Smile of My Girl Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28

Smile of My Girl Part 22

Start Smile of My Girl Part 22 | Smile of My Girl Part 22 Start

Part 22. Intuisi bag. 3 end

POV SIREN

Jakarta, Indonesia…

Sebelumnya aku gak pernah menyadari semua ini. Aku gak tahu kenapa akhir-akhir ini firasatku selalu berkata benar. Di mulai dari terungkapnya jati diri kak Revan, aku selalu merasakan sesuatu yang aku sendiri gak tahu datang dari mana?

Mapel di sekolah aku memang gak terlalu menguasai, emosi atau perasaan ini hanya terjadi kalau aku mencoba untuk berkonsentrasi pada satu titik masalah.

Apa memang ini karena aku sudah dewasa? Atau ada sesuatu yang lain!

Yang aku yakin, Vale sangat berpengaruh besar akan sikapku.

Aku sengaja duduk di bagian pojok cafe menghadap pintu masuk, biar lebih leluasa ngeliat tamu spesialku datang. Sebelum masuk ke cafe tadi aku memang mengirim pesan singkat buat seseorang.

Aku duduk berhadapan dengan orang yang aku gak kenal sama sekali, kami hanya saling diam dan menatap satu sama lain. Beberapa menit pesananku datang.

Aku makan dengan tenang. Kupertunjukan table manner yang pernah diajarkan kak Rissa. Walaupun aku gak menggunakan serbet saat ini.

Aku duduk dengan tegak. Garpu kupegang pada ujung tangkainya dengan dijepit di antara ibu jadi dan telunjuk tangan, sedangkan ketiga jari lainnya menahan tangkai sendok di bagian bawah. Kupegang juga pisau dengan cara yang sama pada tangan kananku.

Kutusuk steak dengan garpu dan kupotong tiga bagian kecil dengan pisau. Kuletakan pisau dan pindahkan garpu ke tangan kananku lalu kusantap. Aku mengunyah tanpa suara, dengan mulut yang tertutup rapat.

Kuletakkan kembali garpu dari tangan kananku menghadap ke bawah. Aku tersenyum manis melihat wajah datar di hadapanku.

Sejak tadi ia dan pemuda di sampingku hanya diam saja tanpa suara.

“Maaf mister, aku lapar sekali.” ucapku lembut.

Aku meminum jus pesananku dan meletakkannya kembali di tempatnya.

“Kamu tidak lapar mister? Tapi mungkin ia sedang kelaparan.” aku menoleh pada pemuda di sampingku. “Oh ayolah mister. Semua orang akan ketakutan jika kau memperlihatkan wajah serammu itu.” aku menyindirnya kembali. Logat bicaraku mengikuti Vale.

“Kau sangat cerdas.”

“Terimakasih pujiannya.” aku tersenyum manis. “Kapan aku bisa bertemu, Nyonyamu?” lanjutku. Aku menyeringai tajam.

Aku mengikuti seringaian yang sering Vale ajarkan agar aku gak mudah terpengaruh lawan bicaraku. Ternyata ini sangat berguna dalam situasi seperti ini.

“Kau salah paham, Nona.”

“Benar! Aku akan sangat percaya. Jika kau mengucapkan kalimat itu saat aku berumur sepuluh tahun.”

Aku mengedipkan sebelah mataku.

“Kau mirip dengannya. Pantas ia sangat menyukaimu.”

“Begitupun aku, mister. Aku sangat menyukai Nyonyamu. Aku juga sangat tersanjung atas pujianmu.”

Senyumku mengembang kembali saat tamuku yang lain datang, ia terlihat panik masuk ke dalam cafe.

“Amore.. Kau baik-baik saja! Mengapa kau melepaskan jam tanganmu?” kata seseorang yang baru saja memasuki cafe.

“Duduk, Vale.” ucapku lembut. “Hei kamu pindah kesana.” perintahku tegas pada pemuda di sampingku.

Pemuda itu tampak kaget melihat kedatangan Vale. Tapi ia mengerti dan langsung pindah ke sebelah mister di depanku.

Vale pun terkejut melihat orang yang berada di hadapanku. Aku menarik tangan Vale agar ia duduk di dekatku.

Ketiganya hanya diam. Aku menjadi sangat penasaran tentang mereka.

“Ada yang mau menjelaskan?”

Kuperlihatkan wajah datar di depan mereka bertiga. Mereka saling memandang lalu melihat ke arahku.

“Amore, bagaimana?” Vale kehabisan kata-kata.

Aku menggandeng lengan Vale. “Kalau tidak pintar, memangnya kau mau denganku.” aku memanyunkan bibirku.

“Kalian teruskan. Kami pergi dulu.” sela si mister.

Mister dan pemuda itu bangkit dari kursinya.

“Eitss… Tunggu dulu. Jelaskan padaku semua yang terjadi, atau kuadukan pada Nyonyamu, kalau kalian membiarkan aku dalam bahaya sendirian tanpa pengawasan.”

“Silahkan saja.” balas si mister, datar.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku jeansku dan kutunjukan pada si mister dan pemuda tersebut. Pemuda itu melotot kaget, kayaknya ia lupa akan ponselnya.

“Aku sudah melihat semua bukti disini.”

Aku menyeringai licik.

“Vale.. Dia bahkan merekamku saat aku ke kamar mandi di sekolah. Aku malu Vale.” aku menipu mereka semua.

Aku berakting menangis memeluk Vale dari samping, air mata palsu keluar membasahi pipiku. Pemuda itu gugup dan takut melihat Vale, ia berbicara bahasa Thailand sembari menggerakan kedua tangannya tanda tak setuju.

“Yess… Benar, ia mata-mata utusan Mami Marta.” batinku senang.

Wajah Vale memerah. Aura bengis terpancar di matanya. Ia melepaskan pelukanku dan bangun serta memukul rahang pemuda itu kencang sekali hingga pemuda itu terjungkal ke belakang.

Mister melerai perkelahian mereka dan memegangi Vale dengan kuat. Mister itu juga berbicara bahasa Thailand, buat menenangkan Vale.

Security datang membantu pemuda itu berdiri. Keluar darah dari sela bibirnya, aku menjadi sangat bersalah.

Mister terkena pukulan Vale, namun si mister bertahan tanpa memukul balik. Mister itu memang anak buah mamih Marta.

“Kayaknya udah cukup deh, kalo gak bisa gawat nih Vale ngamuk.” gumamku.

Kupeluk Vale dari belakang dan mengusap dadanya agar ia tenang. “Vale hentikan, aku berbohong tadi.”

Napas Vale masih memburu, ia sangat emosi. Vale memejamkan matanya, meredam kemarahnya.

Security itu ingin membawa kami ke kantor polisi jika kami gak menyesaikan masalah kami baik-baik.

Vale diam gak bersuara. Ia mungkin marah padaku. Aku menjelaskan pada pihak keamanan cafe kalau ini hanya salah paham.

Mister membayar bill dan menuntun si pemuda yang terluka parah keluar dari cafe dan memasuki mobilnya. Kekepohanku muncul, Vale kuseret keluar dan aku masuk lebih dulu ke dalam mobil mister diikuti Vale yang masih kesal.

“Keluarlah Nona. Aku akan ke rumah sakit. Pergilah dengan tuan Vale.”

“Aku yang sudah membuat dia terluka. Jadi aku harus ikut kalian.” kataku lembut. “Hei aku minta maaf yah.” lanjutku minta maaf pada si pemuda.

“Aku menyesal, suerr..” kutunjukan dua jari tengah.

“Aku tahu, Nona. Tapi lihatlah.” kata mister menoleh pada Vale.

Vale hanya diam saja di sampingku.

“Vale, aku minta maaf yah.” kataku lembut.

Aku memeluk Vale dari samping dan mengecup pipinya berkali-kali. Satu sudut bibirnya terangkat, ia kayak malu pengen tersenyum.

“Jalan Mister. Kita ke rumah Vale saja. Ada banyak obat-obatan disana. Pemuda itu hanya mengalami luka luar kan?”

Mister menoleh pada Vale berbicara bahasa Thailand yang gak kumengerti. Vale hanya mengangguk kecil.

“Kayaknya gue kudu kursus basa Thailand deh.” pikirku.

Aku menggandeng lengan Vale senang. Kusandarkan kepalaku pada bahu kanannya.

Mobil kami melaju perlahan meninggalkan area parkir cafe. Mister menambah kecepatan di jalan.

Hari sudah gelap, entah jam berapa. Aku sengaja menitipkan jam tanganku pada Vita sebelum naik ke mobil Andra tadi.

Beberapa menit kami memasuki area kompleks rumahku. Mister itu turun dan membuka gerbang agar mobil bisa masuk.

Mobil kami berhenti. Vale turun lebih dulu dan aku mengikuti Vale dari belakang. Ia berbalik menggemgam jariku dan menuntunku masuk lewat pintu depan, si mister dan pemuda itu mengekor di belakang kami.

Pemuda dan mister itu duduk di ruang tamu. Vale masuk ke dapur mengambil kotak obat, sedang aku membuatkan minum.

“Dimana jam tanganmu?”

Vale bersuara, ia menatap ke dalam mataku.

“Ketinggalan di rumah Vita saat aku ke kamar kecil.”

“Kau tidak bisa menipuku, Amore.”

“Maaf.”

Aku menundukan kepala. Vale tahu aku membohonginya. Tapi mengapa ia tadi memukul pemuda itu?

“Aku hanya curiga darimana kau tahu keberadaanku dan masalah yang terjadi padaku. Itu saja.”

“Tidak perlu dijelaskan lagi. Yang penting kau selamat.”

Vale memelukku erat sekali. Ia sangat mengkhawatirkanku, aku senang banget melihatnya.

Kami keluar dari dapur, aku meletakkan minuman di atas meja. Vale memberikan kotak obat pada mister itu.

“Biar aku saja.” aku berniat mengobati pemuda itu karena rasa bersalahku.

Aku merebut kotak obat dari tangan si mister, namun Vale mencegahku.

“Tidak, Amore. Tidak akan kubiarkan kau menyentuh pria lain selain aku ” ucap Vale, posessif.

“Biar aku saja, Nona.” sahut si mister mengambil kotak obat dan mengobati pemuda itu.

Aku menarik tangan Vale untuk duduk di hadapan mereka.

“Oiya siapa nama kalian?”

Aku menanyakan nama kedua orang di depanku. Mister itu menatap sebentar pada Vale dan Vale mengangguk pelan. Kayaknya mereka nurut banget sama Vale.

“Phaitoon.” sahutnya singkat.

“Kalau dia.” lanjutku menunjuk pemuda itu.

Vale berdehem. Mister menoleh sesaat, namun Vale mengangguk terpaksa karena aku melotot padanya.

“Channarong.” jawab Phaitoon.

“Channarong.. Aku panggil kamu rong-rong.” aku tertawa kecil.

Rong-rong melirik ke arahku dan tersenyum, tapi ia kembali menoleh pada Phaitoon.

Vale berdehem kencang sekali. Ia kelihatan kesal.

“Setelah selesai, cepat kalian kembali.”

Vale mengusir mereka.

“Vale, tidak sopan sama tamu. Biarkan mereka beristirahat dulu disini.” marahku pada Vale.

“Jangan dengarkan Vale. Kalian minum dan beristirahat saja, aku yang akan mengurus Vale.”

Aku bangun dari duduk dan menarik tangan Vale. Kami berjalan menaiki undakan anak tangga menuju ruangan kerja Vale.

Kami masuk ke dalam kamar, aku mengunci pintu. Aku berjalan ke arah meja dan naik di atasnya. Kubuka jaket dan kulempar sembarangan.

Vale mendekatiku dengan muka ditekuk. Aku memeluk pinggang Vale yang berdiri di tengah kakiku.

“Bagaimana kau bisa menjebak Phaitoon?”

“Aku tidak menjebaknya! Rong-rong saja yang aneh, ia masuk ke sekolah menyamar sebagai murid baru disaat adik kelas libur. Hanya siswa-siswi yang mengulang pelajaran saja kemarin yang masuk.”

Vale merenggangkan pelukan kami.

“Jangan panggil ia dengan sebutan itu, Amore. Aku tidak suka.”

“Kenapa?” aku mengerutkan dahi.

“Panggil saja namanya Channarong. Ia pelayanmu saat ini.”

Aku mendengus.

“Tidak boleh merendahkan orang lain walaupun ia pelayan, Vale.”

Vale mengacak rambutnya kesal, wajahnya memerah. Ia sedang cemburu.

“Baiklah.. Bagaimana kau tahu kalau ia ada kaitannya dengan Mom.”

“Mudah saja. Logat bicaranya sangat aneh, sama persis seperti Kak Revan saat pertama kali kita berkenalan.”

“Jam tanganmu! Mengapa kau meninggalkannya? Aku sudah berpesan padamu untuk tidak pernah melepaskannya, Amore.”

“Aku curiga padamu, Vale. Bagaimana kau dan Kak Revan mengetahui keberadaanku dan semua yang terjadi padaku?” aku merengut kesal. “Jam tangan itu pasti terpasang alat kan? Channarong juga, untuk apa merekam semua aktivitasku.” lanjutku sebal.

“Kau cerdas, Amore. Aku tidak salah memilihmu.”

Vale mengecup dahiku lembut.

“Memang kalau tidak pintar mau cari yang lain?”

Aku melipat tangan di dada, ku tatap tajam Vale.

Ia tergelak kencang sekali.

“Dihidupku tidak akan ada wanita lain selain kau dan Ibuku, Amore.”

Hatiku berbunga-bunga. Vale sangat pandai bicara.

“Aku pulang dulu yah, sudah malam. Besok pagi aku ada ujian.”

Vale mengangguk dan tersenyum.

Aku dan Vale turun keluar dan turun ke bawah. Phaitoon dan Channarong sudah pergi entah kemana.

Aku memeluk Vale sebelum keluar rumah. Ia mengantarku sampai depan gerbang rumahku

Kak Rissa dan kak Deni belum juga pulang. Aku membersihkan diri dan pergi tidur. Besok ialah hari perjuangan buatku.

***

Satu minggu kemudian…

Ujian Nasional kukerjakan dengan baik. Aku terbebas dari satu beban di bahuku. Tetapi masalah meninggalnya Jenni dan desas-desus tentang Fera masih ramai diperbincangkan di sekolah.

Aku gak menanggapi itu semua, ada hal lain yang membuatku gak tenang. Berulang kali kucoba memusatkan pikiran, belum juga menemukan jalan keluarnya.

Setelah pengakuan ayah Fera yang mengagetkan publik dan team penyidik. Ternyata otak dibalik peristiwa ini adalah warga negara asing. Dan sampai saat ini pelaku sebenarnya masih belum tertangkap.

Fera dan ayahnya hanya dijadikan alat oleh orang lain demi mencapai tujuan mereka. Para preman yang menyerang markas ayah Fera kemarin juga orang suruhan dari pelaku utama.

Gak tahu masalah jelasnya, hal ini masih dalam penanganan. Sindikat tersebut pun masih sangat dirahasiakan.

Fera dan ayahnya dilindungi dan dinyatakan sebagai saksi. Sandra dibebaskan dan kembali merawat ayahnya di rumah sakit.

Sandra meminta maaf pada Andra atas kekhilafannya. Aku, Vita dan Andra turut membantu Sandra meringankan bebannya.

Kami semua berdoa agar Fera segera kembali ke sekolah, mengikuti ujian susulan dan kami dapat lulus bersama.

Tapi itu semua, masih belum membuatku lega. Rasa gelisah datang tanpa kuketahui penyebabnya.

Entah kenapa hatiku gak nyaman akan adanya masalah ini. Andra bilang, Fredy masih turut menyelidiki kasus ini secara rahasia.

Instingku bergelut dengan hati nurani.

***

Kak Deni mau mendaftarkanku kuliah di salah satu Universitas terbesar di Jakarta. Namun kak Revan pengen aku tinggal bersamanya nanti di Jepang dan membantu mengurusi bisnisnya disana.

Biar bagaimanapun aku harus kuliah dan meraih cita-citaku. Aku harus menjadi dokter, kuliah dimana pun gak masalah buatku. Dan yang terpenting sekarang adalah mengisi hari liburku yang cukup panjang.

Liburan panjang kali ini kak Revan berjanji mengajakku ke luar kota sebagai hadiah. Aku sudah ngebet banget pengen mesraan dengan mio amore setelah berpuasa lama!

Rencana kali ini gak boleh gagal. Aku harus mendapatkan kak Revan seutuhnya! Sengaja beberapa hari kemarin, aku gak menggodanya hanya ingin ia tahu aku sungguh-sungguh belajar demi kelulusanku.

Rasanya kayak punya pacar dua! Cintaku telah terbagi, bedanya terarah hanya untuk satu tubuh.

Aku gak pernah membedakan siapapun. Aku mencintainya dengan segenap jiwa ragaku. Tak akan pernah berubah.

Namun satu masalah lain datang. Kak Deni dan kak Rissa curiga padaku. Mereka gak setuju aku keluar kota sendirian tanpa pengawasan.

Aku meminta tolong sahabatku Vita agar mau berbohong pada kak Deni dan kak Rissa. Kalau aku pergi bersama Vita dan keluarganya. Vita pun menyetujuinya, dengan syarat minta dikenalkan ke kak Revan.

Aku terpaksa menyetujui persyaratan Vita, biar ia mau merayu kak Deni dan kak Rissa agar memperbolehkanku pergi keluar kota.

Sebenarnya kak Revan juga memaksaku untuk meminja ijin pada kak Deni dan kak Rissa. Tapi gak aku kasih, karena takut kak Deni dan kak Rissa shock kalau adik semata wayangnya berpacaran dengan pria dewasa.

Aku belum sanggup bicara jujur dengan kedua kakakku. Kak Revan dengan berat hati mengalah asalkan aku gak bersedih lagi.

***

Saatnya telah tiba, aku akan berlibur dengan kak Revan. Aku mengepak barang yang kuperlukan. Bermacam pakaian sehari-hari, lingeri, g-string, bikini, serta kaset film biru untuk pelajaran sudah kusiapkan dengan baik.

Refreshing sangat dibutuhkan buat kaula muda sepertiku. Aku mau liburan sama kak Revan. Rencanaku kali ini gak boleh gagal.

Pagi tadi aku berpamitan dengan kedua kakakku. Kak Rissa sampai nangis, melepaskan kepergianku.

“Kak, aku kan pergi satu minggu doang. Bukan selama-lamanya.” aku ikut menangis.

“Tapi kamu gak pernah jauh dari Kakak. Kakak pasti kesepian.” kak Rissa semakin kejer.

“Udah dong, Yang. Kasian nanti Siren telat naik pesawat.” sela kak Deni memeluk kak Rissa. “Kamu hati-hati yah, Ren. Kakak udah transfer uang jajan biar kamu gak kelaperan disana.” lanjut kak Deni menaikturunkan alisnya.

Maksudnya apa coba?

