Smile of My Girl Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 28

Start Smile of My Girl Part 28 | Smile of My Girl Part 28 Start

Part 28. Bukan Malaikatmu

AUTHOR POV​

Beberapa hari kemudian.

Satu minggu lebih sudah Siren dan Revan berada di villa. Dalam hati Siren kebahagiaannya kali ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Inginnya berdua terus hingga selamanya.

Namun Siren juga merindukan kedua orang tuanya. Bagaimanapun merekalah yang menjaga dan merawat Siren dari dalam kandungan hingga menetas menjadi orok. Juga kakaknya, Deni yang dengan kelakuan minor dan mayor mesum namun sangat menjaga dan amat memperhatikan pendidikannya.

Berulang kali Siren menghembuskan napas gusar. Suasana paginya kacau. Pikirannya semrawut.

Bagaimana mungkin keluarganya belum menghubunginya atau sekedar menanyakan kabarnya. Bukankah ini aneh?

Apa keluarganya sudah tak menyayangi dia lagi?

Imposebel..imposebel.. Kalau kata jin 76.

Tapi biasanya dua hari saja Siren tak membalas pesan dari Ani, ibunya itu sudah mencak-mencak atau nangis-nangis dan melampiaskan kemarahannya pada Deni. Tapi sekarang? Entah…

Bahu Siren merosot. Dia sendiri juga tak berani menanyakan langsung kabar pada keluarganya. Lantaran insiden Deni mengamuk karena sabuknya hilang, yang nyatanya dia sendiri yang meminjam tanpa ijin. Ia benar-benar takut.

Ekor matanya melirik-lirik ponselnya yang berada di atas nakas. Layarnya warna hitam karena dalam mode off.

Astaga!! Siren galau cuy.

Ujung kukunya digigiti hingga keropos, itu dilakukan jika hanya sedang merasa tak nyaman. Siren benar-benar bingung. Sepertinya ia harus minta dipulangkan dulu. Ia tidak mau kekhawatirannya selalu menyelimuti pikirannya hingga berlarut-larut.

Ya.. Siren akan meminta dipulangkan saja dulu pada ibu bapaknya. Yakini hatinya, ia akan minta Revan sekarang juga.

Matanya melirik paras tampan yang masih pulas tertidur. Dada Shirtless kekasihnya menarik perhatiannya. Jemari lentiknya menjelajahi setiap lekukan-lekukan tujuh kotak pada perut Revan. Siren meneguk salivanya.

Tangannya kini mengecek betapa kerasnya otot bisep pada bagian lengan Revan. Dan kemudian beralih ke bawah merayap ke tonjolan mencembung yang tertutupi selimut bulu halus berkualitas tinggi di selakangannya.

Benda setengah tegang, setengah kenyal itu berubah menjadi sangat keras dalam waktu yang relatif singkat. Akhirnya mengacung dan bergerak-gerak sendiri, menyingkirkan selimut yang tadi menutupinya. Revan menggeliat pelan dalam tidurnya. Siren terkejut sebentar seraya mengangkat tangannya dari perbuatan yang tidak senonoh.

“Serba keras yah!” gumamnya. Siren cekikikan sendiri.

Pikiran kotornya kini merangsang sistem saraf pusat otaknya dan bekerja sama dengan sistem saraf perifer yang menyampaikan pesan dari otak ke seluruh bagian tubuh untuk bergerak lebih nakal. Seketika Siren lupa niat awalnya yang ingin meminta dipulangkan. Ajaib kan!

Kini ekor matanya melihat bibir merah muda kekasihnya yang agak terbuka. Siren menjadi tergoda dan ingin melumatnya.

Siren memonyongkan moncongnya dan mengarahkan pada bibir Revan. Matanya dipejamkan seraya ingin meresapi ciumannya.

“Kau ingin mengambil kesempatan pada saat aku tertidur?”

“Eh!”

Suara serak khas orang bangun tidur mengagetkan Siren. Tapi Siren merasa ambigu. “Kok mirip logat Vale?!” suara batinnya bertanya. Matanya perih dan berair di bagian ujungnya. Entah kenapa hatinya bagai tertusuk jarum jahit. Nyelekit.

Diperhatikannya lelaki tampan yang perlahan sedang membuka matanya. “Kamu kenapa Sayang?” panggil Revan dengan lembut. Revan mengerutkan dahinya, dalam. Siren masih membeku terduduk di sebelahnya.

Revan bangkit dan duduk merapat pada Siren. Tangannya mengelus pipi Siren yang lebih cabi dari biasanya. Revan juga tersenyum senang melihat perubahan tubuh Siren yang menurutnya lebih berisi pada bagian-bagian tertentu, bobotnya bertambah besar. Revan suka itu.

Ya iyalah bagaimana tidak gemukan. Kerjanya setiap hari makan, tidur, ditidurin.

“Kamu memikirkan sesuatu?” Revan menautkan alisnya. Kepala dimiringkan seraya menatap lebih intens pada kekasihnya yang sedang menundukan kepalanya.

Responnya hanya mengangguk lemah. Siren menghembuskan napas dalam. Membuang jauh-jauh kecurigaan yang kini sedang menggerogoti pikirannya belakangan ini. Ia harus tampak setenang mungkin.

“Aku pengen makan bubur ayam. Tapi.. penjualnya harus ganteng mirip Sean O’Pry.” kekeh Siren. Cengiran khas Siren keluar juga. Matanya berbinar tak kala beradu tatap dengan Revan. Yang sesungguhnya permintaan itu hanya pengalihan dari rasa curiga nya.

Keterkejutan nampak di wajah Revan. Hatinya kesal, namun ia tak mau membuat sedih gadis kesayangannya. Revan menghembuskan napasnya kasar.

Senyum paksa terbit di wajah Revan. “Dimana Kakak bisa mendapatkan penjual bubur itu, Sayang?” jarinya mencubit-cubit kecil pipi bakpao Siren, tidak menyakitkan. “Ada makanan lain yang kamu mau?” lanjutnya sembari merapikan rambut Siren yang berantakan.

“Aku maunya itu titik.” keukeuh Siren. Bibirnya mengerucut, ia sangat kesal.

Cup.

Revan terkekeh setelah mencuri ciuman Siren. “Ya sudah, Kakak cuci muka dulu.” lalu tangannya mengacak rambut Siren.

“Kakak ihh…” seru Siren. Mencebik kesal, baru saja helaian rambutnya dirapikan oleh Revan, namun kembali dirusaknya.

See.

