Smile of My Girl Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 24

Start Smile of My Girl Part 24 | Smile of My Girl Part 24 Start

Part 24. Tamu Tak Diundang

AUTHOR POV​

Jakarta Indonesia…

Deni mengobrak-abrik seisi rumahnya sampai berantakan. Terus ngerangkak masuk ke dalam meja dan ngintip ke kolong bangku.

“Gak ada! Apa dibawa tikus kali yah?” katanya bingung nyari benda yang hilang.

Dukk..

“Aduh… Meja sialan!! Siapa yang taro meja disini woi..” marahnya sembari mengusap kepalanya yang benjut kepentok meja.

Deni keluar dari kolong meja, sekarang menuju dapur. Ia membetulkan banana-nya yang miring terkulai lemas ke atas.

Satu persatu laci meja digeledah. Ia mengedarkan pandangan ke tiap penjuru sudut rumah. Tapi barang yang dicari gak ketemu juga.

“Sue.. Perasaan gue taro disini dah!” gumamnya kesal. Ia menatap tajam laci meja dapur yang kosong.

Siapa tahu kalo gue pelototin entuh barang bisa nimbul sendiri, pikirnya.

Laci meja dapur tetap kosong. Sepertinya sulap ala Deni gak berhasil.

Kemarin baru saja ia menerima paket dari pesenan online. Tujuannya pengen ngasih kejutan buat istrinya setelah pulang dari rumah mertuanya.

Tahu kenapa alasannya? Gara-gara Rissa gejagain sang ayah siang malam, Deni jadi puasa!

Deni sengaja nyiapin hadiah spesial dan diumpetin di laci meja dapur. Niatnya sih biar istrinya terkejut senang atau paling gak ngejerit kegirangan. Tapi sekarang benda itu raib entah kemana?

Deni nampak pesimis. Mukanya ditekuk tujuh lapis.

Ia menggaruk-garuk pantatnya yang gak gatal. Deni menarik iseng, karet celana dalamnya pada belahan pantatnya yang nyempil sendiri.

Otaknya berpikir keras! Kalau memang ada pencuri yang masuk, ngapain ngambil tali begituan?

Mendingan ngambil hartanya yang sudah membukit pemberian paksa mertuanya, pikirnya.

Banana-nya kegesek celana dalamnya yang dia tarik sendiri. Khayalannya muncul dan jadi mesum. Tapi tekadnya sudah bulat kayak donat. Deni harus menemukan benda itu malam ini juga, demi Rissa.

Kembali diperiksanya kamar mandi. Gak ada! Deni ngangkat ember dan gayung periksa lebih teliti lagi, hanya ada air disana.

Rambutnya sudah acak-acakan. Ia memeriksa kamarnya lagi, dari kolong tempat tidur sampai lemari pakaian. Ia seudzon, Rissa yang sudah membunyikan benda kramat itu.

Semua pakaian di keluarkan. Berikut perhiasan dan surat-surat penting dalam brangkasnya.

“Kamu ngapain sih, Den?” tanya Rissa yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Yang, kamu liat tali item-item yang aku simpen di laci dapur gak?” tanyanya balik.

“Tali apa? Beli saja di warung.” jawab Rissa sepele.

“Di warung gak ada yang jual, Yang. Itu tali harganya juga lebih mahal dari tali biasa.”

“Yah kamu cari saja di toko penjual tali plastik, werehouse atau semacamnya yang menjual tali. Gitu saja kok repot.”

“Tetep gak ada yang jual, Yang.”

Deni mengacak rambutnya frustasi.

“Tali apa memang yang gak dijual di toko?”

“Tali buat ngiket kamu, Yang.”

Deni duduk di sisi tempat tidur. Dia gak perhatiin raut muka Rissa yang memerah.

“Kamu tega mau iket aku? Dasar suami durhaka.” geram Rissa menjambaki rambut Deni.

“Auww.. Sakit, Yang. Sakit aduh ampun.. Sakittt… Itu seks toy Yang, bukan tali rapiah.” rintih Deni menjelaskan.

Rissa berhenti dan melepas rambut Deni dari genggaman.

“Maksud kamu? Bondage?”

Rissa menutup mulutnya terkejut. Pipinya merah padam, ia gak menyangka suaminya menyimpang soal seks. Atau memang hyper?

“Den.. Besok kita terapi ke psikolog. Kayaknya kamu mesti diobatin.” Rissa melembutkan suaranya.

Rissa mengelus rambut Deni sayang. Kepala Deni di dekap ke dadanya. Rissa menciumi ubun-ubun Deni.

“Enak banget, Yang.”

Deni terkekeh dan meremas toket Rissa lembut.

“Modus saja kamu!” geram Rissa melihat kemesuman suaminya.

“Main yuk, Yang..” pinta Deni pelan.

Banana-nya sudah bangun, ia remas-remas sendiri dengan tangan kanannya.

Rissa menghela napas. Tangannya mengelus dadanya pelan berulang-ulang. Kayaknya suaminya perlu mandi kembang tujuh rupa.

“Kamu cari tali saja dulu, Den. Kalau sudah ketemu lapor sama aku yah!” kata Rissa, maksa senyum.

Rissa menaiki tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Loh kok tidur, Yang? Kalo tali udah ketemu kita main yah, Yang?” ucap Deni semangat.

Rissa mengangguk dan tersenyum. Dia gak mau sakit kepala ngeliat tingkah suaminya.

“Yess!!” pekik Deni gembira.

Deni berjingkrak kegirangan goyang ngebor di depan Rissa, pinggulnya muter-muter kayak gangsing. Lalu keluar dari kamar sambil loncat.

Rissa beristifar tiga kali sembari doa. Ia gak mau ketularan setan yang ngerasuki tubuh suaminya. Harus punya extra kesabaran unlimit kalau jadi istri Deni.

***

Rissa ngulet pelan. Tidurnya malam tadi nyenyak banget. Ia ngerasa rancuh sendiri, tumbenan suaminya gak gegangguin.

Dia meraba sebelah sisi tempat tidur, tapi kosong. Mata Rissa kebuka, ia menguap sesaat ngilangin kantuknya.

Lalu bangkit dan berjalan keluar pintu kamar. Rissa ngeliat suaminya tertidur di atas sofa ruang tamu.

Rissa jalan dan duduk di lantai, di bawah sofa yang Deni tidurin. Pipi Deni diusap-usap lembut. Matanya menatap intens suaminya.

Bagi Rissa, Deni tuh mirip Zain Malik kalau lagi tidur. Apalagi kalau jambangnya baru numbuh gini.

Pasti geli-geli horni kalau sampai kena dada atau perut bawah, pikirnya.

Rissa menepuk jidatnya berkali-kali. Kayaknya virus mesum Deni sudah menular ke otaknya.

Kesal memang ngeliat Deni yang kalau ngomong gak jauh dari perkara bobo-boboan. Tapi kalau Deni bersikap normal, Rissa ngerasa kehilangan juga.

“Den, bangun.” Rissa menepuk-nepuk pipi Deni lembut.

“Ngantuk, Yang.” Deni berbalik, miring ke sebelah kiri.

Rissa jadi gak tega ngebangunin Deni. Ia mengelus sayang helaian rambut suaminya yang pendek.

Walau suaminya mesum, tapi cinta Deni ke Rissa gak bisa diragukan. Sejak kuliah Deni selalu mengusilinya cuma demi mencari perhatian dari Rissa.

Rissa senyum-senyum sendiri waktu Deni mengerjai Rissa dengan tikus karet. Ia sampai menjerit melompat ke pelukan Deni karena mainan tersebut.

Deni mengambil kesempatan meremas-remas pantatnya yang semok. Alhasil Deni mendapatkan ciuman kasar dari tangan Rissa sampai pipinya merah.

Berukang kali Deni merasakan tamparan dari Rissa gara-gara keusilannya. Tapi Deni gak berhenti, terus saja mengakali agar bisa selalu di dekat Rissa.

Deni juga yang menyelamatkan Rissa saat dikerjai di hari ulang tahunnya. Rissa diberi minuman keras di pub oleh sahabatnya sendiri.

Hampir saja ia diperkosa bajingan pub, jika Deni gak nolongin. Deni dengan gagah berani menghajar bajingan pub dengan tinjunya. Hingga membuat bajingan pub tersebut masuk rumah sakit. Akhirnya Deni membopong Rissa yang belum waras karena pengaruh alkohol dan membawanya ke kostan Deni.

Rissa yang masih dalam keadaan mabok jadi terangsang, menggerayangi tubuh Deni dan membuka pakaiannya hingga polos. Tapi aneh bin ajaib, Deni menahan gejolak napsu dari Rissa karena ia gak mau Rissa menyesalinya nanti.

Gentle banget sih kamu Den, pikir Rissa.

Setelahnya Rissa lah yang mengejar-ejar cinta Deni mati-matian. Tapi Deni jual mahal!

Deni gak mau dianggap cowok murahan. Dia pengen tahu sebesar apa cinta Rissa buatnya.

Rissa mengintil Deni kemanapun. Sampai-sampai ke toilet saja, Rissa tungguin di depan pintu. Maklumlah cinta pertama, pengennya nempel terus.

Namun naas, pernyataan cintanya ke Deni ditolak. Padahal dia sudah pede banget kalau bakalan keterima.

Rissa galau dan nerima perjodohannya sama pengusaha muda usulan dari ayahnya, pak AW.

Deni tahu perjodohan Rissa dari temannya. Deni patah hati, dia jadi uring-uringan di kamar. Nyesal sudah nolak Rissa. Deni Mogok makan dan mogok kuliah.

Sampai-sampai Siren yang masih SMP, turun tangan. Bukan karena kasihan! Tapi rumah jadi berisik gara-gara kakaknya nangis gak berenti-berenti.

Adik kecilnya datang ke kampus pengen menculik Rissa dengan wajah polosnya. Siren memperdaya Rissa, kalau ia tersesat dan minta dianterin Rissa pulang.

Siren nangis guling-guling di depan aula dan ngaku-ngaku jadi anaknya Rissa yang dibuang di pinggir jalan.

What?

Siapa yang mau percaya coba! Rissa kembang kampus yang cantik dan mungil punya anak segede gitu.

Rissa bersumpah kalau gak kenal sama Siren. Mukanya sampai merah karena malu.

Siren nempelin Rissa kemanapun. Pokoknya kalau gak mau nganterin pulang, hidup Rissa gak akan tenang.

Dosennya di kelas ngamuk-ngamuk ke Rissa. Gara-garanya Siren ngambil rambut palsu pak dosen terus diumpetin ke dalam tas Rissa. Kepala Rissa sampai berasap ngadepin kenakalan Siren.

Gak cuma disitu saja. Siren bahkan makan di kantin gak bayar. Ngakunya adik Rissa fakultas ekonomi semester 2. Si ibu kantin nagih ke Rissa sambil ngomel karena piring dan mangkuk dipecahin Siren. Rissa memijit dahinya, stress.

Hampir saja Siren dibawa ke rumah sakit jiwa sama petugas atas perintah pak dosen. Mungkin saja ada pasien yang kabur iya kan!

Siren menangis tersedu-sedu, matanya berkaca-kaca. Dia memanipulatif semua orang dengan muka polosnya. Teman-teman Rissa merasa iba dan ngusulin buat Rissa nganterin pulang saja daripada dititip di rumah sakit jiwa.

Akhirnya Rissa yang waras ngalah dan nganterin Siren pulang ke kampung. Disitu dia ketemu lagi sama Deni.

Rissa kaget ngeliat tampilan Deni kayak orang abnormal. Beda banget sama Deni si pengacau saat berada di kampus. Cowok tengil itu keliatan keren dan borjuis.

Siren ketawa cekikikan ngeliat Deni yang kaget dan ngumpet ke kolong ranjang karena malu.

Tapi dengan bantuan Siren mereka jadi baikan. Rissa nerima Deni apa adanya, sedang Deni bahagia luar biasa.

Sejak saat itu Deni berjuang buat dapetin hati pak AW. Giliran Rissa yang mogok makan karena pengen perjodohannya dibatalin.

Pak AW pengen lihat usaha Deni buat dapetin putri semata wayangnya. Ia gak mau nyerahin Rissa ke sembarang orang. Deni membuka usaha sendiri hasil jual kebun ibunya di kampung.

Usaha yang digeluti Deni berhasil dan sudah membuka beberapa cabang diluar kota. Masih perusahaan kecil memang, tapi sudah bisa membutikan keseriusan cintanya di depan pak AW.

Akhirnya pak AW nerima Deni jadi menantu dan ngasih salah satu anak perusahaannya di Jakarta buat dipimpin Deni. Tapi Deni menolak, karena ia mau berdiri dari jerih payahnya sendiri.

Pak AW bangga banget sama calon mantunya. Dan memberikan ijin Deni dan Rissa mengurus pernikahannya sendiri atas permintaan calon besan.

Otak gesrek Deni berubah jadi normal. Itupun kalau lagi di kantor.

Rissa teringat kembali malam pertunangan mereka yang diadakan pesta nanggep wayang golek dikampung halaman Deni.

Rissa melamun mesem-mesem sendiri. Kedua pipinya jadi panas.

“Yang, kamu gila?” tanya Deni mengerjapkan matanya, ngeliat istri tercintanya ketawa sendiri.

Pipi Rissa merona. Sebenarnya ia lagi terbayang malam pertama sama Deni di hari pertunangannya.

Calon ibu mertuanya Ani sampai mencak-mencak diluar kamar ngeliat anak dan calon menantunya tidur berduaan gak pakai baju.

“Kayaknya kamu deh yang harus ke psikolog, Yang.”

Deni bangkit dari sofa dan periksa kening Rissa sama punggung tangannya.

Rissa menundukan kepalanya. Rupanya Deni punya pengaruh kuat tentang kemesuman. Pengen minta ditidurin tapi Rissa masih jaim.

“Den, aku pengen ke pacuan kuda.”

Rasanya Rissa pengen nabok mulutnya sendiri.

Deni menepuk jidatnya. “Astafirulloh… Aku belum perpanjang Visa, Yang! Besok pagi aku urus deh, jadi beberapa hari lagi kita bisa ke Royal Ascot.”

Wajah Rissa berubah pias. Ia menutup matanya, gak mau emosi.

“Gimana kalo kita ke pacuan kuda yang di Bandung? Lebih deket, Yang. Cuacanya juga dingin, sekalian kita bulan madu lagi.”

Deni cengengesan. Sedang wajah Rissa kembali cerah. Tapi Deni teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya menelpon seseorang.

Deni mengernyitkan dahi. Telepon belum juga tersambung.

“Telepon siapa sih, Den?”

Rissa cemberut. Usaha ke pacuan kuda tertunda.

“Siren. Pasti dia yang ambil talinya.”

Rissa ngelus dada sembari geleng-geleng. Deni kembali menelepon Siren.

“Hallo, Ren. Kamu ambil tali item di laci dapur yah?” cerocos Deni setelah tersambung.

“Hah?? Tali item?? Kakak ambil aja di gudang belakang. Banyak tali ada yang merah, kuning, hijau di langit yang biru.” jawab suara di seberang sana.

“Kamu pikir pelangi!! Terus tali Kakak kamu umpetin dimana?”

“Beli lagi aja sih, Kak. Rempong deh tali doang ih.. Aku bobo dulu ah, masi ngantuk abis maen perang-perangan.”

Klik..

Siren mematikan sambungan teleponnya sepihak. Deni dongkol mengetuk ponselnya ke kepalanya sendiri. Pipinya memerah, ia jadi curiga sama ceplosan ngasal Siren.

Memang darah lebih kental dari air ketuban! Pikirnya.

Deni ngerasa berkaca kalau ngeliat tingkah Siren. Adik kecilnya menyerap kegesrekan Deni dengan baik.

Deni menggeleng kepala menghadapi sikap Siren yang semakin menjadi-jadi.

“Adik durjana..” marah Deni.

“Sudah, Den. Mungkin Siren gak ngerti sama perkataan kamu, jadi jawabnya asal-asalan.” bela Rissa.

“Kamu terlalu manjain adik kamu tuh! Jadi begitu sifatnya.” gerutu Deni kesal.

“Kamu gak ngaca, Den? Kalian berdua kayak pinang dibelah celurit!”

Deni manyun lima senti. Ia gak akan pernah menang ngomong sama istrinya.

“Kamu masak dulu gih, Yang. Aku laper banget semaleman meriksa got nyari tali.”

Deni menggaruk badannya yang gatal. Rissa baru meneliti baju dan celana Deni yang kotor.

“Jadi kamu nyari tali itu di got?”

Rissa menganga gak percaya suaminya bodoh sekali. Rissa malah terharu akan hal itu.

“Iya, Yang. Demi kamu. Kalau gak ketemu kan kamu gak mau main sama aku.” Deni merengut.

Rissa memeluk Deni cepat. Sedang Deni terperanjat kaget.

“Kamu kenapa, Yang? Jangan bikin aku khawatir dong!” Deni gelisah, ia memeluk balik istrinya.

“Aku cinta kamu, Den. Cintaaa…. banget…”

Dada Deni ser-seran. Jarang banget Rissa bilang cinta kayak gini.

“Aku juga, Yang. Cinta banget, sangat.”

Deni memeluk kuat istrinya dan menggoyang-goyangkan tubuh Rissa. Efeknya terasa, dada kenyal Rissa menekan dada bidang Deni.

Kemesuman Deni kembali disaat yang tepat. Tangannya merambat ke pantat Rissa pelan hingga sang empunya melenguh.

Gak terjadi penolakan! Deni gerepe-gerepe belahan pantat Rissa dan mengelusnya lembut. Istrinya mendesah pelan.

Deni menggila. Tangannya masuk ke dalam celana piyama Rissa. Remes-remes terus merambat ke pebukitan.

Rissa melemas peluk Deni kencang sembari berdesis manja. Tangan Rissa juga remesin rambut Deni sambil ciumin leher Deni.

Deni turn on. Banana-nya ngacung minta jatah.

Elusan merambat terus bibir vagina istrinya. Deni juga melebarkan bibir bawah istrinya serta nyelupin satu jari ke lubang tersembunyi.

Erangan Rissa makin keras. Pinggulnya gerak sendiri naik turun. Padahal baru satu jari yang masuk. Rissa sudah menjerit-jerit sembari menjilati tengkuk Deni.

Deni mencelupkan lagi jari tengahnya mengikuti aksi jari telunjuknya. Rissa makin kelojotan gak karuan.

Rupanya dari tadi vagina Rissa sudah basah, istrinya memang sudah pengen digoyang dari tadi. Deni baru sadar pas masukin tangannya.

Jeritan desahan Rissa sangat keras, gebuat Deni makin gencar nyodokin jarinya.

“Den, masukin yuk ahh…emmm….” pinta Rissa sembari mendesah.

“Masukin apanya, Yang?” Deni sengaja mempermainkan Rissa.

“Banana-mu, Den.. Auhh…”

“Banana apaan sih?” Deni mempercepat kocokan jarinya.

“Auhh.. Den… Ouhnn.. Heuggh…. Cepat Den.”

Rissa menggigit bahu Deni kuat.

“Aarrgghh… Kamu drakula yah, Yang?” pekik Deni kesakitan.

“Den, masukinn… Ohh..ouhh….”

“Masukin apa dulu? Kalo gak ngomong gak masuk nih.”

“Tititmu, Den. Ahh… Auhhh..”

Deru napas Rissa memburu. Dari tadi ia hanya meremas bahu dan rambut suaminya.

“Titit buat anak kecil, Yang. Punyaku kan gede.”

Deni memanyunkan bibirnya. Jarinya berenti ngocokin lubang vagina Rissa.

Rissa kaget ngeliat Deni ngambek. Padahal sudah nanggung akan orgasme. Mata Rissa melirik kiri kanan mencari akal.

“Inikan titit raksasa, Den. Aku suka deh.” centil Rissa mengedipkan matanya.

Tangannya meremas dan mengocok banana Deni dari luar boxernya.

Deni gak tahan ngeliat godaan dari Rissa yang jarang sekali ditunjukan. Banana-nya sudah bengkak siap masuk ke tempatnya.

Rissa membuka boxer Deni dan ngeluarin banana Deni dengan gaya sensual. Mata Deni melotot saat Rissa memasukan banana-nya ke dalam mulut.

Dijilat, dihisap dan dikocok oleh mulut Rissa. Hanya separuhnya saja yang muat ke dalam, saking panjangnya.

“Eue.. Enak, Yang. Uuhhh…”

Deni kelojotan dibuatnya. Rissa menatap ke dalam bola mata Deni. Rissa menggoda Deni dengan memperlihatkan lidahnya yang lincah mengais-ngais lubang kencing Deni.

Banana-nya kekedutan. Sirkulasi aliran darahnya sangat cepat. Napsunya membludak. Napasnya kayak orang lari marathon. Badannya gegeteran keenakan.

“Lepas, Yang. Nanti keburu keluar kejunya ahh… Uhhh…. Euhh….” desah Deni mendelik-delikan matanya.

Rissa menghentikan aktifitasnya dan bangkit. Tangan kirinya meremasi payudara kiri sedang tangan kanannya nowel-nowel vaginanya sendiri dari luar piyamanya.

Bola mata Deni hampir saja copot. Dia nelen ludah, gak tahan lihat istrinya kayak artis bintang porno. Banana-nya sampai mendobrak pengen keluar dari celana.

Wajah Deni tampak gelisah, geli-geli basah. Gak biasanya istrinya ngajak duluan. Deni jadi mupeng ngelihat dada montok Rissa yang kebuka. Rissa melempar bajunya ke muka Deni. Langsung ditepis sama tangan Deni.

Deni memperhatikan istrinya kembali. Kemudian Rissa berbalik, pantatnya geal-geol sembari nungging terus buka celana piyama plus celana dalamnya sekaligus.

Deni melongo gak percaya!

Bukanya juga pelan-pelan pakai perasaan. Air liur Deni sampai ngeces lihat pantat semok istrinya yang putih mulus. Dahal baru separoh saja yang nongol.

Diturunkan lagi celananya hingga melolosi bagian pantat ke bawah. Lubang vagina Rissa empot-empotan, kesannya kayak ngejekin Deni.

Deni gak terima. Harga dirinya sebagai laki-laki dipertaruhkan disini!

Secepat kilat Deni membuka kaus dan boxernya. Tanpa permisi Deni memasukan banana-nya ke lubang intim Rissa.

“Auochhh….”

Rissa menjerit kaget. Matanya melotot kala banana Deni masuk tanpa aba-aba menerobos lubang intimnya dari belakang. Dikit lagi nyungsep kalau pinggulnya gak ditahan Deni.

Deni memekik kencang saat memasuki koridor sampai mentok ke dalam gua peranakan Rissa.

Pantat Deni mundur terus maju teratur lambat. Kedua tangannya pegangin pinggul Rissa sembari ngeremas-remas. Tiap sodokan Deni, istrinya mendesah keenakan.

Gerakannya keluar masuk makin dipercepat sama Deni. Suara lenguhan bersahutan menggema di ruang tamu.

Celana Rissa masih menggantung di lutut. Kedua tangan Rissa menumpu lantai sangat kuat, namun tetap terombang-ambing akibat gelombang tsunami dasyat dari Deni.

Dada polos Rissa terayun-ayun menggelantung searah dengan gerakan tubuhnya.

Mata Deni semakin terbuka lebar melihat dua gunung yang terpontang-panting. Deni bergerak terus melancarkan serangan dari lambat hingga ritme tercepat karena napsunya.

Bokong Deni melaju tanpa henti maju mundur. Hanya terdengar suara tamparan alat kelamin menyatu.

“Aouhh… Ahh.. Den.. Faster..”

Deni mempercepat genjotannya menuruti permintaan Rissa.

Napas keduanya memburu, seakan keputus-putus. Pegangan Deni pada pinggul Rissa di perkuat. Ia gak mau istrinya jatuh.

“Yang, enak bang..et.. Yang ohh..”

Kocokan semakin kuat saja. Deru napas mereka berlomba-lomba ingin menjadi pemenang pacuan.

Cuaca pagi yang tadinya dingin menjadi terasa gerah. Peluh sudah bercucuran di tubuh keduanya. Syarah gairah minta terpuaskan bersama suatu dorongan yang melesat ingin keluar.

“Ouh… Den terus.. Denn.. Euhghh…”

Desah Rissa manja membuat Deni semangat 45, terus mengocok dengan hentakan lebih kuat.

“Legit banget, Yang. Ahh… Padahal.. Tiap hari dipake… Oauh…”

Deni merem melek. Pinggulnya masih malaju cepat. Bunyi kecipak persetubuhan makin keras.

“Faster… Den… Bentar lagi sampai… Ahhh…”

Rissa melentingkan dada. Mengangkat tangannya mencoba berdiri.

“Barengan, Yang. Auh… Ehemmm…”

Deni menahan gejolak yang ingin keluar. Wajahnya memerah.

Rissa berhasil berdiri walau pinggungnya masih sedikit menungging ke belakang. Dadanya membusung, kedua tangannya berpegangan kuat pada leher Deni. Tusukan banana Deni makin beringas tetap cepat pada liang kenikmatan Rissa.

Mereka bercinta sambil berdiri!

Rissa menoleh ngeliat wajah Deni dan menciumnya dengan buas. Deni memiringkan kepalanya menyosor balik bibir Rissa. Lumatan, hisapan dan gigitan dari keduanya menambah rangsangan.

Ruang tamu saksi bisu percintaan mereka. Untuh saja adik semata wayangnya sedang pergi keluar kota. Jadi gak ada yang mengganggu proses reproduksi mereka.

“Keluar Den.. Aaouhh………”

Tubuh Rissa mengejang dan melemas. Namun Deni menahan pinggul istrinya kuat terus mengocok makin kencang.

“Aarggh……”

Teriak Deni menyemburkan benihnya ke dalam gua peranakan Rissa. Napas keduanya ngos-ngosan.

Deni melepaskan banana-nya dari gua Rissa dan membantu istrinya tiduran di lantai keramik.

Lendir itupun meleleh keluar mengalir ke pangkal paha Rissa. Keduanya melepas lelah dan terlentang bersebelahan.

Mereka gak tahu ada dua orang di balik pintu depan mendengar suara teriakan kenikmatan sedari tadi.

Wajah tamu tersebut merah padam. Entah karena malu atau iri!

Ting Tong..

Deni dan Rissa membulatkan matanya. Keduanya saling menatap satu sama lain.

“Ada tamu. Buka pintu gih, Yang!!” sahut Deni ngasal.

Bersambung ke part 25.

END – Smile of My Girl Part 24 | Smile of My Girl Part 24 – END

(Smile of My Girl Part 23)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 25)