Smile of My Girl Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 3

Start Smile of My Girl Part 3 | Smile of My Girl Part 3 Start

Semenjak dari rumah aku sudah menyiapkan rencana buat menggoyahkan iman kak Revan. Pakai rok mullet dipadu blouse merah, dengan harapan umpan menjerat mangsanya.

“Seenggaknya kalau hari ini gak berhasil besok kan bisa dicoba lagi.” pikirku optimis.

Aku terkekeh pelan.

Mamih Marta seperti tahu isi hatiku, tiap nengok mesem-mesem sembari menaik turunkan alisnya.

Aku menjadi salah tingkah, cengar-cengir malu.

Setelah makan malam, mamih Marta pamit katanya sih mau istirahat. Tapi aku yakin itu hanya akal-akalannya mamih Marta saja, biar aku makin dekat sama kak Revan.

“Hoamm.. Mamih ke kamar dulu yah! Ngantuk.” kata Mamih Marta.

“Baru jam delapan, Mih.” kataku.

“Kalian ngobrol aja berdua. Mamih mau istirahat dulu.” balas mamih Marta mengedipkan sebelah matanya.

Aku membalas kedipan mamih Marta. Tak lupa ku tarik ujung bibirku menampakan senyum iblis.

“Camer udah kasih lampu ijo. Aku harus gunain kesempatan ini dengan sebaik-sebaiknya.” batinku.

Aku terkekeh senang.

Ku ajak kak Revan ke teras samping. Aku bilang kalau aku mau curhat masalah di sekolah. Untung saja kak Revan percaya.

Kak Revan jalan duluan dan duduk di kursi panjang.

Cling! Ada lampu di atas kepala.

“Kak, badan aku pegel aku tiduran yah!”

Dengan secepat kilat aku bergerak rebahan dengan kepala di paha kak Revan.

Bahkan kak Revan belum sempat menjawab dan memberi ijin padaku. Ia sempat terkejut sebentar.

Taktikku berjalan dengan lancar. Aku terkekeh dalam hati.

Salah satu jurus ‘1001 menahlukan pria’ yaitu jikalau pria terlalu pasif si wanita harus aktif.

Dan jurus ini benar-benar ampuh. Saat mataku terpejam, kak Revan belai-belai rambut aku.

Tapi yang namanya perempuan biasa tetap saja gemeter ngelakuinnya. Tangan sudah keringetan panas dingin.

Tubuhku sampai kaku. Mau bergerak ke kiri merosot ke kaki, ke kanan takut kena polisi tidur.

Malah sempat berpikir enaena. Sisi sucubus aku tiba-tiba keluar dari tempat persembunyiannya.

Namun ambyar karena kerasa nyaman banget. Kak Revan nguwel-nguwel rambut aku.

Gak kerasa sampai ketiduran. Terus teleng ke kanan. Di geser lagi ke kiri sama seseorang. Merasa gak nyaman, kucoba tidur menyamping ke kanan.

Dukk..

Pipi kananku terbentur benda keras banget kayak nyundul bola bowling.

Alhasil kak Revan berjengkit bangun berdiri. Aku sampai terjatuh dari kursi.

Bledukk..

“Aduh… Sakit…” aku mengaduh kesakitan terjatuh ke bawah.

Bokongku membentur lantai, pinggulku ngilu sekali rasanya. Siku pada lengan kiriku nyeri sampai gak bisa gerak.

“Maaf..maaf… Ada lebah tadi.”

Kak Revan membantu membangunkanku. Ia berjongkok serta merangkul bahu kananku.

“Lebah apa, Kak? Lebah betina.” cibirku.

Kak Revan terkekeh malu. Menggaruk-garuk belakang kepala.

“Udah malem toh! Aku balik dulu yah Kak. Besok sekolah pagi.”

Pamitku lemas masih menahan sakit. Ku miringkan tubuhku ke kanan ingin usap-usap pelan bokongku. Posisiku masih di lantai, belum berdiri.

Pipi kak Revan bersemu merah, memalingkan muka.

Aku tersadar. Aku pakai rok yang terangkat ke atas hingga CD-ku terlihat.

Aku bangun berdiri dan kurapihkan rokku yang terangkat. Belaga cuek.

“Harusnya kan gue yang malu. Tapi ini kak Revan yang malu. Antara malu sama jijik kan beda tipis!! Ah bodo ah, amal dikit buat calon laki gapapa.” pikirku.

Aku berjalan tertatih.

“Aku balik, Kak.”

“Bentar, tadi kan Mamih bilang mau kasih kamu kukis. Kakak ambilin yah di dapur.”

“Oiya yah.. Makasih Kak.”

Kak Revan ke dapur ambil ompreng yang isinya kukis. Mamih Marta yang bikin tadi di dapur. Aku lekas pulang karena mengantuk.

***

Paginya aku sangat bersemangat. Ingin berangkat ke sekolah dengan senyum keceriaan.

Kemarin malam dapet kukis dari mamih Marta. Katanya sih, kak Revan yang minta.

“Mih tolong buatin kukis kesukaan Siren, kemarin nilai ulangannya bagus.” kata mamih Marta sambil meniru ucapan kak Revan.

Sedangkan wajahku mirip banget sama udang rebus. Hanya menunduk malu.

Rasanya seperti terbang ke surga, ke langit ketujuh, nyangkut di pesawat yang lagi lewat.

Mamih Marta selalu menggodaku. Matanya sungguh jeli. Aku selalu tertangkap basah jika sedang memperhatikan kak Revan.

Pernah dulu aku mengintip kak Revan yang lagi fitnes.

“Siren, kamu ngapain?”

Jantungku serasa mau copot.

“Lagi liatin roti sobek.” batinku.

“Ehh.. Mamih. Aku lagi..lagi.. Mau ambil minum Mih.” gugupku.

“Dapurnya kan disana sayang.”

Mamih Marta menunjuk arah dapur di sebelah kanan.

Aku menepuk jidatku. “Oiya lupa mih, hehe.. Aku ke dapur dulu.”

“Mamih minta tolong yah, bawain minum juga buat Revan. Mungkin dia haus abis olahraga.” mamih Marta mengedipkan mata.

Jegerrr..

Back to story.

“Cinta.. Haaa… Kini sudah direkayasa, diolak alik semanis madu.. Tapi berbisa..”

aku bersenandung lagu ‘Rekayasa Cinta’ sambil menuruni undakan anak tangga.

Mataku melotot lihat kak Deni mengambil kukisku.

“Kakaaakkkk…. Jangaaannnn….” teriakku. Berlari menuju lemari es.

Kak Deni terkejut dan tangannya masih memegang kukis di hadapan mulutnya yang terbuka ingin menyantap kukis.

“Kamu kenapa, Ren?”

Kak Deni bertelanjang dada, rambut acak-acakan hanya memakai boxer hitam.

“Jangan dimakan Kak, Please… Ini punya aku.” cegahku.

Buru-buru ku ambil kue kukis dari tangan kak Deni dan meletakan kembali ke atas piring.

“Sedikit aja. Kakak laper banget.” ibanya.

Tak menggentarkan hatiku.

“Kakak makan roti tawar aja tuh banyak, jangan kue ini. Ini punya aku! Untung belom dicaplok fiuhh…” aku menarik nafas lega.

Kak Deni mengecap lidah dan menelan air liur.

“Itu kan masih banyak. Masa satu aja gak boleh?” bujuknya.

“Buat Kakak, nanti aku beliin di toko kue. Tapi yang ini gak boleh titik weee…” kujulurkan lidahku.

Pagi ini sarapan kukis dari camer (calon mertua) rasanya bener-bener nikmat. Ku ambil satu persatu kue itu dan memasukannya ke mulutku.

“Enak, Ren?”

“Duh, Kak…. Enak pake banget..nget..nget… Nyam..nyam..nyam…” kumasukan kembali kue ke mulutku hingga habis.

Hidungku dicubit kak Deni.

“Aduh..duh…duh….sakit Kak.” jeritku. Mencoba melepaskan tangan kak Deni dari hidungku.

“Pelit sih.”

“Biarin wee.. Mandi sana gih Kak, tangan Kakak bau amis iihh. Aku berangkat dulu nanti telat. Dahhh Kak…” aku berlari melambai-lambaikan tanganku.

Kak Deni hanya melotot bertolak pinggang.

***

Di kantin siang ini sangat ramai. Aku bersama sahabatku Vita bercanda ria duduk di barisan paling pojok tempat yang sudah menjadi hak paten Andra.

Tidak satu orang pun yang berani menduduki tempat ini. Kecuali aku dan Vita.

Andra atau siswa lain menyebutnya si preman sekolah, ketua geng Stranger ialah sahabatku dari kelas 10.

Biasanya sih kalau istirahat Andra akan sibuk meloncat pagar dan bolos dari jam pelajaran terakhir. Tapi kali ini ia turut menemani aku dan Vita makan siang di kantin.

“Kalian pesen apa? Kali ini gue yang traktir.” begitu kata Andra.

Aku tahu betul siapa Andra. Saat kelas 10, ia sangat pendiam dan tertutup. Tapi semenjak kelas 11, Andra menjadi liar. kerjanya malak siswa lain yang lewat di depan gerbang sekolah.

Bukan karena gak mampu atau gak punya uang!

Andra berasal dari keluarga berada. Orang tuanya kaya raya. Tapi sebanyak apapun uang yang ia miliki tetap gak bisa membeli kebahagiaan.

Kurangnya perhatian dan kasih sayang menjadikan ia pribadi yang sangat keras.

Sedangkan Vita sahabat karibku, juga bukan orang sembarangan. Orang tuanya seorang dokter spesialist yang terkenal di Indonesia. Ayahnya bahkan mempunyai rumah sakit sendiri.

Vita sangat pintar, care, pemberani juga disiplin. Orangnya lempeng-lempeng aja, sehingga aku senang sekali menggodanya.

Sebenarnya ada dua lagi sahabat kami namanya Jenni dan Sandra. Tapi mereka mmenjauhi kami dan bergabung dengan geng lain.

Hari ini Andra bertingkah aneh. Tidak seperti biasanya.

Andra mentraktir kami makan di kantin. Wajah garang yang selalu ia tunjukan pada siswa lain, tak terlihat lagi.

“Nah yang ini spesial buat Siren.” kata Andra menaruh semangkok bakso dihadapanku.

“Ciee..ciee..ciee…” goda Vita.

“Yeyy… Makasih ‘Ndra, makan kuy laper…” ucapku kegirangan.

Belum aku menyentuh sendok, mangkuk baksoku di angkat oleh Jenni yang entah sejak kapan ada di depan mejaku.

“Yang ini buat gue, gue laper.” kata Jenni.

Prangggg..

Vita menggebrak meja. Hingga kuah bakso kami loncat-loncat.

“Gak punya sopan santun lo Jen, baru dateng udah nyerobot aja.” marah Vita pada Jenni. “Gak punya duit lo? Gak bisa beli sendiri?”

“Lo beli yang laen aja Jen, ini tuh baksonya Siren.” murka Andra melihat Jenni merebut baksoku dan ingin merebutnya kembali.

Ku cegah tangan Andra yang ingin menyentuh mangkuk. “Gapapa ‘Ndra, gue udah kenyang.”

“Lo kan belum makan, Ren. Mau gue pesenin lagi?” tanya Andra.

“Gak usah ‘Ndra, gue udah kenyang.” kataku kekeuh.

“Kenyang? Emang lo makan apaan?” kali ini Vita yang bertanya.

“Makan cinta.” guyonku.

Membuat Andra senyum-senyum gak jelas, sedang Vita ngakak sampai perutnya sakit.

Trangg Tringg Trengg..

Sendok dan garpu jatuh terjatuh akibat ulah Jenni.

Matanya menatap tajam ke arahku dan pergi begitu saja tanpa menyantap baksonya.

“Apaan sih tuh anak? Sakit jiwaaa…” sarkas Vita.

“Dah gapapa, lanjutin aja makan lo. Vital Gue minta jus lo yah dikit kayaknya enak.” ucapku mengalihkan perhatian Vita dan meminum jus jeruk kepunyaannya.

“Vita..Vita.. nama gue Vita V.I.T.A bukan Vital.” sewot Vita melotot.

Aku dan Andra tergelak senang sekali kalau menggoda Vita.

“Sama aja kan? Vital itu artinya Penting. Jadi lo itu penting bagi gue. Iya gak ‘Ndra?”

“Yoiii….”

***

Sepulang sekolah Andra dan Vita ngotot ngajak ke bioskop.

Sebenarnya pengen banget aku ikut mereka pergi nonton, ngafe atau semacamnya. Tetapi pekerjaanku gak bisa kutinggalkan begitu saja.

Kecuali pada hari libur, aku bisa leluasa bersantai. Karena pekerjaan di hari minggu hanya sedikit saja.

Tugasku memang sangat mudah, hanya mengecek keluar masuk barang-barang toko dari data-data yang diberikan kak Deni. Tapi juga sangat memusingkan jika hasil akhir stok gak balance.

Gaji yang kuterima pun lumayan. Bisa buat membeli barang kesukaanku serta ditabung.

Andra dan Vita tahu itu. Mereka akhirnya ngalah dan gak maksa aku buat pergi bareng mereka.

Aku pulang kerumah di antar oleh mereka pulang kerumah menaiki mobil Andra.

“Tumben banget lo ‘Ndra naek mobil? biasanya naek motor.” tanyaku pada Andra.

“Sengaja Ren, pengen anterin lo katanya. Masa temenan udah dua tahun lebih gak tau rumah lo.” celetuk Vita yang duduk di belakangku.

Wajah Andra memerah.

Ku toel-toel pipi Andra dengan jari telunjukku.

“Ciee…ciee…ciee… Gue tau nih. Lo pasti pengen balik jadi Andra yang dulu kan? Iya kan!” godaku.

“Vit, diem lo. Dasar rese.” Andra menjadi salah tingkah.

“Iya juga gapapa ‘Ndra, gue malahan seneng kalo lo berubah jadi Andra yang dulu. Cool, misterius, baik, pinter cowok idaman banget deh!” aku memuji Andra.

“Cowok idaman? Bener gue dulu kayak gitu dimata lo?” Andra penasaran.

“Ehemmm…ehemmmm… Huk..hukk…” dehem Vita ikut menggoda Andra.

“Beneran dong, gue kan sahabat lo. Mana mungkin sih gue boong.” aku meyakinkan Andra untuk berubah.

“Okey, mulai sekarang gue coba buat berubah demi lo.” kata Andra.

“Demi Siren doang nih?” goda Vita.

“Eh.. Emm.. Demi lo juga. Ma..maksud gue demi kalian hehe…” ucap Andra gugup.

Ku tepukan tanganku dibahu Indra.

“Gue yakin lo bisa ‘Ndra. Andra yang gue kenal, gak pantang menyerah.” kataku menyemangati.

Vita ikut menepuk bahu Andra “Semangat ‘Ndra… Demi Siren, eh demi kita bertiga. Hahahaha..”

Aku dan Vita sama-sama menggoda Andra selama perjalanan.

“Stop ‘Ndra…” pekikku. mengagetkan mereka.

Nyitttt..

Andra mengerem mobilnya.

“Gak pake teriak berapa, Neng?” gerutu Vita.

“Hehehe…. Nah ‘Ndra ini rumah gue, kapan-kapan lo bole mampir. Tapi jangan lupa bawa kue, acsesory, kado, ice cream buat gue yah?” candaku.

“Sip, Ren. Oh ini rumah lo?” kata Andra melihat sekeliling. “Adem banget yah kayaknya.”

“Iya dong, gue kan rajin tanem bunga. Jadi penuh tuh kebun gue.” banggaku.

“Malming mau ngapel si Andra katanya, Ren!” celoteh Vita.

Dibalas pelototon dari Andra.

“Ya udah, gue masuk dulu. Jangan ngebut lo. Dadah Vital sayang muachh..muachhh…” genitku kiss bye ke Vita.

Vita meraup angin dan diberikannya ke Andra. “No… Buat lo aja nih ‘Ndra.. Hwahahaha….”

Aku turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Andra dan Vita. Mobil Andra berlalu pergi.

Saat aku mau masuk ke dalam rumah. Kulihat mobil kak Revan keluar gerbang kediamannya melesat dengan cepat.

Aku menjadi gelisah. Kak Revan sama sekali gak menghiraukanku.

“Ada apa yah? Kok buru-buru banget.” gumamku.

Mobil kak Revan menghilang di tikungan deretan blok rumah. Hati gak tenang, karena rasa penasaran ku ikuti mobilnya dengan berlari.

Gak ada taxi ataupun ojek di dalam kompleks perumahan kami. Terpaksa aku berlari sangat jauh menuju keluar dan memberhentikan kendaraan apapun yang lewat.

“Pak..pak..pak… Ikut Pak, kejar mobil putih yang barusan lewat.” pintaku. Dengan cepat kunaiki sepeda motor bapak security yang lewat sedang berjaga.

“Bapak lagi tugas, Neng.”

“Sebentar aja Pak, nanti aku ganti bensinnya lebih.” melasku pada pak security. “Ayo Pak, nanti keburu jauh.

“Iya..iya… Ayo…” kata security itu semangat.

Kami ngebut keluar kompleks tanpa memakai helm.

Mobil kak Revan sudah sangat jauh dan menghilang.

Kami berhenti di persimpangan dekat post polisi. Pak security gak berani melanjutkan perjalanan karena gak memakai safety pengguna kendaraan roda dua.

Lemas dan kecewa. Aku pulang tanpa hasil.

Bersambung

END – Smile of My Girl Part 3 | Smile of My Girl Part 3 – END

(Smile of My Girl Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 4)