Kekesalan atau kemarahan apapun yang Revan rasakan mana pernah diungkapkan jika itu di depan Siren. Beda lagi di hadapan orang lain. Bisa saja orang tersebut akan dimutilasi dan sisa-sisa potongan tubuhnya akan dibuang di tempat yang terpisah. Itupun jika Valerio mengambil alih tubuhnya. Right?

Lelaki itu tergelak geli. Langkah kakinya menuju kamar mandi. Revan berdiri di depan wastafel dan membasuh mukanya serta membilasnya kembali agar terlihat lebih segar. Tidak terlalu lama, Revan tidak ingin kekasihnya mengamuk nanti.

Revan kembali ke kamar dengan memakai bathrobe. Matanya membulat ketika melihat penampilan kekasihnya yang memakai pakaian serba kekecilan. Tanktop pas badan, hotpant pas selangkangan disertai bra yang mini alias isi dari dalam bra meluber keluar.

Emejing. Menggunakan pakaian minim di udara super sejuk? Haha.. Hanya Siren yang bisa.

“Pakaian apa itu? Tidak diganti, kita tidak akan kemana-mana.” suara Revan memang pelan tapi penuh penekanan disetiap kata-katanya. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi dingin.

“Tukar pakaianmu Sayang.” Revan mengulangi kembali kata-katanya yang sedari tadi diacuhkan oleh Siren.

Siren merengut kesal. “Tidak mau, gerah tahu..” ucapnya sinis. Padahal bulu di tangannya berdiri lantaran kedinginan.

Revan memejamkan matanya seraya memperbanyak stok kesabarannya. Kemudian membuka kembali matanya. “Baiklah.. Kalau begitu aku akan menemanimu dengan memakai boxer ini saja.”

Revan membuka bathrobenya dan melemparnya asal. Tangannya membuka lemari pakaian dan mengambil boxer berwarna hitam serta memakainya. Ia juga mencari kunci mobil di atas nakas. Revan menyeringai licik. “Ayo berangkat.”

Mata Siren melotot galak. Tangannya bertolak pinggang. “Posesif nih.. Oke aku ganti pakaian dulu. Nyebelin!” pekiknya. Kakinya menghentak berkali-kali. Siren tidak rela calon suaminya memberikan tontonan gratis kepada para kaum hawa.

Hatinya kembali seperti tersengat lebah. Matanya perih, air mata itu kembali nampak di sudut matanya yang langsung segera dihapus dengan punggung tangannya. Dada pun ikut sesak. Sungguh Siren sendiri tak tahu kenapa ia jadi secengeng itu. Dulu ia sangat tangguh. Lamunannya kembali terlempar pada saat-saat bersama Revan yang dulu. Pengerannya tidak mungkin marah, pangerannya tidak mungkin berkata keras, pangerannya tidak mungkin membuatkan pilihan yang sulit. Keputusan Siren adalah yang utama, Revan-nya tidak posesif seperti ini. Apapun yang disukai atau tidak disukai Siren, Revan pasti fine-fine saja. Siren ingat semuanya. Palingan Revan dengan senyuman akan berkata; ‘Kamu cantik memakai apapun, apalagi jika kamu pakai ini (sembari menunjukan dress selutut lengan pendek warna tosca tidak begitu seksi) kamu jauh lebih cantik. Kakak sayang kamu’.

Air matanya menetes kembali. Revan-nya ada di depan mata kan? Untuk apa dia merindukan Revan?

Turtle neck lengan panjang warna hitam dilapisi mantel tebal dan syal mencekik leher dipadu celana kain untuk melapisi legging thermalnya berwana navy. Lengkap dengan kupluk dan sarung tangan, minus earmuff. Speechless, Siren pikir dengan pakaian seperti yang dipakainya, ia bisa langsung ke Korean Folk Village Outdoor Ice Skating Rink untuk bermain es skating atau ke Aomori, Tohoku, Jepang untuk sekedar bermain salju tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.

“Kenapa?” ucap Revan sendu. Sirat penyesalan nampak di matanya. Sejak tadi hanya memperhatikan kekasihnya.

Siren menggeleng lemah. “Cuma kangen sama Aai.” bohongnya sembari tersenyum paksa.

Revan menggaruk kepalanya, setengah menjambak tepatnya. Napasnya dibuang perlahan. “Kamu mau kita kembali ke Jakarta?” hatinya terenyuh, tak pernah sekalipun niatnya membuat sedih kekasihnya.

“Bukan itu. Aku hanya khawatir tidak ada kabar dari mereka sedikit pun.” elak Siren. Memang benar yang dikatakan Siren tapi hanya sebagian, selebihnya ia merindukan Revan yang dulu.

Revan sempat berpikir sebentar, sebelum mengucapkan hal yang mencengangkan. “Aku tahu. Kamu tenang yah! Mereka sudah tahu kalau kamu bersama denganku. Semua akan baik-baik saja. Aku akan segera memesan tiket, kita akan kembali ke Jakarta besok. Aku tidak mau melihatmu bersedih.” Revan merengkuh pinggang Siren, memeluknya erat dalam dekapan hangatnya.

“Hah!? Maksudnya?” Siren terperangah.

“Mom sudah menjelaskan pada orang tuamu. Mereka sudah menyetujui dan menyiapkan segala sesuatunya. Untuk pernikahan kita.” Revan menghela napas, ia berdeham. Sebenarnya ia tidak mau beritahu sekarang, tapi melihat kekasihnya bersedih Revan tidak tega. “Maaf.. Semua ini karena Mom terlalu bahagia melihat kamu dan aku bersama. Jadi Mom yang merencanakannya. Kamu tidak masalah kan?”

Mulutnya masih saja terbuka lebar, Siren tidak tahu harus bagaimana menyikapinya. Antara senang dan takut. Keluarganya tahu! Tapi mereka tidak marah? Bukankah ini kejutan yang sangat-sangat……

“Sayang.. Hei.. Kau melamun?”

“Kak-”

“Hm.”

“Aku bahagia.”

Tangannya membelit pinggang Rrvan kencang. Ya, Siren harus bahagia pangeran impiannya akan menjadi miliknya sebentar lagi. Soalan keluarganya biar diurus nanti. Boleh kan seperti itu? Siren terlonjak girang.

“Tapi Kak, kenapa Mamih belum juga menghubungiku?”

“Mom akan memberikan surprise untukmu, Sayang. Ayo berangkat. Bukankah kamu lapar?”

Siren mengangguk patuh. Dirinya lekas mengganti pakaian yang sudah Revan pilihkan. Perutnya sudah krucuk-krucuk minta diisi, ia tak mau lama-lama.

***

Sepanjang perjalanan Siren memanyunkan bibirnya menatap bahu jalan sebelah kiri agaknya ia malas walau hanya untuk menoleh ke kanan. Alasannya karena pakaian yang Siren pakai berlapis-lapis, Siren merasa seperti orang sakit. Di sampingnya Revan tersenyum penuh kemenangan. Bibirnya ia rapatkan lantaran tak mau mengubah mood Siren semakin buruk.

Mobil mulai keluar dari daerah pedesaan memasuki pinggiran kota. Revan memperjelas pandangannya menoleh kiri dan kanan mencari tukang bubur ayam yang diminta Siren. Namun sudah 10 menit belum menjumpai tukang bubur ayam yang berparas tampan. Berulang kali Revan mendengus kasar. Raut wajahnya kembali bermuram durja mengikuti kemauan ajaib kekasihnya sangat sulit dilakukan. Cari dimana lagi penjual bubur yang berwajah tampan?

Seketika wajah Revan sumringah melihat penampakan tukang bubur yang berada di dekat perempatan jalan. Lantas menepikan mobilnya ke tempat yang tidak begitu ramai.

“Kita makan disana yah?” tanyanya pada Siren sembari menampilkan senyuman terbaiknya.

Mata Siren mengarah ke depan mengikuti arah jari telunjuk Revan. Dahinya dikerutkan. Kemudian wajahnya terkejut. Sepertinya ia sangat shock melihat tukang bubur yang berambut ikal panjang yang digerai serta bagian depan giginya tidak terkodifikasi dengan baik.

“No.. Rambutnya keriting, bisa-bisa bulu aku ikutan keriting. Dan lihat itu..offside!!” pekik Siren. Mulutnya menganga lebar.

Revan tergelak kencang. Kepalanya digelengkan seraya mengerti perkataan konyol yang dimaksud oleh Siren. “Baiklah. Kita cari tempat lain.” ucap Revan lembut mengalah. Tangannya mengelus pipi Siren dan mencubit gemas.

Sepertinya Revan punya kesenangan baru yaitu mencubit pipi kekasihnya sekarang.

Mobilnya melaju kembali di jalan aspal. Berputar-putar mengelilingi pinggiran kota selama beberapa menit. Pipinya memerah, ia mencoba bersabar sebaik mungkin. Sungguh ia tak ingin membuat Siren terluka. Prinsipnya menyenangkan hati Siren adalah hal yang utama.

Sudah lima kali tukang bubur ayam yang ditolak oleh Siren. Revan nampak frustasi.

“Bagaimana kalau Kakak membuka kios bubur? Biar kamu jadi pelanggan VIP.” candanya pada Siren yang dibalas dengan pelototan mematikan.

“Apa? No..Big no.. Yang ada Kakak di gerumuti laler betina.” geram Siren. Napasnya memburu, ia kesal setengah mati. Siren menghembuskan napasnya pelan. Akhir-akhir ini emosinya tak terkontrol, tidak tahu kenapa?

“Kamu kenapa marah-marah terus? Sudah tidak sayang sama Kakak hm..?” lirih Revan. Raut wajahnya berubah yang tadinya senyum menjadi sendu.

“Eh.. Bukan begitu Kak. Kakaknya overprotektif sama aku sekarang. Tidak seperti dulu.” jawab Siren, suaranya yang tadi kencang dipelankan hampir tak terdengar. Ia menundukan kepalanya. Tiba-tiba dadanya sesak. Air di pelupuk matanya menetes. Ish.. Cengeng.

“Aku tidak memarahimu. Jangan menangis Sayang.” ucap Revan lembut. Ia menyesali pertanyaan bodoh yang baru saja ia lontarkan.

Mobilnya menepi di pinggir jalan. Revan membuka sabuk pengaman dan merengkuh Siren ke dalam pelukannya. Hatinya mencelos melihat titik air mata di pipi kekasihnya. Revan merasa akhir-akhir ini Siren sangat sensitif. Tubuhnya juga berbeda dari sebelumnya. Revan mulai memikirkan sesuatu dan ia akan mengeceknya sendiri nanti setibanya di Jakarta.

Revan menghembuskan napas pelan. “Makan yang lain mau?” ucap Revan kembali. Tangannya membelai sayang helaian rambut Siren. Kepala Siren menggeleng dalam pelukannya.

“Belanja mau?”

Siren mengurai pelukannya. Matanya berbinar dan kepala mengangguk antusias.

Revan terkekeh. Harusnya dari tadi ia mengajak Siren berbelanja. Bukannya kebanyakan wanita suka berbelanja?

Mobil melaju kembali ke daerah yang lebih ramai. Hampir setengah jam mereka berkeliling mencari outlet pakaian wanita yang sudah buka di pagi hari. Ternyata daerah pinggiran perkotaan ini sangat penuh dengan para penjaja barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Mata Siren berbinar melihat penjual tenda dome berderet di pinggir jalan. “Berhenti Kak.” pekik Siren kencang.

Revan mengerem mendadak, kemudian ia memarkirkannya ke jalan yang agak sepi. “Apa apa Sayang?” tanyanya panik.

Siren membuka sabuk pengaman dan lekas keluar dari dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Revan. Wajahnya nampak ceria meski hanya melihat tenda dome dengan berbagai warna. Revan mengikutinya di belakang.

Lelaki itu tersenyum kemudian, gadis yang ia cintai terlihat sangat bahagia. Sirençnya memilih-milih beberapa tenda dome yang akan ia beli.

Dua warna berbeda Siren pegang di tangannya. Warna hitam berada di tangan kiri, sedangkan warna salem berada di tangan kanan. Dahinya dikerutkan makin dalam. Siren kebingungan akan warna yang akan ia beli. Lalu Siren berbalik, matanya beralih ke Revan yang ada di belakangnya.

Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, alisnya ia turun-naikan, matanya menoleh ke kanan dan ke kiri seraya meminta bantuan pada Revan agar memilihkan warna yang bagus.

Senyuman lelaki itu semakin lebar. Jari telunjuknya menunjuk ke arah tangan Siren sebelah kiri. Dan itu berarti tenda dome berwarna hitam yang dipilih Revan.

Dada Siren berdebar, perih. Seperti tertusuk ribuan jarum. Ia berharap ini salah! Ini tidak benar. Revan atau pun Valerio tidak mungkin membohonginya.. Air matanya kembali mengembang dan hampir menetes. Siren lekas berbalik dan berjongkok. Warna hitam ini adalah warna favoritnya Valerio. Tidak mungkin Revannya memilih warna pekat, Revan tidak suka itu. Siren tahu drngan jelas kalau Revan sangat lembut. Revan penyuka warna Salem, yang menurutnya warnanya memberi ketenangan. Kenapa perasaannya seperti ini?

Buru-buru Siren menghapus air jejak yang menggenang di pelupuk matanya. Mencoba mengatur napas dan menenangkan pikirannya. Revan tidak boleh tahu jika ia mencurigainya. Siren bisa menguasai dirinya sendiri, ia kembali bersikap ceria.

Dengan senyuman mautnya, Siren meminta Revan membayar sebuah tenda dome berwarna hitam yang ia pilih. Tentu dengan senang hati Revan akan membayarnya. Apalagi diberi kecupan tanda terima kasih dari kekasihnya, membuat hatinya terlonjak girang.

Akhirnya Revan membeli bubur ayam yang berada dekat dengan penjual tenda. Dan mereka bergegas pulang karena Siren sudah tak sabar ingin memasang tenda.

***

Sore ini Revan menerima telepon dari luar negeri. Wajahnya memerah menahan amarah. Giginya gemeletuk. Rupanya kakek iblisnya tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Bagaimana tidak, baru saja ia dan kekasihnya ingin kembali ke Jakarta namun kembali tertunda karena mendapatkan misi yang sangat penting berupa tantangan yang harus dilakukan, perintah si tua iblis. Revan tidak mungkin tega meninggalkan Siren sendirian di kota asing.

Berulang kali Revan menolak tugas yang diberikan dari kakek iblisnya. Namun tidak bisa. Resiko yang akan ia ambil terlalu besar, karena Siren yang akan terkena dampaknya.

Hatinya terus berontak. Ingin sekali Revan luapkan dengan merusak bisnis Vandals. Kemarahan dan dendam yang telah lama ia simpan seakan tak akan pernah terbalaskan selamanya. Shit.. Batinnya menggeram marah. Ia harus secepatnya menyelesaikan misinya. Agar ia bisa segera menikahi kekasihnya.

Percakapan di ruang makan antara Revan dan orang asing yang memakai bahasa Italia terdengar jelas oleh Siren yang sedang mengintip dari dalam kamar. Siren hanya merengut kesal lantaran tidak mengerti ucapan dari Revan. Yang ia tahu adalah; Revan saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Berkali-kali bentakan dan hembusan napas kasar dari Revan sudah sangat jelas bahwa lelaki itu sedang marah besar.

What? Revan marah? Haruskah TS berkata imposebel lagi? Tar dikata ngiklan, dapat royalti lagi, hufh..

Siren sampai merinding merasakan aura dingin, kejam dan bengis dari wajah Revan. Sekarang ia yakin jika itu memang Valerio bukan ‘kak Revannya’. Namun tak bisa diungkap hari ini, melihat suasana tidak kondusif. Siren harus lebih bersabar sampai waktunya tepat.

Sering kali memang logat bicara Revan berubah-ubah. Kadang mirip sekali dengan Valerio. Aura yang terpancar dari Revan dan Valerio lah yang menjadi patokannya. Jika dilihat lebih teliti. Siapapun akan mampu mengenali siapa jiwa yang mendominasi tubuh kekasihnya. Revan dengan tatapan teduh, menenangkan, ucapan tutur kata lembut ber-attitude, dan sangat ramah. Valerio? Kebalikannya dari Revan, tidak perlu ditanya lagi.

Di relung hatinya, memang bagi Siren hal itu tidak begitu penting. Siren juga tidak memperdulikan siapa jiwa yang sedang mengambil alih tubuh kekasihnya. Cintanya sangat tulus pada kedua jiwa tersebut. Yang disesalkan olehnya, mengapa Valerio harus sampai berbohong pada Siren. Itu saja.

Setelah mematikan ponsel, Revan fokus kembali menatap beberapa tuts yang tertera pada layar laptopnya. Jarinya lincah menekan angka layaknya sandi atau kode. Tangannya membetulkan letak kacamatanya yang agak miring. Kadang dahinya dikerutkan, kadang kepala digelengkan. Jarinya mengetuk-ngetuk dagunya seraya berpikir. Kemudian jarinya menekan beberapa angka lagi sebagai pembuka bagian yang terkunci. Berhasil.. Yup.. Sebuah data rahasia tertera di layar, ia simpan dalam memori otak jeniusnya. Kembali lagi jemari itu menekan keyboard secara acak guna membuka sesuatu file yang berkode.

“Eum.. Yummy.. Ugh.. Aahhh….”

Desahan Siren membuyarkan konsentrasinya seketika. Laptopnya disingkirkan oleh Revan, seraya ingin mengetahui apa yang dilakukan kekasihnya. Matanya membelalak. Siren sedang menjilati es krim berbentuk kerucut sembari melenguh nikmat. Dan hanya memakai kaos putih tipis tanpa bra, putingnya yang mungil menerawang dari dalam. Serta bawahan hanya selembar hotpant tanpa pembungkus segitiga.

“Kakak mau?” ucap Siren disertai kekehan genit dan cengiran khasnya. Kakinya pelan melangkah mendekati Revan dan duduk di pangkuan mengangkanginya. Pinggulnya bergerak erotis membangkitkan tonjolan di selangkangan Revan.

Pluk..

Siren melempar es krimnya ke belakang. Lidahnya terjulur menjilati sisa-sisa coklat di tepi bibirnya sendiri. Kemudian menggigit bibir bawahnya sensual. Revan meneguk salivanya. Menahan hasrat yang mulai terbangkitkan. Ekor matanya melirik pada layar laptopnya, yang langsung ditutup cepat oleh Siren.

Brup..

“Mata Kakak indah. Coklat terang dan bercahaya. Aku suka.” puji Siren sembari melepas kacamata Revan dan diletakan di meja kaca. “Hidung Kakak juga mancung, alis Kakak lebat dan sedikit melengkung di ujungnya. Bibir Kakak merah muda, manis untuk disantap.” Siren terkekeh kembali.

“Semua ini milikmu Sayang. Harta dan apapun yang aku miliki akan menjadi milikmu seutuhnya. Ughh..” Revan melenguh lantaran miliknya terjepit dan digesek nakal oleh Siren.

“Benarkah? Kakak akan berikan segalanya? Aku tersanjung sekali. Sungguh, aku perempuan yang paling beruntung. Cintaku padamu itu tulus tanpa embel-embel.” kekeh Siren, ikatan rambutnya dibuka. Rambutnya yang telah tergerai dikibaskan kesana kemari. “Harta itu hanya bonus yang diberikan Tuhan terhadap hambanya yang cantik sepertiku.” kekeh nya semakin kencang.

Kedua tangan Revan meremas bongkahan padat bokong pada kekasihnya. “Kau mulai nakal yah!” seringaian mesum Revan dan tatapan tajam menusuk hingga ke dalam bola mata Siren.

“Sedikit pancingan lagi, logat Vale akan keluar.” ucap Siren dalam hati.

Siren tertegun sesaat sebelum berkata, “Kakak yang baru menyadarinya. Lagipula aku nakal cuma sama kamu.” ucapnya menggoda. Jemari lentiknya meraba halus dada bidang kekasihnya. “Jika aku meminta hati ini dengan membelah dadamu dengan pisau dapur, apakah Kakak akan memberikannya?” tanyanya lagi manantang. Siren menaikan sebelah alisnya.

Revan tergelak. “Lakukan apapun yang kau suka. Jika memang hati ini yang akan membuatmu percaya akan cintaku, akan kulakukan Sayang.”

“See.. He is Vale.” yakin Siren dalam hati.

Revan sendiri tak menyadari jika telah merubah aksennya!

Siren mengerang pelan. Daerah kewanitaannya berkedut atas aksi nakal Revan. Terasa lembab di bawah sana. “Stop. Jangan bergerak pinggulnya.” protesnya.

“Kau cantik sekali Sayang. Dan semakin seksi.” kedua telapak tangan Revan beraksi liar menangkup dua daging kenyal di dada Siren dan memelintir putingnya yang sudah menegang dari luar pakaian yang Siren mendesis pelan.

Tatapan mata Siren menangkap tatapan mata Revan yang seolah tiada kenal rasa takut. Perkataan yang lelaki itu bilang semua penuh penekanan dan penegasan penuh percaya diri.

“Oh Vale sampai kapan kau membohongiku?” batin Siren menjerit.

Pagutan Revan mengagetkan Siren yang sedang melamun. Gigitan-gigitan kecil pada bibir Siren membuat si empunya mendesah. “Demi kau. Dan hanya untukmu seorang, akan kulakukan apapun untuk tetap mempertahankanmu di sisiku. Aku bersumpah kau lah satu-satunya wanita yang kucintai.” ucap Revan di sela-sela ciumannya.

Siren terkesiap sesaat merasakan remasan tangan Revan pada pusat bawahnya. Ciumannya terlepas, seraya menghirup oksigen sebanyaknya. “Aku percaya karena kau ialah Putra dewa laut. Kau akan membelah lautan dengan mudah, kau mampu mengangkat gunung dan diletakkan di bahumu seperti atlas memikul langit. Kau adalah pegasus, kuda terbang kebanggan Mamih, belatih kecilmu akan menjadi petir milik Zeus yang mampu mengalahkan iblis terkuat.”

Revan tergelak geli. Tangannya memegang perutnya yang melilit lantaran ucapan konyol dari Siren. “Siapa orang yang mengatakan hal aneh itu padamu?”

“Mamih Marta. Kau anggap itu lelucon?” Siren mencebik kesal. Tangannya dilipat di depan dada. “Calon mertuaku berkata: tidak akan ada yang mampu mengalahkan putranya. Dan aku percaya itu. Meskipun kadang aku menyebutmu dengan pangeran Asmodeus, the devil of lust.” kekeh Siren.

Revan menaikan alisnya. Tangannya mengacak rambut Siren gemas serta mencubil pelan pipi cabinya. “Itu semua hanya mitologi. Tidak ada sangkut pautnya denganku. Astaga.. Aku baru tahu kau menyamakanku dengan setan napsu!! Kalau begitu akan kuwujudkan perkataanmu.” bisik Revan halus di telinga Siren.

Siren meremang.

“Eh..tu..tunggu dulu. Maksudku cuma..cuma.. Auw…” pekik Siren. Tangan nakal menelusup ke balik kaosnya dan meremas kencang isi di dalamnya.

Manik Revan berkilat gairah. Seringai tipis terbit di sudut bibirnya seraya menakut-nakuti kekasihnya. “Sudah terlambat. Kau lah yang memecahkan konsentrasiku bekerja. Kau harus bertanggung jawab.”

“Wow, aku merasa tertantang akan hal-hal liar yang ada di kepalaku!” Siren balik menggertak seraya tak mau terintimidasi, tangannya kuat mencekal tangan nakal Revan dan mengeluarkannya dari dalam kaos yang ia pakai. Kemudian ia turun dari pangkuan Revan dan berjongkok di sela selangkangannya. Separuh tubuhnya berada di kolong meja makan. Jarinya gesit membuka kancing dan resleting celana Revan serta mengeluarkan kejantanan yang sudah mengacung tegak.

Keadaan berbalik. Biasanya Revan ataupun Valerio tak pernah gentar menghadapi lawan tangguh sekalipun. Namun kini ia seolah takluk terhadap makhluk cantik penguasa hati dan pikirannya. Mulutnya ternganga entah apa istilahnya, pangling, terkesima, terkagum atau shock berat. Revan merasa tak percaya. Gadis kecilnya sudah dewasa.

Ternyata sihir Siren lebih kuat daripada sihir miliknya. Revan tercengang menyaksikan bibir mungil itu melahap habis miliknya yang berukuran besar. Lidahnya liar dan lincah menjilati inci demi inci tonggak tegak mengacung disertai gigitan kecil pada ujung-ujungnya. Dimasukan kembali ke dalam dan memutarkan lidahnya sebelum kemudian mulutnya menyentuh atas. Sedangkan tangan satunya mengurut bagian pangkal yang tak muat masuk seluruhnya ke dalam mulut. Revan melenguh nikmat.

Siren sedang kerasukan. Kepalanya turun naik sangat cepat, rongga mulutnya serasa penuh sesak tersumpal kejantanan Revan. Kadang Siren bergerak slow motion, ia ingin melihat raut wajah Revan yang sedang terbakar api gairah sembari mengedipkan sebelah matanya. Kedua tangan Revan mencengkram kedua sisi kepala Siren, agar wajah cantik tersebut tak tertutupi helaian rambut yang mengganggu. Lalu disatukan rambut panjang Siren di atas kepalanya menggunakan tangan kanan. Dan tangan satunya menjamah bagian lain tubuh Siren, hingga ia menjerit tertahan.

Revan melolong panjang setelah meneriakan nama Siren serta melepaskan tautan mulut Siren pada kejantanannya. Diakhiri dengan semburan yang sangat dasyat berjatuhan mengenai rambut Siren dan ke meja makan.

Siren membelalak. Baru kali ini ia melihat secara langsung semprotan air kental yang memancur. Biasanya cairan itu masuk ke dalam liang peranakannya. Revan memejamkan matanya dan bersandar pada sandaran kursi. Siren mencebik kesal rambutnya menjadi bau khas sperma. Dirinya bahkan dilupakan. Hatinya menggeram kesal. Dasar.

Dukk..

“Auw..”

Kepala Siren terbentur tepi kolong meja makan. Tak sadar ia berada di bawahnya. Ia mengerang kesakitan

“Sayang..maaf..”

“Aku merasa senang, Kakak dapat mengingatku.” sindir Siren sembari bangkit dan berdiri.

Revan terkekeh, malu. Tangannya menggaruk kepala bagian belakang.

“Aku cuci rambut dulu lengket kena semprot.”

“Mau dibantu?”

“Tidak perlu.” Siren melotot garang pada Revan dan memalingkan wajahnya. Kemudian ia melangkah ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.

Wajahnya dan rambutnya dibasuh dengan air. Siren masih nampak kesal saat bercermin. Bau sperma masih ketara menyengat indera penciumannya. Kemudian ia cuci kembali dengan shampo dan ia bilas kembali dengan air pancuran di wastafel.

Tiba-tiba pelukan hangat seseorang mengejutkan acara mandi kilatnya. “Maaf.” Revan mengeratkan ikatan tangannya yang membelit perut Siren.

“Hm.”

“Kau masih marah?”

Siren mengangkat kepalanya dan tersenyum manis. Mata mereka beradu di pantulan kaca. “Aku tuh tidak bisa marah sama Kakak.” ucapnya dengan nada dibuat-buat, cengirannya keluar. Memecah kecanggungan di antara mereka.

“Mau lanjutkan yang tadi?” tanya Revan dengan suara serak. Napasnya berat. Tonjolan selangkangannya digesek ke belahan bokong padat Siren. Siren merasa tertantang dengan kelakuan Revan.

Seraya berbalik Siren melolosi semua benang yang membungkus yang melekat di tubuhnya. Bokongnya dingin menyentuh marmer pada pinggiran wastafel, satu kakinya ditekuk dan diangkat ke atas, satunya lagi menjuntai ke bawah. Pandangan yang menggiurkan bagi Revan yang sudah terbakar api gairah.

Siren mengerang ketika dua jari menerobos masuk ke dalam lubang kewanitaannya. Revan cepat mengulum bibir Siren dengan panas, lenguhan Siren menjadi teredam karenanya. “Bolehkah aku?” tanya Revan di sela-sela ciumannya, bibir mereka masih beradu.

“Lakukan..” jawab Siren dengan terengah-engah seusai ciuman . Sebelah kakinya diturunkan. Seraya berbalik, Siren sempat mengedipkan mata menggoda si pejantan. Badannya menungging sembari menyibakkan rambut panjangnya yang masih basah ke samping.

Revan memposisikan kejantanannya di tengah belahan bokong padat Siren dan mendorongnya dengan sekali hentakan kuat dan dahsyat. Siren mengerang tertahan seraya mencekungkan tubuhnya, kernyitan dahinya semakin dalam. Perih yang dirasakan pada pusat intinya bukan menyakitinya namun menambah gelenyar kenikmatan yang sangat menakjubkan. Gerakan liar dan buas di bawah sangat kentara jikamana kekuatan besar Revan yang selama ini ia pendam berpendar keluar dan sangat bergelora. Revan terus bergerak semakin cepat dan menang atas segalanya mendominasi percintaan panas nan menggairahkan. Dan Siren hanya memegang pinggiran wastafel.

Erangan panjang menggema hingga ke sudut ruang kamar mandi. Pelepasan terakhir Siren yang disertai teriakan nama ‘Revan’ kencang pada pelepasan pertamanya.

Kaki Siren lunglai, ia bersandar pada dada bidang Revan di belakang tubuhnya. Revan lekas mengangkat tubuh di depannya dan meletakkannya ke dalam bathtub. Mereka mengulanginya lagi sebelum akhirnya Siren dibawa ke tempat tidur.

***

Revan menoleh pada tubuh polos tanpa penutup di sebelahnya. Dadanya turun naik seraya mengatur napas setelah percintaan panas mereka. Mata Siren masih terpejam erat.

“Kakak menakjubkan. Aku tak membayangkan Kakak sangat panas.” puji Siren masih tersengal-sengal.

“Kau melupakanku, amore.” lirih pemuda di sebelahnya. “Kau tak memanggil namaku sekalipun.” lanjutnya lagi. Suaranya menyiratkan bahwa ia sangat-sangat sakit.

What??

Valerio!!

Siren membulatkan matanya, lantas bangkit dan menindih tubuh kekasihnya. Siren sangat senang akhirnya Valerio mengakuinya.

“Vale.Vale..Vale.. Berapa kali aku harus memanggil namamu?” Siren terkekeh. “Apa kita ulang kembali yang seperti tadi.” goda Siren. Jari telunjuknya menekan-nekan lesung pipit Valerio.

Valerio membelai lembut punggung mulus Siren. Tangan satunya menyibakan helaian rambut yang mengganggu. “Kupikir kau tak merindukanku.”

“Sepertinya kau dan aku harus menambah liburan satu minggu kedepan. Agar kau percaya aku merindukan kekasihku.” goda Siren.

Valerio berbunga-bunga. “Penawaran menarik. Kau berbakat menjadi sales.” kekeh Valerio. “Oh ya.. Aku baru ingat kau seorang shopaholic. Kau pintar bernegosiasi.”

Siren mencebik kesal, lantas memanyunkan bibirnya. “Hm. Siap-siap saja, aku akan menguras isi dompetmu.”

“Dengan senang hati aku akan menyiapkan uang sebanyak mungkin. Argh…” Siren mencubit kejantanan Valerio. “Kau sangat nakal, amore. Aku akan menerkammu jika kau melakukannya lagi.” Valerio menyeringai mesum.

“Baru menampakan diri, sudah ngajak ribut.” gerutu Siren kesal. “Vale apakah selama kau bersemayam di dalam sana, apa kau mengasah lidahmu?”

“Oh tidak, aku akan mengunci lidahku dan hanya terbuka jika sedang mencumbumu.” kekeh Valerio mesum. “Kau nampak menggairahkan jika marah seperti ini amore.” Valerio meremas bokong padat kekasihnya.

Siren memekik, melotot galak. “Bagian belakangku masih kerasa panas. Dan itu karenamu Valerio Asmodeus.”

Valerio tergelak geli. Baginya apapun yang keluar dari mulut kelasihnya sangat menyenangkan. Namun tawanya berhenti. Valerio mengingat sesuatu yang penting untuk diberitahu pada Siren. Raut wajahnya berubah muram, ia tak mau membuat kekasihnya bersedih. “Maafkan aku. Amore.. Ada yang harus bicarakan padamu. Ini serius.”

“Ya.. Katakan saja, aku mendengarkanmu.” jawab Siren acuh. Tangannya dilipat di atas dada Valerio dan kepalanya ia sandarkan disana.

“Aku..aku akan pergi sementara waktu.” lidahnya terasa kelu saat berbicara. Valerio sudah tidak mampu mengatakannya lagi.

Siren mengangkat kepalanya. Matanya menusuk ke dalam manik Valerio. “Cukup. Aku tak mau mendengarkanmu.” bibirnya bergetar. Air matanya tiba-tiba membendung di kelopak matanya dan terurai menetes. Perkataan dari Valerio seolah ia akan pergi lama dan tak kembali.

“Maaf.. Aku harus pergi. Ini semua demi kita, aku berjanji akan kembali padamu.”

“Aku bilang berhenti. Kenapa kau masih bicara. Kau merusak momen bahagiaku. Aku akan memukulmu jika kau masih berbicara itu lagi.” air matanya terjatuh deras membasahi pipinya dan menetes terus sampai ke bahu Valerio.

“Pukullah. Aku akan diam. Aku siap menghadapi kemarahanmu. Tapi jangan lepaskan genggaman tangan kita.” Valerio menghapus air mata di pipi Siren namun langsung ditepisnya.

“Kau..” geram Siren. Tubuhnya luruh ke samping dan berbalik membelakangi Valerio dengan mendekap selimut.

Hati Valerio mencelos.

Valerio menghembuskan napas kasar. Ia memiringkan tubuhnya seraya memeluk Siren dari arah belakang.

“Aku bersedia ditikam benda tajam asalkan kau tidak menangis lagi amore.”

Siren berbalik. Tangan memukul dada Valerio berulang-ulang, Siren sangat marah merasa akan ditinggalkan. Napasnya memburu. “Hentikan ocehanmu. Tarik kata-katamu yang tadi. Aku tak mau mendengarnya. Rasanya sangat sakit, Vale. Kapan kau pergi? Kali ini berapa lama kau akan meninggalkanku? Jika kau berjanji pulang dengan keadaan utuh, aku akan mengijinkanmu.” selorohnya panjang.

Valerio terdiam namun hatinya nelangsa. Baginya pukulan Siren tak lebih dari gigitan semut. Pukulan itu semakin melemah dan berhenti. Siren menyerukan wajahnya di depan dada Valerio. Bahunya masih bergetar. Tangan sebelah kanan Valerio merengkuh pinggang Siren mengurai jarak di antara mereka.

“Aku berjanji akan kembali sebelum pesta pernikahan kita. Percayalah padaku.”

Isakan lirih terdengar menyayat hati. Jantung Valerio seolah tertusuk siciliano tak kasat mata. Entah kenapa hatinya tak tenang, meninggalkan kekasihnya sendirian. Apa ini akhir dari perjalanan cintanya?

***

Valerio tak bisa memejamkan matanya. Rasanya penat, ia memang sangat lelah. Pikirannya melayang-layang. Biasanya keputusan apapun yang ia ambil, Valerio tak pernah ragu. Ia adalah orang yang optimis tak mengenal rasa takut sedikitpun. Namun sekarang berbeda.

Kekasihnya sudah terlelap dalam tidurnya. Bahunya telah berhenti bergetar. Isakannya hanya sesekali keluar mengganggu tidur nyamannya. Dengkuran halus terdengar bersamaan napasnya. Tangan Valerio mengelus pipi cabi dan mencubitnya lembut. Terbit senyum tipis di antara kesakitan luka hatinya.

“Aku akan berkata jujur padamu, amore. Namun keberanianku ini hanya jika kau sedang terlelap seperti ini.” Valerio menghela napas dalam-dalam. “Kau tahu? Saat pertama kau dan aku bertemu di rumahku. Ketika itu aku sangat marah padamu, karena kau memasuki rumah tanpa izin. Aku tak suka rumahku dimasuki orang asing. Aku bahkan sudah merencanakan penyiksaan untukmu.”

Kembali Valerio mengingat saat itu. Disaat pertama Siren menginjakan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Dulu ia sempat berniat jahat kepada Siren, tangannya menggenggam siciliano dibalik kamera digitalnya.

“Untunglah Revan bangkit mengambil alih tubuhku sesaat sebelum aku sempat menyakitimu. Daya pikat yang terpancar dari tubuhmu memberi energi besar pada jiwaku yang lain. Revan bagai terlahir kembali akan kedatanganmu. Dia selalu mendominasi tubuhku saat berada dekat dengan dirimu. Aku terkekang di dalam tubuhku sendiri.”

Ya benar. Kala itu Revan selalu menguasai. Valerio bahkan tak mampu bangkit lantaran jiwa Revan yang semakin kuat mengendalikan tubuhnya.

Valerio memejamkan matanya dan membukanya kembali, “Kau tahu aku siapa? Akulah iblis, cucu iblis tepatnya. Bagaimana bisa aku mengalahkan raja iblis, seperti yang kau bilang tadi. Sedangkan aku sendiri adalah cucu dari seorang iblis laknat itu. Banyak sekali dosa yang telah kulakukan agar mendapatkan kejayaan bagi nama besar keluargaku. Tanganku sudah bermandikan darah. Bayangan gelap selalu mengikutiku dimana pun aku berada. Aku bukan manusia.”

Kini Valerio mengingat betapa menakutkannya dirinya saat emosi dan rasa haus akan membunuh merasuki pikirannya.

