Smile of My Girl Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 8

Start Smile of My Girl Part 8 | Smile of My Girl Part 8 Start

Oblast Rostov, Rusia..

Volte menatap intens layar monitor tanpa berkedip. Matanya tidak pernah lelah memperhatikan gerak-gerik orang yang ada di dalam layar laptopnya.

Tak disadarinya, perasaan kagum diam-diam merasuk perlahan di rongga hatinya. Senyuman tipis terbit kala melihat tingkah pola seorang gadis di dalam video tersebut.

Beberapa hari sudah, Volte memata-matai Siren. Anak buahnya merekam semua aktivitas Siren di rumah maupun di luar rumah.

“Pantas saja adikku si manusia es bisa takluk padanya.” gumamnya pelan.

Wajah cantik Siren, tubuh yang indah menggiurkan, senyum menawan, sangat mustahil baginya untuk menolak mengakui pesona yang dimiliki gadis itu.

Siren benar-benar berbeda dari wanita kebanyakan. Pembawaan ramah, santai, simple, dan agresif menjadi daya tarik tersendiri. Wanita lain yang seksi sekalipun akan tampak membosankan jika berulang kali dipandang. Tapi gadis ini punya pesona tersendiri. Membuat manik Volte selalu berfokus padanya.

“Sangat menarik!” itulah yang terpikirkan oleh Volte saat memandang Siren. Gadis kecil yang memiliki seribu gaya untuk memikat hati Vale.

“Bodoh sekali Vale tidak pernah menyentuhnya.” Volte tersenyum mesum.

Volte mengusap-usap dan ketukan jarinya di dagu. Seraya berpikir, apa yang harus dilakukan pada gadis itu.

“Sepertinya aku harus turun tangan sendiri menghadapi dia.” terbit seringaian iblis di wajah Volte.

“Well.. Tunggu saja waktunya sayang!” kata Volte ambigu.

Senyum mesum khas Volte selalu menghiasi bibirnya. Seringai di wajahnya yang tampan mengukir seiring dengan otak kotornya yang terus bekerja.

Keasikan Volte sedikit terusik tatkala pintu ruangannya terbuka. Seorang anak buahnya masuk dan segera memberikan informasi padanya.

“Tuan, semua sudah siap.” ucap pengawal yang baru saja masuk dan menundukan kepala.

“Saatnya pertunjukan! Habisi mereka semua tanpa sisa. Bawa Stone kehadapanku hidup-hidup.” perintah Volte.

Pengawal itu menunduk hormat dan berlalu pergi setelah mendapat perintah pria berhati kejam itu. Raut wajah Volte berubah dingin. Wajahnya yang tampan tidak bisa menutupi sirat kekejamannya. Amarah penuh dendam tampak sangat jelas di sorot matanya.

“Kali ini akan kuhabisi kau Stone!” gumam Volte berapi-api.

Tiga ratus tujuh puluh delapan pasukan berpakaian hitam dengan pin berinisal V mengepung sebuah kasino di kota Azov. Kota yang berada di pesisir timur laut Azov di Oblas Rostov, Rusia. Wilayah kekuasaan klan Romanov yang baru saja membangun Las Vegas mini sama persis seperti Las Vegas yang ada di Macau China.

Pasukan baret V yang dikomandoi Volte segera merangsek masuk ke dalam kasino. Ribuan pengunjung menjerit ketakutan. Suara lesatan senjata api bersahut-sahutan menggema di seluruh ruangan. Pasukan baret V terlatih memegang kendali mengalahkan penjaga kasino. Pengunjung serentak menunduk dan bersembunyi berlindung di kolong meja. Para pengawal klan Romanov ditembak di tempat ketika melawan. Kasino yang dulunya indah sangat eksentrik kini menjadi laut merah, berbau anyir menyengat.

Ruangan Stone..

“Apa yang terjadi?” tanya Stone kepada pengawalnya melalui telepon.

Stone melihat dari camera CCTV di dalam ruangan pribadinya. Ruangan perjudian hancur berantakan. Para tawanan disekap berjejer di dekat dinding, di kawal ketat oleh pengawal Vandals.

“Maaf, Tuan. Tempat kita sudah di obrak-abrik. Sepertinya mereka dari klan Vandals. Sebaiknya Tuan pergi dari sini.” sahut salah satu penjaga ruang monitor, di ujung telepon.

“Bodoh!! Mengapa tidak melapor dari ta_”

Dorr..

“Arrggghhh…” teriak pengawal tadi diujung telepon.

Ucapan Stone terhenti tak kala merdengar letusan senjata api dari gagang telepon Stone.

Wajah stone memerah menahan marah. Stone membanting gagang telepon. Amarah mendidihkan nadinya. Stone sangat murka karena harga dirinya merasa terinjak-injak. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa menit saja.

Baru saja ia membuka Las Vegas mini di kota Azov lantaran kasinonya di Moskow ditentang pemerintah Rusia.

Karena menurut undang-undang yang berlaku di Rusia. Kasino hanya diizinkan untuk empat wilayah Rusia yang jauh dari ibukota, Moskow.

Kini kembali petaka itu datang. Las Vegas mininya di kota Azov diambang kehancuran.

Sejak hancur bisnis kasinonya di Moscow, Stone menjadi kasar dan pemarah. Hingga isteri tercintanya berpaling darinya. Celakanya, Issable lebih memilih one night stand dengan pria yang tak lain menjadi musuh bebuyutannya yaitu Volte.

Stone akhirnya mengetahui semua yang terjadi dan tanpa ampun Issable kini ia tawan ditahanan bawah tanah mansionnya di Distric Solntsevo.

Atas kejadian itulah, Stone akhirnya menyalahkan segalanya kepada klan Vandals. Merampas wilayah pasar gelap yang dipegang oleh Volte serta merampas gudang senjata Vandals di kota Vittoria, Italy.

“Inilah hukuman yang diterima Vandals jika berani melawanku!” itu pikiran sombong Stone saat itu.

Namun kini keadaan berbalik.

Stone seakan baru tersadar akan kebesaran dan keangkeran keluarga Vandals. Sungguh miris nasibnya melawan keluarga Vandals.

Kepala Stone pusing! Ia rugi besar. Kasinonya di kepung, dihancurkan oleh Vandals.

Napasnya bergemuruh, giginya gemeletuk dengan wajah dihiasi amarah yang menggebu-gebu. Ia mematikan semua fungsi saluran telepon dan aliran listrik di ruangannya. Stone memutar salah satu patung antik yang berada di meja kerjanya. Pintu rahasia terbuka dibalik rak kaca penyimpanan campagne.

Stone memasuki pintu rahasia penghubung dan menekan tombol arah turun seperti lift. Lift itu berjalan turun hingga ke lantai terbawah. Ia membuka pintu kemudian menekan tombol open.

Klikk..

Namun tanpa ia sangka dua orang pengawal Vandals sudah menunggunya di sana. Tanpa dia ketahui sebelumnya, salah seorang pengawal Vandals berhasil memukul tengkuknya dengan benda tumpul sangat keras sebelum ia sempat menarik senjata di saku celananya.

Bugg..

Stone merasakan seperti mendapat serangan vertigo secara mendadak yang membuat kepalanya berputar-putar, pandangan matanya menjadi buram dan akhirnya gelap. Badannya limbung, beberapa detik kemudian jatuh tersungkur.

***

Byurr..

Stone tersadar dari pingsannya. Karena tersiram air. Kesadarannya berangsur-angsur pulih membuatnya mengernyit bingung melihat ruangan yang dia tempati sekarang. Stone semakin tersadar akan keadaan dirinya tatkala tubuhnya didudukan pada kursi besi dengan kaki dan tangan diikat besi pipih tipis.

“Arrgghh… Siapa kalian? Kau tidak tahu siapa aku!” bentak Stone marah.

“Kau sudah bangun? Apa kau bermimpi indah Stone!” tanya seorang pria asing.

“Siapa kau? Berani sekali kau padaku! Apa kalian ingin mati?” murka Stone.

Pria asing tergelak geli.

Ia hanya duduk di kursi membelakangi Stone.

“Nyawamu sudah di ujung tanduk Stone, kau masih saja sombong.” cibir pria asing itu.

“Apa yang kau inginkan? Uang? Aku akan membayar 10x lipat dari orang yang menyuruhmu.”

Pria asing itu tergelak semakin kencang.

“Aku punya banyak uang, aku punya kekuasaan. Aku tak butuh itu semua.” pria asing meremehkan.

“Lalu apa maumu? Mengapa kau menahanku?”

“Penukaran.” jawab pria asing singkat.

Stone kebingungan. Menatap tajam pria asing tersebut. Ia berpikir tidak mungkin itu pewaris Vandals karena anak buah Stone sudah meledakan bunker penyimpanan, yang ia kira Volte berada di dalamnya.

“Penukaran apa? Kau menginginkan kasinoku ini?” pancing Stone.

Dijawab langsung dengan gelengan kepala pria asing itu sambil tertawa menggelegar.

“Aku tidak butuh kasino kecilmu ini.” ucap pria asing itu sangat santai.

“Lalu apa maumu?” Stone penasaran.

Pria asing itu berhenti tertawa. Hening sesaat.

“Aku hanya menginginkan nyawamu.”

Suara dingin mencekam keluar dari pria asing itu. Stone bergidig ngeri merasakan aura kejam dari pria asing itu.

“Siapa kau?”

Pria asing itu memutar kursinya menghadap Stone. Mata Stone melebar sempurna. Jantungnya berdegub kencang. Ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya dan ia semakin membuka matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya itu.

“Ka… kau… tidak!! Ini tidak mungkin…” Stone gelagapan. “Kau sudah mati, orang-orangku sudah meledakanmu di dalam bunker itu.” ia histeris.

Saat itu juga, Stone menjadi waspada, ekor matanya melirik kiri kanan berpikir ingin melarikan diri. Ia bisa menebak saat ini nyawanya hanya tinggal hitungan menit saja berada di tempat ini. Ia tahu bahwa nyawanya akan melayang kalau ia tidak bisa melarikan diri. Stone menghela nafas, otaknya berpikir keras bagaimana caranya untuk keluar dari tempat ini.

Pria asing itu terkekeh kejam. Raut wajah dengan seringaian buas terpancar membuat suasana semakin mencekam. Bagai seekor singa lapar yang siap menerkam mangsanya kapan saja, wajah pria asing itu menyeringai penuh kemenangan.

“Kau yakin, bahwa kau sudah membunuhku?” smirk iblis keluar kembali.

“Kau sudah mati Volte. Kau sudah hancur dalam bunker itu.” sahut Stone kencang.

Mendengar ucapan Stone tersebut Volte tergelak geli. Tawanya yang bebas sehingga tampak deretan giginya yang putih seperti gigi serigala yang sedang memperebutkan mangsa.

“Apa kau memastikan sendiri jika aku sudah mati?” Volte meremehkan Stone.

Stone merinding memandang aura dingin dan kejam dari wajah Volte. Sebelumnya ia sangat yakin setelah anak buahnya melaporkan jika Volte tewas terbius dan telah di ledakan bersama-sama dengan bunker itu.

Lalu siapa yang berada disana?

Jika Volte yang asli ada disini bersamanya!

“Pe… penukaran apa yang kau mau Volte? Kau menginginkan wilayahmu kembali? Ambilah untukmu. Dan biarkan aku bebas.” Stone memberikan penawaran.

Namun, Volte menatap bengis pada Stone tanpa berucap satu katapun.

Stone terus berpikir bagaimana ia bisa membebaskan diri dari Vandals. Tak mungkin ia bebas tanpa syarat apapun jika berada dalam tangan Volte.

“Nyawa dibayar dengan nyawa!!”

Aura mengerikan Volte kembali membuat Stone bergidig ngeri.

“Kau sudah mencoba macam-macam dengan Vandals. Kau tahu? Tidak ada kata memaafkan jika berhubungan dengan Vandlas. Kau merebut daerah kekuasaanku, menghancurkan bunkerku serta membunuh orang-orangku. Apa kau pikir kau bisa bebas?” Volte berucap dengan nada santai, namun kata-katanya penuh dengan ancaman.

“Ka..kau lah yang memulai lebih dulu, merebut milikku yang kusayangi.” gugup Stone memalingkan muka.

“Kau lah yang menggunakan cara licik menikahi secara paksa, Issable. Kau memperkosanya, memanfaatkan kelemahan gadis itu, serta mengancam keluarganya. Kau juga menggunakan cara kotor telah menuduh Issable berselingkuh dari kekasihnya. Hingga orang yang amat dicintai Issable pergi meninggalkannya.” geram Volte.

Stone tak berkutik. Volte bahkan tahu apa saja yang ia lakukan demi mendapatkan Issable dulu.

“Kau tak bisa menjawab, Stone? Aku hanya memakai sekali saja barang bekasmu. Mengapa kau sangat pemarah!”

Wajah Stone merah padam. Issable ialah wanita satu-satunya kesayangan Stone. Mana mungkin ia rela isterinya dihina oleh orang lain. Walaupun cara mendapatkan Issable dulu itu sangat rendahan.

“Kau!! Beraninya kau menghina istriku!!” bentak Stone marah.

Volte mendengus dingin.

Mata elangnya menatap tajam seakan ingin menghujam orang dihadapannya.

“Kau marah aku menghinanya? Kau bahkan mengurungnya di penjara bawah tanah di mansionmu.” sinis Volte.

“Awas saja kau Volte jika berani sekali lagi menyentuh milikku!!” Stone berteriak kesal.

“Kau lah yang telah merebut milik orang lain. Sekarang rasakan sendiri jika bermain-main dengan Vandals. Waktumu sebentar lagi. Aku sendiri yang akan mengulitimu.” ucap Volte tegas.

Volte merasa cukup bermain kata dengan musuh besarnya. Akhirnya, Volte memberi kode dengan menatap pengawal yang berada di sisinya. Si pengawal itu mengerti kode yang di maksud oleh Volte. Dan mengambil satu koper besar peralatan memberikannya pada Volte.

Volte membawa koper besar tersebut, membukanya di hadapan Stone dengan perlahan meletakannya di meja. Koper yang berisi alat-alat tajam, seperti belatih, pusau bedah, pisau besar, gerindah kecil, kawat tipis, suntikan dengan obat kimia, serta alat setrum.

Stone menatap horor, pada isi di dalam koper. Dulu ia hanya mendengar kekejaman keluarga Vandals hanya dari kabar miring saja. Baru beberapa hari lalu ia menyaksikan sendiri mayat anak buahnya yang disiksa oleh Volte palsu di bunker penyiksaan.

Apa hari ini ia akan benar-benar dikuliti?

Pikiran Stone kalut. Pergelangan tangannya gemetaran hingga lecet tergese-gesek besi pipih yang mengikatnya. Kegetiran mulai merayapi selubung hatinya. Ketakutan mulai mencengkram jiwanya.

“Kau akan tahu siapa Vandals sesungguhnya.” ucap Volte datar seraya mengambil suntikan dan menekan alat suntik itu ke atas hingga air zat kimia memancur ke udara.

Cretss.. Testt..

Cairan kimia itu jatuh ke meja besi dan membuat membuat taplak meja kulit meleleh. Melihat apa yang ingin Volte lakukan pada dirinya Stone berteriak histeris sesaat, mencoba melepaskan diri.

“Tidak!! Berhenti kau brengsek..” pekik Stone.

“Aaarrrrgghhh…….” jeritan panjang Stone.

Wajah Stone yang mulus disuntikan cairan kimia seperti air keras oleh Volte. Sedikit demi sedikit wajah Stone berubah menggelembung menyerupai balon bisul berisi air yang siap meledak.

Cusss..

Seperti letusan gunung berapi. Balon bisul itu meledak satu persatu hingga wajah Stone membengkak, memerah, membusuk. Jeritan panjang Stone menahan rasa sakit yang amat sangat menggema di seluruh ruangan. Mata Stone mendelik melotot. Kemudian tak sadarkan diri.

“Cih.. Pria lemah sepertimu ingin bermain-main denganku.” Volte mendecih.

“Pengawal… Kuliti dan potong-potong hingga bagian terkecil. Buang bangkainya di jurang. Sisakan kepalanya kirim kepada keluarganya.” perintah Volte pada anak buahnya.

“Baik, Tuan.”

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 8 | Smile of My Girl Part 8 – END

(Smile of My Girl Part 7)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 9)