Smile of My Girl Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 7

Start Smile of My Girl Part 7 | Smile of My Girl Part 7 Start

Sicily, Italy..

Aku terlahir kembar. Aku dan saudara kembarku hanya berbeda dua menit terlahir ke dunia dan aku yang belakangan keluar dari perut ibu. Walau kami berdua terlahir hampir bersamaan tetapi sifat dan karakter kami berbeda. Kakakku memiliki karakter yang urakan, mesum, jahil, serta perhitungan yang matang adalah sifat yang melekat kuat pada dirinya. Sementara aku memiliki karakter yang keras, ulet dan serba ingin cepat selesai tetapi sifat perfeksionisku begitu kental mengalir dalam darahku.

Namaku Valerio d’Anuncio Buck dan kakakku bernama Volte d’Anuncio Buck. Kami lahir di Laut Mediterania ini, laut yang mengisahkan penjajahan dan penguasaan manusia atas manusia lain. Orangtuaku sangat menyayangi kami berdua, ayahku bernama Vabio d’Anuncio Buck dengan nama Korea yang diberikan nenekku Kim Yo Min dan ibuku bernama Marta Ngon.

Sejak kecil aku diasingkan ke Thailand karena gangguan psikologis dan dibesarkan oleh ibuku di Indonesia. Selama di Indonesia, aku menggunakan nama lain yaitu Revan Apriliano sebagai nama samaran sekaligus nama dari bagian diriku yang lain. Kami satu tubuh!

Ya, aku memiliki kelainan yaitu aku memiliki dua kepribadian. Aku mengetahui memiliki kelainan psikologis itu saat aku berumur 10 tahun.

Aku, Valerio d’Anuncio Buck, tidak takut akan apa pun di dunia ini karena bagiku rasa takut adalah titik kelemahan yang bisa membuatku lemah. Rasa takut tidak pantas menjadi penghalangku. Dunia bisa aku genggam dengan tanganku, segala penghalang akan aku libas, tidak ada yang bisa menghalangiku. Aku ingin menjadi penguasa dunia, obsesi itu sudah mengaliri di semua pembuluh darahku.

Namun, ada satu kelemahanku yaitu jika jiwa Revan mengambil alih raga dan jiwaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun aku mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Revan.

Setelah sekian lama jiwa Revan bersemayam dalam tubuhku, hanya satu orang yang mampu membangunkan jiwa Revan, yaitu gadisku.

Sebagai keturunan dari seorang mafia sekaliber kakekku, seharusnya aku tidak lemah seperti Revan sialan itu.

Ya, kakek buyutku seorang mafia kelas tinggi dengan catatan rekor terbayak akan kekejamannya, hingga nama Vandals tersemat pada keluarga kami. Kami juga sering disebut keluarga bar-bar karena menghabisi musuh dengan menyiksa perlahan hingga tewas.

Kakekku bernama Van d’Anuncio Buck masih keturunan bangsawan dari Italia, sedang nenekku bernama Kim Yo Eun berasal dari Korea Selatan. Kakekku berperangai sadis dan kejam. Ia mafia nomor satu penghuni pulau Sisilia, yang ditakuti oleh para mafia di berbagai negara. Hingga pada akhirnya ia takluk dengan pesona nenekku yang berasal dari Korea.

Kisah keluarga Vandals sangat rumit. Perebutan kekuasaan sering terjadi. Kakekku adalah anak keenam merupakan anak haram hasil hubungan gelap dari istri simpanan kakek buyutku. Di lingkup keluarga besar kakek buyutku, terjadi perang saudara yang mengakibatkan terbunuhnya kelima saudara kandung se-ayah dari kakek buyutku. Harta, bisnis, kejayaan, kekuasaan dari kakek buyutku akhirnya jatuh ke tangan kakekku karena ia satu-satunya yang tersisa dan berdarah Vandals.

Semua orang tahu kalau kakakku, Volte, adalah pewaris tunggal Vandals. Kerajaan yang dibangun kakek buyutku akhirnya akan jatuh pada Volte. Selain memang ayahku yang tidak ingin berkecimpung dalam dunia mafia, Volte lebih dekat dengan kakekku. Sementara aku kurang mengenal kakekku karena aku sudah diasingkan sejak kecil. Namun, aku tetap ikut berperan dalam perebutan kekuasaan wilayah pasar gelap yang kini dikuasai oleh Volte.

***

Udara dingin menyelimuti seluruh pelosok negeri. Tanaman enggan mengeluarkan kuncupnya, para binatang pun lebih memilih beristirahat di dalam sarangnya. Kepulan asap yang keluar dari mulut dan hidungku menandakan suhu udara hari ini sangat dingin. Aku kini berada dalam bunker penyimpanan senjata api. Melacak setiap gerak-gerik pendatang yang mencurigakan datang ke pulau ini.

Bunker penyimpanan senjata api yang aku tempati ini adalah milik kakekku. Kakekku memiliki kebun anggur di kota Vittoria, Provinsi Ragusa di Pulau Sisilia. Sesungguhnya perkebunan anggur ini tidak terurus dan hanya dijadikan kedok untuk menutupi gudang senjata kami yang tersimpan dalam bunker. Bunker tua ini diwariskan secara turun menurun dari mendiang kakek buyutku.

Saat aku sedang asik memperhatikan situasi sekitar lewat jendela ruanganku, tiba-tiba datang seorang pengawalku dengan wajah yang sedikit tegang. Dari gesturenya aku sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan.

“Tuan, mereka sudah berada di perbatasan arah selatan Ragusa.” ucap pengawalku.

“Biarkan mereka mendekat … Perintahkan pada semua, agar siap-siap menyambut mereka …” perintahku padanya.

“Baik tuan!” sahut pengawalku lalu keluar ruanganku.

Kira-kira setengah jam kemudian, aku sudah dapat melihat dari kamera pengintai, puluhan anak buah Romanov mendobrak masuk salah satu bunkerku. “Bagus! Mereka memakan umpan yang kuberikan. Hanya menunggu waktu saja untuk melenyapkan mereka.” batinku dalam hati. Aku berjalan menghampiri salah satu pengawalku.

“Mereka sudah datang. Berikan sambutan dan jamuan yang meriah untuk tamuku. Ingat! Jauhkan dari turis lokal, giring mereka terus ke selatan.” perintahku sambil tersenyum iblis. Mafioso-ku menunduk hormat dan pergi.

Aku sangat senang hari ini karena aku bisa menyiksa, menguliti, memotong-motong hingga ke bagian terkecil tubuh lawanku. Bagiku semua itu adalah sebuah hiburan yang menyenangkan. Hidupku sudah bermandikan darah sejak usia tujuh tahun. Didikan keluarga lah yang telah menjadikan aku menjadi Vandals sesungguhnya.

Ku lihat anak buah Romanov telah masuk ke dalam bunker-ku dan aku pastikan mereka tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Kutekan tombol merah mengaktifkan locked pada bunker tersebut. Tombol itu juga berguna mengeluarkan bius serta menghisap oksigen pada ruangan tersebut hingga bisa membuat seseorang tak bisa bernafas selama beberapa menit.

Binggo!

Aku yakin kalau semua puluhan anak buah Romanov sudah terkapar tak berdaya. Kutekan kembali tombol hijau untuk membuka pintu depan agar mafiosoku bisa merangsek masuk. Mereka menyeret dan merantai beberapa orang pada ruangan yang telah aku siapkan. “Good job …” gumamku pelan.

Bunker itu sudah aku modifikasi dengan berbagai ruangan penyiksaan. Satu ruangan pelacak yang sudah tidak aktif lagi serta beberapa ruangan tahanan bawah tanah. Mafiosoku yang sudah terlatih pasti memasukan anak buah Romanov itu dalam masing-masing kamar penyiksaan yang telah aku rancang sendiri.

“Semua sudah siap, tuan!” pengawalku memberikan isyarat agar aku mulai beraksi. Seketika itu juga aku tersenyum puas.

“Jaga di depan, akan kuurus tawanan ini sendiri.” perintahku.

“Baik, Tuan.” sahut pengawalku dan pergi keluar.

Aku pakai pakaian kulit serba hitam dan sarung tangan karet untuk memulai penyiksaan. Pakaian yang selalu kugunakan untuk memberi efek jera pada musuh-musuhku. Aku lah Vandals.

Kutekan tombol tersembunyi yang berada di bawah kursi ruanganku. Maka terbukalah pintu penghubung antara tempatku berada dengan bunker tempat penyiksaan tawanan. Kutelusuri lorong gelap yang hanya diterangi temaran dari sinar laser mematikan. Hanya aku yang dapat melewatinya. Beberapa saat kemudian, kubuka koridor belakang pada obor yang padam di bagian kananku.

Srekkk..

Pintu itu terbuka. Dari ruang kontrol, aku bisa melihat sepuluh orang tawanan di ruangan pelacak yang sudah tidak aktif lagi itu, yang aku modifikasi menjadi ruangan setrum. Dalam ruangan setrum itu semua tawanan dibaringkan pada ranjang besi dengan tangan terborgol rantai yang kupasang aliran listrik ribuan volt mematikan. Aku mengontrol semua pengintai serta alat-alat penemuanku yang kurancang sendiri. Akhirnya, aku stel aliran listrik tersebut dengan daya sengat rendah.

Ceklitt..

Mereka semua kejang dan terbangun. Mereka semua berteriak histeris dan membiru, tubuh mereka kejang dan terbakar. Kuputar kembali dengan daya sengat tinggi. Bau hangus darah tercium di hidungku. Aku menikmati pemandangan ini! Aku menikmatinya, menikmati setiap adegan penyiksaan itu setiap detik.

Setelah aku puas melihat tubuh mereka terpanggang hingga berwarna hitam, aku keluar ruang setrum dan memasuki ruangan kedua. Ruangan penyiksaan berikutnya ialah gantung hidup-hidup. Sepuluh orang tanpa busana berada disini dengan kedua tangan terikat rantai besi, di kedua kaki tergantung bola besi dengan berat 20 Kg serta ujung rantai yang terikat ke bawah memutari putaran yang mempunyai tuas untuk menarik kaki dan tubuh korban hingga terputus.

Kutarik tuas yang menghubungkan pada sepuluh rantai bola besi se arah jarum jam secara perlahan. Jerit kesakitan kembali terdengan ramai riuh di ruangan ini.

Kletakk..

Ada bagian yang patah dan putus pada tulang kaki yang tersambung di antara mereka. Suaranya sungguh indah, aku menikmatinya sesaat sebelum kutarik tuas lebih cepat. Lantai dibanjiri genangan air merah seperti red whine. Bau amis serta merta menohok indera penciumanku. Kuhirup dalam-dalam bau amis darah itu. Bau yang kusukai! Kusunggingkan senyuman khasku.

Ruangan ketiga ialah bangsal. Bangsal yang terdapat sepuluh ranjang besi berisi manusia-manusia laknat. Terikat seutas tali besi tipis, sangat tipis pada bagian pergelangan tangan dan kaki para sanderaku. Kuambil pisau bedah dengan berbagai ukuran serta gerindah kecil tipis. “Its show time!” ini adalah ruangan kesukaanku.

Pasien pertamaku masih belum siuman dan yang lain sudah teriak ingin melepaskan diri. Pergelangan tangan mereka tergores core yang melilit mengancam putusnya nadi mereka.

Ku usap perlahan bagian dada kiri pasienku. Kutusukkan perlahan pisau bedah itu centi demi centi hingga membuat pasien mendelik, memekik kencang.

“Ssst… Diamlah. Jika kau bergerak akan semakin sakit nanti. Aku hanya memerlukan jantungmu untuk kusimpan dalam wadah itu.”

Kuanggukan dagu ke atas menunjukan puluhan toples berisi masing-masing jantung para musuhku. Aku tergelak kencang. Pasienku gemetar dengan wajah semakin memerah. Pembuluh nadinya hampir saja robek karena ia memberontak bangun ingin melarikan diri.

Classh..

Ku gores dengan kencang dada pasien pertamaku dengan cepat. Cipratan darah itu mengenai wajahku. Pasien itu melotot dan tak bernyawa lagi setelah menggelepar. Kuambil jantungnya dan memasuknya ke dalam toples kosong berisi cairan kimia. Baru saja aku akan menghampiri pasien kedua, tiba-tiba ….

Dokk Dokk..

Pengawalku mengetuk pintu mengganggu aktifitasku. Terpaksa aku membuka pintu ruanganku dulu.

“Ada apa? Jangan ganggu aku.” Bentakku.

“Maaf, Tuan. Kita di kepung! Serangan Romanov sudah di depan ingin mengebom bunker ini.” Pengawalku berkata dengan wajah yang pucat pasi.

“Aarrrghh… Sial!!” Pekikku.

Kubuka sarungan tangan karet yang telah bermadinkan darah. Aku bergegas keluar ruangan menuju, ruang monitor.

“Lewat sini, Tuan.” Ajak pengawalku.

Kami berlari memasuki lorong besi yang terang jalan menuju ruang monitor. Kami berlari secepat-cepatnya. Aku berusaha mengimbangi langkah lari pengawalku yang ternyata lebih cepat dariku. Tiba-tiba …

Dorr.. Dorr..

“Arrghh…” jeritku menahan sakit.

Punggung kananku tertembak senjata api. Darah mulai merembes keluar dari daerah yang terkena tembakan. Sambil terus berlari, aku pegang bagian yang terluka di punggung kanan bagian atas. Tidak berapa lama, aku dan pengawalku bersembunyi pada sekat pembatas yang terdapat loker besi untuk penyimpanan senjata tajam. Kuambil sepasang belatih yang kusimpan di kedua booth-ku. Kuambil senapan di bagian belakang celanaku dan kubidikan pada musuh.

Dor… Dor… Dor…

Aku rasa tembakanku mengenai sasaran. Aku lihat sekilas, satu musuh tertembak di bagian lengannya.

Dor… Dor…

Mereka menembak angin. Tetapi punggungku terasa terbakar, sakit sekali hingga tangan kananku melemah. Pada saat itu, aku menyadari ada seseorang yang berusaha mendekat pada posisi kami. Kuambil belati dengan tangan kiri dan kuarahkan pada musuhku yang mendekat.

Sleppp…

Tepat sasaran. Bidikanku tak pernah meleset. Belatiku mengenai punggung tangan musuhku yang memegang pistol. Aku berlindungan lagi, kulihat ratusan peluru berterbangan di sampingku. Sahut-sahutan suara senapan semakin dekat. Ada banyak sekali anak buah Romanov yang masuk ke dalam bunker.

“Tuan Volte.. Anda pergi saja! Biar di sini aku yang tangani. Keselamataan anda lebih utama untuk menghancurkan Romanov.” cetusnya sambil saling menyerang lawan. Sontak aku menaikan satu alisku.

“Siapa namamu?” aku tatap intens wajahnya.

“John. Saya John. Pengawal baru anda.” jawabnya sambil siap siaga dengan pistol yang digenggamnya erat.

“Mari kita habisi mereka sama-sama. Aku bukan seorang pengecut yang lari tanpa perlawanan. Aku Vandals, kau tahu artinya itu? Hanya dengan kemenangan yang akan membawa aku keluar hidup-hidup dari sini.” janji seorang Vandals sejati.

Di seberang loker terdapat senjata api laras panjang yang mengantung di dalam kotak kaca. Aku harus bisa meraih senjata itu untuk bertahan dari serangan anak buah Romanov yang semakin merangsek mendekati posisinya.

“John. Kecoh lawan. Aku akan mengambil senjata itu.” perintahku pada John. Aku menatap senjata api laras panjang dan menganggukan daguku ke atas.

John mengerti lalu berguling ke depan melawan lima orang musuh dengan cepat. Di usia yang masih muda John sungguh tanggap. Gerakannya sangat gesit, lincah dan dia berhasil menghindar dari serangan sekaligus melumpuhkan musuh. Pantas saja ia menjadi pengawal pribadi Volte.

Aku menunduk serta berguling memecahkan kotak kaca tempat senjata api dan mengambilnya. Kini senjata itu telah ada digenggamanku. Aku mulai mengintai, ada lawan kira-kira tujuh orang berpakaian turis lokal yang memegang senjata api yang sedang mendekat. “Sial..! Romanov ternyata sangat licik juga. Dia bisa mengetahui bunker rahasiaku.” gerutuku dalam hati.

Aku akan menyelidiki lagi, siapa Romanov sebenarnya. Ia bukan lawan yang sembarangan. Aku salah menduga karena telah meremehkan musuhku. Pasti ada orang dalam yang terlibat kali ini. Aku sangat yakin kalau ada anak buah Romanov yang berhasil menyusup di organisasiku.

Aku menembak dengan senapan laras panjang dari balik loker besi tempat aku berlindung. Darah bercururan di mana-mana setelah berberapa menit kemudian. Aku merasa ada anak buah Romanov yang terkena tembakanku.

Dor… Dor… Dor… Dor… Dor… Dor… Dor…

Suara desingan peluru berlarian menyapa gendang telinga serta suara teriakan dari anak buah Romanov. Aku terus bertahan dan berusaha menghalau musuh yang terus merangsek mendekatiku.

“Tuan sebaiknya anda pergi dari sini! Tempat ini seperti sudah di kepung oleh mafioso Romanov!” seru John.

“Tidak!! Akan kuhabisi mereka semua.”

Dalam kamusku tidak ada kata menyerah. Walaupun nyeri pada bagian bahuku semakin menyiksa. Bau anyir tercium oleh indera penciumanku, bau darahku sendiri. Memang aku mulai melemah, tetapi tidak akan mempengaruhi tekadku untuk menghabisi semua lawanku.

“John.. Aku akan maju, kau lindungi aku dari belakang! Akan aku habisi mereka semua.” Amarahku berapi-api.

“Cukup sudah bermain-main. Akan kutunjukan siapa Vandals sesungguhnya.” gumamku dalam hati.

Di sisa tenagaku, aku maju dan berlari membidik mereka semua dengan pasti. Satu persatu musuhku berjatuhan, John melindungiku dari belakang dan menembaki mereka yang ingin melukaiku.

Aku berhenti di depan ruangan nomor 1 bunkerku. Pintu bunker telah dibuka paksa dengan alat peledak tanpa suara. Kumasuki ruangan monitor guna melacak musuh. Namun tiba-tiba dua orang musuh yang bersembunyi di dalam ruangan itu mencidukku. Amarahku meledak hingga membuatku lengah.

Dor…

Sesuatu telah bersarang di dadaku. Kesadaranku menipis, itu obat bius. Seketika itu, kepalaku terasa sakit, aku memaksa untuk terus membuka mata namun buram dan akhirnya gelap semuanya…

***

AUTHOR POV

“Kakakkkk!!”

Siren terbangun dalam tidurnya. Dini hari masi terlalu lama untuk matahari bersinar.

Bulir keringat membahasi dahi dan wajahnya. Tarikan nafasnya bergemuruh. Rasa sesak di dalam dadanya terasa menyakitkan.

Siren memegang, menekan serta meremas dada kirinya dengan kencang. Perasaan yang tidak pernah sekalipun ia rasakan.

Tak terasa air mata itu menetes begitu saja. Ia menyentuh dan melihat dengan ujung jari telunjuknya.

Sesak, sesak sekali rasanya…

Isakan tangisan pilu itu terdengar tanpa diketahui penyebab rasa sakit itu. Hanya satu yang ada di pikirannya.

“Semoga ini hanya mimpi.” gumamnya pelan disela tangisannya.

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 7 | Smile of My Girl Part 7 – END

(Smile of My Girl Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 8)