Mata Valerio seakan panas. Air matanya luruh tak tertahankan. “Kau amat berbeda dari yang lainnya. Dan aku menyesal, sangat menyesal telah mempermainkanmu. Namun percayalah cinta Revan sangat tulus kepadamu. Lewat depersonalisasi, seperti menyaksikan film di televisi. Aku melihat bayangan diriku sendiri berjalan dengan gadis belia yang sangat cantik, yaitu kau. Kalian berdua sangat bahagia. Awalnya aku muak akan sikap Revan yang menurutku sangat lemah padamu. Aku iri melihat kedekatan kalian. Aku bahkan merencanakan niat jahat padamu.”

Niat jahat yang telah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Bila ditanya apakah Valerio menyesal? Tentu saja ya jawabannya. Hei bagaimana tidak! Valerio berencana menyiksa Siren di bunker penyiksaan lantaran ia tak suka melihat Revan yang terlampau kuat karena jatuh cinta pada Siren, si bocah gesrek. Valerio awalnya memang sangat membenci tingkah laku Siren yang baginya seperti orang bodoh. Tapi itu dulu loh yah… Sebelum Valerio merasakan debaran-debaran aneh di dadanya yang ia pikir, ia terkena serangan jantung mendadak. Namun setelah dicek ke dokter ternyata bukan penyakit jantung.

Siren bergumam dalam tidurnya. Ia nampak terganggu. Hanya menggeliat kecil tanda tak nyaman. Valerio menepuk bahu atas Siren lembut seraya menenangkan. Manik Valerio menatap dalam wajah damai di hadapannya.

“Kau selalu bertanya, kapan aku mulai mempunyai perasaan kepadamu? Ckck.. Debaran di jantungku datang sangat terlambat. Awalnya memang aku selalu menyangkal cinta ini. Aku terus saja, tidak mengakui bahwa aku sudah takluk akan pesonamu. Aku bahkan membenci diriku yang sangat lemah karena kehadiranmu. Namun aku sangat marah jika ada pria lain mendekatimu. Dalam hatiku, aku tidak rela jika ada pria lain yang menyentuhmu. Aku benar-benar telah terjatuh. Beribu atau jutaan kali aku terus mengatakan tidak mencintaimu. Apakah aku bodoh? Ya aku akui itu, aku memang sangat bodoh.”

Sadarnya belakangan. Dulu Valerio merasa aneh karena ia hanya merasakan jantungnya tidak berfungsi dengan normal saat berada dekat dengan Siren saja. Dan lantas mencoba berkonsultasi, meminta saran kepada dokter pribadinya Alessandro yang berada di Italia. Alessandro mengatakan jika jantungnya bermasalah hanya karena dekat dengan seorang wanita berarti Valerio sudah terkena sindrom jatuh cinta dan dokter itu bilang, kalau Valerio sudah sembuh dari Philophobia nya.

Dahulu Valerio anti terhadap wanita karena menderita Philophobia sebab sakit hati pada Issable. Ingat?

Baginya cinta adalah kutukan mematikan dan harus dihindari.

Namun phobia itu sembuh ketika terus bersama dengan Siren. Arti lainnya, Siren dapat menyembuhkan phobia yang diderita Valerio tanpa Valerio sadari. Begitu lama sekali Valerio menyadari itu lantaran sudah lama pula ia tak pernah mendekati perempuan selain ibunya.

Setelah itu, Valerio mencoba membuka diri dan rasanya sangat menyenangkan. Dirinya terlalu serakah dikuasai iblis hatinya sendiri hanya menginginkan Siren untuknya tanpa ada Revan di dalamnya. Akhirnya Valerio merasakan apa yang namanya cinta sebenarnya. Siren bagai cupid yang mampu menancapkan panah cintanya tepat pada jantungnya.

Valerio tertawa hambar. “Aku terperangkap abadi dalam jerat cinta yang kau buat, amore.” jemarinya terus mengelus pipi halus Siren. Kemudian beralih merengkuh pinggang dan merekatkannya.

“Kau adalah kelemahan terbaikku.” bisik Valerio sembari mengecup dahi Siren. “Dan akan menjadi sumber kekuatanku.”

“Apa kau akan meninggalkanku, amore? Sejak dekat denganmu aku mulai dihantui rasa bersalah. Atas segala perbuatan jahat yang telah kulakukan. Bagai ada tombak dengan mata pisau runcing yang siap menikamku kapan saja. Aku sangat takut kau akan meninggalkanku setelah mengetahui kebenarannya.”

Wajahnya kembali muram. Bayangan kegelapan kembali melingkupi perasaanya.

“Aku bahkan menyamar sebagai Revan-mu agar kau tidak meninggalkanku. Aku bukan malaikatmu itu.”

Yup. Semenjak percintaan pertama mereka, Valerio lah yang menyamar sebagai Revan. Lantaran ketakutan ditinggalkan oleh Siren. Pengecut.. Kata itu yang pantas Valerio katakan pada dirinya sendiri. Dirinya lemah jika berhadapan dengan Siren.

Siren-nya bagai air bah yang mengguyur api amarah yang ada dalam diri Valerio. Siren-nya bisa dikatakan lonceng raksasa yang dentingannya mampu meredam rasa haus akan membunuh yang ada di diri Valerio. Atau Siren-nya bagai pawang yang dapat mengendalikan keganasan pada diri Valerio. Bahkan Siren-nya dapat menjelma sebagai penyihir Merlin yang dengan perkataannya akan selalu di turuti oleh Valerio.

Semuanya tentang Siren. Sesungguhnya Siren tetaplah Siren. Nama penuh makna yang diberikan Kana semenjak Siren lahir. Yakni wanita yang akan mampu menghempaskan para nelayan berikut awak kapalnya di pulau Anthemoisa hanya dengan nyanyian dan kecantikan parasnya.

Valerio berhenti sesaat seraya menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Matanya sangat sembab sejak sedari tadi ia menangisi kebodohan dirinya sendiri.

“Kau tidak tahu apapun tentang diriku. Aku bukanlah orang yang sempurna seperti yang kau sering katakan.” Valerio kembali menjeda ucapannya. “Bagaimana caranya mengatakan hal sejujurnya kepadamu. Bahwa.. Revan.. Sudah menghilang di dalam diriku. Sejak saat itu.” lirih Valerio. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Valerio segera bangkit dan berjalan keluar kamar. Valerio sudah tidak sanggup berkata apapun.

“Aku tahu… Dan itu menyakitkan!!”.

Bersambung ke Part 29.

END – Smile of My Girl Part 28 | Smile of My Girl Part 28 – END

(Smile of My Girl Part 27)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 29)