Tanpa Nama Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama Part 1

Pilot

POV Hari

Jakarta, 30 November 2016. Nama gue Hari, lengkapnya Hari Fiddi Lasya. Sekarang adalah hari ulang tahun gue yang ke 22, sekaligus hari sidang skripsi yang udah lama gue tunggu. Sembilan semester kuliah di biologi akhirnya sebentar lagi selesai. Dengan terburu-buru gue naik tangga dari satu ruangan lab besar di lantai dasar ke ruang sidang di lantai 3. Di situ bukan sepenuhnya lab sih, sekedar ruang baca dan beberapa instrumen ringan. Di lab itu gue adalah sang pemegang kunci dan penanggung jawab ruangan selama satu semester. Gue sama anak-anak yang lain sering nitip tas, makan, atau sekedar ngobrol kalo lagi nganggur.

“Selamat pagi, ibu.. Iya, di lantai tiga, ya, bu.. Terima kasih, bu.” Gue menghubungi satu dosen penguji yang baru sampai di parkiran.

“09.50. Masih sepuluh menit lagi. Keburu lah ya.” Gue ngomong sendiri. Santai.

Tepat jam 12, sidang selesai. Gue dinyatakan lulus dengan perbaikan. Hal yang lumrah di rumpun ilmu sains. Setelah itu, gue pasang muka senyum waktu foto bareng dosen pembimbing, penguji, dan ketua sidang. Lanjut foto sama beberapa temen angkatan yang sengaja dateng buat nontonin sidang gue.

“Har, selfie dulu lah kitaaaaa.” Jamet langsung narik gue ke kerumunan.

Si Jamet ini nama aslinya Zakaria. Dulu pas zaman maba, ada senior tua yang namanya Zakaria juga, akhirnya dia yang ngusulin sendiri supaya dipanggil Jamet waktu makrab. Gampang diinget katanya. Jadi lah dia dipanggil Jamet sampe sekarang. Lucu juga sih, kebetulan Zakaria ini orang Malang. Pas kalo dipanggil jamet seperti bahasa gaul tahun 2000an. Jawa Metal.

Jamet orangnya agak kurus, rambutnya lumayan ikal, dan dia akan berada pada fas terganteng sesaat setelah cukur model undercut. Orangnya lurus-lurus aja, kalem, dan loyal kalo temennya butuh pertolongan, apalagi sekedar minta ditemani pergi ke kantin atau indomaret.

Jamet udah sidang dua minggu sebelum gue, jadi dia sekarang cuma tingal ngurusin sedikit revisian dan sebagian kecil berkas paska sidang. Penelitiannya bidang ekologi juga. Cuma bedanya, jamet ekologi mikroalga di Ancol dan Pulau Pari. Kalo gue, ekologi burung urban di Jakarta.

Habis foto-foto lucu itu, gue langsung ngacir. Kabur ke lab bawah. Jamet yang tadinya pasang muka heran langsung ngangguk-nangguk paham setelah melihat Puri ada di deretan bangku paling belakang, malu-malu mau ikutan nyamperin gue.

Puri Ananda Mawardi. Mantan gue, senior satu tahun di atas gue. Kebetulan setelah lulus S1, lanjut S2 di universitas yang sama. Gue putus sama dia enam bulan lalu karena ego masing-masing. Doi sibuk ngurusin kuliah S2, sementara gue sibuk penelitian yang memakan waktu 2 semester.

Aneh, padahal dekat, tapi gak ada waktu. Gue yang lagi butuh perhatian justru diputusin sepihak tanpa basa-basi. Rasanya sakit setengah mampus, kaya ada yang nyayat jantung gue, apalagi kalo sekarang ini setiap ketemu doi. Makanya gue selalu kabur kalo hampir ketemu doi, gak pernah mau ngeliat mukanya lagi, dan pasang muka datar.

Puri ini sebenernya manis, putih, rambutnya lurus tumbuh sebahu. Tingginya sebahu gue, postur badannya ideal banget. Makanya, sebenarnya banyak yang diam-diam suka sama dia.

Kalo lagi jalan berdua, doi suka banget ngebandingin tinggi badan gue sama dia. Buat lucu-lucuan, kadang gue sampai disuruh turun dari trotoar supaya dia berhasil lebih tinggi. Momen yang lama-lama jadi suatu trademark kami waktu masa pacaran.

“Ngapain kamu kabur ke sini deh.” Jamet tiba-tiba masuk ke lab. Logat medoknya masih terasa sedikit.

“Urusin itu berkas paska sidang buruan. Ada yang harus dikumpulin hari ini kan.”

“Iya, sebentar. Gue refleks tadi langsung pergi.”

“Enam bulan, Har. Masa kamu masih gini gini aja sih.”

“Terserah lu deh. Gue mau ke tempat fotokopian dulu ye. Lu di sini aja, jangan kemana-mana.”

“Yowis.”

“Ntar sore gue traktir makan deh, Met. Hari spesial nih, hahaha.” Canda gue

“Aku tak ajak Eda sama Dani yaaa.”

Gue buka pintu lab. Di depan pintu pas banget ada Puri yang baru mau masuk ke lab. Gue berjalan cepat, wajah tertunduk, dan sama sekali gak menjawab sapaannya. Di tengah jalan, gue sedikit melirik ke belakang.

“Untung gak ngikut.” Gue ngomong sendiri.

***

Sore hari, sesuai janji sekarang gue lagi traktir Jamet, Eda, sama Dani makan di kafe deket kampus. Kafenya gak terlalu besar, tapi berlantai dua yang disediakan khusus untuk perokok. Mumpung hari bahagia gapapa lah tabungan kekuras agak banyak.

“Har, thanks ya traktirannya.” Ujar Eda

“Woles lah, kapan lagi kita bisa kumpul kaya gini abis lulus, ya, kan.” Jawab gue sambil menyeruput jus alpukat

“Har, tadi pas kamu keluar lab lihat kak Puri kan?” Tanya Jamet.

“Kenapa emang?” Tanya gue balik

“Tadi kak Puri masuk ke lab. Nanyain kamu. Sulit banget kamu diajak ngobrol katanya.” Balas Jamet

“Itu doang?” Tanya gue males

“Sama ada satu lagi….”

“Met, udah, ssssssttt…” Potong Eda.

Dani cuma jadi pendengar yang baik. Selain ini urusan privasi yang selalu dijunjung tinggi, dia memang lagi asik ngunyah roti bakar.

“Nih lagi anak satu, ngunyaaaaaah mulu.” Ledek Eda

“Maklum anak kostan hehehe.” Jawab Dani sambil nyengir

“Udah bilang makasih belom ke Hari. Parah lu.”

“Oh, iya, Hariiii makasih yaaaa makanan gratisnyaaaaa.”

Dani ini cewek. Nama lengkapnya Persadani Putri. Di kampus, dipanggilnya Dani, gara-gara kelakuan makannya kaya cowok. Jarang makan sih, tapi sekalinya ada banyak makanan langsung kalap. Bulan lalu, waktu kita hadir di nikahan senior angkatan 2008 dia bahkan langsung nyamperin enam stand snack yang ada. Dua kali. Belum ditambah makan nasi juga. Katanya mumpung gratis, lagipula kalau mau salaman sama pengantinnya masih antri panjang. Ngaco emang ini anak.

Dani sama Eda udah kaya orang pacaran, tapi Dani gak mau kalo orang bilang mereka pacaran. Dani ini kalo dari luar penampilannya agak nakal, rambutnya dicat pirang sebagian. Kira-kira, sebelas-dua belas lah sama Awkarin yang lagi viral sekarang. Tapi di samping penampilannya, Dani ini lugu, gak pernah sekali pun keluar malem. Tapi, kalo lagi berduaan sama Eda nakalnya minta ampun. Gue pernah waktu itu masuk lab ekologi, terus gak sengaja ngeliat Dani lagi duduk di pangkuan Eda sambil ciuman ganas. Celananya Eda udah melorot. Untung gak ada CCTV di dalam ruangan.

DUAAAAARRRRR!

Saat kami asik ngobrol tiba-tiba muncul suara ledakan dari arah dapur kafe.

Seketika dapur kafe tersebut dilalap api. Asap mengepul dari balik pintu dapur ke arah meja meja pelanggan. Banyak yang menyelamatkan diri keluar, termasuk kami berempat. Tapi sejenak gue memisahkan diri dari mereka dan mengendap-endap masuk ke arah ledakan.

Gue lihat ada satu korban pingsan dengan luka bakar lumayan parah. Sepertinya ada ledakan tabung gas. Gue celingak celinguk ke semua arah memastikan gak ada orang lagi. Kemudian perlahan gue membuka telapak tangan ke arah sumber api dengan posisi jari menghadap bawah. Dengan sedikit tenaga, api yang tadinya makin berkobar perlahan tersedot ke arah tangan gue, kemudian dapur padam.

Sebagai alibi, gue ambil tabung APAR, dan gue semprotkan ke arah bekas tabung gas biru yang meledak, kompor, dan beberapa bagian dapur yang ikut terbakar.

Jamet sama Eda terdengar teriak dari luar memanggil-manggil nama gue. Suaranya makin keras dan sejenak langsung muncul kepala Eda dari balik pintu, menengok ke arah dapur.

“MET! HARI DI DAPUR NIH. BURUAN!” Teriak Eda ke Jamet.

“Iya, sebentar!” Jawab Jamet.

“Lu kenapa nyari di lantai dua deh?” Tanya Eda kesal

“Sorry, aku kira Hari lagi grasak-grusuk di lantai dua.”

“Da, Met, bantuin gue, ada korban nih.” Gue melerai mereka secara gak langsung

Kami pun menggotong satu korban tersebut keluar dan segera mendapat jemputan ambulans. Wartawan media cetak mainstream mulai berkerumun seiring kedatangan polisi yang mengamankan lokasi. Kami dimintai keterangan satu-satu, dan tentunya gue berbicara sesuai alibi yang gue buat tadi. Polisi pun tidak menaruh curiga dan dugaan sementara mengarah kepada kelalaian kerja.

Tak lama, jam tangan digital gue berbunyi. Ini bukan jam sembarangan. Terdapat lambang burung yang menoleh ke arah kanan dari sudut pandang gue, disertai lingkaran.

“I heard there a small blast near your position. Is it okay?” Ujar orang di seberang sana

“Condition under control. Just small accident in the kitchen.”Jawab gue

“I’ll be there in a moment.”

Suara yang tidak asing bagi gue terdengar dari jam digital itu. Agen Coulson.

***

POV Eda

“Gilaaa… enak banget, Daaaa….” Lenguh Dani.

Gue terus menjilati vagina Dani dengan antusias. Gue jilat klitorisnya ke kiri dan ke kanan, lalu naik turun, bergantian dengan dengan tempo yang gue mainkan. Dani terus menaikkan pinggulnya lebih tinggi dan makin tinggi.

Malam ini, setelah kejadian ledakan dan pemeriksaan polisi. Gue pulang ke apartemen gue bareng Dani. Hari pamit entah pergi ke mana. Jamet ditelpon ibunya berkali-kali sampai disuruh pulang sebentar ke Malang besok. Memang ibunya Jamet gampang parno, padahal beritanya juga gak jadi besar seperti berita ledakan bom. Bahkan gak banyak televisi yang meliput.

Di apartemen gue di lantai 29 ini, kami merengkuh kenikmatan bersama lagi. Entah hubungan kami bisa dibilang apa. Pacaran bukan, tapi nempel terus kaya perangko. Sekarang kami sudah tanpa busana. Semuanya sudah berantakan di lantai. Beringas.

“Edaaaa… gak tahaaaan…. sumpaaaah…” Desah Dani, sambil menekan terus kepala gue ke selangkangannya.

Gue masukkan satu jari tengah untuk membuat Dani makin belingsatan. Klitorisnya gue jilati makin cepat. Dani sebentar lagi pasti mau keluar kalau kepala gue udah ditekan gini.

“Daaaa.. keluaaaar…. Ahhhhh..”

Tiba-tiba keluar cairan kenikmatan Dani tepat di lidah gue. Gue tekan lidah di bagian sana, kemudian gue telan seluruh cairan kenikmatan Dani tanpa sisa. Dani terengah-engah berusaha mengatur kembali tempo nafasnya.

‘’Daaa.. lu selalu menggairahkan banget siih..” Goda Dani.

Gue beringsut naik perlahan sambil menjilati perut, terus ke payudara, leher, hingga mendarat ke bibir Dani. Kemudian kecup pelan, romantis, dan sesekali menggigit bibirnya. Lalu, setelah Dani on kembali, gue beralih ke ciuman penuh nafsu dengan memasukkan lidah menjelajah seluruh ruang di dalam mulut Dani.

“Daa.. fix banget masukin. Sekarang.”

“Gak pake kondom gapapa? Lupa beli nih.”

“Yaelah, kaya bukan anak biologi aja sih lu. Tau kan masa subur gue kapan.”

“Tapiiii…”

“Buruaaaaan!”

“Basahin dulu dooong hehehe.”

“Sini buruan ihh, bikin kentang aja.” Rengek Dani

Gue berbalik posisi dengan Dani. Kini gue telentang dan Dani perlahan menjilati puting gue, terus turun ke bawah menggapai penis gue yang lumayan buat ukuran Dani yang badannya kecil. Dijilatinya kepala penis gue sambil tangannya mengocok pelan. Kemudian, dilahapnya penis gue, didiamkan sebentar di dalam mulutnya. Lidahnya bermain di dalam sana membuat gue mendesah pelan.

“uhhh…”

Dani memainkan penis gue segila-gilanya. Gue pegang rambutnya yang bondol supaya gak mengganggu pengelihatan gue.

“Udah yaaaa.. Sekarang masukin buruan..” Ujar Dani setelah melepaskan penis gue dari mulutnya.

“Ahh padahal enak banget.”

“Kan mintanya cuma basahin yeeee.”

Kami kembali berganti posisi. Dani lebih suka di bawah. Gue arahkan penis gue di lubang vaginanya. Gue dorong pelan-pelan sampai penis gue sepenuhnya amblas ke dalam tubuh Dani. Mentok.

“Ahhhh…” Kami berdua mendesah.

“Goyangin, Daa.. goyangiiiin…”

“Sabar, pelan-pelan aja, Dani sayaaang. Malam masih panjang.”

“Sayang pala lu peyang.”

15 menit gue bergoyang tanpa henti. Tempo terus gue ubah, pelan, cepat, pelan, cepat. Kemudian, seperti biasa, Dani kalau udah mau orgasme pasti akan menekan pantat gue kencang-kencang sampai gak bisa bergerak. Kini gantian Dani yang menggoyangkan pinggulnya. Sepertinya Dani gak memikirikan posisinya yang susah bergerak karena ada di bawah. Dani terus bergoyang makin cepat mengejar puncak kenikmatannya, rasanya penis gue kaya mau patah digoyang seperti itu, tapi sensasinya luar biasa.

“Edaaaa… Gue keluaaar.. Ahhhhh…”

Dani seketika lemas. Penis gue masih di dalam. Gue biarkan dulu, lalu gue beralih mengelus rambutnya dan mencium lagi bibirnya.

“Istirahat dulu ya, Da…. Uhhh…” Ucap Dani sambil mengatur nafas.

Tak lama berselang, Dani on lagi, kugoyang lagi cukup lama sampai Dani kembali mencapai orgasmenya dua kali. Sekarang tinggal gue yang belum tuntas.

“Lu belum keluar ya, Da. Sini gantian gue di atas.”

Kami berganti posisi. Dani mengendalikan permainan di atas, berusaha mengantarkan gue ke puncak kenikmatan. Gerakan naik turun Dani menjadi pemandangan yang indah di mata gue. Payudaranya berguncang membuat gue gak tahan untuk meremasnya.

Gue udah gak mikirin apa-apa lagi. Giliran gue yang harus puas. Selalu seperti ini perjanjiannya. Perjanjian tidak tertulis di mana setelah Dani orgasme lebih dari 2 kali, barulah gue boleh muntahin sperma gue.

Sepuluh menit Dani bergoyang, gue rasanya hampir sampai. Gue meminta Dani bergoyang makin cepat. Gue pilin putingnya supaya menambah rangsangan.

“Daniiii, gue mau keluar.”

“Di dalam aja. Barengaaan..”

“Ya kali.”

“Udah buruaaaann… Mau enak gaaaak?”

“Daniiiii!!”

Belum sempat gue berbuat apa-apa. Penis gue udah meledak memuntahkan sperma di dalam vagina Dani. Sumpah, Dani makin gila aja. Penis gue masih didiamkan dalam vagina Dani. Vaginanya terasa mengurut-urut penis gue yang perlahan mengecil.

Tidak lama kemudian, Dani pindah berbaring di samping gue.

“Enak kan.” Kata Dani sambil memeluk gue

“Bukannya tanggal lu dapet masih lama ya?” Tanya gue

“Lu salah ngitung kali. Gue dapet 3 hari lagi.”

“Sekarang tanggal berapa emang?”

“30, Edaaaaa. Tadi siang baru aja sidangnya Hari.” Gerutu Dani sambil nyubit puting gue.

“Oh iyaaa, sorry tadi udah gak bisa mikir. Gue kira sekarang tanggal 23.”

Sejenak kami mengatur nafas.

“Eh tadi Hari kok ngilang gitu ya?” Tanya Dani memulai pillowtalk

“Emang suka gitu tuh anak. Makin gak bisa ditebak, apalagi abis putus sama kak Puri.”

“Sekarang ke mana tuh anak?”

“Gak tau, katanya sih mau pulang gitu. Tapi arah jalannya malah beda. Biarin aja lah.”

“Ooh. Yaudah.”

“Eh, Dan…”

“Apa?”

“Pacaran yuk.”

BERSAMBUNG