Tanpa Nama Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 15

Malam Penuh Gairah

POV Dani

Sesil mendorong pelan bahu Kak Rivin. Tangannya memberi kode dengan menunjuk ke arah Eda. Belum jelas dengan kejadian ini, tiba-tiba badan gue didorong Sesil sampai terpentok tembok.

“Jangan macem-macem ya, Dani. Kita cuma mau seneng-seneng sama Eda kok.” Sorot mata Sesil tajam.

Gue mau marah. Apalagi gue lihat Kak Rivin mulai memeluk Eda dan membenamkan kepalanya di dada Eda. Entah apa yang dibisikkannya sampai-sampai Eda balas memeluk. Tapi, tiba-tiba tangan Sesil langsung masuk ke dalam celana gue hingga menyentuh belahan belahan vagina gue.

Gue refleks memeluk Sesil karena lemas seketika. Apalagi, tangannya dengan lekat menggesek seluruh permukaan luar vagina gue. Gue yang udah gak bisa perikir, balas menyambar mulutnya ganas seperti mencium Kenia waktu itu. Lidah gue bergeliat di rongga mulutnya.

“Mmmmhh… Binal juga lu, Dan.” Sesil balas melumat lidah gue.

Gue melirik apa yang sedang dilakukan Eda dan Kak Rivin. Mereka sudah terbaring bersebelahan di lantai beralas karpet sambil berciuman ganas. Harusnya gue marah, tapi nyatanya gue makin horny dan segera mengajak sesil bergabung dengan permainan.

Dengan bangganya gue membuka gesper dan resleting celana Eda. Kemudian, gue tarik celana sekaligus celana dalamnya hingga lepas. Dia gak bisa ngelihat gue karena masih asik dengan Kak Rivin.

“Keras ya, Dan. Pantes lu nagih.” Sesil megang batang penis Eda.

Gue menjawab Sesil hanya dengan berkedip.

Tangan gue dan Sesil bergantian bermain di batang hingga buah zakar Eda. Sesil mulai mendekatkan kepalanya, lalu mencium pangkal penis Eda. Dia bergerak binal di pangkal, sementara gue mulai mengulum bagian kepalanya. Gue berkali-kali juga bertemu bibir dengan Sesil sambil Penis Eda berada di antara kedua mulut kami.

Di atas sana, gue lihat Kak Rivin baru saja melepas baju dan penutup dadanya sendiri. Kemudian, dia menarik baju Eda ke atas sampai terlepas. Sekarang, Eda benar-benar telanjang bulat di depan kami bertiga. Tangan Eda bergerilya menjamah payudara Kak Rivin bergantian. Sementara itu,

Suatu ketika, tangan Kak Rivin ikut bergabung memutar-mutar pelan kepala penis Eda sambil melihat kami.

“Aaagghhh!!” Eda mengerang

Eda langsung membalik badannya hingga menindih Kak Rivin.

Gue dan Sesil yang kehilangan kegiatan, jadi beralih berciuman berdua. Gue perlahan mulai melepas satu persatu pakaian Sesil, dan sebaliknya. Begitu Sesil duluan yang telanjang bulat, badan gue ditariknya ke atas kasur. Gue ditindih dan lidahnya dibenamkan dalam-dalam ke rongga mulut gue.

Gue merespon dengan meremas-remas bongkahan pantatnya. Lalu, dilanjutkan dengan respon balik Sesil yang melepaskan celana dalam gue. Kami tiduran bersebelahan, berciuman, saling belai, meremas payudara lawan main tanpa henti.

“Edaaa! Jilat teruuus! Enaak.. Sssshh…” Kak Rivin mendesah

Gue menoleh sebentar ke karpet, ternyata kepala Eda sudah terbenam di antara kedua paha Kak Rivin. Tangan Kak Rivin mencengkeram rambut Eda kuat-kuat. Belum puas gue melihat mereka, tiba-tiba dua jari Sesil masuk ke dalam vaginaku dan langsung mengocoknya dengan cepat.

“Ahhhh!! Sesiiiiil!!!” Gue belingsatan sambil memeluk lehernya.

“Eda ganteng ya, Dan.” Bisik Sesil

“Ahhh.. Apaan deh Siiil.. ahhh…” Gue gak fokus

“Kita pinjem Edanya malem ini boleh kan.”

“Apaan.. ahhh.. SESSIILL.. AAAHHHHHH….”

Kocokan jarinya sangat cepat dan gak ada jedanya sama sekali, sampai membuat gue meracau gak jelas. Ditambah lagi dengan hembusan nafasnya di telinga gue. Sumpah, gue keenakan dengan permainan Sesil ini.

“Pinjem Edanya yaaa.” Sesil berbisik lagi.

“IYAAHHH… AAAHHH…” Gue orgasme. Squirting di kasur gue sendiri.

“Makasih, Dani.”

Gue terbaring lemas, tapi hanya sebentar. Begitu Sesil memberi cupangan di leher, gue kembali turn on. Sesil beranjak turun pelan-pelan menjilati payudara hingga pusar gue. Lalu, dia menjilati klitoris gue dengan hati-hati. Gue bereaksi menekan kepalanya agar menjilat lebih kuat.

“Ahhh… anjir lu, Sil!” Gue mengumpat

“Enak kan, Dan.” Sesil kembali memasukkan dua jarinya

“Sil, teruuus… tiga jariiii… sssshhh…”

“Liat deh Eda tuh.”

Gue menoleh ke Eda yang sekarang bersiap menerkam Kak Rivin. Penisnya sudah diarahkan menuju lubang kenikmatan Kak Rivin. Sebelum dia bergerak lebih lanjut, Eda melihat ke arah gue. Momen itu harusnya gue gunakan mencegahnya, tapi nyatanya gue justru makin horny.

***

POV Eda

“Edaaa… Sekarang.. uhhh…” Kak Rivin berbisik ke gue yang sedang menindihnya.

Penis gue sedang menikmati gesekan di celah vaginanya saat dia berbisik. Awalnya gue gak ngerti dan gak fokus. Tapi, Kak Rivin langsung memegang batang penis gue dan diarahkan ke lubang vaginya. Gue pun mengerti.

Gue bangun sejenak untuk mengatur posisi. Di atas kasur, terdengar suara Dani ngomong ‘Anjir’. Hal itu membuat gue agak sadar sedikit dan menahan diri. Gue melihat Dani supaya memastikan dia gak marah atas tindakan gue.

Dani melihat gue, lalu dia mengangguk lemah. Gue malah mendapat persetujuan darinya.

“Edaaa.. buruan sayaaang…” Kak Rivin memanggil.

Akal sehat gue kembali hilang saat melihat wajah Kak Rivin. Gue arahkan lagi Penis gue tegak lurus dengan lubang vaginanya. Gue dorong pinggul perlahan, lalu gesekan antara penis gue dan dinding vaginanya menjalar dari ujung hingga pangkal. Penis gue sudah masuk seluruhnya.

“Uhhhh…” Kami berdua tak tahan mengeluarkan suara.

Gue mulai bergerak pelan-pelan, maju dan mundur. Kak Rivin mendesah dengan mata terpejam menerima hujaman penis gue. Lambat laun, gerakan gue percepat untuk menambah kenikmatan. Payudara Kak Rivin berguncang hebat.

Gue mendekatkan badan mencium Kak Rivin. Tangan kanan gue gunakan untuk bertumpu, lalu tangan kiri mulai bergerilya meremas payudaranya Dia membalas ciuman lemah dengan mulut terbuka. Hembusan nafasnya terasa di hidung gue.

Setelah 5 menitan gue puas menikmati tubuh Kak Rivin, rasanya sudah tepat waktu untuk mengantar Kak Rivin ke puncak kenikmatan. Kedua tangan gue bertumpu ke lantai di samping kepala Kak Rivin. Gerakan maju mundur gue percepat berkali-kali lipat.

Kemudian, Kak Rivin memeluk gue dengan erat.

“Edaaa.. sayaaang… Aku mau keluarrr.. ahhh..” Kak Rivin akan orgasme

“Keluarin aja, Kak…. uhhhh…” gue terus mengenjot Kak Rivin

“Sayaaang… Keluaaarr… AAHHH… ”

Kak Rivin lemas seketika, tapi pelukannya gak lepas.

“Jangan dicabut dulu sayang…” Dia mengatur nafas.

Gue mengecup bibir Kak Rivin dengan penis yang masih tegak dan keras di dalam vaginanya. Gue sekarang bisa mendengar desahan Dani dan Sesil di atas kasur. Gue menoleh ke mereka. Sekarang giliran Dani menindih dan mencumbu Sesil dengan jemarinya.

“Eda, gantian ke sini.” Sesil memanggil.

Tanpa berpikir dua kali lagi, gue melepas penis gue. Kemudian, gue menuju selangkangan Sesil. Di hadapan gue kini terpampang jelas pantat Dani dan vagina Sesil. Keduanya siap untuk gue terkam.

Gue mengarahkan penis gue ke vagina Dani terlebih dulu. Tapi kemudian, Dani menoleh, menahan penis gue, dan menggelengkan kepalanya. Dia justru mengarahkannya ke lubang vagina Sesil. Penis gue masuk dengan mudah. Gue bisa merasakan punya Sesil lebih longgar daripada Kak Rivin dan Dani, tapi sama beceknya.

Tanpa perlu pemanasan, gue langsung menghujam vagina Sesil dengan tempo tinggi. Sebagai tumpuan, gue memegang pantat Dani. Desahan sedikit-sedikit keluar dari mulut Sesil, namun langsung dilumat oleh Dani dengan cepat.

“Aaaahhh… Edaaaa…” Sesil mendesah

Tiba-tiba, Dani memutar badannya sehingga vaginanya tepat di depan wajah Sesil. Kepalanya kini menghadap penis gue yang sedang menghujam vagina Sesil. Tidak ada ekspresi cemburu atau pun marah darinya. Lebih parah lagi, sambil gue bergoyang, Dani menjilati klitoris Sesil dengan telaten.

Hal itu justru membuat gairah gue makin naik. Gue bergoyang makin cepat, lalu Dani juga ikut memainkan jari-jarinya di klitoris Sesil. Gue berani bilang sekarang Sesil sedang sangat merasakan kenikmatan versinya sendiri.

“Bentar lagiiii… Aaaaahh…” Sesil memberikan kodenya

Gue pun bergoyang lebih cepat. Sesil mengerang dan memeluk pinggang Dani erat sekali. Dinding vaginanya berkedut memijat penis gue, lalu pelan-pelan berhenti. Kedutannya tadi membuat gue hampir orgasme.

Dani melihat ekspresi wajah gue. Dia menarik penis gue hingga terlepas, lalu tanpa malu dikulumnya dari bagian kepala hingga pangkal. Gue merespon dengan sesekali bergerak maju mundur di dalam mulutnya. Dani beralih melepas kulumannya, lalu digantikan dengan kocokan tempo lambat.

“Udah mau keluar, Da?” tanya Dani

“Uhhh.. tadi iya…”

“Tahan ya. Tuh, Kak Rivin masih minta lagi.”

Gue melihat Kak Rivin yang sudah bangun dari tidur singkatnya. Dia sedang bermasturbasi sendiri dengan mata terpejam. Atas suruhan Dani, gue kembali menuju Kak Rivin dan menarik badannya supaya menungging.

Gue masukkan penis pelan-pelan, lalu kembali bergoyang maju-mundur dengan tempo lambat terlebih dulu. Kak Rivin pelan-pelan mulai mendesah.

“Cepetin sayaaang..”

Gue mempercepat tempo permainan sampai-sampai gak bisa berpikir lain lagi. Orgasme gue sebentar lagi. Gue memegang pantatnya sebagai tumpuan.

“Kak, mau keluar niiiih…”

“Cepetin ajaaa… aaahh…”

Dani menghampiri dan mencium bibir gue dalam-dalam. Lalu, dia berbisik. “Lepas.”

Gue melepaskan penis gue dari dalam Kak Rivin, lalu dengan seketika Dani memasukkan tiga jarinya ke dalam vagina kak Rivin. Dani mengocok jarinya langsung dengan tempo cepat. Gue yang kentang langsung menghampiri kepala kak Rivin dan menyodorkan penis lekat-lekat ke mulutnya.

Dengan raut muka pasrah dan sangat horny, Kak Rivin membuka mulutnya. Karena Kak Rivin teralu fokus mencapai klimaksnya oleh Dani, penis gue masuk dengan mudah. Kemudian, gue bergerak maju mundur dengan sangat sangat sangat cepat. Mulutnya hanya berusaha mengatup rapat-rapat agar penis gue tidak lepas.

Kak Rivin dihajar oleh gue dari depan, dan Dani dari belakang. Tapi, yang gue pedulikan adalah orgasme gue sendiri yang sudah dekat. Gue menekan kepala Kak Rivin dan membenamkan penis gue dalam dalam.

“Kak Rivin, keluar kak… AAAGGHH..”

“Hmmmmm… Hmmmmhh…” Dia mendesah dengan mulut terisi penuh.

Setelah gue rasa gak ada lagi yang tersisa, gue lepas penis gue. Kak Rivin membuka mulutnya sebentar untuk mengambil nafas. Sperma gue mengalir dari pinggir mulutnya. Tidak lama kemudian, Kak Rivin menutup mulutnya lagi, dan terlihat gerakan kerongkongannya naik turun.

Kak Rivin menelan sperma gue.

“Kak, telentang, kak.” Dani berbicara

Kak Rivin berpindah posisi dengan pasrah. Dani memegang kendali vagina Kak Rivin. Dia memberikan sensasi kocokan tiga jari dikombinsi dengan jilatan hingga Kak Rivin mencapai orgasmenya lagi.

“Edaa.. ke sini lagi dong.” Sesil memanggil manja.

Nafsu gue langsung bangkit lagi akibat mendengar panggilan Sesil. Penis gue dengan mudahnya berdiri tegak. Malam masih panjang sekali rupanya.

***

Mata gue terbuka pelan-pelan. Hal pertama yang gue cari adalah handphone untuk melihat jam. Hampir setengah delapan pagi. Gue memperhatikan sekeliling. Hanya ada Dani tertidur berbalut selimut di sebelah gue. Sesil dan Kak Rivin udah gak ada.

Kepala gue pusing. Apa yang gue lakukan semalam sangat di luar kendali. Membawa Kak Rivin orgasme dua kali lagi, sesil dua kali, dan Dani empat kali. Sementara gue orgasme tiga kali, dan yang terakhir, entah inget jelas atau nggak, kayanya keluar di dalam vagina Kak Rivin.

Ketika asal sehat gue kembali pagi ini, gue harap gak akan berdampak apa-apa. Gue memakai satu persatu pakaian yang tercecer di lantai. Gak lama kemudian, Dani terbangun dengan muka malasnya. Tiba-tiba, perasaan bersalah muncul pelan-pelan.

Rasanya, gue menghancurkan hati Dani dengan bermain cinta dengan orang lain. Gue bermain api dengan teman-temannya, di depan mata kepala Dani sendiri. Dani menikmati? Entahlah. Dani cemburukah? Marahkah? Kepala gue jadi makin sakit.

“Kenapa, Da? Sakit?” Dani melihat gue memijat jidat gue sendiri

“Agak pusing sedikit.”

“Gue bikinin teh, ya.”

Harus gue bahas banget sekarang kali ya.

“Dani, semalem.. itu…”

“Gapapa, Da. Tapi semalem emang gila sih.” Dia mencium pipi gue

“Gapapa?”

“Gue bikinin teh dulu ya.”

Dani bergerak bangun dari balik selimutnya. Tapi, gue langsung menahan tangannya. Gue menatap matanya dalam-dalam. Gue coba menerka kecemburuannya. Atau menebak apakah Dani tahu gue keluar di dalam vagina Kak Rivin atau nggak.

“Gapapa?”

“Gapapa, Edaaa. Cemburu sih dikit. Tapi gapapa.”

“Gapapa?” Gue menekankan lagi

“Mau main lagi?” Dani meremas-remas penis gue lagi.

“Dan.”

“Kayanya lebih ampuh dari teh ini sih hahaha.”

Dani naik ke atas gue lagi, menggesek sebentar penis gue di klitorisnya. Lalu, kami melakukan quickie. Dani orgasme terlebih dulu, lalu dia mengulum penis gue hingga gue orgasme. Kepala gue penuh pikiran macam-macam. Dani percaya gue memang kurang enak badan, padahal nggak.

Gue memutuskan untuk pulang pagi ini. Di depan, kami bertemu dengan Sesil.

“Eh, ada Eda sama Dani baru bangun.” Sesil menyapa

“Gue pulang ya, Sil.”

“Lain kali lagi yaaaa.”

Dani melotot ke Sesil. Bukan melotot marah, tapi lebih melotot seolah ngomong ‘sumpeh lu?’. Sesil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Gue kira dia ingin berkata ‘peace’, tapi Sesil malah melakukan gerakan jilatan di pangkal kedua jari tersebut.

“Resek banget dah lu, Sil.” Kata Dani

Dani mendorong-dorong gue supaya cepat masuk ke mobil. Perlahan, mobil gue melaju meninggalkan kost-kostan Dani.

***

POV Dani

Semalem gila.

Sumpah, semalem gila. Efek kejadian itu berperan lagi dalam tubuh gue. Lebih parahnya, gue mengizinkan Eda bermain cinta dengan dua perempuan lain sekaligus dibantu gue. Sampai tadi ketemu Sesil, gue gak terlalu cemburu.

Cemburu.

Eda udah pulang, gue buru-buru masuk kamar. Gue paham gejolak hormonal ini ‘bermain’ lagi. Sekarang gue merasa cemburu. Nangis satu-satunya cara yang terpikirkan sekarang.

“Eda! Lu berbagi sama cewek lain, Edaaa!”

Marah.

Gue mau marah sama Eda. Gue mau tendang penisnya kencang-kencang sampai bijinya pecah kemana-mana. Gue mau potong penisnya pakai gunting supaya gak bisa main-main lagi. Gue juga mau marah sama Sesil, ngedobrak kamarnya, lalu memukul dia terus-menerus sampi mati. Gue pun mau marah sama Kak Rivin. Gue tahu Eda sama Kak Rivin pernah deket, dan semalam cinta mereka berbalas lagi. Gue mau nampar Kak Rivin habis-habisan.

Bersalah.

Gak seharusnya gue marah sama Eda. Gue yang mengizinkan dia. Gue ikut menikmati permainan semalam kan. Gue juga gak boleh marah sama Sesil, dia emang begitu dari dulu. Sesil suka berpetualang dan Eda pasti ada di radarnya. Gue yang harusnya jaga Eda dari Sesil. Gue pun gak boleh sama marah sama Kak Rivin, dia pernah jadi asisten lab gue. Kak Rivin pernah bantuin gue kerja praktek di tempat kerja barunya.

Gue cuma bisa nangis sekarang. Hormon sialan!

Dua jam nangis sendirian di kamar. Tiba-tiba ada telepon dari Hari. Gue menarik nafas sebelum mengangkatnya.

“Halo, Dan?” Tanya Hari dari seberang telepon

“Halo, Har. Ada apa?” Gue masih tersedu-sedu

“Ntar ketemu di bawah apartemen gue ya, jam 5.”

“Yaelah, Har. Gue kira apaan. wa bisa kali.”

“Gue udah wa lu kali.”

“Eh, iya? Sorry baru bangun gue. Oke deh jam 5 ya.”

Telepon diputus. Gue nangis lagi.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat