Tanpa Nama Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 26

Malang!

POV Hari

Kereta perlahan mulai bergerak meninggalkan stasiun Senen. Telat 5 menit dari jadwal keberangkatan semula. Di dalam gerbong 5, harusnya gue duduk sama Jamet sesuai tiket, tapi keburu diserempet sama Jennifer. Tempat gue dioper ke sebelah Erna, tapi diminta pindah lagi oleh Dani karena dia gak mau duduk di samping Eda.

Tau kan tipikal tempat duduk kereta kelas ekonomi AC. Susunan tempat duduk empat-empat. Maka, sekarang gue duduk sama Eda, lalu di seberang gue ada Jamet dan Jennifer. Di belakang gue duduk empat orang lainnya yang saling berseberangan juga, Dani sama Erna dan Anwar sama Tika.

Jamet dan Jennifer yang sejak tadi mencium gelagat aneh dari Dani, mereka jadi semakin kalem. Tapi hal itu justru membuat mereka lebih sering ngobrol bisik-bisik doang, yang padahal tetap terdengar oleh gue.

“Mereka kenapa sih?” tanya Jennifer.

“Berantem kayanya.” Jawab Jamet.

“Kalo berantem gak sampe gitu deh, Met.”

“Berarti putus.”

“Woy sumpah ye gue denger nih.” Eda melambaikan tangan ke muka mereka.

Jamet sama Jennifer bareng-bareng menutup mulut mereka.

“Sekarang gue balik nanya deh, lu berdua jadian?” Eda nanya frontal.

“Nggak!” Jamet lantang menjawab.

Jennifer cuma menjawab dengan geleng-geleng setelah dia mendengar respon Jamet. Ada momen sepersekian detik momen Jennifer mengerutkan dahinya, maka gue tau pasti ada apa-apa. Paling nggak, ada yang baper dari salah satu di antara mereka.

“Eh iya, iya, kalian udah ada apa-apa ya? Cieee.” Erna langsung berdiri dari tempat duduknya di belakang gue.

Bagian tempat duduk kereta api yang saling membelakangi antara posisi gue sama Erna bikin dia jadi sulit ngobrol. Erna jadi terus-terusan berdiri bertumpu sama lututnya. Mukanya ditundukin sampe nyelip diantara kepala gue dan Eda.

“Ngaku laaah.” Gue kompor.

“Nggak ya!” Jamet masih berkata lantang.

“Suer deh.” Jennifer ikutan bersuara.

Keberisikan mulai terjadi dalam forum kelompok tempat duduk gue. Tika yang gak kebagian berita mulai nyoba nyelip-nyelip kaya Erna tadi.

“Aduh, rusuh dah lu, Tik.” Erna sewot.

“Nih lu sini dulu deh.” Dani nyahut.

Dani mengalah. Gue jadi penasaran untuk nengok ke belakang. Ternyata dia sekarang duduk bareng Anwar.

“Eh ngomongin apa sih? Ulang dong. Gue kan belom tau.” Tika heboh sendiri.

“Tuh tanya aja mereka berdua.” Eda memonyongkan bibir.

“Hayoo kalian kenapaaa??”

Tika dengan gaya keponya mencoba mengusik rahasia antara Jamet dan Jennifer. Sayangnya, tetap gak berhasil. Apapun pertanyaannya, akan dijawab ‘nggak kenapa-kenapa’ sama Jamet dengan sangat cepat. Jennifer pun juga selalu geleng-geleng. Walau pun begitu, gue kayanya tau ada apa-apanya, apalagi sejak wisuda itu.

Gue kirim chat ke Erna.

Gue: Cek wa mereka berdua dong.

Erna: Males ah, begini aja biar seru.

Yah, Erna gak mau pake kekuatannya.

POV Dani

“Samlikum, numpang ye bang.” Gue pindah duduk ke samping Anwar.

“Sip, Neng.” Anwar sibuk main hape.

Posisi duduk gue sekarang ada di deket jendela, membelakangi arah jalannya kereta. Di depan gue, Erna dan Tika sibuk ngecengin Jamet. Gue sungkan gabung karena di kelompok sana ada Eda.

Walhasil, gue memasang earphone dan menyetel musik keras-keras. Mata gue memandangi pemandangan yang tampak bergerak mundur. Baru saja gue melihat kereta melewati plang bertuliskan stasiun Jatinegara.

Selang dua jam kemudian, penumpang lain tidak seribut saat kereta baru mulai berjalan tadi. Mereka sudah asik dengan gadgetnya masing-masing, termasuk si Anwar, bocah di sebelah gue ini. Beberapa orang lainnya pun sudah ada yang membuka bungkusan nasi untuk makan.

“Eaaaaa!!” Sorakan dari bangku depan gue.

Sontak suara tawa ngebass khas cowok dicampur melengkingnya tawa Erna dan Tika menggema di satu gerbong. Suara mereka bahkan mengalahkan suara earphone gue. Mereka pasti makin asik ngecengin Jamet. Atau mungkin udah pindah topik pembicaraan lain.

Gue terbangun lagi untuk kedua kalinya.

Perjalanan sudah mencapai malam hari. Setelah melewati Cirebon tadi sore, entah sudah sampai wilayah mana sekarang. Pemandangan di luar gelap. Gue pun telah kembali duduk di sebelah Erna, dekat lorong kereta. Tepat di belakang gue ada Eda, posisi kami berdua seperti punggung-punggungan.

“Tik, pinjem antis dong…” Muka Eda tiba-tiba nongol di sebelah gue.

Gue otomatis memundurkan muka jauh ke arah berlawanan. Kalo bisa dilihat, kayanya ekspresi gue campuran antara kaget dan jijik melihat mukanya Eda yang tiba-tiba sedekat itu.

“Sorry, gue kira di sini masih tempatnya Tika.” Kata Eda canggung.

Eda lanjut manggil Tika dan meminta antis. Gue rasa dia habis makan malam dan butuh alat cuci tangan yang simpel. Lalu, setelah Eda lenyap dari pandangan, Tika menganggukkan kepalanya ke arah atas, kode bertanya. Dia pasti heran atas respon gue tadi.

“Over.” Gue menggerakkan mulut tanpa suara.

“Ha?” balasnya juga tanpa suara.

“Over.” Kali ini sambil menyilangkan tangan.

“Why??”

Gue mengetik suatu kalimat di note handphone, lalu memberikannya ke Tika. Tertera kata ‘Complicated’ di sana.

“Yaelah.” Balas Tika, kini dengan suara.

“Hahaha.” gue cuma balas dengan tawa garing.

“Oke oke.”

Obrolan aneh.

“Eh, itu cowok lu kebo amat.” Gue membuka pembicaraan lain.

“Abis makan selalu gini dia.” jawab Tika.

“Jamet lebih kebo lagi tau, pasti lagi tidur juga tuh anak.”

Tika berdiri sebentar memastikan kata-kata gue benar. Setelah puas melihat Jamet, mulutnya langsung membentuk huruf O, lalu dia duduk kembali sambil menahan tawa.

“Iya tidur si Jamet. Jennifer juga, di sini nih.” Dia menepuk bahunya sendiri.

“Masa sih?”

“Liat aja alo gak percaya.”

Gue akhirnya penasaran juga. Bener kah sudah sejauh itu hubungan Jennifer dan Jamet? Kamera handphone sudah siap sedia untuk mengambil bahan ceng-cengan nanti. Selanjutnya, gue membalikkan badan, lalu lutut gue mulai bertumpu pada tempat duduk.

Gue dengan jelas melihat Jamet yang tertidur pulas. Jennifer dengan mesranya tidur di bahu Jamet. Entah sengaja atau nggak, tapi ini momen yang super langka buat seorang Jamet. Gue pun mulai membidik dengan layar kamera.

Tiba-tiba satu lengan Jennifer dia selipkan sendiri pada celah lengan Jamet.

“Anjir!” gue spontan bicara keras.

Suara gue ternyata sanggup membangunkan mereka. Jamet dan Jennifer sontak melepas apitan lengan mereka dengan ekspresi kaget. Hari dan Eda yang pas ada di bawah gue jadi menoleh ke gue. Gue sempat bertatap sebentar dengan Eda, kemudian dengan cepat bersembunyi dengan salah tingkah.

Gue bukan kesal karena Jamet kebangun. Gue cuma kesal sama Eda dengan tiba-tiba. Padahal cuma dengann tatapan mata yang sepersekian sedetik. Waktu-waktu selanjutnya berjalan dengan gue yang tenggelam dalam lamunan sendiri.

“Dani, obat udah diminum?” kata Hari samar-samar.

Kepala gue mendongak ke atas, lalu gue memanggil Hari tanpa berbalik badan.

“Apaan, Har?” suara gue agak kenceng.

“Apaan, Dan?” tanyanya balik.

“Tadi lu ngomong apaan?”

“Tadi gue ngomong apaan?”

Kok jadi gak nyambung gini. Kemudian kepala Hari nongol di atas gue. Dia meminta respon karena panggilan gue yang gak jelas.

“Apaan, Dan?” Tanyanya.

“Nggak, nggak jadi.” Gue mengonfirmasi.

“Apaan deh?”

“Nggak, gue kira lu manggil gue tadi.”

“Yee, gaje lu ah.”

Hari kembali ke posisi duduknya. Erna sama Anwar akhirnya jadi ikutan kebangun gara-gara kelakuan gue. Anwar gak bicara sedikit pun. Dia langsung keasikan ditimang-timang pipinya sama Tika. Berbeda dengan Tika, dia langsung bertanya kepada gue, si pembuat ulah.

“Ada apaan sih, Dan?” Tanya Erna.

“Nggak, gapapa. Udah tidur lagi aja.”

“Yah udah terlanjur bangun.”

“Yaudah minum aja nih.”

Gue menyodorkan sebotol aqua. Sembari itu, gue mengingat-ngingat lagi, kayanya tadi bener Hari nanyain gue udah minum obat apa belum. Tapi rasa-rasanya kan tadi pagi gue udah minum obat. Malah Hari sendiri yang tadi pagi nyiapin.

Ah, tapi tadi gue kecolongan galau. Gak ada salahnya lah ya minum obatnya satu lagi.

POV Hari

Selasa, 21 Februari 2017. Jam delapan pagi, kami tiba di stasiun Malang. Di sana, Jamet sibuk menelepon paklenya. Rencananya kami akan dijemput adik dari ibunya Jamet hingga langsung tiba di rumahnya. Asik sekali, mulai dari sini akomodasi katanya dibayarin terus.

Jamet lu baik sekali.

“Yuk ke parkiran.” Ajak Jamet.

“Udah sampe emang, Met?” Eda nanya.

“Eh di sini jangan sekali-sekali manggil nih anak Jamet. Marah emaknya ntar.” Canda Anwar.

Timpalan demi timpalan setiap candaan mulai dikeluarkan. Tentunya Jamet menanggapi dengan sangat kalem dan jutsru ikutan ketawa. Jamet is the best.

“Santai aja. Ibuku udah tau kok panggilanku Jamet di Jakarta.” Timpal jJamet.

Kami lagi lagi tertawa.

Setibanya di parkiran, ternyata mobil jemputan kami yaitu berupa mobil elf berkapasitas lima belas orang. Gue gak nyangka. Waktu sepuluh menit pun akhirnya habis digunakan untuk mengatur posisi tumpang tindih barang di kursi belakang.

Jamet duduk di depan, bareng Jennifer yang lagi-lagi langsung nyamber sendiri. Cowok-cowok ganteng ngumpul di barisan kedua dan di belakangnya lagi ada barisan cewek-cewek.

“Met, berapa lama sampe rumah lu?” Tanya gue.

“Kira-kira tiga tahun lagi lah.”

“Gue sumpel sedotan lu, Met.”

“Hahaha.” Dia cuma ketawa.

“Seriusan gue nih.”

“Setengah jam mungkin, itu juga kalo lagi gak macet.” Katanya.

Mobil berjalan santai di tengah porsi kemacetan kota Malang. Jamet kini lebih sering menimpali obrolan paklenya daripada Jennifer. Beda banget sama kelakuan mereka di kereta. Hal itu terjadi setelah sebuah kalimat yang dilontarkan Paklenya dalam bahasa Jawa, dan gue gak ngerti bahawa Jawa.

Ada apa kah ini? Gue bener-bener gak tau.

Empat puluhan menit kemudian, kami akhirnya tiba di rumah Jamet. Lokasinya ada di pinggiran kota Malang. Rumah Jamet gak gede-gede banget, tapi lingkungannya nyaman dan sangat manusiawi untuk dihuni. Setiap rumah di sini masih punya halaman yang cukup luas bagi seengaknya satu pohon besar.

Kami para cowok lanjut menurunkan barang-barang, sedangkan para cewek duduk-duduk di teras rumah Jamet.

“Semangat ya cowok-cowok ganteng.” Kata Tika.

“Satu tas lima ribu ya.” Anwar ngelucu.

Dari balik pintu rumah munculah keluarga besar Jamet. Ada ibu, bapak, sama bulenya. Gue cukup familiar sama wajah merekakarena pernah beberapa kali ketemu di Jakarta, atau tepatnya Depok. Salah satunya saat wisuda kemarin.

“Mampus aku. Ini dia…” Jamet berhenti mengangkut tas. Wajahnya terpaku ke seseorang.

“Mampus apaan?” Eda menanggapi.

“Alasanku nyuekin Jennifer di mobil tadi.”

Oh ternyata ada alasannya.

Dari dalam rumah muncul seorang perempuan lagi. Dia tampak manis dan lumayan putih buat gue. Dia mengenakan jilbab bergo, pakaian kaos putih longgar dengan lengan panjang biru, serta celana bahan model batik. Jelas itu pakaian rumahan.

“Adek lu? Kok gue baru liat?” Tanya gue

“Janiar Wulandari.” Bisik Jamet.

“HAH??” Gue sama Eda kaget.

“Janiar siapa?” Anwar malah bingung sendiri.

Gue menginjak kaki Anwar.

“Itu bego, yang namanya ditulis pas di Papandayan.” Bisik gue.

“HAH? Itu toh orangnya?!” Anwar telat kaget.

Janiar Wulandari

Mantap deh, ada dua perang dingin yang bakal kejadian di sini. Satu pasangan abis putus, dan yang satu lagi adalah dua cewek yang rebutan gebetan.

Bagian yang gue heran di sini adalah, kenapa Janiar dateng ke rumah Jamet cuma pake pakaian yang bisa dibilang mirip piyama. Apakah dia udah biasa main ke sini, atau dia semalem nginep di sini?

Jamet meninggalkan tugasnya mengangkut tas. Dia langsung salim dengan kedua orang tua dan bukdenya. Lalu, tak disangka-sangka Janiar melangkah maju, lalu menjulurkan tangan untuk mencium tangan Jamet si makhluk paling hoki.

“What the fuck!” Celoteh Anwar.

“Anjir anjir anjir.” Eda meremas dan menggoyang-goyang keras bahu gue.

“Eh, aduh, pada nyante dong.” Kata gue.

Inilah saatnya melihat reaksi Jennifer. Anwar selalu bilang, paling seru emang ngelihat orang baper. Bahan empuk buat diceng-cengin katanya. Gue pun tanpa buang waktu langsung menepuk Eda, dan Eda menepuk Anwar. Kami bersama-sama melihat ekspresi wajah Jennifer.

“Ngambek dia.” Bisik Eda.

“Kalah sebelum berperang.” Sahut Anwar.

“Cupu.” Kata gue

“Heh, ngeliat apa lu pada?!” Tika sadar dengan kegiatan kami.

Usai kami menurunkan tas, kami masuk ke rumah Jamet. Ternyata rumahnya panjang ke belakang dan berlantai dua. Awalnya pun gue kira akan tidur selonjoran di ruang tamu, tapi ternyata kami diberikan dua kamar. Masing-masing untuk cowok dan cewek.

Beres-beres pun selesai di siang hari. Kami beristirahat secara lesehan di ruang tamu. Makan siang disediakan. Tiba-tiba, gue teringat harus ngabarin Sigit. Gue membuka aplikasi rahasia untuk chat.

Gue: Git, kita udah di Malang nih.

Sigit: Oke, Mas. Daerah mana?

Gue: Karangploso. Tau?

Sigit: Oh, tau mas.

Dani: Main ke sini, Git.

Sigit: Sip ntar ya mbak kalo sempet. Aku lagi kuliah nih, mas, mbak. Dadah.

POV Sigit

Sore hari, usai menyelesaikan kuliahku hari ini. Aku langsung pergi ke tempat sepi. Di situ aku membuka portal langsung menuju loteng tempat latihan di Kamar Taj.

Master Hamir menyambutku dengan bahasa Indonesia yang lancar. Master hamir ini memang seorang ahli bahasa. Selama yang gue tahu, dia bisa 20 bahasa, mulai dari bahasa nasional negara mana pun hingga bahasa daerah.

Orang-orang menyebutnya dengan julukan Hamir the Hermit. Master Hamir ini selalu mengenakan pakaian berawarna abu-abu. Rambutnya yang gondrong diikat cepol. Janggutnya sudah panjang dan keriting. Dan yang paling penting, dia gak punya telapak tangan kiri. Entah bawaan lahir atau karena kecelakaan. Meski begitu, sihirnya jauh lebih kuat dibanding Mordo, tapi fisiknya terlalu lemah karena sudah tua.

“Selamat sore, Sigit.” Sambut Master Hamir.

“Sore? Masih pagi kok di sini.” Aku kebingungan.

“Di Indonesia udah sore kan hahaha.” Selera humornya cukup garing.

Kami berbincang sambil berjalan menyusuri lorong menuju perpustakaan.

“Buku proyeksi astralnya sudah selesai dibaca?” tanyanya

“Udah, master.”

“Jadi, kapan kamu mau praktek?”

“Mungkin tiap malam, Master. Saya siangnya kuliah.”

Ditentukanlah jadwalku latihan proyeksi astral setiap malam. Empat kali seminggu di hari kapan pun aku bisa datang. Beliau juga bertanya kegiatanku yang mulai mencari Alan. Dalam satu pembicaraan, aku membuka topik tentang tipe inhuman yang kehilangan wujud manusianya.

“Coba kamu cari bukunya sama Wong.” Sarannya.

Kami tiba di perpustakaan. Pria paruh baya bernama Wong sedang duduk di meja jaganya. Dia adalah seorang pustakawan keturunan Chinese dengan kepala botak dan berbadan tambun. Yang aku tahu selama di sini, Wong sama sekali gak punya selera humor. Jadi gak perlu basa basi sama dia. Langsung aja bilang mau pinjam buku, gitu.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat