Tanpa Nama Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 23

Penggerebekan di Malam Hari

POV Hari

Gue bangun pagi, ngecek medsos, abis itu pergi ke kamar Kenia. Bener kan, mereka tidur berdua dan berbalut selimut. Beneran abis mesum kayanya mereka berdua. Gue lanjut turun ke bawah, bikin teh panas, dan bikin roti selai buat sarapan.

Ada pesan dari Jamet di grup wa.

Jamet: Pagi guys, selamat ya udah jadi pengangguran hahaha. So, buat info, kita pergi dua minggu lagi ya. Berangkat hari Senin, nyokap gue nyuruh kalian stay selama satu minggu. Pada bisa kan?

Info dari Jamet membuat gue berpikir-pikir sebelum mengetik.

Anwar: Pageee. Bisa dong. Iya gak, Tik?

Tika: Bisaaaaa. Maklum pengangguran hahaha.

Jamet: wah abis ngapain lu berdua?

Tika: Suudzon aja lu, Met. Lu lah yang abis ngapain sama Jennifer?

Jennifer: Eh, pagi-pagi udah ngomongin orang ya.

Gue: Gue sih oke. Tinggal nunggu kabar yang lain ya.

Dani mengetik…

Dani: Sip lah, kuy.

Eh, Dani udah bangun?

“Dani! Kenia! Woy, sini bangun, turun, udah gue bikinin roti nih!” Gue teriak di dalam rumah.

***

Dua minggu hampir berlalu sejak wisuda. Seminggu terakhir ini, setelah nginep sekian hari di rumah gue, Dani lebih memilih tinggal di penthouse. Gue pun jadi lebih sering ngawasin dia karena udah denger cerita dia sama Eda bubar. Di satu sisi gue kasihan sama Dani, dan sisi lain gue bingung akan kaya apa persahabatan kita berempat nantinya.

Gue juga udah tau kalo obat buat Dani dan Kenia udah dateng waktu gue tidur kecapekan sehabis wisuda. Sekarang, Dani pun rutin minum obat itu. Kenia juga minum sambil tetap diawasin nyokap.

Kegiatan mata-mata terus mengalami kemajuan. Kami terus menerus menemukan antek-antek Watchdog di banyak daerah. Sisanya, markas besarlah yang menyelesaikan tugasnya. Tugas agen lapangan selevel kami memang cukup seperti ini.

Satu per satu info mengenai pembuatan kristal terrigen berkedok sabu juga telah terbongkar. Hari ini, sehari setelah pilkada, pabriknya akan digrebek kepolisian dan anggota S.H.I.E.L.D. secara diam-diam tanpa sepengetahuan media. Lokasinya berada di sebuah gudang berlantai dua di kawasan di Semper Barat, Jakarta Utara.

Ada rumor kalau orang bernama Irfan sedang di sana juga.

“We start in 4 teams. First teams, represent Sigit, Dani, and Erna. You have to stay behind, here. Be eyes for us.” Kata seorang agen S.H.I.E.L.D. yang mukanya tertutup helm.

“Aye-aye.” Kata Erna.

Hening, kami semua nengok ke Erna sebentar. Kemudian, si agen melanjutkan perintahnya…

Katanya, selanjutnya, tim kedua beranggotakan 8 orang bertugas menyusup ke lantai satu. Sesuai laporan kamera lebahnya Dani, di sana merupakan area produksi, penyimpanan, dan server segala macam data deep web Watchdog wilayah Asia Tenggara. Tugas tim kedua adalah menghancurkan semuanya dan menyalin data dari server.

Tim ketiga beranggotakan 9 orang termasuk gue bertugas naik ke lantai dua. Lantai dua ini tidak terlalu besar, hanya setengah luas bangunan. Di sana berisi banyak ruangan, mulai dari pengawasan hingga petinggi. Tim keempat berjaga di luar untuk mengontrol akses keluar masuk pabrik.

Inti rencananya, Dani masuk terlebih dulu menggunakan kamera lebah untuk mengintai dari segala sudut. Kemudian, setelah setiap tim mendapat visual dari kamera, tim kedua masuk melumpuhkan ruang pengawasan. Tim ketiga masuk terakhir, sekaligus menghancurkan produk sabu itu bagimanapun caranya.

Misi pun berjalan. Kamera lebah satu per satu masuk dalam posisi. Visual kami dapatkan. Kami dapat melihat para pekerja terus menjalankan produksi seperti biasa dari gadget yang dipegang Dani dan setiap pimpinan tim.

“Done!” Dani memberi sinyal.

“Ok. Go go go!” Perintah pemimpin tugas.

Kami keluar dari persembunyian beberapa ratus meter dari gudang. Gue berjalan mengikuti tim ketiga di posisi paling belakang, lengkap dengan pakaian seperti densus 88, kecuali tanpa senjata laras panjang.

Gue hanya diberikan pistol. Ya, pistol. Gue megang pistol aja belum pernah, apalagi nembak.

“Mas Hari, fokus ya.” Kata Sigit dari alat komunikasi.

Buset, pikiran gue dibaca.

Tim gue masuk terlebih dulu melalui pintu samping. Pintu itu langsung mengarah ke lantai dua. Kami menyergap satu per satu orang yang lewat tanpa perlawanan. Dengan mudah, pusat kamera pengintai kami lumpuhkan. Tiga orang diperintahkan berjaga di ruangan ini, sedangkan sisa 6 orang lainnya termasuk gue melanjutkan pencarian.

“Semoga kami dapet Irfan disini.” Harap gue.

“Mas, fokus.” Kata Sigit lagi.

“Iya iya.”

Setelah kamera pengintai aman, tim kedua masuk dari pintu depan. Dengan segala peringatan, seluruh pekerja langsung menyerah. Satu persatu orang diikat dan dikumpulkan dipojok.

Tugas malam ini lancar-lancar aja.

“Oke, ini ruangan terakhir. Ruang pimpinan. Laporan dari tim 4, gak ada akses keluar masuk sama sekali. Jadi, siap-siap serangan dadakan.” Kata pimpinan tim 3 yang ternyata orang kepolisian Indonesia.

Setiap anggota bersiap di posisi. Ada yang tepat di depan pintu, ada yang di sebelah kiri, dan ada yang di sebelah kanan. Posisi gue ada di sebelah kanan, bersiap dengan ancang-ancang menahan serangan dadakan. Tangan kanan gue teracung untuk menyerap setiap energi yang datang.

POV Sigit

Aku mengawasi aksi dari lokasi persembunyian di sebelah mbak Dani dan mbak Erna. Fokusku adalah mengawasi fokus anggota tim, termasuk Mas Hari.

“Report, our custody didn’t want to talk. We need order.” Kata pimpinan tim dua dari seberang radio.

Tidak ada jawaban sama sekali. Radio hening.

“Report… Re..” Radio mati.

“Halo? Anybody hear?” Mbak Dani berusaha menghubungi tim dua.

“Kenapa, Mbak?” tanyaku.

“Sebentar…”

Mbak Dani mengutak atik alat-alat elektroniknya dengan gelagat panik. Semua bagian keyboard dia coba pencet.

“Aaaaghhh…” Gantian Mbak Erna meringis dan menutup mata serta telinganya rapat-rapat.

“Kenapa, Mbak?”

“Aduh. Alat mati semua!” Kata mbak Dani.

“Kuping gue penging. Mata gue perih!” Mbak Erna jatuh tersungkur.

Aku segera berlari melapor ke tim empat yang ada di luar persembuyian. Kemudian, aku kembali dengan dua orang yang segera membantu. Mbak Erna pun diistirahatkan sehingga kekuatannya tidak dapat digunakan. Sedangkan Mbak Dani dan seorang lagi sedang berusaha mengutak-atik alat-alatnya.

“It’s EMP.” Kata orang itu.

“What is EMP?” Tanya Mbak Dani.

“Electromagnetic Pulse. Something that can disturbing every electronic tools. This is obviously typical watchdog operation.” Jelas tipikal kegiatan watchdog.

Mereka sadar kedatangan kami. Sekarang berarti tinggal aku yang hanya bisa melihat ke dalam gedung. Tunggu dulu…. Semuanya gelap. Aku gak bisa melihat ke dalam gudang juga?

“I neither can see trough the building…” Kataku.

“Now, we’re in blind situation.” Orang itu berkata pasrah.

“Kalo gitu aku harus masuk ke sana.” Aku mengambil inisiatif.

“Hati-hati, Git.” Pesan Mbak Dani.

Aku memilih caraku sendiri. Dengan dilindungi dua orang dari S.H.I.E.L.D., aku berlari kecil menuju pintu depan gudang. Begitu kami berhasil masuk, ternyata tim dua masih dalam kendali normal.

“What’s happen? Radio doesn’t working.” Kata pemimpin tim dua.

“It’s EMP.” Jawab seorang datang yang bersamaku.

“And more odd, cause my magic also don’t working.” Bahasa inggrisku kacau.

Begitu mendengar cerita kendala tim dua, aku mangajukan diri memberi solusi. Aku akan membaca pikiran para sandera untuk mengetahui informasi sebanyak-banyaknya. Kemudian, aku menghampiri salah seorang sandera berbaju merah untuk memegang kepalanya.

Tapi, Tiba-tiba lampu gudang menyala lebih terang. Satu buah pintu terbuka, datanglah orang-orang yang memegang senjata. Mereka didampingi sejumlah orang berjaket, helm dan mesin di punggung yang familiar sebelumnya denganku. Semua mendadak siaga dan mengacungkan senjatanya.

“Be careful. That suits are powerful.” Kataku.

Di saat yang bersamaan, terdengar suara tembakan bertubi-tubi di lantai atas.

Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor…..

POV Hari

Begitu mau membuka pintu, tiba-tiba tembakan bertubi-tubi menyambar dari dalam ruangan, merobek-robek pintu, dan mengenai si pembuka pintu tanpa henti. Gue refleks menahan semua peluru yang melesat cepat, namun sayang sudah banyak peluru yang menembus badan dua orang terdepan.

Selanjutnya, satu persatu peluru berjatuhan tanpa sempat keluar dari garis ruangan. Tangan gue berkontraksi tanpa beristirahat. Orang-orang yang lain bersembunyi di balik tembok menunggu waktu yang tepat untuk serangan balik. Akibatnya, kami belum sempat melihat si penembak.

“Shoot them now!” Gue meminta pertolongan.

Tangan gue keram. Sebentar lagi pertahanan gue roboh.

Tiga orang berdiri ke samping gue dan mereka mulai menembak membabi buta ke dalam ruangan. Akhirnya tembakan yang mengarah ke kami pun berhenti. Asap mengepul hebat. Setelah dirasa kondusif, kami masuk pelan-pelan untuk mengidentifikasi ruangan. Perlahan pandangan menjadi jelas, ruangan ini kosong!

“How could??!” gue heran

“Look at this.” Pimpinan tim memanggil gue.

Rupanya ada senapan otomatis berdiri dengan dipasang dengan tripod yang menghadap pintu. Sekarang alat itu dengan tripodnya sudah rusak tergeletak di lantai. Tapi, dari sistemnya, benda itu bisa diidentifikasi bahwa memiliki kontrol untuk diaktifkan dari jarak jauh.

Tiba-tiba.. terdengar suara tembakan bersahut-sahutan dari lantai bawah. Kami semua bergegas menuju ke bawah untuk mengetahui yang terjadi. Tiga orang yang menjadi pengawas kamera pun kembali bergabung dalam barisan.

Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor.. Dor…..

Sesampainya di sana, gue melihat banyak tubuh para pekerja bergelimpangan dengan tangan terikat. Dari sudut berdiri ini gue juga melihat baku tembak antara tim kami dan terduga kelompok watchdog.

Di sisi mereka, ada 5 orang yang terus berdiri tegak tanpa goyah. Mereka menerima setiap tembakan. Mereka memakai jaket, helm, dan mesin di punggung, serupa dengan yang pernah gue lihat sebelumnya.

“We shoot them from this angle.” Perintah ketua tim kami.

Selagi kami mengambil ancang-ancang menembak, tiba-tiba dua orang berjaket melihat kami. Selanjutnya mereka berlari ke arah kami.

“I can handle this!” Kata gue.

Satu orang berjaket dengan cekatan berusaha memukul kepala gue dari kiri. Orang kedua menyusul dengan serangan lanjutan dari sebelah kanan. Gue bertahan dengan segala ayunan tangan gue untuk menghentikan energi mereka. Tapi, lambat laun gue tergiring ke arena tembak-menembak.

Dua lawan satu, dan ditambah hujan peluru. Di sisi lain gerakan mereka juga cepat, tapi untungnya gue masih cukup lihai bertahan. Lalu, tiba-tiba seorang dari S.H.I.E.L.D. mencoba memberikan serangan kejutan. Dia berlari memukul menggunakan gagang senapan kepada salah satu orang berjaket di sebelah kanan gue. Sayangnya tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan, dia dipukul balik hingga terpental jauh mengantam tembok.

“Watch out! I can handle this!” Gue meyakinkan mereka.

Karena salah seorang berjaket fokusnya teralihkan, gue mendapat celah mematikan mesin di punggungnya. Gue lemahkan pahanya hingga dia terjatuh, lalu gue serap energi mesin di punggungnya sampai benar-benar mati.

Tapi, saat gue masih berkonsentrasi menyerap energi, si orang berjaket yang lain berusaha menyerang gue dengan keadaan yang sangat terbuka. Gue pasrah akan dihantamnya tepat di muka. Namun, lima orang dari tim gue langsung mengeroyok si pria berjaket hingga saling tindih-menindih.

“C’mon! Finish him!” kata seorang dari mereka.

Gue menahan hujan peluru yang mengarah ke sini sambil secepat mungkin menyelesaikan penyerapan energi. Kemudian, gue buru-buru menyerap energi dari orang berjaket satunya yang ditindih lima orang.

Pertarungan selesai.

“That’s awesome.” Gue tos dengan mereka.

POV Sigit.

Tembak menembak di tengah gudang tak terhindarkan. Aku bersembunyi di balik drum besi. Untungnya, tim kami menang jumlah. Lambat laun orang-orang mereka mundur, kecuali tiga orang berjaket yang tetap tidak goyah. Selanjutnya, saat kami hampir menang dalam adu tembak ini, tiga orang berjaket maju.

Gue mengintip sedikit-sedikit.

“Him! Irfan, red shirt!” Kataku menunjuk penembak di barisan lawan paling belakang.

Aku masih mengenali wajah Irfan. Dia lah pemimpin Watchdog wilayah Indonesia. Wajah itulah yang sangat ingin kuhajar, tapi aku tetap mematuhi kata Ancient One untuk terus bersabar dan menahan diri.

Tim dua memulai pertarungan jarak dekat dengan beberapa hujan peluru yang masih terjadi. Beberapa orang kami tumbang. Aku memaksakan diri berinisiatif melakukan eksperimen. Kuputar-putar jariku untuk membuka portal ukuran kecil tepat di depan moncong peluru seorang penembak, lalu memindahkannya ke kakinya sendiri.

Door.. door..

“Aggghhh!!!” orang itu lumpuh seketika. Berhasil! Yeay!

Dengan lebih pede, aku lakukan cara ini satu persatu kepada para penembak watchdog termasuk Irfan. Akhirnya, hujan peluru selesai dengan cepat. Tapi, tim dua sudah kalah dengan cepat juga dari tiga orang berjaket.

“Irfan down!” Aku berteriak.

Karena suaraku yang kecang, tiga orang berjaket kini menghampiriku. Telapak tanganku mengucurkan keringat dingin. Anggaplah latihan dan pertarungan sama Mas Hari di menara Saidah tidak dihitung, maka aku belum pernah berkelahi sebelumnya. Apalagi tiga lawan satu seperti ini.

Begitu satu orang mendekat, aku berlari-lari menjauh. Begitu seterusnya hingga akhirnya Mas Hari berhasil bergabung denganku.

“Mas, aku gak bisa berantem.” Tanganku makin berkeringat.

“Tadi ngalahin penembak itu gimana? Kok bisa?”

“Kan tadi dari jauh, Mas.” Aku merajuk.

“Sama aja. Sekarang senjatanya mereka cuma diganti tangan kosong.”

Aku muncul ide.

“Mas, bantuin saya ya.”

“Ayo. Maju kita.” Ajak mas Hari.

Mas Hari bergerak paling depan. Dia melawan dua orang berjaket terdepan sekaligus. Orang berjaket lainnya bergerak mengincarku. Aku dengan hati-hati memperhatikan waktu yang pas. Begitu pukulan pertama diayunkan, mukaku terkena telak hingga aku terpental jauh.

“Jancuk!”

Setelah aku terpental, anggota tim tiga yang lainnya bersama Mas Hari mengambil alih pertarungan. Mereka pun dengan gampangnya tumbang satu persatu. Begitu kuatnya orang-orang berjaket itu.

“Kayanya coba dari sini aja.” Aku menyeka darah di pelipis.

Sekarang aku coba menargetkan seorang berjaket yang sedang melawan pemimpin tim tiga. Aku ayunkan jari-jariku sambil menentukan waktu yang pas. Satu pukulan terayun, ini dia!

Pukulan si orang berjaket masuk ke dalam portal. Dengan cepat aku buka portal kedua di depan mesin salah satu orang berjaket lain yang sedang melawan Mas Hari. Tepat sasaran! Mesin itu pecah bertubi-tubi, membuat penggunanya tersungkur ke tanah seketika.

“Good job! Lagi!” Mas Hari tampak senang.

Tinggal dua orang berjaket.

Tiba-tiba, sisa satu orang berjaket yang melawan Mas Hari berhenti melawan. Gerakannya tidak lagi seperti robot. Dia menunjukkan gerak gerik manusia normal dan tampaknya melihat ke arahku sejenak. Selanjutnya, dia mundur menjauh, mengayunkan jari-jarinya, lalu muncul portal yang sama dengan sihirku.

Dia masuk ke dalam portal, entah pindah ke mana.

Tapi ini bukan saatnya ambil pusing. Tinju selanjutnya dari seorang berjaket yang tersisa kupindahkan ke mesinnya sendiri. Terbentuk retakan, tapi belum pecah. Aku terus berkonsentrasi memindahkan tinjunya. Beberapa waktu kemudian, dari sekian banyak pukulannya, aku baru bisa memindahkan hingga tiga kali, tapi mesinnya juga belum juga pecah.

Dari jarak dekat, pemimpin tim tiga bekerja sama dengan Mas Hari. Terjadi perkelahian jarak dekat dua lawan satu. Meski pun begitu, muka si pemimpin tim sudah bonyok dan hampir tidak bisa melihat lagi. Mas Hari berkali-kali berhasil menyerap energi dari mesinnya, tapi selalu tak selesai.

“What’s happen with this one?” Tanya pemimpin tim tiga dengan letihnya.

“I don’t know. He is very strong.” Kata Mas Hari.

Aku gak boleh meleset lagi. Tinju selanjutnya harus berhasil!

Aku berusaha fokus memperhatikan gerakannya. Satu ayunan tangan bergerak, ini dia! Aku buka portal sekali lagi. Tangannya berhasil masuk, lalu aku pindahkan tinju itu ke helmnya. Saat itu juga helmnya jadi terbelah dua.

Helm terjatuh, tapi wajah si pemilik jaket belum dapat kulihat. Dia tertunduk, dengan rambut agak gondrong seleher. Begitu dia saling bertatap mata dengan Mas Hari, reaksi Mas Hari justru terpaku dengan wajah penuh ketakutan. Begitu juga dengan pemimpin tim.

Aku tak bisa melihat apa-apa dari jauh.

Sesaat kemudian, mesin di punggung orang itu hancur bersama sobeknya jaket akibat tarikan kedua tangannya sendiri. Bagian jaket yang tersisa hanya dari pinggang hingga mata kaki. Saat itulah aku baru tahu apa yang membuat Mas Hari tercengang. Orang itu bukan manusia!

Dari jauh, aku bisa gambarkan dia mirip monster di film Jeepers Creepers. Kulitnya hitam legam dan kasar. Kulit pipinya lesu seperti kulit pipi orang tua. Tangannya mirip manusia, hanya saja dengan bagian kulit yang melebar hingga melekat dengan kulit badan, membentuk seperi sayap kelelawar.

“GGHAAAAAA!!!” Teriakannya mirip godzilla, tapi kurang menggelegar.

Rupanya yang kulihat tadi bukanlah bagian rambutnya. Itu adalah bagian dari kulit kepala atau sekitaran lehernya yang mirip gelambir. Bagian itu sedang mekar seperti kadal yang melakukan display di musim kawin.

Setelah puas berteriak, dia melihat ke sekitar ruangan ini. Lalu terbang membobol tembok dengan hanya satu kali pukulan. Dia meninggalkan kami dalam suasanya penuh ketakutan. Tubuhku kaku. Kakiku gak bisa digerakin. Badanku merinding.

Monster… Bukan.. Itu.. Inhuman macam apa dia?

***

Beberapa waktu kemudian, situasi kondusif. Aku dipapah keluar gudang dan melihat banyak warga berkumpul di belakang garis polisi. Aku juga mendengar kalau EMP berhasil dinonaktifkan. Kulihat kamera lebah juga telah dikumpulkan lagi oleh Dani. Korban luka, termasuk Irfan, sudah dilarikan ke tempat pemulihan dan penjara rahasia.

Selang dua jam kemudian, kami menonton konferensi pers dari tempat rahasia bahwa kejadian di Semper Barat merupakan salah satu aksi penggerebekan gudang narkoba. Salut buat kepolisian karena sangat baik menutupi kasus ini.

Sayangnya aku dan Mas Hari masih terlampau shock akibat melihat inhuman yang wujudnya menyeramkan seperti tadi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang S.H.I.E.L.D. pun belum ada yang bisa dijawab.

Aku lebih memilih minum obat penenang yang dianjurkan agar bisa tidur.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat