Tanpa Nama Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 27

Yang Eksotis Memang Menarik

POV Kenia

Sekolah hari Selasa gak ada bedanya sama hari-hari lainnya. Bahkan bel istirahat siang gak terasa udah berbunyi. Bapak guru Fisika pun tak terasa menyudahi kelasnya.

“Makan gak, Ken?” Kata Imel.

“Ayuk deh, Mel. Laper gue.” Jawabku.

“Ikut gak, Nur?” ajak Imel ke teman yang lain.

“Boleh.” Katanya singkat.

Imelda Hapsah

Gemerincing gelang Imel berbunyi saat dia menaruh handphone ke saku bajunya. Imelda Hapsah, temanku yang satu ini memang suka memakai gelang bermanik-manik. Kulitnya yang halus dan sawo matang terkesan eksotik dan cocok dengan gelangnya. Alih-alih jelek, warna kulitnya jutsru membuat kagum para cowok-cowok, sehingga suka cari-cari perhatian Imel.

Temenku yang satu lagi namanya Nurina Kusumaningrum, lebih sering dipanggil Nur atau Ibu Perpus. Sumber julukannya berawal karena rajin banget nulis semua yang dari papan tulis atau pun yang dibicarakan gurunya. Hasilnya, dia sering hafal materi di luar kepala, tanggal berapa materinya dibahas, dan ingat detail setiap perkataan guru yang pernah didengarnya.

Nurina Kusumaningrum

Kami semua pergi untuk makan nasi goreng di salah satu toko di kantin. Dengan ciri khas kantin yang ramai, muncul kebiasaan harus menunggu pesanan hingga jadi. Akan tetapi, saat baru saja satu pesanan jadi, seorang laki-laki berbadan tinggi menyelak antrian dan mengambil nasi goreng pesanan kami.

“Eh, antri napa, Yogi!” Imel sewot.

Yogi si anak kelas 3 ips, berkepala plontos dan ada bekas pitak bekas dicukur guru. Bajunya selalu dikeluarin dan kaos dalemnya terlihat jelas berwarna hitam. Intinya, semua aturan sekolah dia langgar. Dia pun sudah dicap anak paling bandel seangkatan, dan sekarang lagi caper juga sama Imel.

“Biarin sih.” Jawab Yogi ketus.

“Eh gak bisa gitu, kita udah antri dari tadi!” Imel marah beneran.

Udah kesekian kalinya Yogi bertingkah gak karuan sama Imel. Senin pagi kemarin, Yogi sok-sok nyerempet Imel pake motornya di gerbang. Minggu kemaren, Imel kena gebok bola futsal tepat di muka pas jam istirahat. Bukannya minta maaf, Yogi malah ngeledek Imel sampe nangis. Pokoknya banyak kelakuan gak wajarnya si Yogi cuma buat caper. Mental cinta-cintaan anak SD belum lepas dari otaknya.

Hari ini, dia jelas caper lagi. Kali ini dengan modus nyerobot antrian. Pastinya buat ngedapetin perhatian Imel.

“Bawel. Tinggal pesen lagi kan apa susahnya.” Ledek Yogi.

“Eh itu nasinya Kenia! Bukan punya gue! Jelas gue bawel!” Kata Imel.

“Oh, jadi kalo ini nasi lo, lo gak bawel?”

“Bacot!” Imel meledak deh.

Yogi dengan santai dan senyum tengilnya kulihat mencoba merauk muka Imel. Aku refleks menahan tangan si Yogi. Akibatnya, dia tiba-tiba langsung menatapku. Mukanya yang sangar dan tatapan matanya yang tajam membuatku panik. Spontan aku menarik tanganku lagi, lalu menyambar sepiring nasi goreng dari satu tangannya yang lain.

“Apaan sih, Ken. Orang gue mau nyubit doang. Kan gemes~” Dalihnya.

“Siniin nasi gue.” Aku mengambil nasi gorengku.

“Dasar orang gila! Yuk cabut.” Ajak Imel.

“Gila gila, tapi suka kan.” Celetuk Yogi.

PAAK! Tamparan mendarat di pipi kiri Yogi. Imel benar-benar murka. Tak terasa kami malah terlibat perdebatan yang sebenernya gak perlu terjadi. Kami pun jadi tontonan anak-anak sekantin. Di sebelahku, Nur sama sekali gak berani ngomong apa-apa.

Aku menaruh lagi nasi goreng di meja pesanan. Kami membayar nasi goreng yang gak jadi diambil walau sudah jadi. Tapi, setelahnya, aku pergi sebentar ke toko yang lain untuk membeli beberapa snack.

Sesampainya di kelas, Imel mulai menggerutu.

“Makin resek deh tuh anak. Kesel gue.”

“Sabar, Mel. Minum nih.” Aku menyodorkan sebotol minuman.

“Mana laper lagi kan gue jadinya.”

“Cemilan nih. Elu sih langsung pergi aja.”

Aku menghamburkan makanan ringan di meja.

Pikiranku melayang jauh. Melayang dan berandai-andai aku jadi inhuman, supaya dengan mudah aku bisa nolongin temen-temenku dari orang jahat dan aneh kaya Yogi. Dengan badan kecilku sekarang ini, nyaliku paling jauh ya hanya bisa seperti tadi.

“Coba gue inhuman. Gue tolongin lu dari kapan tau, Mel.” Kataku.

“Ih, apaan sih, Ken. Inhuman kan jahat.” Nur tiba-tiba buka suara.

“Bener tuh, jahat.” Timpal Imel.

“Ha? Tau dari mana?” Kata gue.

“Banyak yang bilang kok.” Jawab Nur

“Iya tuh, temen-temen di fb, twitter, instagram juga ngeshare gitu.” Imel nambahin.

Di facebook teman-temanku, mereka juga sering ngeshare inhuman jahat. Entah teori dari mana. Padahal sumber sharenya juga gak jelas gitu. Tapi tetep aja anak seumuran kami memang terbiasa gak mikir panjang. Ada yang seru dikit langsung dishare.

Bang Hari pernah bilang jangan suka kepancing, karena postingan provokatif kaya gitu biasanya akun robot. Mereka cuma ngeshare buat ningkatin traffic kunjungan. Habis itu akunnya bisa dijual atau memperbanyak iklan.

Balik ke perbincangan kami di kelas, aku baru kali ini ngomongin inhuman sama mereka. Itu pun karena keceplosan barusan. Tapi reaksi mereka berdua sama, berpendapat inhuman itu gak baik. Tadinya aku mau tepok jidat, tapi aku sadar akan terjadi respon yang lebih aneh lagi dari mereka.

Kelas dimulai lagi jam setengah 1, lalu akhirnya bubar setengah empat. Saat di gerbang sekolah, kami bertiga berjalan berbondong-bondong dengan siswa lainnya untuk keluar. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson motor nyaring dari arah belakang kami. Spontan kami loncat ke samping.

Ternyata Yogi lagi. Dia membuka kaca helmnya.

“Minggir! minggir!” Teriaknya.

“Santai woi!” Imel kesal.

“Eh ada Imel, gue anterin mau nggak?” modus murahan.

“Iih, ogah gue.” Kata Imel

Yogi ini kayanya emang psikopat deh. Mana ada yang mau dianter kalo sapaan aja kaya gitu tadi. Perlu dihajar ini sih. Liat aja.

“Sok jual mahal deh.” Katanya lagi.

“Apaan sih, yuk cabut, Ken, Nur.” Imel menuntun kami melangkah lagi.

Tapi Yogi gak mau kalah, dia malah memajukan motornya dan menghalangi jalan kami keluar. Tak hanya jalan kami, bahkan jalan anak-anak di belakang kami juga ikut terhenti.

“Eh, nyadar gak lu?! Anak-anak gak bisa keluar!” Kata Imel.
“Sadar. Makanya ayo lah gue anter biar mereka bisa cepet jalan lagi.”

Kata-kata Yogi lagi lagi gak masuk di otak.

“Eh gue hajar tau rasa lu Yogi!” Aku ikutan marah.

“Bacot. Diem kek, gak ada urusan gue sama lo.”

Satpam yang menegur Yogi pun tak diindahkan. Anak satu ini super nantangin. Aku dalam hati lagi-lagi berandai-andai menjadi inhuman. Tiba-tiba, terdengar suara bisikan Kak Puri. Kami berbincang dalam batinku.

“Ken, kakak bantuin kali ini mau? Kita kasih pelajaran dia.”

“Tapi, kak? Aku ngeri.”

“Gapapa, sebentar aja. Kakak jamin badan kamu gak kenapa-napa.”

“Hmm.. Oke deh.”

Seketika badanku panas dingin dan mataku mendadak hanya bisa melihat warna hitam dan putih. Aku tahu salah satu bayangan milik Kak Puri baru saja merasuk dalam tubuhku. Entah bayangan yang mana, karena selama ini aku diikuti dan dijaga oleh dua bayangannya Kak Puri.

Dengan kendali tubuh yang masih ada padaku, aku lantas menutup kaca helm Yogi secara mendadak. Kemudian, aku geprak kedua sisi samping helmnya hingga terbelah dua dan jatuh terlepas dari kepalanya. Tak sampai disitu, muka Yogi yang tampak kaget, kugeprak lagi di bagian pipi dekat telinganya. Akibatnya, dia tersungkur jatuh bersama motornya karena kehilangan keseimbangan.

Selesai.

Bayangan Kak Puri keluar dari tubuhku dan menghilang tanpa diketahui orang-orang. Mereka terlalu kaget dengan tersungkurnya Yogi ke tanah. Sementara itu, mataku jadi agak berkunang-kunang.

“Rasain lu.” Umpat gue.

“Ken??” Imel kaget juga rupanya.

“Udah biarin aja. Yuk cabut.”

Nur tetap diam gak banyak bicara.

Aku meminta pak satpam untuk menggeser motor Yogi agar kami semua bisa keluar. Yogi sendiri berusaha bangun dengan susah payah. Dia gak ngomong apa-apa lagi.

POV Sigit

“Inhuman, you said? What is your problem?” Tanya Wong.

“Uh.. I think Alan works with anti-inhuman organization, and… what then.. uh..” Bahasa inggrisku kayanya masih kacau.

Wong diam sejenak.

“Follow me.” Katanya.

Master Hamir meninggalkanku berdua bersama Wong. Kami berdua sekarang menyusuri lorong rak buku. Dia mengajakku mengembalikan buku Proyeksi Astral ke raknya terlebih dulu.

Sambil berjalan, Wong sedikit menceritakan soal inhuman kepadaku dalam bahasa Inggris. Untuk orang seperti Wong, dia cukup sabar berbicara padaku yang bahasa inggrisnya masih pemula ini. Bicaranya sangat pelan dan boleh diulang-ulang kalau aku belum mengerti.

Dahulu kala pernah datang makhluk luar angkasa ke bumi dalam jumlah banyak. Semua legenda tiap suku hampir menggambarkan wujud mereka dengan kata serupa, yaitu malaikat biru. Tapi kelakuan mereka bukan seperti malaikat.

Mereka menculik orang-orang untuk diubah tentara super. Beberapa tetap berwujud manusia, tapi selebihnya menjadi berubah wujud. Lambat laun pasukan ini malah memberontak. Beberapa malaikat biru itu mati di bumi dan sisanya pergi.

Begitu kira-kira kalau aku gak salah dengar.

“The soldiers? They are Inhumans?” Tanya gue.

“Yes, and they were live in peace among the people…”

Mereka hidup bersama dengan masyarakat biasa pada masa itu. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat dengan peradabannya yang masih berupa suku-suku dan hukum adat. Bertahun-tahun mereka punya keturunan manusia normal.

Inhuman yang masih ada pun akhirnya satu per satu meninggal karena sudah tua. Saat ini, Inhuman yang bermunculan merupakan keturunan dari inhuman terdahulu, yang diakibatkan gennya diaktifkan karena suatu pemicu.

“Terrigen crystal.” Kataku.

“Where do you know that?” tanyanya.

“Well, my friends are inhuman..” Temen gue inhuman, Pak.

Kami sampai pada rak buku yang dituju. Beberapa buku diserahkan Wong kepadaku. Aku membaca judulnya satu-satu, Malaikat biru, Inhuman, dan Samudra Pasifik.

“Pacific Ocean?” Aku heran.

“Just read it, and you will find the answer.” Jawabnya.

Aku memilih membaca sendiri di perpustakaan ini sebelum kembali ke Surabaya. Kubuka buku Malaikat Biru, ternyata isinya sama persis seperti cerita Wong, serta dengan banyak bagian yang lebih detail. Seperti nama asli dari malaikat biru, perubahan manusia ke inhuman yang tidak bisa dibalik, dan macam-macam.

“Kree..” Aku bergumam sendiri.

Aku terus mebolak-balik halaman. Lalu suatu saat aku kepikiran satu hal. Apa mungkin Alan udah baca buku ini juga?

Di buku Inhuman, banyak sekali cerita tentang perjalanan inhuman saat dijadikan tentara serta masa-masa setelahnya. Pada satu halaman, diceritakan bahwa inhuman generasi pertama yang diciptakan Kree disebut sebagai Inhuman Kuno. Banyak sekali Inhuman Kuno yang tersebar di muka bumi. Banyak pula dari mereka yang menjadi jahat. Salah satunya pria bermuka gurita. Muncul pula sketsa wajahnya di halaman selanjutnya.

“Hive? Buset, ini gak kalah serem dari si Jeepers Creepers.” Gumamku lagi.

Muncul pula sketsa-sketsa inhuman lainnya hingga sampailah aku pada satu sketsa yang mirip sekali dengan si Jeepers Creepers. Wajahnya, kerut pipinya, bahkan kulit lehernya yang mengembang mirip kadal. Badan gue merinding seketika.

Wong bilang inhuman generasi pertama harusnya udah pada meninggal. Tapi kenapa yang makhluk yang aku lihat kemarin mirip sama yang ada di buku ini? Bahkan, kekuatannya juga dijelaskan serupa dengan apa yang aku lihat kemarin.

“Sigiiiiit!!” terdengar suara perempuan melengking.

“Suaranya..” gumamku.

“Keep quiet, Eva Tuahine!” Wong berseru tak kalah keras dari meja jaganya.

Seorang perempuan seumuranku baru saja masuk ke perpustakaan. Sendal selop kayunya ikut berbunyi nyaring di kesunyian perpustakaan. Kalung kerangnya berdencing. Tak heran kalau Wong mengomel kepada wanita itu. Seperti sebelum-sebelumnya dia hanya lewat begitu saja.

Eva Tuahine

Eva Tuahine. Cewek keturunan Samoa ini sama anehnya kaya Wong. Dia adalah salah satu penyihir muda yang memilih menetap di Kamar Taj setelah Ancient One meninggal.

“You came a few days ago and didn’t see me!” intonasinya cepat sekali.

“Uh?”

“Today, you even do not intend to see me!” mukanya sudah di depanku.

“…” aku bengong.

“Sorry, wait a second.”

Dia merapalkan sebuah segel mantra dan menelannya. Aku tahu segel itu, sebuah cara instan untuk bicara bahasa asing. Segel itu aku akui berguna sekali, tapi sayangnya gak permanen. Selain itu, efeknya bisa menyebabkan sakit radang. Jelas aku malas ambil resiko itu cuma untuk ngobrol. Lebih baik belajar sendiri pelan-pelan.

“Sigit! Kamu kemarin ke datang gak bilang! Sekarang datang gak bilang lagi!” katanya.

“Hai Eva, apa kabar? Hehehe.” Aku menjilat.

“Diem kamu!”

“Oke… Maaf?”

Permintaan maaf dengan nada bertanya. Sangat tepat untuknya.

“Harus lah!”

“Harus? Minta maaf gitu?” Tanyaku

“Ini buku samudra pasifik?”

Eva gak mengacuhkanku.

“Eh, Iya. Ini..” aku bingung mau jawab apa.

“Kenapa gak tanya aku aja. Kamu kan tau aku lahir di Pasifik.”

“Oh, boleh deh..”

“Kamu tau aturan main kita, kan.”

Ini dia, setiap pembicaraan dengannya selalu berakhir tawar menawar.

“Talk outside this room. Sigit, you can bring that books and Eva far away from here.” Wong menyela pembicaraan.

Eva secepatnya menuntunku keluar perpustakaan, padahal harusnya aku yang menariknya. Sekian banyak belokan di lorong telah kami lalui dan sampailah kami di dalam Kamar Eva. Sedikit pembicaraan kami lakukan, yang sebenarnya lebih mirip negosiasi.

“Sekarang belajar Inhuman? Cupp…” leherku dikecupnya.

“Va, kamu tau hubungan antara samudra pasifik sama inhuman?”

“Kamu tau aturannya.. cupp.. cupp..”

Aku menghela nafas.

“Sampai matahari terbenam. Oke?” Tawarku.

“No! Satu malam penuh. Deal?” Tawarnya.

“Tengah malam.”

“Satu malam!”

“Yah, oke lah..”

Kami saling pandang, lalu bibir kami perlahan saling berpagutan. Kedua tanganku melingkar di pinggangnya, dan Eva membalas memegang erat pipiku. Aku tekan bibirku dalam-dalam ke bibirnya. Kami berdua pun jatuh terbaring ke pembaringannya.

“Kamu selalu seksi.” Kata Eva.

“Tau dari mana?”

“Karena seumur-umur kamu cuma pernah sama aku kan??” Godanya.

Mau bagaimana lagi, keperjakaanku hilang pun gara-gara tawar menawar sama cewek satu ini. Gara-gara itu juga, aku pun merasakan bahwa ternyata seks enak juga kalau dilakukan dengan orang yang dicintai. Jadi, ya, aku mungkin sedang jatuh cinta diam-diam dengan perempuan manis satu ini.

Tanganku sudah menggerayangi bagian depan tubuhnya.

“Selalu ya, jutek di depan. Ganas di kasur.” Godanya lagi.

“Diem.” kataku.

Pelan-pelan aku angkat kedua kain bajunya. Kemudian, aku mulai remas payudara sebelah kirinya sambil kuhisap puting payudara kanannya. Tidak ada satu bagian dari tubuhnya yang pernah aku lewatkan. Aku selalu dibuat jatuh cinta dengan tubuh ini.

Kususuri pusarnya dengan lidahku, lalu turun lagi ke bawah bersama dengan tarikanku terhadap penutup tubuh bawah Eva. Kukecup kedua pangkal paha Eva silih berganti, yang diresponnya dengan rintihan lemah.

“Sigiit.. aahh…” Rintihnya.

Alih-alih menuju area sensitifnya, wajahku justru kembali melumat bibirnya dalam-dalam. Kumasukkan lidahku untuk menjelajah seluruh rongga mulutnya. Kini tanganku yang mulai bermain di area selangkangannya.

“Sigit.. ahh.. Sigit…” Rintihnya lagi.

“Udah basah.” Kulepas lumatanku.

“Karena kamu!”

Eva berbalik membalas lumatanku. Kini posisi kami berbalik. Eva mendorongku hingga terbaring, lalu dia wajahnya sudah berada tepat di bagian tonjolan penisku yang masih bercelana.

“Ronde pertama jangan lama-lama. Aku mau ini.” Eva meremas-remas penisku.

“Kalo gitu bukain.” Pintaku asal.

Dengan telaten Eva membuka baju dan celanaku. Entah pakaianku dibuangnya ke lantai sebelah mana. Aku tak sempat melihatnya. Genggaman tangan Eva di kepala penisku sudah membuatku melayang.

Selang berapa lama, Eva menggenggam pangkal penisku kuat-kuat. Penisku sekejap masuk ke dalam kedapnya mulut Eva. Kepalanya bergerak naik turun membahasi setiap sisi batang penisku tanpa henti. Setelah dirasanya cukup basah, dia lalu mendiamkan mulutnya hanya di bagian kepala penisku. Tangannya sekarang yang bermain mengocok dengan tempo cepat, bergerak maju dan mundur terus menerus.

“Aaaahh, Evaa.. katanya ronde pertama jangan lama-lama…”

“Hihihi.” dia cekikikan.

Eva bangkit. Dia mendudukiku. Diarahkannya penisku agar tepat mengarah ke liang senggamanya. Lalu Eva bergerak turun.

Blesss… begitu batangku masuk sempurna, Eva langsung bergerak cepat. Dia menggerakkan pinggulnya sesuka hati tanpa henti. Eva tampak jelas ingin mengejar puncak birahi secepat-cepatnya.

“Sayaang.. Ahh.. Ini enak banget.” Katanya.

“Kamu juga.. Ahh.. Enaaakhh…” Balasku.

Kami dapat saling merasakan hasrat mengejar orgasme secepat-cepatnya. Kami seperti saling ingin memberikan bukti rasa kangen selain dari kata-kata. Goyangan Eva detik demi detiknya membuatku semakin mabuk dalam nikmatnya percintaan ini.

Aku mulai merasakan orgasmeku sudah dekat. Pinggulku naik dengan sendirinya, berusaha menekan lebih kuat ke dalam vagina Eva. Aku rasa Eva juga mengetahuinya.

“Evaa.. Ahh.. aku mau keluaaarrhh..”

“Aku jugaaaaaa…”

“Di manaa??”

“Di dalem aja sayang… ahhh..”

Rasa nikmat itu akhirnya menerjang. Cairan cintanya menyelimuti penisku seiring spermaku menyembur hangat ke dalam rahimnya. Tubuhnya seketika ambruk di atas tubuhku. Peluh kami menyatu.

“Kamu selalu seksi..” bisiknya.

“Kamu terlalu bernafsu. Malam masih panjang.” Balasku.

“Yap, malam masih panjang. Lagi?” Eva selalu sempat menggoda.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat