.

“Jadi ini yang kamu mau dari tadi?” Dia mulai meraba selangkanganku dari luar jeans.

“Please, stop.. aaahh.. Putraa…” tanganku menahan lengannya.

Putra menekan selangkanganku makin kuat.

“Kita bisa cari hotel deket sini.” Ajaknya.

“Ahh.. stop. Udaah..” pintaku lemah.

“Gapapa, Vin. Kita udah sama-sama dewasa.”

Tanganku berusaha menolak rabaan tangannya di selangkanganku. Tapi tubuhku meminta hal yang sangat kontradiksi dengan pikiranku. Di samping itu, Putra mulai membimbing tanganku yang lain untuk meraba penisnya.

Sekarang kami saling meraba satu sama lain. Aku, yang terlalu malu, jadi bersandar ke tubuh Putra. Tubuhku makin merinding saat payudaraku bersentuhan dengan tubuhnya. Rasa geli yang sangat nikmat melanda sekujur tubuhku.

Oh, Eda, aku minta maaf. Sekali ini saja.

“Cepet uhh, kita.. lakuin di sini aja..” aku meminta.

Putra membuka resleting celana dan menurunkannya dalam sekejap. Penisnya terlihat menonjol di balik celana dalam. Aku berinisiatif sendiri menurunkan celana dalamnya. Kemudian, kumainkan penis Putra yang sudah mengacung tegak.

Hal serupa dilakukan Putra yang menurunkan seluruh penutup tubuh bawahku. Kini dia menggesekkan jari-jarinya ke celah selangkanganku. Sungguh, nikmatnya tak terhingga. Rasanya seperti pelampiasan yang aku temukan setelah menahan dahaga seharian.

“Basah banget, Vin.” bisiknya

“Terusin.. ahhh..”

Permainan jari Putra semakin menbuat hasratku menggebu-gebu. Kuhargai permainan Putra dengan lumatan di bibirnya dengan sangat liar. Rasa-rasanya aku sudah tidak bisa menahan orgasmeku.

“Putra.. ahh… aku mau keluaaar..” desahku tak karuan.

Saat aku ingin merasakan puncak sensasi itu, Putra justru berhenti dan melepaskan tangannya.

“Kamu tau yang lebih enak.” Kata Putra.

Aku tau maksud Putra. Ada yang menunggu untuk dipuaskan terlebih dulu. Aku berjongkok dan mengamati bentuk batang penisnya. Kumainkan sebentar dengan tanganku. Putra mulai mendesah.

Kujilati bagian pangkal hingga ke kepala penis Putra secara perlahan. Lalu kulumat bagian kepalanya dengan cepat. Kukulum dan kumakinkan bagian lubang kencingnya dengan lidahku. Selang beberapa lama, kudorong mulutku kuat-kuat hingga seluruh batang penis Putra masuk dalam mulutku.

Putra beberapa kali mengarahkan jepretan blitz kamera mengarah padaku. Aku tak menghiraukannya.

“Aaaaghh…” Putra mendesah kuat.

Kuulangi beberapa kali langkah permainanku itu. Rambutku pun dijambak Putra. Dia terlarut dalam kenikmatan yang aku berikan. Terakhir, kugerakkan mulut maju mundur dengan sangat cepat. Tak boleh ada waktu buat Putra menarik nafas.

“Stop, stop. Mau keluar, Vin… agghhh..”

Inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Kuhentikan aktifitasku. Aku beralih menungging dengan tangan yang bertunpu pada salah satu barisan rak box. Kemudian, dengan cepat Putra menghujamkankan penisnya ke dalam vaginaku.

Hujaman demi hujaman dengan tempo cepat diberikan Putra. Kuberikan pula perlawanan dengan menggoyang pinggulku naik turun. Kami terbuai dalam kenikmatan persenggamaan di tempat tidak biasa ini. Jepretan Blitz kamera Putra kembali terlihat mengkilat di tengah remang-remangnya lorong ini.

Tiba-tiba alarm jam tanganku berbunyi pertanda sudah tepat jam lima sore. Sebuah distraksi yang cukup menganggu kami berdua.

“Cepetan, Put.. ahh.. udah jam 5.”

“Sebentar.. agghh… gila enak banget memek lu, Vin.”

“Ayoo.. nanti ada orang masuk ke sini…”

Putra mempercepat gerakannya. Aku kembali dibuat melayang. Sensasi orgasme yang tadi dilewatkan Putra dengan jari-jarinya padaku muncul kembali. Dengan sangat cepat aku merasakan puncak kenikmatan itu datang melanda.

“Puut.. aku keluaar, ssshh…” badanku ambruk.

Dengan sigap Putra mengarahkan penisnya ke wajahku. Refleks aku memasukkan penisnya ke dalam mulutku. Muncratan demi muncratan sperma menyembur di dalam mulutku.

“AGGHHH.. RIVINN…!!” Putra menggeram.

Setelah tak ada lagi yang keluar, kulepaskan penisnya. Kutelan sperma Putra karena tak kulihat ada wastafel di sini. Kemudian, kami kembali memakai penutup tubuh bawah kami.

Setelah sensasi kenikmatan padaku mereda, muncullah rasa bersalah terhadap Eda. Rasa bersalah merasuki tubuhku dengan sangat cepat. Putra mengajakku berbincang, tapi tak kutanggapi. Aku keluar dari gudang tanpa menyelesaikan tugasku.

Aku diam seribu bahasa selama naik angkot.

Sesampainya di kamar kost, aku menangisi keadaanku berjam-jam. Sprei kasur sudah tak ada bentuknya lagi. Aku terus berpikir bahwa aku telah mengkhianati Eda. Aku sungguh mencintai Eda, bahkan aku berani merebut Eda dari Dani. Tapi sekarang….

Sebuah pesan whatsapp tiba-tiba masuk.

Putra: Besok lagi ya, I love you.

Pesan itu disertai emot cium dengan hati, serta foto-foto kami yang sedang bercinta tadi. Pikiranku bertambah kalut. Ancaman macam apa ini. Bagaimana kalau aku menolak permintaannya. Apakah foto itu akan disebar?

“Aku bukan pelacur. Eda, tolong aku…”

Sesaat kemudian, satu panggilan telepon masuk atas nama Eda. Seolah dia mendengar doaku.

“Halo, Sayang.” Sapanya.

“Halo sayaaang..” aku menyapanya sambil terisak.

“Kamu nangis?”

“Nggak kok, aku lagi pilek dari kemarin.”

“Ya ampun, kasian. Minum air putih dong.”

Kami mengobrol cukup lama, layaknya sepasang kekasih dimabuk rindu. Di salah satu obrolan, Eda bertanya apakah aku meminum obat pemberian Hari dengan lancar.

“Obat dari Hari?” Tanyaku.

“Iya, kita dikasih waktu hari Minggu kemarin.”

Sejujurnya aku gak mengerti itu obat apa. Eda hanya menceritakan soal inhuman bla bla bla.. Aku gak fokus mendengar karena saat itu sedang sibuk membuat video presentasi untuk kantor. Tapi rasa-rasanya mungkin itu bisa jadi solusi ketidakfokusanku hari ini.

Usai bertelepon, aku mengambil obat itu. Kuminum dua buah sebagai bentuk kekesalanku hari ini. Aku terlelap tidur tidak lama kemudian.

POV Hari

“Anjir lah udah sayang-sayangan segala.” Ledekku.

“Biarin sih.” Jawab Eda.

“Apa katanya?”

“Lancar kok.”

Setelah obrolan dengan Eda, aku menunggu semuanya tertidur. Sekitar jam satu malam, aku mengendap-endap keluar kamar. Sudah ada Dani dan Erna yang menunggu di ruang tengah lantai dua rumah Jamet.

Sepi. Portal pun terbuka, lalu kami bertiga masuk ke dalam sana, berpindah dari Surabaya ke Depok dalam waktu singkat. Tanpa basa-basi, Sigit memulai laporannya soal inhuman.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat