Tanpa Nama Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 17

Kita Bantu

POV Hari

Erna terus melanjutkan ceritanya…

“Setelah balik ke jakarta, gue denger ada satu komunikasi yang bikin gue curiga. Gue ikutin suaranya, sampe ketemu seorang cewek yang ternyata agen S.H.I.E.L.D. Lupa gue namanya. Seumuran gitu.” Jelas Erna.

“Lina bukan sih?” Gue nanya.

Dani cuma mendengarkan tanpa ngomong sama sekali dari tadi. Masih shock kali dia, dua temen kampusnya ternyata inhuman.

“Oh, iya. Lina. Akilina. Dia yang bawa gue ke S.H.I.E.L.D. untuk latihan. Cuma dua minggu latihan udah boleh pulang.”

Ah, kampret lah Lina. Gak cerita apapun kalau ada temen gue yang inhuman juga. Gue ngomel sendir dalam hati. Awas aja Lina kalau balik ke Indonesia lagi.

“Terus sekarang lu jadi agen?” Tanya Dani

“Gue belom mau. Denger suara-suara sama warna-warni aja udah pusing.”

“Jadi sebenernya kemampuan lu kaya gimana sih?” Gantian gue nanya.

“Bisa ngelihat warna di luar spektrum cahaya tampak, yang kadang bentuknya tulisan. Gue juga bisa denger suara dari frekuensi mana pun tanpa jadi budeg.”

“Contohnya?” Gue nanya lagi

Erna menjelaskan banyak warna yang belum dapat dijabarkan, yang dia juga gak bisa jelasin. Warna itu wujud dari gelombang suara yang dia denger. Dia nyontohin bisa denger suara telepon orang yang booking cewek panggilan di kamar atas, atau ngebaca teks pesan terkirim dari orang di kamar bawah. Kalau lagi fokus banget, katanya, komunikasi radio pesawat yang lagi terbang 5 ribu meter di atas kami bisa dia dengar.

“Hebat banget! Lu bisa masuk ke komunikasi mereka juga dong?” Gue kembali bertanya.

“Sayangnya gak bisa. Kemampuan gue mirip semacam alat sadap gitu lah.” Jelasnya.

“Ooooh. Jadi, lu tau informasi gue janjian ketemu sama Dani gara-gara itu.”

“Yap, sejak di bis pulang dari Papandayan.”

“Ooooh.”

“Sekarang gue nanya ya. Sigit siapa?” Erna menyelidik.

Oke lah, mau gak mau gue telepon Sigit sekarang. Gue membuka kunci layar telepon, dan mencari kontak Sigit.

“Halo, selamat sore, bisa berbicara dengan Sigit?”

“Iya, saya sendiri. Maaf, ini siapa ya?” Suara Sigit di seberang telepon.

“Halo, Git. Ini gue Hari. Ke sini sekarang gih.”

“Eh, iya halo, Mas Hari. Sini mana, Mas?”

“Gue ke Papandayan aja lu bisa tau. Masa di sini gak tau.”

“Becanda, Mas. Oke bentar ya.”

Gak sampe satu menit, kamar gue diketuk.

“Mas Hari, Mas?” Suara Sigit mengiringi ketukan pintu.

Gue buru-buru membuka pintu dan mengajak Sigit masuk ke dalam. Penampilannya gak beda waktu pertaman ketemu di Papandayan. Kaos polo, celana bahan, dan sendal jepit. Kali ini ditambah ada tas kecil yang dia bawa.

“Geblek dah. Langsung ke dalem bisa kan? Kalo diliat orang gimana?” Gue ngomel.

“Gak enak kan kamar orang.”

“Sopan amat dah lu.”

Gue mengenalkan Sigit kepada Erna. Mereka berdua bersalaman. Sumpah, deh Sigit ini anak tersopan yang pernah gue temuin.

“Oke, Git. Jadi gini, kita ketambahan temen lagi. Ini Erna, dia Inhuman juga.” Gue menengahi.

“Ooh, oke.” Jawabnya

“Perlu dijelasin dari awal apa gimana?” Gue nanya.

“Gak usah, Mas. Intinya Mbak Erna ini semacam bisa nyadap kan?”

“Nguping ya lu!” Dani nyeletuk.

“Nggak, kok. Saya baru aja tau tadi.”

Sigit membuka kalimat penjelasannya dengan “Jadi, saya bukan, inhuman, Mas, Mbak. Maaf kalo mengecewakan.”

Dia bercerita dua tahun lalu waktu kuliah semester 2 dia diajak teman dan senior-seniornya mendaki Everest. Tentunya persiapan mereka dimulai berbulan-bulan sebelum berangkat. Sayangnya, saat pendakian, badai salju memisahkan Sigit dengan rombongannya.

Sigit ditolong oleh masyarakat lokal. Tapi karena keterbatasan komunikasi, mereka gak bisa menghubungi kedubes Indonesia secepatnya. Dia dibawa menginap di kota kecil di Nepal, dan bertemu seseorang berjuluk Ancient One.

“Saya tinggal di sana sampai sembuh, Mas, Mbak. Di sana saya diajarin hal di luar nalar manusia. Mungkin bisa dibilang penyihir kali ya.”

“Ajarin gue dong. Gue mau jadi kaya Harry Potter.” Dani memelas bercanda.

“Dan.” Gue menyenggol Dani.

“Sayangnya, kalo bukan Master gak boleh ngajarin, Mbak Dani.”

“Yeh, ini anak pake ditanggepin.” Gue tepok jidat.

Sigit menceritakan November kemarin Ancient One meninggal dunia dan murid-muridnya terpecah belah. Ada yang meneruskan kegiatan perguruan bersama seorang bernama Master Hamir, ada yang ikut membelot bersama seorang bernama Mordo, lalu banyak juga yang memilih pulang kampung seperti Sigit.

“Saya pulang pakai cara normal. Saya hubungi kedubes Indonesia, terus pulang naik pesawat. Keluarga saya nangis-nangis waktu tahu saya masih hidup. Tapi entah gimana, baru tiga hari sampai di rumah, saya diculik watchdog.” Kata Sigit.

“Kok gak ngelawan?” Gue nanya.

“Sihir saya gak kuat banget mas. Masih pemula. Cuma bisa fokus bertahan, nyari orang, baca pikiran kalo megang orangnya langsung, dan bikin portal. Bikin portal pun harus pakai cincin ini.”

Dia menunjukkan sebuah cincin kuningan sebesar model untuk batu akik. Dua lubang jari di cincin itu jelas diperuntukkan untuk masuk dua jari. Kata Sigit, cincinnya harus dipakai di tangan kiri terlebih dulu kalau mau bikin portal.

Kami berempat saling bertukar cerita selama beberapa bulan belakangan. Kejadian kami semua saling terhubung, kecuali Erna yang tidak tahu menahu kejadian bulan Desember kemarin.

Pembicaraan berlanjut menuju rencana Sigit memburu watchdog. Sigit dengan info yang telah didapatnya menceritakan bahwa pimpinan tertinggi watchdog ada di Amerika sana. Di Indonesia, hanya ada cabang organisasi tersebut yang dipimpin seorang bernama Irfan Fajar.

“Kaya pernah denger namanya.”

“Dia ini yang suka turun langsung nyulik inhuman. Selain Mbak Puri kemarin, saya terakhir lihat ada 5 inhuman lagi yang masih dia tahan.”

“Banyak juga.” Erna ikut berkomentar.

Gue masih mikir, kayanya pernah denger nama Irfan, tapi di mana ya? Kok lupa sih.

“Thanks infonya, Git. Oke, Dani, Erna, gue mau jelasin sesuatu lagi ya. Jadi, sejak 2 hari ini, gue udah ambil keputusan untuk jadi agen aktif S.H.I.E.L.D. di Indonesia dan ngebantu Sigit. Sebagai gantinya, gue nanti minta tolong markas besar untuk ngobatin Dani sama Kenia.”

“Gue ikut.” Erna langsung nyahut.

Erna pede sekali.

“Nyantai dulu, Na. Nyantai. Katanya tadi gak mau jadi agen?”

“Iya, Har. Tapi Dani kan sakit. Gue mau bantu lah.”

“Ini antara hidup dan mati, lho, Na.”

“Kemarin banget udah izin orang tua.”

“Gila lu ye.”

Dani jadi diam. Dia kayanya berusaha mencerna kata-kata kami.

“Har. Gue ikut bantu juga ya. Maaf jadi ngerepotin.” Tiba-tiba Dani bersuara.

“Santai aja, Dan. Ini kejadian gak keduga, kan.” Kata gue.

“Iya, Mbak Dani. Cepat atau lambat, mereka juga bakal ngebantai inhuman gimana pun caranya.” Sigit ikut menjelaskan.

“Ya, tapi kan masalahnya gara-gara gue.” Kata Dani.

“Gara-gara watchdog, Dan.” Gue ngebantah.

Kami berdebat alot dengan Dani dan Erna yang dua-duanya ngotot mau ikut ngebantu. Jelas gue bisa melarang Dani dengan mudah. Tapi kalau Erna, entah gue bisa beralasan apa. Poinnya adalah yang jelas gue gak boleh melibatkan banyak orang meski pun dia juga inhuman.

“Gue bisa bantu, Har, beneran. Kan gak harus ikut berantem.” Kata Erna.

“Masuk akal sih, Mas.” Sigit kompor.

“Git! Ah gila lu.” Gue stress

“Gue bisa nyadap mereka dari jauh, Har. Info-info penting bisa kita dapetin.” Kata Erna lagi.

“Tuh, Mas, saya gak bisa nyadap tulisan sama radio lho, Mas.” Kata Sigit.

“Terus aja jadi kompor, Git!”

Dani diam lagi.

“Fix, ya. Gue ikut. Jadi gimana selanjutnya?” Erna menyimpulkan

“Ahhh… yaudah, gue mau hubungin S.H.I.E.L.D. dulu.”

“Gue bisa bantu… di lab… gue bisa mikrobiologi.” Dani berkata ragu dan pelan.

Kami bertiga menoleh ke Dani, seolah tak yakin dia berkata itu.

“Kita gak punya lab, Dan. Udah ya, gue mau nelepon dulu nih. Jangan ribut.” Jawab gue.

“Eh, ntar Sigit gimana? Aman gak sama S.H.I.E.L.D.?” Erna nanya

“Aman, Mbak. Thor aja aman kan.” Sigit bercanda garing.

Dani bengong lagi.

POV Erna

Hari sekarang menelepon S.H.I.E.L.D. dari jam tangannya. Beberapa menit lagi kami akan dijemput dengan quinjet dari atas. Aku berusaha mengajak ngobrol Dani yang masih bermuka sedih karena tidak bisa turut membantu.

“Gue ngerti kok, Dan. Tapi, dibawa santai aja ya. Kita sama-sama berjuang pake cara masing-masing.”

“Iya, Na. Tapi cara gue apa? Gue bukan inhuman. Gue juga gak bisa berantem.” Dani mulai nangis.

“Aduuh, Dani. Jangan nangis dong. Pasti sekarang hormon lu lagi aktif banget tau.”

Sejujurnya gue gak jago menenangkan orang. Gue bingung harus berbuat apa. Gue menoleh ke arah Hari untuk meminta bantuan, tapi dia lagi sibuk. Satu-satunya harapan bantuan adalah Sigit yang lagi asik baca buku sendirian.

“Git.” Panggilku.

“Iya, Mbak?”

“Sini. Bantuin.”

Sigit mengangguk.

“Mbak, Dani. Mbak.” Panggil Sigit.

“Apaa?!” Dani nyolot.

“Ini, mbak, aku lagi baca novelnya Rick Riordan, bagus deh.”

“Lu mau ngebaik-baikin gue kan. Gak ngaruh.”

“Ih, mbaknya galak. Aku santet ntar jadi suka sama aku loh.”

“Coba aja.”

“Abrakadabra. Mbak Dani suka sama aku! Suka!”

Sigit memutar-mutar bola matanya dan mengayun-ayunkan tangannya seperti gerakan Naruto mengeluarkan jutsu.

“Garing.” Kata Dani.

Garing sih lawakannya Sigit. Tapi karena lawakannya yang garing itu diulang-ulang, aku dan Dani jadi tertawa lepas. Selanjutnya, banyak lawakannya soal gerakan-gerakan sihir yang garing. Salah satunya waktu dia mencoba meniru sihir-sihir ala Harry Potter di Nepal.

Waktu itu, katanya, Sigit melapalkan mantra ‘expecto patronum’ menggunakan sebatang kayu kering ke arah teman seperguruannya. Teman-temannya malah tertawa renyah dan mengatakan itu candaan lawas di sana. Selalu dilakukan oleh pendatang baru ber-IQ jongkok.

Lain waktu, dia nyoba terbang sambil berjalan. Ide itu dia dapatkan setelah menggabungkan pengamatannya kepada Mordo yang bisa berjalan di udara dan film kung fu China. Tapi bukannya berhasil terbang, dia malah jatuh dari lantai tiga tepat ke temannya yang lagi latihan bikin portal.

Sigit langsung pindah ke hutan tropis di Kongo, pas di depan gorila punggung perak.

“Terbang itu keren mbak. Tapi sayanya baru dikasih tau kalo ilmu terbang itu tingkat tinggi. Waktu itu untung portalnya masih kebuka, saya bisa lari balik lagi.”

Kami berdua tertawa lepas.

“Guys, ayo ke atas. Quinjetnya udah sampai.” Hari memberikan pengumuman.

Kami semua meninggalkan kamar dan beranjak ke atap gedung. Satu persatu kami naik ke quinjet, termasuk Dani yang kata Hari akan dites kesehatannya.

POV Hari

Usai negosiasi dan pengecekan kesehatan Dani. Gue pulang ke Tanah Abang dini hari. Di markas tadi, entah apa yang dibicarakan agen Coulson dengan Sigit. Aku tidak sempat diceritakan.

Sesampainya di rumah, nyokap udah tidur. Hanya Kenia yang dari ketiduran di kamar gue. Dia ngotot minta jatah lagi malem ini. Pesannya memenuhi pemberitahuan di wa gue.

“Ken, geseran, gue mau tidur.” Gue masuk ke selimut.

“Lama amat sih pulangnya, Bang?” Kenia memeluk manja.

“Tadi abang daftar S.H.I.E.L.D., jadi agen aktif.”

“Yes, aku juga mau!”

“Enak aja. Ini juga demi kamu tuh. Biar nafsu kamu gak kelewatan.”

Kenia mengigit bibir bawahnya.

“Hehehe.. Bang, bantuin lagi ya.. sekarang..”

Kenia mendekati gue, lalu menjilat belakang telinga gue. Aduh, ini anak.

***

Gue terbangun keesokan harinya. Nyokap udah berangkat kerja dan Kenia udah berangkat sekolah. Badan gue pegel-pegel semua setelah kegiatan seharian yang melelahkan. Gue baru bisa tidur jam empat setelah meladeni Kenia.

Gue membuka handphone. Ada aplikasi privat baru yang ditambahkan sejak kemarin untuk komunikasi kami berempat, Gue, Erna, Sigit, dan Dani. Ya, Dani akhirnya diizinkan ikut oleh otoritas S.H.I.E.L.D. sebagai operator alat-alat yang akan dikirim.

Erna: Pagi, all.

Sigit: Pagi mbak Erna, pagi semuanya.

Dani: Pagi all. Sopan amat sih, Git. Panggil nama aja kali.

Sigit: Gak enak, mbak. Saya paling muda soalnya hehehe.

Dani: Atur deh, gue mah bisa apa hahaha. Hari mana nih Hari?

Sigit: Mas Hari masih tidur, mbak.

Erna: Sigit gak boleh sering-sering ngintipin orang.

Dani: Paling kecapekan dia abis ngelayanin Kenia.

Chat tadi dimulai jam delapan. Sedangkan sekarang jam 11 siang. Gue membalas sekenanya untuk laporan gue udah bangun. Belum ada rencana apa-apa lagi sebelum beberapa peralatan tambahan selesai dipersiapkan di penthouse lantai atas apartemen yang gue sewa.

Erna: Guys, ngingetin lagi ya, kemarin udah dikasih tau kan kalo markas besar lagi sibuk sama watchdog di sana dan masalah baru sama robot. Jadi, kita persiapan di sini sebaik-baiknya ya.

Gue: Android, Na. Bukan robot.

Erna: Ya pokoknya itu lah.

Sigit: Oke, mbak. Kita mulai sendiri-sendiri dulu aja kali ya. Saya mau keliling lagi cari info.

Erna: Aku sama Hari kalo gitu cari info di sekitaran Jakarta ya.

Dani: Gue latihan alat di penthouse aja ya kalo gitu.

Gue: Sip. Gue sama Erna kalo gitu. Jangan lupa urusin wisuda juga ya, Na. Hahahaha

Sigit: Meeting point kalo ada apa-apa di mana?

Gue: Di apartemen aja.

Sigit: Oke.

Bergerak lah kami sesuai rencana. Di sisi lain, sebuah penthouse di lantai paling atas apartemen yang baru mulai disewa, mulai dirombak menjadi sebuah markas kecil oleh S.H.I.E.L.D.

BERSAMBUNG