Tanpa Nama Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 25

Hari Keberangkatan

POV Eda

“Udah semuanya, Sayang? Ada yang ketinggalan gak?” Rivin mengingatkan lagi.

“Aman.” Gue mengacungkan jempol.

“Yuk.”

Senin, 20 Februari 2017. Jam enam pagi. Hujan deras menyertai pagi hari ini di kota Depok. Gue akan berangkat ke Malang ntar siang, sedangkan Rivin berangkat kerja pagi ini.

“Aku titip kamar ya.” Gue menyerahkan kartu pass apartemen dan kunci duplikat.

“Siap bos!”

“Kamu mau tinggal di sini apa balik ke kosan?”

“Aku ke kosan aja dulu. Ntar pas kamu balik aku sekalian pindah ke sini dech.”

Ya, rencana gokil, gue sama Rivin mau tinggal bareng. Istilah umumnya kumpul kebo, tapi gue lebih suka bilangnya live together. Bokap nyokap? Gak pengaruh kayanya, buktinya pas beberapa hari lalu mereka berkunjung aja gue malah di kasih jempol. Padahal, pas bokap nyokap dateng waktu itu Rivin lagi mandi sambil nyanyi nyanyi.

Kata bokap gue kira-kira begini, “Gapapa, biar sekalian kalian hemat biaya tempat tinggal. Asal tahun ini disegerakan ya.”

Kedengerannya santai, tapi selama momen itu gue keringet dingin dan deg-degan setengah mampus. Atas izin bokap nyokap itu, jadilah Rivin akan tinggal di sini secara permanen. Tepatnya, setelah gue balik dari Malang.

Kemaren siang, Hari dateng ke tempat gue sendirian, tanpa Jamet atau pun Dani. Untungnya Rivin lagi pergi main. Dia menjelaskan ada sampah terrigen yang menumpuk di tubuh gue dan Rivin atas suatu kejadian. Hari pun menunjukkan bahwa dia sudah menjadi agen dan memberikan suatu obat untuk gue dan Rivin.

Hebat! Temen gue jadi agen, dan ada benda alien dalam tubuh gue.

Hari sama sekali gak cerita apa-apa soal Dani, begitu pun gue gak cerita apa-apa soal Rivin yang mau tinggal bareng. Belum saatnya. Lagian apa jadinya reaksi sahabat-sahabat gue nantinya kalo gue bisa berpindah hati secepat ini.

Udah cukup flashbacknya. Gue dan Rivin sekarang udah di dalam lift dan bergerak turun.

“I love you, Eda.” Rivin mengecup bibir gue lekat-lekat.

“I love you too, Rivin. Dadaah..” Sahut gue setelah bibirnya lepas.

Kami berpamitan di lantai bawah apartemen.

Gue kembali ke lift, naik ke kamar lagi untuk lanjut tidur-tiduran dan nonton tivi. Cuaca hari ini mendukung banget buat males-malesan. Tapi, nanti gue udah harus berangkat kira-kira tengah hari. Rencananya meet up sama anak-anak dijadwalin jam dua siang nanti di stasiun Senen. Selanjutnya, kami akan naik kereta Matarmaja menuju Malang jam tigaan. Setelahnya, Jamet yang akan jadi tour guide.

POV Hari

“Ibu, Abang, aku berangkat ya. Samlikum.” Kenia pamit sekolah dengan balutan jas hujannya.

Cuaca Jakarta di daerah Tanah Abang pagi ini hujan dan dingin. Gak kaya Jakarta biasanya. Mungkin masih ada efek-efek La Nina dari tahun lalu. Yang jelas, hujan ini nanti pasti akan dikaitkan sama pilkada. Males banget gue.

Penggerebekan minggu lalu juga hampir jadi isu yang ngangkat buat pilkada. Untung S.H.I.E.L.D. kemaren udah ngewanti-wanti polisi kalo isu ini jangan sampe naik. Sehari kemudian, hilang sudah isunya.

“Har, kamu mau berangkat jam berapa?” Nyokap gue juga udah mau siap-siap kerja.

“Jam dua belasan paling. Stasiun deket ini.” Kata gue.

Rencana gue, tengah hari jalan ke stasiun Tanah Abang, terus kumpul sama anak-anak di Senen jam dua. Kekejar pasti.

“Itu Dani bangunin gih, sarapan.” Kata nyokap.

“Oke.”

“Yaudah, ibu jalan dulu. Udah telat nih.”

Nyokap gue menutup pintu dari luar, lalu pergi dengan membawa payung.

Dani sekarang jadi orang nomaden. Kadang tinggal di penthouse, kadang di rumah gue. Kostannya di Depok jadi cuma pajangan buat dilaporin ke orang tuanya di Semarang sana. Selain itu, kami berdua jadi gak terlalu ngarep cari kerja lagi. Simpanan hasil jadi agen satu kasus kemaren udah sanggup untuk membiayai hidup layak selama delapan bulan ke depan. Itu pun udah dihitung pengeluaran untuk hiburan.

Kami mendadak jadi orang kaya. Kami berempat. Gue, Dani, Erna dan Sigit.

Nyokap udah tau kejadian ini, tapi Kenia belum. Coba aja bayangin kalau Kenia tau, dia pasti bakalan makin mewek pengen jadi inhuman dan gak mau lanjut kuliah.

“Huy, Dani! Bangun!” Gue menggedor kamar tamu.

Pintu dibuka.

“Hemmm.. Jam berapa, Har?” matanya sepet.

“Jam enam. Sarapan gih.” Gue nyender di depan pintu.

“Hemmm.. males..” dia tergeletak lagi di kasur.

“Gak enak badan, Dan? Gue ambilin ya sarapannya.”

“Nggak kok, cuma males, dingin gini cuacanya.”

Gue tetep melengos keluar kamar untuk bikinin Dani roti selai coklat dan teh manis hangat.

“Nih, Dan, sarapan.” Gue masuk kamarnya lagi.

“Ya ampun, Har..” Dani langsung bangkit dari kasurnya

“Woles. Hari ini jadwal minum obat?”

“Nggak, baru kemaren kok. Ntar rabu lagi.”

Setelah obrolan basa-basi kecil, gue pergi ke luar kamar untuk nonton tivi di depan. Beberapa saat kemudian, Dani keluar dengan piring rotinya dan tehnya yang udah habis.

“Berangkat jam berapa kita Har?” Dani duduk di sebelah gue

“Jam 12. Siap-siap gih. Udah packing?”

“Udah kok dari kemaren.”

“Oh… Buset. Abis tuh? Cepet amat.” Gue kaget melihat piringnya.

Gue lanjut menonton tivi, dan sekarang ditemani Dani dengan obrolan-obrolan santainya. Kadang, Dani yang bosen suka buka-buka kulkas untuk ngemilin apa aja yang ada di sana. Berasa udah kaya rumah sendiri.

POV Jennifer

Tuuuut… Tuuuut..

Suara sambungan telepon masih berbunyi. Gue coba nelpon Jamet pagi ini.

“Halo, Je?” Suara jamet terdengar malas.

“Halo, Met, udah siap?”

“Siap apaan sih, Je? Masih pagi ini.”

“Dih, gak boleh males gituu.”

Gue terus mendorong Jamet agar segera bangun dari tidurnya. Gue menyuruhnya untuk segera mandi dan bersiap-siap dengan segala barangnya. Barang-barang sisa dalam dua ransel dan satu koper yang akan dibawanya hari ini, hasil packing kami dua hari lalu.

“Ntar gue jemput jam sebelas ya?” tawar gue.

“Eh, ngapain? Udah ntar aku naik taksi aja lho.”

“Udah deh gak usah malu gitu.”

“Malu opo?”

“Naik taksi abis ongkosnya berapa, Met? Udah ya gue jemput.” Gue sedikit memaksa.

“Wis..”

Beberapa obrolan singkat terjadi, lalu telepon selesai. Kalo gak dipaksa, Jamet mana mau nerima tawaran. Lagian, apa bisa dua ransel sama satu koper dibawa sendiri gitu.

Tuuuuuut… Tuuuuuut… Gue menelepon seseorang lagi.

“Halo, Pak Indra, nanti anterin saya ke Depok ya jam setengah 9.” Gue mengabarkan ke Pak Indra, sang sopir keluarga.

POV Anwar

Mata gue terbuka pelan-pelan. Hal pertama yang gue lakukan adalah mencari handphone, melihat jam di layarnya, dan mengecek semua chat wa serta line yang muncul setelah gue tidur tadi malam.

“Hemmmhh.. Pagi sayang.” Tika baru bangun di sebelah gue.

“Pagi.” Gue mengecup pipinya

“Gercep ya udah megang hape aja.”

“Aku baru bangun juga kok ini.”

“Mau liat siapa siiih.”

Tika mulai bermanja-manja denganku. Bahuku dijadikannya bantal, lalu kami berdua melihat instagram bersama-sama. Tidak ada postingan baru sejak terakhir gue lihat semalam, hanya ada gambar-gambar dari natgeo, nasa, dan dagelan. Snapgram juga tidak ada yang penting isinya.

“Sayang, aku pengen lagi.” Gue berbisik.

“Ayuk.” Ajaknya.

Gue langsung bergerak lagi ke atas tubuh telanjangnya. Mencium setiap jengkal wajah hingga leher Tika tanpa ada yang tertinggal. Tanganku yang satu membelai rambutnya, sementara tangan yang lain langsung merangsang putingnya yang tegak mengacung. Penis juga langsung gue tempel dan gesek di celah selangkangannya.

Kami semalaman sudah bercinta berkali-kali. Kesempatan kaya gini gak pernah disia-siakan karena bokap nyokap keseringan pergi bisnis berminggu-minggu. bahkan, seringnya pergi keluar negeri daripada luar kota. Kedua sisten rumah tangga gue juga gak mungkin protes dengan kegiatan kami.

“Oh my god beb, aku cepet banget basahnya ini.” Tika meracau.

“Aku mau icip dong.”

Gue bergerak ke dalam selimut, mencari selangakangannya Tika. Kemudian, gue sapu dalam satu kali jilatan panjang dari bagian lubang anus hingga klitorisnya. Tak elak, Tika mengangkat pinggulnya tinggi dan menjepit badan gue dengan kedua kakinya.

“Uhhh… Selalu ya kamuu..” Tika meracau lagi.

Gue tak mengacuhkan panggilannya. Kedua tangan gue menahan pahanya agar tetap terbuka lebar. Gue terus menjilati bagian pintu masuk vaginanya dengan gerakan yang terpola. Sesekali gue panjangkan lidah untuk menusuk ke dalam lubangnya.

Tangan kiri gue beralih memainkan klitoris Tika. Gue mainkan hanya dengan tempo pelan. Jilatan juga gue variasikan sesekali hingga menyentuh klitorisnya. yang makin tampak menonjol itu.

Sekarang aksi terakhir.

Gue angkat kepala gue dari vaginanya. Tika yang penasaran sempat melihat ke arah gue. Dengan senyum, gue mulai mengelus sepanjang celah vagina Tika dengan tiga jari naik dan turun. Setelah cukup basah, jari gue mulai menyeruak masuk ke liang vaginanya.

“AAAAAHHHH… Anjing Anwaaaar… Ahh..” Tika mendesah keras.

“Ngomong apa tadi?” Gue menggodanya.

Mendengar racauan itu, gue lantas menghukum Tika dengan gerakan tangan yang langsung bertempo cepat. Hal itu membuat Tika tanpa henti mendesah sangat keras. Dia juga gak ngejawab pertanyaan gue tadi.

“Ahh!! Anwaaar!! Sumpah aku keluaaar!!” Racaunya kesekian kali.

Gue tidak akan menuruti maunya. Gue lepas jari gue dari dalam liang surganya. Tika yang sangat penasaran serta gairahnya yang sudah di puncak langsung refleks menarik dan membanting gue hingga telentang di kasur.

“Gak boleh ya kamu begini! Rasain!” Tika mengocok penis gue cepat-cepat.

Dia juga menjilati puting gue dengan sangat liar. Gue jelas sangat menikmati sambil mengelus-elus rambutnya. Sesekali gue juga menjangkau payudara dan putingnya yang indah itu.

“Terus sayaaang… Uhhh..” Kata gue.

“Terusin?” Tika malah berhenti.

“Gak boleh ya kamu begini~” gue balik menggodanya.

Kami lantas tertawa.

Setelah itu, gue mengambil satu kondom dari meja di samping kasur. Tika naik ke atas tubuh gue, lalu memakaikan kondom gue dengans sangat profesional. Selanjutnya, Dia mengarahkan penis gue hingga tegak lurus dengan lubang vaginanya. Posisi Tika perlahan turun, mendesak penis gue untuk masuk ke dalam dan makin dalam hingga sepenuhnya menghilang. Sensasi ini selalu gak pernah bisa tergantikan.

Tika menggoyang pantatnya naik turun. Sesekali divariasikan dengan gerakan maju mundur. Gue meremas kedua payudaranya serta memutar-mutar puting Tika hingga kami berdua meracau tidak jelas.

“Ganti, yang.”

Gue arahkan Tika untuk menungging. Gue masukkan lagi penis berbalut kondom gue ke dalam vaginanya. Gue bergerak dengan tempo cepat. Permainan liar selalu menjadi pilihan terakhir kami untuk mencapai klimaks. Gue menarik rambut panjangnya hingga Tika mendongak. Kedua tangannya bertumpu pada kasur.

“Sayaang.. aku mau keluaaar.. ahhh…” Gue makin bergerak cepat.

“C’mon beb, I’m coming too…” Tika masih mendongak.

“Sayaaaaang… agggh!!”

Sperma gue tumpah di dalam sarungnya. Tika dan gue jatuh bersamaan ke empuknya kasur hingga saling tindih. Penis gue lepas dengan sendirinya akibat jatuhnya kami berdua. Kepala Tika mengarah ke samping kanan, lalu gue berbisik.

“I love you.”

“I love you more, beb.” Balasnya

“Lagi?” Gue menjilat pipinya.

“Kuat? Ayuk.”

Gue langsung mengambil kondom baru. Selanjutnya, foreplay hanya dilakukan sebentar. Penis gue kembali menghujam vagina Tika dengan berbagai gaya dan berbagai rangsangan tambahan lainnya. Tentunya dalam aksi yang makin liar. Seks di depan jendela hingga saling meraba lubang anus. Orgasme pun kami dapatkan berkali-kali.

Kegiatan seksi kami akhirnya harus selesai jam 11 siang karena sudah harus berangkat ke stasiun.

POV Hari

Gue tiba di stasiun Senen bareng Dani jam dua lebih sedikit. Kami masing-masing menenteng carrier 70 liter. Kami berjalan keluar gate commuter line terlebih dulu, lalu lanjut menuju ke depan mushola. Dari grup wa Dadakan, katanya Erna udah duluan sampai di sana.

“Woy, Na.” Gue memanggilnya.

“Hoi.” Erna memberi tos pada kami.

Erna kelihatan lebih ceria dibandingkan keberangkatan dulu waktu ke Papandayan.

“Udah gak butek pikiran, Na?” Tanya gue

“Nggak. Gue dikit-dikit bisa ngontrol volume sama warnanya sekarang.”

Dani ngelepas tas, lalu ikut obrolan kami.

“Caranya?” Dani nanya.

“Gimana ya jelasinnya. Susah juga.”

“Huft, dasar inhuman rumit..”

“SSSTT!!” Gue sama Erna mendesis keras.

Dari arah parkiran muncul Eda yang sendirian dengan tas koper berodanya. Lima belas menit kemudian, Jamet dan Jennifer dateng barengan dengan jumlah tas yang lebih rame. Terjadilah obrolan buat ngeledek Jamet, tapi yang salting malah Jennifer.

“Hai hai.” Sapa Jennifer

“Haiii..” Dani mulai cipika cipiki.

“Wah parah lu, Da, Jamet kan dari Depok juga. Masa lu tinggal.” Ledek gue.

“Apaan. Tadi udah gue ajak, katanya dijemput Jennifer.”

“Ihh, apaan deh, ngomongin gue ya.” Jennifer jadi gak jelas.

Gue perhatikan, Eda terus melirik ke Dani, tapi gak sebaliknya dengan Dani. Dia lebih sering melirik ke arah lain untuk menghindari Eda.

“Dan, kemarin-kemarin ke mana?” Eda bertanya pelan.

“…”

Perang dingin telah dimulai. Tidak ada jawaban atau pun tatapan mata dari Dani. Suasana mendadak canggung. Jennifer dan Jamet liat-liatan pertanda bingung. Gue dan Erna juga liat-liatan, tapi dengan kode yang beda.

“Mau cari suasana baru dia, Da.” Erna ngejawab.

“Oh.” suara Eda tetap pelan.

Kayanya Eda mulai paham situasi ini. Dia gak nanya lagi. Setelah itu gak ada obrolan dari kami berenam, kecuali Jamet dan Jennifer yang ngobrol bisik-bisik.

“Tuh, Anwar sama Tika.” Gue nunjuk ke parkiran.

“Ini dia, tuan dan nyonya muda!” Ledek Jennifer.

“Ape lu jeruk.” Anwar bales ngeledek.

“Udah boleh masuk belum? Berat nih.” Tika membawa satu ransel dan koper.

“Yuk coba.” ajak Jamet

Kami semua antri dalam barisan untuk masuk ke peron. Lembaran tiket yang dibelikan Jamet sebelumnya serta KTP masing-masing disiapkan. Perjalanan dimulai.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat