Tanpa Nama Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 1

Munculnya Setan

POV Hari

Gue pamit pulang sama anak-anak. Jamet juga bilang ibunya nyuruh balik ke Malang beberapa hari. Akhirnya kita berpisah di depan polsek. Sebenarnya, gue tidak benar-benar pulang. Gue pergi ke sebuah gang kecil dekat polsek, tempat perjanjian pertemuan gue sama Agen Coulson.

“It’s okay, everything handled properly by local police.” Kata gue

“Slow down, youngster. I got suspiciousness about this.”

“Sabotage? Inhuman?”

“Probably, but this one not in list of Sokovia Accords. This one act like a… Ghost or something.”

Hantu? Setan? Orang bule masih percaya setan?

“You know, we have a bussines with the devil since weeks ago.”

“But I also have my own bussines. Really busy ‘till February.” Gue mengusap-usap kepala

“I know. So I brought to you a partner. Please move for a while from your boarding house.”

Gue disuruh pindah dari kostan. Kayanya kalo udah begini urusan bisa serius sih. Yang terpenting, gue gak mau Avengers sampai datang ke sini. Bisa parah kejadiannya nanti kaya New York, Sokovia, atau Lagos. Bisa-bisa, identtitas tersembunyi gue juga terbongkar. Parahnya, orang-orang bakal jadi takut sama gue.

“Where is he, now? My partner?”

“She.”

“SHE?” Gue kaget

Makin gila. Partner gue cewek. Gue kemana-mana bakal sama cewek bule dong.

“She’s on your new room.”

Agen Coulson ngasih alamat dan kunci kamar ke gue. Tepatnya kunci apartemen. Gak jauh dari kampus sih.

***

Tengah malem ini gue lagi naik gojek sambil bawa tas yang isinya beberapa baju dan alat mandi besok. Sisa barang-barang gue ambil nanti-nanti aja. Di tengah jalan, gue ngelamun, abang gojek ini sangat baik hati mau mengantarkan gue tengah malem gini. Kayanya gue harus kasih lebihan deh buat si abang.

Sesampainya di lantai bawah apartemen itu, gue menempelkan ID card di pintu masuk menuju lift. Gue tekan tombol naik, gak lama kemudian pintu lift terbuka. Lantai 15. Gue berjalan menyusuri lorong, menuju ruangan sesuai nomor tang tertera di kunci.

Sesampainya di kamar, gue sedikit terkejut karena ternyata ruangan ini ada dua kamar. Selain itu, gue penasaran sama partner gue, katanya sih udah ada di sini. Gue cari ke kamar mandi gak ada, gue cari di kamar dua-udanya juga gak ada. Biarin aja lah. Agen S.H.I.E.L.D. gak mungkin bisa hilang di Depok. Gue udah terlalu ngantuk hari ini.

Gue lihat ada tumpukan barang di salah satu kamar deket jendela. Gue rasa ini berarti kamarnya doi. Jadi gue pilih kamar yang satu lagi. Gue lepas tas, lepas sepatu, lepas celana jeans, nyalain AC, gak pakai mandi, langsung tidur.

POV Eda

Gue terbangun pagi-pagi. Jam 6 pagi. Dani udah bikinin gue teh manis panas. Tadi malam penis gue dipelintir sama Dani. Gak keras sih, cuma sepertinya Dani ngambek dan langsung tidur. Tapi, ternyata pagi ini udah baikan lagi kayanya.

“Udah bangun, coy?” Ledek Dani

“Menurut lo.”

Dani udah ganti baju. Sekarang dia pakai kemeja putih polos kebesaran dan g-string hitam. Dani memang sudah sering tinggal di apartemen gue. Bahkan lebih sering daripada di kostannya sendiri. Makanya dia selalu menyimpan baju di sini.

Penis gue berdiri.

“Minum tehnya dulu. Nih roti.” Kata Dani sembari memberi roti selai cokelat ke gue

“Gue sange, Dan.”

“Abisin dulu!”

Setelah gue menghabiskan teh dan roti dari Dani, kami bergumul lagi di balik selimut dan dinginnya ruangan berAC pagi hari. Lima kali Dani orgasme, dua kali gue orgasme. Puas.

“Ikut ngampus hari ini?” Tanya gue sambil mengambil handuk.

“Gue mau ke Jobfair hari ini.” Katanya sambil mengurus keperluan interview

“Kok gak bilang dari kemarin? Gue anterin ya.”

“Makanya lulus buruan biar bisa anterin gue tiap hari. Lu aja masih sibuk skripsi.”

“Ini juga tinggal sidang sayaaaang. Senin depan.”

“Sayang pala lu peyang.”

Jam delapan, kami beres-beres. Gue anterin dulu Dani ke jobfair di Jaksel pakai mobil. Mobil yang merupakan hadiah ultah yang boros dari bokap. Katanya, zaman sekarang cowok harus bisa bawa mobil. Makanya, gue dikasih mobil buat latihan sendiri. Padahal gue juga udah bisa bawa mobil sebelumnya dan gak ngarep dikasih mobil.

Setelah mengantarkan Dani, gue ngampus. Anak-anak di kampus terkejut. Gue juga terkejut. Hari bawa cewek cakep. Gue buru-buru ngambil foto candid dan langsung mengirimkan ke WA Dani dan Jamet.

“Gandengan baru Hari nih. Wkwkwkwk.” Begitu bunyi teks yang gue tambahkan.

POV Hari

Momen awkward. Pagi ini gue kaget setengah mampus ketika ada cewek di sebelah gue. Matanya fokus memperhatikan gue kaya orang yang wajib diawasi 24 jam. Gue udah mengantisipasi supaya gak salah kamar, eh ternyata tidurnya malah sekasur. Otomatis gue loncat dari kasur, tapi doi malah ketawa ngakak sambil berangsur duduk ke tepian kasur.

Gue perhatikan si cewek ini dari ujung kaki sampai kepala. Tingginya kayanya hampir sepantaran gue, 170an centimeter. Mukanya rada latin gitu, atau muka orang Jawa ya? hidungnya lumayan agak mancung, matanya coklat, kulitnya putih, tapi gak putih banget kaya ras kaukasian atau jepang. Model rambutnya pendek kaya potongan akademi polisi.

Doi memakai piyama longgar, celana panjang, tapi transparan sampai Payudaranya nyembul dan putingnya nyeplak. Sumpah, penis gue tegang seribu persen. Lebih tegang daripada waktu sama Puri dulu, di tambah efek cowok dengan kesehatan normal yang baru bangun tidur juga.

“Pagiiii. Kaget ya? Hahahaha.” Dia ketawa lepas. Bahasa Indonesianya lancar.

“Bisa bahasa Indonesia?” Gue tanya balik

“Gue Soemita, Akilina. Panggil Lina aja ya.” Katanya sambil cekikikan. “Lu Hari, kan?”

“Kode S.H.I.E.L.D.?” Gue gak percaya

“Nama asli dong. Kalau kode, Celepuk Merah. Otus rufescens.”

“Nama burung hantu? Beneran nih?”

“R-A-H-A-S-I-A.” ledeknya

Lina (Akilina Soemita)

Oke. Gue inget-inget namanya.

“Inhuman?” Gue tanya doi

“Iya. By the way, yang di bawah berdiri tuh hahaha.”

“Aduh jadi malu. Bentar gue pakai celana panjang dulu deh.”

Gue malu banget. Tapi, tiba-tiba tangan gue ditahan dan boxer gue langsung ditarik ke bawah. Penis gue langsung berdiri tegak. Lina mendorong pelan badan gue di sampai terbaring ke kasur. Gue yang masih horny berat jadi nurut-nurut aja. Tapi pas lihat jam, gue ternyata udah harus ke kampus untuk ngurusin sisa berkas lagi hari ini, sekalian revisian. Akal sehat gue kembali, sampai kemudian penis gue masuk ke dalam mulutnya yang basah.

“Ahhhh… Linaaa..”

“Hmmmmm…”

“Jangan lama-lamaaaa… Gue harus ke kampus. Uhhh…”

Seketika permainan mulut Lina makin ganas. Gak sampai tiga menit sperma gue langsung muncrat di dalam mulutnya. Banyak banget. Dulu padahal waktu sama Puri sepuluh menit gue masih tahan gak keluar.

“Udah nih.” Kata Lina dengan santainya.

***

Cewek gila. Baru ketemu langsung ngasih oral. Gue malah nurut aja lagi. Sekarang kita udah mau sampai kampus. Gue udah bilang gak usah jalan berdua biar gak ada kejadian yang aneh-aneh. Bisa jadi sasaran kita sadar juga ntar. Tapi tetap aja Lina maunya bareng gue.

Sekarang kejadian kan. Temen-temen dan adik tingkat pada ngeliatin gue bawa cewek cakep ke kampus. Banyak yang nanya, banyak yang ngeledekin juga. Gue juga ngelihat Eda baru datang dan sedang terburu-buru ke ruang mikrobiologi sambil memegang gadgetnya. Kami tidak sempat sapa-menyapa.

Gue ajak Lina ke lab lain, tempat biasa buat duduk-duduk, biar gak jadi pemandangan orang-orang.

”Gue mau ngurus berkas sebentar. Lu mau di sini atau ikut?”

“Gue di sini aja deh.”

“Yaudah. Habis ini kita share info ya. Gue ke TU dulu.”

“Bye-bye.” Lina melambaikan tangan.

Ruang TU bersebelahan dengan ruang kuliah anak S2. Ketika lewat, gue melirik sebentar ke dalam ruangan. Ada Puri di sana, bangku terdepan. Tiba-tiba, pandangan kita bertemu. Gue kembali melengos menuju TU.

Di TU, gue ngerasa ada orang yang duduk di samping gue. Tapi gak ada orang di sebelah gue. Masa sih ada setan siang-siang gini?

Gue singkirkan pikiran aneh-aneh itu dan lanjut ngurus berkas. Satu jam kemudian berkas kelar. Tinggal ngasih berkas lanjutan dan yang tersisa serta CD skripsi hasil revisi ke dekanat. Gue pikir-pikir ternyata gampang juga ngurus berkas, pantesan Jamet santai-santai aja. Revisi semingguan kelar juga kali ya.

Gue memutuskan kembali ke lab.

Sesampainya di lab itu, Lina sedang membuka gadget berlayar besar. Gadget tersebut tampaknya juga terkoneksi dengan jaringan S.H.I.E.L.D. di markas besar.

“Wih punya S.H.I.E.L.D. tuh?” Kata gue.

“Eh, udah selesai, Har?” Lina menoleh.

“Udah. Dari tadi ada yang ke sini gak?” Gue duduk di sebelah Lina.

“Gak ada. Eh, nih coba lihat deh.”

Lina menunjukkan denah lokasi kampus dan sekitarnya, termasuk kafe yang meledak kemarin. Tidak mencurigakan, bahkan menurut gue gak ada pola aneh sama sekali dalam kejadian tersebut. Selanjutnya, lina merubah tampilan ke gambar tabung gas yang meledak.

“Ini, coba lihat.”

Gue diperlihatkan deretan ilustrasi struktur gambar tabung gas itu. Baru lah gue bisa membaca sebuah keanehan.

“Dari sini sampai sini, tabung gasnya mulus, tapi dari gambar yang itu seperti ada sobekan sedikit dari mulut tabungnya. Bener, gak?”

“Betul, perubahannya terjadi saat tabung itu mau dipakai.”

“Tikus?”

“Bukan, sih. Mungkin sabotase.”

Gue manggut-manggut.

“Coba lihat gambar ini juga, mulut selang juga seperti ada robekan karena benda tajam.” tunjuknya

CTAK!

Ketika kami sedang menganalisis, tiba-tiba lampu mati. Suaranya persis seperti seseorang yang menekan sakelar untuk mematikan lampu. Tapi tidak ada orang sama sekali di ruangan kecuali gue sama Lina.

Seketika ruangan menjadi remang-remang. Hanya ada cahaya dari celah kipas exhaust yang menerangi ruangan. Lalu, terdengar suara lemari kayu di dekat pintu masuk dipukul-pukul. Hal makin aneh terjadi lagi, pintu lemari tersebut mengayun-ayun terbuka dan tertutup.

Sebuah buku terlempar. Gue menghindar. Kemudian, makin banyak buku terlempar. Kami berlindung di bawah meja. Sampai suatu ketika tidak ada buku terlempar lagi, gue bangkit dari balik meja. Tapi yang terjadi kemudian pintu lemari lainnya justru terbuka satu per satu. Gue perhatikan pintu lemari tersebut seperti dibuka oleh sesuatu, dan sesuatu tersebut perlahan mendekati kami.

Sebuah bangku terlempar ke arah gue. Gue refleks mengarahkan tangan kiri ke arah bangku yang melesat. Seketika bangku tersebut berhenti di udara sebentar, lalu terjatuh.

Lina menyusul bangkit dari balik meja. Kulihat matanya berubah. Pupilnya yang hitam jadi membesar, mata bagian putihnya menjadi berwarna kemerahan, persis seperti nama kodenya, celepuk merah. Dia pergi menghampiri lemari dan tiba-tiba tangannya mengepal, mengayun memukul sesuatu di udara, seperti gerakan memukul.

Gue bengong.

Tiba-tiba dari udara yang kosong tersebut muncul sosok berwarna hitam, setengah transparan, tanpa wujud, hanya bentuknya mirip manusia. Dia terpelanting jatuh akibat pukulan Lina.

Gue sekarang ternganga. Setan beneran ada!

Seketika perkelahian terjadi antara Lina dan setan tanpa wujud. Si setan berkali-kali bisa memukul Lina, tapi Lina hanya sesekali mengenai si setan. Banyak pukulannya yang hanya menembus badan si setan.

Perkelahian cukup alot, gue tidak bisa membantu apa-apa karena tidak tahu cara menyentuh si setan. Tapi, lambat laun sepertinya si setan kelelahan dan gerakannya melambat. Lina berhasil menyentuh si setan dan memukul bertubi-tubi ala-ala film The Raid.

Sayangnya, sesaat kemudian si setan mendapatkan kesepatan lari menembus tembok saat jeda Lina menarik nafas. Suasana hening. Saklar lampu dinyalakan lagi oleh Lina. Keterkejutan gue mulai mereda, lalu menyadari bahwa di ruangan ini banyak buku inventaris lab bergeletakan.

Lina mengambil kamera tersembunyi yang dipasangnya di beberapa sudut ruangan.

***

Usai beres-beres lab, kami berdua memutuskan untuk pergi dari kampus. Kembali ke apartemen. Lina tetap stand by dengan mata celepuknya di balik kacamata hitam, berjaga-jaga kalau si setan mengikuti kami. Sebelumnya kami mampir di kostan gue untuk membawa barang-barang lebih banyak. Untuk sewa kamar kost yang gue tinggalkan sementara, sebenarnya masih ada jatah sampai bulan Maret.

Sore hari menjelang Maghrib, di apartemen, tepatnya di kamarnya Lina, kami menganalisis kembali kejadian tadi. Gue yakin itu setan, Lina yang gak yakin, dengan alasan setan gak selemah itu. Katanya, di Markas pusat juga sedang ada setan dan dia berhasil memukul direktur S.H.I.E.L.D. yang baru sampai pingsan, padahal direktur baru itu adalah inhuman yang kebal pukul.

Menurut penjelasan Lina, dia mampu mencium bau badan yang berbeda-beda. Kemudian, ada bau orang asing di dekat gue dan dia sejak masuk ke gedung kampus. Baunya sangat berbeda dari gue, temen-temen gue, atau pun Lina sendiri. Setelah itu, dia memutuskan untuk tidak ikut ke TU dengan harapan bisa memecah target si setan. Ternyata yang diikuti adalah gue.

Kesempatan itu dipakai Lina untuk menaruh beberapa kamera, kalau sewaktu-waktu makhluk itu balik lagi. Dan kini, rekaman sudah dikirim ke markas untuk dianalisis.

“Sekarang, gue masih bingung dengan cara bertarung dia. Kadang bisa dipukul, kadang nggak.” Kata Lina.

Selama perbicangan, gue sering mencuri pandang ke arah mata Lina yang berada dalam mode celepuk. Ngeri liatnya. Tapi, dari kengerian itu gue justru teringat sesuatu. Gue inget tokoh kartun yang mirip sama si setan ini.

“Eh, gini, Lin. pernah nonton Naruto gak?” Tanya gue

“Cukup tau doang sih. Gue gak pernah nonton anime.” Jawab Lina

Gue menjelaskan beberapa teori yang menjelaskan kemampuan tersebut. Pertama, yang paling mirip dengan cerita naruto, yaitu Sharingannya Obito. Tapi, karena kekuatan mata berdasarkan keturunan sampai sekarang belum pernah ada, maka kemungkinan tinggal dua, Inhuman atau setan. Setidaknya kemampuannya mirip tokoh kartun itu.

Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang. Konsentrasi kami pecah. Lina memutuskan mandi dan gue memutuskan untuk beres-beres barang. Gue baru ingat kalau belum mengabari nyokap. Kalau nyokap gue tahu gue pindah ke apartemen gimana ya? Boleh gak ya gue tinggal bareng cewek? Hmmmm…

Gue tidur di kamar gue. Lina tidur di kamarnya.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat