Tanpa Nama Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 20

Menangis Sejadi-jadinya

POV Erna

Gue coba mendengar dan membaca semua sinyal yang lewat di dekat sini. Tapi, sepanjang ini hanya ada chat lagi pacaran, lagi becanda sama temen-temennya di medsos, sama pesan-pesan broadcast gak jelas.

Kata-kata yang gue dengat pun gak ada yang mencurigakan. Di sisi lain, tadi Dani udah bilang makanan di kulkas aman. Jadi setidaknya gue harus menemukan beberapa hal yang janggal.

Sepuluh menit. Tiga puluh menit. Satu jam setengah. Gak ada komunikasi yang mencurigakan sama sekali.

“Na, makanan udah jadi nih. Gimana hasilnya?” Dani masuk ke kamar.

Gue menggeleng pasrah. Gak terasa makan malam yang dibuat Kak Rivin udah jadi. Anak-anak udah kumpul juga di ruang tengah.

“Gimana dong?” Tanya Dani.

“Lu di sini aja. Ntar gue bilang sakit perut bulanan.” Jawab gue.

“Lu sendiri gimana?”

“Santai. Gue kan udah inhuman.”

“Sip deh kalo gitu.”

Gue melangkah keluar kamar. Tapi pas di depan pintu, tiba-tiba suara berisik kedengeran lagi di kuping gue dari lima belas menit belakangan.

“Eh, Dan, sebelah itu kamar siapa?” Gue nunjuk satu kamar.

“Kamarnya Sesil. Kenal kan? Kenapa emang?”

“Gak, gapapa. Bangunin gih tuh anak. Ada telepon dari tadi.”

“Tidur? Tuh anak lagi keluar dari kemaren kok kata anak-anak.”

“Hapenya ketinggalan kali ya.”

Dani mengamini kata-kata gue. Sekarang, gue keluar dari kamar menuju ruang tengah untuk makan malam bareng. Setelah sampai di sana, Kak Rivin nanyain Dani. Gue jawab sesuai skenario tadi, sekaligus bilang mau bawain aja ntar jatahnya Dani ke kamar.

Kami makan dengan santai. Gak ada kejadian aneh. Gue gak luput juga kenalan dengan 6 orang penghuni kos lainnya. Rata-rata yang ikut makan malam ini adalah mahasiswa perantauan, sedangkan sisanya malam minggu begini kalo gak pulang ke rumah, ya lagi hangout.

Gue menyocokkan nama-nama mereka dengan sinyal yang gue baca dan dengar selama di kamar Dani tadi. Alhasil, gue senyam-senyum sendiri menatap wajah-wajah mereka yang penuh aib.

POV Dani

Gue bosen di kamar. Di sisi lain, gue penasaran apa yang dibilang Erna tadi. Gak biasanya Sesil pergi gak bawa handphone. Seburu-buru apapun, dia akan tetap ingat sama seluruh alat-alat elektroniknya, apalagi cuma handphone.

Gue keluar kamar pelan-pelan, mencari letak Sesil biasanya menaruh kunci serep. Gue angkat keset, ngeraba bagian atas pintu, rak sepatu, sampai akhirnya ketemu di dalam salah satu sneakersnya.

Gue buka kamar Sesil. Kesan pertama adalah gelap. Setelah gue nyalakan saklar, ternyata kamarnya memang kosong. Tapi banyak kejanggalan di sana sini. Kamarnya berantakan banget. Spreinya tergeletak di lantai. Laptop masih terbuka di atas kasurnya dengan posisi masih dicharge.

Gue berjalan pelan ke sisi lain kasur. Ternyata lebih jorok lagi. Ada piring bekas makanan sisa yang tumpah. Keadaannya udah lembek berair dan disemutin. Di dekatnya, ada handphone yang tergeletak.

Gue buru-buru balik lagi ke kamar untuk mengambil handphone. Gue dokumentasikan seluruh sudut kamar Sesil dan mengirimnya ke aplikasi chat rahasia kami berempat.

MENCURIGAKAN. Gue tulis dengan capslock semua.

Tidak lama berselang, ada balasan dari Erna, “gue ke sana sekarang.”

Erna pun datang dengan sepiring makanan dengan alibi ‘buat Dani’. Kami melanjutkan kegiatan menyisir seluruh kamar Sesil untuk mencari bukti.

“Sesil malem itu ikut ‘pesta’ bareng lu kan ya, Dan?” Erna nanya

“Iya.” Gue jawab sekenanya.

“Hmmm. Layak diwaspadai sih.”

“Bisa jadi.”

Gue pelan-pelan naik ke kasur, mencari-cari sesuatu yang mungkin aneh buat Sesil. Barang pertama yang gue temukan di balik bantal adalah dildo. Sejenak pikiran gue melayang ke momen waktu bermain dildo dengan Kenia. Memori itu kemudian diakhiri dengan kata-kata Lina yang menyuruh gue buang dildo.

Gue mengangkat bantal, lalu menemukan sebungkus bubuk putih yang terbuka sedikit. Dari bukaan tersebut bubuk itu tumpah-tumpahan ke kasur.

“Erna, sini.”

“Dan! Jangan dipegang!” Erna teriak

“Sabu?”

“Bisa iya, bisa bukan. Ambil ziplock di tas gue gih.”

Gue kembali ke kamar sendiri, membuka tas Erna, lalu mengobrak-abrik isinya. Setelah itu, gue balik lagi menuju kamar Sesil. Erna ternyata menemukan bukti lagi. Dia memanggil gue, menunjukkan suatu batu hitam kecil yang tergeletak di lantai dekat kamar mandi. Batu itu tampak rapuh dan ada remah-remah yang lebih kecil di sekitarnya.

“Kaya jari?” Gue bingung.

“Emang jari.”

“MASAA??”

“Begini jadinya kalo kena kristal terrigen kalau bukan inhuman.”

“Oke, Na. Lu yang ngerjain deh.”

Gue memberikan barang-barang keperluan Erna. Kemudian, gue keluar kamar supaya gak ikutan jadi batu. Sesil, temen gue, apa kabarnya? Perasaan gue jadi gak enak setelah liat batu ini. Gimana kalo itu bener jarinya Sesil?

Agak lama nunggu dengan perasaan panik di kamar gue sendiri. Kemudian, tiba-tiba Hari nelepon.

“Halo, Dan. Kondisi gimana?”

“Siaga. Erna nemu jari yang udah jadi batu.”

“Jari siapa?”

“Belom tau, tapi nemunya di kamar Sesil.”

“Waduh. Kita ke sana ya.”

“Yaudah. Tapi ntar kalo udah gue suruh ya.”

“Oke. Hati-hati, Dan.”

Telepon diputus bersamaan Erna masuk ke kamar gue.

“Beres.” Katanya

“Ada yang liat gak?”

“Aman.”

“Sekarang gimana?”

“Sampel kita kasih ke markas.”

“Perasaan gue gak enak, Na. Kita cari Sesil malem ini ya.”

Gue menelepon Hari untuk segera datang. Mereka gue suruh nunggu di belokan yang agak jauh dan sepi. Lalu, gue sama Erna pergi keluar. Kak Rivin yang nanya kami mau kemana, dijawab dengan alasan cari obat ke warung.

Di sebuah jalanan yang agak gelap, Hari dan Sigit udah nunggu.

“Nih sampelnya. Git, kasih ke markas sekarang.” Erna ngasih beberapa bungkus ziplock.

Sigit tanpa banyak nanya, langsung pergi membuka portal. Tinggalah kami bertiga di tempat remang-remang ini.

POV Hari

“Tadi itu apa aja yang lu kasih?” Gue nanya.

“Benda kaya sabu, Batu jari, sama potongan rambut-rambutnya Sesil.” Jawab Erna.

“Oke. Sekarang gimana?”

“Cari Sesil malem ini juga, ya, please.” Dani ngejawab.

“Iya, tapi mulai dari mana?”

Sigit kembali dengan cepat dari markas besar. Kami memulai pencarian dengan berjalan kaki, tentunya dengan Sigit sebagai pembuka portal ke mana saja, dan Erna sebagai mesin pencari.

Kami mencari dari jarak yang tidak terlalu jauh dari kostan, hingga sekarang mencapai radius sekitar 5 kilometer.

Gue dan Dani cuma bisa mencari secara visual dan bertanya ke orang-orang di pinggir jalan. Kami berdua masing-masing selalu menunjukkan foto Sesil kepada semua orang. Kami juga kadang menunjukkan foto mobil yang sering dibawa Sesil, karena mobilnya sekarang juga tidak terparkir di kostan.

“Jam berapa sekarang, Mas?” Sigit nanya.

“Jam 12 lebih, Git. Tengah malem.” Gue ngelihat jam tangan.

“Istirahat dulu, ya, Mas, Mbak. Saya haus.”

“Yaudah, cari angkringan dulu yuk.” Erna mengusulkan.

Kami semua beristirahat di salah satu angkringan pinggir jalan yang masih buka. Sembari istirahat, Dani sempat bertanya ke pedagang dan semua orang yang lagi nongkrong di sini. Di sisi lain, kami bertiga ngobrol biasa sambil minum sebotol minuman ringan.

“Kenapa gak pake kamera lebah aja sih?” Erna nanya.

“Kamera lebah lama. Bisa seharian lebih nunggunya. Lagian kan…”

“Lagian apa?” Sigit nyahut

“Kamera cuma bisa scanning orang yang masih hidup.”

Suasanya mendadak kaku. Gak ada satu pun dari Erna atau Sigit yang menanggapi pernyataan gue. Gue dan Erna sudah cukup mengerti bahaya dari kristal terrigen asli dari cerita-cerita selama latihan penguasaan kemampuan. Jadi, siapa pun yang kita cari, jika orang itu sudah terkena kristal, bersiap aja nerima kenyataan terburuk.

Dani kembali.

“Ada orang yang lihat mobilnya Sesil.” Dani memberi info.

“Yakin?” Gue memastikan.

“Yakin. Platnya sama. Ayo buruan!” Dani menarik kami semua berdiri.

Sigit buru-buru menghabiskan es jeruknya. Lalu, kami semua terburu-buru berjalan ke arah yang ditunjukkan seseorang yang ditanya Dani tadi. Lokasinya gak terlalu jauh dari angkringan.

Benar ada mobilnya Sesil di sini. Sebuah avanza berwarna silver terparkir dengan mesin menyala. Mobil itu di lahan kosong samping sebuah percetakan. Di saat yang sama, gue mendapat telepon dari markas besar. Gue mengajak Erna untuk menerima telepon, sedangkan Sigit membantu Dani menyelidiki mobil itu.

“Halo?” Gue menyapa

“Hari! It’s big bad news. The drug was confirm contain terrigen crystal in massive amount. And…”

“And?” Gue nanya

“There’s your friend’s finger print on the plastic.”

“Sesil?” Tanya Erna.

“Yes. Matched with illustrated model by the finger you collected.”

Astaga.

“HARI!! ERNA!!” Dani teriak.

Sebuah portal terbuka menghubungkan ke ruangan di dalam mobil. Di dalam sana, dengan kondisi mesin menyala, AC berhembus dingin sekali. Di kursi mobil, Sesil duduk lengkap dengan sabuk pengamannya. Nafasnya tersengal-sengal dan sebagian besar tubuhnya telah membatu.

“Prepare an examination room. Hurry up!!” Teriak gue ke laboran itu.

Tak lama berselang, gue dan Erna berhasil mengeluarkan Sesil dari dalam mobil. Dani dan Sigit gue suruh menyingkir. Hanya gue dan Erna yang aman untuk memapah Sesil.

Dani menangis sejadi-jadinya. Sigit dengan diamnya membuat portal menuju markas besar.

***

Beberapa jam kemudian, kami dialihkan entah ke markas yang mana. Lokasi selalu dirahasiakan oleh S.H.I.E.L.D.

“Gue udah boleh jenguk?” Dani masih menangis.

Gue menengok sebentar ke arah laboran. Dia mengangguk. Lalu, Dani diizinkan masuk ke dalam ruangan dengan pakaian laboratorium safety level 4. Pakaian keamanan yang wajib dikenakan sangat lengkap dan ketat sehingga mirip seperti astronot.

Begitu Dani masuk ruangan, gue dan Erna berdiskusi dengan seorang dokter.

“Her condition getting worse. We have no cure for this.” Katanya.

“Yeah, I get it.” Gue membalas.

“We should tell Dani earlier.” Erna nyahut.

Kondisinya Sesil terus memburuk. Badan Sesil seperti digerogoti perlahan hingga menjadi batu sedikit demi sedikit. S.H.I.E.L.D. sama sekali gak punya obat untuk nyembuhin atau ngebalik proses terrigenesis ini. Sayangnya, proses pembatuan yang satu ini sangat lambat sehingga menyiksa korbannya.

Sekilas gue teringat cerita dua tahun lalu sebelum kristal terrigen tersebar ke. Ibunya Daisy Johnson waktu itu ngebunuh puluhan agen dengan sekali hembusan kristal terrigen. Begitu mematikannya kristal itu buat manusia yang gak punya gen inhuman.

“I wanna see her.” Gue menyusul Dani ke dalam.

“I need some rest, then. Join with Sigit.” Erna pergi.

Sigit sudah tidur di ruang lain. Dia kecapekan karena sering buka-tutup portal, katanya. Tapi, buka-tutup portal yang dibilang Sigit justru kedengeran kaya kegiatan satpam kompleks di bayangan gue.

Di dalam ruangan, Dani terus-terusan menangis. Dia hanya bisa menatap Sesil dari balik kaca. Ruangan berlapis di sini membuat Dani tak bisa dekat-dekat dengan Sesil. Padahal, di kasur sana, seluruh bagian bawah, kedua tangan, dan pipi kiri Sesil sudah membatu.

“Dan.” Gue ikut melihat Sesil.

“Hari..” Dani refleks memegang tangan gue kuat-kuat.

“S.H.I.E.L.D. gak punya obatnya. Kita harus relain.”

“Har… Plis. Gak gini caranya.”

“Emang gak harus gini, tapi udah kejadian.”

“Gue harus gimana? Pasti ada cara lain kan.”

Gue diam sejenak menarik nafas dalam-dalam.

“Dan.. kita harus relain.”

“Nggak, Har! Nggak!”

Sesaat kemudian, badan Sesil bergetar. Proses terrigenesisnya berjalan menjadi begitu cepat. Kami hanya dapat menyaksikan bagaimana dirinya berubah menjadi batu. Kemudian, batu itu retak dan terbelah-belah di atas kasur menjadi potongan-potongan kecil.

Dua orang yang terus mengontrol keadaan Sesil di sana tidak bisa berbuat apa-apa. Di sini, tangis Dani pecah. Kedua tangannya menggedor-gedor kaca dengan kuat. Gue pun harus menariknya menjauh ke luar ruangan.

“HUUAAAAAHHHH!! HARIIIIIIIII!!!!” Tangis Dani menggema di seluruh ruangan.

“Udah, ya, Dani… Udah……”

Dani spontan memeluk gue. Kami berdua berpelukan dengan pakaian astronot ini, tapi gak sedikit pun Dani merasa risih dengan keadaan. Terpaksa gue dorong badannya dulu, lalu gue lepas helm astronotnya dan helm astronot gue sendiri.

Dani kembali menangis dan memeluk gue. Dani terus tenggelam dalam pelukan kesedihannya. Dalam pelukan itu, gue membuka handphone dan mengetik pesan di grup rahasia kami.

“Sesil udah gak ada.”

POV Jamet

Tanggal 29 Januari. Pagi-pagi banget, jam 6.

Ngapain sih Jennifer udah di sini? Mana mukaku masih kusut, mata masih belekan, mulut juga masih ileran. Bahkan, waktu buka pintu pun nyawaku masih belom ngumpul. Aku coba inget-inget. Apa kemarin aku bikin janji sama Jennifer ya? Kayanya enggak deh.

Tanya langsung lah.

“Eh, Jen. Gue ada janji sama lu gak sih?”

“Hayoo lupa.” Jawabnya.

“Nyawa belom ngumpul nih.”

“Tamu gak dikasih masuk nih?”

“Eh. Yuk deh masuk.”

Aduh, malah ngasih masuk. Aku dijebak ini kayanya. Susah deh ngomong sama anak diplomat. Jago banget persuasinya.

“Maaf ya, Jen, kamarnya masih berantakan.”

“Santai aja, Met. Nih gue bawa bubur ayam buat kita berdua.”

“Oh, iya, makasih.”

Lumayan, sarapan gratis.

“Gue bikin teh ya. Lu mau?”

“Bikin deh, boleh. Tuh dispenser di situ.”

Hasil kunjungan Jennifer yang dadakan ini bikin aku kenyang pagi-pagi. Gak rugi juga ternyata. Tapi, aku tetep belom tau apa niatnya Jennifer ke sini. Aku cek wa, gak ada chat apa-apa yang isinya janjian. Aku inget-inget obrolan di telepon, kayanya gak ada janjian juga sih.

Jennifer ngapain ya?

“Siap kita?” Kata Jennifer

“Hah? Siap ngapain?”

“Siap ngapain, siap ngapain.” Dia ngeledek. Mulutnya dimonyongin

“Aku gak tau seriusan.”

“Packing lah. Kan gue bilang mau bantuin.”

“Waduh. Masih lama kali Jen. Hahaha.”

Oalah, ternyata packing. Kata-kata ngibul yang aku pake kemarin buat berhentiin teleponnya dia, ternyata dianggap serius. Kok Jennifer jadi ngeri gini sih.

“Kan masih ada wisudaan. Ntar aku pake apaan.” Jawab gue santai

“Terus kemaren packing ngapain aja?”

“Eh.. itu, beres-beres barang yang gak kepake. Iya itu hahaha.” Mulai grogi.

“Mana barangnya sekarang?”

“Udah aku buang dong.”

Aduh. Jennifer jadi gak jelas gini.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat