Tanpa Nama Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 2

Tumis Sarden

POV Jamet

2 Desember 2016, aku biasa bangun pagi untuk subuhan. Setelah matahari mulai muncul, aku keluar rumah untuk menghirup udara sejuk kampung halaman sambil memegang handphone. Aku ketawa-tawa sendiri melihat foto candid Hari yang bawa cewek cakep ke kampus.

“Beda banget sama udara Depok. Segerrrr.”

“Makan dulu, Zakaria.” Ibuku muncul dari dapur membawa sarapan.

“Yaa ampun, bu. Aku yo bisa ambil sendiri to.”

“Wis biarin. Kamu baru sampai tadi malam, pasti masih capek.”

“Bu, Zakaria di sini cuma sampai minggu, kan, ya?”

“Baru juga sampai udah ngomongin ke Jakarta lagi.”

“Eda mau sidang hari Senin, gak enak kalau aku ndak datang.”

“Yasudah, sarapan dulu.”

POV Hari

Gue sekarang sedang di kereta bareng Lina pulang sebentar ke rumah di Tanah Abang untuk bercerita dan minta izin ibu untuk tinggal di apartemen bareng perempuan. Gue udah siap-siap dari pagi, alasan kalau takut lama di perjalanan karena aksi damai 212. Sebenarnya sih, lebih ke menghindari kejadian kemarin.

“Setiap hari jadi harus pakai kacamata hitam terus dong?” tanya gue

“Iya lah, waspada kalau si setan ngikutin. Kemarin ada laporan dari markas. Sesuai dengan dugaan kita.”

“Jadinya dia Inhuman atau setan?”

“Belum pasti. Tapi mekanismenya sama.”

Saat ini orang barat memang mulai meneliti setan, dan dikaitkan dengan teori makhluk metafisik perihal dimensi lain yang tak kasat mata.

Tak lama kemudian, kereta tiba di stasiun Tanah Abang. Gue cukup berjalan kaki dari luar stasiun sampai ke rumah, karena jaraknya memang dekat. Rumah gue gak besar, tapi cukup luas untuk menampung acara arisan keluarga besar. Di lantai satu ada kamar nyokap, ruang tamu besar yang menyatu sama ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi. Di lantai dua ada kamar gue sama adik gue, namanya Kenia. Ada juga satu kamar mandi.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Tumben pulang Jumat?” Tanya nyokap

“Lah, ibu gak berangkat kerja hari ini?” Tanya balik gue

“Ngabisin cuti. Besok-besok udah gak bisa.”

“Ada yang mau Hari bicarain, nih. Tapi soljum dulu deh.”

Gue pergi ke dapur untuk ngambil minum, sekalian juga buat Lina.

“Gimana sidangnya, Har?”

“Lancar.”

“Nah yang ini, siapa namanya? Bawa perempuan kok gak dikenalin.”

“Lina, bu.” Kata Lina, sambil mencium tangan nyokap.

Ketika Lina membungkuk mencium tangan, terlihatlah bola matanya yang berwarna beda dengan orang normal. Itu terlihat oleh nyokap.

“Lina, itu kenapa matanya?” Selidik nyokap

“Hehehehe.” Lina nyengir.

Lina membuka kacamatanya, dan tampaklah mata celepuknya. Gue deg-degan, menerka gimana reaksi nyokap.

“Lho, Inhuman?” Nyokap makin penasaran. Lalu dijawab Lina dengan hanya mengangguk.

“Akhirnya Hari punya temen yang sama!” Ternyata nyokap malah seneng.

Gue dicuekin. Gue pergi ke kamar sebentar, lanjut ke kamar mandi, lalu lanjut lagi berangkat soljum. Kadang gue mikir, parah juga sih, sholat cuma seminggu sekali. Inhuman macam apa gue ini.

Sepulang soljum, nyokap selesai masak kecil-kecilan bareng Lina. Tumis sarden, baunya menggugah selera banget. Kebetulan gue sama Lina cuma makan roti sebelum berangkat tadi. Lalu, kita makan bareng di ruang keluarga. Gue menjelaskan kedatangan gue, kejadian kemarin, dan perintah S.H.I.E.L.D. untuk tinggal di apartemen.

Nyokap gue di luar dugaan ternyata setuju-setuju aja. Katanya, situasi sudah berubah buat kami. Berbahaya kalau gak bareng-bareng. Sebenernya nyokap malah ngajak tinggal di rumah ini, kalau bukan atas perintah S.H.I.E.L.D.. Kebetulan nyokap juga cuma tinggal berdua sama adek gue. Bokap udah gak ada sejak gue kelas 2 SD. Adek gue sekarang mungkin baru pulang sekolah.

