Tanpa Nama Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 22

Resolusi Dua Hati

POV Hari

Gue turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Dani yang baru bangun setelah puas nangis. Barang-barangnya pun gue bawakan. Kemudian, gue membayar ongkos terlebih dulu, lalu menyusul masuk ke dalam rumah.

“Kak Daniiiii”. Kenia berlari memeluk gue

“Loh naik uber? kirain naik kereta.” Nyokap bersiap mau pergi.

“Iya, udah capek banget soalnya.”

Gue meletakkan tas Dani di sofa.

“Loh, mau ke mana tante?” Dani nanya.

“Dinas ke Pontianak nih.”

“Hati-hati yaa tante.” Mereka cipika-cipiki.

Baik-baik ya di rumah. Ibu berangkat dulu.”

Nyokap udah berangkat dengan Uber pesanannya. Untungnya nyokap gak fokus sama matanya Dani yang sembab.

“Dan, gue langsung tidur ya. Kalo ada apa-apa, kamar gue gak dikunci.”

Dani mengangguk. Dia lagi sibuk dibawelin Kenia.

Gue langsung pergi ke kamar untuk langsung tidur. Dani biar tidur bareng Kenia aja, atau di kamar nyokap. Kalo mereka malah mesum masa bodo lah, udah pernah ini. Badan gue butuh istirahat dari kejenuhan kaya gini.

Badan gue juga butuh istirahat. Rasa pegelnya setengah mampus setelah wisuda seharian. Belum lagi ditambah dengerin curhatnya Dani yang sambil nangis-nangis. Tapi mau gimana lagi, namanya udah temen deket.

Sekian lama gue tidur, Kenia kayanya mulai ganggu gue.

“Baaaaaang…” nafas Kenia terasa menderu di telinga gue.

“hmmmm…” balas gue sekenanya.

“Baaaaaaang…” badan gue digoyang-goyang.

“Apaan sih, abang ngantuk sumpah.”

Gue bergerak tidur menyamping. Lalu, gue menutup kuping dengan guling.

“Kak, kasian ah abang kecapekan.” Gue denger Kenia ngobrol.

“Coba lagi.” Suara Dani

“Aku gak tega beneran deh.”

“Yaudah besok aja.”

Akhirnya hening lagi. Masa bodo.

POV Dani

Sekarang hampir tengah malam.

“Kak, jam tanganku bunyi terus.” Kenia nunjukin jam tangannya.

“Itu telepon. Angkat.”

“Hehe, maklum jam baru, kak.” Dia nyengir.

Gue sering melihat Hari bertelepon dengan markas besar menggunakan jam itu. Bahkan, gue sampai hafal keempat tombol yang ada serta fungsinya. Jam tangan Kenia pun gue pencetin untuk mengangkat telepon.

“Halo, Kenia, Dani. Where’s Hari?” Kata laboran di seberang telepon.

“He’s asleep. Seems very tired.” Kata gue

“Oh. Fine then. Medicine for you will be sent to your location in next few hours.”

Jadi obat penenang buat gue dan Kenia udah jadi. Gue nyebutnya obat penenang karena sama sekali gak dikasih tau namanya sama si laboran sampai selesai bertelepon. Abis itulah gue dan Kenia berusaha bangunin Hari, tapi Kenianya gak tega.

“Kak, aku ajarin cara pake ini jam dong.” Pinta Kenia.

“Bukannya ada buku petunjuk?”

“Emang ada?” Dia malah nanya balik.

“Yeh, mana kakak tau. Jamnya kan punya kamu.”

“Aku gak dikasih kayanya sih.”

Gue terus mendesak Kenia supaya mengingat-ingat apa dia dikasih buku petunjuk apa nggak. Kami pun ke kamarnya untuk mencari kotak jam. Lalu, bener kata gue, buku petunjuknya ada di dalam kotak. Ukurannya kecil.

Beberapa jam kami bercerita ala-ala peremupan layaknya adik kakak. Kami berbincang mulai dari fungsi jam tangan S.H.I.E.L.D., kegiatan mata-mata kami, hingga keinginan Kenia untuk menjadi inhuman. Keinginan Kenia itu selalu gue alihkan dengan alasan butuh tanggung jawab besar.

Perbincangan terus berganti-ganti.

“Kak, aku mau nanya.” Katanya

“Apa lagi?”

“Jangan marah tapi.”

“Iya. Apa dulu?”

“Iih, jawab dulu, jangan marah.”

“Dih, maksa maksa.”

“Kakak maaaah.” Kenia menggebuk gue dengan guling.

Dasar bocah SMA.

“Iya, yaudah, nggak marah.”

“Beneran yaa?”

“Iyaaaaa.” Gue memberi tanda suer.

“Okey. Giniii, Kak Dani udah gak sama Kak Eda ya?”

Nah, ini. Pertanyaannya frontal. Gue mau gak mau harus bersikap seperti seorang kakak. Gue gak boleh galau-galau lagi kaya sama Hari tadi sore. Malam ini, gue harus menaklukkan hormon-hormon penyebab kelabilan gue ini.

Gue mengangguk sambil menahan nyeri di dada sebelah kiri. Rasa nyeri yang selalu dirasakan kalau lagi gembira, deg-degan, jatuh cinta, atau sakit hati. Rasa yang mirip kaya diiris, tapi gak ada yang diiris.

“Kok bisaaaa?” Kenia makin penasaran.

“Yaa, begitu deh.”

“Begitu gimana?”

“Dia balikan.”

“Iih, kok selingkuh sih? Kak Dani gak marah?”

Gue mengangkat bahu.

“Ya marah sih, tapi kan kita gak pernah resmi pacaran. Jadi, gak selingkuh juga namanya.”

Akhirnya. Gue menemukan juga logika untuk gak bersedih. Logika yang tiba-tiba muncul dan keluar dari mulut tanpa dipikirin panjang-panjang.

“Loh, aku kira pacaran tau.” Kenia terus berbicara.

“Nggak kok. Kita gak pacaran.”

“Terus, kakak kenal sama pacar barunya Kak Eda?”

“Kenal. Dia senior kok. Mereka pernah deket dulu waktu kita semester 2.”

Pertanyaan Kenia terus begulir satu-satu. Pertanyaan yang singkat, namun butuh hati besar untuk menjawabnya. Sebagai sosok kakak, gue harus tetap bersabar.

“Kak, jamnya bunyi lagi.”

“Angkat.”

Tengah malam, seorang agen S.H.I.E.L.D. muncul di depan pagar. Dia memberikan dua kotak berisi obat penenang serta cara pakainya. Kemudian, dia masuk lagi ke dalam modul penahanan, dan langsung terbang vertikal. Sebuah Quinjet menunggu beberapa puluh meter di atasnya.

Gue kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Kenia lagi. Gue sekarang membaca petunjuk pemakaiannya bareng Kenia.

“Diminum tiga hari sekali.” Kata gue

“Kok aneh ya, kebalik gitu.”

“Wajar kok, Ken. Kalo diminum sering-sering ntar kita malah jadi kaya robot.”

“Robot gimana kak?”

“Gak punya perasaan gitu. Gak ada ekspresi kaya robot.”

“Kok bisa?”

“Ini kan obat buat nekan laju hormon gitu, lho, Ken.”

Gue menjelaskan pelan-pelan mekanisme kerja obat ini. Beruntung gue cukup mengerti mekanisme fisiologi manusia dan sistem endokrin. Jadi, penjelasan bisa gue sesuaikan dengan pemahaman anak SMA.

“Yaudah yuk diminum satu sekarang.” Ajak gue.

“Sekarang kak?”

“Iya. Biar kita gak tiba-tiba mesum malem ini.”

“Tunguuuuu. Aku baru dapet ini tadi pagi~.”

Kenia membuka lemarinya, mengeluarkan sebuah dildo transparan.

“Kenia! Dapet dari mana kamu?!” Gue mau marah.

“Ada deh.”

“Taruh lagi gak?!” Gue marah sekarang.

“Sebentar aja kak, sebelum kita balik normal lagi…”

Gue berusaha merebut dildo itu dari tangan Kenia, tapi dia selalu mempermainkan gue. Bahkan, beberapa kali dia menyolek-nyolek tangan dan payudara gue pake dildo. Sampai suatu ketika, Kenia mundur jauh dari hadapan gue.

Dia pelan-pelan menjilati pangkal dildo itu hingga naik ke bagian atas.

“Kenia! Belajar dari mana kamu begitu??”

“Dari Bang Hari dong.. Mmmm…” Lidahnya diputar-putar.

Hari sialan. Tiba-tiba gue jadi sange. Gampang banget kan. Ditambah ceritanya Hari yang pasrah melayani Kenia supaya gak macem-macem di luar. Yes, kakak melindungi adiknya (dengan cara yang gila).

“Sini kamu yaaaa…” Gue mengejutkan Kenia dengan langsung menyergapnya.

Gue dekap Kenia ke Kasur. Kami berdua saling bertindihan sambil menjilati dildo itu seakan itu penis asli. Kenia terus bergurau itu penisnya Hari.

“Punya Hari emang kaya gimana, Ken?” Gue tergoda.

“Mmm…. Keras kak… mmm… cuupp..”

“Aku juga pernah liat punyanya Hari loh, Ken, waktu di Papandayan.”

Kami berdua saling goda dengan membicarakan penis asli Hari. Entah kenapa harus Hari. Membayangkannya aja gak kesampaian karena dari dulu gak pernah ada feeling apa-apa. Tapi ocehan ini gak bisa berhenti.

“Ken, buka bajunya…”

Kami berdua langsung membuka baju masing-masing dengan terburu-buru. Kenia lalu langsung menjilati vagina gue dengan skill khas pemulanya. Dildonya dipegang erat-erat.

“Ahh, yess, Kenia… di situ, agak ke bawah.” Gue beberapa kali menuntunnya.

Kenia menjilat dengan semakin luwes. Lubang masuk vagina gue dimainkannya dengan pelan, tapi justru makin membuat penasaran.

“Fix, Kenia, masukin. Jangan bikin penasaran deh…”

Kenia mengarahkan dildo itu dengan cermat. Pelan-pelan batang dildo terasa masuk menggesek seluruh dinding liang vagina gue, memberikan sensasi yang menggairahkan.

“Bayangin, kak, ini penis Bang Hari..”

“Ahhh, yessss… Kenia… mainan kamu enak banget.”

“Ini asli penisnya Bang Hari, Kak. Coba rasain dong.”

Kenapa harus Hari?

Tapi, beneran.. permainan Kenia lebih hebat dibandingkan waktu kami disekap waktu itu. Kali ini, dia bermain dengan kesadaran diri yang baik, tapi hebat. Hari memang pernah cerita Kenia makin nakal di kasur bersamanya, tapi gak gue sangka senakal ini.

“Kamu udah ngerasain.. ahhh… punyanya Hari, Ken…?” Biar kugoda dia.

“Belum pernah, Kak. Gak boleh. Makanya aku punya ini.”

Kenia memutar-mutar dildo itu di dalam vagina gue dengan kuat. Pinggang gue pun melawan putarannya untuk mendapat sensasi yang lebih nikmat. Kenia makin beringas dengan permainannya. Gue pun gak kuasa menahan orgasme.

“Kenia.. Uuh… sodok yang cepeet… Uhh, enaaak..”

YA AMPUN, GUE ORGASME KARENA PEREMPUAN LAGI!.
Atau karena Hari?

“Kak, gantian..” Pinta Kenia.

Kenia berbaring. Gue mulai membangkitkan gairahnya dengan menciumi dan meremas-remas kedua payudaranya. Kemudian, berangsur turun ke liang vaginanya yang tercukur rapi.

“Sering dirawat ya?” Goda gue.

“Supaya Bang Hari mau masukin, Kak.” Katanya memelas.

Gue jilati klitorisnya naik turun. Dengan cepat Kenia menggelinjang, pinggangnya dinaikkan sampai tinggi dan menekan kepala gue dalam-dalam. Sambil gue menjilati lebih ke bagian liangnya yang makin becek, dia memainkan klitorisnya sendiri..

“Ayo, kak, masukin sekarang.”

Kumasukkan satu jariku untuk memastikan apa dia masih perawan atau tidak. Alhasil, baru satu jari saja Kenia sudah merintih sakit.

“Tuh kan, masih segel.” Kata gue.

“Gapapa, kak. Aku rela.”

“Hush, gak boleh. Harus sama yang asli dong.”

Aku hanya melanjutkan permainan dengan satu jari. Kenia tampak makin pasrah dengan kenikmatannya. Baru saja lima menit, badannya sudah menggelinjang dua kali lagi.

“AAHHH.. KAAAAK…”

Kenia orgasme. Cairan kenikmatannya mengalir membasahi kasurnya sendiri.

“Ahh.. Enak banget. Makasih kak.” Dia tertidur pasrah.

“Puas?”

“Puaas.”

“Pakai bajunya lagi yuk, abis kita itu minum obat.”

Kami berciuman sebentar, lalu kembali memakai baju masing-masing. Sprei pun juag diganti. Sejujurnya, gue mau minum obat malam ini juga supaya biar gak makin baper dan ngelupain cinta gue ke Eda secepat-cepatnya. Gue juga pengen buru-buru tidur.

POV Eda

Habis makan malem bareng keluarga, bokap nyokap langsung pulang. Ya, Rivin juga ikut makan bareng.

“Kamu temenin dulu lah itu pacar kamu.” Kata bokap.

“Iya, masa calon mantu mama dibiarin sendiri.” Kata nyokap.

Ya ampun, sampe kapan sih kesalahpahaman ini terjadi. Gue berkali-kali garuk kepala. Bokap dan nyokap justru mengira gue salting karena mempertemukan mereka dan calon mantunya.

Selepas mereka pergi, gue berniat nganter Rivin balik ke kostannya. Sekarang kami berdua sudah berada di dalam mobil, sedang keluar parkiran restoran.

“Aku anter sampe kostan ya, Vin.”

“Ih gak mau. Aku mampir dulu dong ke tempat kamu.”

“Eh?”

“Eda. Aku… cuma gak mau aja hari ini selesai.”

Mendengar itu, jantung gue kaya stop sejenak. Dani gak pernah ngomong kaya gini kan ya? Dia gak pernah meminta berlama-lama dengan gue sepengen ini kan ya?.

Tangan gue bergerak membelokkan setir mobil ke kanan. Begitu mobil sudah sejajar dengan jalan, barulah gue menyadari apa yang gue lakukan. Kok gue belokin ke arah apartemen gue.

Kemudian, gue berniat mau langsung memutar balik, tapi jalanan di sini gak ada separatornya. Jadi, gue harus minggir dulu di ruas jalan yang pinggirnya agak lebar untuk mengambil posisi balik arah.

Kemudian, dari kejauhan gue melihat kesempatan itu. Sen kiri gue nyalakan. Keraguan sepintas muncul, membuat gue spontan menoleh ke Rivin. Dia tersenyum manis sekali dengan balutan pakaian favoritnya, turtle neck.

Senyum itu gue lihat sangat singkat karena harus kembali menatap jalanan yang masih lumayan ramai. Sen kiri gue matikan. Lewatlah kesempatan untuk memutar balik tadi.

Akhirnya, di sini lah gue. Gue menutup pintu apartemen dan menyalakan lampu serta AC. Gue memerhatikan jam dinding, sudah jam 11 malam. Rivin langsung melemparkan badannya ke kasur dan menghela nafas panjang.

“Akhirnya, bisa liat kamarnya Eda.”

Dia melempar tas tentengnya. Membuka-buka apa saja yang bisa dia buka, mulai dari pintu kamar mandi, rak piring gantung, rak buku, sampai lemari pakaian.

“Ih, ini baju cewek kan?” Dia melihat-lihat baju Dani.

“Eh, jangan dikeluar-keluarin. Ntar berantakan.”

“Ini baju Dani ya?” tatapan mata Rivin berubah tajam.

“…”

Gue gak bisa ngomong.

“Hehehe, jangan panik gitu ah.” Katanya.

“…”

“Aku ke kamar mandi dulu ya.” Sambil mencium pipi gue.

Gue jadi pusing sendiri. Gue harus ngapain sekarang coba. Di tengah kebingungan, tiba-tiba terdengar suara shower yang mengucur.

“Vin, mandi???” Gue teriak di dekat pintu kamar mandi.

“Iyaaaa. Aku pinjem alat mandinya ya.”

“Aku gak gak ada baju ganti cewek lho.”

“Ntar pakai yang di lemari situ aja.”

Gue makin pusing. Sejenak gue mengalihkan perhatian ke handphone yang dari sore gak sempat gue sentuh. Ternyata ada pesan wa dari Dani. Teksnya cukup panjang.

Perasaan gue gak enak.

“Eda, gue ini berarti apa sih buat lu? Gue seneng lu lulus hari ini. Tapi, gak berarti hari ini lu bisa bersenang-senang sama perempuan mana aja. Apalagi, gue gak sedikit pun diperhatiin tadi.”

Naskah terputus. Lalu, ada lanjutannya.

“Gue berulang kali terus memutar alasan kalau kita tuh gak pacaran supaya gue gak berhak marah. Tapi nyatanya iya, Da! gue cemburu! Gue cemburu sama Kak Rivin! Sekarang malah orang tua lu udah nganggap kalian pacaran, padahal gue gak sekali pun pernah punya kesempatan dikenalin ke mereka sebagai pacar lu. Artinya ini gue kalah telak kan.”

Ada sambungannya lagi.

“Gue nyoba narik kasus ini jauh-jauh ke belakang saat kita pesta malam itu. Gue emang yang salah ngizinin elu deket lagi sama Kak Rivin, sekarang akibatnya begini. Jadi, gapapa banget kalo lu mau nyalahin gue atas perubahan sikap lu.”

Lagi.

“Kalo lu beralasan kita gak pernah pacaran juga gapapa. Gue yang salah juga. Tapi lu gak pernah tau apa-apa tentang gue, Da. Jadi setelah ini selamat tinggal. Terima kasih atas kebersamaannya selama dua tahun ini. Terima kasih juga atas persahabatan kita berempat selama kuliah. Selamat menempuh kehidupan baru paska kuliahnya bareng Kak Rivin. Jaga dia baik-baik.”

SHIT!! Yang gue takutkan terjadi. Gue langsung berusaha menelepon Dani, tapi sama sekali gak diangkat. Gue juga mencoba mengiriminya pesan, tapi setiap naskah yang gue coba ketik sama sekali gak menemukan kalimat solusi. Gue bangkit segera, mengambil jaket dan kunci mobil untuk pergi menghampiri Dani.

Tapi begitu mau membuka pintu, gue baru ingat Rivin gak mungkin ditinggal. Dia baru pertama kali ada di apartemen ini. AAAAGGHH!!

“Dani.. Rivin.. Dani.. Rivin.. Dani.. Rivin..”

Gue cuma bisa tiduran di tengah-tengah kasur menunggu Rivin keluar. Mulut gue bergumam sendiri sambil menghitung detik-detik yang berbunyi dari jam dinding. Entah harus berhenti di angka yang mana sebagai pilihan.

“Edaaaa.. ambilin baju sama handuk dong tolong.” Rivin memanggil

Lamunan gue buyar. Gue mengambil handuk gue dan sembarang baju dari lemari, lalu memberikannya kepada tangan Rivin yang menjulur. Setelah itu, gue terus berdiri di depan pintu kamar mandi untuk bersiap mengatakan hal penting kepadanya, kalau dia harus pulang malam ini juga. Tangan gue memegang handphone kuat-kuat sebagai pegangan.

Perlahan pintu terbuka. Rivin muncul dengan baju putih longgar bergambar barney, celana legging hitam, dan rambut yang dibalut handuk. Dia kaget karena gue tepat berdiri di depan pintu.

“Ih Eda! Ngagetin aja.”

“Vin…” Gue tersenyum sedikit.

Mulut gue kaku. Entah harus bagaimana gue mengatakannya. Mata gue menatapnya sesekali, lalu kembali melirik ke sembarang arah.

“Kenapa, Da?”

Panggilannya membuat gue kembali menatap ke arah matanya. Respon gue ini malah disalahartikan dan dia justru jadi menggoda. Dagunya diturunkan, bibir bawahnya digigit, dan badannya begoyang ke kiri dan kanan.

“Vin..” Gue menarik nafas dalam-dalam lagi.

“Kenapa sayang?” Dia berjalan mendekat.

Pelan-pelan dia mengelus dagu gue, lalu jarinya merambat ke bibir dan pipi. Matanya menatap mata gue dalam-dalam. Sumpah, ini udah kelewatan. Gue harus jujur sekarang.

“Vin. Gini…”

Sebelum gue sempat ngomong, Rivin tiba-tiba membenamkan kepalanya dalam-dalam di dada gue. Lama sekali dia tidak bergerak, lalu perlahan badannya bergetar. Gue tahu, ini getaran badan orang yang menahan tangis. Bahkan dalam tangisannya, Rivin gak sekali pun menggerakkan kepalanya menyamping untuk mengambil nafas. Handuk yang membalut rambutnya juga terlepas.

Gue jadi segan untuk melanjutkan kata-kata gue.

“Aku gak bisa jadi dia ya, Da…” katanya sambil terisak.

Tangan gue bergerak mengelus rambut basahnya. Rivin semakin menangis menjadi-jadi dalam pelukan gue.

“I… I love you… Tapi aku… gak pernah bisa jadi Dani…”

Gue antara iba dan mau ketawa, karena kata-katanya mirip lagu I hate you, I love you-nya Gnash featuring Olivia Jansen. Gue menebak-nebak apakah ini dibuat-buat apa nggak. Tapi, setiap gue menyangkal, perasaan gue justru semakin yakin Rivin beneran dari hati.

Kali ini Rivin sanggup mendongakkan kepalanya untuk menatap gue. Mata dan hidungnya memerah dan pipinya sangat basah karena air matanya sendiri.

“I love you.. so much….” Kata-katanya sangat lembut, bahkan dalam isak tangisnya

Oke, cukup! Yang ini Dani gak pernah ngomong. Bibir kami perlahan bertemu. Basah sekali, dan asin. Handphone gue jatuhkan. Gue gak peduli lagi.

What happen to me???!!!

Kami berdua saling menuntun menuju kasur. Di sana, kami berguling penuh hasrat dalam tiap kecupan. Kami berjam-jam berpelukan dan saling memberi lumatan yang hangat. Tidak ada seks malam ini dan tidak ada yang memulai. Kami merasa cukup dengan pesan bibir ini hingga tertidur pulas.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat