Smile of My Girl Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 9

Start Smile of My Girl Part 9 | Smile of My Girl Part 9 Start

Lima bulan kemudian…

Suasana hatiku sungguh sangat tidak nyaman. Perasaan gelisah selalu melingkupi pikiranku setiap hari.

Rasa pedih yang menyesakkan. Entah apa penyebabnya!

Lima bulan sudah pangeran pujaanku pergi. Janji satu minggunya ia gak tepati. Mamih Marta juga menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi.

Kutatap dengan manik sendu jam tangan yang melingkar ditangan kananku. Kerinduanku semakin menjadi.

“Apa kak Revan udah ngelupain gue?” pikirku galau.

Bulir tetes kerinduan ini kembali terjatuh dari mataku. Kuhapus dengan cepat dengan punggung tanganku.

Aku menarik napas dalam. Menenangkan gejolak dihatiku.

Tak ada kabar berita ataupun pesan singkat yang kak Revan kirim. Nomor teleponnya pun tak ada yang aktif.

Rasanya seperti ada yang hilang. Penyemangat hidupku tak tahu rimbanya. Kacau sekali perasaan ini.

Keseharianku bergelut dengan sepi Menyibakan tirai sunyi nan berkabut

Ditemani sang mimpi fatamorgana.

Seperti bersampan dan berlabuh di pulau tak berpenghuni

Jalan penuh semak belukar rimbun menutupi pandangan.

Jiwaku terkoyak lamunan malam gelap gulita

Bulanpun tak terlihat mendamba

Andai saja kugenggam dian nan syahdu

Walaupun hanya seekor kunang-kunang

Satu titik kecil yang bisa mengembalikan harapanku.

Kepedihan ini hanya aku yang tahu, tak kuperlihatkan di depan sahabatku dan kakakku.

Langkah gontaiku memasuki gerbang sekolah. Wajahku bermuran durja tanpa senyuman terbit di bibirku.

Pukul 06:45 pagi Andra sudah sampai ke sekolah. Tidak seperti biasanya.

Setiap pagi nunggu di gerbang sekolah, senyum-senyum gak jelas. Memang sebelumnya Andra janji pengen berubah kayak dulu.

Tapi makin kesini itu loh, sikapnya makin aneh. Jadi risih sendiri.

Ternyata lebih terbiasa lihat Andra yang badboy daripada yang alim.

Aku tarik napas dalam-dalam. Eneg lihat Andra yang selalu tebar pesona kepadaku.

Andra memberikanku sarapan. Nasi goreng pakai telur ceplok tiga. Lebih dari spesial katanya.

Surai yang biasa berantakan keliatan keren, kini tersisir rapih mengkilat pakai minyak rambut.

Baju seragam yang biasanya keluar dari celana. Ia masukin ke dalam celana komprangnya.

Nerd. Itulah penampilan Andra sekarang.

Rancuh!

Semua murid bisik-bisik tetangga. Ketawa, mesem-mesem, mencibir bahkan gak mandang Andra sama sekali. Andra gak lagi terlihat menakutkan.

“Apa kalian liat-liat? Pergi sana sebelom gue bogem.” marahku pada siswa-siswi yang nyindir Andra.

Kuacungkan kepalan tinju kepada mereka, hingga mereka menyingkir ketakutan.

“Makasih yah, Ren.” kata Andra tersenyum manis.

Aku berdecih, kuhentakan kaki kesal dan berpaling berjalan menuju kelas.

Andra malah kegirangan, mengikutiku ke dalam kelasku.

Aku duduk disebelah Vita dibangku pojok depan. Andra mengambil kursi lain dan duduk di hadapan kami.

“‘Ndra, penampilan lo ubah deh. Gak banget tau gak!” sindirku.

Vita tergelak geli.

“Jangan ‘Ndra. Begini aja cupu lebi cocok.” sahut Vita sambil ngakak.

Aku menoyor kepala Vita.

“Jangan denger Vital, ‘Ndra. Gue mau tanya ke lo. Kok lo bisa berubah drastis begini sih? Lo gak malu apa?” tanyaku pada Andra serius.

“Gue janji sama lo bedua. Jadi gue lakuin semua ini.” jawab Andra tegas.

Plukk Plukk Plukk..

Vita tertawa keras sembari memukul-mukul meja. Vita terlihat girang sekali hari ini.

“Tapi gak gini juga ‘Ndra. Lo salah terjemahin maksud gue. Gue mau sikap lo aja yang berubah, bukan gaya rambut, baju segala. Oiya satu lagi. Gue emang mau lo itu gak malak siswi di depan gerbang lagi. Tapi kalo lo dibully yah lo harus lawan ‘Ndra. Jangan diem aja dong!!” ucapku berapi-api.

“Cie..cie..cie… Dibelain.” goda Vita.

“Oiya Ren, bukannya lo gak suka liat cowok slengean?” tanya Vita nyengir.

“Iya, gue emang gak suka liat cowok tengil, slengean.” jawabku mantap.

“Emang kenapa, Ren?” Andra penasaran. Menatapku intens.

“Karna cowok slengean itu suka lupa nyeletingin celananya.” jawabku serius.

Vita dan Andra terbahak-bahak hingga gaduh ruang kelas.

See.

Sepertinya aku punya bakat melucu dari lahir. Bicara apapun kedua sahabatku pasti tertawa.

Semua teman sekelasku melihat ke arah kami.

“Diem iih… Ngemaluin tau gak!!” kesalku pada kedua sahabatku.

“Ya abisnya lo lucu sih.” jawab Vita cengengesan.

Kan! Gue serius aja mereka bilang lucu, apalagi gue gak serius.

“‘Ndra.. Lo ngerti kan maksud gue yang tadi.” aku melotot garang.

“Hooh.. Gue paham maksud lo, Ren.” jawab Andra lesu.

“Perhatian banget sih lo, Ren.” goda Vita lagi sambil nyengir.

Aku menoyor kepala Vita lagi.

“Otak lo geser yah sekarang? Jangan nyengir aja tar kerasukan lo. Untung gue masih normal walo maen sama kalian.” sengitku.

“Anjay lo. Gue begini gara-gara jadi sahabat lo. Gue yang paling normal dari pada lo bedua.” Vita makin ngotot.

“Biyasahh ajah mbakee.. Gak pake otot berapa? Oh gue tau, kalian belum mimi cucu kan? Sini ‘Ndra duduk deket gue, mimi cucu duyu.” kataku kepada mereka berdua ingin mencairkan suasana.

Andra cengar-cengir mesum.

“Anjjritt lo. Ngeres aja masi pagi.” Vita geleng-geleng.

“Lo yang ngeres.”

Pletakk..

“Auw…” teriak Vita kaget aku menyentil keningnya.

Vita masih mengusah-usap keningnya.

“Sakit? Maaf yah Vital. Sentilan itu biar lo jadi waras kayak gue. Gak ngeres kayak si Andra noh cengar-cengir aja dari tadi.” terangku.

Kami sama-sama tertawa kencang, sedang Andra merona merah.

“Nih susu buat kalian. Gue bawa dari rumah.” jelasku. Mengeluarkan susu kotak dari dalam tas.

“Gue pikir serius, Ren.” kata Andra cengengesan.

Vita tertawa ngakak.

“Lo mau sarapan pake sepatu gue?” tawarku sembari melotot.

“Gak kok hehe… Becanda.” Andra masih cengar-cengir.

“Sana lo, balik ke alam lo. Bentar lagi bel masuk. Hushh..hus…” usirku pada Andra.

“Makasih yah mimi cucu paginya.” Andra terkekeh.

“Gue juga makasih, Ren. Kebetulan gue buru-buru belom nyarap. Lo itu bawa apaan lagi?”

“Nasgor spesial ++ telornya tiga mau?”

“Mau..mau..mau..”

Vita kesenengan.

“Nih makan, jangan nakal yah?” aku menepuk kepala Vita. Seperti menepuk hewan peliharaan.

“Sialan lo.”

Aku terkekeh pelan.

***

Jam istirahat Vita dan Andra menarikku ke kantin. Dahal aku lagi gak nafsu makan. Pikiranku selalu tercurah ke satu orang.

“‘Ndra pesen mie ayam gih! Sekalian bayarin gue lagi males ambil duit dari kantor gue.” ucapku ngasal.

“Emang dasar lo aja yang pelit.” sindir Vita menoyor kepalaku.

Aku terkekeh pelan. Lalu tersenyum manis di depan Andra. Memperlihatkan puppy eyes-ku.

“Gapapa, Vit. Gue aja yang pesen. Lo mau juga Vit?” sahut Andra semangat.

“Gue sama juga deh, ‘Ndra.” balas Vita.

Andra ngacir memesan mie ayam pesenan kami dengan gesit.

Aku dan Vita mengobrol dengan riang, canda tawa sahabatku ini mampu mengobati sedikit luka hatiku.

Namun tiba-tiba centil-gengz bikin ulah. Membuatku muak.

Jenni dan Fera duduk di depanku tanpa permisi.

“Heh, lo cari bangku lagi! Ini bangku kami.” ngotot Vita.

“Emang ada tulisan nama kalian? Ini kursi punya sekokah. Gue juga berhak duduk disini.” Jenni makin ngotot.

“Gue males banget ladenin lo lo semua. Ati gue lagi kaga enak, mending lo semua minggir deh. Sebelom gue ngamuk.” sengitku pada centil-gengz.

“Gue ada suatu info penting buat lo bedua ketahui. Kalian pasti kaget nanti.” pancing Jenni bikin penasaran.

“Gue gak mau tau! Gue eneg liat kalian bedua. Minggir lo, sebelum gue bener-bener marah.” aku menggeram kesal.

Pengen banget lampiasin emosi sama mereka berdua.

“Ini tentang Andra. Gue yakin lo pasti ilfeel kalo tau berita ini.” pancing Jenni kembali.

Seringaian Jenni membuatku mual. Gak ada pantes-pantesnya.

Jenni mendekatkan wajahnya dekat dengan aku dan Vita seperti ingin mengatakan hal penting tanpa diketahui orang banyak.

“Sebenernya si Andra itu pe_”

“JENNIII….”

Ucapan Jenni terputus. Andra berteriak mendekat ke arah kami.

“Pergi kalian!! Atau gue buat kalian nyesel udah main-main sama gue.” ancam Andra murka. “Lo lupa? Gue punya kartu AS lo bedua?” sengit Andra. Membuat Jenni dan Fera terdiam.

Wajah Andra merah padam. Seperti kemasukan jin item.

Mata Jenni melirik-lirik Fera seperti memohon minta bantuan. Namun Fera tak berkutik. Fera lekas menarik tangan Jenni pergi dari kantin begitu saja.

Aku jadi penasaran tentang apa yang ingin dikatakan Jenni. Ia menyimpan sesuatu yang aku tidak tahu.

Andra yang sedari tadi diam tak berkapa apapun. Aku juga gak tanya macam-macam. Karena itu privasi Andra.

Siang ini sepulang sekolah Vita mengantarku ke toko kak Deni. Kebetulan rumah Vita dekat dengan rukan kakakku. Rukan ini dibuat kak Deni sebagai kantor.

Vita segera pulang dan meninggalkanku dengan kak Deni dan kak Rissa di rukan.

Aku masuk ke dalam, langsung menuju lantai 3. Ruangan kakakku berada.

“Kak Denden mana, Kak?” tanyaku pada kak Rissa yang sedang duduk dikursi kerjanya.

Aku nyelonong masuk tanpa salam. Membuat kak Rissa terkejut.

“Eh, Sayang. Deni bentar lagi balik dari bengkel. Kamu kok gak telpon Kakak dulu mau kesini? Kan Kakak bisa jemput.” kak Rissa menghampiriku dan memelukku. “Kamu naik apa kesini?”

“Dianter sama Vita, Kak.” sahutku meregangkan pelukan kami.

Aku melangkah dan duduk di sofa dekat jendela. Kusandarkan punggungku di sofa melepas lelah. Kak Rissa mengikuti duduk disebelahku.

“Aku bete dirumah, Kak. Kakak tar malem pulang jam berapa?” tanyaku kembali menatapnya.

“Jam tujuh mungkin. Karena ini kan hari jumat jadi besok kantor libur. Kakak mau beresin pembukuan dulu.” terang kak Rissa.

“Lama dong, Kak.” aku cemberut memanyunkan bibir.

“Tumben kamu, biasa juga betah sendirian dirumah.” sela kak Deni. Yang baru masuk kedalam.

Tak terdengar suara pintu karena tadi aku lupa menutupnya.

“Kak Dendeeennn… Aku kangen deh hehe..” gaya tengilku kembali.

Aku bangun berlari dan meloncat memeluk kak Deni.

“Mesti ada maunya!” sinis kak Deni. Sambil memelukku.

“Gak kok!! Aku kangen beneran suerrr… Makanya aku kesini.” aku nyengir mengacungkan dua jari.

Kak Deni merenggangkan pelukan kami. Menghampiri kak Rissa dan mencium keningnya.

“Kok aku gak dicium?” aku ngambek.

Kak Deni dan kak Rissa tergelak kencang. Mereka pikir aku bercanda, dahal aku beneran iri melihat keharmonisan mereka.

Manisnya sikap kak Deni mengingatkan pada kak Revan. Wajahku berubah pias.

“Iya deh, maaf. Kamu mau apa? Tar Kakak beliin deh. Jangan ngambek dong!” pinta kak Deni.

“Aku boleh nginep dirumah Vita gak? Bete dirumah Kak. Kan dah lama aku gak pernah keluar rumah.” ucapku lesu.

“Rumahnya Vita dimana Sayang?” tanya kak Rissa padaku.

“Deket sini kok, Kak. Cuma 10 menit sampe. Berarti boleh dong nginep? Yess…” tawaku ceria.

“Boleh. Tapi inget! Besok harus udah balik kerumah dengan keadaan utuh.” kecam kak Deni.

“Sip… Kak Denden kok makin diliat makin ganteng yah?” aku mengedipkan sebelah mataku.

“Huh..” kak Deni memalingkan muka.

“Kakak anter yah, Sayang?” tawar kak Rissa.

“Gak usah, Kak. Kakak kan repot ngurusin kerjaan. Aku naek ojek aja di depan. Lagian kalo aku minta anterin ama Kak Rissa, entar singa jantan Kakak marah-marah.” aku terkekeh kencang.

“Singa jantan? Pasti Deni yang ngajarin kamu lagi kan?” tanya kak Rissa mendelik marah ke arah kak Deni.

Kak Deni melotot ke arahku.

“Gak, Sayang! Siren suka ngaco kalo ngomong.” kilah kak Deni tertawa hambar.

“Bener??” tanya kak Rissa gak yakin.

“Kata kak Den_”

“Ren, Kakak ada uang jajan nih sedikit buat kamu main sama Vita. Kamu juga bisa beli belanja apa aja nanti.” sergah kak Deni. Memberiku uang ratusan ribu banyak sekali.

Mataku melotot, bibirku mengnganga tak percaya. Kusambar uang yang dipegang kak Deni dengan cepat, ku masukan ke saku seragamku tanpa menghitungnya.

“Yeyy… Belanja kuy… Aku pergi dulu. Bye Kakaku sayang.”

Aku kegirangan mengecup pipi kak Rissa dan Kak Deni. Berlalu pergi dari rukan.

Aku berjalan ke pangkalan ojek yang kebetulan berada di dekat post satpam rukan kakakku.

Jalan ke kompleks rumah Vita sangat sepi. Perasaanku tidak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Ada mobil yang sedari tadi membuntutiku. Hatiku jadi waspada, tak tenang.

Nyitt..

Mobil itu menyusul motor yang aku tumpangi dan mengerem mendadak tepat di depan kami.

Motor kami hampir saja terjatuh jika saja tukang ojek tidak menunjangnya.

Dua orang berpakaian serba hitam keluar dari dalam mobil menghampiriku. Membuatku siaga satu memasang kuda-kuda.

Tukang ojek hanya gemetar ketakutan.

“Pak, lawan dong. Masa diem aja. Kayaknya mereka itu begal.” ujarku pada tukang ojek yang berada disampingku.

“Ba..badannya gede, Neng. Bapak takut.” si tukang ojek gugup menjawab.

“Terus gimana kalo mereka bunuh kita disini? Mau diem aja tanpa melawan, hah?” bentakku pada tukang ojek.

Dua pria berbadan besar dan tegap semakin mendekat.

Sial sekali jalanan sangat sepi. Mau lari pun gak akan bisa lolos. Aku bersiap ingin melawan.

“Heh siapa lo? Jangan rampok gue, gue gak punya duit.” ujarku pada dua pria tersebut.

Mereka tergelak kencang bersamaan.

Kedua pria itu berbalik dan membuka pintu mobil dibagian penumpang.

Aku terkejut melihat seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil.

Seorang pemuda parlente dengan stelan jas branded serba hitam, membuka kacamata hitamnya.

“Kakakk….”

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 9 | Smile of My Girl Part 9 – END

(Smile of My Girl Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 10)