3 Juni 2016, hari Jumat, gue sedang tinggal di rumah karena kampus baru mulai libur semester. Waktu itu Adek gue, lagi liburan kenaikan kelas sama temen-temen kelas XI-nya ke pulau seribu. Malam hari, nyokap gue pulang dari tempat kerjanya membawa gulai kepala kakap buat makan malam.

Baru satu suap makan, yang terjadi adalah kami berdua membatu, tidak bisa bergerak, dan dari kulit muncul semacam cairan yang cepat sekali mengeras, menjebak kami menjadi patung hidup. Gue kira kami akan mati saat itu, tapi ternyata muncul retakan, lalu pecah.

Kami selamat dari dalam patung batu. Sejenak ada yang terasa aneh dalam tubuh gue. Aneh. Gue lihat nyokap gue. Astaga! Tulang-tulang belakangnya keluar semua dari kulit, terceplak dari balik bajunya. Gue bahkan cukup jijik melihatnya. Nyokap gue menjerit, tapi usia yang sudah kepala lima membuat tenaganya tidak banyak lagi untuk berteriak lama.

Nyokap menangis lirih kesakitan keluar rumah, ke arah rel kereta api. Gue pun panik dan mengejar nyokap. Nyokap dan gue sudah tarik-tarikan di atas rel. Nyokap gak mau bergerak, sepertinya memang mau bunuh diri karena kesakitan. Entah kenapa badannya jadi berat dan keras banget.

Kemudian, munculah kereta dari kejauhan dengan kecepatan tinggi. Gue refleks pasang badan buat nyokap gue. Jantung gue berdegup sangat cepat. Gue pikir hari ini beneran akan mati. Dengan putus asa gue menjulurkan tangan berusaha menahan laju kereta, yang pastinya tidak mungkin. Tiba-tiba, perlahan tapi pasti laju kereta melambat dan kemudian berhenti tepat di depan telapak tangan gue. Listrik di dalam gerbong tersebut juga mati seketika.

Tiba-tiba dari langit muncul pesawat. Gue tau itu sepertinya Quinjet karena sesekali melintas di langit Jakarta. Kami berdua dijemput masuk ke dalam kamar kontainmen. Kejadian kereta malam itu juga dihapus dari laporan PT KAI entah bagaimana caranya. Saat itulah kami mulai dilatih mengendalikan kekuatan, mendaftar Sokovia Accords, dan kembali ke rumah tiga bulan kemudian. Nyokap kembali pergi bekerja atas batuan S.H.I.E.L.D. Sekali lagi, entah bagaimana caranya.

***

“Kejadian malam itu aku yang lapor ke markas, bu, hehehe.” Lina terkekeh. “Tapi waktu itu aku belum tau kalo itu ibu sama Hari.”

Kini Lina yang gantian bercerita singkat. Lina telah cukup lama menjadi agen S.H.I.E.L.D., sejak usia 5 tahun. Lina dulunya yatim piatu, tidak pernah tau rasanya punya orang tua kandung. Dia memilih mengikuti pendaftaran agen muda S.H.I.E.L.D. atas saran panti asuhannya dulu di Suriname.

Alasannya, panti asuhannya tidak cukup menanggung banyak biaya untuk semua anak-anak. Lina banyak belajar seni bela diri, bahasa, dan skill lainnya sebagai agen. Saat usianya 18 tahun, Lina ditempatkan sebagi agen di Depok, Indonesia, alih-alih Suriname sebagai tempat asalnya. Wajah Lina yang tidak banyak berbeda dengan orang Jawa menjadi alasannya, meskipun sudah banyak bercampur dengan ras latin di sana.

“Dulu keluarga kamu yang orang Jawa siapa?” Tanya nyokap penasaran

“Kakekku dulu orang Jawa, dibawa dari Yogya. Dikirim jadi buruh ladang tebu akhir tahun 1800an.” Jawab Lina santai.

Setelah ditempatkan di lapangan. Dia stuck di agen level 3. Kejadian yang merubah dirinya menjadi Inhuman ternyata juga belum lama ini, setelah makan siomay ikan tenggiri. Wajar saja matanya masih bisa berubah menjadi normal. Masih dalam proses transisi.

“Sebelum ada Inhuman, kerja di sini santai. Tidak ada apa-apa, bu. Cukup berikan laporan satu bulan sekali. Sekarang setelah ada Inhuman, apalagi Watchdog, tiba-tiba kerjaan jadi banyak.” Jelas Lina kepada nyokap.

Watchdog.
Organisasi yang bertanggung jawab atas matinya listrik di tujuh kota beberapa minggu lalu.

“Assalamualaikum.” Kenia datang membuka pintu.

“Waalaikumsalam.” Jawab gue

“Waaaah ada tumis sarden. Mau dooong.”

“Eh hush, gak boleh, ini buat tamunya bang Hari. Ganti baju dulu sana.” Nyokap ngomel pelan.

Nyokap sampai sekarang masih parno soal ikan. Makan ikan kali ini pun pengecualian karena kami sudah menjadi Inhuman terlebih dulu.

“Huuu, pelit. Aku kan juga mau jadi kuat tau.” Kenia menjulurkan lidahnya ke nyokap, lalu pergi ke kamarnya

Kenia Dwi Lasya

Kenia Dwi Lasya, dulu dia adek paling manja yang selalu gue gendong kemana-mana sejak bokap pergi sama cewek lain. Gak nyangka dia sekarang udah gede. Sekarang badannya jadi makin montok, rambutnya dibiarkan tumbuh panjang, dan bagian dadanya tampak makin membesar.

“Adek lu tau kalo…?” Tanya Lina ke gue, memecah lamunan.

“Tau, makanya dia gak bingung waktu kita gak ada di rumah tiga bulan.”

“Kasihan dong lebaran sendiri kemarin?”

“Dia nginep di rumah tante. Alasan kalo nyokap dinas ke Eropa, guenya ikut, sedangkan dia gak boleh ikut karena masih sekolah.” Jelas gue

Sepanjang obrolan, gue terus dibujuk Kenia supaya nginep di rumah sampai Senin, tentunya bareng Lina. Tapi setelah kami ceritakan lebih detail tentang adanya kasus dengan si setan, nyokap sepakat untuk mengizinkan kami kembali ke Depok. Supaya setannya gak isengin Kenia katanya.

***

Malam hari kami kembali berdiskusi di apartemen soal si setan itu. Mata Lina tetap dalam mode celepuk.

“Gak capek matanya?” Tanya gue

“Sekarang sih udah biasa, kemaren capek banget. Lagipula gue harus terbiasa karena gak selamanya tetap dalam masa transisi kan.”

“So, ke mana pun akan tetap pakai kacamata hitam?”

“Mungkin. Tapi nanti gue coba tanya ke markas apa ada sesuatu alat buat mata gue.”

“Coba gue mau lihat mata lu.”

Gue menatap matanya dalam-dalam. Memastikan bentuk matanya seperti apa. Penasaran.

“Apa yang lu liat?” Gue ngetes Lina

“Elu.”

“Nenek gayung juga tahu. Maksudnya ada yang beda gak? warna misalnya.”

“Ada.”

“Apaan?”

“Cinta.”

“Hadeeeh.” Gue tepok jidat

Kami melanjutkan pembicaraan sambil makan tumis sarden yang dimasak lagi sama nyokap sebelum kembali ke Depok. Sejenak canda tawa melepas kepenatan berpikir tentang menemukan dan mencari siapa si setan itu sebenarnya.

Satu jam kemudian, pembicaraan selesai, malam mulai larut, AC makin dingin. Waktunya tidur. Gak pakai mandi, gue langsung menuju tempat tidur. Ketika udah mulai dapat mimpi, tiba-tiba kaki gue ditarik.

BUGG.. Gue jatuh ke lantai.

“Mandi dulu! Nanti kasurnya kotor.” Kata Lina yang masih pakai handuk.

“Iya, iya, ampun.”

Gue mandi sebentar, setelah itu gue langsung pakai baju di kamar mandi. Gak enak kan keluar telanjang, ada perempuan asing. Selain itu, kejadian kemarin pagi gak boleh terjadi lagi.

Gue berjalan masuk kamar, berniat melanjutkan tidur. Ternyata di kamar masih ada Lina. Dia sudah pakai baju piyamanya. Tapi kok tatapannya kok nakal banget. Gila. Gue gak tahan, tapi gue harus tahan.

“Harus tahan, Har!” Gue menyemangati diri.

“Lin, pindah ke kamar lu sendiri sana. Gue gak biasa tidur bareng orang lain.” Gue beralasan.

“Gue maunya di sini. Gimana dong?” Goda Lina.

“Yaudah gue tidur kamar lu ya.”

Gue pergi ke kamar Lina. Tapi sebelum gue selesai naik ke kasur, Lina udah ngikutin gue dan naik ke kasur duluan.

“Sekarang gue maunya di sini.”

“Ishhh.” Gue jadi kesel sendiri.

Gue pindah lagi ke kamar sendiri. Kejadiannya sama lagi kaya tadi. Dua kali gue bolak-balik ke kamar gue dan ke kamar Lina, dia selalu ngikutin gue sambil ketawa-tawa. Nih anak ngajak bercanda apa gimana sih. Suatu ketika gue lari dari kamar Lina ke kamar gue, lebih cepat dari Lina. Tepat setelah masuk kamar gue buru-buru menutup pintu.

“AAAAWW.” Pekik Lina, tangannya terjepit pintu.

“Rasain.” Kata gue, sambil membuka pintu, meloloskan tangannya.

Lina menarik tangannya sambil merangsek mendorong pintu. Raut mukanya berubah marah. Entah kenapa ge merasa auranya menjadi seram dan berbahaya.

“Aduuh, maaf Lin. Maaf.” Kata gue sambil berjalan mundur.

Lina masih diam, berusaha memojokkan posisi gue ke tembok. Berhasil. Dada gue ditekan ke tembok. Muka kami sangat dekat, tapi bukan dalam keadaan romantis. Keadaannya mencekam buat gue.

Tiba-tiba Lina mendaratkan bibirnya ke bibir gue, mencium dengan ganas. Gak gue bales.

Lina mendekatkan kepalanya ke telinga gue, lalu berbisik,

“Bales ciuman gue, kalau nggak….” Lina meremas jari-jari gue keras banget. Sakit.

“Iyaa.. AAAAAK!” suara gue melengking kaya abg cabe-cabean.

Lina kembali melumat bibir gue dan terpaksa gue balas. Ciumannya super ganas. Lidahnya bermain-main, sesekali dia juga menggigit dan menarik bibir bawah gue. Gue balas memasukkan lidah gue ke mulutnya. Gue mencoba berbuat lebih seksi dengan memegang lehernya dengan kedua tangan gue. Memberikan apa yang dia inginkan supaya tidak terjadi yang nggak-nggak. Cewek satu ini ternyata bisa berubah jadi serem banget.

“Udah ya Lin, gue ngantuk.” Gue mendorong kepala Lina menjauh.

“Okay, tapi gue tidur di sini.”

“Iya. Tapi jangan macem-macem.”

Gue masuk ke selimut, Lina menyusul sambil menyimpulkan senyum. Terjadilah seperti kemarin, Lina meremas-remas penis gue yang pastinya gak bisa tidur akibat ciuman tadi.

“Yang di bawah sini gue gak mau tidur tau.”

“Lin, udah dong.” Gue jawab datar.

Tangannya masuk ke dalam celana gue. Meremas-remasnya langsung. Sensasinya luar biasa buat gue, tapi tetap gue harus bertahan. Iseng gue coba membuka telapak tangan gue, mengarahkan ke penis gue diam-diam. Gak lama kemudian, penis gue mengecil. Berhasil.

“Ih, kok tiba-tiba jadi kecil?” Lina heran.

“Nah, udah lemes kan. Udah ya, gue mau tidur.”

Lina melotot lagi sambil menarik tangannya dari selangkangan gue. Gue refleks memeluknya dari samping, meminta maaf. Lina cekikikan sendiri.

Payudaranya kenyal sekali. Tapi untungnya kejadian konyol ini gak berlanjut. Kami terlelap.

***

Pagi hari, gue bangun dengan penis terasa geli. Kepala Lina udah di selangkangan gue, ngasih oral lagi. Gue pasrah, mencoba melihat jam untuk mencari alasan supaya Lina berhenti. Tapi ternyata masih jam 6. Sial. Makin lama gue mencari-cari alasan, makin enak rasanya penis gue dimainkan Lina.

“Mmm.. mmmhhh….” lenguh Lina dengan mulut tersumpal penis gue.

“Lina, please.” Gue sedang bimbang.

Penis gue dijelajahinya mulai dari pinggir kepala penis hingga ke lubang kencing. Sesekali Lina menelan penis gue seutuhnya sampai pangkal. Ketika penis gue mulai berkedut, dia pindah menjilati buah zakar gue. Lina bermain lama, tidak seperti kemarin.

Sepuluh menit kemudian, gue gak tahan mau keluar.
“Lin, udah gak tahan.”

Lina dengan cepat mengocok penis gue, bergantian dengan jepitan mulutnya yang naik turun. Akhirnya, gue muncrat di dalam mulutnya lagi. Lina menelan sperma gue yang ada di mulutnya, sementara gue mengatur nafas.

“Gantian.” Kata Lina sambil membuka celananya sendiri

Ah, pagi ini masih panjang. Gue udah terlanjur terangsang, ditambah Lina bisa tiba-tiba jadi serem.

***

POV Kenia

Aku bangun jam 6 pagi, lalu kunyalakan televisi di kamar. Cahayanya perlahan menyinari seluruh sudut ruangan. Sesaat kemudian televisiku mati seolah ada yang menekan tombol power. Keadaan di kamar kembali menjadi remang-remang. Di tengah kebingunganku, bantal guling yang tadinya kupeluk tiba-tiba melayang, menyekapku sampai sulit bernafas.

“Ibuuuuu!! Ibuuuuu!! Toloooong!!” Aku teriak tapi tidak bisa terlalu keras.

Dari kekosongan ruangan itu, tiba-tiba muncul sosok banyangan hitam. Si setan yang kemarin diceritakan kak Hari muncul di depanku.

Ada tiga.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat