Tanpa Nama Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 28

Museum Angkot

POV Hari

Masih di hari Selasa, 21 Februari. Setelah Isya, kami diajak berjalan-jalan mengelilingi Kota Malang. Paklenya Jamet masih setia mengantar kami berkeliling, dari melihat universitas negeri yang ada di Malang dari depan jalanan, hingga ke alun-alun.

“Foto gaeees!” Ajak Tika.

“Ayoo!.” Seru Dani.

Kami semua berpadat-padatan agar muat dalam ruang kamera smartphonennya Tika. Background tulisan ‘Alun Alun Malang’ adalah hal wajib malam ini. Begitu juga dengan wajibnya kecanggungan Dani sama Eda.

Lelah dengan berfoto ria dan kaki yang pegal mengitari alun-laun, kami memutuskan untuk makan-makan di salah satu angkringan.

“Met, jam berapa sekarang?” Tanyaku.

“Jam 10 kurang. Kenapa? Udah mau balik?” Tanyanya balik.

“Bukan…”

“Terus kenapa?”

“Ah elu, Met. Itu liat sebelah lu.” Eda menginterupsi sambil menunjuk ke seorang wanita.

Eda menunjuk ke arah Janiar. Tadi sore Jamet mengajak Janiar untuk ikut main bersama kami. Dengan santainya, dia mengajak Janiar seolah bukan masalah yang besar. Dengan santainya juga, sekarang Janiar mengobrol banyak dengan Jennifer.

“Tenang aja, gak bakal dicariin dia mah.” Kata Jamet.

“Masa sih?” Alisku kunaikkan.

“Mau nginep di rumahku kok malem ini.”

“What the hell??!” Reaksinya Eda.

Hubungan macam apa mereka itu. Mantan-mantanan macam apa si Jamet sama Janiar ini. Apa reaksinya Jennifer nanti kalo tau Janiar akan nginep.

Satu per satu pesanan makanan diantarkan. Kami bercanda ria di tengah dinginnya kota Malang malam hari bersama segelas jeruk panas, kecuali bagi Anwar, Tika dan Dani. Mereka bertiga lebih memilih minuman ESTMJ ketimbang jeruk panas.

“Temen-temen, besok kita ke Kota Batu ya.” Jamet memberi pengumuman.

“Aseeeek.” Sorak Anwar.

“Gue mau ke Museum Angkot, dong.” Kata Tika.

“Wih, gila ya yang udah prepare info.” Eda geleng-geleng.

Tika memang paling prepare. Setiap jalan ke tempat baru, dia selalu browsing dulu segala macam infromasi sampai ke bagian yang paling detail. Dalam situasi kaya gini sebenernya sih gak perlu, karena Jamet udah jadi tourguide paling ampuh. Apalagi ada Janiar. Tapi, oke lah buat pelajaran gue nanti-nanti kalo mau jalan sendiri.

“Aku gak ikut ya. Kalian have fun aja.” Janiar menanggapi.

“Gapapa kok, Janiar. Jamet bisa jaga diri hahaha.” Anwar becanda.

Becandaan Anwar gue tau bukan buat Janiar, tapi buat Jennifer. Tapi Jennifer sendiri kayanya tetep santai-santai aja. Hanya saja, dia jadi gak banyak berkespresi. Entah Jennifer memikirkan apa sekarang.

“Batu itu searah sama ke Kebun Raya Purwodadi gak?” Erna bertanya.

“Beda arah sih. Mau ke sana, Na?” Jamet nanya balik.

“Ya kalo sempet aja waktunya.”

“Gampang, bisa diatur.” Jamet memberikan jempolnya.

Jam sebelas lebih sedikit akhirnya kami sampai kembali ke rumah Jamet. Setelah beberapa saat berisik di ruang tamu, kami masuk ke kamar masing-masing. Kami semua kebagian kasur lipat. Sambil nunggu ngantuk, Eda sama gue saling bertanya-tanya, “tidur di manakah Janiar dan Jamet?”

Tiba-tiba Jamet mengetuk pintu. Anwar bangun dari tempatnya untuk bukain pintu.

“Aku tidur sama kalian bertiga ya. ” Kata Jamet

“Waaah, gue tau nih…” Anwar senyum-senyum sendiri.

“Udaah, diem.” Jamet malu.

Janiar ternyata tidur di kamarnya Jamet sendirian.

“Parah lu, kasian Jennifer~” ledek Eda.

“Kok Jennifer yang kasihan?” tanya Jamet.

“Sumpah ya, Met. Masa lu gak tau sih?” Gantian gue yang ngomong.

“Ya, aku ngerasa ada yang aneh dikit sih.” Tanggapnya.

“Begitu lu bilang dikit??” kata gue lagi.

Gue akhirnya menceritakan hasil pengamatan gue sejak momen wisuda hingga di kereta kemarin. Cerita gue pun diaminkan oleh dua cowok di sebelah gue. Tapi, Jamet lagi-lagi melakukan pembantahan.

“Aku sama Jennifer ya cuma temen, sama kaya ke Dani, Erna, sama Tika.” Bantah Jamet.

“Met, met.” Eda geleng-geleng.

“Kayanya gue tau nih akar ceritanya.” Anwar bernada sepeti motivator.

Anwar bercerita soal beberapa waktu lalu, waktu Jamet ikut gengnya mereka jalan ke GI. Kalo gak salah itu hari yang sama waktu Erna nunjukkin identitas inhumannya ke gue. Menurut Anwar, waktu itu Jamet keliatan canggung banget jalan di mall elit.

Lalu, masuklah Jennifer dengan cerita idealisnya soal konservasi dan perubahan iklim. Jamet menanggapi ceritanya terlampau serius sampai akhirnya mereka terpisah jauh dari jarak jalannya Anwar dan Tika.

“Lu pada tau kan, geng kita seriusnya kaya apa soal tumbuhan. Soal konservasi?” Anwar berbicara dengan posisi kepala yang lebih maju dari badannya. Sebuah sikap yang mencirikan antusiasme saat bercerita.

“He-eh..” Eda ikutan antusias.

“Nah, yang paling idealis itu ya Jennifer. Makanya dia susah dapet pacar.”

“Oooh.” Gue ngerti.

Gue ngerti. Jennifer gue rasa cuma mau mencairkan suasana sama Jamet selama di mall. Eh, akhirnya dia sendiri yang kebaperan. Jamet bener-bener dah, suka nasehatin gue supaya move on dari Puri, eh dia sendiri malah bikin baper anak orang.

“Lu, Met. Pokoknya salah lu dah semuanya.” Klimaks ceritanya Anwar, salahkan Jamet.

“Waaah Jamet~” gue sama Eda jadi kompor.

“Udah dong.” Jamet salah tingkah

“Jadi, nikah sama siapa maunya, Met?” ledek gue.

“Tidur woy, tidur. Besok jadi mau jalan ke Batu gak nih?” Ancam Jamet.

Satu rasa penasaran terpecahkan, kenapa Jennifer bisa nempel sama Jamet. Satu lagi yang harus sebisa mungkin gue korek adalah cerita tentang Janiar. Diam-diam aku membuka handphone dan mengetik pesan wa ke Dani.

Gue: Dan, Jennifer apa kabar?

POV Dani

Hari ngechat gue. Lalu gue balas singkat, “Baper.”

Jennifer terus menerus curhat soal kedekatannya sama Jamet. Ceritanya dibuat seakan-akan pilu dan Jamet berkali-kali dibilang gak peka. Bagian yang gak peka itu gue setuju sih.

“Aku kira dia udah ngelupain mantannya.” Curhat Jennifer.

“Lu gak nanya gue dulu sih kesehariannya Jamet.” Gue menanggapi.

“Emang lu tau?”

“Nggak. Hahaha.” tawa gue garing.

Jennifer ngambek lagi.

“Serius banget emang lu mau sama Jamet?” Tika ikut bicara.

“Gue gak pernah seserius ini lah, Tik. Lu tau kan…”

“Iya, iya. lu susah dapet pacar.” Selak Tika.

Curhatan demi curhatan Jennifer terus keluar.

“Jen, tapi lu paham kan.” Erna juga ikut bersuara.

“Paham apa? Ngomong jangan setengah-setengah napa, Na.” Gue sewot.

“Jennifer sama Jamet kan, yah, beda keyakinan.” Jelas Erna.

Gue dalam hari membenarkan apa kata Erna. Jamet itu muslim tulen, sedangkan Jennifer jelas bukan.

“Hmmm…” Tika bergumam.

“Mau diterusin beneran?” Erna menekankan lagi.

“Tapi, baru kali ini gue ngerasa nyambung kalo cerita.” Katanya.

Jennifer terdiam sebentar, terus dia lanjut bercerita lagi seolah itu bukan masalah besar.

Yah, sudahlah. Tika mungkin lebih ngerti cara ngasih logika yang bener ke Jennifer. Janiar sama Jennifer jelas adalah sebuah kontradiksi. Selain beda keyakinan, penampilan sehari-seharinya Janiar itu juga berbanding tebalik dengan dia. Janiar berjilbab dan manis. Dari ceritanya Jamet, Janiar juga gak pernah bermake-up ala-ala untuk sekedar main atau ke kampusnya.

Kalo dibandingin sama kesehariannya Jennifer, jelas berbeda jauh. Jennifer selalu tampil casual dan tetep modis. Kacamatanya aja bahkan bermerk.

Ditengah curhatannya Jennifer. Tiba-tiba pintu diketuk.

“Siapa?” tanya Tika.

“Aku. Janiar.” Suara dari luar.

“Mampus deh lu.” Gue melotot ke Jennifer.

Tika membuka pintu.

“Aku tidur di sini ya. Sepi sendirian di kamarnya Jamet.” Janiar membawa bantal.

“Silahkan, silahkan.” Ajak Tika.

“Aku samping Jennifer ya.” pinta Janiar tanpa merasa risih.

“Mampus kuadrat.” Gumamku dalam hati.

Mungkin buat Jennifer ini adalah awal malam yang gak diduga-duga. Malam yang akan sangat panjang walaupun ditinggal tidur. Pasti rasanya miris banget, dan terasa cuma buat Jennifer seorang.

Keesokan harinya, kami semua sudah bersiap-siap. Setelah semuanya kebagian mandi, kami berkumpul untuk makan pagi di ruang tamu. Tepat jam sepuluh, mobil elfnya Pakle sudah datang menjemput. Kami berpamitan dengan orang rumahnya Jamet untuk menuju Kota Batu. Janiar sekaligus pamit pulang.

Jamet langsung ditempel Eda untuk duduk di depan, di samping sopir. Inisiatif itu diputuskan mendadak supaya gak ada insiden aneh-aneh. Di belakangnya, gue, Erna, sama Hari duduk bertiga. Di barisan ketiga, ada Anwar, Tika, sama Jennifer.

“Met, gak kesiangan kita berangkat jam segini?” tanya Hari.

“Nggak lah, paling jam dua belas kurang udah sampai.” Jawabnya.

“Weekdays juga sekarang, gak macet.” Sambung Paklenya Jamet dengan suara ngebass.

Mobil perlahan meninggalkan jalanan di lingkungan rumah Jamet. Kota Batu, kami akan jajah kamu hari ini.

POV Sigit

“Sigiiithh…” desah Eva.

“Evaaa.. sshhh..”

“Sigiiit.. aku mau keluar lagiiih…”

Badan Eva melengkung di bawah tindihanku. Selangkangannya di tekan kuat-kuat hingga penisku terasa seperti diremas. Aku pun juga tak kuasa membendung orgasme. Spermaku menerjang deras ke dalam rahim Eva.

Sesaat kemudian aku berbaring ke samping Eva. Kami berdua berusaha mengatur nafas setelah permainan singkat pagi ini. Kami berdua sungguh bisa menikmatinya.

“Udah pagi.” Kataku.

“Iya udah pagi, tapi kamu tadi tidur lima jam.” Ledek Eva.

“Tetep aja udah pagi~” aku melet.

“Dasar.”

“Sekarang ajarin Samudra Pasifik.” Pintaku.

Kami berdua bangun dari kasur untuk mandi pagi sendiri sendiri. Lalu, kami pergi keluar untuk sarapan. Akhirnya, belajar sejarah yang dijanjikan Eva jadi ngaret jauh dari rencana.

“Kapan ceritanya? Aku terpaksa bolos kuliah pagi nih.” Aku mendadak malas.

“Oh, sekarang kuliah?” Eva mengunyah makanannya.

“Iya, disuruh bapak.”

Usai makan, barulah Eva mulai cerita.

“Dulu banget, puluhan ribu tahun lalu orang-orang Mikronesia dan Melanesia mulai berlayar ke timur. Ada juga mereka yang asalnya dari Sulawesi, Maluku, sama Papua. Bangsa kamu.”

Aku belum sempat mencerna kata-kata Eva. Dia ngomong banyak dan cepet banget.

“Tunggu dulu, Melanesia? Mikronesia? Itu apa?” aku memotong.

“Buka bukunya dong, Git.”

Aku mengambil cincinku dari saku. Kemudian, aku buka portal kecil seukuran tangan untuk mengambil ketiga buku pinjamanku dari kamar Eva. Aku mulai membalik-balik halaman dari buku Samudra Pasifik. Tertera sebuah peta pada halaman awal dengan tulisan latin yang lebih modern.

“Ini Mikronesia. ini Melanesia.” Tunjuknya ke peta itu.

“Ini bukannya Oceania?” tanyaku.

“Oceania itu benua, kalo Mikronesia semacam wilayah geografis lainnya.”

Eva lanjut bercerita. “Orang-orang itu terus berlayar ke timur hingga menemukan banyak pulau baru. Lalu, sampai lah mereka ke Polinesia bagian barat. Fiji, Tonga, dan Samoa. Setelah itu, terjadi kasus ‘The Long Pause’. Pelayaran terhenti selama dua ribu tahun hingga akhirnya mereka mulai berlayar lagi. Hawaii di utara, Pulau Paskah di timur, dan Selandia Baru di selatan akhirnya mereka kolonisasi sekitar seribu tahun lalu.”

Aku punya pertanyaan yang muncul di benakku.

“Selama dua ribu tahun itu memang ada apa?”

“Nah, ini yang menarik…”

Eva menerangkan bahwa teori ilmu pengetahuan saat ini menjelaskan tiga kemungkinan. Pertama, ada fenomena El Nino yang berkelanjutan hingga menyebabkan perubahan arah angin. Kedua, ada bintang yang meledak jauh di langit sana hingga menyebabkan navigasi mereka terganggu. Ketiga, ada ledakan populasi alga yang menyebabkan keracunan.

Tapi, katanya, ada catatan unik tersembunyi di suku-suku tersebut. Semuanya bercerita tentang malaikat biru yang turun dari langit. Selama beberapa waktu, masyarakat mereka dikacaukan oleh para malaikat biru. Lalu muncul kelompok inhuman yang memberontak, menyebabkan kekacuan di laut pasifik dalam waktu lama.

“Oke..” aku mulai paham.

“Inhuman kuno itu udah pada mati. Tapi, beberapa punya waktu hidup yang lama.”

“Oke..” aku makin paham.

Eva menjelaskan kejadian inhuman bernama Hive. Dia mendapatkan informasi kalau Hive dikirim ke planet yang jauh pada abad pertengahan saat perang dengan Kree. Tapi tahun kemarin dia baru saja kembali ke bumi. Sayangnya, itu tidak berlangsung lama. Hive mati diluar angkasa di dalam sebuah pesawat yang terbang vertikal.

Aku lanjut membuka buku Inhuman. Kutunjukkan gambar si Jeepers Creepers.

“Kalo yang ini gimana?” tanyaku.

“Inhuman yang itu, kayanya aku pernah lihat gambarnya di tempat lain.”

“Di mana?”

“Aku lupa, nanti aku cari.” Eva lanjut minum.

Eva beralih cerita.

“Aku dengar soal Alan.” Katanya.

“Ya, dia itu…”

“Kita hadapi dia bareng-bareng.” Eva menggenggam tanganku.

Beberapa waktu kemudian aku pamit dan membuka portal. Aku memilih kembali ke Penthouse untuk mandi di sana, lalu pergi lagi ke Surabaya untuk ngampus. Kukirimkan teks ke Mas Hari di aplikasi rahasia.

Sigit: Mas Hari, aku dapat info inhuman

Hari: Apa?

Sigit: Nanti sore atau malam aja cerita di Penthouse bisa?

Hari: Tengah malam ya

Sigit: Oke

Dani: Wey, gue sama Erna ikut lah

Aku membuka portal di belakang gedung. Kunikmati siang ini seperti biasa. Kuliah, bla bla bla…

POV Hari

Kami tiba di Kota Batu jam dua belas siang. Banyak sekali pilihan wisata di sini. Atas saran Jamet, kami memutuskan terlebih dulu main ke Museum Angkot. Ini sekaligus permintaannya si Tika juga sih.

Begitu masuk, suasanya dan mobil-mobil yang dipajang membuat gue terbengong-bengong.

“Bagus gila.” Gue takjub

“Bagus dong.” Kata Jamet.

“Gue kira museum angkut isinya angkot gitu.”

“Kamu kira isinya kopaja semua gitu? hahaha”

Gue mengangguk, diikuti dengan tawa panjang Jamet. Selanjutnya, kami mengunjungi banyak zona, mulai dari zona Sunda Kelapa, edukasi, hingga Eropa dan Hollywood. Dari berbagai zona yang kami lewati, Zona Hollywood paling menyita waktu kami. Lebih tepatnya menyita waktu Tika, Dani, sama Erna. Mereka heboh foto-foto sendiri.

“Met, abis ini…”

Gue mau nanya ke Jamet, tapi ternyata dia ngilang.

“Jamet mana?” Tanya gue ke Eda.

“Eh bukannya sama lu terus tadi?” jawabnya

“Eh, masa Jeruk juga ilang.” Anwar nimbrung.

“Aduh.” Eda tepok jidat

Tika, Dani, sama Erna yang sibuk foto mulai melihat gelagat kami yang kebingungan. Sesaat kemudian mereka ikut bergabung dengan obrolan kami.

“Ada apa sih?” Tanya Tika.

“Jamet ngilang sama Jeruk.” Kata Anwar.

“Gue telepon deh ya.” Solusi dari Tika.

Tika menyetting loud speker. Suara nada sambung terdengar. Kami semua menunggu Jennifer mengangkat teleponnya.

“Dih direject.” Tika.

“Yaudah gue yang telepon Jamet deh.” Kata Eda.

Kami kembali menunggu. Tapi baru sebentar, ternyata suara mbak-mbak kartu seluler yang menjawab panggilan. Handphonenya Jamet mati.

“Gimana sekarang?” Tanya Eda

“Ada yang punya nomor Paklenya Jamet gak?” gue nanya balik.

Semua menggeleng. Kami berpikir keras karena semuanya baru pertama kali ke sini. Semuanya, termasuk gue, masih buta arah.

“Keliling random aja yuk. Palingan Jennifer lagi modus.” Ajak Tika.

“Kasih tau ntar kita nunggu di mana gitu.” Anwar ngasih solusi lainnya.

“Ketemu di depan pintu masuk Pasar Apung Nusantara ntar jam 4. Mau?” Kata Tika.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat