Tanpa Nama Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 13

Namanya Lumut

POV Eda

Malam telah larut dan api unggun udah dimatikan. Kami masuk ke tenda masing-masing. Gue dan anak-anak yang lain masuk ke tenda sendiri-sendiri.

“Buset, lu beneran berdua?” Anwar nyeletuk

“Iya, kan barang-barang gue di sini semua.” Dani beralasan

“Hati-hati aja, ntar ada babi ikutan loh hahaha.” Tika nyamber

“Ntar gue ajakin kok babinya hahaha.” Gue ikutan bercanda

“Edaaa! Ish!” Dani sewot

Gue sekarang udah nutup tenda. Kami menggeser tas lebih ke pojok, lalu masuk sleeping bag masing-masing.

“Kapan?” Bisik gue

“Ntar, nunggu mereka udah gak berisik di dalem tenda sana.” Balas Dani

“Kelamaan.”

Gue menyusupkan tangan ke sleeping bagnya. Gue menjamah payudaranya dari luar baju, meremas, serta mencari-cari posisi putingnya. Kedua tangan Dani keluar dari sleeping bagnya dan langsung memeluk kepala gue.

Dani mengecup bibir gue, menempelkan bibirnya dan menggigit bibir bawah gue.

“Atasan dulu aja ya. Uhh…” Dani melenguh.

Kami memulai pergumulan.

***

POV Anwar

“HAHAHAHAHA!” Kami semua tertawa di dalam sleeping bag masing-masing.

“Aku gak kebayang sih babi ikutan.” Jamet ngakak

“Saya sih udah sering nemenin orang kaya mereka.” Kata Kang Ade

“Ada babi ikutan beneran, Kang?” Tanya Hari

“Impossible lah, Har. Hahaha.” Kata gue

Kami tertawa lama sekali sampai perut gue sakit.

“Asal temennya banyak sih saya tenang.” Cerita Kang Ade

“Ada yang sampe kesurupan gak, Kang?” Tanya Jamet

“Untungnya selama saya nemenin sih gak pernah. Tapi berisiknya itu lho.”

“HAHAHAHA!” Kami tertawa lagi

Hari ketawa paling keras. Padahal gue yakin Hari lebih sering ngeliat kelakuan nyeleneh Eda sama Dani. Tapi kayanya dia gak bisa gak ketawa ngeliat kelakuan temennya yang berulang itu.

“Eh, eh, coba kita diem yuk.” Ajak gue

“Ngapain?” Hari nanya gue.

“Coba aja tanya Kang Ade.”

“Biasanya pasangan kaya gitu mulainya kalo kita udah tidur.” Kang Ade memperjelas

Kami semua berdiam lama, sambil sesekali berbisik sangat pelan. Sakit banget perut rasanya harus nahan ketawa. Tapi, lambat laun kesunyian bisa menyelimuti kami, suara di tenda cewek juga udah gak ada. Tiba-tiba muncul suara gesekan gesekan plastik atau tenda..

“Babi, Kang?” Jamet berbisik

“Dengerin dulu, Met.” Gue balas berbisik

Terdengarlah suara-suara familiar. Dani dan Eda bergantian mendesah dan berteriak kecil.

“HAHAHAHAHA!” Suara tertawa kami membahana lebih besar daripada awal tadi.

“HAHAHAHAHA!” Suara tertawa juga terdengar dari tenda cewek.

***

POV Tika

“HAHAHAHA!” Kami tertawa dengan suara melengking kami

“Kok lu tau sih, Tik?” Jennifer menutup mulutnya

“Tanya Erna tuh.” Aku masih cekikikan

“Kang Ade pernah cerita, biasanya kalo ada yang mau begituan nunggu pada tidur dulu.”

Suara desahan kembali terdengar.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!”

“Sama tuh kaya kelakuan lu.” Jennifer nahan ketawa.

“Kalo gue kan masih di ruangan, yeeee.” Bantahku.

“Sama aja. Mereka juga di dalem ruangan. Dalem tenda.” Erna ikutan ngomong sambil cekikikan.

Kami tertawa sampai capek, lalu satu per satu tertidur pulas.

***

Aku terbangun karena suara Anwar yang menggebuk-gebuk tenda kami.

“Bangun, Beb! Erna! Jeruk! Ngejar sunrise nih!”

Aku melihat jam tangan, sudah jam 4 pagi. Kubangunkan Erna dan Jennifer agar segera bersiap. Setelah itu, aku keluar tenda. Anwar beralih menggebuk tenda Eda.

Eda keluar pertama dari tendanya dengan mata sepet.

“Masih ada tenaga gak buat sunrise?” Anwar ngeledek

“Masih, masih.” Eda masih setengah sadar.

Kami masing-masing bersiap di tengah udara dingin di pagi buta. Semua memakai jaket, kupluk, sarung tangan, dan headlampnya. Kang Ade tetap milih gak ikut, dia bilang mau jaga tenda dan masakin air buat kita nanti.

“Tasnya jangan lupa, beb.” Aku mengingatkan Anwar.

Anwar memimpin jalan, mengantarkan kami ke hutan mati. Di sana, orang-orang udah mulai ramai berkumpul di pinggiran tebing. Semua orang siap siaga dengan kameranya, termasuk Erna.

Kami menunggu dengan sabar hingga fajar mulai terlihat. Satu persatu anak-anak meminta untuk difoto. Erna dengan sigap melayani permintaan. Lalu, tidak lama kemudian ujung matahari mulai tampak berwarna oranye terlapisi kabut.

“Sekarang, beb?” Tanyaku

“Yuk.”

“Semuanya, sini, sini!” Kupanggil mereka yang sedang sibuk foto.

Anwar mengeluarkan isi tasnya. Ada kertas-kertas HVS kosong dan spidol. Tapi bukan itu yang dia ambil. Anwar mengambil sebuah banner kecil yang terlipat-lipat. Erna otomatis nitipin kameranya ke Hari sekaligus berpesan untuk mengambil gambar kami.

“Pencet setengah dulu, Har. Kalo ada kotak ijo, teken lagi.” Erna menjelaskan cara menggunakan kameranya.

“Guys, inget kan kita mau tampil di acara persembahan wisuda?” Anwar mulai cerita kepada Hari dan kawan-kawan.

“Inget, inget. Apaan sih? Bikin penasaran aja.” Tanya Hari.

“Ini dia!”

Kami membuka bannger kecil itu. Anwar menarik bannernya dari sebelah kiri, sementara aku memegang bagian sebelah kanan. Erna dan Jennifer berada di tengah-tengah. Terbentanglah sebuah Banner ukuran 2×1 meter.

***

POV Hari

Hari ini, gue kembali dikejutkan dalam trip ini. Pengumuman non formal disampaikan Anwar dan kawan-kawan. Mereka melaunching band bernama BRYOPHYTE, alias lumut. Gue fokus dengan kameranya Erna untuk memotret mereka dengan berbagai gaya. Setelah itu, kami bergantian berfoto dengan masing-masing personel lengkap dengan bannernya. Kamera pun dioper-oper ke berbagai tangan.

“Lumut?” Tanya gue.

“Yoi.” Tika yang menjawab.

Gue harap gak ada kejutan lagi untuk yang ketiga, setelah kemarin. Semoga Dani gak tiba-tiba ciuman sama Eda sambil difoto Erna, atau Jamet buang air besar di balik salah satu pohon kering di sini.

Kemarin, Sigit langsung pergi setelah memberikan tulisan nomor handphonenya dalam sobekan kertas kecil. Katanya, penjelasan lebih rinci akan dia ceritain setelah gue setuju dan nelpon dia lagi.

Setelah percikan kembang api hilang, Jennifer tiba-tiba dateng nyamperin kami untuk ikutan cuci muka. Tapi, gue yakin sih dia gak sempat lihat Sigit. Setelah itu, Dani langsung ngajak Jennifer melanjutkan ritual cuci muka ala-ala cewek, lalu kembali ke tenda.

“Guys, udah puas kan foto di sini?” Tanya Anwar

“Woi, ditanyain tuh. Ciuman teroos!” Tika sewot

Geblek dah! Dani sama Eda beneran ciuman sambil diem-diem dijepret Erna yang setengah ketawa. Gue langsung nyari Jamet, semoga dia gak beneran berak.

“Mau ke mana lagi, War?” Jamet ternyata lagi ngobrol sama Jennifer.

“Kita naik ke atas lagi. Ke Tegal Alun.” Anwar ngejawab

“Yang katanya ada edelweiss itu ya?” Jennifer nyamber

“Yoi. Kemon!”

Syukur deh, Jamet gak beneran berak.

Kami semua berjalan dua-dua dalam barisan. Hutan mati telah kami tinggalkan. Jalan setapak menyempit dan semakin menanjak. Anwar dan Tika paling depan sebagai penunjuk jalan. Gue dan Jamet tetep paling belakang, seperti ketika perjalanan naik kemarin.

Jam tujuh lebih tertera di handphone. Kami pelan-pelan tiba di Tegal Alun. Meski terutup kabut, gue bisa ngeliat kalau wilayahnya datar dengan padang rumput yang luas. Tapi, yang paling eksotis adalah perdu Edelweiss setinggi dada yang melimpah ruah.

Daun-daunnya membentuk lapisan rambut-rambut tebal berwarna putih sehingga terlihat seperti lapisan salju. Bunganya yang masih kuncup berukuran kecil berwarna putih. Mekar sedikit, maka ada warna kekuningan di bagian dalamnya.

Erna jelas akan kesurupan dengan pemandangan kaya gini, gak peduli faktanya kalau dia udah ke sini empat kali bareng Anwar dan Tika.

“Erna, Bryophyte foto dulu laah.” Tika manggil.

“Bentar.” Erna kalap dengan kameranya.

“Sini duluuu.” Tika narik-narik Erna

Kamera kembali gue yang megang. Formasi foto berubah-ubah. Lalu lanjutlah Anwar membagi-bagikan spidol dan kertas putih ala-ala foto pendaki di instagram.

“Yah, Anwar. Kenapa gak dari tadi dikeluarin pas sunrise.” Dani ngomong diseret-eret

“Lupa, beneran. sorry, sorry.”

Jennifer berfoto pertama dengan tulisan ‘PAPANDAYAN X BRYOPHYTE’. Standar ah menurut gue. Lanjut Erna nulis kata ‘KITA’, dan dibaliknya ada ‘BRYOPHYTE’. Standar juga. Paling ‘kita’ itu buat pacarnya atau siapa kek. Anwar dan Tika sama-sama nulis ‘LOVE BRYOPHYTE’. Standar semua.

“Nulis apa lu met?” Eda nanya

“Udah sana, jangan liat.” Jamet nutupin kertasnya

Eda minta difoto dengan tulisan ‘PERSADANI PUTRI’ dengan tanda love. Dani balas nulis ‘EDA KEPEDEAN’. Jamet akhirnya muncul minta difoto bersama tulisan ‘COBA KAMU IKUT. J.’

“HAHAHA! J!” Gue ngeledek.

“JANIAR, LO DIPANGGIL ZAKARIA!” Eda teriak ke langit.

“Berisik, Da!” Jamet jelas banget malu.

“Itu siapa?” Tika nanya Dani

“Mantannya waktu SMA.” Dani jawab sambil ketawa

Matahari lambat laun semakin tertutup kabut. Pelan-pelan cuaca juga mulai hujan. Kami memutuskan untuk turun kembali ke tenda. Setelah kami tiba, Kang Ade sudah siap dengan air panas. Sebagian besar dari kami masuk ke tenda karena merasa kedinginan. Jamet sendiri kayanya gak berasa kedinginan banget. Dia malah dengan santainya nemenin Kang Ade di teras.

“Met, kok lu gak kedinginan sih dari kemaren?” Gue nanya dari dalem tenda

“Udah biasa, Har. Rumahku deket Bromo, hampir sama dinginnya.”

Oke. Terjelaskan.

Anwar keluar dari tenda dengan pop mie di tangannya. Lalu, dia gabung ke teras deket kompor, disusul Tika, Jennifer, dan Erna dari tenda cewek.

“Itu, Eda sama Dani dicek coba, Har.” Kata Erna.

Gue pelan-pelan buka tenda mereka. Intuisi Erna hebat. Pas gue nengok, Dani lagi meluk Eda, bukan pelukan romantis, tapi pelukan karena Dani kedinginan.

“Gimana, Har?” Anwar nanya

“Dani kedinginan. Menggigil.” Jawab gue.

“Nih teh panas. Bajunya juga ganti atuh biar gak kebasahan.” Kang Ade manggil gue supaya ngambil teh.

Beberapa saat setelah gue balik dari tenda mereka untuk ngasih teh, Dani keluar tenda dengan ekspresi muka yang lebih baik dari tadi. Bajunya didobel, dengan tambahan jaket. Dia menyodorkan satu pop mie ke Kang Ade, meminta diisikan air panas.

***

Setelah hujan agak reda, kami beres-beres tenda. Jam 10 kurang sedikit, kami sudah mulai berangkat turun kembali ke parkiran mobil. Jam setengah 12, kami sampai di parkiran disertai kembalinya hujan. Eda kembali memesan teh panas buat Dani di salah satu warung yang masih buka.

Selama perjalanan di pick up, Dani duduk bareng Eda di samping supir. Semua tas ditumpuk dan ditutup terpal. Sebenernya sih tadi Dani ngaku udah baikan, Cuma pasti Eda protektif lah sama pacarnya sendiri. Padahal, Eda sendiri kelihatan capek karena turun tadi bawa tendanya sendiri.

Kami berpisah dengan Kang Ade dan sopirnya di terminal. Gue melihat Anwar ditemani Tika ngobrol sebentar sebelum Kang Ade pergi. Dia mengeluarkan amplop dan memberikannya kepada Kang Ade. Melihat itu, gue berinisiatif mengumpulkan uang dari Eda, Dani, Jamet, dan gue sendiri tentunya.

“Ssstt, ssstt. Kolekan, kolekan.” Gue berbisik kepada masing-masing dari mereka.

Setelah ngasih duit patungan berempat kepada Anwar, kami semua langsung naik ke bus jurusan Kampung Rambutan. Dua puluh menit kemudian, bus mulai berjalan perlahan meninggalkan Garut. Jamet paling duluan tidur. Pelor.

Hape gue bergetar. Gue baru inget sekarang udah dapet sinyal lagi. Gue buka handphone, ada WA dari nyokap.

“Kemarin ada agen S.H.I.E.L.D. dateng ke rumah. Kirain kamu kenapa-kenapa karena jam tanganmu dilepas.”

Aduh, saking khawatirnya sama Kenia, gue sampe lupa jam tangan gak boleh dilepas. Gue langsung bales pesan WA ke nyokap dengan pertanyaan, “Astaga! Lupa aturannya. Abis itu gimana?”

Sambil menunggu balasan nyokap, banyak pesan lainnya yang gue baca. Kebanyakan adalah info macam-macam dan basa-basi di grup angkatan. Gak lama, nyokap bales pesan gue.

“Gapapa. Kamu disuruh laporan aja nanti. Kenia juga disuruh daftar Sokovia Accord kemarin. Potensi inhuman. Dia dapet jam sendiri juga.”

Oke, masalah kelar. Paling nanti cuma kena omelan dikit. Lagian gue bukan agen aktif. Gue bales pesan ke nyokap dengan laporan bahwa gue udah di jalan pulang ke Jakarta.

Di bangku depan, Jennifer nengok ke gue.

“Muka lu jelek amat ditekuk gitu. Ada masalah?” Kepalanya nongol dari atas senderan kursi.

“Gapapa sih yee.” Gue melet.

“Bosen gue. Nih anak ngelamun mulu dari tadi.” Jennifer nunjuk ke Erna yang duduk di samping jendela.

“Kecapekan kali dia.”

Kami berdua berbincang dengan topik sisa-sisa hari menjadi mahasiswa di kampus dan kehidupan pasca kuliah.

“Kenapa namanya Bryophyte, Jen? Oke lah gue tau kalian anak botani, tapi ada filosofinya gitu gak sih?” Gue nanya

“Bryophyte kan lumut ya, Har. Lumut itu pionir, sama kaya kita mau jadi pionir konservasi. Misalnya abis gunung meletus deh, atau kebakaran hutan. Mustahil lumut gak tumbuh duluan. Walaupun sebenernya ada tumbuhan lain yang tumbuh juga, tapi lumut itu organisme pertama yang bisa jaga kelembaban tanah. So, lumut berperan penting nantinya dalam membentuk hutan yang baru.”

Gue mengacungkan jempol.

“Sangat jelas filosofinya, bu dosen Jennifer.”

“Tengkyu.” Jennifer balas mengacungkan jempol.

“Emang posisi kalian di mana aja sih?”

“Posisi apaan? Alat musiknya? Kata Anwar rahasiain dulu.”

“Anwar pentolannya ya hahaha.”

“Yoi.”

Hape gue bergetar lagi. Obrolan gue sama Jennifer terputus. Dani ngirim pesan WA. Gue nengok dulu orangnya di bangku belakang. Dia diam-diam melotot ke gue sambil menunjuk-nunjuk hapenya, meminta untuk cepat dibalas. Gue nengok ke Eda buat jaga-jaga, ternyata dia udah tidur.

Dani: Bagi nomornya Sigit!

Gue: Mau ngapain?

Dani: Ngapain aja boleeeh.

Gue: Jangan aneh-aneh deh, bukan urusan biasa nih.

Dani: Yaudah, gue cerita ke Eda sama Jamet ya.

Gue: Eh, jangan! Yaudah nih gue kasih.

Gue mengattachment kontak Sigit. Serendah itu harga negosiasinya.

Dani: Sip. Thank youuu

Gue: Inget, jangan aneh-aneh. Lu tanggung jawab gue.

Dani: Oke bos. Lu masih ngutang cerita ya!

Chat ditutup dengan emot bibir dari Dani. Nih anak gila.

Bis sering berjalan perlahan karena terjebak kemacetan. Gue melihat pemandangan kelompok-kelompok bocah di kiri-kanan jalan membawa kertas besar atau kardus bertuliskan ‘OM TELOLET OM’. Ada juga yang memegang hape untuk merekam kejadian. Kadang permintaan mereka dikabulkan pak sopir, kadang nggak.

Di luar perkotaan, ternyata tren telolet bertahan lebih lama.

Gue nengok ke anak-anak. Kebanyakan udah pada tidur. Tinggal Erna yang masih melek, tapi ngelamun, diajak ngobrol pun banyak sela heningnya. Beda banget kelakukannya yang hepi pas di gunung tadi.

Karena gak ada yang bisa diajak ngobrol dan ditambah badan yang capek, gue pelan-pelan tertidur.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat