Smile of My Girl Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 4

Start Smile of My Girl Part 4 | Smile of My Girl Part 4 Start

Sejak pulang tadi kerjaku hanya mondar-mandir dari kamar turun ke lantai 1, membuka tirai dan mengintip ke seberang rumah.

Baru malam hari terasa, kakiku pegal semua. Aku meraung-raung di kamar. Kak Deni kasihan melihatku, hingga ia memijit kakiku dengan balsem hijau yang hangat.

“Auw… Kak, sakit..sakitt… Pelan-pelan dong!” teriakku kesakitan.

Kukerutkan dahiku menahan sakit saat kak Deni menekan keras betisku dengan ibu jarinya.

“Tahan dong, bentar lagi selesai.” jawab kak Deni sambari memijit kakiku. “Udah beres. Masih sakit gak?”

“Udah enakan.” jawabku lesu.

Rasa hangat balsam, membantu mengurangi pegal dikakiku.

“Ternyata lari-lari mengejar yang tak pasti capek juga.” batinku galau.

“Emang abis ngapain sih? Bisa sampe begini?” kak Deni gedumel.

“Lari-lari keliling monas.” jawabku ngasal.

“Kurang kerjaan banget kamu kelilingin monas! Ikut lomba apaan sih? Ada hadiahnya gak?” tanya kak Deni absurd.

“Kak Ris, Kak Denden tuh.” kataku memanyunkan bibir.

“Deni… Kasian Siren tuh lagi sakit. Jangan aneh-aneh deh.” kak Rissa membelaku.

“Adik kesayangan kamu tuh! Yang aneh, Monas kok dikelilingin.” cibirnya.

Kak Rissa geleng-geleng kepala.

“Astaga, Den. Kamu kok oon amat sih.” kak Rissa geregetan.

“Kok aku yang diomelin? Yang salah kan Siren, Yang.” kak Deni gak terima.

“Kamu diem dulu deh.” marah kak Rissa.

“Iya..iya.. Salah lagi, salah lagi.” kata kak Deni takut dengan kak Rissa.

“Sayang udah gak sakit kan?” kak Rissa khawatir padaku.

“Udah gak Kak, anget kakinya.” jawabku memeluk kak Rissa.

“Tadi kamu menang gak lombanya, Ren?” tanya kak Deni padaku.

“DENIII…” teriak kak Rissa lantang.

Aku terkekeh pelan.

“Cuma tanya aja, Yang. Siapa tau kan Siren menang.” kilah kak Deni.

Kak Rissa menarik nafas sambil mengelus dadanya.

“Masih gebantah, gak dapet jatah seminggu.” tegas kak Rissa.

“Jangan dong, Yang. Bisa karatan si Dewo hehe…” kak Deni cengengesan.

“Dua minggu.” tegas kak Rissa lagi

“Ckck.. Emang jatah apaan sih! Si Dewo itu siapa, Kak?” tanyaku pada mereka berdua.

“Jatah makan malem. Dewo itu nama Kakek kita.” ceplos kak Deni mesem-mesem.

Kulihat, pipi kak Rissa memerah.

“Kakek Dewo? Setau Siren nama Kakek itu Ujang?” jawabku.

Kuketukan jari telunjukku di dagu, sedang berpikir.

“Emm… Ujang wanna be.” sahutku polos.

Kak Rissa memijit kepalanya sendiri pening.

“Kakak ke bawah dulu, mau minum obat.” kata kak Rissa pelan.

“Kamu sakit, Yang?”

“Obat apa, Kak? Aku punya stok di kamar.”

“Aspirin campur bodrex.” jawab kak Rissa sambil berjalan ke kamarnya.

“Jangan, Yang.. OD kamu..” teriak kak Deni khawatir.

Aku tertawa terbahak-bahak.

Walaupun sesaat bisa ngelupain pangeran, karena kelucuan kak Deni dan kak Rissa.

Tapi tetap saja malamnya gak bisa tenang.

Rasanya sungguh sangat gak nyaman!

Pengen banget dapet sms kak Revan atau paling enggak denger suara mobilnya saja sudah senang.

Pagi hari bangun dengan mata panda. Hampir saja telat kalau kak Rissa gak bangunin.

Hingga pagi ini pun kak Revan gak membalas satupun pesan yang kukirim.

Dari pintu gerbang, rumah induk, garasi, dan kantor kak Revan terkunci semua. Aku menjadi khawatir takut terjadi apa-apa dengan kak Revan dan mamih Marta.

Dengan gontai aku berjalan keluar rumah tanpa sarapan terlebih dahulu.

Untung saja kak Deni mengantarku ke sekolah. Naik matik dengan kecepatan 80 Km/Jam. Rambutku kusut kayak kandang burung.

Pikiranku bercabang-cabang.

Di sekolah Vita dan Andra menatapku curiga dan kepoh ingin tahu apa yang telah terjadi padaku.

“Gue keasikkan kerja lupa waktu. Jadi gue belum tidur.” bohongku pada kedua temanku.

Pada jam istirahat aku tertidur di kelas ditemani Vita. Aku sungguh lemas dan tak bertenaga, karena semenjak kemarin belum makan.

Trettt Trettt..

Ponselku bergetar mengagetkanku hingga aku terbangun.

My prince said:

Maaf, pulang sekolah kesini ya? Kakak tunggu.

“YEYY….” teriakku riang berjingkrak-jingkrak mengagetkan Vita.

“Sakit lo? Tadi lemes sekarang loncat-loncat. Kudu diperiksa nih Anak.” kebingungan melihat tingkahku.

Aku memeluk Vita dari samping.

“Gue gak sakit, Vital sayang. Gue cuma lagi seneng aja.”

“Nama gue Vita. V.I.T.A bukan Vital. Ngeselin.”

“Iya deh. Apapun nama lo, apapun jenis lo. Gue tetep sayang kok sama lo.” rayuku.

“Ada yang lo sembunyiin. Karena cowok kan?” cecar Vita.

Skakmat.

Aku kembali gugup. Tidak ingin ada yang tahu bahwa aku sudah punya gebetan.

“Eh.. Eng..engga kok. Gue abis gajian dari Kakak gue, jadi gue seneng.”

Vita hanya mendengus.

Aku tahu Vita mungkin mencurigai gelagatku.

Ia siswi yang pintar, jika ada hal yang mencurigakan atau jika ia tahu seseorang telah berbohong. Vita hanya mendengus tanpa bicara apapun.

Vita sahabat yang paling bisa dipercaya. Tapi untuk saat ini aku belum bisa menceritakan tentang kak Revan. Setidaknya sebelum aku meluluhkan hati pangeranku.

Kubalas pesan singkat dari kak Revan.

Pulang sekolah aku kesana, Kak.

***

Perjalanan pulang dari sekolah macet karena ada kecelakaan. Sudah gitu truk besar nyelos saja lewat ke jalan satu arah yang ternyata gak muat. Alhasil truk terjepit dengan mobil lain.

(Silahkan bayangin sendiri)

Istilah lainnya, maju kena mundur kena!

Mau turun, masih jauh. Gak turun kelamaan. Aku kayak makan buah simalakama. Seret terus gak bisa minum.

Menyesal sudah nolak tawaran Andra tadi. Kalau nebeng pasti ‘cling’ sampai deh di rumah.

Kubasuh tetesan peluh nan asin dengan punggung tangan.

“Ya ampun, lama bener sih macetnya. Untung Siren orangnya sabar.” gumamku.

Kutarik nafas dalam-dalam ngilangin kegalauanku. Mau ketemu ‘cake’ (calon kekasih) saja susah penuh perjuangan.

Benar kata orang. Kalau Cinta penuh perjuangan itu artinya kita akan selalu menghargai orang yang kita cintai.

Akan menghargai masa dimana perjuangan atau proses tersebut sebagai pembelajaran hidup.

Satu jam perjalanan karena kemacetan ibukota akhirnya sampai ke rumah kak Revan. Walaupun lemas pucat, tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu aku berbegas masuk ke pekarangan rumahnya.

Masuk ke dalam rumah kak Revan tanpa permisi, tanpa salam.

“Kakkk…” panggilku keras.

“Kakak di dapuurr…” jawab kak Revan berdiri di dekat meja dapur membawa gelas berisi air.

Kak Revan terlihat rapih sekali, memakai kaus putih dengan jeans biru dongker dan sepatu putih. Sangat tampan.

Terpesonaku hanya sesaat sebelum air mata kerinduanku jatuh membasahi pipi.

Kutubruk dan kupeluk tubuh kak Revan.

“Kakak dari mana? Kenapa gak pulang? Kenapa gak kasih kabar? Kenapa pintu rumah terkunci semua? Mamih Marta mana? Kakak sehat kan? Ada masalah apa sih? Hiks…hiks…” pertanyaanku berbondong-bondong disertai isak tangis.

Aku merindukan orang yang berada dalam dekapanku. Kak Revan pun membalas merengkuh pinggangku dengan sebelah tangannya.

“Hampir jatuh gelasnya.” kak Revan mengalihkan pertanyaanku.

“Hikss…hiksss… Kalo gelasnya hancur gapapa Kak, asal jangan hati aku aja yang hancur hiksss…hikssss….” aku nangis sesenggukan.

“Cup..cup.. Udah yah nangisnya. Setetes air matamu ini sangat berharga. Jangan pernah keluarkan air mata berhargamu ini untuk orang lain.” kak Revan menenangkanku.

Aku manggut-manggut.

Kak Revan menaruh gelas di meja dan menghapus air mataku. Sedangkan tangan satunya lagi memeluk pinggangku posesif.

Ia merenggangkan pelukan kami, mengambil kembali gelas air dan menuntunku ke araf sofa ruang tengah.

Menarikku lembut untuk duduk.

“Minum dulu biar tenang.”

Glekk Glekk Glekk..

Ludes tanpa sisa air di gelas yang ku minum. Kebetulan memang sangat haus.

“Wajah kamu kenapa pucat? Kamu sakit?” perhatiannya.

Ia menyentuh keningku dengan punggung tangannya.

“Ini kan gara-gara Kakak, gak ada kabar. Jadi aku gak tidur semaleman.” terangku jujur.

Kak Revan memelukku kembali dari samping.

“Maaf.. Maaf… Kakak sedang ada proyek penting. Hape Kakak tertinggal di rumah.” jawab kak Revan sedih.

“Kakak pasti akan hubungi kamu, Sepertinya batal makan diluar hari ini.” kak Revan menarik nafas.

“Kakak mau keluar? Sama siapa?”

“Mau ajak kamu makan diluar. Tapi…. Em…”

Ia tak melanjutkan pembicaraan. Malah sibuk menatapku dan merapihkan helaian rambutku.

“Beneran?” mataku berbinar-binar. Sisa tangisku berhenti seketika.

Kak Revan menatapku dalam-dalam.

“Cantik, masih tetap cantik. Mau ganti baju atau begini saja?” tawarnya.

“Tuh kan gimana gak kangen coba! Manis gini sikapnya.” batinku.

“Ganti baju dulu, Kak. Kakak tunggu sebentar yah? Lima menit aja kok hehe…”

Kak Revan mengajakku ke sebuah cafe. Kami makan, ngobrol, tawa-tiwi.

Duduk di sofa empuk melingkar. Aku pesen makanan banyak banget, sedang kak Revan ngelihatin saja.

Aku sudah terbiasa makan tanpa malu-malu di depan kak Revan. Soalnya kata kak Revan, dia paling seneng kalau lihat aku makan.

Modus ala Siren juga gak ketinggalan.

Deket-deket, nempel-nempel, belaga ngantuk nyender di bahu tapi segar lagi gara-gara kak Revan langsung ngajak pulang.

Gak tahu kenapa? Kalau deket kak Revan aura sucubus aku tuh selalu mendominasi.

Gombalan, rayuan aku keluarkan semuanya. Meski belum membuahkan hasil sampai sekarang.

Tapi enjoy it. Namanya juga proses. Kalau mau jadi nyonya Apriliano harus sabar kuncinya.

Aku nyengir-nyengir gak jelas.

Oiya. Ini memang bukan pertama kalinya kak Revan ngajak makan di luar.

Mamih Marta juga pernah ngajak kami makan di resto, ngemall, atau cuma ke butik.

Mamih Marta pasti ngajakin aku, yang jadi sopir pasti kak Revan. Suasananya canggung banget.

Gimana enggak! Mamih Marta selalu godain sampai pipiku merona. Jadinya selama di jalan, kerjanya nunduk sambil tersipu-sipu.

Saat ini Mamih Marta sedang di Singapura bersama suaminya, yaitu ayah kak Revan.

Ayah kak Revan lagi sakit. Jadi untuk sementara kak Revan sendiri sibuk mengerjakan perkerjaan yang selalu dipegang oleh mamih Marta.

Kak Revan orangnya santai banget, sabar deh. Dahal mulut aku sering ceplas-ceplos tapi tetap saja kak Revan senyum.

“Apa itu orang lupa caranya marah yah?” batinku penasaran.

Setelah makan kita mampir ke toko acsesory. Kak Revan beliin banyak jepit rambut, bando, bandana, karet jepang, dan banyak lagi.

Aku juga dibeliin sepatu pesta, hight heels. Pakaian santai, dress banyak banget.

Saat disalah satu stand. Lihat dress lucu banget warna kalem. Dress yang ku pilih size-nya kegedean.

“Kak, ini bagus deh. Tapi gede banget buat aku, Kak.” aku mengerjap manja.

Kak Revan tersenyum manis dan memperhatian dress itu sebentar.

“Bagus… Bentar Kakak tanya penjaganya.”

Kak Revan berjalan mendekati penjaga stand yang sedang bergosip dengan temannya.

“Mbak, baju ini ada size kecilnya gak?” tanya kak Revan ramah kepada kedua Mbak-mbak penjaga stand pakaian yang lagi ngerumpi.

Kedua penjaga stand itu kaget dan terpesona ngeliat kak Revan. Menatap penuh minat dan berebut ingin melayani kak Revan.

“Iya, ada. Buat Adiknya yah Mas?” tanya si penjaga stand yang kurus melirikku.

“Sebentar saya carikan.” kata temannya yang gemuk mengambil dress yang berada di rak.

Kuhentakan kakiku kesal. “Dasar ganjen.” gerutuku pelan.

Melihat wanita penjaga stand yang kurus itu salah tingkah dan senyum-senyum di depan kak Revan.

“Ini Mas, ukurannya pas sekali sama Adiknya.” wanita penjaga stand yang gemuk tadi berebut dengan temannya itu menyerahkan sehelai dress.

Kak Revan tersenyum kepada wanita wanita penjaga stand itu. “Makasih, Mbak.” mengambil dress tersebut.

“Size-nya cocok banget sama kamu. Mau dicoba dulu gak?” tawar kak Revan.

Aku memanyunkan bibirku. Kulirik sebentar dress yang di pegang kak Revan.

“Gak perlu, Kak. Aku emang pake size M. Pasti muat. Aku ambil ini aja, balik yuk, Kak.” sahutku.

“Adiknya cantik yah, Mas. Mirip sama Masnya ganteng.” puji si wanita penjaga stand yang kurus.

Kuhentakkan kakiku kesal.

“Gue bukan adiknya. Gue istrinya! Jadi Mbak..mbak jangan kecentilan yah! Doi udah taken.” sarkasku.

Toh kak Revan juga gak akan marah, aku ngomong apapun.

Kedua penjaga itu melongo ngeliat kami.

Kak Revan terkekeh pelan.

Kugandeng kak Revan berjalan menuju arah kasir membayar dress.

“Kenapa? Kakak perhatikan kamu cemberut aja.”

“Gapapa, Kak. Lain kali kalo pilih toko penjaganya harus cowok yah.”

Kak Revan tersenyum menatapku. Merangkul bahuku erat. “Iya.”

Aku juga sengaja membeli novel remaja. Yang isinya cinta-cintaan. Biar tambah baperan, jadi bisa tambah romantis.

Kami pulang ke rumah malam hari. Kak Revan menghentikan mobilnya di depan gerbang rumahku.

“Sebelum turun Kakak mau kamu tutup mata. Kakak ada hadiah.” katanya disertai senyumannya yang menawan.

Aku sangat gugup, pikiranku tak menentu.

“Apa Kak Revan, mau cium gue yah??” pikirku kegeeran.

Perlahan kututup mataku. Beberapa detik sunyi tanpa suara.

“Duh, mau kiss aja lama banget sih, bikin dag dig serr aja.” batinku. Masih menunggu.

“Sekarang boleh dibuka matanya.”

Pelan kubuka mataku. Kak Revan memegang kotak kecil dibungkus dengan kertas warna.

“Apa ini Kak?” tanyaku bingung.

Ia kembali senyum dan berkata. “Happy brithday… Semoga kamu tambah dewasa, selalu ceria, sehat dan makin cantik.”

Yah! Hari ini adalah hari ulang tahunku ke 18. Bahkan aku sendiri melupakan hari jadiku.

Bahagiaku saat ini, tak terlukiskan.

Kupeluk kak Revan dengan hangat.

“Makasih yah Kak! Kakak gak pernah lupa hari ulang tahunku. Aku sendiri lupa.” air mataku menetes haru.

“Kok nangis lagi?” tanyanya menghapus air mataku.

“Ingat? Kakak selalu bilang apa kalo kamu nangis!” lanjutnya.

“Iya Kak, inget. Tapi aku terharu hiks..hiks…” jawabku sambil menahan tangisku.

“Udah yah, jangan sedih lagi. Kakak mau bilang sesuatu sama kamu.”

Dadaku bertalu-talu.

“Jangan-jangan mau nembak sekarang!” batinku geer.

“Apa Kak?”

“Selama satu minggu Kakak akan keluar kota. Ada masalah dengan kantor papa. Kakak mau kamu jaga diri baik-baik selama Kakak disana.”

Ambyar!

“Kok lama Kak? Biasanya Mamih Marta cuma 2 hari kalo keluar kota.” protesku memanyunkan bibir.

Ia kembali tersenyum semakin lebar ke arahku.

“Bibirnya mau di sun yah?” godanya.

Aku menjadi salah tingkah dan hanya menunduk.

“Iihh… Kakak ngomong apaan sih.”

Jawabku pura-pura gak mau.

Kak Revan tergelak kencang.

Luluh juga lihat kak Revan ngakak.

“Ya udah, gapapa. Tapi kalo urusannya selesai cepet pulang yah, Kak!” lirihku.

“Iya, Kakak akan hubungi kamu nanti. Jika urusan Kakak disana selesai.”

“Ya udah aku masuk dulu yah, Kak.” ucapku. Membuka pintu mobil.

“Sebentar, Sayang. Ini jangan lupa dibawa.” panggilnya. Menahan lenganku.

Aku menepuk keningku.

“Oiya lupa hehe…”

Saat kak Revan memajukan tubuhnya menghadap belakang, berusaha mengambil barang yang berada di jok belakang. Wajah kak Revan menjadi sangat dekat dengan wajahku.

Aku membantunya memegang barang belanjaan.

Cupp

“Makasih yah Kak, untuk hari ini.”

Aku mengecup pipi kiri kak Revan. Turun dan berlari masuk ke dalam rumahku.

Ekspresi Kak Revan hanya terkejut dan membeku.

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 4 | Smile of My Girl Part 4 – END

(Smile of My Girl Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 5)