Aku mengerucutkan bibirku. Memandang malas.

Aku keluar menaiki taxi dan menuju bandara. Hanya 30 menit aku sudah sampai di Bandara. Kak Revan menungguku disana.

Satu setengah jam penerbanganku menuju kota tersebut. Sopir jemputan sudah menunggu kami, perjalanan kami tempuh 150 menit sampai ke sebuah Villa. Kugandeng lengan kak Revan turun dari mobil dan memasuki Villa.

Salah seorang penjaga Villa yang tadi menunggu di luar pun masuk mengantar dan membawakan barang bawaanku.

Aku mengernyitkan dahi saat melihat ruang kamar kami. “Kak kayaknya kita salah masuk Villa deh! Kasurnya ada dua, ini bukan pesenan kita Kak.” aku berbisik di telinga kak Revan.

Kak Revan hanya tersenyum-senyum, membuatku curiga.

“Mas, apa benar ini Villa pesenan atas nama Mr. Revan?” tanyaku penasaran pada petugas Villa yang mengantar kami.

“Iya benar, Bu. Villa ini memang pesenan Bapak Revan.” jawabnya medok.

Aku gak percaya. Kamar ini Vale sendiri yang memesan. Ia gak mungkin memesan doble bed buat kami.

“Kak, Villanya bagus banget, tapi ranjangnya ada dua, aku gak suka Kak. Mungkin mereka salah. Mau yang single bed Kak.” aku menarik-narik tangan kak Revan.

Kak Revan hanya terkekeh pelan, lalu menyuruh petugas itu pergi dan bilang butuh privasi. Kemudian kak Revan membuka pintu kaca pada kamar. Terdapat kolan renang kecil disitu. Benar perkiraanku! Untung saja aku membawa bikini.

Aku terkekeh mesum memikirkan yang enaena.

Kak Revan menuntunku ke arah pintu kaca yang satu lagi dan membukanya.

“Taraa…” ucapnya.

Kamar romantis penuh cinta. Benar kataku, Vale sudah mempersiapkan segalanya dengan baik.

Ruangan tidur yang di sulap kayak kamar pengantin baru. Pengen koprol deh saking senengnya.

“Bagus banget kamarnya, Kak.” aku mengagumi indahnya kamar tersebut.

“Semua ini untuk kamu, Sayang.”

“Makasih yah, Kak.”

Kupeluk sayang pacarku.

Di otak sudah ada beberapa gambaran. Akan melakukan teknik dan gaya yang akan memuaskan kedua belah pihak.

Aku senyum-senyum sendiri.

“Sebentar yah Sayang, Kakak ada kerjaan. Kamu istirahat saja dulu.”

“Hah! Kerjaan saat liburan? Gak salah, Kak.”

“Hanya sebentar, Sayang.”

Kak Revan mengacak-acak rambutku. Kuhentakan kakiku dan duduk bersandar di sandaran tempat tidur.

Kak Revan menyalahkan AC dan menutup pintu kamar. Ia berjalan dan duduk di sofa membuka laptopnya.

Wajahnya serius memperhatikan layar di depannya. Aku tiduran di tempat tidur, memiringkan tubuhku menatap padanya.

“Kak gak dingin?”

“Kamu kedinginan, Sayang? Kakak matikan AC-nya yah!”

Aku menendang selimut kesal, kelopak mawar hancur berantakan. Kak Revan terkekeh pelan melihat tingkahku. Ia tahu jelas arah pembicaraanku, tapi akhir-akhir ini kak Revan memang sering menjahiliku.

Sifat isengnya muncul gara-gara aku juga sering mengerjainya. Lama-kelamaan mataku terpejam karena mengantuk.

Bersambung ke Part 23

END – Smile of My Girl Part 22 | Smile of My Girl Part 22 – END

(Smile of My Girl Part 21)Sebelumnya | Selanjutnya(Smile of My Girl Part 23)