Tanpa Nama Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama Part 10

Dadakan Lebih Seru

POV Dani

“Berarti lu juga inhuman, kan?” Gue memajukan kepala, menunggu jawaban Hari

Hari masih fokus menonton filmnya. Gue tau dia cuma pura-pura gak denger.

“Woi, jawab napa.” Gue tepuk pahanya

“Eh, iya. Sorry, sorry. Apa tadi?”

“Elah.”

“Yaelah pake ngambek.”

Gue tarik headsetnya Hari, terus gue bisikin dia lekat-lekat. “Seorang Hari Fiddi Lasya.. adalah inhuman, kaaaaaaan?”

“Oh iya? Wow!”

“Wooow~” gue menggoyang-goyangkan bahu

Gue tau kayanya Hari masih menyembunyikan informasi penting soal dirinya. Tapi sekalian aja gue tembak sekarang mumpung sepi.

“Sejak kapan?” Gue liatin matanya dalam-dalam, berharap dia akan jujur kali ini.

“Hah?” dia masih pura-pura bego

“Elah, Har.”

“Elah, Dan. Gue disuruh jadi agen karena kebetulan kemarin berguna kali buat mereka.”

Gue yakin Hari pasti bohong. Yakin banget. Tapi, dia masih gak mau buka cerita sama gue. Daripada omongan gini gak ada hasilnya, gue kembali ke kamar untuk tidur.

“Dan, everything gonna be okay.” Kata Hari

“Bondan Prakoso feat Fade to Black. Tau gue lagunya.” Jawab gue

***

POV Hari

Dua hari kemudian, gue lagi males-malesan di kamar rumah. Siang ini nyokap udah berangkat kerja, sementara Kenia baru masuk sekolah lusa.

“Bang, pindahan dong.” Kenia muncul bawa segelas sirup dan majalah cewek

“Pindahan ke mana?”

“Apartemen lah.”

“Ya kali.”

Kenia duduk di lantai, menaruh sirupnya, dan mulai membuka majalah. Dia belagak cuek ke gue. Sementara gue, main game FM di laptop. Sesekali gue mencuri-curi pandang ke arah majalahnya.

“Apaan sih tuh?” Gue gangguin Kenia

“Sirup. Rasa sirsak.”

“Ye, kunyuk. Itu tuh yang lu baca.”

“Majalah fashion, bang.”

“Oh.. Bagi minumnya dong.” Gue langsung menyerbu minumannya Kenia

Omongan gue random banget hari ini. Kadang gue kangen juga kejadian menenggangkan selama seminggu itu. Padahal, waktu itu gue lagi sibuk-sibuknya sidang dan revisian. Giliran sekarang gak ada kerjaan, beneran waktu kosong banget seharian. Dani, Eda, sama Jamet gak bisa diganggu karena lagi sibuk sama kegiatannya masing-masing.

Bosan dengan main FM yang kalah mulu, gue beralih membuka handphone. Gue buka instagram, ngelove beberapa foto, dan melihat-lihat snapgram. Setelah itu, gue buka WA, iseng-iseng mulai percakapan ke grup angkatan.

Hari: Guys, persembahan angkatan wisuda departemen gimana kabarnya?

Anak-anak langsung pada heboh karena semuanya juga lupa. Wisuda memang masih sekitar sebulan lagi, tapi membahas acara persembahan angkatan di saat sekarang sudah terhitung terlambat. Apalagi kalo dibanding semua semester kemarin waktu jumlah anak-anak seangkatan masih full.

Jamet: Ando aja tuh suruh nyanyi lagi hahaha

Ando: Ya kali, Met. Gue udah di Pekanbaru ini

Gue: Oh iya? Berapa lama, Do?

Ando: 3 tahunan, Har

Gue merasa seneng juga, temen-temen gue yang udah lulus duluan sekarang udah pergi ke mana-mana. Ando sekarang dapet bagian restorasi perusahaan tambang di Pekanbaru, Levi di penerbit buku, Dewo bahkan udah dapet LoA ke UK.

Gue: Asik ye yang udah pada kerja

Eda: Temen kita ada yang belum kerja nih Har @dani Hahaha

Dani: Sialan lu da

Gue lupa Dani masih nyari kerja. Sibuk pacaran mulu sih tuh anak.

Anwar: Eh persembahan gimana kalo kita-kita aja yang ngisi.

Ando: Kita-kita tuh siapa aja, bro?

Anwar: Gue, Tika, Jeruk, sama Erna

Gue: Jeruk siapa?

Anwar: Jeniper

Eda: @jennifer wkwkwkwk

Jennifer: Biarin aja si Anwar geblek

Jennifer udah lama satu geng mereka, tapi gak nyangka si Anwar bikin julukan baru buat dia. Suka-suka banget emang kelakukan Anwar.

Sebenernya, bagus juga sih mereka satu geng berempat awet dari maba. Kadang mereka bisa diandelin oleh anak-anak yang lain. Waktu dulu, kami kekurangan panitia dalam suatu acara besar kampus, mereka bareng-bareng langsung ikut gabung tanpa embel-embel apapun. Mereka lebih seperti spesialis dadakan.

Setelah sedikit obrolan tambahan, grup jadi sepi lagi. Berkali-kali anak-anak nanyain penampilan apa yang Anwar and the gengs bawa. Tapi, Anwar tetap merahasiakannya, yang penting bakal keren katanya

Gue menaruh handphone dan melihat Kenia lagi karena gue merasa terjadi gerakan-gerakan aneh. Dugaan gue bener, tangan kanannya masih megang majalah dengan halaman bergambar Justin Bieber telanjang dada, sementara satu tangannya lagi udah masuk ke celana.

“Heh. Ngapain?.” Gue kagetin Kenia.

Muka Kenia merah menahan malu. Dia pergi keluar dari kamar gue membawa majalah dan minumnya. Gue ikuti dia sampai depan pintu. Habis itu, Kenia lari masuk ke kamarnya sendiri.

Gue tutup pintu kamar, lalu rebahan di kasur dan kembali mengambil handphone. Gue buka pemberitahuan WA. Ternyata gue masuk suatu grup baru, ‘Dadakan Lebih Seru’.

Anwar: “Oke, udah gabung semua kan.”

Eda: Grup apaan nih?

Anwar: “Bentar, absen dulu dong semuanya.”

Semua anak yang tergabung di grup satu per satu absen. Ada Anwar, gue, Eda, Dani, Jamet, Jennifer, Erna, lalu menyusul Tika yang diabsenin Anwar. Setelah itu, anwar menjelaskan maksudnya dia membuat grup.

Anwar menjelaskan bahwa mereka ingin membuat trip dadakan. Rencananya mau sesama geng mereka aja, tapi udah bosen. Kami berempat terpilih diajak karena diantara teman seangkatan, tinggal kami yang masih available diajak kemana-mana, sekaligus lulus di semester yang sama, kecuali Dani.

Dani: Emang rencananya pada mau ke mana?

Anwar: Papandayan Dan

Gue: Kan lagi musim hujan

Anwar: Justru lagi musim hujan, Papandayan paling aman dari gunung lain. Apalagi laut.

Eda: Kapan cuy?

Anwar: Cus, akhir minggu ini yok.

Dani: Cepet amat

Anwar: Namanya juga dadakan. Mendadak Lebih seru

Setelah sedikit diskusi, kami sepakat hari Jumat malam berangkat. Meeting point di Pool Bus Primajasa, dekat UKI. Anwar juga berpesan jangan lupa bawa banyak makanan karena bakal dingin banget di sana. Tenda dan kompor gas udah disediain satu temennya yang nanti nunggu di terminal Garut.

Tiba-tiba terdengar desahan yang keras dari kamar sebelah. Kenia beneran ngelanjutin masturbasinya. Gak gue duga efek kejadian kemarin segila itu.

Gue melangkah menuju kamar Kenia, lalu menggedor pintu kamarnya.

“Woi, pelan-pelan suaranya!”

Suara desahan Kenia berhenti. Gue balik ke kamar. Tapi sesaat setelah gue balik badan, kepala Kenia muncul dari balik pintu.

“Berisik. Emang abang mau bantuin?”

“Yeh, nih anak.”

“Yaudah sih kalo gak mau bantuin diem aja.” Kenia menutup pintunya lagi.

Ingin rasanya gue menghubungi S.H.I.E.L.D. untuk meminta suatu obat apa gitu supaya menahan birahi Kenia. Tapi artinya gue juga harus konfirmasi bisa menjadi agen aktif atau nggak. Sementara itu, sejak ditawari Lina, gue masih bimbang antara iya atau tidak.

***

POV Anwar

“Udah deal semuanya nih.” Gue menaruh handphone

“Mmhhh.. Siapa aja jadinya?” Tika bergumam di bawah sana sambil mengoral penis gue

“Semuanya yang di grup pada bisa.”

“Udah kan ngechatnya? Buruan tiduran gih.”

Mulutnya yang tadi kempot karena menghisap penisku kuat-kuat, kini dilepasnya. Tika mengibaskan rambutnya panjang berponinya ke samping. Wajahnya makin terlihat jelas cantik dan manis, serta matanya menatap gue dari posisi yang lebih tinggi.

Gue menuruti dominasi Tika lagi. Dia menduduki tepat di selangkangan, lalu menyelipkan penis gue celah vaginanya. Tika menggesekkan vaginanya di penis gue, lalu dia mulai bergerak memutarkan pinggulnya.

Gak mau kalah, gue ikut meremas-remas dada dan putingnya. Sesekali gue sampai mengelus perut dan menekan pinggangnya. Gue naikkan pinggul gue supaya jepitan kedua kelamin kami semakin rapat.

Tika terjatuh di atas badan gue, tapi goyangan terus menerus semakin liar. Bahu gue digigitnya. Lalu kemudian Tika mengejang.

“Enngghhhhhh…” desah Tika

“Sakit tau digigit mulu.” Gue tarik kepalanya.

“Ssssstt!” Dia berbisik, lalu menjilat belakang telinga gue

Kami lanjut berciuman. Atau lebih tepatnya Tika yang mencium gue. Dia menggigit bibir atas dan bawah gue bergantian, kadang sampai ditariknya menjauh. Puas menggigit bibir, lidah gue yang kini dihisapnya kuat-kuat.

Tangannya bermain-main di puting gue. Dia memutar-mutar dan menarik puting gue sampai-sampai gue kegelian sendiri. Pinggulnya kembali kuat-kuat menekan penis gue, lalu tanpa aba-aba, satu tangannya yang lain langsung mengarahkan penis gue mulut lubang vaginanya.

Penis gue amblas seketika.

“Ughhh..” Kami berdua sama-sama mendesah

Tika langsung menaik-turunkan badannya, sementara gue kembali hanya bisa menikmati dominasinya. Dia gak mau gue ikut bergoyang sama sekali. Respon paling aktif yang bisa gue lakukan sekarang hanyalah meremas payudaranya kuat-kuat.

“Ahh, nikmat, sayaaanghh…” Tika mulai meracau

“Sayanghh.. ughh..” Gue balas meracau

“Enak kan.. shhh…”

“Iyaa.. uhhh.. terusss…”

Penis gue mulai berkedut.

“Yanghhh… udah mau keluaarhh…”

“Bentar… ssshhh…”

Tika mempercepat gerakannya berkali-kali lipat, lalu tiba-tiba mengejang. Dia orgasme duluan. Tanpa berstirahat, pinggulnya diangkat hingga penis gue terlepas. Kemudian Tika memutar badannya sampai posisi kepalanya pas dengan penis gue. Sebaliknya, posisi kepala gue pas dengan vaginanya.

Tangan kanan Tika mengocok dengan cepat, sementara tangan kirinya meremas-remas buah zakar gue. Gue yang posisinya bawah hanya bisa menikmati sambil menjilati klitorisnya Tika pelan-pelan.

Penis gue berkedut lagi.

Tika memasukkan penis gue ke mulutnya, sambil tangannya tetap bergerak mengocok. Tak bisa dihindari lagi, sperma gue langsung memenuhi mulutnya. Kepala gue tergeletak lemas dan mata gue terpejam menikmati sensasi itu. Sensasi hasil menang suit sebelum memulai permainan tadi.

CKLEK.

Suara pintu terbuka. Pandangan gue terbalik melihat seseorang yang pelan-pelang menggeser pintu makin terbuka. Kaki jenjang berlapis jeans hitam itu….

“Sorry, War, Tik, gue terlam.. bat.” Kalimatnya terhenti melihat kami.

Gue melongo. Tika menoleh ke arah pintu.

“Eh, sorry, gue di bawah dulu deh kalo gitu.” Pintu ditutup lagi.

Gue masih melongo. Tika langsung bangun dari atas badan gue. Kami saling-lihat-lihatan.

“Salah siapa pintu gak dikunci dulu?” Ledek Tika.

***

POV Erna

Aku memakirkan motor di garasi rumah Anwar, lalu menaruh helm di kaca spion. Aku mengaca di spion satu lagi untuk membereskan jilbabku yang tertekan helm selama perjalanan ke sini.

“Makasih ya, pak.” Aku berterima kasih ke pak satpam.

Aku buru-buru masuk ke dalam rumahnya Anwar dan berlari kecil ke arah tangga. Tapi ternyata di depanku Jennifer justru melangkah turun dari atas. Dia melihatku, lalu memberi kode untuk turun ke bawah lagi.

“Kenapa emang?” Tanyaku heran

Dia menunjuk ke arah pintu studio, lalu menyelipkan jempolnya diantara jari telunjuk dan tengah ke depan mukaku. Matanya melotot sambil berusaha memutar pundakku untuk ikut turun ke bawah

Di lantai bawah, kami disediakan snack dan minum oleh pembantunya Anwar. Aku membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan edit foto yang belum selesai.

“Bete deh gue, mentang-mentang di rumah sendiri.”

“Sama lah.” Balasku

“Lu yang tegur dong ntar. Lu kan paling agamis di antara kita-kita.”

“Gak ngefek palingan.”

“Elah, mereka sama aja kaya Dani sama Eda deh.”

Jennifer sewot mulu sama kelakuan Anwar dan Tika kalau udah berduaan. Tapi bener juga sih, kelakuan mereka sama kaya Dani dan Eda. Atau mungkin kami semua sekaligus justru mirip geng mereka. Selalu bareng berempat, ada yang jadian di dalam geng. Bedanya, mereka melakukan penelitian sendiri-sendiri, sedangkan kami selalu bareng sampai skripsi.

“Eh, kacamata baru, Je?” Aku mengalihkan pembicaraan

“Yang kemaren patah sih pas gue di angkot.” Jawabnya

“Yah, padahal bagusan frame yang kemarin tau.”

“Emang kenapa kalo yang ini?”

“Aneh aja. Gede banget framenya.”

Jennifer kayanya masih agak bete. Dia lebih memilih memainkan handphonenya daripada membalas kalimatku.

“Papandayan ikut kan, Je?” Gue mulai pembicaraan lagi

“Ikut dong. Udah lama gak kena yang dingin-dingin.”

“Lagian yang gue ajakin kemarin ke Halimun gak ikut.”

“Waktunya gak pas sama gue, Wati.”

Jennifer kadang memanggilku dengan nama belakang kalau sedang gemes. Setengah jam lebih kami menunggu di lantai bawah.

“Gerebek aja yok. Lama banget.”

Gue balas dengan membuka telapak tangan, mengizinkan dia jalan duluan. Jennifer memimpin jalan menaiki tangga. Aku mengikutinya dari belakang. Tapi, begitu Jennifer ingin membuka pintu, Tika keluar dari dalam dengan rambutnya yang berantakan.

“Eh.. Heee.. Maaf jadi lama nunggu.” Tika nyengir.

“Anwar masih ngapain?” Tanya Jennifer.

“Dia lagi masangin kabel, masuk aja. Gue ke kamar mandi dulu ya.”

“Gak pake lama.” Jennifer sewot.

“Iyaa sayaaang.”

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Tamat