Tanpa Nama Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 19

Akting

POV Dani

Usai gue menyampaikan progress penguasaan alat, mulai dari gadget milik S.H.I.E.L.D., kamera lebah, dan beberapa alat lainnya, laporan pun ditutup. Gue merangkum semua laporan dari awal dan membacakannya sekali lagi. Kemudian, gue kirimkan laporan itu ke markas besar via email rahasia.

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore.

“Saya anterin ya pulangnya, mas, mbak.” Kata Sigit.

“Sendiri aja, Git. Biar aman dari watchdog dulu kita.” Kata Hari.

“Oke deh, saya duluan kalo gitu, mas, mbak. Permisi.”

Sigit membuka portalnya, lalu dia masuk ke dalam sana. Sekarang tinggal kami bertiga.

“Eh, gue mau telepon laboran nih.” Hari memberi tahu kami.

Kemudian, Hari memencet tombol di jam tangannya. Muncullah seorang wajah laboran dari markas besar. Hari panjang lebar menceritakan kemungkinan kristal terrigen yang menumpuk di darah gue.

“Big bad news, guys. There’s something missing based on your hypothesis.” Katanya

“Which part ?” Tanya Erna

Orang itu menjelaskan kalau seafood umum yang kami makan sehari-hari tidak mungkin dapat menumpuk kristal sebanyak itu dalam tubuh. Harusnya, ada asupan masif melalui campuran dalam suntikan atau cara lain sebelumnya.

“Dani, had you ever take a medicine by injection in recent days? Cause, if you exposed by this terrigen in same moment with Kenia, she must be changed into inhuman.” tanyanya

Apa Dani pernah nyuntik?

“Nope.” Jawab Dani.

“Or, breathe? eat? Something made you insane.. or kind like that?” Tanya si laboran lagi.

“Let me think…” Dani mikir.

“Dani! Makan malem waktu itu!” Erna melotot.

Ternyata makan malem waktu! Pantes aja semuanya pada tiba-tiba sange. Kejadiannya sama waktu gue sama Kenia juga.

“Sorry?” Kata si laboran

“Two weeks ago.. I.. took dinner with my friends. After that, we…. had sex all night.” Gue menjelaskan terbata-bata. Aib.

Satu masalah terpecahkan. Tapi muncul pertanyaan baru, dalam bentuk apa terrigen itu masuk dalam badan gue? Sesuatu gas? Makanannya kak Rivin?

“Okey, I’ll try to make a medicine that can excrete terrigen in your body. Include to netralize something that made you insane.”

Gue mengangguk.

Now, stay safe from everything that contain terrigen.” Kata laboran.

“Why?” Tanya Hari

“If you exposed in same dose once again, you’ll change into stone and instantly die!”

Situasi mendadak tegang. Bulukuduk gue berdiri. Kata-kata itu menyiratkan gue saat ini dalam keadaan sekarat. Tiba-tiba layar kamera di seberang sana bergerak dari menampilkan wajah si laboran menjadi wajah seorang agen level tinggi bernama Jemma Simmons.

“Stay safe, Dani!” Katanya dengan suara tegas.

“I will.” Jawab gue.

“And you two… uh, where’s Sigit? Whatever. You all, break the case as soon as possible!”

“You can count on us.” Kata Hari

Jemma Simmons

Komunikasi selesai. Hari kembali menelepon Sigit untuk kembali ke penthouse. Tidak lama kemudian, Sigit kembali dengan pakaian baru yang sama tidak modisnya seperti biasa.

“Habis mandi?” Tanya Hari

“Iya, mas, hehehe.” Sigit nyengir

“Cepet amat mandinya.”

Kami berkumpul menyusun strategi. Hasilnya, langkah pertama adalah cari tahu informasi dari Eda, Kak Rivin, atau pun Sesil sebagai orang pertama yang sama-sama menikmati makanan itu.

“Gue yakin, salah satu dari mereka ada hubungannya.” Kata Hari

“Kalau bukti mengarah ke pihak lain, misalnya ke pedagang atau sampai ke petani yang namem sayurannya gimana?” Gue nanya

Hari berpikir sebentar.

“Mau gak mau kita harus gali sedalam mungkin. Tapi gue rasa gak mungkin, sih. Kita ada Sigit yang bisa baca pikiran kan.”

Sigit malu-malu kucing. Dia salting.

“Bener. Tapi pertama-tama kita harus cari mereka dulu.” Kata Erna, ngelirik gue.

“Silahkan, Na.” Hari menjulurkan tangan tanda mengizinkan.

“Gak perlu, Dani udah tau kok.”

“Maksudnya?” Hari sama Sigit ngeliat gue.

“Mau gue atau lu yang jelasin, Dan?” Kata Erna sambil melipat tangan di dadanya

Mampus. Ketahuan. Gue cuma bisa menghela nafas.

“Emang ye manusia penyadap gak bisa dibohongin. Jadi gini, gue udah ngawasin Eda seminggu ini.” Gue menjelaskan.

Gue membuka laptop lagi, lalu menyalakan kamera lebah yang inaktif tapi tetap pada GPS sensor muka Eda. Gue gak mau kecolongan lagi setelah kehilangan jejak Eda tadi siang. Kemudian, kami semua mengamati Eda yang sekarang sedang mengantar Kak Rivin pulang ke kostan dengan mobilnya.

Mereka semua ngeliatin gue dengan mimik ‘sumpeh lu’nya.

“Kita cegat?” Tanya Sigit.

“Terlalu mencolok. Tunggu di kostannya aja.” Jawab Erna

“Yang jalan siapa aja?” Tanya Sigit lagi.

“Gue aja sama Erna. lebih aman.”

“Jangan lah! Inget kata agen Simmons? Stay safe!” Hari marah.

Kami berdebat berdua. Tapi akhirnya, kami sepakat yang pergi tetap Dani dan Erna karena itu kostan cewek, meski pun cowok bebas masuk. Apalagi, kalau gue kelihatan berdua sama cowok, Eda pasti langsung marah karena gue yakin emosinya sama labilnya kaya gue.

“Stay safe, Dan.” Pesan Hari.

Gue dan Erna bersiap dengan barang kami masing-masing. Alat-alat agensi praktis sudah gue masukkan ke tas, lalu kami berdua masuk portal yang dibuat Sigit. Kami secepat kilat berpindah tepat ke satu sudut jalan yang sepi di dekat kostan. Saat itu pula gue melihat Kak Rivin keluar dari mobil milik Eda.

Kami berdua sembunyi di balik pagar rumah orang dan mendengar percakapan mereka.

“Yakin gak mau mampir?” Kata Kak Rivin.

“Gak deh, jangan di kostan kamu. Nanti ada Dani.”

“Kalo gitu kapan-kapan aku ke tempat kamu deh ya. Biar bisa masakin lebih sering.”

“Eh?” Eda kaget

“Udah jawab aja iya.”

“Iya, Rivina.” Eda jawab dengan suara memanja.

Aku-kamu. Masakin. Suara manja. Mesra banget ya Eda sama Kak Rivin. Nafas gue gak teratur melihat mereka berdua sedekat itu lagi.

“Sabar, Dan. Sabar. Kita lagi tugas.”

“Iya.”

Mereka berdua berpisah di sana. Eda pergi dengan mobilnya dan Kak Rivin berjalan pelan menuju kostan. Kami masih bersembunyi hingga merasa aman.

“Halo, Har, Git? Liat juga kan? Ikutin yang mana nih?” Erna menghubungi dengan jam tangannya.

“Kalian ikutin Kak Rivin aja. Sigit udah siap ngikutin Eda.” Kata Hari.

“Roger.” Erna membalas.

“Rojar rojer.” Hari ngeledek.

Komunikasi selesai.

Begitu Kak Rivin masuk ke pagar kostan, kami berdua bergerak masuk ke dalam kostan. Kemudian, kami bertingkah berjalan kelelahan seolah habis melakukan kegiatan seharian. Gue berakting mengajak Erna masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.

“Eh, Dani, baru pulang? Ada Erna juga.” Kak Rivin menoleh.

“Iya kak, nemenin Erna bolak-balik ngurusin sisa berkasnya.”

“Buat wisuda?”

“Iya.” Erna gantian menjawab singkat.

“Oh, kirain lagi bareng Eda. Gak pulang-pulang sih.” Kata Kak Rivin dengan senyumnya.

Wah udah mulai main licik Kak Rivin rupanya. Baru aja pulang jalan sama Eda, pakai pura-pura gak tau segala. Kak Rivin yang sangat baik bisa cepet banget berubah ya sejak berhasil deket lagi sama Eda.

“Kak Rivin dari mana? Kayanya baru pulang juga?” Gantin gue nanya.

“Abis jalan sama temen-temen ini.” Gue bohong lagi

“Loh? Gak kerja?” Gue tembak loh.

“Sekarang kan Sabtu, Dan.”

Oh iya, sekarang Sabtu. Gue sampe gak sempet mikir lagi karena saking geregetannya dengan orang ini. Gue cengar-cengir sendiri karena bingung mau ngomong apa lagi. Erna juga diem doang, kayanya lagi fokus sama kemampuan sadapnya.

“Kak, masakin lagi dooong.” Gue bicara lagi

“Boleh, boleh. Ada bahan kok di kulkas. Ntar ya, aku mandi dulu.” Jawab Kak Ririn.

Kak Rivin beranjak masuk ke dalam kamarnya. Erna langsung nengok ke gue dengan gaya khas melototnya. Gue merespon juga dengan menarik Erna menuju kamar gue. Gue merogoh kantong untuk mengambil kunci, lalu kami masuk ke dalam kamar.

“Gila! Inget dong! Stay Safe, Dan.” Kata Erna

“Iya, iya, gampang ntar. Yang penting kita tahu dulu apa yang direncanain Kak Rivin.” Kata gue.

“Jangan gampangin. Pokoknya lu gak boleh ikut makan ya.”

“Gue kepikiran rencana, Na. Gini…”

Gue menjelaskan. Abis ini gue mau ngabarin anak-anak yang lagi ada di setiap kamar untuk makan bareng ntar malem. Sambil nunggu Kak Rivin mandi dan masak, Erna melakukan penyadapannya ke seluruh area kostan dari kamar gue. Target utama sih sebenernya Kak Rivin, jadi semua kata-kata dari mulutnya, chatnya, hingga telepon harus bisa diketahui sebelum makan malam.

Kalau benar, gue bisa pindai kandungan terrigen dari masakan matangnya sebelum dimakan anak-anak. Gue menunjukkan sebuah alat berbentuk stick dari dalam tas yang berfungsi khusus memindai kadar terrigen dalam konsentrasi minimal tertentu. Alat ini akan berbunyi nyaring dan berpendar begitu dinyalakan dan ada di dekat Terrigen.

Kelar. Anak-anak gak jadi makan racunnya. Kak Rivin ditangkap.

“Oke, gue koreksi ya.” Erna menyahut.

Gue mengangguk.

“Pertama, kenapa gak lu scan sekarang isi kulkasnya? Kedua, kalau alatnya lu yang pake, pasti bunyi terus kan.”

“Iya sih.” Gue baru kepikiran.

“Ketiga, gimana kalo gue gak nemu apa-apa sampai makan malem? Keempat, misalnya di makannya gak kedeteksi terrigen, gimana acara makan-makannya? Tetep jadi?”

Aduh, banyak banget pertanyaan Erna. Rencana gue kedengarannya mentah banget.

“Santai, Dan. Bagusnya gini aja. Tugas lu, scan sekarang tuh isi kulkas sebelum Kak Rivin selesai mandi. Abis itu panggil anak-anak buat makan malem bareng. Tugas gue, nyadap semaksimal mungkin seluruh keadaan di sini.” Erna memberi strategi.

Gue ngangguk-ngagguk.

“Oke. Kalau berhasil, kita tangkap Kak Rivin dan bawa ke penthouse untuk interogasi.” Gue bersemangat.

“Sip. Kalo terrigen gak kedeteksi dan gue gak nemu bukti. Pokoknya lu jangan ikut makan. Bilang aja sakit perut atau apa kek.” Erna nambahin.

Selesai sudah rencana buru-buru ini. Kami berdua mulai bergerak masing-masing untuk melakukan tugas.

POV Sigit.

“Berangkat, mas.” Aku pamit ke Mas Hari.

Aku pergi masuk ke portal, lalu berpindah ke salah satu gang kecil dekat apartemen Mas Eda. Selanjutnya, aku masuk ke salah satu warteg terlebih dulu untuk membeli seporsi makanan.

“Bu, dibungkus satu. Pakai babat, labu, sama terong.”

Setelah bungkusan makanan diberikan, aku berjalan pelan menuju pintu apartemen. Tepat setelah aku sampai di depan pintu lift, Mas Eda datang dan memarkirkan mobilnya.

Begitu Mas Eda berjalan ke arahku, aku mulai berakting merogoh saku dengan raut wajah kebingungan.

“Kenapa, mas?” tanyanya.

“Gak tau nih, kayanya kartu pass saya ketinggalan di kamar.” Kataku.

“Kamarnya nomor berapa, mas?” Tanyanya lagi.

“2104.”

“Yaudah bareng saya aja masuk liftnya.” Kata dia sambil menempelkan kartu pada sensor.

Kami berdua menuggu lift yang baru bergerak turun.

“Maaf ya mas ngerepotin, saya abis beli makan tadi.” Aku mulai berdiplomasi

“Iya. Gapapa kok.” jawab mas Eda.

“Udah lama di sini, mas?”

“Saya dah empat tahun. Kalo Mas sendiri?”

“Saya baru masuk tengah bulan ini. Nama saya Rahman.”

Gue menjulurkan tangan untuk bersalaman, dan tentunya bohong soal nama. Rencana berjalan mulus.

“Oh, saya Hendra. Panggil aja Eda.” Dia menyambut tanganku.

“Tetanggaan kita kan, harus saling kenal.” Aku bergurau.

Kami berangsur masuk ke dalam lift, kemudian menekan tombol lantai masing-masing. Selama beberapa saat kami bercengkrama layaknya tetangga baru kenal. Tapi, perbincangan itu hanya sebentar karena lift telah sampai lantai 21.

“Duluan, Mas. Makasih banget lho ya.” Aku pamit.

“Iya, santai aja.” Jawabnya

Lift tertutup, bergerak lagi ke atas menuju lantai 29. Misi sukses! Pikiran terbaca! Aku memencet tombol lift lagi untuk turun keluar apartemen. Sesampainya di bawah, aku berjalan keluar kembali ke dalam gang sepi, lalu membuka portal menuju penthouse.

“Misi terlaksana, Mas Hari.” Kataku.

“Oke. Jadi gimana, Eda? Dia terlibat?”

“Nggak.” Jawabku singkat.

“Yaelah.”

“Saya ceritain lengkapnya nih ya…”

Aku menceritakan hasil pikiran Eda. Kepribadiannya belakangan ini lagi labil. Dia punya kekhawatiran Kak Rivin hamil gara-gara pesta itu. Di sisi lain, dia juga gak sadar mulai jatuh cinta, tapi masih inget Dani sedikit-sedikit.

“Terrigennya gimana?” Mas Hari nanya lagi.

“Dia gak tau apa-apa soal kristal terrigen. Bersih.”

“Ya ampun, Eda, temen gue.” Mas Hari garuk-garuk kepala.

“Kenapa, Mas?”

Perutku mulai keroncongan.

“Oke lah ya, gue tau penyebab labilnya sama kaya Dani. Tapi kalo udah bawa-bawa perasaan bisa berabe.” Jelas Mas Hari.

“Cinta rumit ya, Mas.” Aku iseng bicara.

“Iya lah. 3 anak labil, si Eda, Dani, sama Kak Rivin rebutan cinta.”

“Saling jambak-jambakan bisa kali.”

Kami berdua kembali menatap layar lebah yang terus mengikuti Eda sampai kamarnya. Dengan mode siluman, kamera kaya gini tetap gak akan kelihatan meski di ruangan kecil. Tapi sesuatu yang dilihat membuat mas Hari menutup laptop itu cepat-cepat.

“Anjir. Coli. Nyebut-nyebut nama Kak Rivin pula.” Kata Mas Hari ketawa

“Hahaha.” Aku ikut ketawa.

“Geblek lah.”

Perutku bunyi lagi.

“Saya makan dulu ya, Mas. Laper.” Aku membuka nasi bungkus yang tadi dibeli.

POV Dani

Gue berjalan menuju kulkas, lalu memindai semua kandungan makanan yang ada di sana. Gue memindai sambil merentangkan satu tangan yang memegang stick jauh-jauh. Hal ini gue lakukan supaya tidak bias dengan terrigen yang ada di tubuh gue.

Kalau dilihat, pasti posisi gue lagi aneh banget sekarang. Gue berganti-ganti dari berdiri hingga setengah jongkok dengan posisi satu tangan yang direntangkan. Persis seperti orang yang jijik karena megang anak kucing habis kecebur got.

Berkali-kali gue pindai, hasilnya nihil. Gak ada sama sekali kristal terrigen dari bahan di kulkas. Gue kemudian kembali ke kamar untuk menaruh stick. Di atas kasur, Erna duduk bersila kaya patung. Dia gak bergerak sama sekali, sehingga mengundang gue menyalakan kamera handphone untuk merekam Mannequin Challenge.

“Kulkas nihil, Na. Semoga lu sukses deh.” Gue ngelapor.

“Semoga.” Jawabnya pelan.

Selanjutnya, gue mengetuk kamar anak-anak. Ada 6 orang yang lagi ada di kostan. Semuanya gue ajak makan malem bareng. Kalo dilihat dari jumlah bahan makanan di kulkas kayanya sih cukup buat semua orang.

Semoga malam ini ada hasil.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat