Smile of My Girl Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 23

Start Smile of My Girl Part 23 | Smile of My Girl Part 23 Start

Part 23. Penyatuan Kembali

SIREN POV

Jakarta, Indonesia..

Sayup-sayup alunan merdu lagu asing terdengar di telingaku. Pelukan hangat pada tubuhku membuat mataku enggan terbuka. Aku ingin merasakan ini terus-menerus, sangat menenangkan.

Rasa kantuk perlahan sirna karena aku merasakan deru napas di wajahku. Aku mengerjap pelan, mulai menyadari posisiku berada di samping memeluk kak Revan. Ia tertidur, nyenyak sekali. Wajah tampannya teramat memesona diriku.

Tiba-tiba perutku berbunyi. Aku lapar sekali saat ini. Tapi aku gak tega bangunin kak Revan. Tidurnya pulas sekali, kayaknya ia sangat kecapekan.

Aku menolehkan kepala ke meja dekat sofa. Ada banyak buah-buahan dan beberapa makanan ringan disana. “Lumayan ngisi perut dulu.” batinku. Kak Revan pasti yang telah menyiapkan semuanya.

Aku bangkit dan berjalan ke arah sofa serta duduk bersila. Aku memakan apel dan makanan ringan yang tersaji di meja. Sampai menunggu kak Revan bangun dari tidurnya. Aku juga meminum air putih yang telah tersedia di gelas.

Perutku sudah terisi, kenyang sekali rasanya. Kulihat jam di pergelangan tangan kiriku sudah pukul 10 malam, aku melepasnya dan kutaruh di meja.

Kak Revan sama sekali gak mau bangun. Kayaknya aku sendiri yang harus membangunkannya. Daya khayalku sudah komit sama yang asik-asik.

Aku bangkit, memutar tombol agar lampu kamar menjadi tamaram. Pencahayaannya menambah kesan romantis.

Peluangku buat memegang kendali. Kalau kak Revan terbangun ada saja alasan untuk menolakku.

Gak tahu kenapa? Gairahku meninggi jika berdekatan dengan kak Revan atau Vale. Aku harus berubah menjadi Siren yang sebenarnya.

Aku gugup. Meskipun aku pernah disentuh oleh Vale, tetap saja aku gemetar mengawalinya lebih dulu.

Kudekati kak Revan dan merunduk, kuraba halus dada bidang kak Revan dan kukecupi dari luar kemejanya. Ada dua titik menonjol yang kusentuh dan kupelintir pelan bergantian.

Ia menggeliat.

Aku pernah baca dalam buku memuaskan pasangan di atas ranjang. Bukan hanya wanita yang akan sensitif jika cembulnya disentuh. Pria juga merasakan sensasi nikmat jika cembulnya dimainkan.

Kak Revan bergerak kembali tanda tak nyaman dalam tidurnya. Aku bangun berdiri dan membuka pakaian, tersisa bra hitam dan celana dalam brokat. Aku berbegas mencari koperku yang tadi diletakan di dekat lemari pakaian. Tapi sekarang gak ada.

Aku kebingungan mencarinya. Kucoba membuka lemari di depanku, semua barang bawaanku sudah tertata rapih disana.

Pipiku memanas. Kak Revan memindahkan semua pakaianku dan alat-alat seks kepunyaan Deni yang kupinjam secara diam-diam. Ia pasti sudah melihatnya.

Aku melihat ke tempat tidur. Kak Revan masih memejamkan matanya. Kejutan yang akan kuberikan gak istimewa lagi, kalau ia sudah melihat semuanya.

Kuhentakan kakiku kesal. Namun gak boleh menyerah di tengah jalan. Rencanaku sudah matang, aku bahkan sudah membaca berbagai macam gaya bercinta pada forum dewasa. Juga sudah mempelajari berbagai jenis penyimpangan seksual dari buku.

Kuambil bondage restraint stracuf sabuk manset hitam yang akan kuikat pada kak Revan agar ia gak melarikan diri.

Aku tersenyum licik.

Kuhampiri kak Revan dan rebah di sampingnya, tanpa menindihnya. Aku gunakan tangan kiriku sebagai sanggahan. Sabuk itu kuletakan disamping kananku.

Kupereteli kancing kemejanya satu persatu pelan dan kusampirkan ke bagian pinggir. Cembulnya kecil sekali berwarna merah kecoklatan lucu sekali bentuknya. Aku tertawa gemas memperhatikan dengan seksama sekarang.

Bagian perutnya kotak-kotak, dulu aku memang sering mengintipnya saat ia lagi fitnes di rumahnya. Tapi kini aku bisa merabanya leluasa.

Sewaktu kebobolan gawang kemarin, Vale yang jadi striker dan melumpuhkan semua gelandang bertahanku serta menerobos penjagaan kiper hingga berhasil mencetak gol.

Agregat dimenangkan oleh Vale, sedang aku hanya pasif, sama sekali gak mampu menciptakan counter attack. Aku dikuasai!

Aku juga gak sempat memperhatikan semua detail di tubuh Vale. Ia mampu melumpuhkan kesadaranku dengan sentuhannya. Indera perabaku mendamba usapan lembut jemarinya.

Gejolak asmara ini kian membara seiring berjalannya kebersamaan kami.

Malam ini harus berbeda. Aku harus bisa merubah Cimeries menjadi Asmodeus apapun caranya.

Aku teringat sabuk hitam itu. Kupasangkan satu sabuk pada pergelangan tangan kanan kiri dan kuikat kencang pada bagian bawah tempat tidur, begitupun pada kedua kakinya. Kini tubuh kak Revan membentuk huruf X.

Setelah itu aku bingung mau melakukan apalagi. Otak mesumku memerangi kurangnya pengalamanku.

Rasanya sulit sekali bermain dengan ia masih memakai pakaian lengkap, akan sangat mengganggu pergerakanku nanti. Aku bangkit dari tubuhnya, kuambil gunting kecil dalam kotak kosmetik yang berada di nakas.

Kugunting sedikit lipatan jahitan celananya, lalu kurobek.

Bretttt….

“Sayang jangan..” pekik kak Revan kaget. Matanya melotot.

Aku tertawa iblis. Rupanya sedari tadi ia sudah bangun.

“Cuma celana saja kok, Kak. Bukan yang itu.” kutunjuk juniornya yang masih tertutup celana.

Aku mengerling nakal.

Pipi kak Revan memerah lucu sekali. Ia sangan pemalu, aku tahu. Situasi kayak gini, seolah-olah aku akan mengambil keperjakaannya saja.

Aku gemas sendiri. Saat ini aku laksana rubah berekor sembilan!

Kutampakan senyum secubus menggoda. Kugunting kembali sebelah celana kirinya.

Bretttt…

Kakinya tampak gemetaran. Ia menekuk-nekukan jari kaki, itu pertanda ia sedang panik karena keberanianku dan kenekatanku.

Kugunting sisi celana atas berikut celana dalamnya sedikit-sedikit. Hingga terlepas dan kulempar ke lantai.

Juniornya belum berdiri sempurna.

Mata kak Revan melotot, kepalanya menggeleng lemah melihat gunting di tangan kananku. Aku dekati tangan kanannya yang membentang, kugunting pula hingga jahitannya terlepas, begitupun bagian lengan kirinya.

Kini tubuh kak Revan tanpa pembungkus apapun. Mimpiku menjadi kenyataan, akan terus menggoda kak Revan jika jiwanya yang mengambil alih.

Aku tertawa sesat keras kesali. Kak Revan bergidig ngeri melihatku. Kutatap matanya tajam, kudekati ia perlahan.

“Sudah tiba waktunya, Kak.” aku mengedipkan sebelah mataku nakal.

Kulempar gunting ke sofa.

Aku berlenggak-lenggok menunjukan kemolekan tubuhku, dan merangkak di atas tubuhnya. Kedua kakiku menekuk berada di dua sisi yang berbeda. Wajah kami berhadapan. Kak Revan tampak tegang, napasnya berulang kali berhembus panjang.

Kupandang wajah tampan di depanku. Perhatianku terpaku pada alis lebatnya, penanda si pemilik mempunyai energi sangat besar terkait seks namun sering menemui kesulitan membangun sebuah hubungan karena sifatnya yang sensitif dan mudah tersakiti. Ia juga sangat memerhatikan detail sekecil mungkin.

Wanita mana yang gak terpesona melihat paras rupawan ini. Aku salah satu perempuan paling beruntung bisa menaklukannya.

Kukecup hidung mancungnya sekilas. Kami beradu pandang. Aku tersenyum melihat pangeranku. Kuelus dengan ibu jariku, bibir merah mudanya yang agak tebal dan seksi, membuat aku ingin melumatnya.

“Bibirnya manis tidak, Kak?”

Aku terkekeh mesum.

“Lepasin, Sayang.” pintanya pelan.

Aku menggeleng cepat. “Nanti, Kak kalau aku sudah selesai.”

“Please…” melasnya.

Kusumpal dengan bibirku dan melumatnya lembut. Mataku tak tertutup ingin melihat rona wajahnya. Bibirnya terbuka, lidahku menelusup masuk membelit lidahnya yang lincah. Kuhisap dan saling berpagut hingga mendesah manja.

Kulepas kulumanku. Kuhirup oksigen sebangak mungkin.

Bawahku terasa lembab meski belum disentuh!

Kak Revan kayak menanti pergerakanku. Maniknya gak berkedip melihat keseksian tubuhku.

Kugoyang dadaku pelan. Payudaraku beradu, berayun dan kutekan dadanya. Pusatku yang masih memakai panty menekan sixpack-nya. Ia melenguh dan menutup mata.

“Kakak marah aku ikat gini?”

Hidung mancungku menggesek hidung mancungnya. Bibirnya tersengol ujung bibirku.

Kak Revan mendesis. “Stt… Sayang. Kakak tidak pernah bisa marah sama kamu.”

Aku tersenyum manis.

“I love you.”

Kukecup sekilas bibirnya.

“I love you, more.”

Maniknya penuh cinta. Apapun perlakuanku padanya ia tetap menyayangiku.

Hatiku berbunga-bunga. Meski sudah sering mendengarnya, api asmara ini kian membara.

Kulumat kembali bibirnya lebih liar. Ia membalas lebih buas. Kugigit kecil bibir bawahnya, ia menghisap bibir atasku. Ciuman panas dan gesekan pusat ku diperutnya membuat gelenyar aneh dalam tubuhku. Aku mendesah tertahan oleh kuluman maut kami.

“Emmh…”

Aku terbebas dari dera napsuku. Gak pengen terburu-buru menghabiskan malam indahku ini.

Napasnya memburu. Hasratnya mulai menguak kepermukaan seperti kemauanku. Namun hatiku belum puas, aku harus bisa membebaskan sisi incubusnya yang terbelenggu.

Aku terkekeh dalam hati. Mimik wajahnya menunjukan ia sedang menunggu perbuatanku lebih jauh. Aku tersenyum tertahan.

Kepalaku teleng ke kiri dan mendekat ke telinganya, kuhembuskan napas terangsangku pelan. Kujilati lembut dan kucucupi bertahap serta kugigit-gigit gemas.

Ia meremang. Melenguh dan mendesis.

Kecupanku merambah ke rahang kirinya. Jemari kiriku membelai pipi kanannya. Kugesek dengan bibir dan hidungku menuruni lehernya.

“Ahhhh… Sa..yang…” ucapnya bergetar menahan rangsangan.

Kuangkat kepalaku, mataku kembali melihat wajah tampannya. Bibirnya terbuka sedikit, kukecup dan melumatnya seakan gak pernah puas.

Payudara kenyalku masih tertutup bra hitam memijit dada bidangnya, si kembar cembul menegang di dalam mangkuknya. Bagai tersengat, gesekan pusatku pada perut kak Revan, rasanya basah dan nikmat sekali.

Mataku merem melek atas aksiku sendiri. Pengecapnya menari-nari di rongga langit-langit mulutku. Gak sadar aku mengangkat dadaku, kubuka cup bra dan kupelintir pelan cembul mungil sebelah kanan.

“Esssssttt….” aku mendesis.

Cembul ialah satu titik ransangku. Terasa makin gatal setelah kupermainkan. Kutarik kepalaku ke atas dan menarik napas dalam.

“Enak yah, Kak?”

Aku tersenyum menggoda. Ia terkekeh pelan dan mangut-mangut.

Aku merangkak kembali. Kedua payudaraku kukeluarkan dari cupnya dan kuarahkan cembul kananku ke depan mulutnya. Kak Revan tahu apa yang aku mau.

Ia menjilat memutar dan mengatupkan bibir serta menariknya lembut. Aku mendesah-desah, makin gatal saja cembulku. Kugeser tubuhku ke kanan menyajikan cembul kiriku. Kak Revan menyantap dan menggigitnya gemas.

“Ahhh.. Kak.. Yang kencang, Kak.”

Aku gak tahan!

Kutekan kedua payudadaku ke wajahnya. Kuremas rambut kak Revan dengan tangan kiriku, sebelah tanganku yang lain menyanggah bobot tubuhku biar gak menindih pangeranku. Pengecap kak Revan menari di belahan kedua bukit kembarku dan mencari si mungil cembul.

Dadaku turun naik. Kutekan ke arah mulutnya, lalu kutarik kembali sampai cembul yang menegang bagai tertarik-tarik. Jiwaku melayang saking enaknya.

Ia memburu. Napasnya keluar sangat kasar. Kugesek intiku lebih cepat pada dada bidangnya.

Aku mendesah manja. Dari dalam aliran itu turun semakin deras membuatku menggelinjang sesaat. Kududuki dadanya tampak basah sekali entah itu peluhnya atau cairan kewanitaanku.

Tubuhku tegak duduk di atas, aku istirahat sebentar mengatur napasku yang terasa berat karena udara semakin menipis.

“Berat?” tanyaku.

Kak Revan kayak orang sesak napas gara-gara aku duduki. Tapi kepalanya menggeleng.

Aku merunduk dan merangkak mundur. Kedua tanganku berpegangan otot kekarnya. Kakiku menekuk merendah seperti bersujud.

Kutatap maniknya menyiratkan rasa cintaku. Ia tersenyum menawan memperhatikanku. Kubelai sayang wajahnya dengan ibu jariku. Matanya terpejam, pipinya mendekat ke telapak tanganku, ia mendamba elusanku.

Sebuas dan sekeras apapun laki-laki pasti juga ingin disayang oleh perempuan yang ia cintai.

Kuhapus bulir-bulir peluh di dahinya. Kutata rapih helaian rambut pendeknya. Aku mendekat dan memagut bibirnya, kali ini penuh kelembutan dan penuh perasaan.

Debaran cinta menjadikan desahan kami berdua sangat merdu. Gak perlu tergesa, moment ini akan berlalu dengan kebahagiaan.

Perlakuanku kadang melembut, kadang buas. Ritme telah kuatur sedemikan rupa. Pagutan kulepas pelan sampai terdengar bunyi decap bibir kami.

Kedua tangan kak Revan berontak. Pipinya merah padam. Ia sangat geram akan lambatnya permainanku, namun gak berani buka suara.

Aku terkekeh senang.

Kukecup sekilas bibirnya lalu kecupanku turun ke dagu dan leher. Kak Revan terus bergerak dan menggeram. Kayak serigala minta kawin.

“Sayang.. Sudah.. Arggh…”

Kuhisap beberapa bagian membentuk hurup V membuat kissmark. Hadiahku buat Vale saat ia mengambil alih tubuhnya nanti.

Kecupanku turun ke dada. Kucucupi lembut, kuputari aerola dengan indera pengecapku dan menggigit gemas cembulnya.

Kak Revan menutup mata. Napasnya cepat dan terus memburu. Hanya lenguhan yang ia keluar dari mulutnya.

Aku semakin liar. Kak Revan berhenti berontak seolah ia menyetujui dan membiarkanku mendominasi permainan.

Aku bangkit dan memutar berganti posisi. Penasaran tentang nikmatnya menjilat permen yang pernah kutonton dalam film biru.

Aku terkesiap.

“Gede banget. Mirip mercusuar!” pikirku sudah melayang pengen dimasukan ke dalam tubuhku.

Mataku tak berkedip melihatnya. Junior kak Revan persis berdiri di depan hidungku. Baunya sangat khas tercium indera penciumanku.

Jemariku gemetar, gak cukup menggenggamnya. Kuremas lembut dan kukocok perlahan. Kak Revan mengaum panjang.

Kutekan ujung hidung mancungku mengenai lubang pipis pada ujung juniornya.

“Arghh..” pinggul kak Revan berjengkit dan menggeram kembali. Ia kayak menahan semua api gairah dalam dirinya.

Kupermainkan dulu sebentar karena lucu sekali. Kugesek-gesek lubang juniornya dengan ujung hidung mancungku.

Kak Revan makin belingsatan. Pinggulnya naik turun kayak pengen disentuh lebih lagi.

Kusengaja jilati memutar dengan lidahku, hanya bagian lingkaran atasnya saja, tanpa menyentuh lubang pipisnya. Kak Revan makin kelabakan.

Kedua kakiku mengapit kepalanya. Kurendahkan dan kuarahkan kewanitaanku tepat pada bibirnya serta kusampirkan celana dalamku. Ia melahap dengan buas. Pengecapnya menjelajahi belahan kewanitaanku, dijilatinya sampai aku kelojotan.

“Auhh.. Ehmmm… Kak…” aku mendesah keenakan dan melenguh memanggil kak Revan manja. Mataku terpejam meresapi nikmat kulumannya.

Kumasukan juniornya ke dalam mulutku dan kuhisap kuat, genggamanku bergerak turun naik pada benda keras itu. Pinggul kak Revan menghentak ke atas membuatku tersedak karena belum siap. Kukeluarkan dan aku terbatuk.

“Kakak nakal ih!” aku ngambek.

Kuremas kencang benda dalam genggamanku. Kak Revan melepaskan pagutannya pada kewanitaanku dan menjerit.

Aku terkekeh puas.

“Please, Sayang..” kak Revan memohon padaku.

“Yang tadi enak tidak?”

Ia bergumam sambil ngos-ngosan.

Aku jadi gak tega. Kujilati dari pangkal hingga ujung juniornya. Biar kak Revan relaks, ia melenguh kembali. Kumainkan dua bola keriput dan meremas kantungnya lembut, serta menjilati inci demi inci penuh perasaan.

Ia mengangkat kepalanya dan menjilati bokongku lalu merambat kembali melalui celahan bibir kewanitaanku.

Kami mendesah bersama.

Sisi jalangku semakin menggelora. Lubangku sudah berkedut-kedut dari tadi minta dimasuki pemiliknya.

“Ini saatnya.” batinku.

Aksiku berhenti semantara. Kuputar kembali posisi dengan gerakan sensual. Kupagut lembut bibirnya sekilas.

Aku mengernyit dan memanyunkan bibirku.

“Bau katori (bahasa India, alat kelamin wanita), Kak.”

Mataku membulat, aku menutup mulutku. Sungguh aku keceplosan.

Kak Revan tegelak kencang.

Pipiku bersemu merah karena malu. Baru sekali ini aku bicara kotor di depan orang lain. Apalagi dengan kak Revan.

“Jangan ketawa, Kak. Memang Kakak tahu artinya?”

“Tidak apa, Sayang.” jawabnya mesem-mesem.

Aku tertawa kecil.

Aku duduk di atasnya. Milik kami menempel, juniornya berdenyut dan menyundul kewanitaanku. Klistorisku bagai tersengat, efek gesekan juniornya.

“Ouhh.. Masukin, Sayang..” kak Revan mendesah dan memohon.

Aku menggeleng pelan.

“Kakak lepas yah?”

“Silahkan saja kalau bisa.”

Aku menantangnya.

Pletts… Pletts..

Suara rantai putus. Aku tercengang.

“Tali kak Denden!!!” kagetku dalam hati.

Tangan kak Revan sudah terlepas bebas. Sentuhannya menelusuri punggung dan bokongku lembut.

Aku melirik kiri kanan, was-was. Sedang ia tersenyum manis. Kak Revan mengangkat tubuh bagian atas, hingga kami duduk masih saling menempel.

Pletts.. Pletts..

Kakinya yang terbebas sekarang!

Aku masih tertegun memperhatikan mimik wajahnya. Ia mengecup bibirku sekilas.

“Sudah puas mainnya?” bisiknya halus di telingaku.

Tengkukku meremang!

Aku tertegun melihat senyuman kekasihku. Menawan namun penuh arti. Ia membaringkan kembali tubuhnya dan memejamkan mata. Ia ingin aku menguasai peperangan ini.

Aku merangkak di atasnya dan tanganku menjelajahi perut menuju ke dada dan terus ke atas. Kulumat bibirnya buas, kami kembali berpagutan mesra.

Aku mendesahkan namanya dengan bibir masih tersumpal bibirnya. Aku dibuat lupa diri akan kelihaiannya. Bra ku sudah terbang melayang dilempar olehnya. Ia membalik tubuhku. Kini tubuhku berada di bawahnya. Ciuman panas kami terlepas.

Mataku sayu memandang ke dalam bola matanya. Kak Revan mendekat dan mengecup lembut bibirku. Dada polosku menjadi santapan tangan-tangan liarnya. Aku melenguh semakin cepat, napas kami memburu, pengecap kak Revan makin memperdalam bermain di langit mulutku.

Napasku hampir habis jika ia gak melepaskan dan membebaskanku dari kuluman liarnya. Aku memejamkan mata dan menarik sebanyak mungkin

Brettt….

Aku membelalakan mataku. Kak Revan merobek celana dalam kesayanganku!

Ia menyeringai senang.

Kakiku dilebarkan, benda keras itu menerobos menelusup memasuki liang sempitku. Aku menahan serangannya, dahiku mengernyit meredam perih lantaran celahku yang membesar.

“Auochhhh….”

“Aarghhh….”

Jeritan kami bersamaan. Junior kak Revan sudah terkurung di dalam sana. Tiap sisi rongga kenikmatanku berkedut. Kak Revan sengaja berdiam sebentar agar aku gak kesakitan menerima hantaman palu besarnya.

“Sakit?” tanyanya sendu.

Aku menggeleng pelan dan tersenyum. Kak Revan memang sangat pengertian, ia menjunjung kebahagiaanku di atas segalanya.

“Terusin, Kak.”

Ia tersenyum mesum. Aku tercenung melihat perubahan ekspresi kekasihku.

Kupegang kuat kedua lengan kekarnya. Mata sayu kami beradu, saling mengungkapkan kasih sayang. Aku terguncang pelan kala juniornya memacu. Ia menjilati leherku lembut merambat ke dagu.

Kupejamkan mataku meresapi setiap hentakan gairah yang meronta dan berlomba saling menyerang. Bulir keringanku mengucur deras, gerah rasanya.

“Estt…heghh…oh…. Rapat sekali, Sayang.” desisnya gak sadar.

“Ahh… Emmm.. Cepetin Kak.”

Aku membuka mata, kami saling memandang. Maju mundurnya semakin cepat saja memompa liang surgaku. Aku gak tahan melenguh nikmat. Dalamku terjadi pergesekan keluar masuk penyatuan milik kami.

Napasku kian membara. Aku terlonjak-lonjak, dada polosku terus di hisap dan digigitin gemas. Aku kelabakan terus menjerit manja.

Kukukung pinggulnya dan membalik keadaan. Aku mau merasakan di atas tubuhnya. Ia tersenyum, memberikanku kebebasan bergerak liar.

Pinggulku turun naik gak berhenti. Kewanitaanku semakin lembab memudahkan membuka keluar masuk junior jumbonya.

Dadaku polosku tertangkap tangan nakalnya kembali. Ia senang meremas dan memelingir kedua cembulku. Rambutku tergerai, berkibar seiring lonjakanku.

Kak Revan menghentakan dari bawah dengan cepat. Serasa ada suatu dorongan yang mau keluar di dalam pusatku.

Kutarik kak Revan agar bangkit dan memdekat ke dadaku. Posisiku sedang dipangku kekasihku kini. Gemas, kak Revan meremas punggung, pinggul dan bokongku kencang sekali. Aku merinding oleh sentuhannya, membuatku terlena akan keintiman kami.

“Mau pipis, Kak.”

“Keluarkan, Sayang.”

Mataku sayu menatap matanya.

Ruangan kamar hanya terdengar deru napas kami berdua dan suara benturan bokongku pada atasnya.

Sisi jalangku memerintah pergerakanku kian buas. Aku terus menggodanya kala mata kami beradu. Kubasahi bibirku dengan lidah dan kugigit serta mendesah manja.

Pipinya semakin merona merah, ia menggigit bibir bawahku. Aku tahu ia gemas melihat kenakalanku.

“Ahh… Kak..”

Aku membusung sambil terus turun naik. Kuusapi leher depan, leher bagian belakang, meremas gundukan payudaraku. Posisi duduk menempel seperti ini menambah sensasi bercintaku. Klistorisku bergesekan dengan bulu rimbunnya. Aku gak kuat menahan kenikmatan ini lama-lama.

“Kak.. Enak Kak.. Terus, Kak… Aauchh…” aku menyemangatinya. Pinggul kak Revan menghentak dari bawah makin kuat. Ia terus mendesis dan menggeram. Napasnya makin berat saja.

Tangan kiriku berpegangan pada bahunya erat. Pelukanku mengetat dada bidangnya, kedua tangannya menjamah dan meremas bokongku dan membantu menaik turunkan pinggulku.

Aku terus merintih karena rangsangan pada tubuhku. Kupeluk tengkuknya dengan kedua tanganku. Payudara kenyalku seakan memijit dada kak Revan lantaran terus terayun menempel.

Kupercepat pacuanku dan menghentakkan lebih kuat. Dadaku membusung, kepalaku mendengak ke belakang.

“Aauhhh……”

Aku melenguh panjang. Tubuhku menggelinjang nikmat sesaat dan lemas di pangkuannya. Kakiku terasa pegal semua.

Kami terdiam beberapa menit. Kuatur kembali napasku yang hampir putus, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

“Sudah puas, Sayang.” bisik kak Revan merdu di telingaku.

Aku meremang! Bulu kudukku berdiri. Milik kami masih menyatu. Rongga liang kewanitaanku masih berdenyut.

Kuhisap juniornya yang masih bersarang di dalamku dengan bibir kewanitaanku.

“Aaargghh.. Sayang..”

“Enak, Kak?”

Kak Revan mengangguk. Matanya masih terpejam. Juniornya juga berkedut, kuhisap kembali miliknya dengan bibir bawahku.

Ia menggeram kembali. Bokongku diremas kuat kak Revan. Kayaknya ini berhasil, pikirku. Kugesekan maju mundur perlahan.

“Auhh…”

Rasanya nikmat. Gairahku bangkit kembali, rasa gatal pada kemaluan berbeda pada saat tadi turun naik. Klistorisku bergesekan kembali dengan bulu kak Revan yang lebat, geli-geli nikmat.

Kuhisap lagi miliknya kencang memamerkan kelihaian, bokong kunaikan sedikit dan kuhentakan kembali dengan kuat.

“Arrghhh…”

“Aauhghh…”

Lenguh kami bersamaan, miliknya mentok hingga terdasar. Aku berkejat sebentar, kepalaku terasa ringan sekali. Rongga di dalam masi berkedut.

“Aku capek Kak.”

Ia menidurkan kembali, aku berada di bawahnya. Juniornya gak pernah lepas dari intiku. Namun kami masih mengatur napas agat tetap stabil.

Kuusapi lembut kedua belahan betis dalamku pada kedua paha luar dan pinggulnya, terus menjelar mengikat pinggangnya ketat. Tangan kak Revan menjelajahi atas, ke samping hingga ke bawah.

Ia mendesis memejamkan matanya. Aku mengharap sentuhannya lagi.

Pinggulnya memacu kembali dengan perlahan. Sesekali ia memutar dan menghentak kasar. Gerakannya semakin liar dan gak teratur. Kak Revan kayak kerasukan, aku dibuat melayang ke surga atas percintaan kami.

Kuapit kencang pinggulnya dengan kedua kakiku. Membantu tiap lesatan kasarnya semakin menjadi.

Desahan dan jeritan kami semakin bising bersautan. Kadang ia memagut bibirku liar, kadang ia menghisap payudaraku. Aku mabuk karenanya.

“Kak tidak tahan hegh…”

“Sama-sama, Sayang.”

Hentakan terakhir kak Revan membuat jiwaku kayak terpental di awang-awang nikmat sekali.

“Aahh… Kak… Aauhhh…”

“Aarrghhh…..”

Jeritan kenikmatan kami hampir bersamaan. Aku melengking, mukaku menengadah ke atas melepas sissa kenikmatanku. Kukungan kakiku melemas dan terlepas dari pinggulnya.

Ia menekan kencang pernyatuan kami, hingga kepalaku mentok di sandaran tempat tidur. Aku merasakan beberapa semburan di dalam gua peranakanku.

Semburan panas dan bikin menggelinjang, cairan tersebut kayak mengalir di dalam sana. Enak banget pokoknya.

Kak Revan melepaskan penyatuan kami dan bersandar di sandaran tempat tidur, matanya terpejam. Napas kami ngos-ngosan.

Aku meliriknya sebentar kak Revan terpejam. Aku mendekat dan bersandar di dadanya, sempat juniornya kak Revan mengecil tapi masih kelihatan besar.

Kuremas sebentar sampai ia melenguh.

“Sudah kecil, Kak. Bisa besar lagi tidak?”

Kak Revan membuka matanya dan melihatku.

“Mau lagi?” tanyanya tersenyum menggoda.

Aku menggeleng pelan. “Nanya doang kok.”

Tangannya meremas gundukan payudaraku dan menutupnya dengan selimut.

“Auu…” pekikku keenakan.

Kak Revan terkekeh kencang.

Aku menutup mata dan bersandar di dadanya. Rasanya nyaman sekali. “Bobo ah ngantuk, Kak.”

Bersambung ke Part. 24

END – Smile of My Girl Part 23 | Smile of My Girl Part 23 – END

(Smile of My Girl Part 22)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 24)